← Daftar isi Ministri Firman Allah · bab 16/17

BEBERAPA HAL YANG HARUS DIPERHATIKAN DALAM PERKATAAN KITA

Melayani sebagai seorang minister firman merupakan hal yang baru bagi kita; kita tidak pernah melakukannya sebelumnya. Kita seperti bayi yang baru lahir yang belum pernah belajar berbicara. Kita telah hidup di bumi ini selama bertahun-tahun dan dan telah berbicara selama bertahun-tahun pula. Tetapi kita tidak pernah tahu jenis pembicaraan ini sebelumnya. Untuk berbicara seperti itu, kita harus memulainya dari awal. Saat belajar menjadi seorang minister firman, kita harus melupakan perkataan yang telah kita ucapkan sebelumnya dan pengalaman berbicara sebelumnya. Pemikiran seperti ini merupakan penyimpangan. Ministri firman sangat baru bagi kita dan berbeda dari latihan, pemahaman, dan praktek yang pernah kita lakukan. Tidak ada seorang pun yang bisa ceroboh dalam perkara ini. Kita tidak bisa bersandar pada pengalaman yang telah lalu. Kita tidak bisa menganggap ministri firman itu sama dengan dengan pembicaraan yang biasa. Selama hal itu berkaitan dengan perkara minister firman, kita adalah bayi; kita harus belajar segala sesuatu dari awal. Seorang bayi harus belajar setiap bunyi alphabet saat dia belajar bicara. Hari ini kita seperti bayi; kita harus belajar segala sesuatu dari dasar. Daging kita memiliki ciri khas tertentu saat berbicara, demikian juga dengan roh. Kita tidak bisa bersandar pada pengalaman berbicara dan pemberitaan kita yang telah lalu. Jika kita mencoba membawa unsur-unsur masa lalu, kita akan mengubah bentuk alami firman itu. Kita harus seperti bayi, belajar segala sesuatu dengan segar. Banyak istilah dan ekspresi yang harus diperhatikan. Pikiran kita pun harus segar. Bahkan cara kita berperi-laku harus diajar ulang dan belajar dengan segar. Jangan ada seorang pun yang membawa hal yang usang karena ini pun bukan perkara yang baru dan luar biasa. Mengenai fakta, pembicaraan ini sangat baru dan tidak umum bagi kita sehingga segala sesuatu yang berkaitan dengan hal itu perlu kesegaran, sedikit demi sedikit dan bagian demi bagian.

Ketika Allah memberi kita perkataan, kita bisa mengatakan sulit untuk melepaskannya. Tetapi di sisi lain kita juga bisa mengatakan hal itu sangat mudah. Ini sama seperti doa. Di satu sisi doa paling mudah untuk dilakukan, karena seorang yang baru percaya saja bisa melakukannya pada hari pertama dia menjadi orang Kristen. Di sisi lain, doa juga perlu ketrampilan yang sulit untuk dimiliki. Jadi ketika ada yang mau belajar menjadi seorang minister, Allah akan menunjukkan hal itu tidak terlalu sulit untuk dipelajari.

Sekarang mari kita melihat beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pembicaraan kita.

MELINDUNGI ROH DARI PERASAAN TERLUKA

Menjadi seorang minister firman, kita harus memperhatikan roh kita agar tidak luka atau tersinggung. Kita jangan berbicara hanya untuk keperluan bicara semata. Perkataan yang kita katakan harus disertai dengan roh yang dibebaskan. Jika ada yang melepaskan firman tanpa membebaskan roh maka hal itu adalah suatu kegagalan. Tidak mungkin saat seorang membebaskan roh tetapi tidak melepaskan perkataan. Dia harus memiliki roh dan perkataan pada waktu bersamaan. Perkataan dilepaskan karena roh dibebaskan dalam proses. Rohlah yang menjamah dan menggerakkan manusia. Roh pula yang membuka mata manusia. Pada waktu itu juga roh begitu unggul sehingga menundukkan manusia. Melepaskan firman sama dengan membebaskan roh. Jika roh kita tidak bisa dibebaskan, tidak ada gunanya jika hanya firman yang dilepaskan. Jika ada sesuatu yang tersembunyi di dalam kita, kita hanya mempunyai perkataan tetapi tanpa roh. Seringkali meskipun kita tidak tahu apa yang salah dengan kita, roh kita ternyata terluka. Roh kita benar-benar halus, maka mudah terluka. Perasaan roh pun sangat sensitif. Roh sangat halus sampai-sampai di luar perasan sensitif kita. Kita mungkin tidak merasakan sesuatu, tetapi roh telah merasakannya lebih dahulu. Ketika roh terluka, kita hanya ada perkataan tetapi kekurangan roh. Dalam berbicara kita harus berhati-hati agar tidak melukai roh. Beberapa hal bisa menyebabkan roh kita terluka. Mari kita melihatnya satu per satu.

Pertama, kita mungkin melakukan dosa atau pelanggaran sebelum kita berbicara. Ketika kita bicara, roh tidak mengalir keluar karena sudah terluka. Sulit mengatakan jenis dosa-dosa atau pelanggaran yang bisa melukai roh kita. Kita hanya bisa mengatakan dosa-dosa, menjamah sesuatu yang sembarangan, berhubungan, atau menjamah sesuatu yang cemar, bisa melukai roh kita. Coba saja saat kita tidak mengakui dosa-dosa ini. Saat kita membuka mulut kita, kita tahu kita tidak bisa maju. Sebelum seorang minister firman membuka mulutnya, dia harus berdoa meminta pengampunan dan pembasuhan. Dia harus mengakui dosa-dosa yang diketahuinya dan pelanggarannya di depan Allah, dan dia harus meminta pembasuhan dan pengampunan. Dia juga harus meminta pembasuhan dan pengampunan atas dosa-dosa yang tidak dia sadari. Dia harus dengan rajin menghindari hal-hal tersebut. Dia harus melindungi dirinya dan menghindarinya. Perasaan roh lebih peka daripada perasaan manusia. Seorang mungkin tidak menyadari kalau ia tercemar oleh dosa-dosa dan pelanggaran tertentu selama beberapa hari. Tetapi rohnya bisa tahu. Ia mungkin memiliki perkataan yang tepat dan pemikiran yang tepat. Tetapi, usahanya untuk mendorong rohnya keluar malahan tidak bisa. Ia tidak bisa menggerakkan rohnya. Ia kesulitan memakai rohnya. Hal ini menandakan roh telah tercemar oleh dosa dan menjadi lemah.

Kedua, roh harus diperhatikan sebelum benar-benar bisa dibebaskan. Kapankala pikiran kita mengembara, keluar dari sasaran, roh kita terluka. Pikiran kita harus menunggu dengan siaga sebelum roh bisa mengarahkan pikiran dengan leluasa. Ketika pikiran kita mengembara, roh kita menjadi berat dan terikat. Ini menjadi penyebab lain yang mengakibatkan roh terluka. Beberapa orang minister firman tidak bisa menggunakan roh mereka karena roh mereka terluka, dan penyebab lukanya karena ada sesuatu yang salah dengan pikiran mereka. Kita harus belajar menjaga pikiran kita hanya dipakai untuk keperluan roh saja. Pikiran kita harus berjaga-jaga menantikan roh, seperti pelayan menunggu majikannya. Semakin banyak pengalaman yang kita miliki, semakin kesadaran kita muncul akan hal ini.

Ketiga, supaya roh kuat dan tidak rusak, kita harus menggunakan perkataan yang tepat saat kita berbicara. Kita tidak bisa menggunakan kata-kata yang salah, contoh yang salah, maupun urutan outlines yang salah. Sekali saja kita membuat kesalahan dengan dua atau tiga kallimat dalam perkataan kita, maka khotbah kita pun dirugikan. Beberapa kata ini melukai roh kita, dan pada akhir khotbah, roh kita tetap terikat. (Tentu saja, ada kalanya situasinya tidak terlalu serius, dan satu atau dua kata yang salah tidak menyebabkan roh terluka. Pada waktu itu, kita masih bisa membebaskan roh kita.) Seringkali kita juga mungkin memberikan ilustrasi yang salah, yang tidak pada tempatnya, tidak sesuai dengan kepentingan roh, dan roh kembali terluka dan terikat. Atau kita—mungkin mengatakan suatu cerita yang sesuai dengan pengutaraan Roh. Dalam keadaan itu, roh kembali terluka dan terikat. Seluruh khotbah mungkin tidak sesuai dengan Roh; dan kita belum menjamah pimpinan Roh saat berbicara. Sekali lagi roh terluka dan terikat. Kita harus ingat bahwa roh sangat mudah terluka. Jika kita tidak memperhatikan masalah ini tetapi tetap berbicara dengan sembarangan, kita tidak akan mungkin mendorong roh kita keluar. Kita mungkin ingin membebaskan roh kita, tetapi kita tidak mempunyai kekuatan untuk melakukannya. Ini artinya kita telah melukai roh.

Keempat, sikap kita juga bisa melukai roh kita. Banyak orang datang ke dalam sidang dengan kesadaran diri. Kesadaran diri bisa melukai roh kita dengan mudah. Misalnya ketika ada seorang yang berbicara, dia mungkin penuh kesadaraan diri. Dia mungkin berpikir pendengarnya sangat ingin penjelasan, dan ada beberapa yang mengancam. Saat berbicara, dia mungkin penuh perasaan akan dirinya sendiri. Ini kesadaran diri, dan membuat roh tidak bisa dibebaskan dengan leluasa. Ketika jiwa berkuasa, kesadaran diri muncul, dan roh kehilangan kendali.

Kita harus sadar bahwa ada perbedaan antara ketakutan rohani dan kesadaran jiwani. Kita harus memiliki ketakutan rohani, tetapi kita tidak perlu kesadaran diri yang jiwani. Ketika kita bersidang bersama di suatu tempat, kita harus penuh dengan ketakutan, tetapi kita jangan dipenuhi dengan kesadaran diri. Kita tahu kalau kita tidak bisa melakukannya dan tidak punya kekuatan untuk melakukan apa pun. Ketika kita datang bersidang, kita datang dengan takut dan gentar. Ketakutan demikian membuat berpaling kepada Allah, memandang Dia, mempercayai Dia, dan menyandarkan iman kita kepada-Nya. Kesadaran diri itu berbeda; kesadaran diri hanya melihat manusia. Ketakutan rohani membuat kita berpaling kepada Allah, sedangkan kesadaran diri jiwani membuat kita melihat manusia. Ketika kesadaran diri jiwani muncul, roh kita terluka dan lemah; kita tidak bisa mendorong roh kita lebih kuat lagi.

Seorang penginjil harus lepas dari kesadaran diri sebelum dia bisa memberitakan injil. Semua penginjil sepanjang jaman adalah orang-orang yang tidak memiliki kesadaran diri. Semakin sedikit kesadaran diri yang dimiliki, semakin kuat rohnya. Saat dia berdiri berbicara, dia tidak tidak mempiki perasaan akan surga, bumi, atau manusia. Walaupun perkara-perkara itu ada di depan matanya, dia berbicara dari apa yang ada di dalam dirinya. Dia tidak ingat akan setuju atau tidaknya seseorang. Bebas dari kesadaran diri ini merupakan syarat dasar menjadi seorang penginjil. Hal ini membuat roh seseorang itu bangkit; saat dia berbicara, orang-orang akan bertobat. Seorang minister firman harus belajar melepaskan dirinya dari kesadaran diri apa pun sebelum dia bisa berfungsi dengan efektif. Jika dia peka dengan segala hal saat melapaskan firman Allah, jika dia takut terhadap manusia atau takut orang lain tidak mendengarkan dirinya, ketakutan ini akan merusak rohnya. Ketika dia berdiri untuk berbicara, rohnya tidak bebas. Rohnya tidak cukup kuat untuk memenuhi keperluan. Para minister yang gagal mempraktekkan hal ini akan mudah disimpangkan. Jika seorang pembicara merasa pendengarnya lebih tua, lebih kaya, atau lebih berpendidikan dibandingkan dirinya, dia tidak akan bisa melepaskan khotbahnya dengan baik, tidak peduli bagaimana dia mencobanya. Semakin dia berbicara, semakin sedikit keberanian yang ia miliki. Saat seorang penginjil merasa orang lain lebih hebat, dia akan menyadari dirinya begitu kecil. Tetapi jika dia memperhidupkan injil, orang lain akan ditundukkan. Seorang penginjil harus bisa melepaskan rohnya. Ketika kita menjelaskan firman Allah kepada orang lain, jika ada perasaan rendah diri terhadap firman Allah, roh kita akan semakin lemah dan kosong. Meskipun ada kata-kata yang keluar, tetapi roh tidak dibebaskan.

Jika seorang pelayan Allah memiliki ministri firman, ia tidak boleh memiliki perasaan rendah diri. Ketakutan terhadap manusia bukanlah tanda kerendahan hati melainkan perasaan jiwa akan kerendahan diri. Jenis kerendahan diri ini bersifat jiwani. Sangat jauh dari kerendahan diri yang rohani. Kerendahan diri rohani muncul ketika kita berada di bawah penyinaran Allah dan merendahkan diri. Kerendahan diri yang jiwani, datang dari instropeksi yang muncul dari memeriksa diri sendiri dan ketakutan manusia. Seorang yang memiliki kerendahan diri akan menyebabkan kesombongan dan kearoganan pada suatu waktu. Tidak ada satu pun ekspresi yang berhubungan dengan kerendahan hati yang sejati. Kerendahan hati jiwani ini merupakan jenis kerendahan diri yang jiwani. Hal itu merusak roh dan mengganggu fungsinya. Itulah sebabnya, ketika kita berdiri di depan manusia, kita perlu takut dan gentar dengan penuh keberanian dan kepastian. Kita perlu keduanya. Jika kita kekurangan satu aspek, roh kita akan terluka, dan saat roh kita terluka, kita tidak bisa melayani sebagai seorang minister firman. Saat kita berbicara sebagai seorang minister firman, kita harus belajar melindungi roh kita dari luka apa pun. Saat roh kita terluka, kita tidak lagi bisa memakainya.

ROH DAN FIRMAN

TIDAK DILUAR JANGKAUAN

Ketika seorang minister firman membuka mulutnya, dia mungkin memiliki empat atau lima berita yang ingin dia sampaikan. Urutan ayat-ayat berkaitan dengan membebaskan roh. Roh mungkin ingin menempatkan berita itu pada akhir pembicaraannya, sementara dia mungkin meletakkannya pada awal pembicaraannya. Dalam hal itu roh tidak akan dibebaskan. Satu masalah dalam pembicaraan kita adalah seringkali perkataaan kita tidak bersentuhan dengan roh kita. Beberapa perkataan harus diucapkan pada bagian awal, tetapi kita mengucapkannya pada bagian akhir. Ada juga perkataan yang seharusnya diucapkan pada bagian akhir tetapi kita malahan mengucapkannya pada bagian awal. Ketika hal ini terjadi, perkataan dilepaskan tanpa roh; roh dikesampingkan. Perkataannya bisa lepas tetapi roh tidak lepas.

Dalam perkataan kita, ada kalanya perkataan kita harus dibalik. Subjeknya harus dibalik dari satu topik ke topik lain; pemikirannya juga harus dibalik. Sangat tidak umum jika ada seseorang membuat kesalahan pada peralihan demikian. Saat dia demikian, firman dan roh menjadi terpisah. Firman dibalik, tetapi roh tidak mengikuti. Firman telah dibalik, tetapi roh tetap ditempatnya. Firman dan roh menjadi terpisah. Firman sudah sampai pada poin berikutnya, tetapi roh tetap di tempat yang sama dan tidak bergerak maju. Maka, ketika perkataan beralih dari satu bagian Firman ke bagian lain, kita harus berlatih jangan sampai ada kesalahan. Sekali saja kita salah, firman dan roh akan kehilangan hubungan satu sama lain. Jika ada bagian Alkitab yang harus dipakai, tetapi kita kehilangan hal itu, roh tidak akan bisa berbalik, dan akan kehilangan hubungan dengan firman. Firman dan roh terpisah; tidak berhubungan menjadi satu. Hal ini sangat serius.

Mereka yang kekurangan pengalaman di hadapan Allah tersandung karena mengalami luka di roh mereka. Mereka yang lebih berpengalaman di depan Tuhan tersandung karena tidak bisa menempatkan antara firman dan roh. Ketika seseorang mulai berlatih, masalah yang terutama adalah dengan roh yang sudah terluka; penyebab roh terikat adalah luka di dalam roh. Ketika dia semakin maju di dalam Tuhan, masalahnya tidak lagi berkaitan dengan luka di dalam roh tetapi lebih pada pemisahan antara firman dan roh. Tidaklah mudah menjaga roh dan firman bersama-sama. Seorang pembicara kadang memiliki awal yang buruk, sehingga roh dan firman terpisah dari awal. Dengan kata lain, dia harus tahu mana perkataan yang harus dikatakan terlebih dulu dan mana perkataan yang kemudian. Jika dia mengacaukan urutannya, perkataannya mungkin keluar tanpa roh. Tempat termudah bagi firman kehilangan roh adalah pada saat peralihan poin. Ketika kita beralih dari firman, pikiran dan perasaan kita mungkin tidak lincah dan cukup kaya mengikuti peralihan itu. Akibatnya firman mengalir, tetapi roh tertinggal. Perkataan mungki dilepaskan dengan baik, tetapi rohnya tertingga; roh tidak mengikuti perkataan dan kehilangan hubungan. Ketika kita berbicara, kita harus belajar membebaskan baik firman dan roh sehingga keduanya tidak kehilangan hubungan satu sama lain. Setelah kita mengetahui ada sesuatu yang salah, kita harus menarik kembali perkataan kita. Roh sangat sensitif. Seringkali ketika kita berpaling pada poin sebelumnya, roh tetap saja tidak kembali. Saat mengesampingkan roh, tidak saja menyebabkan hilangnya hubungan dengan firman; roh pun sudah terluka. Mungkin tidak ada yang salah dengan perkataan di mulut kita, tetapi roh tidak hadir. Perasaan roh sangatlah halus. Kita harus berlatih dengan hati-hati, tidak berbicara kasar dan sembarangan. Kita harus memperhatikan perkara ini. Kita harus meminta belas kasihan dari Allah sehingga perkataan kita membuat peralihan yang tepat dan tidak kehilangan kontak dengan roh. Kapankala kita berbicara kepada saudara dan saudari, kita harus berbicara dengan roh. Kapankala kita membuat peralihan yang salah dan tidak tepat dari satu subjek ke subjek yang lain, kita gagal menjaga seluruh khotbah kita di dalam roh. Maka, segera setelah kita belajar kesalahan itu, kita harus menarik perkataan kita. Seringkali semakin kita mencoba menarik perkataan itu, semakin terasa sulit. Seringkali lebih baik hanya menghentikan perkataan kita. Setelah sejangka waktu kita mungkin menemukan arahan lagi. Kita mungkin mendapatkan pengurapan perkataan kembali. Kemudaian ketika kita berbicara dengan arahan itu, roh kembali dibebaskan.

Seorang minister firman bisa membuat peralihan yang tepat atau tidak bergantung pada belas kasih Allah dibandingkan pada rencana manusia. Sulit bagi kita untuk menentukan berapa kuat perkataan kita atau berapa kita bisa menjaga seluruh khotbah kita di dalam roh. Seringkali, karena belas kasih Allahlah yang membuat kita melakukan peralihan yang tepat. Kita tidak membuat peralihan yang tepat karena kita memiliki pengetahuan atau pengalaman. Kita mungkin tidak tahu kapan kita membuat peralihan yang tepat, tetapi kita pasti tahu kapan kita membuat kesalahan. Sekali saja kita membuat peralihan yang salah, dalam waktu dua sampai tiga menit kita sudah bisa mengetahuinya. Setelah kita tahu, kita harus segera berhenti. Kita jangan pernah menyimpan khotbah kita. Kita adalah minister firman. Ketika kita merasa perkataan kita telah keluar dari sasaran, kita harus kembali. Kapankala kita salah, kita bisa dengan cepat merasakannya. Tetapi ketika kita di jalur yang tepat, kita mungkin tidak menyadarinya kemudian atau mungkin setelah kita turun dari mimbar. Seringkali kita berada di seberang jalan; kita tidak tahu apakah kita benar atau salah. Kita perlu sejangka waktu untuk mengetahui kita benar atau tidak. Setelah itu, kita akan mengetahui kita benar atau salah. Jika kita maju beberapa menit, kita tahu ada sesuatu yang salah. Kita menyadari firman dan roh adalah dua hal yang berbeda; keduanya terpisah. Perkataan keluar tetapi roh tidak mengikuti. Roh sangat halus. Saat ada sesuatu yang salah, maka roh akan berhenti. Bahkan jika kita bisa menemukan roh tetap saja kita tidak bisa membebaskannya. Kita merasa kesulitan mendorong roh keluar. Kita menyadari kita hanya memiliki firman, tetapi tidak memiliki roh. Setelah kita mengetahui kesalahan kita, kita harus berpaling.

Bagaimana seseorang bisa mengatakan perkataannya benar atau salah? Ia bisa mengatakannya saat roh itu dibebaskan. Jika rohnya dibebaskan saat dia berbicara, perkataannya sudah tepat. Jika rohnya tidak dibebaskan, maka perkataannya salah. Inilah batasan yang diberikan Roh di atas diri kita. Kita sudah mengatakan sebelumnya bahwa kita tidak bisa mengetahui dengan cepat kapan kita mengatakan hal yang benar. Ketika kita berdiri di seberang jalan, kita tidak tahu dengan cepat apa yang harus kita lakukan. Setelah berbicara selama beberapa menit dengan firman dan roh yang bergerak bersama, kita tahu kita sudah membuat satu peralihan lebih awal. Seirang tidak akan tahu dengan cepat apakah roh dan firman bergerang bersama. Inilah alasannya kita mengatakan semua perkara itu berkaitan dengan belas kasih Allah. Semakin kita menyadari hal ini, semakin kita tidak memiliki apa pun untuk disandari. Ketika kita berfungsi sebagai seorang minister firman, kita tidak bisa melakukan apa-apa kecuali meminta belas kasih Allah. Dengan diri kita, kita tidak bisa menjamin kita akan berbicara oleh Roh Allah lebih dari lima menit. Mudah bagi kita untuk berpaling, dan mudah bagi kita membuat perpalingan yang salah. Hikmat manusia, pengetahuan, dan pengalaman tidak bisa menolong hal ini. Jika kita berada di bawah belas kasih Allah selama waktu-waktu tertentu dan kita belajar melihat kepada Allah yang penuh rahmat dan memberikan diri kita kepada-Nya, kita akan menemukan perkataan kita tepat secara spontan. Tetapi jika Allah tidak merahmati kita, kita tidak bisa menjaga diri kita tetap di jalan ini. Hal ini bukan sesuatu yang bisa dikendalikan oleh seorang hamba, melainkan hanya oleh sang Tuan. Ini bukan hal yang bisa kita lakukan, melainkan hanya Tuhan yang bisa melakukannya. Tidak peduli berapa banyak pengalaman yang kita miliki di masa lalu maupun berapa banyak pengalaman atau latihan yang kita terima dari Allah; kita harus mengakui diri kita yang tidak ada apa-apanya kecuali karena belas kasih Tuhan. Jika tidak, kita mungkin benar untuk tiga atau lima menit. Tetapi saat kita berpaling, kita kita salah lagi.

Di hadapan Tuhan seorang minsiter firman Allah harus menyadari bahwa ketika ia melepaskan firman, maka bukan hanya sekadar melepaskan kata-kata saja; ia pun sedang melepaskan rohnya. Tujuan melepaskan firman adalah melepaskan roh. Seorang minister tidak boleh beranggapan tanggunga jawabnya hanya melepaskan kata-kata saja. Tanggung jawab minister adalah membebaskan rohnya. Hanya menucapkan kata-kata saja tidak menyusun suatu pekerjaan ministri; pekerjaan ministri melibatkan roh. Ujian dasar yang bisa ditanyakan seorang minister firman adalah berapa banyak roh yang ia lepaskan setelah ia menyampaikan khotbahnya. Semakin roh dibebaskan, semakin ia merasa bebas; ia tahu Tuhan sudah memakai dirinya. Ia tidak perlu kuatir mengenai buah karena Tuhanlah yang bertanggung jawab untuk hal itu. Seseorang bisa diselamatkan atau menerima bantuan ada di tangan Tuhan, bukan di tangan kita. Hasil dan kesuksesan adalah urusan Tuhan, bukan urusan kita. Kita adalah hamba. Bagi kita hanya ada buah yang subjektif—jaminan saat atau setelah kita bicara, yaitu Tuhan merahmati kita untuk mengeluarkan beban kita.

Sukacita seorang minister firman bukan pada banyaknya kata-kata yang dia sampaikan, bukan juga pada anggukan kepala para pendengar, bukan juga pengakuan atas bantuan yang telah diterima oleh mereka; melainkan roh yang ia bebaskan saat ia berbicara. Saat roh dibebakan, beban hilang, hati diterangi, dan dia tahu dia telah melaksanakan tanggung jawabnya dan melakukan apa yang seharusnya dia kerjakan. Jika perkataan disampaikan tanpa ada roh, beban tetap saja ada. Ia bisa saja meninggikan suaranya, menghabiskan seluruh kekuatannya. Tetapi, dia tetap gagal karena rohnya tertutup dan terikat. Seseorang berbicara adalah untuk melepaskan bebannya. Dia harus membiarkan rohnya mengalir. Semakin roh mengalir, semakin pembicara merasa dibebaskan, dan ia akan semakin sukacita. Ketika roh kita dibebaskan, perkataan kita adalah perkataan Allah. Jika roh kita tidak dibebaskan, perkataan kita bukanlah perkataan Allah, melainkan hanyalah tiruan dari perkataan-Nya bukan benar-benar perkataan-Nya. Kapankala firman Allah melewati kita, roh pasti akan menyertai firman.

Kita harus memperhatikan untuk membebaskan roh. Hanya orang bodoh yang hanya memperhatikan buah. Hanya orang bodoh pula yang menyimpan pujian dari orang lain dan menganggumi kata-katanya sendiri. Orang bodoh beranggapan tidak perlu menjamah roh mereka sendiri. Dia tetap di dalam kebodohan, kegelapan, dan kebutaannya untuk memuji dan memikirkan kata-katanya sendiri. Orang yang demikian lupa pada fakta bahwa kata-katanya hanyalah kata-kata kosong saat dia kekurangan roh. Kita harus memperhatikan membebaskan roh di dalam perkataan kita. Jika kita memperhatikan hal ini, firman dan roh akan hadir bersama-sama. Jika kita menolak hal ini, maka keduanya pun akan terpisahkan. Saat kita tidak berjaga-jaga, firman dan roh akan kehilangan hubungan satu dengan yang lain. Di sisi negatifnya, kita harus berhati-hati dengan pemisahan yang disebabkan karena kurangnya kewaspadaan. Di sisi positif, kita harus memastikan firman dan roh bergabung menjadi satu. Hal ini hanya dapat dirampungkan melalui rahmat Allah. Setiap perkataan harus disertai oleh roh yang dibebaskan. Selama roh dibebaskan, perkataan pun bisa tepat dan orang lain bisa menjamah sesuatu yang tinggi. Di satu sisi, kita harus berhati-hati, di sisi lain kita pun harus memohon rahmat Allah. Kita sendiri tidak tahu bagaimana membuat suatu peralihan. Saat kita membuat peralihan, kita kehilangan beban kita. Tetapi jika Allah terus merahmati kita, kita tidak akan kehilangan kontak dengan roh ketika perkataan kita sedang beralih. Jika seorang saudara menjadi sombong dalam pemberitaannya, hal itu hanya berarti satu: dia hanyalah seorang pemberita, dia tidak memiliki ministri firman. Dia bisa saja pulang dengan perasaan hebat dan ringan, tetapi dia tidak memiliki minisri firman. Orang yang bodoh adalah orang yang sombong. Kita harus ingat bahwa hanya belas kasih Allahlah yang bisa mempertahankan firman dan roh bersama-sama.

ROH MENGIKUTI FIRMAN,

DAN FIRMAN MENGIKUTI PENGURAPAN

Ada dua cara untuk berbicara. Cara pertama adalah meletakkan roh ke dalam firman dan mendorong firman dengan roh. Cara kedua adalah berbicara mengikuti pengurapan. Roh mengambil pimpinan, dan firman mengikuti pengurapan. Ketika roh dan firman bergabung bersama, ada dua cara untuk melepaskannya.

Seperti yang telah kita katakan, Allah mungkin ingin mengatakan sesuatu. Ia meletakkan sesuatu di dalam roh kita. Ketika kita melepaskan perkataan ini di dalam roh kita, kita juga melepaskan roh kita. Kita membungkus roh ke dalam firman, kalimat demi kalimat, kemudian mengutarakannya. Ini salah satu cara. Dengan cara ini, kita adalah hamba. Sebagai minister firman, kita melatih tekad kita membungkus roh ke dalam firman dan kemudian melepaskan dan mendorong kata-kata ini keluar. Ketika firman dibebaskan, roh pun dibebaskan dengannya. Ketika ada yang sedang berbicara, dia mungkin mengeluarkan seluruh tenaganya. Saat dia berbicara, dia mengeluarkan kata-kata dengan rohnya, dan rohnya ada bersama perkataannya. Saat perkataannya sedang mengalir, dia membungkus rohnya ke dalam firman dan melepaskannya keluar. Ketika perkataan ini sampai pada manusia, roh pun sampai pada mereka. Oleh rahmat Allah, perkataan seperti ini bisa sangat kuat; roh pun bisa sangat kuat. Saat mulut sedang berkata-kata; hati mendorong roh. Ini jenis pembicaraan yang kedua.

Cara lain berbicara adalah mencari kuasa dan pengurapan saat kita berbicara. Sebelum kita bicara, pengurapan sudah ada terlebih dahulu. Di bawah kuasa yang mengerami dan mempengaruhi ini, kita bicara menurut pengurapan. Pengurapan mengalir keluar, dan perkataan kita mengikuti pengurapan. Ini artinya kita harus belajar mengikuti pengurapan. Saat roh kita merasakan sesuatu, kita harus mengikuti perasaan ini dengan firman. Saat perasaan semakin kuat, kita harus mengikutinya dengan lebih banyak perkataan. Perkataan seperti ini membuat roh mengalir terus menerus. Keuntungan dari jenis pembicaraan ini adalah kita tidak mudah berbuat salah. Pengurapan selalu ada di depan kita, dan firman selalu mengikuti. Ketika kita berbicara di bawah pengaruh kuasa pengurapan, firman pun mengikuti. Mungkin hal ini tidak luar biasa, tetapi menghindari kita dari kesalahan.

Kedua pembicaraan ini sangat berbeda. Cara yang dipakai seorang pembicara berbicara kepada pendengarnya, menurut kedua cara ini juga berbeda. Menurut cara yang pertama, pembicara bisa menatap mata pendengarnya. Dia bisa mempelajari wajah dan kondisi mereka saat dia berbicara dengan roh. Menurut cara yang kedua, pembicara tidak bisa menatap pendengarnya. Seluruh perhatiannya haruslah pada rohnya sendiri. Dia harus mendeteksi kemana pengurapan itu mengalir dan mengurutkan perkataannya pada pengurapan itu. Dia harus berdiri di depan pintu seperti seorang penjaga. Saat pengurupan datang, dia harus mengikuti. Dia harus mengikuti pengurapan dan tidak peduli dengan ekspresi, sikap, dan reaksi prang lain. Dia harus mengikuti pengurapan kalimat demi kalimat di bawah pengaruh kuasa roh. Cara berbicara seperti ini tidak memperhatikan pendengarnya sedikit pun. Saat pembicara memperhatikan pendengarnya, dia disimpangkan dari mengikuti pengurapan.

Mereka yang belajar berbicara oleh roh harus berbicara menurut dua cara ini. Seringkali ketika Tuhan ingin kita berbicara, Dia pertama-tama mengaktifikan pikiran kita oleh kasih karunia-Nya untuk mengutarakan perkataan. Pada waktu yang sama, roh kita keluar bersama dengan perkataan ini; kita membungkus perkataan ini dan menembakkannya keluar seperti bom. Pada lain waktu Tuhan ingin kita mengeluarkan seluruh tenaga kita menunggu secara batini. Seluruh diri kita, termasuk pikiran, harus difokuskan pada roh kita dan menunggu. Saat Tuhan memberi kita pengurapan, kita dipimpin selangkah demi selangkah. Pengurapan ada di depan kita, dan oleh belas kasih Allah, pikiran kita menghasilkan perkataan yang sesuai dengan pengurapan di dalam. Kemudian kita bisa melepaskan perkataan ini. Pengurapan selalu ada di depan kita, dan perkataan kita mengikutinya kalimat demi kalimat. Kita sama sekali tidak mempedulikan pendengar kita. Mata kita tidak ditujukan kepada siapa pun. Meskipun kita melihat wajah-wajah mereka, kita tidak ada perasaa terhadap mereka. Seluruh pikiran dan perhatian kita difokuskan pada pengurapan. Pengurapan memimpin, dan perkataan kita mengikutinya kalimat demi kalimat. Membebaskan roh seperti ini akan membawa anak-anak Allah pada Roh. Dalam ministri mereka, pada minister firman harus mengalami kedua kondisi ini; mereka harus membawa anak-anak Allah pada Roh melalui kedua cara ini.

Khotbah harus disampaikan di bawah pimpinan dan arahan pengurapan dari awal hingga akhir. Akan tetapi, pada waktu-waktu genting, pembicara harus medorong rohnya lebih kuat lagi. Ini cara ministri firman yang lebih baik. Berbicara mengikuti pengurapan menduduki seluruh bagian khotbah. Pembicara mengikuti pengurapan dan mengungkapkannya kalimat demi kalimat. Dia tidak peduli reaksi pendengarnya, dan dia tidak peduli siapa yang duduk di depannya; dia hanya setia mengikuti pengurapan. Ketika dia mencari pengurapan, dia menemukan “jalinan” yang melaluinya dia bisa menekan keluar perkataannya kalimat demi kalimat. Dia sendiri mengetahui perkataannya sedang mengikuti pengurapan. Saat dia membebaskan perkataannya, dia mungkin ingin memberkati pendengarnya; dia ingin memberikan berkat dengan pengaruh yang besar. Dalam hal ini dia mungkin akan mengubah caranya berbicara dan berbicara dengan cara mendorong rohnya. Di satu sisi, dia harus membungkus perkataannya dengan roh dan membebaskan rohnya dengan cara ini. Ketika hal ini terjadi, dia akan mempersaksikan kasih karunia Tuhan. Orang lain akan menerima wahyu ketika dia ingin mereka menerima wahyu. Tidak perlu menunggu. Orang lain akan rebah ketika dia menginginkan mereka rebah. Orang lain akan melihat ketika dia ingin mereka melihat. Ministri firman paling rendah adalah ministri yang hanya membantu orang lain mengerti. Sedangkan ministri firman yang tertinggi adalah membuka mata orang dan menyebabkan rebah ke tanah. Supaya orang lain bisa maju dari pemahaman dengan pikiran sampai pada mata yang tercelik dan rebah ke tanah, seorang pembicara harus rela membayar harga. Semuanya bergantung pada berapa banyak harga yang rela ia bayar. Jika dia rela membayar harga, orang lain akan menerima sesuatu. Ketika ada pengurapan dari Roh saat dia mendorong rohnya keluar, orang lain akan melihat sesuatu dari pembicaraannya, dan mereka akan rebah ke tanah. Faktor terpenting adalah jenis harga yang rela dibayar seorang pembicar. Bagi seorang minister firman, perkara mendasarnya adalah latihan roh. Kita harus memperhatikan hal ini dengan serius. Manusia lahiriah harus diremukkan karena roh bisa menyadari fungsinya hanya pada tahap manusia lahiriah sudah diremukkan. Roh Kudus memperhatikan terus menerus pada peremukan manusia lahiriah dalam pekerjaan pendisiplinan-Nya. Kita harus membiarkan Roh Kudus bekerja di atas kita. Jika kita tidak memberontak menentang pendisiplinan Roh Kudus dan jika kita tidak melawannya menurut kehendak kita sendiri, Roh akan tunduk pada manusia lahiriah kita, dan manusia batiniah kita akan menjadi tidak berguna bagi Dia. Itulah sebabnya peremukan manusia lahiriah itu sangat penting.

PIKIRAN DI BAWAH KENDALI ROH ITU

Dalam pembicaraan kita, kita juga harus memperhatikan pikiran kita. Entah suatu kalimat itu diucapkan pertama atau terakhir merupakan keputusan pikiran. Dalam pelayanan kita sebagai seorang minister firman, pikiran kita menduduki tempat yang penting. Jika jiwa kita berfungsi, kita bisa menempatkan kata-kata yang ada di awal pada tempat akhir. Tempatnya akan sesuai dan roh akan dilepaskan selama pembicaraan. Tetapi jika pikiran kita belum berfungsi, tidak akan ada hasi apa-apa. Dalam kasus itu, entahkah perkataan muncul pada pikiran kita pada awal atau akhir pembicaraan, roh tidak akan dibebaskan dalam pembicaraan kita. Setiap minister firman harus berhati-hati menjaga pikirannya dari perusakan apa pun. Dia harus memustikakan pikirannya seperti seorang pianis memustikakan keda tangannya. Beberapa orang terlalu ceroboh dengan pikiran mereka; mereka tidak pernah bisa menjadi minister firman yang tepat. Kita harus membiarkan Tuhan bebas mengendalikan pikiran kita; kita tidak bisa membiarkan pikiran kita menjadi liar. Kita jangan membiarkan pikiran kita tinggal dalam hal-hal yang tidak logis, sia-sia, dan tidak penting. Kita harus melindungi pikiran kita seperti seorang pianis melindungi kedua tangannya. Jika Roh tidak bisa menggunakan pikiran kita ketika Dia ingin menggunakannya, kita telah gagal dalam pelayanan ministri firman.

Ini tidak berarti pikiran merupakan sumber pembicaraan kita. Jika seorang minister firman mendasari kegiatannya pada pikirannya, kegiatan demikian harus dihakimi dan dihancurkan. Anggapan bahwa mempelajari Alkitab secara menyeluruh membuat seseorang bersyarat untuk mengajar merupakan pernyataan yang tidak menyenangkan. Pemikiran apa pun yang merdeka dari roh harus dihancurkan. Setiap khotbah yang didasari pada pikiran sebagai sumbernya harus dihapuskan. Tetapi ini tidak berarti bahwa kita harus menghilangkan fungsi pikiran. Setiap kitab Perjanjian Baru ditulis dengan ekspresi pikiran yang kaya. Surat-surat kiriman Paulus, seperti tulisannya kepada orang-orang Roma, begitu penuh dengan pemikiran. Pemikiran ini begitu tinggi dan terhormat. Kitab roma tidak dihasilkan dari pikiran, melainkan dari roh. Pemikiran yang ada di dalamnya mengalir keluar bersama dengan roh. Sumbernya haruslah roh, bukan pikiran. Kita harus memperhatikan dengan teliti akan pikiran kita sehingga pikiran kita bisa tersedia bagi Allah ketika Ia perlu menggunakannya.

Kita jangan secara ekstrim menghakimi pikiran kita. Kita harus menghakimi pikiran sebagai sumber. Jika ada yang memberitakan menurut pikirannya, hal itu salah. Cara yang tepat untuk memberitakan adalah dengan roh oleh bantuan pikiran; tidak seorang pun seharusnya menghakimi hal ini. Semakin rohani sebuah khotbah, semakin kaya pemikiran di baliknya. Semua khotbah rohani penuh dengan pemikiran. Ketika roh dibebaskan, perlu pemikiran yang kaya dan tepat untuk mendukungnya. Kita harus memberikan tempat yang tepat bagi pikiran. Dalam perkataan kita, pikiran kita harus memutuskan urutan dan cara bicara kita sehingga perkataan bisa diekspresikan. Jika firman muncul pada pikiran kita terlebih dahulu, kita harus mengutarakannya; jika munculnya terakhir, kita harus mengutarakannya terakhir. Kita harus berbicara menurut pikiran yang memimpin kita. Kita harus menyadari roh kita tidak mengendalikan pembicaraan kita secara langsung. Pengendalian langsung oleh roh akan berarti kita berbicara bahasa lidah. Sebaliknya, roh mengarahkan pembicaraan kita dari balik pemikiran dan pemahaman kita. Inilah makna ministri firman. Pemahaman kita harus tersedia untuk dipakai oleh roh. Jika pikiran kita tidak tersedia, roh kita terhalangai, dan tidak ada pengantara antara roh dan firman. Pengantara yang tepat antara roh dan firman adalah pikiran. Itulah sebabnya kita harus berhati-hati menjaga pikiran kita di depan Tuhan. Pikiran harus diperbarui setiap hari. Kita jangan membiarkan pikiran kita terbiasa tinggal di tempat yang rendah. Beberapa pikiran manusia umumnya rendah, dan Roh tidak bisa memakainya. Kita harus melindungi pikiran kita. Saat kita menjamah ministri firman baru kita tahu kedalaman makna konsekrasi. Banyak orang tidak mengerti makna konsikrasi. Konsikrasi berarti membuat seluruh diri kita tersedia bagi Allah. Untuk membuat segala sesuatunya tersedia bagi Allah, setiap bagian pikiran kita harus tersedia bagi Dia. Setiap hari kita harus berlatih untuk hati-hati di depan Tuhan; setiap hari kita harus menjaga pikiran kita supaya tidak menjadi rendah. Jika pikiran menjadi rendah setiap waktu, kita tidak akan bisa mengangkatnya lagi ketika kita memerlukannya. Kita harus melatih pikiran kita setiap hari sehingga pikiran bisa tersedia bagi kegunaan Firman. Ini satu-satunya cara untuk memastikan pikiran kita tidak menjadi selubung bagi roh. Allah harus bisa mengendalikan pikiran kita pada tekad. Oleh belas kasih-Nya, Dia akan mengarahkan pikiran kita. Dia akan membiarkan pikiran kita mengingat apa yang harus kita katakan. Perkara yang harus diucapkan terlebih dahulu akan muncul pada pikiran kita lebih dulu, dan perkara yang harus diucapkan terakhir akan muncul terakhir pada pikiran kita. Perkataan kita akan dikendalikan oleh pikiran kita, dan pikiran kita akan dikendalikan oleh roh kita. Jika roh kita bisa mengarahkan pikiran kita, segala sesuatu akan benar. Jika ada perkataan yang diucapkan terlebih dulu ataupun terakhir, hal itu akan benar. Jika kita bicara semakin banyak, hal itu akan benar, dan akan sama benarnya saat kita bicara sedikit. Jika pikiran tepat dan berfungsi, perkataan akan keluar dengan cara apa pun.

KLIMAKS DARI FIRMAN DAN ROH

Saat berbicara, mudah sekali bagi kita mengetahui klimaks dari pembicaraan kita karena pikiran kita mudah mengenalinya, tetapi tidak mudah untuk mengetahui klimaks dari roh. Klimaks dari roh merupakan sesuatu yang tidak diketahui pikiran kita. Itulah sebabnya tidak mudah untuk mengatakan klimaks dari roh.

Saat kita sedang berdiri di atas mimbar dan berbicara, bagaimana kita bisa mengetahui seberapa jauh Allah ingin maju? Bagaimana kita bisa mengetahui poin mana yang ingin Tuhan perjelas? Bagaimana kita mengetahui Tuhan ingin membuat klimaks dalam pembicaraan-Nya? Dalam pembicaraannya, seorang minister firman harus memperhatikan perbedaan antara klimaks firman dan klimaks roh. Jika kondisi kita tepat atau benar, kita harus tahu dengan pasti perkataan apa yang Allah berikan kepada kita ketika kita membuka mulut kita berbicara bagi Tuhan. Kita juga harus tahu puncak dalam pembicaraan kita. Ini artinya ada kata-kata yang umum tetapi ada juga yang sangat khusus; kata-kata itu menjadi klimaks dalam pembicaraan kita. Kita harus tahu di mana puncak perkataan kita. Saat kita sedang berbicara, kita perlu memperhatikan puncaknya. Tujuan dari perkataan kita adalah sampai pada klimaks. Tetapi kita harus menyadari bahwa klimaks di dalam roh mungkin tidak sama dengan klimaks di dalam perkataan. Seringkali klimaks di dalam roh bisa sama dengan klimaks di dalam perkataan, tetapi kejadiannya tidak selalu sama. Karena itu hal ini lebih rumit. Akan lebih mudah bagi seorang minister firman jika saja klimaks dari firman selalu sama dengan klimaks di dalam roh. Ketika kita mengetahui apakah puncak perkataan kita, kita mengarahkan perkataan kita pada puncak itu dan secara perlahan menapakinya sampai pada puncak itu. Ketika puncak perkataan kita sama seperti puncak di dalam roh, masalanya menjadi sangat mudah. Yang harus kita lakukan adalah mengarahkan perkataan kita pada posisi puncak. Roh kita akan bebas dan pengurapan akan mengalir leluasa. Tingkat di mana roh dibebaskan akan sama kuat dan berkuasanya seperti saat firman dilepaskan. Tidak akan banyak kesulitan yang dihadapi saat bebas demikian. tetapi seringkali klimaks dari perkataan kita tidak sama dengan klimaks di dalam roh.

Ketika Allah memberi kita ministri, Dia memberi kita perkataan pada waktu yang sama. Tetapi ketika kita melayani gereja dengan perkaatn ini, hal yang aneh dan luar biasa adalah meskipun ada poin penting dalam perkataan kita, tetapi sepertinya roh tidak ingin membebaskan dirinya pada poin itu. Klimaks perkataan kita mungkin ada, teatpi klimaks di dalam roh belum ada. Seringkali, klimaks di dalam roh sudah ada, tetapi klimaks dari perkataan belum juga ada. Roh memang harus dibebaskan, itu pasti benar. Tetapi roh dibebaskan dengan fokus bahwa kadang-kadang fokusnya bisa sama tetapi kadang-kadang juga bisa berbeda. Terkadang saat kita menjamah inti dari perkataan kita, roh bebas dengan kuat, penuh kuasa, dan meledak dengan hebat. Tetapi ini tidak terjadi setiap waktu. Seringkali pusat dan klimaks dari perkataan kita belum ada; hanya ada beberapa contoh kalimat yang sudah diucapkan, tetapi juga berbeda. Tetapi roh malah dibebaskan. Dengan kata lain, roh sudah dibebaskan sebelum kita mencapai puncak perkataan.

Kita harus mengatakan perbedaan antara puncak perkataan dan puncak di dalam roh. Kita harus belajar mengarahkan perkataan kita dengan pikiran kita sehingga ketika klimaks rohani dicapai, kita memiliki satu atau dua perkataan yang bisa diberikan dalam ministri firman. Sebagai peraturannya, klimaks ministri harus menjadi klimaks perkataan kita. Tetapi hal yang aneh adalah ketika firman mencapai puncak tanpa ada roh, sulit untuk menekan keluar roh orang lain. Mungkin bukannya tidak mungkin juga jika roh orang lain bisa tergerak sedikit ketika perkataan mencapai puncak, tetapi terkadang mustahil karena roh tidak akan bergerak sedikit pun ketika perkataan mencapai puncak, tetapi terkadang sulit menekan roh keluar dengan kuat.

Kita harus memberitahu perbedaan antara puncak firman dan puncak dalam roh. Kita harus belajar mengarahkan perkataan kita dengan pikiran kita sehingga ketika klimaks rohani tercapai, kita memiliki satu dua kata yang bisa melayani sebagai kekuatan untuk perkataan ministri. Peraturannya, klimaks ministri harus menjadi klimaks perkataan kita. Tetapi hal yang aneh adalah ketika firman mencapai puncak tanpa ada roh, akan sulit mendorong orang lain pada masa seperti itu. Mungkin bukan hal yang mustahil karena roh akan sedikit tergerak ketika firman mencapai puncaknya, tetapi seringkali tidak mungkin mustahil mendorong roh keluar dengan kuat. Mungkin beberapa menit atau setelah sepuluh sampai dua puluh menit harus setelah melewati poin tertinggi di dalam firman, ketika minister kembali pada perkataan biasa, sebelum roh bangkit dan bergerak dengan kuat. Dalam pemberitaan kita, ada dua hal yang harus diperhatikan: poin tertinggi di dalam firman dan poin tertinggi dalam membebaskan roh. Keduanya mungkin terjadi secara bersamaa. Tetapi bisa juga terjadi pada waktu yang berbeda. Mungkin muncul pada waktu yang sama, atau mungkin muncul pertama dan yang lain mengikuti.

Apa yang harus kita lakukan ketika poin firman dan roh yang tinggi berbeda? Seorang minister firman harus ingat pada masa itu pikiran memiliki tugas tertentu yang harus tampil. Ketika menggenapi ministri firman, seorang harus mempunyai pikiran yang fleksibel; pikirannya tidak boleh tumpul. Saat pikirannya fokus pada firman, pikirannya juga harus terbuka kepada Roh Kudus. Pikirannya harus sangat fleksibel sehingga bisa mengantisipasi kejadian yang tidak terduga. Bagi seorang minister firman menghadapi hal yang tidak terduga adalah hal yang biasa. Allah mungkin berbicara sesuatu yang berbeda pada menit-menit terakhir; Dia mungkin ingin menambahkan sesuatu, dan Roh Kudus mungkin bergerak dalam arah berbeda pada menit terakhir. Tetapi mungkin pikirannya diatur seperti potongan besi yang kuat pada perkara yang ingin dia ucapkan. Ketika roh ingin mengatakan sesuatu dari firman, pikirannya mungkin tidak bisa dialihkan. Jika pikiran terlalu kaku dan keras, perkataannya menjadi terbatasi. Dia bisa mencapai poin yang tinggi dalam perkataannya, tetapi roh tidak mencapai poin yang tinggi itu. Akibatnya, ministri menjadi umum dan tidak berkekuatan. Tidak mudah untuk mengatakan fenomena ini. Mungkin hal ini akan jelas bagi kita di masa-masa mendatang. Jika tidak, kita harus ingat bahwa pikiran seorang minister firman harus memberikan sesuatu, tetapi pikiran harus selalu fleksibel dan mudah bergerak di depan Tuhan. Ketika Roh Kudus menunjukkan poin arah yang berbeda, pikiran harus mengikuti-Nya. Dengan cara ini dia tidak akan kehilangan klimaks rohani yang ingin Allah capai.

Ketika kita berdiri berbicara kepada Tuhan, pikiran kita harus fleksibel dan terbuka kepada Tuhan. Hanya dengan cara itu kita bisa apa yang Allah sedang coba lakukan. Kita harus siap secara mental bertemu dengan lingkungan yang tidak terduga. Saat kita sedang berbicara, kita harus menguji Roh Kudus untuk mengetahui apakah perkataan sudah berada pada arah yang tepat. Kita harus menguji roh kita dan menguji Roh Allah. Jika kita menemukan teryata ada roh yang dibebaskan setelah beberapa kata, kita harus melatih pikiran kita agar roh semakin dibebaskan. Kita mungkin menemukan bahwa roh kita semakin dibebaskan ketika kita berbicara beberapa kalimat. Kita harus lebih banyak berbicara di jalur ini untuk membebaskan roh. Saat kita sedang berbicara, pikiran kita harus menjamah poin puncak di dalam roh. Ketika pikiran kita menjamah poin puncak, kita harus siap berbicara kalimat yang lain untuk membebaskan roh. Kalimat ketiga dan keempat, yang akan membebaskan roh, harus mengikuti. Dengan kata lain, ketika firman sampai pada poin di mana roh dibebaskan, pikiran jangan berpaling pada arah yang lain, dan pembicaraannya jangan beralih pada hal yang lain. Pikiran dan firman harus bergerak bersama satu garis. Semakin dia berbicara, semakin pengurapan mengalir, dan semakin roh dibebaskan. Firman menjadi semakin kuatdan kuat sampai mencapai klimaks di dalam roh.

Seringkali klimaks di dalam roh sama dengan klimaks di dalam firman. Tetapi seringkali keduanya tidak berada pada tempat yang sama. Kadang-kadang klimaks rohani ada sebelum firman mencapai puncaknya. Kita tidak bisa melakukan hal apa-apa mengenai hal itu. Tetapi jika klimaks perkataan sudah ada dan klimaks roh belum ada, kita harus mempertimbangkan keperluan apa yang yang harus dilakukan untuk membebaskan roh dengan kuat. Kita harus memperhatian hal ini pada waktu itu. Sama seperti kita mencari jarum yang hilang, meraba setiap tempat dengan magnet. Ketika magnet mendekati jarum, jarumnya akah terkait. Seorang pembicara harus menguji perkataannya sendiri. Jika rohnya tidak bergerak ketika dia berbicara, dia harus mengubahnya. Jika roh tetap diam setelah dia mencoba cara yang lain, dia harus mengubahnya lagi. Dia harus memperhatikan ketika roh mulai bergerak. Seorang yang berpengalaman akan mengetahui saat roh bergerak dalam perkataannya. Setelah perkataan yang tepat diutarakan, dia mempunyai perasaan dia telah mengatakan hal yang tepat. Mungkin perasaannya sangat halus dan lembut, tetapi dia mengetahuinya. Saat dia berbicara dengan pikirannya, dia menguji apah Roh menyukai perkataannya atau tidak. Ketika Roh menyetujui perkataannya, dia mungkin mendapatkan kepastian di dalam. Saat dia mengikuti arusnya, roh akan semakin dibebaskan. Di bagian itu, pikirannya harus mengarahkan perkataannya dan menguatkan perkataannya. Dia seharusnya tidak beralih ke arah yang berbeda. Dia harus menggerakkan perkataannya pada arah yang sama. Semakin perkataannya mengikuti arah yang sama, semakin roh dibebaskan, dan dia akan semakin klimaks rohani dalam perkataannya. Kita harus belajar menguji Roh dengan perkataan. Kita harus tahu perkataan apa yang membawa sampai klimaks Roh dan perkataan apa yang bisa merusaknya. Semakin kita menjamah puncak, semakin banyak roh mengalir, dan semakin kuat pengurapan. Semakin perkataan kita mengenai titik yang tepat, semakin banyak pengurapan yang kita terima, dan semakin perkataan kita membawa kita pada puncak rohani, ketinggian tertinggi. Ketika kita merasakan Roh dan berkat Tuhan, kita bisa yakin bahwa kita telah menjamah inti pembicaraan kita; ini klimaks rohani dalam perkataan kita. Jika roh kita kuat, kita bisa mempertahankan klimaks ini untuk waktu yang lama. Jika roh kita tidak kuat, kita harus berpaling sebentar; jika tidak, klimaksnya akan turun dingin dan turun. Panjangnya waktu bergantung pada berapa kuat roh kita. Jika roh kuat, klimaksnya bisa dipertahankan lebih lama. Jika roh tidak kuat, klimaksnya akan memudar. Kita tidak bisa mencoba mempertahankannya dengan usaha kita. Ini sepenuhnya masalah roh. Ketika roh hilang dan firman tertinggal, pembicara harus menghentikan perkataannya pada poin ini.

Untuk alasan inilah, pikiran kita harus fokus dan luwes di depan Tuhan. Pikiran harus terfokusm dan harus luwes. Pikiran harus fokus dalam pengertian pikiran tidak memperhatikan hal yang lain. Tetapi, pada waktu yang sama, pikiran juga harus sangat lembut sehingga bisa menghadapi hal yang tidak terduga. Kita harus berhati-hati sehingga pikiran tidak menjadi kaku sehingga kita tidak bisa menjamah hadirat Tuhan dan klimaks dalam perkataan-Nya. Pikiran kita harus dilatih menangkap firman Allah dan pergerakan Roh. Jika kita melakukan hal ini, perkataan kita akan mengikuti klimaks roh ketika kita berfungsi dalam ministri firman.

INGATAN YANG SEMPURNA

Ketika kita berbicara sebagai seorang minister firman, kita harus melatih pikiran kita. Kita biasanya mengucapkan sesuatu berdasarkan apa yang muncul dalam pikiran kita; apa yang kita pikira, kita ucapkan. Pikiran kita harus mengendalikan perkataan kita. Tetapi pikiran kita harus memiliki isinya; jangan penuh dengan hal-hal yang sia-sia. Basis pikiran kita adalah ingatan kita. Bahan-bahan dalam perkataan yang kita pakai berasal dari apa yang telah kita pelajari sebelumnya, apa pun yang telah diduduki oleh pikiran kita, yang kita alami dan lihat di masa lalu, dan pekerjaan peremukkan yang telah kita alami. Semua itu kita terima dari Tuhan. Pekerjaan yang Tuhan lakukan dan peremukkan yang telah Dia rampungkan menjadi tembok yang tersusun. Kita menghabiskan seluruh hidup kita mengumpulkan pengalaman, disiplin, pengajaran, dan pengetahuan Alkitab. Hal ini menjadi tabungan yang bertambah di dalam kita. Ketika kita berdiri berbicara bagi Tuhan, Roh Allah alan mengarahkan pikiran kita mencari melalui ingatan kita untuk dipakai. Dengan kata lain, Roh Kudus mengarahkan pikiran kita, sementara pikiran mengarahkan perkataan. Pikiran menyuplai bahan-bahan yang masih mentah yang datang dari ingatan. Jika kita tidak mempunyai pengalaman apa pun, kita tidak mempunyai ingatan apa pun; kita tidak bisa ingat apa yang tidak pernah kita terima. Kita hanya bisa ingat apa yang telah kita terima. Hal-hal khusus yang kita ingat akan menyuplai pikiran kita dengan perkataan yang tepat untuk mendukung perkataan kita. Di balik perkataan itu harus ada pikiran yang baik, yang berasal dari ingatan. Bukan khayalan, melainkan pengalaman yang diperoleh sebelumnya.

Perkataan itu berdasar pada pikiran, pikiran berdasar pada ingatan, dan ingatan berdasar pada pengalaman. Ketika kita berdiri berbicara, kita hanya bisa menggambar dari sumber yang telah kita kumpulkan selama hidup kita. Pengalaman yang kita kumpulkan seperti barang-barang di dalam gudang. Tuhan harus membawa kita melalui banyak pengalaman; kita harus belajar banyak pelajaran dan melihat banyak kebenaran. Semua ini disimpan dalan gudang pengalaman kita. Ketika kita membuka mulut kita untuk berbicara, perkataan kita dibangun atas pengalaman kita. Tetapi bagaimana perkataan kita dibangun di atas pengalaman kita? Perkataan kita hanya berkaitan dengan pikiran kita. Kita mungkin ingin mengatakan sesuatu, dan kita seddang mempertimbangkan apa yang ingin dikatakan, pikiran kita akan datang pada gudang ingatan. Pengalaman hidup kita hanya bisa diakses dan dikeluarkan oleh ingatan kita. Ingatan sepeti manajer gudang; hanya bisa mengeluarkan sesuatu yang telah kita ketahui dan alami. Pikiran kemudian mengelola bahan-bahan ini dan melepaskannya melalui perkataan kita. Di sini kita melihat pentingnya ingatan. Kita harus meletakkan direktur dan bahannya bersama-sama. Setiap ministri firman mulai dari Roh Kudus. Tetapi ketika Roh Kudus berbicara, Dia berbicara melalui pikiran kita. Ketika Roh ingin mengatakan sesuatu, Dia pertama-tama mempertimbangkan apa yang bisa pikiran lakukan untuk-Nya. Apa pun yang ingin dikatakan Roh, pikiran harus mengikuti firman. Jika Roh ingin mengatakan hal-hal tertentu, pikiran harus memanggil hal itu terlebih dahulu. Saudara, hari demi hari kita semakin menyadari bahwa pikiran kita tidak memadai untuk Dia pakai. Kita tidak bisa memanggil apa yang ingin Roh katakan, dan kita berpikir mengnei apa yang tidak ingin dikatakan Roh. Ini bukti bahwa pikiran kita tidak memadai untuk Dia palai. Seorang minister firman hanya perlu sekali berbicara bagi-Nya; dia akan merendah dengan segera. Dia akan menyadari bahwa dia tidak bisa melakukannya dengan dirinya sendiri. Dia tidak bisa mengingat apa yang diinginkan Roh, dan dia bisa mengingat apa yang tidak ingin dikatakan Roh. Pikirannya seperti roda terbang yang bertabrakan dengan roda yang lain. Pada hari tertentu dia merasa baik. Apa pun yang Tuhan ingin katakan muncul dari mulutnya secara spontan; dia memiliki pengutaraan yang tepat untuk menyingkapkan perkataan Tuhan. Selama waktu-waktu ini, pikirannya seperti roda terbang yang terbang dengan bail. Ketika Roh bergerak, pikirannya sesuai dengan pergerakan dan aliran Roh. Tetapi ini tidak terjadi setiap waktu. Pikiran seringkali tidak berfungsi demikian baik. Roh mungkin ingin mengatakan sesuatu, tetapi pikirannya terlalu tumpul untuk memikirkan perkataan yang tepat.

Kita harus menyadari bahwa Roh Kudus mendikte pikiran kita, sementara pikiran kita mendikte perkataan kita. Jika Roh Kudus tidak bisa mendikte pikiran kita, maka pikiran pun tidak bisa mendikte perkataan kita. Ketika pikiran kita mendikte perkataan kita, maka pikiran perlu bantuan ingatan. Pikiran tidak muncul dengan perkataannya sendiri, melainkan hanya mengingat kata-kata. Perkataan ini bukan imajinasi atau khayalan. Semuanya tersimpan dalam gudang. Kita pertama-tama harus mempunyai ayat di dalam gudang kita. Tuhan harus menanggulangi dengan cara tertentu terlebih dahulu. Ketika ada keperluan, Tuhan akan membuat kita mengingat hal itu. Itulah sebabnya, saat kita memberitakan, kita harus melatih pikiran kita. Roh Kudus mengarahlan pikiran, dan pikiran mencari melalui semua pengalaman kita di dalam ingatan kita dan kemudian mengeluarkannya dalam kata-kata. Perkataan ini menjadi ministri firman yang baik. Ingatan yang sehat itu sangat berguna karena bisa membantu dan tersedia kapan kala di perlukan. Dalam ministri firman, Roh Kudus memakai pikiran manusia untuk mengingat apa yang telah dia pelajari. Tanpa usaha apa pun dalam diri kita, Roh bisa mengingat sesuatu yang telah kita pelajari dan lihan dan menempatkannya dalam pikiran kita. Pikiran kita mengingatnya dan mengutarakannya keluar. Banyak hal terbentuk dalam bentuk beberapa kata. Jika pikiran tidak didisiplinkan, pikiran tidak bisa mengulang kata-kata ini, dan roh tidak bisa dibebaskan. Selama salah satu bagian diri kita itu tidak berfungsi, roh tidak mengalir. Kita masih bisa memberitakan, tetapi roh tidak bebas. Membebaskan roh memerlukan kerjasama dari pikiran dan ingatan yang berfungsi secara penuh. Selama ada sesuatu yang salah dengan pikiran maupun ingatan kita, kita tidak bisa berfungsi dengan tepat. Hal ini sangat serius.

Mungkin kita mengetahui apa yang Tuhan ingin kita katakan. Mungkin sesuatu yang panjang yang tidak bisa diekspresikan dalam satu kata. Mungkin perlu tujuh atau delapan kata. Tuhan ingin kita mengatakan kata-kata ini, tetapi kita takut kita akan melupakannya. Karena itu kita berusaha keras mengingatnya. Ketika kita datang dalam sidang, pikiran kita mengingat tujuh atau delapan kata itu. Kita mengatakan kepada diri kita bahwa kita harus mengingatnya. Hati ktia mengarah pada hal itu, tetapi kita selalu menemukan ternyata pikiran kita tidak bekerja pada hari itu. Roh kita tidak dibebaskan. Hanya menyimpan kata-kata dalam pikiran tidak ada gunanya; kata-kata demikian tidak ada kuasanya. Ketika kata-kata itu dibebaskan, roh tidak bergerak. Bagi seorang minister firman, ingatan demikian mungkin sesuatu yang spontan. Jika kita mencoba mengumpulkannya secara palsum hal itu akan berkebalikan ketika Roh mencoba mengingatnya.

Seorang minister firman tidak hanya perlu pikiran yang sempurna tetapi ingatan yang sempurna. Ingatan itu seperti sambungan listrik; jika ada satu bagian yang putus, maka listrik pun terputus. Ketika ada bagian dalam ingatan kita yang terhalangi, Roh Tuhan tidak bisa mengalir keluar. Selama ingatan kita terputus dari sumber, kita bisa melewatinya. Jika kita berusaha menjadikan ingatan atau pikiran kita sebagai sumber, kita bisa melewatinya. Ketika Roh Kudus menjadi sumber, pikiran dan ingatan kita bisa sangat berguna. Hanya ketika Roh Kudus bersinar dari dalam kita, kita baru menyadari betapa miskinnya pikiran kita. Ketika kita kurang terang di dalam roh kita, kita menjadi sombong karena pikiran, ingatan, dan kemampuan kita. Ketiga hal itu kelihatannya berfungsi dengan baik. Tetapi ketika kita diterangi oleh Roh Kudus, kita menyadari ketidak gunaan pikiran, ingatan, dan kemampuan. Inilah alasannya kita harus berdoa; kita harus berdoa supaya ingatan kita bisa menjadi ingatan Roh Kudus dan Roh Allah bisa memakainya ketika Dia memerlukannya. Ketika kita berbicara, kita mungkin tidak bisa mengingat kata-kata yang penting. Perbedaannya di sini sangat besar. Jika kita mengingat kata-kata ini, kita akan merasa beban seperti batu besar di atas pundak kita. Beban ini terasa berat bagi kita, dan firman dan roh akan keluar.

Kita harus melatih seluruh konsentrasi kita agar seluruh diri kita tersedia bagi Roh itu. kita harus mengumpulkan segala sesuatu yang telah kita alami dalam hidup kita, semua pendisiplinan yang telah kita pelajari, dan semua hal yang telah kita baca dan dengar, semua wahyu yang telah kita lihat dalam hidup kita, dan semua pengajaran yang kita pelajari dari terang. Kita harus meletakkan semua itu di depan Roh dan membuatnya tersedia bagi Dia. Semua itu harus dikumpulkan dan tersedia pada waktu bersamaan. Asalnya, kita seperti sebuah rumah dengan semua jendela yang terbuka bagi suara-suara bising dan warna-warni dari luar. Sekarang jendela ini harus ditutup, sehingga tidak ada gangguan dari luar. Semua perkara yang telah kita terima dalam hidup kita harus dipakai untuk kegunaan Roh. Setiap saat ministri firman dilepaskan dengan kuat Roh Kudus mengambil segala sesuatu dalam hidup kita dan menggunakannya selama lima sampai sepuluh menit. Ministri firman berkaitan dengan harga. Membebaskan roh membutuhkan harga. Manusia lahiriah harus diakhiri; semua jendela yang terbuka harus ditutup. Kita harus memfokuskan semua ingatan kita; seluruh diri kita harus di bawah penjagaan yang ketat. Pada waktu-waktu penting, kita harus membuat segla sesuatunya tersedia bagi Roh Kudus. Ketika hal ini terjadi, kita akan memiliki ministri firman yang kuat. Di dalamnya tidak boleh berantakan, rusak, maupun kecerobohan. Kita harus menjaga pikiran kita dalam kondisi puncak; pikiran kita harus terjaga setiap kali kita berbicara. Kita harus mengumpulkan semua seperti belum pernah dilakukan selama hidup kita. Kita harus mengumpulkan semua hal dalam hidup kita dan membuatnya tersedia bagi Roh Kudus. Inilah tugas ingatan manusia di dalam ministri firman.

Supaya ingatan memiliki bahan-bahan yang cukup, kita harus belajar banyak pelajaran di depan Tuhan dan mengalami banyak hal. Ministri firman ada berdasarkan pendisiplinan Roh Kudus. Tanpa pendisiplinan Roh Kudus, kita tidak memiliki suplai, dan kita tidak memiliki sesuatu untuk dikatakan. Kita menerima suplai melalui pendisiplinan Roh Kudus. Saat kita menambahkan tabungan kita terus menerus, maka akan ada ruangan dalam ingatan kita untuk menyimpan bahan-bahan itu. Tetapi jika kita hanya pendisiplinan yang sedikit dari Roh Kudus, kita tidak memiliki apa-apa untuk Roh. Itulah sebabnya kekayaan ministri firman sangat bergantung pada kekayaan pendisiplinan yang diterima oleh minister. Semakin minister belajar dan menerima pendisiplinan, semakin banyak ruangan bagi ingatannya melakukan sesuatu dengan bahan-bahan yang ada, dan semakin banyak material dalam pikirannya yang dipakai untuk menghasilkan kata-kata. Ketika melayani sebagai minister firman, kita harus memperhatikan perkataan kita; kita tidak bisa mengucapkan sesuatu yang sia-sia, dan kita harus memiliki ingatan yang cukup untuk menerapkan segala sesuatu yang telah kita pelajari menjadi perkataan kita. Jika Roh Allah mengarahkan pembicaraan, segala sesuatu yang telah kita pelajari dalam hidup kita akan menjadi berguna.

PERASAAN SESUAI DENGAN FIRMAN

Seorang minister firman juga harus melatih perasaannya. Kita harus menyadari bahwa roh mengalir keluar dari kita hanya ketika perasaan kita sesuai dengan perasaan kita. Jika ada keragu-raguan dalam perasaan kita mengenai firman yang kita terima dari roh, maka firman tidak akan keluar, dan roh tidak akan bebas. Kita seringkali merasa ragu-ragu. Apakah artinya? Kita mungkin merasa malu karena suatu hal, atau kita mungkin takut terhadap kritik dari orang lain, sikap dingin atau penentangan. Kita mungkun mengurangi perkaatn kita atau menahan perasaan yang kita miliki mengenai perkataan kita. Kita menahannya dan tidak berani menyesuaikan perasaan kita dengan perkataan kita. Ketika kita berbicara, kita harus melepaskan perasaan kita. Jika tidak kita lepaskan, kita akan merasa ragu-ragu, dan ketika kita ragu-ragu maka firman tidak akan mengalir. Tidak peduli betapa kerasnya kita berusaha, roh tidak akan pernah bebas. Jika firmannya membuat kita ingin menangis, maka kita harus menangis. Firman seringkali membuat kita ingin menangis, tetapi pembicara malah tidak menangis. Ketika hal ini terjadi perasaan dan firman tidak sesuai.

Kulit luar manusia sangat keras. Selama dia tidak melepaskan perasaannya, rohnya tidak dibebaskan. Tanda pencurahan Roh Kudus yang paling kelihatan adalah membebaskan perasaan kita. Ada dua cara membebaskan perasaan kita. Pertama adalah melalui pencurahan. Kedua adalah melalui peremukan. Pelepasan melalui pencurahan merupakan pelepasan luaran. Kita sendiri harus belajar dibebaskan sebelum roh bisa dibebaskan. Peremukan dan pendisiplinan membuat manusia bisa lepas, bahkan ketika dia sedang tidak mengalami pencurahan. Saudara muda yang tidal pernah wahyu yang dalam memerlukan pencurahan; pencurahan ini akan melegakan dirinya. Tetapi dia seharusnya tidak mempercayai pelepasan melalui pencurahan. Dia harus menerima semua jenis pendisiplinan setiap hari, sampai manusia luarannya diremukkan. Peremukan seperti ini sangat berharga. Dia harus dibebaskan tidak hanya ketika dia mempunyai pencurahan Roh; perasaannya harus diremukkan bahkan ketika dia tidak mengalami pencurahan apa pun. Dengan kata lain, jika pendisiplinan Roh Tuhan sudah cukup menyakitkan dan jika kulit perasaan sudah diremukkan, kita akan memiliki berbagai perasaan yang diminta firman dari diri kita. Kita harus menyesuaikan firman dengan perasaan kita. Jika firman dilepaskan tanpa perasaan kita, roh tidak akan mengalir. Seringkali firman Allah membuat kita menangis, tetapu kita tidak bisa menangis, atau firman-Nya membuat kita ingin berteriak tetapi kita tidak bisa teriak. Ini dikarenakan diri kita tidak bebas. Perasaan kita dipengaruhi oleh orang-orang di sekitar kita, dan perasaan kita tidak bisa sesuai dengan perkataan kita.

Seringkali, untuk membebaskan roh dengan kuat, seorang harus berteriak dan menangis. Tuhan Yesus pernah berteriak. Yohanes 7:37 mengatakan, “Dan pada hari terakhir, yaitu pada puncak perayaan itu, Yesus berdiri dan berseru.” Pada hari Pentakosta, Kis. 2:14 mengatakan, “Maka bangkitlah Petrus berdiri dengan kesebelas rasul itu, dan dengan suara nyaring ia berkata kepada mereka.” Ketika tekanan dari Roh sangat kuat di atas diri manusia dan perasannya tertekan, dia dipaksa harus berbicara dengan suara keras. Perasaan di luar dan di dalam menjadi sama. Ketika Petrus dan Yohanes dibebaskan dari penjara, saudara-saudara berkumpul bersama dan berseru kepada Allah (4:23-24). Mereka menderita penganiayaan yang berat. Mereka meminta kepada Tuhan memperhatikan mereka dan memberi mereka keberanian membicarakan firman-Nya, mengulurkan tangan-Nya menyembuhkan sehingga tanda dan mukjizat bisa diketahui oleh karena nama Tuhan. Paulus pun demikian. Ketika dia melihat seorang lumpuh di Listra, dia berseru, “Berdirilah di atas kakimu” (14:10). Hal ini menunjukkan ketika ministri firman dilepaskan, firman harus berkorespon dengan perasaan.

Jika kita tidak bisa lewat hari ini dan jika kita tetap merasa ragu, kita juga akan menemukan keraguan di dalam roh kita. Roh tidak akan dibebaskan. Dalam kisah Tuhan Yesus, dalam doanya yang pertama untuk gereja, dan dalam kisah Petrus dan Paulus, kita melihat perasaan yang kuat dibebaskan di sana. Mereka semua berbicara dengan suara keras. Ketika roh kita dibebaskan, roh harus disertai perasaan yang kuat. Kita tidak menganjurkan orang-orang berdoa dengan berteriak. Kita mengatakan bahwa ketika roh kuat, suara bisa keras. Jika roh tidak kuat, suara tidak akan pernah keras. Jika kita secara batini kekurangan perasaan, behkan dengan berteriak ke seluruh ruangan pun tidak akan ada gunanya. Ketika ada beberapa orang menyanyi, semakin keras suara mereka semakin sedikit roh yang mereka miliki. Sama halnya dengan pemberitaan. Keras yang palsu tidak akan berhasil. Kepalsuan tidak ada gunanya dalam ministri firman. Realitas yang batini harus dibebaskan. Kita jangan pernah berusaha meniru roh secara luaran. Ketika perkataan kita dibebaskan, perasaan kita juga harus dibebaskan. Inilah alasannya mengapa kita harus diremukkan. Jika kulit luar kita dipecahkan, kita bisa berteriak sesuka hati kita, bersuka sesuka hati kita, dan meratap sesuka hati kita. Kita tidak perlu berpura-pura mengeluarkan perasaan itu; semua akan mengalir dari dalam dengan sendirinya.

Jika Tuhan tidak bisa melewati perasaan kita, Dia tiak akan bsa melewati perasaan orang lain. Orang lain mungkin dingin, kering, dan bertentangan. Ketika kita berbicara, kita harus melewati perasaan kita. Jika Tuhan tidak bisa melewati perasaan kita, kita tidak bisa mengharapkan Dia melewati perasaan orang lain. Jika Tuhan tidak bisa membuat kita menangis, Dia tdak bisa membuat orang lain menangis. Jika tekanan tidak menghasilkan air mata di dalam kita, kita tidak bisa orang lain akan menghasilkan air mata. Kita adalah rintangan pertama yang harus ditaklukan oleh firman Tuhan. Saat kita berbicara, kita sering merasa perasaan kita tidak tersedia bagi kita. Harga tertinggi dalam ministri firman adalah harga peremukan kita. Tuhan harus meremukkan diri kita sampai berkeping-keping sebelum Dia memiliki jalan melalui kita. Firman Allah harus menjamah kita dengan kuat sebelum reaksi kita bisa menjadi reaksi Allah. Jika ratapan Yeremia tidak bisa membuat orang-orang Yahudi menangis, maka seorang nabi yang tidak menangis tentu tidak bisa membuat seluruh bangsa itu menangis. Yeremia adalah seorang nabi yang menangis, meratap. Jika seorang nabi tidak menghasilkan bangsa yang menangis, maka seorang nabi yang tidak menangis tentunya juga tidak akan menghasilkan bangsa yang menangis. Supaya umat Allah menangis, nabi harus menangis terlebih dahulu. Allah mendapatkan kepuasan di dalam diri saudara-saudara yang membebaskan perasaan mereka ketika mereka berdiri berbicara. Ketika seorang minister firman berdiri di atas mimbar, dia harus belajar menyesuaikan perasaannya dengan firman.

PERKATAAN HARUS TERANG DAN TINGGI

Semua minister firman Allah harus belajar dari Alkitab mengenai karakter firman Allah. Sekali saja mereka belajar hal ini, mereka akan mengetahui dibawah lingkungan seperti apa Tuhan akan memakai mereka. Secara sederhana dikatakan, ada dua karakteristik dalam firman Allah. Pertama, terang; kedua, tinggi. Firman Allah itu terang. Bahkan orang buta pun tidak akan tersesat dan orang yang lumpuh tidak akan disingkirkan oleh firman Allah. Firman Tuhan sangat jelas dan terang. Perumpamaan dalam Alkitab bukan sebuah teka-teki. Jika firman Allah adalah teka-teki, maka manusia tidak akan mengerti apa yang ditulis. Firman Allah bukan teka-teki; firman Allah jelas dan jernih. Itulah sebabnya, setiap minister firman harus belajar berbicara dengan jelas. Kita harus terbiasa berbicara dengan jelas dan sederhana; kita jangan terlalu banyak kata-kata. kita harus memperhatikan apakah orang lain memahami perkataan kita. Jika orang lain tidak mengerti, kita harus mengubah cara kita. Kita harus selalu ingat bahwa firman Allah diberikan kepada manusia untuk dimengerti, bukan disalahpahami. Matius 13 merupakan pengecualiankarena orang-orang Yahudi menolak Tuhan. Itulah sebabnya, firman Allah tersembunyi bagi mereka.

Seorang minister firman harus dilatih dalam kemampuannya berbicara. Kita mungkin mengerti sesuatu hari ini, dan mungkin hanya perlu lima menit untuk memahaminya. Tetapi kita mungkin perlu lima jam untuk merenungkannya. Ketika kita berbicara, kita harus bertanya kepada seorang saudara apakah dia mengerti apa yang kita katakan. Jika dia tidak mengerti, kita harus mengubah cara kita. Kita perlu berbicara sedemikian rupa sehingga orang lain bisa segera mengerti. Kita jangan berbicara selama setengah jam dan kemudian mengetahui bahwa hanya lima menit dari pembicaraan kita yang dimengerti. Sebaliknya, kita harus berbicara lima menit dan memastikan orang lain mengerti lima menit pembicaraan kita. Lebih baik berbicara sedikit daripada menghabiskan waktu dua puluh lima menit. Kita harus belajar bicara dengan helas. Kita harus mengembangkan kebiasaan berbicara dengan jelas dan tidak menghabiskan banyak kata-kata. Kita harus selalu menggunakan kata-kata yang sederhana dan selalu mempertimbangkan bagaimana kita bisa membuat perkataan kita dimengerti. Kita harus meminta Allah memberi kita kata-kata yang jelas yang bisa kita ekspresikan. Kita bisa mengekspresikan pemikiran kita melalui perumpamaan, tetapi kata-kata kita harus jelas. Ini merupakan sifat dasar firman Allah. Jika sifat perkataan kita berbeda dari sifar firman Allah, kita tentu akan menghadapi masalah dalam perkataan kita. Mereka yang bermasalah dengan perkataan mereka harus melupakan “wajah” mereka. Mereka harus merendahkan diri dan meminta nasihat dari saudara-saudari lain. Mereka harus berlatih berbicara kepada orang lain selama lima menit untuk mengetahui apakah mereka mengerti apa yang mereka katakan. Mereka harus rela menerima koreksi sehingga mereka lain kali bisa berbicara lebih lama, mungkin sepuluh menit. Karena kita di sini untuk berbicara bagi Allah, kita harus belajar berbicara, dan perkataan kita harus diucapkan dengan jelas kalimat demi kalimat. Maknanya harus jelas, dan pemilihan kata harus sesuai. Kita berbicara untuk membuat orang lain mengerti. Allah tidak ingin firman-Nya menjadi teka-teki, seperti beberapa perumpamaan dalam Perjanjian Lama. Allah tidak ingin manusia menghabiskan banyak waktu untuk mencoba memahami firman-Nya. Seorang minister firman harus meminta nasihat dari saudara yang telah belajar dan mengalami lebih banyak dan harus meminta kritikan mereka mengenai bagian yang tidak jelas. Dia harus belajar mengembangkan perkataannya dan berusaha membuat perkataannya sederhana dan jelas.

Firman Allah itu jelas, juga luhur atau tinggi dan dalam. Allah tidak pernah mengucapkan sesuatu yang rendah dan hanya dipermukaan saja. Dia tidak pernah mengatakan sesuatu yang kedengarannya menggairahkan namun tanpa roh. Perkataan seorang minister firman harus seperti sebuah palu; memukul firman Allah dengan kuat. Jika dia hanya memukul dengan lembut, perkataannya tidak akan menjamah firman Allah. Jika perkataan kita rendah, kita tidak bisa mengekspresikan firman Allah tak peduli betapa beratnya kita berusaha. Perkataan kita harus menjaga ketinggian dan kedalamannya. Sekali saja kita mengubah sifat dari perkataan Allah, kita tidak akan bisa menjamah firman-Nya. Perkataan kita harus tinggi. Perkataan kita harus tinggi dan dalam karena Tuhan mengalir melalui perkataan kita. Sekali saja perkataan kita rendah dan datar, Allah tidak akan dilepaskan. Beberapa saudara berbicara dengan cara yang rendah ketika mereka mengutip sebuah ayat sehingga sulit membayangkan bagaimana firman Allah bisa dilepaskan melalui mereka. Beberapa saudara sangat kekanak-kanakan sehingga orang lain pun bertanya bagaimana firman Allah bisa keluar dari mulut mereka. Kita harus memperhatikan keagungan perkataan kita. Saat perkataan kita menjadi rendah, perkataan Allah memudar atau bahkan hilang. Ketika perkataan kita tetap rendah, Allah tidak bisa mendapat kesempatan mengalirkan diri-Nya keluar. Semakin nasihat kita berada pada tempat yang rendah, semakin sedikit orang bisa menjamah sesuatu. Semakin nasihat yang kita berikan berada pada posisi yang tinggi, semakin orang lain akan menjamah sesuatu. Ini merupakam fenomena yang sangat aneh. Misalnya ada seorang anah perempuan berusia dua atau tiga tahun yang baru mengenal kata-kata. Kita bisa mengatakan kepadanya, “Malam ini saya akan memberimu permen. Jika kamu bersikap baik, maka Tuhan Yesus akan mengasihimu.” Ini boleh saja diucapkan kepada mereka. Tetapi jika kita mengatakan hal ini di atas mimbar, “Malam ini saya akan memberi Anda permen. Jika Anda mendengarkan khotbah saya, Tuhan Yesus akan mengasihimu”, apakah perkataan seperti ini akan berhasil? Ini merupakan perkataan yang sangat rendah, malah kekanak-kanakan, dan seperti pembicaraan bayi. Ketika perkataan kita menjadi rendah demikian, maka tidak akan ada lagi perkataan yang ilahi. Allah mau semua pelayan-Nya selalu berada pada posisi yang tinggi. Semakin tinggi kita mendaki, semakin baik pendengar kita menerima perkataan kita.

Kita harus menyadari bahwa merupakan tugas yang penting bagi seorang minister firman mendaki tempat yang tinggi di depan Allah. Semakin kita mendaki, semakin ada perkataan yang ilahi. Jika kita mempunyai sasaran yang tinggi, pengajaran dan nasihat yang kita berikan akan rendah; kita akan kekurangan pembicaraan Allah. Ketika perkataan kita rendah, firman Allah tidak akan dibebaskan. Allah tidak mentoleransi pemikiran yang rendah, perkataan yanga rendah, nasihat, perumpamaan, maupun ekspresi yang rendah. Itulah sebabnya, perkataan kita harus tinggi, jelas, dan tajam. Inilah cara melepaskan firman Allah. Seringkali kita memiliki terang, firman, dan beban. Kita ingin mengutarakan firman dengan cara yang jelas, tetapi tekanannya terlalu besar, dan kita tidak bisa jelas. Sangat sulit berbicara dengan jelass bahkan ketika kita berlatih. Jika kita tidak berlatih, bagaimana kita melakukannya? Kita harus belajar berbicara sederhana, jelas, dan tajam. Kita harus menjadikan hal ini sebagai kebiasaan kita. Pada waktu yang sama, kita harus mencapai perkataan kita setinggi mungkin. Kita jangan pernah menjamah sesuatu yang rendah. Sekali saja kita menjamah hal yang rendah, firman Allah tidak akan lepas. Ini poin yang sangat penting.

SETIAP WAKTU ADA KEMAJUAN

Saat ini lebih sulit bagi kita berbicara dibandingkan dengan mereka yang berbicara ratusan tahun yang lalu, dan lebih sulit lagi bagi mereka yang berbicara empat sampai lima ratus tahun yang lalu. Lebih sulilt bagi kita berbicara dibangdingkan dengan Martin Luther, karena melepaskan firman Allah selalu maju dan berkembang dari waktu ke waktu. Semakin kita mengutarakan firman Allah, semakin berat dan semakin tinggi hal yang dicapai. Hari ini pembicaraan Allah telah mencapai tahap hari ini, dan kita tidak bisa kembali pada pembicaraannya yang dahulu. Kita harus lebih maju. Tuhan mengatakan, “Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, dan Aku pun bekerja juga” (Yoh. 5:17). Allah tidak pernah berhenti bekerja. Dia bekerja kemarin, dan Dia bekerja hari ini. Pekerjaan-Nya hari ini lebih maju dibandingkan dengan pekerjaan-Nya kemarin, dan pekerjaan-Nya besok akan lebih maju dibandingkan dengan hari ini. Pekerjaan-Nya tidak pernah semakin mundur, tetapi semakin maju. Pekerjaan-Nya selamanya maju dan tidak pernah mundur. Martin Luther melihat kebenaran mengenai pembenaran oleh iman. Tetapi apa yang telah dilihat orang selama seratus tahun terakhir mengenai pembenaran oleh iman lebih daripada apa yang dilihat oleh Martin Luther. Ini bukannya sombong. Ini menunjukkan firman Allah semakin maju. Buku terbaik yang ditulis oleh Martin Luther adalah mengenai penjelasan kitab Galatia. Tetapi orang-orang percaya hari ini melihat lebih banyak dari kitab Galatia dibandingkan dengan apa yang Luther lihat. Firman Allah telah bergerak maju, dan mustahil bagi seseorang untuk mundur.

Kita harus menyadari bahwa semua kebenaran ada di dalam Alkitab. Dasar perkataan kita adalah Alkitab. Tetapi menemukan kebenaran Alkitab, membebaskan firman Allah, dan perkara mengenai gereja itu terus maju hari demi hari. Setiap generasi anak-anak Allah melihat lebih dibandingkan generasi sebelumnya. Contohnya, dalam beberapa abad terakhir, gereja menginterpretasikan kerajaan itu sebagai surga, tetapi dalam abad terakhir hal ini menjadi semakin jelas. Kerajaan adalah kerajaan, dan surga adalah surga; keduanya merupakan hal yang berbeda. Hari ini kita bahkan semakin jelas; kerajaan bukan perkara pahala melainkan juga perkara meraja dan berkuasa. Kita percaya semua kebenaran Alkitab sangat jelas selama jaman rasul-rasul. Kemudian kebenaran tersebut terkubur dan baru dipulihkan kemudian sedikit demi sedikit. Misalnya saja perkara kebangkitan. Pemahaman kita atas hal itu telah maju. Selama bertahun-tahun manusia berbicara mengenai kebangkitan dengan cara terbatas; mereka memahaminya hanya pada ruang lingkup yang sempit. Tetapi hari ini orang lain telah melihat apa itu kebangkitan. Mereka telah melampaui pendahulu-pendahulu mereka atas apa yang telah mereka lihat. Jika Allah merahmati gereja, firman akan semakin kaya. Ketika Allah berbicara, firman-Nya semakin tinggi dan tinggi. Firman Allah selalu maju. Dia selalu siap memberi lebih kepada gereja-Nya. Saat membaca mengenai cara berkhotbah pada abad kedua dan ketiga dan membandingkannya ministri firman hari ini, kita bisa melihat berapa banyak perkembangan yang telah terjadi. Roh Kudus tidak berjalan mundur. Firman tetap maju; tidak undur. Meskipun secara luaran gereja menghadapi banyak halangan, Allah kita tetap maju. Allah tidak berhenti setelah Dia merampungkan sesuatu. Dia tetap bekerja dan tetap maju. Itulah sebabnya, ministri firman hari ini harus lebih menjamah sesuatu dibandingkan ministri-ministri sebelumnya. Kita harus menyadari di depan Tuhan bahwa kasih karunia dicurahkan dengan tidak terbatas. Supaya gereja semakin bertumbuh sampai perawakan yang penuh dan menjamah kepenuhan Kristus, kita percaya bahwa kekayaan ministri harus bertambah. Jangan berbicara dengan rasa puas dan tidak ada kemjuan. Allah ingin kita menjamah sesuatu yang tinggi. Dia ingin memberi kita perkara yang tinggi. Mungkin Allah tidak memilih kita menjadi minister yang istimewa, seorang yang “menyambung”, tetapi saya harao kita semua tetap bisa memiliki bagian di antara para minister yang lain. Meskipun kita tidak bisa membangun bingkai dari suatu pekerjaan, setidaknya kita bisa mengisi kekurangan dalam pekerjaan yang sudah ada.

BAGIAN EMPAT : PENDENGAR