PENDENGAR FIRMAN
Sekarang kita sampai bagian emapat, yakni pendengar. Berbicara tidak hanya berkaitan dengan minister melainkan juga pendengar firman. Ministri firman bisa kuat atau tidak sangat bergantung pada pendengar. Minister firman sangat berkaitan dengan berbicara, tetapi pendengar juga sangat berkaitan. Jika minister firman mengemban setengah tanggung jawab, pendengar juga mengemban setengahnya. Firman bisa dilepaskan atau tidak bergantung pada minister dan pada pendengar. Pendengar bisa saja menjadi penghalang yang menutupi firman Allah, dan bisa juga menjadi penguat terhadap firman Allah. Beberapa contoh di dalam Alkitan menunjukkan kepada kita bagaimana sikap seorang pendengar. Kita harap kita bisa belajar sesuatu darinya.
S A T U
Pertama mari kita lihat Matius 13. Tuhan Yesus berbicara dalam perumpamaan karena Allah tidak bisa mewahyukan diri-Nya kepada “orang bijak dan orang pandai” (Mat. 11:25). Orang bijak dan orang pandai tidak bisa berharap melihat wahyu Allah. Untuk alasan yang sama, mereka tidak bida berharap menerima suplai dari firman. Orang bijak dan orang pandai tidak bisa menerima wahyu yang langsung dari Allah, dan dia tidak bisa menerima wahyu dari minister firman. Ketika ministri sampai kepada pendengar dan ternyata ada mereka di antara pendengarnya, maka firman Allah dengan segera menjadi terganggu. Bisa juga terganggu sampai benar-benar terhalangi, atau bisa juga terganggu sampai tingkat firman hanya bisa dilepaskan dengan cara yang lembut dan lemah. Ketika seorang menganggap dirinya bijak, semakin sulit baginya untuk menerima terang dari Allah. Semakin seorang percaya diri, semakin firman Allah tertutup baginya. Kita harus ingat bahwa menurut Perjanjian Lama, Allah seringkali memeterai nubuat-Nya kepada manusia (Dan. 12:9). Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa firman bisa dibuka, dan juga bisa tertutup karena termeterai setelah firman itu dilepaskan. Kami di sini buka untuk menjelaskan makna meterai maupun menjelaskan berapa lama firman itu telah termeterai. Kami sedang menunjukkan suatu prinsip rohani. Seorang bisa saja mendengar pembicaraan Allah tetapi ternyata firman itu termeterai. Atau bisa saja dia menjamah firman Allah tetapi firman itu pun termeterai. Kitab Daniel menunjukkan kepada kita fakta mengenai pemeteraian, sedangkan Tuhan Yesus menunjukkan mengapa firman bisa tersembunyi. Allah ingin menyembunyikannya dari orang bijak dan prang pandai sehingga mereka tidak bisa memahaminya. Ketika seorang merasa bijak dan pandai, Roh Kudus dengan persetujuan Allah akan menyembunyikan firman ini darinya.
Alkitab memberika kita prinsip yang mendasar: setelah manusia makan pohon pengetahuan baik dan jahat, jalan menuju pohon hayat telah tertutup. Sejak saat itu, pohon hayat dijaga oleh kerub dan pedang yang menyala-nyala dan menyambar-nyambar (Kej. 3:24). Saat manusia menerima pengetahuan baik dan jahat, dia tidak bisa lagi menjamah hayat. Pemisahan ini tidak hanya memisahkan diri manusia dari Allah tetapi juga terpisah dari penyediaan-Nya. Inilah makna meterai. Tidak ada kaitannya dengan kemampuan manusia. Meskipun dia mampu melakukan sesuatu, Allah tetap akan memeterainya. Ini hal yang serius. Ketika manusia memperhatikan pengetahuan, hayat lari darinya. Ketika manusia menyombongkan kebijaksanaan dan kepandaiannya dan menyombongkan serta meninggikan dirinya, dia harus ingat bahwa wahyu firman Allah tersembunyi darinya. Dia tidak akan melihat apa-apa, apa yang dia lihat hanyalah awan. Inilah meterai Allah. Tuhan berkata, “"Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil” (Mat. 11:25). Allah sengaja melakukan hal ini.
Dalam ministri firman Allah, kita harus memperhatikan kondisi pendengar. Ketika kita berbicara kepada orang yang baru beroleh selamat, kita jangan melatih roh kita terlalu banyak; mungkin kita tidak memerlukan terang dan perkataan terlalu banyak. Tetapi saat menginjik, kita mendapati baha ternyata kita harus melatih roh dan menggunakan banyak perkataan. Seringkali kita harus menjamah wahyu Allah yang lebih tinggi, perkara yang lebih rohani dan lebih termeterai. Pada saat itu kita merasa kita lebih memerlukan perkataan, terang, dan roh. Misalnya ada seorang yang berpikir bahwa dirinya bijak dan pandai. Allah akan menyembunyikan diri-Nya dari orang itu. Allah tidak akan memberikan wahyu yang langsung kepadanya. Meskipun orang itu hadir tetapi minister firman tidak akan bisa berfungsi dengan baik. Jika membebaskan firman itu tidak terlalu memberikan persyaratan, perusakannya mungkin tidak akan terlalu serius. Tetapi jika permintaan untuk membebaskan roh begitu besar, perusakannya juga akan besar. Jika ada permintaan permintaan besar untuk membebaskan roh, orang itu akan menjadi perusak ministri firman. Wahyu Allah yang tinggi akan terhalangi karena Allah menyembunyikan hal ini dari mereka.
Dalam pembahasan sebelumnya kita telah melihat tanggung jawab para minister. Selain kualifikasi minister kita juga harus melihat kondisi pendengar. Jika seorang berada dalam kondisi yang menghalangi berkat Allah, kehadirannya akan menurunkan suasana pembicaraan. Tidak peduli betapa kuatnya seorang minister, pembicaraannya tidak akan membumbung tetapi malah akan turun. Meskipun dia begitu kuat di depan Allah, dan meskipun dia ingin memberikan wahyu kepada orang lain, ministri firmannya akan kekurangan wahyu di hadapan orang bijak dan orang pandai. Pada akhirnya perkataannya hanya akan memberikan sedikit wahyu. Kita juga tidak terlalu jelas bagaimana pengaruh pendengar terhadap suatu khotbah, tetapi faktanya pendengar benar-benar mempengaruhi suatu khotbah. Beberapa orang belum pernah ditaklukkan oleh Allah. Orang-orang pandai tidak pernah ditundukkan. Di depan mereka, jarang sekali khotbah bisa menjadi tinggi.
Saat belajar menjadi seorang minister firman, kita harus ingat bahwa kadang-kadang masalahnya ada pada kita, firman ada di dalam kita. Tetapi ada kalanya masalah itu tidak terletak pada diri kita. Kita telah ditanggulangi dari semua halangan, tetapi wahyu, roh, dan firman masih juga belum lepas. Saat itu masalahnya mungkin ada pada pendengar. Ketika seorang belajar menjadi minister firman, dia tidak mempunyai wahyu dan terang yang besar, dan halangannya bukan pada pendengar. Tetapi ketika dia mempunyai pengalaman dalam berbicara, dan ketika dia dipanggil untuk melepaskan wahyu yang kuat, dengan kehadiran satu atau dua orang sombong saja sudah cukup menghalangi perasaannya yang halus; perkataannya tidak akan bisa lepas, tidak peduli betapa keras dia berusaha. Perasaan roh sangat halus. Salah satu karakteristik firman ialah firman harus diarahkan kepada manusia. Firman harus keluar, roh harus mengalir, dan Roh Kudus harus bebas. Tetapi ketika ada satu orang yang menganggap dirinya hebat yang bisa berkomentar, maka si pembicara tidak akan bisa membebaskan roh dengan murni sekalipun dia memiliki firman. Seringkali kiga harus memimpin seorang saudara ke dalam terang Allah agar dia mengenal dirinya. Di saat yang lain kita harus memimpin saudara yang lain kepada Tuhan untuk mengakui kemuliaan Ruang Maha Kudus. Kita harus ingat bahwa di dalam terang Allah ada wahyu yang murni. Tidak ada doktrin maupun pengajaran; yang ada hanya wahyu yang murni, tidak ada yang lain. Inilah waktu penerangan yang murni dan peremukkan yang murni. Jika ada tiga atau lima orang saudara hanya menjadi orang yang menerka-nerka apa yang sedang terjadi, rohnya tertutup, dan merasa tidak perlu menjamah atau menerima firman Allah atau merasa tidak perlu menyembah kepada Allah, maka firman akan lemah. Selain itu firman menjadi terbelenggu. Semakin kita ingin menyalurkan perkara rohani kepada orang lain, semakin mudah pembicaraan kita dipengaruhi oleh manusia. Semakin sedikit hal rohani yang ingin kita berikan kepada orang lain, semakin sedikit pengaruh perusakan dalam pembicaraan kita. Ada orang yang berpikir cara untuk mengancam firman adalah dengan cara menjadi orang bijak dan orang pandai. Tuhan tidak akan pernah memberkati mereka. Alangkah bodohnya jika menganggap diri bijak dan pandai.
Tuhan berkata dalam Matius 11:25, “(Engkau) nyatakan kepada orang kecil (lit. bayi).” Semakin lembut seorang pendengar, semakin kuat firman dilepaskan. Semakin ia rendah hati, semakin mudah orang lain di bawa berlutut di hadapannya. Semakin ia rela menerima firman dan semakin taat, semakin kuat terang menerangi dan membuka wahyu bagi mereka. jika seorang semakin sulit menerima bantuan, semakin sulit membantunya. Jika dia mudah menerima bantuan, semakin mudah membantunya. Ini prinsip rohani yang mendasar. Umumnya orang sulit menerima bantuan. Mereka melawan firman dan Alkitab. Akibatnya, mereka sulit menerima terang. Sulit menembus semua kritikan mereka. Ketika firman dikritik sedemikian, firman menjadi terhalang. Jika seorang seperti anak-anak, semakin siap dia menerima bantuan dari Tuhan. Saat dia semakin lembut, dia tidak akan banyak menghakimi di depan Tuhan. Semain hatinya terbuka kepada Tuhan, semakin rohnya terbuka. Allah memberi mereka suplai ministri firman yang kuat. Ia memberi mereka wahyu yang besar. Allah menolak orang-orang yang keras kepala. Itulah sebabnya kita harus mencari, rendah hati, sederhana, dan sederhana. Inilah artinya menjadi seorang bayi. Jika kita seperti bayi, semakin banyak kasih karunia yang kita terima dari Allah. Jika semakin sombong dan keras kepala, semakin sedikit kasih karunia yang kita terima karena Allah menghancurkan hikmat orang-orang bijak dan melenyapkan pengertian dari orang-orang yang mengerti. Tuhan harus membawa kita pada titik kita mengakui hikmat dan pengertian kita tidak ada gunanya. Jika Allah memimpin kita lebih maju lagi selama tiga atau lima tahun dan merahmati kita, kita akan melihat ke belakang dan menyadari bahwa sesungguhnya hikmat kita benar-benar membunuh kita. Akan tiba waktunya ketika kita seharusnya menerima rahmat tetapi karena hikmat kita, kita tidak bisa menerimanya. Banyak orang tidak menyadari bagaimana hikmat mereka telah merugikan mereka. Ketika Allah merahmati kita, mereka akan melihat hikmat mereka sangat merugikan mereka.
D U A
Satu Korintus 1:19 mengatakan, “Aku akan membinasakan hikmat orang-orang berhikmat dan kearifan orang-orang bijak akan Kulenyapkan.” Tujuannya agar “tidak ada manusia yang memegahkan diri di depan Allah” (ay. 29). Secara sederhana dikatakan, Allah tidak mau kita sombong. Allah tidak mau seorang pun berhikmat atau memahami. Di satu sisi, kita mempunyai hikmat kita sendiri; di sisi lain, kita perlu kekuatan. Manusia memiliki hikmat, tetapi pada waktu bersamaan dia juga lemah. Hari ini Allah membalikkan segala sesuatu. Dia membalikkan hikmat kita menjadi kebodohan. Hasilnya adalah kelemahan kita menjadi kekuatan kita. Ini luar biasa, dan sangat sulit meraihnya. Manusia berhikmat, tetapi dia juga lemah. Hari ini Tuhan mengubah hikmat kita menjadi kebodohan dengan hasil kelemahan kita menjadi kekuatan kita. Allah sedang meremukkan hikmat manusia. Pada waktu yang sama, Dia juga memberi kita kekuatan.
Hal ini mungkin sulit untuk dimengerti. Apakah hubungan antara kekuatan dan hikmat? Mengapa kekuatan diberikan sedangkan hikmat dilenyapkan? Bagaimana seorang bisa menjadi kuat ketika hikmatnya dilenyapkan? Bagaimana kekuatan bisa muncul ketika hikmat manusia disingkirkan? Bagaimana Allah menghancurkan hikmat manusia, dan bagaimana Dia memberi kekuatan kepada manusia? Satu Korintus 1:30 mengatakan, “Tetapi oleh Dia kamu berada dalam Kristus Yesus, yang oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita.” Tuhan telah menjadi hikmat kita. Berikutnya dikatakan “Ia membenarkan dan menguduskan dan menebus.” Hikmat ini termasuk kebenaran, pengudusan, dan penebusan. Bagaimana Allah menjadikan Kristus sebagai hikmat kita? Ketika hikmat kita hilang dan kita lagi memegang hikmat apa pun dan pengertian kita sendiri, dan kita menjadi orang yang bodoh, Allah akan menjadikan Kristus sebagai hikmat kita. Hikmat ini mencakup Kristus yang menjadi kebenaran kita, Kristus yang menjadi pengudusan kita, dan Kristus yang menjadi penebusan kita. Tiga manifestasi kekuatan ditemukan di dalamnya. Kita perlu kekuatan menjadi orang yang benar, kita perlu kekuatan menjadi orang yang dikuduskan, dan kita perlu kekuatan untuk ditebus. (Penebusan di sini mengacu pada penebusan tubuh.) Untuk melakukan semua hal itu perlu kekuatan yang besar, yang tercakup di dalam Tuhan Yesus sebagai hikmat kita.
Dengan kata lain, semua kasih karunia Allah diberikan kepada kita melalui wahyu. Allah telah menjadikan Kristus sebagai wahyu kita. Akhirnya, Kristus menjadi kebenaran, pengudusan, dan penebusan kita. Pertama-tama kita menerima wahyu, tetapi hasilnya kita menerima kebenaran, pengudusan, dan penebusan. Itulah sebabnya ketika masalah hikmat diselesaikan, masalah kekuatan pun diselesaikan. Dengan kata lain, ketika perkara wahyu ditentukan, segala sesuatu yang berkaitan dengan kekayaan rohani pun terselesaikan. Kemiskinan rohani diselesaikan, dan kemiskinan firman pun terselesaikan. Segala sesuatu dalam alam rohani melibatkan penglihatan kita, sekali kita melihat, kita mendapatkannya. Jika kita tidak melihat, kita tidak memilikinya. Kita tidak bisa berhadapan dengan kebenaran secara langsung, tetapi kita bisa melihat wahyu. Saat kita menerima wahyu, kita mempunyai kebenaran. Kita bisa menerima kebenaran hanya melalui wahyu. Kita tidak perlu mencari kebenaran terpisah dari wahyu Allah. Ini menjelaskan alasan mengapa Tuhan tidak mau kita memiliki hikmat. Ketika hikmat kita datang, hikmat Tuhan pasti akan pergi, dan wahyu pun akan hilang. Ketika wahyu tidak ada, semua berkat rohani pun terputus. Ketika visi rohani hilang, kekuatan rohani juga hilang. Jika kita membuang semua kebodohan rohani, kekuatan rohani akan bertambah maju. Kedua hal ini saling berkaitan.
Manusia tidak bisa bisa menyesuaikan pekerjaan Tuhan secara langsung; semua pekerjaan Tuhan tersimpan di dalam alam wahyu. Ketika kita memiliki wahyu, kita memiliki segalanya. Jika kita mencoba memisahkan pekerjaan Tuhan dari wahyu, pekerjaan-Nya akan mati. Beberapa orang berdosa ingin menerima Tuhan. Mereka tahu bahwa mereka adalah orang-orang berdosa dan Tuhan adalah sang Penyelamat. Tetapi ketika mereka berdoa kepada Tuhan, mereka sepertinya tidak memiliki pemahaman. Mereka bahkan bisa memberitahu orang lain mengenai keselamatan, tetapi mereka bersikap dingin dan tidak meresponi kebenaran. Ini cara menyesuaikan pekerjaan Tuhan dengan pikiran manusia. Mereka tidak memiliki wahyu. Dalam peristiwa yang lain, seorang mungkin berdoa di dalam kamarnya atau sedang mendengarkan suatu khotbah dalam sidang. Ketika Tuhan membuka matanya sedikit dan dia melihat Tuhan telah mati baginya, maka dia langsung menerima kematian Tuhan. Ketika dia menjamah wahyu, dia mendapatkan Kristus. Tanpa menjamah wahyu, dia tidak akan pernah memiliki Kristus. Semua itu bergantung apakah dia menerima wahyu atau tidak. Ini prinsip mendasar. Allah harus menyimpan pekerjaan-Nya dalam alam wahyu. Tidak seorang pun memisahkan pekerjaan-Nya dari wahyu. Seorang hanya bisa menerima pekerjaan-Nya melalui wahyu.
Jika kita memahami prinsip rohani ini, kita akan menyadari bahwa ministri firmna sangat dipengaruhi oleh para pendengar. Ketika seorang menjadi bijak dan pandai, Allah akan menyembunyikan diri-Nya. Jika kita seperti seorang bayi, menunggu, merendahkan diri, dan lembut terhadap Tuhan, Dia akan langsung menjadi hikmat kita. Ketika Dia menjadi hikmat kita, semua masalah yang berkaitan dengan kekuatan akan terselesaikan. Ketika kita mengambil Kristus sebagai hikmat kita di depan Allah, kita dengan mudah akan menemukan kebenaran, pengudusan, dan penebusan. Jika kita tidak menerima Kristus sebagai hikmat kita, kita tidak akan bisa menermukan kebenaran, pengudusan atau penebusan. Realitas rohani tersimpan di dalam wahyu Kristus. Ketika seorang menerima wahyu, dia menjamah realitas. Jika dia tidak menerima wahyu, dia tidak menjamah realitas. Kebenaran di masa lampau, pengudusan di masa kini, dan penebusan di masa depan, semua kekuatan yang kita perlukan, tersimpan di dalam hikmat ini. Ketika Tuhan Yesus menjadi hikmat kita, hikmat ini mencakup ketiga hal tersebut. Allah telah meletakkan ketiga hal ini—kebenaran, pengudusan, dan penebusan di dalam wahyu. Ketika kita menjamah wahyu, kita akan langsung menjamah hal tersebut. Substansi rohani dan kebenarannya tercakup dalam wahyu Allah. Jika para pendengar ministri firman adalah orang-orang yang sombong, percaya diri, atau rohnya tertutup, Allah tidak akan bisa memberinya wahyu apa pun. Allah tidak akan memberi mereka apa-apa. Kita harus belajar merendahkan diri, lembut, dan sederhana di depan Tuhan. Jika kita semakin sombong, kita semakin jauh dari wahyu Allah. Bahkan seorang minister firman pun tidak akan bisa melakukan apa pun terhadap kita; bahkan dia akan terganggu karena kita. Allah menyembunyikan diri-Nya dari orang bijak dan pandai dan mewahyukan diri-Nya kepada bayi. Hal ini sangat serius.
T I G A
Roma 11:8 mengatakan, “seperti ada tertulis: "Allah membuat mereka tidur nyenyak, memberikan mata untuk tidak melihat dan telinga untuk tidak mendengar, sampai kepada hari sekarang ini." Ayat ini mengatakan bahwa Allah membuat orang-orang Yahudi tertidur nyenyak. Mereka mempunyai mata, tetapi mereka tidak bisa melihat; mereka memiliki telinga tetapi mereka tidak bisa mendengar sampai hari ini. Situasi dalam Matius 13 lebih serius dibandinkan dengan situasi dalam Matius 11. Dalam pasal 11 Tuhan hanya berbicara hal-hal tersembunyi. Dalam pasal 13 lebih daripada hal yang biasa; apa yang dibicarakan berdasarkan pasal 12. Lebih umum daripada hal-hal yang sementara tersembunyi. Dalam pasal 12 Tuhan Yesus mengusir setan-setan dengan kuasa Roh Kudus. Orang-orang Yahudi yang membenci diri-Nya tanpa alasan menuduh Dia mengusir setan dengan kuasa Beelzebul, penguasa setan-setan (ay. 24). Mereka membenci Tuhan sehingga mereka menutup mata dan menuduh Dia mengusir setan dengan kuasa penghulu setan. Mereka dengan jelas mengetahui Bahwa Tuhan Yesus mengusir setan dengan Roh Kudus, tetapi mereka membenci-Nya tanpa alasan. Ketika mereka membenci Tuhan, mereka menghujat Roh Kudus dan megnatakan dia mengusir setan dengan Beelzebul, penghulu setan. Mereka menuduh. Mereka tahu tahu bahwa Tuhan mengusir setand dengan Roh Kudus, tetapi mereka memutuskan untuk tidak mempercayainya. Mereka memutuskan untuk menolak Tuhan, dan bersikeras tidak mau percaya. Mereka memutuskan untuk menolak Tuhan, dan mengatakan Dia tidak mengusir setan dengan Roh Kudus, tetapi dengan Beelzebul, penghulu setan. Mereka mengeraskan hari mreka. Ini gambaran dalam pasal 12. mereka tidak akan diampuni, di jaman ini maupun di jaman yang akan datang. Dengan jelas Roh Kudus sudah bekerja, tetapi mereka tetap mengatakan itu adalah Beelzebul, penghulu setan yang bekerja. Nama Beelzebul berarti “raja lalat.” Tuhan Yesus mengusir setan dengan Roh Kudus, tetapi mereka menyamakan Dia dengan “raja lalat”; mereka menuduh diri-Nya mengusir setan dengan “raja lalat.” Betapa kerasnya hati manusia! Ini dosa terbesar dalam seluruh Alkitab. Tidak ada dosa yang lebih serius daripada dosa ini. Manusia bisa melakukan banyak dosa, tetapi tidak ada dosa yang lebih besar daripada dosa ini. Dosa ini tidak akan diampuni di jaman ini dan dijaman yang akan datang.
Kemudian dalam Matius 13, Tuhan Yesus berbicara dalam perumpamaan. Murid-murid kemudia bertanya kepada-Nya, “Mengapa Engkau berbicara kepada mereka dalam perumpamaan?” Dia menjawab, "Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Sorga, tetapi kepada mereka tidak (ay. 10-11). Mereka mendengar perumpamaan tentang penabur, tetapi mereka tidak mengerti artinya. Mereka mendengar mengenai batu, burung, dan semak duri, tetapi mereka tidak mengerti maknanya. Mereka juga mendengar mengenai tanah yang baik, tetapi mereka tidak tahu maknanya. Tuhan Yesus menunjukkan kepada kita satu prinsip dasar di sini: ketika manusia melakukan dosa, Allah menutup firman-Nya sehingga saat mendengar mereka tidak akan mengeri, dan dalam melihat mereka tidak akan menerima. “Sebab hati bangsa ini telah menebal, dan telinganya berat mendengar, dan matanya melekat tertutup; supaya jangan mereka melihat dengan matanya dan mendengar dengan telinganya dan mengerti dengan hatinya, lalu berbalik sehingga Aku menyembuhkan mereka“ (ay. 15). Sepertinya Allah membuat mereka tidak bertobat. Ketika manusia ada kecenderungan, penghakiman, enggan, dan mencari-cari kesalahan orang lain, terang Allah akan berhenti. Beberapa orang masih bisa memberitakan secara luaran, tetapu mereka tidak lagi memiliki wahyu. Yang mereka lihat hanyalah huruf-huruf yang tercetak. Kata-katanya mengalir tetapi tidak ada wahyu dan terang yang baru. Mereka melewati hari-hari mereka dalam kegelapan. Kita takut melakukan dosa, tetapi kita harus lebih takut melakukan dosa tanpa menyadarinya. Harap diingat bahwa orang dosa bisa diselamatkan pada saat Tuhan Yesus, tetapi orang-orang Farisi tidak bisa diselamatkan. Allah mempunyai jalan dengan orang-orang dosa, tetapi Dia tidak ada jalan terhadap orang buta yang berada dalam kegelapan. Sepertinya, orang-orang Farisi bukan orang dosa. Sebenarnya, Tuhan berkata bahwa mereka orang buta menuntun orang buta (15:14). Semakin buta seseorang, semakin sulit menanggulanginya.
Matius 13 dan Roma 11 menunjukkan suatu prinsip kepada kita: seorang bisa sangat jatuh sehingga terang Allah benar-benar tertutup baginya. Kita menyebutnya pencegahan Allah atau pemeteraian-Nya. Beberapa orang ada berada dalam kejatuhan yang dalam, bukan karena mereka bodoh tetapi justru karena mereka bijak. Seorang yang bersalah karena bodoh mudah dimaafkan. Tetapi seorang yang berdosa karena bijak sulit dimaafkan. Beberapa orang bukan hanya berdosa, tetapi di dalam mereka ada masalah. Ketika seorang berdosa karena hatinya menyimpang dari Allah, Allah menutup pintu baginya. Hal ini sangat serius. Allah tidak ingin orang melihat diri-Nya; Dia menyembunyikan diri-Nya dari mereka. Jika Allah menanggulangi kita dengan cara ini, kita bisa lewat. Tidak ada kerugian yang lebih besar daripada kerugian visi! Jika Allah menutup pintu bagi kita setiap saat kita bisa lewat. Kita harus berdoa, “Tuhan, jangan biarkan aku menjadi begitu bodoh sehingga mengatakan sesuatu yang sombong. Jangan biarkan aku menjadi bodoh dan menolak terang. Jangan biarkan aku jatuh sampai aku tidak ada kesempatan untuk bertobat.” Tanpa wahyu, tidak ada pengakuan dosa. Pemeteraian wahyu menandakan pemeteraian pengakuan dosa, dan pemeteraian pengakuan dosa menandakan pemeteraian pengampunan. Orang-orang Farisi menghujat Roh Kudus; mereka tidak bisa lagi bertobat, artinya mereka tidak bisa lagi menerima wahyu apa pun. Mereka mendengar, tetapi mereka tidak mengerti. Mereka melihat, tetapi mereka tidak menjamah apa pun. Dengan kata lain, mereka hanya mempunyai kata-kata tetapi mereka tidak memiliki wahyu. Beberapa saudara dan saudari tidak rela tunduk kepada orang lain dan tidak rela menerima perkara. Ketika seorang dihakimi karena menentang sesuatu, dia akan mengatakan salah ketika hal itu benar. Untuk menerima wahyu dari Allah, dia harus takut melakukan kesalahan. Dia tidak berani menghakimi, karena dia takut salah. Untuk menerima terang, seorang jangan terlalu berani. Ketika seorang lemah dan lembut, mudah bagi Tuhan untuk memberikan terang dan wahyu. Kita harus belajar membuka hati kita kepada Tuhan dan terus menerus menerima wahyu dari-Nya. Ketika Allah menutuip segala sesuatu kita tidak akan melihat terang apa pun. Jika seorang minister firman menghadapi orang yang tertutup dari Allah, mustahil baginya memberikan terang kepada orang tersebut.
E M P A T
Terang tidak pernah menunggu manusia! Kita harus datang kepada Tuhan dan memohon seperti perempuan yang meminta roti. Kita jangan pernah menganggap kita sudah menerima. Ini sangat serius. Kita harus melihat keseriusan masalah ini di depan Tuhan. Kita harus melihat bahwa Allah memiliki pekerjaan-Nya di bumi hari ini. Garis pekerjaan Allah tidak pernah berhenti, selamanya akan maju terus. Mereka yang memiliki mata akan melihat garis pekerjaan Allah, mereka akan mengetahui apa yang Allah kerjakan hari ini. Jika kiga tersandung, kita akan terjatuh dan tidak akan melihat. Ketika seorang berprasangka, dia tidak akan melihat. Jika dua puluh tahun yang lalu kita jauh dari apa yang Allah kerjakan, kita hanya bisa melihat ke belakang. Kita jangan pernah membiarkan diri kita tertinggal di luar garis ini. Inilah alasannya kita harus merendahkan diri kita. Satu hal yang pasti: Allah sedang maju. Dia bergerak selangkah demi selangkah. Kita harus mengikuti Dia tahun demi tahun. Jika Tuhan menjaga kita dalam roh rendah hati dan lemah lembut, kita akan menjamah sesuatu. Tetapi jika kita sombong, bangga, dan membenarkan diri sendiri, kita akan menemukan diri kita tersisih dari Allah. Jika kiga rela menjadi pendengar firman yang tepat, yaitu jika kita rela menerima firman dan tidak menolak firman Akkah, kita akan menjamah sesuatu dalam ministri, dan berkat dan terang Allah akan bersinar atas kita. Beberapa orang bahkan terlah jatuh! Semoga Tuhan merahmati kita sehingga kita merendahkan diri kita di hadapan-Nya.
Efesus 4 memberitahu kita bahwa gereja ajan sampai pada kepenuhan yang sempurna. Sepertinya Allah menaikkan standar ministri firman-Nya hari ini. Beberapa orang sudah mencapai perkara yang tinggi; ini bukan hal yang biasa. Teapi beberapa orang tetap harus menunggu selama sepuluh sampai dua puluh tahun sebelum mereka bisa mengetahui dan menjamah perkara yang tinggi ini. Banyak perkara hanya bisa dilihat setelah sejangka waktu, dan kita tetap jauh dari mereka. Kita harus meminta rahmat Allah sehingga kita bisa melihat sesuatu yang solid dan riil. Semoga Tuhan merahmati gereja-Nya dengan minsitri, dan semoga kita bisa belajar dari pelajaran yang seharusnya kita pelajari.