WAHYU ROH KUDUS
Kita telah melihat bahwa seorang minister firman harus memiliki firman Allah sebagai dasar ministrinya. Dia juga harus memiliki Roh Kudus yang menafsirkan firman Allah baginya. Sekarang kita lebih maju lagi memperhatikan hal yang lebih penting. Seorang minister firman Allah harus mengetahui perkataan Allah di masa lampau dan mempunyai penafsirannya, tetapi dia juga harus memiliki syarat yang lain: dia harus menjadi manusia wahyu. Apabila dia tidak memililki roh wahyu, dia tidak akan bisa melayani sebagai seorang minister firman. dia harus memiliki wahyu mengenai Firman Allah dan memiliki pengurapan Roh Kudus atas Firman ini. Tanpa wahyu dan pengurapan Roh, dia tidak bisa melayani sebagai seorang minister firman.
S A T U
Akitab itu sungguh luar biasa. Salah satu ciri khas kitab ini adalah meskipun kitab ini ditulis oleh manusia, namun dalam setiap bagian ada perkataan Allah. Ditulis oleh manusia, tetapi juga ditulis oleh Allah. Kitab ini memiliki banyak ekspresi, kalimat, dan kata-kata, dan hembusan Allah ada di dalamnya. Kata Inspirasi yang digunakan dalam 2 Tim. 3:16 dalam beberapa versi tetap dipakai, namun menurut bahasa aslinya yang tepat adalah “hembusan”, “nafas”. Alkitab adalah nafas Allah. Ditulis oleh orang-orang kudus kepunyaan Allah di bawah pimpinan Roh Kudus (2 Pet. 1:21). Ketika Allah menciptakan bumi, Dia menciptakan manusia dari debu tanah, tetapi manusia ciptaan ini masih belum hidup. Manusia menjadi jiwa yang hidup setelah Allah menghembuskan nafas hidup-Nya ke dalam dirinya. Alkitab adalah kitab yang ditulis oleh manusia. Terdiri dari kata-kata yang diucapkan manusia, tetapi nafas Allah ada sebagai tambahannya. Itulah sebabnya, kitab ini menjadi hidup. Kitab ini adalah firman hidup dari Allah yang hidup. Inilah arti perkataan Alkitab adalah hembusan Allah.
Kitab ini, Alkitab, berisi unsur manusia dan perkataan manusia. Ketika banyak orang membaca kitab ini, mereka hanya menjamah unsur dan perkataan manusia saja; mereka tidak merasakan perkataan Allah yang ada di dalamnya. Yang menjadikan Alkitab begitu unik adalah adanya dua ciri di dalamnya. Di satu pihak, secara luaran ada dimensi fisiknya. Sejauh mengenai dimensi fisik manusia, dia diciptakan dari debu tanah. Tetapi di pihak lain, ada dimensi rohani Alkitab. Alkitab itu berkaitan dengan Roh Kudus, yang adalah pembicaraan Allah dan hembusan Allah. Jika mengenai aspek luaran, itu artinya Alkitab ditulis dari ingatan manusia dan berasal dari ingatan manusia. Dihasilkan dari mulut manusia dan didengar oleh telinga manusia. Ditulis dalam bahasa manusia dan dimengerti oleh pikiran manusia. Manusia bisa memberitakan kebenaran yang ada di dalamnya, dan kebenaran ini bisa ada dalam ingatan manusia, dipahami pikiran manusia, dan diberikan kepada orang lain. Semua hal ini bisa terjadi sejauh hal itu berkaitan dengan kulit luaran Alkitab. Inilah aspek luaran Alkitab. Doktrin dan pengajaran bisa termasuk ke dalam kategori ini, karena ini adalah hal yang ada di dalam pikiran yang bisa diraih manusia, hal yang bisa dimengerti dan dipahami manusia karena kepandaiannya. Ini dimensik fisik Alkitab.
Namun, ada dimensi lain dari Alkitab. Tuhan Yesus berkata, “Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup” (Yoh. 6:63). Aspek lain dari Alkitab melibatkan roh dan hayat. Dalam dimensi ini, Allah mengutarakan perkataan-Nya ke dalam manusia. Ini bukan perkara yang bisa dipahami orang pintar atau orang yang memiliki ingatan yang baik. Juga bukan sesuatu yang bisa diselami oleh orang yang cerdas. Hal ini memerlukan organ lain untuk mengerti. Telinga, mata, dan pikiran tidak bisa memahami dimensi dari hal-hal ini.
Seorang minister firman melayani gereja tidak hanya dengan menjamah dimensi fisik Alkitab tetapi melalui menjamah dimensi rohani yang ada di dalamnya. Mereka yang melayani gereja dengan hanya menjamah dimensi fisik bukan seorang minister firman Allah. Apabila Alkitab tidak mempunyai aspek fisik, meskipun dia adalah seorang minister firman, pasti ada kesalahan di dalamnya. Tetapi Alkitab ada unsur fisik dan unsur manusia. Dalam aspek ini, hal ini bisa dipahami dan diterima oleh manusia. Inilah sumber bahaya dan masalah. Manusia bisa memberitakan unsur manusia yang ada di dalam Alkitab dengan kekuatan dirinya sendiri, dan dia beranggapan bahwa dia sedang melayani gereja dengan firman Allah. Dia bisa beranggpan kebenaran yang dia beritakan adalah kebenaran alkitabiah sehingga pengajaran mereka membentuk iman yang orthodoks dan murni. Dia bisa menipu dirinya sendiri dengan beranggapan bahwa pengajarannya merupakan pengajaran orthodoks. Akan tetapi, kita harus menyadari bahwa pengajaran ini tidak ada kaitannya dengan aspek rohani Alkitab; pengajaran itu berada dalam alam yang berbeda.
Beberapa orang muda beranggapan bahwa asal mereka mengerti bahasa Yunani, mereka bisa memahami firman Allah. Sangat sedikit yang menyadari bahwa orang-orang yang memahami bahasa Yunani ternyata sangat sedikit yang mengerti firman Allah. Faktanya, mereka malah tidak tahu apa-apa. Orang yang mengerti bahasa Ibrani tidak memahami Perjanjian Lama. Orang yang mengerti bahasa Ibrani dan orang-orang Kasdim tidak benar-benar memahami kitab Daniel. Mereka yang mengerti bahasa Mandarin tidak memahami Alkitab Mandarin. Alkitab berisi kata-kata yang maknanya jauh di belakang bahasa Mandarin dan bahasa Yunani. Alkitab berisi kata-kata yang tidak bisa dimengerti oleh orang-orang Ibrani dan orang-orang Kasdim. Kata-kata yang harus dimengerti seorang minister firman adalah perkataan Allah sendiri. Tidak semua orang yang memahami bahasa Mandarin bisa memahami Alkitab. Demikian juga dengan orang yang memahami bahasa Yunani pun tidak bisa memahaminya. Mengerti bahasa dan memahami Alkitab itu merupakan dua hal yang berbeda. Faktanya, untuk memahami firman-Nya juga merupakan hal yang benar-benar berbeda. Kita jangan pernah memiliki anggapan yang salah bahwa semakin kita mempelajari firman Allah, semakin kita bisa menjadi minister firman-Nya. Bukan perkara kita belajar Alkitab atau tidak, tetapi bagaiman kita mempelajarinya. Allah harus mengutarakan perkataan-Nya ke dalam manusia sebelum perkataan itu bisa menjadi firman Allah baginya. Manusia harus mengenal suara Allah. Hanya Allah yang bisa mengutarakan firman-Nya. Manusia harus mengenal suara Allah, dan Allah harus berbicara kepadanya sebelum dia bisa menjadi seorang minister firman Allah.
Dalam pemberitaan firman, kita hanya memberitakan injil, kita tidak memberitakan dasar dari injil. Kita melayani orang lain dengan injil, bukan dengan dasar injil. Alkitab adalah dasar injil; dasar pembicaraan Allah. Akan tetapi, kita tidak dapat mengatakan secara umum bahwa inilah yang dibicarakan Allah hari ini. Allah telah berbicara melalui kitab ini. Tidak diragukan lagi, Allah berbicara pada satu waktu tertentu. Tetapi Allah harus menghembuskan nafas-Nya melalui kitab ini sekali lagi hari ini agar kitab ini menjadi hidup bagi kita. Roh Allah harus dihembuskan ke dalam firman-Nya sebelum itu menjadi hidup bagi kita. Hari ini kita masih perlu wahyu Allah dalam firman-Nya sehingga firman-Nya bisa hidup bagi kita. Perbedaan antara firman menjadi hidup dan mati itu sangat besar. Kita harus melihat apa itu firman Allah.
Firman Allah adalah perkataan-Nya hari ini. Firman Allah bukan hanya perkataan-Nya di masa lalu. Perkataan-Nya di masa lalu adalah firman-Nya, tetapi hari ini Dia harus menghembuskan nafas-Nya sekali lagi atas firman ini. Firman Allah bukan hanya perkataan-Nya di masa lalu, melainkan juga perkataan-Nya hari ini. Kita harus menyadari bahwa ada dua alam bagi firman Allah. Kita mungkin telah mendengar bahwa Abraham percaya kepada Allah dan Allah memperhitungkannya sebagai kebenaran. Pembenaran Allah atas orang-orang yang percaya mungkin hanya sebagai pengajaran luaran bagi kita. Seorang dengan ingatan yang baik dan sangat pandai bisa mengajarkan hal ini; dia mungkin berpikir bahwa dia sedang memberitakan firman Allah. Tetapi sesungguhnya dia hanya memberitakan aspek permukaan firman. Ini bukan ministri firman Allah.
Kita harus memperhatikan apakah Alkitab itu. Alkitab adalah perkataan Allah di masa lalu. Pada suatu ketika, Allah berbicara, dan hembusan Roh ada dalam perkataan-Nya. Ketika perkataan ini dilepaskan, beberapa orang menjamah “firman Allah” tetapi beberapa orang lagi tidak. Ketika Paulus menulis kepada orang-orang Roma, ada dua hal yang terjadi. Pertama dia menulis suratnya dengan menggunakan beberapa hal fisik. Dia mungkin menuliskannya di atas kulit domba dan mungkin menggunakan getah pohon sebagai tinta. Kata-katanya tercatat dalam bahasa tulisan. Ini aspek fisikal dari surat kiriman, dan inilah alam di mana kita berada ketika kita membacanya secara luaran. Ketika Paulus mengirim surat ini kepada orang-orang Roma, mereka mungkin sudah terkesan dengan surat kiriman itu. Jika itu kasusnya, maka surat itu hanya surat, tidak lebih; tidak akan menjadi firman Allah bagi mereka. Tetapi ketika orang-orang Roma membacanya, Allah menghembuskan nafas-Nya atas setiap kata, dan setiap kata dipenuhi dengan nafas Allah, mereka akan menyadari bahwa mereka orang-orang berdosa dan pembenaran itu datang oleh iman. Mereka akan percaya kepada firman Allah dan menerimanya. Inilah ministri firman. Ketika mereka membacanya, mempelajarinya, dan mencoba memahami firman Allah, mereka akan menjamah “firman” yang dibicarakan oleh Paulus melalui kitab Roma ini. Orang lain yang mungkin cerdas, pandai, dan lahir dengan ingatan yang baik mungkin bisa membaca surat kiriman Paulus dengan mudah dan mungkin bisa menghafalkannya tanpa kesulitan. Namun dia tetap tidak mengerti arti dibenarkan oleh iman. Dia bisa memahami doktrin dibenarkan oleh iman, detapi tidak tidak bisa menjamah hal ini. Dia bisa menjamah hal-hal dimensi fisik dari Alkitab tetapi tidak dimensi rohaninya. Dia hanya bisa menjamah doktrin Alkitab, isi Alkitab, dan pemukaan firman Allah; dia tidak bisa menjamah hayat dalam firman-Nya.
Kita harus menyadari apakah Alkitab itu. Alkitab adalah pembicaraan Allah dimasa lalu. Alkitab merupakan ministri firman dari hamba-hamba-Nya di masa lalu. Kitab Roma merupakan ministri firman Paulus yang lalu. Ketika itu Allah mengutarakannya. Tetapi hari ini ketika kita membaca kitab Roma, kita mungkin hanya menjamah permukaan Alkitab, sisi fisikal dan luarannya saja. Hari ini Allah harus menghembskan nafas-Nya ke atas firman ini sekali lagi sebelum kita bisa mengetahui firman Allah dan sebelum kita bisa menjadi minister bagi-Nya. Tidak cukup jika Allah hanya sekali saja menghembuskan nafas-Nya. Dia harus menghembuskannya kembali sebelum kita bisa menjamah firman-Nya.
D U A
Apakah inspirasi? Apakah wahyu? Arti bahwa Alkitab menjadi inspirasi Allah adalah ketika Dia menghembuskan nafas-Nya atas kitab ini. Tanpa inspirasi Allah, Alkitab tidak bisa disebut Alkitab. Inspirasi merupakan dasar Alkitab. Allah menginspirasi Paulus untuk menulis kitab Roma. Melalui inspirasi dan hembusan Allah atas Paulus, dia menulis kitab Roma. Apakah wahyu? Wahyu adalah Allah sekali lagi menghembuskan nafas-Nya atas kitab Roma ketika kita membacanya dua ribu tahun kemudian. Melalui wahyu kita menjamah firman Allah sekali lagi. Inspirasi adalah peristiwa yang terjadi sekali, tetapi wahyu adalah peristiwa yang terus berulang. Ketika Allah menghembuskan nafas-Nya atas firman-Nya kedua kali, ketika kita mendapatkan terang sekali lagi melalui Roh Kudus dan pengurapan-Nya atas firman-Nya untuk melihat apa yang Paulus sudah lihat, kita mendapatkan wahyu. Wahyu berarti Allah sedang melakukan sesuatu hari ini, Dia sedang memulihkan apa yang pernah Dia berikan kepada manusia melalui inspirasi. Ini perkara yang luar biasa.
Saudara saudari, hal ini sungguh mulia. Apakah wahyu? Wahyu adalah Roh Allah memulihkan firman-Nya dengan cara yang khusus sehingga firman-Nya menjadi hidup dan penuh hayat ketika Paulus menulisnya. Ketika Allah menulis firman melalui Paulus, hayat bergetar baik di dalam diri penulis dan dalam tulisannya. Hari ini firman yang sama bisa dilepaskan sekali lagi. Allah bisa memenuhi firman-Nya dengan Roh Kudus sekali lagi. Pengurapan-Nya sekali lagi bisa bekerja di atas firman-Nya. Ketika hal ini terjadi, firman menjadi berkekuatan, menerangi, dan memberikan hayat seperti yang sudah pernah terjadi. Inilah wahyu. Tidak ada gunanya jika hanya mempelajari Firman. Apabila seorang tidak memiliki wahyu, dia bisa mempelajari firman dari halaman pertama sampai akhir tanpa mendengar satu kata pun dari Allah. Alkitab adalah firman Allah. Pada suatu ketika Allah mengutarakan perkataan ini. Tetapi jika Anda ingin perkataan ini menjadi firman Allah hari ini, Anda harus meminta Allah berbicara sekali lagi. Perkataan ini akan membawakan banyak hal—firman Allah, terang, dan hayat. Jika bukan perkataan seperti ini, Alkitab tetap buku yang tertutup dan mati bagi Anda.
Mungkin ada seratus saudara dan saudari berkumpul bersama di satu tempat, dan Allah berbicara melalui mereka. Akan ada kemungkinan tidak semua orang mendengar firman Allah. Setiap orang mendengar suara dan kata-kata. Tetapi mungkin hanya beberapa orang yang mendengar perkataan Allah, sedangkan yang lainnya tidak. Beberapa orang lagi mungkin menjamah hal-hal yang ada di dua alam, sedangkan yang lainnya hanya menjamah hal-hal di satu alam. Beberapa orang mungkin mendengar doktrin, kebenaran, yang disingkapkan melalui suara dan kata-kata. Mereka mungkin mengerti alur berpikirnya, dan mereka yang memiliki pikiran yang baik mungkin bisa menghafal setiap kata, tetapi mereka mungkin tidak mendengar perkataan Allah sama sekali. Mendengarkan perkataan Allah adalah hal yang berbeda. Saudara saudari, firman Allah bukan hanya doktrin atau pengajaran. Kita perlu mendengar doktrin dan pengajaran, tetapi selain mendengarkannya kita juga perlu sesuatu yang lain. Kita perlu pembicaraan Allah yang pribadi kepada kita. Setelah kita mendengar demikian kita bisa berkata, “Syukur kepada Allah, aku telah mendengar firman-Mu.” Barulah kita bisa mengatakan bahwa kita telah menjamah sesuatu yang riil.
Seandainya ada seratus orang mendengarkan injil. Sembilan puluh sembilan orang mungkin mengerti semua hal yang dikatakan. Mereka mungkin mengetahui doktrin, pengajaran, dan kebenaran. Mereka mungkin menganggukan kepala mereka dan berkata, “Ya. Ya.” Kesembilan puluh sembilan orang itu mungkin mengetahui hal-hal ini, tetapi ada kemungkinan hanya ada orang ke seratus, sisa dari sembilan puluh sembilan ini, yang menerima pengajaran lebih dari yang diterima orang lain, mendengar suara yang berbeda dibandingkan orang lain, dan mendapatkan firman lebih daripada yang diterima orang lain. Dia mendengar perkataan Allah lebih dari pengajaran semata, dan dia menundukkan kepalanya dan mengaku, “Aku orang berdosa. O Allah, selamatkanlah aku.” Orang seperti ini telah mendengar perkataan Allah. Sisa sembilan puluh sembilan orang lainnya hanya menjamah hal-hal yang berkaitan dengan manusia dan aspek fisikal firman; mereka tidak mendengar firman Allah. Inilah perbedaan antara keduanya.
Hal yang sama juga terjadi dalam pembacaan Alkitab. Alkitab adalah Firman Allah. Suatu ketika Allah berbicara kepada Paulus, Petrus, dan Yohanes melalui firman ini. Tetapi ketika beberapa orang membacanya, mereka hanya menemukan kata-kata, ekspresi, doktrin, kebenaran, dan pengajaran. Mereka memiliki segalanya kecuali perkataan Allah. Mereka bisa membaca Alkitab selama sepuluh tahun tanpa pernah Allah berbicara kepada mereka. Saudara saudari, pernahkah Anda mendengar seorang bersaksi mengatakan, “Aku sudah membaca Alkitab selama dua puluh tahun, tetapi aku tetap tidak mengerti apa yang dikatakan Alkitab”? Apakah Anda pernah mendengar seorang berdiri dan berkata, “Aku sudah membaca Alkitab selama lima sampai sepuluh tahun. Aku kira aku mengetahui segalanya. Tetapi suatu hari, Allah merahmati aku. Dia berbicara satu kata kepadaku. Sekarang aku tahu aku sebelumnya tidak tahu apa-apa”? Saudara saudari, orang yang berpengalaman bisa mengatakan perbedaannya. Seorang harus memiliki firman Allah dalam perkataannya. Dalam perkataan manusia harus ada perkataan Allah. Apabila Allah tidak membuka mulut-Nya, tidak ada yang bisa membantu. Kedua hal ini benar-benar alam yang berbeda. Yang satu alam doktrinal, kebenaran, pengajaran, kata-kata, bahasa, dan ekspresi. Dalam alam ini setiap orang yang rajin dan pintar, yang memiliki ingatan yang baik dan tajam, bisa dengan mudah mendapatkannya. Tetapi di alam yang lain, Allah harus mengulangi perkataan-Nya kepada manusia. Saudara saudari, apakah Anda melihat perbedaannya? Allah telah berbicara, dan kata-kata yang Dia ucapkan tercatat dengan rinci di dalam Alkitab. Tetapi Allah juga bisa berbicara kepada manusia melalui firman Alkitab untuk yang kedua kali. Inilah yang kita sebut sebagai pembicaraan Allah hari ini. Allah harus berbicara kepada kita melalui firman yang pernah diucapkan-Nya. Dia harus menerangi kita kedua kali melalui terang-Nya yang tersingkapkan. Dia harus memberikan kepada kita terang yang segar di dalam wahyu yang diberikan-Nya. Inilah prinsip dasar ministri firman. Tanpa hal ini kita tidak memiliki ministri firman.
Sangat sedikit di antara kita yang tidak mengerti hubungan antara Alkitab dengan wahyu Allah yang baru. Saya akan memberikan sebuah ilustrasi yang lain. Misalnya, Anda menyadari bahwa Allah ingin Anda berbicara sesuatu untuk Dia. Mungkin bukan sesuatu yang dramatis, tetapi setidaknya Anda bisa mengatakan bahwa Anda memiliki perasaan yang pasti bahwa Tuhan mengatakan sesuatu melalui Anda; ada perkataan yang khusus. Mungkin dua tahun kemudian Anda mengalami situasi yang sama. Anda bertemu dengan orang yang sama, dan muncul keperluan yang sama. Anda merasa bahwa apa yang anda ucapkan dua bulan yang lalu merupakan perkataan yang paling tepat untuk mereka hari ini. Anda mungkin sangat yakin bahwa Anda bisa membantu mereka dengan cara demikian. Tetapi ketika Anda berbicara dua bulan lalu, pengurapan Roh Kudus ada saat Anda berbicara. Ketika Anda mengulangi perkataan yang sama hari ini, anehnya, anda merasa gagal. Kekuatan perkataan itu hilang. Apa yang salah? Waktu yang lalu saat anda merasa penuh pengurapan, anda merasa yakin Roh Kudus pasti akan terus mengurapi anda. Tetapi hal itu tidak terjadi. Roh Kudus mungkin pernah mengurapi Anda, tetapi tidak berarti Dia akan mengurapi lagi ketika Anda mengatakan hal yang sama.
Kita harus ingat bahwa manusia bisa menerima perkataan wahyu. Akan tetapi ini tidak berarti bahwa hal itu akan menjadi perkataan wahyu ketika mereka mengucapkan hal yang sama. Perkataannya mungkin sama, tetapi wahyunya sudah tidak ada. Kita mungkin bisa mengulangi perkataan yang sama, tetapi kita tidak bisa mengulangi wahyu dan pengurapan. Wahyu dan pengurapan ada di tangan Allah. Kita hanya bisa mengulangi kata-katanya saja; kita tidak bisa mengulang wahyu. Kita harus melihat hubungan antara ministri perkataan dan Alkitab, atau hubungan antara Alkitab dengan perkataan. Mungkin ada seorang berdosa yang datang pada kita hari ini. Jika kita membicarakan Yohanes 3:16, dia mungkin mengaku bahwa dia orang berdosa. Setelah itu, mungkin ada orang lain yang datang pada kita. Kita mungkin berada dalam ruangan yang sama dan mengutip ayat yang sama, tetapi Roh Kudus mungkin tidak berbicara, dan orang yang terakhir ini mungkin tidak beroleh selamat. Yohanes 3:16 tidak berubah. Pertanyaannya adalah apakah pengurapan itu ada atau tidak.
T I G A
Kita yang melayani sebagai minister firman harus belajar pelajaran ini. Bukan berapa banyak firman yang kita mengerti, atau kebenaran Alkitab yang kita lihat, maupun berapa banyak ayat yang kita kutip. Ini tidak akan menyusun kita menjadi seorang minister firman. Kita harus melihat kebenaran Alkitab, dan kita perlu mengutip dan memahami Alkitab. Tetapi selain itu kita perlu satu resep dasar. Jika kita mempunyai resep dasarnya, kita akan mempunyai ministri firman. Tanpa hal itu, kita tidak mempunyai ministri firman. Resep dasarnya adalah wahyu Roh Kudus. Ministri firman perlu wahyu Roh Kudus. Seorang mungkin mengucapkan perkataan yang sama tetapi wahyunya pun harus sama. Tanpa wahyu yang sama, tidak akan ada ministri firman. Kita harus jelas dan tidak salah menilai hal ini.
Allah telah berbicara. Dia harus mengulangi perkataan yang sama hari ini sebelum firman itu bisa menghasilkan efek yang sama. Dia harus menggunakan perkataan yang sama hari ini, pengurapan-Nya harus ada di atas firman sebelum firman itu bisa efektif bagi kita. Kita harus melihat keseimbangannya. Pada satu pihak, Allah harus menggunakan perkataan yang sama yang pernah Dia ucapkan. Ketika kita memberitakan firman Allah, kita tidak perlu mencari perkataan yang baru. Sebaliknya, kita harus mendasari perkataan kita pada sesuatu yang telah diucapkan. Sebaliknya, apa yang kita beritakan jangan hanya menjadi kata-kata yang usang. Harus perkataan yang sama namun juga tidak sama. Perkataan yang sama karena tanpa firman sebagai dasar, Allah tidak bisa berbicara, akan ada ketidaksetujuan di dalam perkataan-Nya. Di samping itu perlu ada pengurapan yang segar dan wahyu Roh Kudus dalam perkataan ini. Tanpa wahyu yang segar dan wahyu Roh itu, perkataan yang sama tidak akan menghasilkan efek yang sama. Manusia harus mempertahankan keseimbangan yang tepat antara kedua aspek ini.
Pencobaan terbesar hari ini adalah manusia mencari dan berharap hanya pada perkataan yang sama. Dia beranggapan bahwa dengan membicarakan hal yang sama, dia akan mengulang kekuatan yang sama, terang dan wahyu yang sama. Kita harus ingat bahwa kedua hal ini milik dua alam yang berbeda. Anda bisa mengulang perkataan yang sama, doktrin yang sama, kesaksian yang sama, perumpamaan yang sama, dan ekspresi yang sama. Hal itu bisa saja dilakukan, dia bisa mengulangnya dengan kekuatannya sendiri. Tetapi ketika perkataan ini diulang, Allah mungkin tidak mengulangi penggunaan perkataan ini. Anda bisa mengulangi hal luaran yang sama, tetapi anda tidak bisa mengulangi hal yang batiniah. Alam Allah tetap alam-Nya, dan alam kita tetap milik kita.
Ilustrasi berikut ini mungkin bisa lebih jelas. Pembicaraan Allah berada dalam prinsip kebangkitan. Apakah kebangkitan itu? Kebangkitan tidak memberikan hidup; kebangkitan hanya menghidupkan kembali sesuatu yang mati. Inilah kebangkitan. Kelahiran seorang bayi bukan kebangkitan. Tetapi ketika ada orang yang mati keluar dari kubur, itulah kebangkitan. Anak perempuan Yairus dibangkitkan, putra janda dari Nain dibangkitkan, dan Lazarus dibangkitkan. Mereka asalnya mati kemudian menjadi kebangkitan hari ini. Allah memberikan hayat-Nya dalam firman-Nya. Firman-Nya sudah ada, tetapi Allah harus menghembuskan hayat-Nya ke dalam firman-Nya sekali lagi. Apakah anda sudah melihat hal ini? Inilah prinsip kebangkitan. Prinsip kebangkitan berbeda dengan prinsip penciptaan. Ketika firman kali pertama dilepaskan, firman itu dilepaskan menurut prinsip penciptaan. Ketika firman diucapkan, ada sesuatu yang diciptakan. Ketika seorang “anak” dilahirkan, itu disebut kelahiran. Tetapi ministri firman tidak berfungsi seperti itu hari ini. Firman Allah sudah ada, dan dia hanya mengulangi perkataan yang pernah diucapkan-Nya. Allah memberikan hayat-Nya ke dalam firman-Nya sekali lagi, dan ketika firman ini menjadi hidup di dalam manusia, firman ini menjadi wahyu bagi manusia.
Tongkat Harun melambangkan kebangkitan, karena tongkat itu pernah hidup. Faktanya, semua tongkat pada waktu itu pernah hidup. Tongkat itu tidak terbuat dari besi. Semuanya terbuat dari kayu dan mempunyai kehidupan di dalamnya. Tetapi ketika kehidupan itu hilang, tongkat itu menjadi tongkat yang mati. Kecuali tongkat Harun. Tongkat itu diletakkan di depan tabut, dan tongkat itu bertunas, berbunga, dan mengeluarkan buah. Inilah kebangkitan. Firman Allah ada dalam prinsip kebangkitan. Tidak perlu mengambil kayu yang lain. Tongkat yang asli bertunas, berbunga dan berbuah. Firman Allah ada satu dan satu-satunya. Kita tidak bisa menyingkirkan Alkitab untuk memberitakan firman Allah. Tongkatnya tetap sama, tetapi ketika ada kehidupan, kita mempunyai kebangkitan. Tngkatnya harus sama, dan kehidupan harus masuk dalam tongkat ini kembali. Firmannya harus sama, tetapi kehidupannya harus masuk ke dalam firman berulang kali, wahyu harus ada berulang kali, dan terang pun harus ada berulang kali. Dengan demikian firman menjadi hidup bagi kita. Setiap orang yang menolak Alkitab akan ditolak Allah karena dia menolak firman yang sudah ditulis Allah. Setiap firman adalah hembusan Allah, dan kita harus menghormatinya. Tanpa firman sebagai dasar, tidak ada iman yang orthodoks, dan tidak ada wahyu dari Allah. Jika ada firman Alkitab, manusia tetap perlu datang kepada Allah untuk menerima wahyu dan terang. Sama halnya dengan firman Allah. Tetapi di atas firman yang sama ini ada keperluan yang sama agar wahyu kembali disingkapkan. Tongkatnya sama, tetapi kehidupan yang segar harus masuk ke dalamnya agar tongkat itu bisa bertunas, berbunga dan berbuah. Inilah firman Allah. Inilah makna wahyu firman Allah.
Ada satu inspirasi, tetapi harus ada wahyu yang diulang. Firman Allah harus terus menerus Dia katakan. Kita mempunyai satu Alkitab, tetapi kita perlu pengurapan yang terus menerus oleh Roh Kudus. Hanya dengan demikian ada ministri firman. Ketika seorang mencoba menjelaskan Alkitab tanpa pengurapan, wahyu, atau terang, ministri firman di dalam dirinya akan berhenti. Kita harus memperhatikan fakta ini. Kerajinan, ingatan, pengertian, dan kepandaian seseorang akan berguna. Tetapi semua itu belum cukup. Allah harus merahmati manusia dan harus berbicara lagi kepadanya.
Faktanya, jika ada seorang tidak mendengar perkataan Allah dia tidak bisa melakukan apa-apa. Allah harus rela berbicara lagi kepada manusia. Apabila Allah tidak mau berbicara, manusia tidak bisa melakukan apa-apa. Apabila Tuhan tidak berbicara, para minister tidak akan bisa merampungkan apa pun meskipun mereka berbicara. Hal ini sungguh luar biasa bagi Tuhan untuk berbicara. Jika dia tidak berbicara, tidak akan ada apa pun yang terjadi. Meskipun dia mencoba dengan segala usahanya untuk berbicara, tidak akan ada hasilnya. Semakin seorang mencoba berbicara dalam alam fisik, semakin dia akan gagal. Semakin seorang berbicara dalam alam spiritual, semakin perkataannya akan bekerja. Semakin Anda belajar berbicara menurut roh, semakin anda akan menyadari bahwa ini di luar kendali Anda. Firmannya bisa sama, suaranya bisa sama, dan perasaannya pun bisa sama, tetapi apa yang dilepaskan tidak akan pernah sama. Hanya akan ada kata per kata dan kalimat per kalimat. Setiap khotbah bisa disampaikan setiap kata, segalanya tetap saja sama, tetapi apa yang dibicarakan tidak akan sama. Kita harus ingat bahwa hanya Allah yang bisa mengungkapkan firman Allah. Alkitab adalah firman Allah, dan kita perlu Allah mengutarakan firman ini kepada kita. Pekerjaan para minister mengijinkan Allah mengutarakan firman ini sekali lagi. Sebagai juru bicara Allah, ketika kita memberi kebebasan bagi Allah untuk mengungkapkan firman-Nya, pasti akan ada ministri firman. Kita hanya bisa melayani di area ini.
Perbedaan antara teologi dan perkataan Allah sangat besar. Kapan kala kita datang pada sebuah ibadah, kita jangan pernah mempertimbangkan apakah doktrin yang diberikan benar atau tidak, pengajarannya alkitabiah atau tidak, dan kebenarannya betul atau tidak. Ini tidak berarti kita membuang semua faktor tersebut. Akan tetapi, setiap orang yang telah diajar oleh Allah dan yang matanya terbuka harus mengetahui ibadah seperti apakah yang sedang dibicarakan segera setelah dia duduk. Seorang mungkin ada pikiran yang cepat mengerti, tetapi dia mungkin tidak punya firman Allah. Seorang yang lain mungkin tidak mempunyai pikiran yang cepat, tetapi firman Allah ada di dalamnya. Jadi ada perbedaan mendasar antara Allah berbicara melalui seorang manusia atau tidak berbicara melalui manusia.
Jika semua saudara bisa belajar pelajaran ini, gereja tidak akan terlalu memperhatikan karunia. Sebaliknya, gereja akan lebih memperhatikan ministri. Masalanya hari ini adalah banyak saudara saudari muda yang tidak bisa membedakan karunia dan ministri. Itulah sebabnya karunia lebih diterima dan lebih populer dalam gereja, sedangkan ministri ditolak. Firmannya mungkin sama, tetapi realitasnya berbeda. Keduanya mungkin sama dalam huruf, dalam penampilan luarannya, tetapi mereka yang bisa membedakan bisa memberi tahu perbedaannya. Seorang saudara pernah berkata, “Aku sudah memberitakan segala sesuatu yang diucapkan saudara Anu.” Saudara ini pandai dan beranggapan bahwa dia bisa memberitakan dengan baik seperti orang lain. Dia tidak menyadari bahwa pemberitaannya benar-benar berada dalam alam yang berbeda. Beberapa orang memberitakan menurut pikiran mereka, sedangkan yang lainnya memberitakan menurut roh mereka. Keduanya benar-benar alam yang berbeda. Kita jangan pernah beranggapan bahwa dengan hanya mengulangi perkataan yang sama kita mendapatkan hasil yang sama. Beberapa orang bisa membicarakan hal yang sama, tetapi Allah tidak berbicara melalui mereka. Orang lain memiliki ministri firman karena Allah berbicara melalui mereka.
E M P A T
Dengan melihat kembali pada sejarah gereja, kita menemukan bahwa Allah telah memulai jalan pemulihan sejak jaman Martin Luther. Allah membangkitkan Luther dan sekerjanya untuk membawa masuk pemulihan. Sejak tahun 1828 banyak kebenaran yang perlahan-lahan dipulihkan. Ada satu pemikiran dalam banyak para pengasih Kristus: berapa jauh Tuhan akan terus memulihkan? Tetapi kita perlu bertanya apakah pemulihan itu. Pemulihan tidak berarti kita memiliki wahyu Perjanjian Baru begitu kita memberitakan kebenaran Perjanjian Baru. Juga tidak berarti bahwa kita memiliki perkataan rasul ketika kita memberitakan pengajaran para rasul. Banyak orang bisa memberitakan baptisan hari ini tanpa mengetahui apa itu baptisan. Mereka bisa memberitakan penumpangan tangan tanpa mengetahui apa itu penumpangan tangan. Beberapa orang bisa memberitakan gereja tanpa melihat gereja sama sekali. Beberapa orang bisa memberitakan ketaatan tanpa mengetahui apa pun mengenai otoritas Allah. Jangan beranggapan bahwa isi yang disampaikan bisa sama seperti subjeknya. Jangan berpikir bahwa khotbah yang disampaikan akan sama seperti doktrin dan terminologi yang sama. Banyak orang memberitakan hanya dalam alam huruf-huruf. Orang yang demikian tidak memiliki ministri firman.
Jika anda ingin menjadi seorang minister Perjanjian Baru, Anda harus memiliki wahyu Perjanjian Baru. Ketika kita menerima pengurapan yang sama kita menerima ministri firman. Kita tidak menerima perkataan ilahi seperti yang mereka terima hanya dengan mengulangi perkataan yang mereka ucapkan. Kita bisa mengulangi kata-kata yang mereka gunakan tanpa menerima perkataan ilahi yang mereka terima. Firman Allah benar-benar berbeda. Misalnya gereja merosot seperti gereja di Galatia yang merosot. Apa yang akan kita lakukan? Bisakah kita mengikuti kitab Galatia, mengkopinya, dan mengirimkannya kepada gereja ini? Surat kiriman kepada orang-orang Galatia ditulis oleh Paulus, tetapi orang-orang Galatia menerima perkataan Allah. Ketika mereka menerima surat kiriman Paulus, mereka menjamah perkataaan Allah. Hari ini kita bisa mengkopi perkataan surat kiriman kepada orang Galatia dan mengirimkannya kepada gereja yang sedang bermasalah. Penerimanya mungkin hanya menjamah firman yang tertulis tanpa menjamah firman Allah. Kedua perkataan ini ada dalam alam yang berbeda. Sangat tidak umum bagi seorang manusia menjamah Alkitab tanpa menjamah hayat. Dia hanya menjamah firman, bukan hayat. Dia hanya menjamah firman yang Allah pernah gunakan, bukan perkataan Allah yang terkini. Dia bisa menjamah inspirasi Alkitab tanpa menjamah wahyu Roh Kudus. Saudara saudari, mengapa banyak orang memberitakan Alkitab tetapi sangat sedikit yang merasakan firman Allah? Penjelasannya adalah manusia hanya menjamah kulit luar firman Allah. Mereka hanya menjamah apa yang Allah pernah katakan, tetapi mereka tidak menjamah apa yang Allah katakan hari ini. Allah tidak berbicara kepada mereka melalui firman yang pernah Dia ucapkan.
Kita harus menyadari bahwa tanggung jawab para minister firman adalah mengijinkan Allah berbicara melalui Firman-Nya sekali lagi. Minister firman Allah adalah mereka yang melaluinya Allah bisa mengucapkan perkataan-Nya sekali lagi. Allah rela berbicara melalui mereka. Yang dilepaskan haruslah perkataan-Nya, bukan hanya Alkitab. Siapakah minister firman Allah? Mereka adalah orang-orang yang membuka Alkitab dan menyingkapkannya kepada pendengar mereka perkataan Allah yang terkini, bukan hanya kata-kata dari buku semata. Inilah artinya menjadi seorang minister firman. Jika pendengar ada masalah di dalam diri mereka, atau jika mereka memilih memadamkan roh mereka, hati, maupun pikiran mereka, itu adalah urusan mereka. Tetapi selama seorang membuka roh, hati dan pikirannya, dia akan mendengar perkataan Allah. Jika ada orang lain yang mendengar perkataan Allah sementara kita menerjemahkan Alkitab dan menjelaskan pengajarannya, kita benar-benar gagal di mata Allah. Seorang minister firman adalah seorang yang melaluinya Allah berbicara. Orang lain harus memiliki perasaan bahwa Allah telah berbicara kepada mereka, dan mereka harus menyembah dengan wajah mereka ke tanah. Alasan gereja begitu miskin dikarenakan para minister yang begitu miskin. Kita mengeluh mengapa hanya sedikit orang yang menerima wahyu. Mengapa kita tidak memberi mereka wahyu? Urusan kita adalah memberikan mereka wahyu, tetapi kita menyalahkan gereja karena miskin. Mengapa kita tidak membuat gereja menjadi kaya? Menjadikan gereja kaya itu merupakan urusan kita. Fungsi minister firman adalah melepaskan perkataan Allah, bukan hanya Alkitab, dari mulut kita. Firman Alkitab menjadi firman Allah dalam mulut mereka. Firman itu menjadi hayat dan terang, bukan hanya huruf-huruf yang di luar.
Jangan tertipu dengan berpikir bahwa asal seorang sudah memberitakan dari Alkitab dan menafsirkan nubuat-nubuat Alkitab, dia adalah seorang minister firman. Orang yang demikian hanya mengajarkan kulit luar Alkitab; dia bukan seorang minister firman. Beberapa orang mengeluh bahwa gereja sangat kurang wahyu. Kita setuju bahwa gereja perlu wahyu, tetapi kita harus bertanya siapakah yang bertanggung jawab memberikan wahyu kepada gereja. Kita tidak bisa menyalahkan semua saudara saudari. Apabila minister Allah miskin, maka seluruh gereja pun miskin. Jika gereja tidak mempunyai nabi, dan kekuranggan visi, umat Allah akan kekurangan terang. Hari ini Allah mendispensikan terang kepada gereja melalui para minister. Betapa luar biasanya tanggung jawab gereja! Kita jangan pernah berpikir bahwa kita bisa menganggap diri kita seorang rasul yang sukses hanya karena kita memberitakan Firman yang sama seperti yang mereka beritakan. Kita harus ingat bahwa kita menganggap diri kita sebagai rasul yang sukses hanya sampai pada tingkat kita menerima wahyu yang sama seperti yang mereka terima dan mengalami pengurapan yang sama seperti yang mereka alami. Jadi masalahnya bukan memiliki doktrin tetapi masalahnya adalah memiliki pengurapan yang sama atau tidak. Ini merupakan ujian mendasar dari semua perkara.
Dalam gereja tidak ada yang lebih serius dibandingkan dengan kehadiran seorang yang menyuplai orang lain dengan firman Allah, wahyu, dan terang. Jika kita tidak menyuplai orang lain dengan hal-hal ini, bisakah kita berharap orang lain menerima hal-hal tersebut hanya melalui doa? Dengan meminta mereka berdoa, kita menghindari tanggung jawab kita dan melemparkan beban ke pundak mereka. Tanggung jawabnya bukan di pundak mereka. Kita jangan melemparkannya kepada mereka. Para minister firman mempunyai tanggung jawab meministrikan firman kepada gereja. Dengan ministri firman, maka akan banyak wahyu, terang, dan pengurapan Roh itu. Ketika seorang berdiri berbicara dari Firman, Allah harus berbicara melalui Firman yang sama. Allah harus rela melepaskan perkataan-Nya melalui potongan berita yang sama. Inilah artinya menjadi seorang minister firman. Inilah artinya meministrikan firman Allah kepada gereja. Meministrikan adalah melayani. Ini seperti menyiapkan makanan dan menyajikannya kepada orang lain. Pelayanan demikian memuaskan rasa lapar orang lain. Seorang minister firman harus menyiapkan firman Allah seperti itu sehingga dia bisa meministrikan dan memberi makan orang lain dengan firman.
Hari ini banyak orang bisa menjelaskan Alkitab. Tetapi masalahnaya adalah Allah tidak akan berbicara. Kita harus bisa membedakan perbedaan antara memahami Alkitab dan memiliki firman Allah. Kita boleh saja mempelajari Alkitab berhari-hari, namun Allah sama sekali tidak berbicara sepatah kata pun kepada kita. Ketika Allah memutuskan untuk berbicara kepada kita, semua masalah terselesaikan dan segalanya pun berubah. Kita akan berkata, “Selama bertahun-tahun, aku seperti orang bodoh saat membaca Alkitab. Aku tidak mengerti apa pun, tetapi hari ini aku tahu.” Jadi masalahnya adalah apakah Allah telah berbicara. Beberapa orang tidak memiliki penglihatan rohani pada perkara apa pun. Mereka mungkin tidak mengalami perkataan yang lain selain perkataan yang pernah mereka dengar ketika mereka diselamatkan. Orang demikian tidak akan pernah menjamah apa-apa dalam alam rohani. Beberapa orang mungkin telah mendengar dan mendengar sejak lama. Beberapa perkataan telah diulangi lebih dari sepuluh kali, tetapi mereka tetap tidak merasakan apa-apa. Tetapi ketika ada beberapa saudara berbicara, mereka tiba-tiba mendengar sesuatu dan terjamah olehnya. Selama beberapa waktu yang lalu, mereka hanya mendengar huruf-huruf Alkitab. Tetapi kali ini mereka mendengar Allah berbicara. Ada perbedaan yang sangat besar di sini. Apakah firman Allah? Firman Allah adalah pembebasan Allah. Kita harus melihat apakah firman Allah yang sesungguhnya. Hanya ketika firman dilepaskan dan Allah berbicara, kita bisa berfungsi sebagai seorang minister. Ini hasil yang mendasar. Allah harus berbicara kepada kita, dan Dia harus berbicara melalui kita. Jika Dia tidak berbciara melalui kita, kita tidak bisa mengutarakan firman-Nya. Banyak orang damba menjadi juru bicara dan minister Allah. Untuk menjadi orang yang demikian, mereka harus menjadi manusia wahyu.
Hari ini pembangunan gereja, pencapain ukuran perawakan kepenuhan Kristus, dan kesatuan iman gereja bergantung pada fungsi minister firman. Allah sedang membangkitkan para minister-Nya untuk melakukan pekerjaan ministri. Efesus 4 menunjukkan kepada kita bahwa hanya pekerjaan ministri yang menghasilkan pertumbuhan ukuran perawakan Kristus dan mendatangkan kesatuaan iman (ay.12-13). Masalahnya hari ini adalah sangat sedikit orang yang bisa menjadi minister. Meskipun setiap hari ada pemberitaan, tetapi sangat sulit mengatakan pemberitaan itu melepaskan firman Allah. Umat Allah kekurangan terang dan wahyu, dan tanggung jawabnya ada di pundak kita. Jangan menimpakan semua kesalahan pada saudara dan saudari. Jiwa-jiwa belum diselamatkan dan kaum beriman belum diubah karena tidak ada firman yang dilepaskan. Para minister telah gagal. Jika para minister gagal, bagaimana mungkin kita mengharapkan gereja bisa menang? Semua masalah ada karena faktanya kita dekat dengan Allah, namun kita menolak terang Allah yang menyinari kita. Itulah sebabnya kita tidak bisa membawa saudara saudari kita pada terang Allah. Masalahnya ada pada kita, bukan mereka. Hal ini sangat serius, sesuatu yang sangat jelas. Salah satu alasan mengapa gereja hari ini merosot dikarenakan Tuhan tidak bisa ada terobosan di dalam kita. Dia mencari minister firman di mana-mana. Firman Allah tidak pernah berkurang, terang dan wahyu-Nya pun tidak pernah kurang. Masalahnya hari ini adalah Dia belum mendapatkan orang yang tepat. Dia terbatasi karena kita. Terang tidak bisa bersinar melalui kita.
Banyak pekerja yang menyatakan diri sebagai juru bicara Allah. Tetapi ketika mereka menjelaskan Alkitab, mereka tidak merasa putus asa dan tidak berpikir bahwa Allah ingin berbicara melalui mereka. Mereka hanya tertarik untuk memberitakan doktrin mereka sendiri. Mereka berpikir bahwa asal mereka mempunyai doktrin, mereka punya segalanya. Mereka hanya tertarik pada kebenaran mereka sendiri, ide mereka, dan mereka berpikir asal mereka bisa menambah jumlah, itu sudah cukup. Mereka tidak berharap dengan sangat Allah bisa dilepaskan melalui perkataan mereka. Kita harus ingat bahwa kita hanya memiliki perkataan Allah ketika Dia dilepaskan. Jika Allah tidak dilepaskan, semua yang didengar manusia akan menjadi perkataan manusia. Hanya ketika Allah dilepaskan maka akan ada wahyu. Jika Dia tidak dilepaskan, pengajaran yang sama hanya akan lewat dari orang yang satu kepada orang yang lain, dari mulut yang satu ke mulut yang lain, dan dari pikiran yang satu ke pikiran yang lain. Jika, oleh kasih karunia Allah, Dia dilepaskan dari kita, betapa besar perbedaannya!
Saudara, kita harus menyadari betapa bedanya penjelasan Alkitab dengan wahyu Allah yang diberikan kepada manusia. Kita harus menyadari bahwa meskipun kita mengatakan banyak kalimat yang kedengarannya masuk akal, menarik, enak didengar, dan bernilai tinggi, ternyata Allah tidak ada dalam perkataan kita. Ketika kita melihat perbedaan ini, kita akan menyembah Allah dan berkata, “Tuhan, mulai sekarang, aku menolak segala pekerjaan yang kekurangan wahyu, pekerjaan yang tidak memberikan wahyu kepada orang lain.” Kita jangan pernah menjadi pengkhotbah profesional. Sekali kita menjadi pengkhotbah profesional maka kita harus berbicara karena itu adalah pekerjaan kita, dan kita akan memberitakan karena itu pekerjaan kita. Kita tidak akan berbicara atau memberitakan karena kita menerima sesuatu dari Allah. Kita harus hidup di hadirat Allah. Tanpa hadirat-Nya, kita tidak akan memiliki ministri firman. Allah harus mendapatkan hal ini di antara kita. Dengan rahmat Allah, kita menerima wahyu dari firman-Nya dan menjelaskan wahyu ini kepada orang lain. Untuk hal ini kita hanya bisa memohon rahmat-Nya. Jika Tuhan tidak berbicara melalui kita, kita tidak bisa menjelaskan firman-Nya kepada orang lain. Apabila yang kita miliki hanya sebuah buku, yakni Alkitab, kita tidak akan mempunyai sesuatu yang hidup. Dasar ministri firman Allah sungguh-sungguh adalah Alkitab, tetapi Alkitab saja tidak cukup; perlu wahyu Roh Kudus.
Saudara, kita perlu pengurapan Roh Kudus atas diri kita. Kita perlu belajar berharap akan pengurapan. Seringkali kita harus mengatakan kepada Tuhan, “Tuhan, urapilah firman-Mu sekali lagi hari ini sehingga aku bisa menggunakannya.” Ketika kita berdiri di depan saudara-saudara, kita harus berkata kepada Tuhan, “Urapilah firman yang akan aku ucapkan dan lepaskanlah firman-Mu dengan pengurapan-Mu.” Sekaranglah waktunya memohon rahmat. Semua permasalahan ada pada para minister. Tanpa firman Allah, minister ini miskin dan gereja pun menjadi miskin. Kelihatannya hari ini banyak orang menaruh pengharapan mereka pada kebenaran dan pengetahuan. Sangat sedikit yang berharap pada wahyu. Akhirnya, injil diberitakan, tetapi sangat sedikit jiwa-jiwa yang diselamatkan. Khotbah sudah disampaikan, tetapi orang yang menerima berkat sangat sedikit. Jika hayat Allah tidak mengikuti firman-Nya, segalanya menjadi sia-sia dan tidak berharga. Kegagalan kita berasal dari fakta kita hanya melihat manusia memuji firman Allah dan pengkhotbah Allah. Tetapi firman itu sendiri tidak memberikan terang yang membakar, wahyunya tidak cukup kuat menjatuhkan mereka ke tanah. Yang diperlukan hari ini bukanlah rasa kagum akan firman Allah, tetapi lebih pada penyembahan manusia atas terang Allah. Jika sebagai seorang minister kita tidak bisa melakukan hal ini, kita hanya bisa menyalahkan diri karena kegagalan diri sendiri. Semoga Tuhan merahmati kita.