← Daftar isi Ministri Firman Allah · bab 6/17

INTERPRETASI OLEH ROH KUDUS

Kita harus mencatat, untuk kepentingan kita sendiri juga kepentingan orang lain, bahwa firman yang dilepaskan oleh minister firman hari ini tidak bisa terpisah dari mereka yang ada di dalam Alkitab. Semua firman yang telah diucapkan-Nya adalah dasar dari firman-Nya yang sejati. Semua firman dalam Perjanjian Baru didasarkan pada firman Perjanjian Lama. Maka, perkataan kita hari ini harus berdasarkan pada perkataan Perjanjian Baru dan Perjanjian Lama. Firman Allah adalah sesuatu yang hidup dan utuh. Jika ada seorang yang menyatakan bahwa perkataannya itu independen, terpisah, dan berbeda dari Perjanjian Baru dan Perjanjian Lama, tidak berhubungan dengan firman Allah yang sudah pernah ada, dan bahkan tidak berdasarkan pada perkataan Allah, kita bisa mengatakan bahwa ini pasti bidah, doktrin satan. Hari ini Allah tetap memiliki minister firman. Minister ini membangun ministri mereka berdasarkan pondasi tertentu; mereka tidak berbicara berubah-ubah.

Kita harus selangkah lebih maju. Firman yang dilepaskan oleh minister firman harus berdasarkan pada perkataan yang telah diucapkan sebelumnya; namun, Allah harus menjelaskan dan menginterpretasikannya kepada mereka. Ministri firman jangan hanya memiliki firman Allah sebagai dasar; Allah sendiri harus terbuka dan menjelaskan firman ini. Maka, tidak semua yang mendasari perkataannya dengan firman Allah adalah seorang minister firman. Seorang juga tidak bisa menyatakan dirinya sebagai seorang minister firman hanya karena dia telah memperlengakapi dirinya dengan perkataan Allah yang sudah ada. Seorang mungkin sangat hebat dalam Perjanjian Lama, tetapi tidak berarti dia bisa menulis Perjanjian Baru. Sama halnya, tidak berarti seorang yang terbiasa dengan Perjanjian Baru bisa menjadi seorang minister firman hari ini. Firman Allah harus menjadi pondasinya, tetapi Allah harus melengkapinya dengan penjelasan. Mereka harus menjelaskan firman-Nya kepada para minister-Nya sebelum mereka bisa memiliki ministri firman-Nya. Kita harus menyingkirkan semua perkataan yang tidak memiliki pondasi yang tepat. Bahkan ketika firman diletakkan pada pondasi yang tepat sekalipun, tidak berarti kita boleh menerimanya. Kita harus memeriksanya entahkah ada interpresi Allah atau tidak di dalamnya.

Perkataan Allah sebelumnya hanya dapat diinterpretasikan oleh diri Allah sendiri. Kita tidak bisa mempercayai pikiran yang baik, ingatan yang baik, atau kerajinan di dalam Firman. Kita tidak bisa mengambil firman Allah yang lampau dan menjadikannya ministri firman hari ini. Sorang yang menghafalkan seratus lima puluh mazmur di dalam kitab Mazmur belum tentu bisa menjelaskannya. Sama halnya seorang yang menghafalkan kitab Kidung Agung tidak akan bisa menginterpretasikannya. Seorang juga tidak bisa menjelaskan secara terperinci kitab Yesaya hanya karena dia telah menghafalkannya atau menjelaskan kitab Daniel hanya karena dia telah mempelajarinya selama lima puluh tahun. Mereka yang tidak mendasari perkataan mereka pada firman yang telah diucapkan Allah sebelumnya tidak akan bisa menjadi juru bicara-Nya, tetapi mereka yang melakukannya belum tentu juga bisa menjadi minister firman-Nya. Mereka yang berbicara tanpa dasar firman Allah akan dicoret, didiskualifikasi. Tetapi tidak berarti mereka yang berbicara dengan dasar itu bisa diterima. Banyak ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi yang sangat mengenal Perjanjian Lama, tetapi tidak satu pun seorang minister firman. Hari ini beberapa orang mempelajari seluruh Alkitab, tetapi tidak berarti mereka adalah minister firman. Minister firman adalah mereka yang mengenal firman Allah dan yang kepadanya Allah telah menjelaskan dan membuka firman-Nya. Seorang minister firman Allah harus pertama-tama memiliki pondasi yang tepat. Kemudian dia harus memiliki interpretasi yang tepat. Jika tidak, dia tidak bisa menjadi seorang minister firman Allah.

Bagaimana Allah menjelaskan firman-Nya? Bagaimana Dia menjelaskan firman Perjanjian Lama kepada minister Perjanjian Baru? Dalam Perjanjian Baru sedikitnya ada tiga jenis interpretasi. Yang pertama adalah interpretasi nubuat. Kedua adalah interpretasi sejarah. Ketiga adalah interpretasi perpaduan. Ketika membaca Perjanjian Lama, minister Perjanjian Baru memiliki tiga jenis perkataan ini di depan mereka. Ketiganya memerlukan interpretasi Roh Kudus.

INTERPRETASI NUBUAT

Mari kita melihat injil Matius sebagai contoh dan mempertimbangkan bagaimana dia melayani sebagai seorang minister firman Allah.

Roh Kudus mengendalikan Matius berkaitan dengan cerita Tuhan Yesus. Matius 1:23 merupakan kutipan Yesaya 7: “Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel" --yang berarti: Allah menyertai kita.” Sementara Matius menulis kitab injilnya, Roh Kudus menerangi dia. Bukan perkara berapa banyak Matius meluangkan waktu untuk belajar. Tentu saja, bukan maksud saya bahwa Matius tidak mempelajari Perjanjian Lama. Dia telah menjadi seorang pemungut cukai, tetapi mungkin saja dia kemudian lebih banyak mempelajari Perjanjian Lama. Itulah sebabnya Roh Kudus bisa mengingatkan dia mengenai sebuah kutipan. Itulah sebabnya dia bisa mengutip, “Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel". Tetapi apakah arti kata ini? Roh Kudus harus menjelaskan dan menginterpretasikannya kepada Matius. Dia harus menunjukkan kepada Matius bahwa hal itu merujuk pada kelahiran Tuhan Yesus. Bahkan sampai poin yang tertinggi yaitu Allah menyertai kita. Pada hari itu, Allah belum beserta dengan kita seperti sekarang ini. Sekarang Allah beserta dengan kita melalui kehadiran Tuhan Yesus di bumi. Inilah interpretasi oleh Roh Kudus. Kita harus terbiasa dengan pembicaraan Allah, tetapi kita juga harus memiliki interpretasi Roh Kudus. Hanya Roh Kudus yang bisa menegaskan arti firman Allah bagi kita.

Matius 2:15 mencatat Tuhan Yesus yang keluar dari Mesir. Di sini Matius mengutip Hosea 11:1. Apabila kita membaca Hosea 11:1 dengan diri kita sendiri, kita mungkin tidak akan menyadari bahwa kata-kata ini mengacu kepada Tuhan Yesus.

Matius 2:18 mengatakan, "Terdengarlah suara di Rama, tangis dan ratap yang amat sedih; Rahel menangisi anak-anaknya dan ia tidak mau dihibur, sebab mereka tidak ada lagi." Ayat tersebut merupakan kutipan Yeremiah 31:15. saat membaca ayat itu kita mungkin tidak memiliki pemikiran bahwa ayat ini mengacu pada maksud Herodes yang ingin membunuh Tuhan Yesus. Tetapi melalui interpretasi Roh Kudus, kita menemukan maknanya.

Matius 3:3 mengatakan, “Sesungguhnya dialah yang dimaksudkan nabi Yesaya ketika ia berkata: "Ada suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya." Jika kita membaca Yesaya 40:3 kita tidak akan memiliki pemikiran bahwa ayat ini mengacu pada Yohanes Pembaptis. Roh Kudus harus menginterpretasikan ayat ini kepada Matius dan menunjukkan kepadanya bahwa yang dimaksud adalah Yohanes Pembaptis.

Matius 4:13 membicarakan mengenai Tuhan Yesus di Kapernaum, yang berada di perbatasan Zubulon dan Naftali. Dalam ayat 15 dan 16 Matius mengutip perkataan Yesaya 9:1-2: “Supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya: "Tanah Zebulon dan tanah Naftali, jalan ke laut, daerah seberang sungai Yordan, Galilea, wilayah bangsa-bangsa lain--bangsa yang diam dalam kegelapan, telah melihat Terang yang besar dan bagi mereka yang diam di negeri yang dinaungi maut, telah terbit Terang." Ketika membaca Yesaya 9, kita tidak akan berpikiran bahwa ini mengacu kepada Tuhan Yesus. Hal ini menunjukkan bahwa seorang minister firman tidak cukup hanya memiliki firman-Nya; Roh Kudus harus menginterpretasikannya untuk kita. Ketika kita memiliki penafsiran Roh Kudus, kita bisa mengatakan firman Allah sebagai dasar kita. Tanpa interpretasi Roh Kudus, Firman tertutup bagi kita dan tidak bisa menjadi dasar pembicaraan kita.

Dalam Matius 8 Tuhan Yesus menyembuhkan banyak orang sakit dan mengusir banyak setan. Ayat 17 mengutip Yesaya 53:4, “Hal itu terjadi supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya: ‘Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita.’" Yesaya 53 terbuka bagi Matius. Firman yang terbuka ini menjadi dasar pembicaraannya. Ministri firman Allah berdasarkan pada pembicaraan Allah sebelumnya. Tetapi perkataan ini harus terbuka bagi para minister sebelum mereka bisa memakainya sebagai dasar pembicaraan mereka. Tanpa keterbukaan demikian, penggunaan kutipan merupakan penerapan yang palsu. Hal ini seperti orang yang canggung, bukan ministri firman. Firman yang terbuka menghasilkan seorang minister firman. Maka, tidak hanya perlu pondasi tetapi juga memerlukan interpretasi yang tepat.

Dalam Matius 12:10-16, Tuhan Yesus menyembuhkan laki-laki yang mati sebelah tangannya, dengan berkata, "Ulurkanlah tanganmu.” Orang itu mengulurkan tangannya, dan menjadi sembuh. Ketika Tuhan meninggalkan tempat itu, banyak orang mengikuti Dia, dan Dia menyembuhkan mereka semua, menyuruh mereka tidak menyebarkan tentang diri-Nya. Pada butir ini Matius mengutip Yesaya 42:1-4: “Supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya: ‘Lihatlah, itu Hamba-Ku yang Kupilih, yang Kukasihi, yang kepada-Nya jiwa-Ku berkenan; Aku akan menaruh roh-Ku ke atas-Nya, dan Ia akan memaklumkan hukum kepada bangsa-bangsa. Ia tidak akan berbantah dan tidak akan berteriak dan orang tidak akan mendengar suara-Nya di jalan-jalan. Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan-Nya, sampai Ia menjadikan hukum itu menang. Dan pada-Nyalah bangsa-bangsa akan berhara”’ (Matius 12.17-21). Interpretasi Roh Kuduslah yang menghubungkan Yesaya 42 dengan Matius 12. Interpretasi demikian menghasilkan ministri firman bagi Matius.

Ministri firman memerlukan interpretasi Roh Kudus atas firman Allah. Interpretasi ini tertutup dari manusia biasa dan dari ahli-ahli taurat dan orang-orang Farisi. Allah harus menjelaskan Firman ini kepada kita sebelum kita bisa mengutarakan firman-Nya. Matius tidak melayani sebagai seorang minister firman yang tidak terduga; perkataannya berdasarkan pada tullisan Perjanjian Lama. Bagaimana dia bisa mengambil dasar Perjanjian Lama? Pertama, dia harus mempelajari Perjanjian Lama, kemudian Roh Kudus harus menjelaskan dan membuka firman ini kepadanya sebelum dia mengambilnya sebagai dasar perkataannya. Inilah arti ministri firman. Ministri firman berdasarkan pada interpretasi Roh atas firman Allah. Tanpa hal ini tidak ada ministri firman. Ada banyak kutipan Perjanjian Lama dalam kitab Matius, dan tidak sedikit yang dibuat oleh Tuhan Yesus sendiri. Contoh-contoh di atas, dikutip oleh Matius. Dia memberi tahu kita bahwa apa yang terjadi merupakan penggenapan dari apa yang telah Yesaya dan nabi-nabi lain katakan. Kita tahu bahwa Matius adalah seorang pemungut cukai. Namun sungguh mustika bahwa dia bisa mengutip dari Perjanjian Lama. Dia bukan seorang ahli taurat maupun seorang farisi seperti Paulus, tetapi dia memiliki ministri firman. Dia mempunyai firman Perjanjian lama sebagai dasarnya, dan Roh Kudus telah menginterpretasikan firman ini kepadanya. Dia memerlukan interpretasi Roh sebelum dia bisa memiliki ministri firman. Tanpa interpretasi Roh, tidak ada ministri firman. Dengan interpretasi ini, dia bisa memakai perkataan Perjanjian Lama sebagai dasarnya. Tanpa interpretasi ini, dia tidak akan memiliki perkataan demikian sebagai dasarnya. Tidak cukup hanya memiliki Alkitab; Alkitab harus dibuka kepada kita oleh Roh Kudus.

Dalam Matius 27, Matius mengatakan lebih lanjut. Tuhan Yesus ketika akan disalibkan, Yudas gantung diri, dan imam besar dan tua-tua mengambil uang yang telah diterima Yudas sebagai imbalan menjual Tuhan dan membeli tanah. Dalam ayat 8 Matius berkata, “Itulah sebabnya tanah itu sampai pada hari ini disebut Tanah Darah.” Kita harus memperhatikan fakta bahwa pernyataan ini dibuat oleh Matius sendiri. Kemudian dia melanjutkan, “Dengan demikian genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yeremia: ‘Mereka menerima tiga puluh uang perak, yaitu harga yang ditetapkan untuk seorang menurut penilaian yang berlaku di antara orang Israel, dan mereka memberikan uang itu untuk tanah tukang periuk, seperti yang dipesankan Tuhan kepada’” (ay. 9-10). Matius menunjukkan bahwa firman ini merupakan penggenapan perkataan Yeremia. Ketika kita membaca perkataan Yeremia, tidak mudah untuk melihat bahwa itu mengacu pada contoh di atas. Tetapi Roh Allah menjelaskan ayat ini kepada Matius, dan dia bisa membuat gabungan sedemikian. Di dalam dirinya kita melihat ministri firman.

INTERPRETASI SEJARAH

1 Timotius membicarakan sejarah Adam dan Hawa dalam 2:13-14: “Karena Adam yang pertama dijadikan, kemudian barulah Hawa. Lagipula bukan Adam yang tergoda, melainkan perempuan itulah yang tergoda dan jatuh ke dalam dosa.” Satan tidak menipu Adam secara langsung, tipuannya ditujukan kepada Hawa. Dia pertama mencobai Hawa, lalu Hawa mencobai Adam. Pertama Hawa jatuh karena godaan Satan, kemudian Adam jatuh karena godaan Hawa. Dalam Perjanjian Lama kita hanya mempunyai catatan ini. Akan tetapi dalam Perjanjian Baru, Roh Kudus menyingkapkan fakta ini kepada kita dan menunjukkan bahwa perempuan tidak seharusnya menjadi kepala di dalam gereja; dia tidak boleh melebihi laki-laki. Contoh telah ditunjukkan dan prinsipnya telah didirikan. Kapan kala perempuan mengambil posisi sebagai kepala, dosa di bawa masuk ke dalam dunia. Fakta ini merupakan sejarah Adam dan Hawa, tetapi ketika fakta ini disingkapkan, fakta ini menjadi dasar ministri firman.

Dalam Roma 9 Paulus membicarakan sejarah Abraham. Dia mengutip dari Kejadian 21. Roma 9:7 mengatakan, "Yang berasal dari Ishak yang akan disebut keturunanmu." Ini sejarah dan fakta Perjanjian Lama. Namun Roh Kudus menyingkapkan kepada Paulus fakta Abraham melahirkan Ishak, dan dia bisa melihat makna akan hal ini. Dia mulai menyadari bahwa “Sebab tidak semua orang yang berasal dari Israel adalah orang Israel” (ay. 6-7). Hanya mereka yang berasal dari Sarah yang disebut anak-anak. Janji Allah ditujukan kepada Sarah ketika Dia berkata, "Pada waktu seperti inilah Aku akan datang dan Sara akan mempunyai seorang anak laki-laki” (ay. 9) inilah janji Allah. Ishak berasal dari janji Allah. Hanya anak inilah yang diakui sebagai keturunan Abraham. Maka, hanya mereka yang percaya kepada Tuhan Yesus, yang dilahirkan dari janji Allah, yang adalah anak-anak Allah. Roh Kudus menyingkapkan sejarah Abraham melahirkan Ishak kepada Paulus. Ketika dia melihat hal ini, dia memiliki ministri firman. Maka, firman Allah memerlukan interpretasi Roh Kudus. Tanpa interpretasi Roh, seorang pun tidak bisa memakai perkataan Allah yang lampau sebagai dasar perkataannya, dan dia tidak akan memiliki ministri firman.

Dalam kitab Galatia, cerita Ishak lebih banyak diuraikan detail dan penjelasannya. Galatia 3:29 mengatakan, “Dan jikalau kamu adalah milik Kristus, maka kamu juga adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah.” Galatia 4:28 mengatakan, “Dan kamu, saudara-saudara, kamu sama seperti Ishak adalah anak-anak janji.” Ini perkataan Paulus, yang adalah ministri firman. Dari mana dia memperoleh ministrinya? Dia mendapatkannya dari cerita Perjanjian Lama. Roh Kudus membuka cerita ini kepadanya dan menunjukkan kepadanya kunci pada cerita ini, yang merupakan janji. Kunci janji ini ditemukan dalam Kejadian 18:10: “Dan firman-Nya: ‘Sesungguhnya Aku akan kembali tahun depan mendapatkan engkau, pada waktu itulah Sara, isterimu, akan mempunyai seorang anak laki-laki’." Inilah janji Allah. Janji ini terjadi setahun kemudian, bukan pada hari itu. Itulah sebabnya kita mengatakan bahwa Ishak dilahirkan menurut janji. Seperti Ishak, kita juga dilahirkan menurut janji. Maka, hal ini semakin jelas. Paulus bisa melayankan firman Allah kepada anak-anak Allah karena Roh Kudus menginterpretasikan firman ini kepadanya. Dia memiliki ministri firman. Oleh sebab itu, ministri firman harus didasarkan pada interpretasi Roh Kudus. Tanpa interpretasi Roh Kudus, tidak ada pelepasan firman. Kita perlu interpretasi Roh untuk nubuat dan sejarah. Setiap bagian sejarah Perjanjian Lama memerlukan penjelasan Roh. Tanpa interpretasi Roh Kudus, tidak ada pelepasan firman.

Contoh lain bisa ditemukan dalam Galatia 3:15 yang mengatakan, “Saudara-saudara, baiklah kupergunakan suatu contoh dari hidup sehari-hari. Suatu wasiat yang telah disahkan, sekalipun ia dari manusia, tidak dapat dibatalkan atau ditambahi oleh seorang pun.” Paulus mengatakan bahwa sebuah wasiat tidak bisa dibatalkan atau ditambahi oleh seorang pun. Ini benar, dan tidak hanya dengan Allah saja bahkan dengan manusia. Ayat 16 kemudian mengatakan, “Adapun kepada Abraham diucapkan segala janji itu dan kepada keturunannya. Tidak dikatakan "kepada keturunan-keturunannya" seolah-olah dimaksud banyak orang, tetapi hanya satu orang: "dan kepada keturunanmu", yaitu Kristus.” Fakta ini begitu sederhana, melibatkan satu kata singular daripada jumlah yang jamak. Dari fakta yang sederhana ini terdapat kebenaran yang sangat penting. Roh Kudus menyingkapkan fakta ini kepada Paulus dan menunjukkan kepadanya arti yang terkandung di dalam fakta ini. Saat dia jelas, dia memiliki ministri firman.

Mari kita melihat fakta yang lain. Abraham percaya kepada Allah dan Allah memperhitungkannya sebagai kebenaran. Hal ini tercatat di dalam kitab Kejadian 15. Berdasarkan fakta ini Paulus menunjukkan bahwa Allah tidak hanya membenarkan manusia menurut kebenarannya melainkan menurut imannya. Inilah ministri Paulus. Abraham percaya kepada Allah dan Allah mengakui iman ini sebagai kebenaran. Paulus kemudian menunjukkkan kepada kita bahwa semua keturunan Abraham dibenarkan dengan cara yang sama seperti Abraham. Abraham dibenarkan oleh iman, dan semua yang dibenarkan oleh iman adalah ana-anak Abraham (Gal. 3:6-7). Allah membenarkan Abraham karena iman; Dia mengakui Abraham benar karena iman. Kelihatannya, Dia membenarkan setiap orang, yang seperti Abraham, yang memiliki iman yang sama (ay. 8-9). Paulus menunjukkan bahwa Kejadian 15 tidak hanya berbicara fakta atau sejarah tetapi sebuah prinsip, yaitu prinsip dibenarkan oleh iman.

Kita harus ingat bahwa sejarah dan nubuat dalam Perjanjian Lama sama berharganya. Beberapa orang berpikir bahwa nubuat, peraturan, dan pengajaran di dalam Alkitab sama nilainya, kecuali sejarah. Mereka berpikir bahwa sejarah itu hanya sebuah cerita. Tetapi kita harus ingat bahwa semua catatan sejarah di dalam Alkitab merupakan bagian firman Allah, sama dengan pengajaran firman Allah. Jika kita menunjukkan kepada orang-orang yang belum percaya mengenai firman Allah, mereka akan mengambil kitab Amsal dan membuang kitab Kejadian. Tetapi kita tahu bahwa nubuat yang tercatat di dalam Perjanjian Lama adalah firman Allah, demikian juga dengan pengajaran, peraturan, dan bahkan sejarah. Firman Allah satu keseluruhan yang utuh, dan prinsipnya dalam mengendalikan setiap bagian itu sama. Entah firman itu ada dalam bentuk sejarah atau bentuk nubuat, tetap saja firman Allah, dan memerlukan interpretasi Roh Kudus. Nubuat memerlukan interpretasi Roh Kudus, demikian juga dengan sejarah. Banyak kebenaran dan wahyu datang dari penyingkapan sejarah Perjanjian Lama. Ketika melayani sebagai seorang minister firman Allah, Paulus terkadang menerima wahyu Roh melalui nubuat Perjanjian Lama dan terkadang melalui catatan sejrah. Sekali dia melihat wahyu, dia memiliki ministri firman. Interpretasi Roh Kudus sangat diperlukan. Roh Kudus harus menginterpretasikan fakta dalam Perjanjian Lama kepada kita sebelum kita memiliki ministri firman. Jika tidak, maka tidak ada ministri firman.

INTERPRETASI PERPADUAN (SINTESIS)

Baik nubuat maupun sejarah memerlukan interpretasi Roh Kudus. Ada jenis interpretasi yang ketiga, yaitu interpretasi sintesis. Allah menetapkan tempat yang khusus untuk interpretasi jenis ini bagi minister firman-Nya. Lihat bagaimana Petrus melayani sebagai seorang minister firman Allah pada hari Pentakosta. Pada hari itu sesuatu yang luar biasa terjadi: Roh Kudus dicurahkan dan karunia pun muncul. Pada hari itu banyak yang berbahasa lidah; mereka berbicara dalam banyak bahasa. Saat itu juga ada seratus dua puluh orang menerima apa yang tidak pernah diterima oleh orang Israel. Sebelumnya, Roh Kudus datang kepada satu orang. Satu atau dua orang dari para nabi yang akan menerima Roh Allah di atas diri mereka. Tetapi pada hari itu seratus dua puluh orang laki-laki dan perempuan menerima pencurahan Roh Kudus; mereka dipenuhi sampai-sampai mereka seperti mabuk oleh anggur yang baru. Ini tidak pernah terjadi dalam sejarah Israel. Pada waktu itu, Allah jelas-jelas memberikan kuncinya di tangan Petrus. Di antara sebelas rasul, Petrus mengambil pimpinan. Dia mengambil kesempatan bersaksi bagi Tuhan, berdiri memberitahu kepada orang-orang Yahudi apa yang telah terjadi dengan mereka. Petrus tidak hanya menjelaskan kepada mereka apa yang telah terjadi, dia juga bersaksi kepada mereka dan mendorong mereka agar menerima hal yang sama. Petrus memberitakan. Pada hari Pentakosta, dia adalah seorang minister firman. Dia tidak mendasari perkataanya pada satu bagian dalam Alkitab tetapi pada tiga bagian. Dia menggabungkan ketiga bagian itu dan menerima terang dari sintesis ini. Yang dia lakukan bukan analisis melainkan sintesis. Tiga berita dijadikan satu. Allah tidak hanya menjelaskan fenomena ini kepadanya, tetapi tiga bagian berita dalam Alkitab digabungkan untuk menunjukkan kepada orang Yahudi apa yang sesungguhnya terjadi atas mereka. Hari ini, hamba Allah juga harus melihat hal ini dengan menggabungkan bagian Alkitab dengan bagian lainnya. Apa yang dilakukan Petrus merupakan prinsip ministrinya pada hari Pentakosta.

Pada hari Pentakosta, Petrus berbicara dari tiga bagian—Yoel 2, Mazmur 16 dan 110. Ministri firmannya pada hari Pentakosta terdiri dari ketiga bagian tersebut. Roh Kudus menyatukan ketiganya dan menginterpretasikannya untuknya. Ini interpretasi sintesis. Dengan demikian, manusia bisa menerima terang dari ketiga ayat tersebut. Seorang minister firman tidak perlu hanya berfungsi melalui satu bagian Alkitab. Seringkali, interpretasi datang dari penggabungan beberapa bagian. Prinsip menggabungkan ini bahkan lebih umum dibandingkan dengan ministri firman hari ini. Kita harus menggabungkan beberapa bagian Alkitab untuk menemukan makna di balik semua itu.

Contohnya, ada empat benda yang dipakai dalam penyembahan di dalam Perjanjian lama: anak lembu emas, ular tembaga, efod milik Gideon, dan patung Mikah (1 Raja 12:28-22; 2 Raja 18:27; 18:14-31). Jika Anda ingin memberikan jenis-jens penyembahan di luar Allah, Anda bisa menggabungkan bagian-bagian ini dan berbicara mengenai benda-benda tersebut. Setiap benda harus dipelajari secara sintesis.

Petrus membuat sintesis pada hari Pentakosta. Dia berbicara dari Yoel 2 mengenai pencurahan Roh Kudus, dari Mazmur 16 mengenai kebangkitan Tuhan Yesus, dan dari Mazmur 110 mengenai keterangkatan Tuhan. Dia mencatat ketiga hal ini bersamaan. Tuhan Yesus telah bangkit. Setelah kebangkitan-Nya, Dia tidak tinggal di bumi; Dia terangkat ke surga. Hasil dari keterangkatan ini adalah pencurahan Roh Kudus. Keterangkatan Tuhan terjadi setelah kebangkitan-Nya. Maut tidak dapat menahan diri-Nya: Dia terangkat kepada Bapa dan menantikan musuh-Nya menjadi tumpuan kaki-Nya. Hari ini Allah telah memuliakan Dia dan pencurahan Roh Kudus merupakan bukti kemuliaan-Nya. Ketika Petrus sedang melayani sebagai minister firman Allah pada hari itu, Roh Kudus menginterpretasikan tiga bagian firman itu untuknya. Karena itu, dia memiliki dasar yang kuat untuk perkataannya. Kita, sebaliknya, harus mengambil interpretsi perkataan ini sebagai dasar untuk ministri perkataan kita.

Dalam kitab Kisah Para Rasul, kita menemukan contoh yang lain mengenai pengajaran sintesis. Contohnya, dalam pasal 3, kotbah yang Petrus sampaikan sangat singkat, hanya terdiri dari beberapa kalimat, tetapi dia menggabungkan kitab Ulangan dengan kitab Kejadian. Dalam pasal 7 perkataan Stefanus, tidak diragukan, adalah ministri firman. Pada faktanya, ministrinya sangat berbeda. Kata-katanya penuh kuat kuasa, dan hanya ada sedikit penjelasan. Dia hanya menghubungkan sejarah di dalam Perjanjian Lama per periode, dari panggilan Abraham dalam Kejadian 12 dengan kisah Musa ketika dia di Mesir sampai pemberontakan Israel menentang Allah. Dia memulainya dari Kejadian ke Keluaran sampai Ulangan dan kemudian mengutip perkataan Amos dan Yesaya. Dia tidak menggunakan banyak penjelasan. Kotbahnya menyebabkan orang-orang yang mendengarnya marah, dan mereka merajam dia sampai mati. Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa ministri firmannya sangat khusus. Tidak ada penjelasan; dia hanya menghubungkan sejarah, bagian demi bagian. Kotbah demikian keluar dari roh Stefanus. Mereka yang mendengarnya tidak tahan. Sintesis ini penuh kuat kuasa. Dalam pasal 13 perkataan Paulus juga menggunakan prinsip yang sama. Ketika dia sedang menginjil di Pisidia Antiokhia, dia mengutip dari 1 Samuel 13, Mazmur 89, Mazmur 2, Yesaya 55, Mazmur 16, dan Habakuk. Inilah sintesis. Berdasarkan sintesis ini, Paulus sampai pada pada kesimpulan dan menantang para pendengar untuk menerima Yesus dari Nazaret sebagai Juruselamat mereka.

Sebagai minister Perjanjian Baru Allah yang membaca firman Perjanjian Lama, mereka menerima tiga jenis interpretasi dari Roh Kudus. Pertama adalah interpretasi nubuat, kedua adalah sejarah, dan ketiga adalah kombinasi dari berbagai bagian Alkitab atau disebut juga sintesis. Roh Kudus memberikan interpretasi pada tiga jenis firman ini. Kita harus memperhatikan secara khusus pada kata kombinasi dari berbagai bagian Alkitab. Kitab Ibrani berisi banyak firman jenis ini, demikian juga dengan kitab Roma dan Galatia. Ketika Roh Kudus memerintahkan para rasul berbicara beberapa topik tertentu, Dia memilihkan banyak ayat dari Perjanjian Lama dan memimpin mereka apa yang harus dikatakan. Kita harus menyadari bahwa prinsip yang sama juga berlaku hari ini. Seperti Petrus, Paulus, Matius, dan rasul-rasul yang lain menjalankan ministri mereka dengan cara berbicara menurut Perjanjian Lama, perkataan yang diperintahkan Roh Kudus kepada mereka, kita menjalankan ministri kita dengan berbicara menurut Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, sama seperti yang diperintahkan Roh Kudus kepada kita. Para rasul tidak berbicara sembarangan; mereka di bawah kendali Roh Kudus. Mereka mengatakan apa yang Allah ingin mereka katakan berdasarkan interpretasi Roh dari perkataan Allah sebelumnya. Hari ini minister firman harus mengikuti prinsip yang sama. Dasar kita haruslah firman dari Perjanjian baru dan Perjanjian Lama, perkataan yang diperintahkan dan yang telah diinterpretasikan oleh Roh Kudus untuk kita. Kita harus berbicara seturut dengan yang Allah ingin kita katakan berdasarkan firman ini. Inilah artinya memiliki ministri firman.

KEPERLUAN AKAN INTERPRETASI ROH KUDUS

Baik Matius, Paulus, Petrus, maupun para minister Perjanjian Baru tidak ada yang berbicara dengan kata-kata mereka sendiri. Juga tidak ada yang berbicara secara independen dan otomatis. Semua perkataan mereka berdasarkan Perjanjian Lama.

Namun tidak semua orang yang membaca Perjanjian Lama bisa berbicara seperti Matius, Paulus, atau Petrus. Seseorang harus memiliki interpretasi Roh Kudus sebelum dia bisa memiliki ministri firman. hanya terang Roh Kudus, yang menjelaskan makna firman, yang menemukan fakta di dalam Perjanjian Lama yang menggaris bawahi kata-kata ini, dan yang menghasilkan dasar bagi seseorang untuk berbicara.

Semua penulis Perjanjian Baru memiliki ministri firman mereka sendiri. Hari ini ministri yang sama juga diperlukan di antara kita. Jika kita ingin menjadi minister firman Allah, kita harus dengan ngotot mempelajari firman-Nya. Tidak cukup hanya membacanya dengan pikiran kita. Kita harus meminta Roh Tuhan untuk menunjukkan kepada kita poin besar dalam tulisan-Nya, membuat kita memperhatikan setiap fakta, dan menginterpretasikannya untuk kita. Seorang minister firman harus mempunyai dasar untuk berbicara. Kita jangan pernah berbicara secara independen. Kita juga jangan beranggapan bahwa hanya dengan menghafal firman-Nya sudah cukup. Kita perlu interpretasi Roh Kudus.

Kita harus ingat bahwa ministri firman hari ini lebih kaya dibandingkan dengan ministri firman yang tertulis di dalam Perjanjian Baru. Bukan berarti apa yang kita lihat hari ini lebih unggul dibandingkan dengan apa yang mereka kihat. Kita tahu bahwa firman Allah telah lengkap ketika kitab Wahyu selesai ditulis. Semua kebenaran Allah telah dilepaskan. Kebenaran yang tertinggi dan terdalam telah dilepaskan. Yang kita maksudkan adalah sejauh menyangkut kekayaan, ministri hari ini harus lebih kaya dibandingkan ministri-ministri penulis Perjanjian Baru. Dasar perkataan ilahi yang atasnya Paulus berbicara hanya dari Perjanjian Lama. Tetapi dasar perkataan ilahi yang atasnya kita berbicara adalah Perjanjian Lama ditambah tulisan Paulus, Petrus, dan tulisan-tulisan lainnya. Alkitab yang kita miliki di tangan kita lebih besar daripada yang dimiliki Paulus. Dia hanya mempunyai tiga puluh sembilan kitab, tetapi kita mempunyai dua puluh enam puluh enam kitab. Hari ini pelayan Allah harus memiliki ministri firman yang lebih kaya, lebih limpah. Banyak bahan yang bisa dipakai oleh Roh Allah dan ada banyak kesempatan bagi Roh Allah untuk memberikan interpretasi yang tepat untuk ministri firman yang lebih limpah hari ini. Tidak boleh ada kemiskinan; sebaliknya harus lebih kaya, lebih limpah.

Kita perlu mempelajari Alkitab dengan teliti, dan kita perlu Roh Kudus menginterpretasikannya untuk kita. Di masa lampau banyak orang telah meluangkan waktu mempelajari Alkitab. Roh Kudus telah memberikan kita banyak terang. Beberapa orang telah menemukan perbedaan antara kata dengan kata sandang atau kata tanpa kata sandang, seperti perbedaan antara Christ dan the Christ, antara law dan the law, dan antara faith dengan the faith. (cat. editor: penggunaan the dalam bahasa Inggris bermakna satu-satunya, dan sesuatu yang sudah pasti). Ini memerlukan ketelitian belajar. Dalam Perjanjian Baru sebutan Yesus Kristus mengacu pada Tuhan sebelum kebangkitan, sedangkan sebutan Kristus Yesus mengacu setelah kebangkitan-Nya. Di dalam Alkitab hampir tidak ditemukan referensi yang mengatakan kaum beriman dalam Yesus. Kita hanya menemukan istilah dalam Kristus. Poin yang begitu rinci harus digali melalui belajar. Kita harus membiarkan Roh Tuhan berbicara kepada kita, dan kita harus menyadari ketepatan firman Allah.

Banyak kata-kata di dalam Alkitab yang tidak bisa ditukar. Ada banyak kata ganti (pronoun) yang bermakna khusus dan tidak bisa ganti. Setiap kali Alkitab berbicara mengenai darah, selalu mengacu pada penebusan, dan setiap kali berbicara mengenai salib, mengacu pada penanggulangan atas diri seseorang; keduanya tidak pernah kabur. Setiap kali berbicara mengenai ciptaan lama, pasti berbicara mengenai penyaliban salib, dan setiap kali berbicara mengenai sifat alamiah, hal itu mengacu pada memikul salib. Keduanya tidak pernah keliru. Kitalah yang keliru; tetapi firman Allah tidak pernah keliru. Dalam hubungannya dengan pergerakan Roh Kudus, konstitusi selalu di dalam, sedangkan pengalaman karunia adalah luaran. Contoh-contoh tersebut menunjukkan keakuratan Alkitab. Para penulis Perjanjian Baru menyadari keakuratan Perjanjian Lama, dan mereka menyerahkan diri pada interpretasi Roh Tuhan. Kita juga harus melihat keakuratan Perjanjian Baru dan Perjanjian lama sebagai dasar kita sebelum kita bisa memiliki ministri firman yang kaya. Kita harus mempelajari Alkitab, tetapi tidak cukup hanya belajar; kita perlu interpretasi Roh Kudus.

Seorang minister firman tidak menerima wahyu tersendiri, wahyu yang tidak berhubungan, besar dan wahyu yang belum pernah terjadi sebelumnya. Sebaliknya, dia membangun terangnya di atas firman Allah sebelumnya. Inilah cara Paulus, Petrus, dam para minister Tuhan. Inilah cara minister Tuhan hari ini. Ada banyak orang sebelum Paulus, dan sebelum kita ada Paulus, para rasul, dan enam puluh enam kitab, firman Allah yang tertulis. Wahyu hari ini harus cocok dengan pendahulu kita, terang dan firman hari ini harus cocok dengan nenek moyang kita. Paulus perlu interpretasi Roh sebelum dia bisa menjadi seorang minister firman. Apabila kita ingin menjadi seorang minister firman hari ini, kita juga perlu interpretasi Roh Kudus. Firman Allah diturunkan dari generasi ke generasi, dan firman-Nya juga mendapatkan lebih banyak perkataan dari generasi ke generasi. Tidak ada yang bisa berbicara sesuatu dengan independen. Orang yang kedua selalu melihat lebih banyak dibandingkan orang yang pertama, orang yang ketiga selalu melihat lebih banyak daripada orang yang kedua, dan orang yang keempat selalu melihat sesuatu yang lebih daripada orang yang ketiga. Seiring dengan waktu, lebih banyak lagi hal yang bisa dilihat. Dengan orang yang pertama, Allah harus intervensi langsung, tetapi dengan orang yang kedua dia hanya perlu mengikuti jejak orang yang pertama dan lebih banyak melihat. Orang ketiga juga demikian. Firman Allah terus bertumbuh. Firman melahirkan firman, dan seiring waktu, lebih banyak firman yang dilepaskan. Supaya melihat lebih banyak dan menerima lebih banyak, kita harus melihat apa yang para pendahulu kita telah lihat dan menerima apa yang telah mereka terima. Jika Allah membelaskasihani dan merahmati kita dan membuka mata kita untuk melihat apa yang telah Dia ucapkan, kita akan mempunyai dasar yang diatasnya kita bisa melayani sebagai minister firman-Nya.

Mungkin jumlah minister itu banyak, tetapi firman hanya satu. Dari generasi ke generasi, banyak orang menjadi minister, tetapi mereka berangkat dari firman yang sama dan yang satu. Mereka yang baru menjadi minister harus meminta kepada Allah interpretasi firman dari mereka yang telah ada terlebih dahulu. Hanya dengan cara demikian mereka bisa menghubungkan “firman” Allah yang besar, dan mereka juga bisa berdiri bersama dengan semua minister Allah. Ini prinsip dasar. Ada satu perkataan, tetapi banyak minister.