← Daftar isi Ministri Firman Allah · bab 5/17

DASAR FIRMAN SATU

Kita telah melihat bahwa menjadi seorang pelayan firman bukan perkara sederhana. Tidak semua orang bisa membicarakan firman Allah. Masalah dasar mengenai seorang pelayan firman sangat berhubungan dengan orangnya. Sekarang kita ingin memperhatikan perkara lain, yaitu firman Allah itu sendiri. Saat kita membicarakan pelayanan firman, kita tidak mengatakan bahwa Allah mempunyai perkataan yang tidak berhubungan dengan Alkitab. Kita tidak mengatakan bahwa manusia dapat menambahkan sebuah kitab pada Alkitab. Kita juga tidak mengatakan bahwa dia bisa menerima wahyu atau memperkenalkan pelayanan yang tidak ditemukan di dalam Alkitab. Kita percaya bahwa firman Allah itu sempurna dalam Perjanjian Lama dan Baru. Kita tidak perlu menambahkan perkataan pada catatan yang sudah ada di dalam Alkitab. Pada waktu yang sama kita juga harus menyadari bahwa pengetahuan Alkitab tidak membuat seorang itu memenuhi syarat untuk memberitakan firman Allah. Setiap orang yang damba menjadi seorang pelayan firman harus menyadari apakah firman Allah itu. Jika dia tidak mengetahui apa itu firman Alah, dia tidak bisa menjadi seorang pelayan firman.

Keenam puluh enam kitab kira-kira ditulis oleh empat puluh orang yang berbeda. Mereka menggunakan seluruh diri mereka dan pemilihan kata dengan gaya mereka masing-masing. Setiap penulis menggunakan istilah khusus, dan tulisan mereka mengandung perasaan, pikiran, dan unsur manusia. Ketika firman Allah datang pada para penulis itu, unsur diri mereka dipertinggi oleh Allah. Beberapa orang dipakai secara luar biasa sedangkan yang lainnya dipakai biasa saja, tetapi semuanya dipakai oleh Allah, setiap orang menerima wahyu dari Dia, dan setiap orang adalah pelayan firman. Firman Allah seperti musik , dan mereka seperti alatnya.

Sebuah orkestra terdiri dari banyak alat musik, dan setiap alat itu memiliki perbedaan suara. Ketika suatu orkestra tampil, suara-suara itu berbaur menjadi satu dengan harmonis. Ketika suara-suara itu sampai di telinga kita, kita dapat membedakan suara piano, biola, terompet, clarinet, dan flute, tetapi kita tidak mendengar suara campur aduk yang kacau. Sebaliknya kita mendengar suara musik yang harmonis. Setiap musik memiliki ciri khas dan kekhususannya, tetapi semuanya memainkan musik yang sama. Jika ada dua jenis musik, maka akan terjadi ketidakserasian dan kebingungan. Sama halnya dengan seorang pelayan firman. Setiap pelayan memiliki kepribadianya sendiri. Namun mereka membicarakan firman Allah.

Alkitab bukan sebuah kumpulan kitab yang kacau. Mulai halaman pertama sampai halaman terakhir, semuanya merupakan kesatuan. Meskipun seorang pelayan mengatakan satu hal dan pelayan yang lain mengatakan hal yang berbeda, pelayanan mereka, saat digabungkan menjadi satu, membentuk kesatuan. Kira-kira ada empat puluh orang penulis Alkitab. Meskipun jumlah ini cukup banyak, yang mereka sampaikan adalah satu, tidak ada kekacauan maupun pecahan. Alkitab bisa memantulkan beberapa alat musik (instrument), tetapi hanya ada satu jenis musik. Siapa saja yang berusaha menambahkan melodi yang lain jelas-jelas akan terlihat mencolok. Setelah nadanya mencapai telinga kita, kita tahu ada yang salah dengan musiknya. Firman Allah menyatukan semuanya. Suaranya mungkin berbeda, tetapi tidak seharusnya ada yang tidak berbunyi. Kita jangan beranggapan bahwa asal ada suara itu sudah cukup. Kita jangan beranggapan bahwa setiap orang bisa berdiri, mengatakan beberapa kalimat, dan menyatakan firman Allah. Firman Allah menyatukan keseluruhannya dari awal sampai akhir. Pelayanan firman di masa lalu menjadi bagian dari kesatuan yang tidak terpisah ini, dan pelayanan firman masa kini juga bagian dari kesatuan yang tidak terpisah ini. Tidak ada unsur asing yang bisa ditambahkan padanya atau membentuk bagian darinya. Firman Allah adalah Tuhan Yesus, satu, dan hidup. Jika kita mencoba menambahkan sesuatu ke dalamnya, kita tidak lagi mempunyai firman Allah, yang ada malah kekacauan, kemurtadan, dan perpecahan. Apa yang kita miliki bukan firman Allah.

Perjanjian Lama terdiri dari tiga puluh sembilan buku. Dari aspek sejarah, kitab Ayub mungkin ditulis terlebih dahulu. Tetapi lima kitab Taurat Musa diletakkan di bagian awal Alkitab. Sangat ajaib bahwa semua penulis Alkitab setelah Musa tidak menulis sesuatu yang terpisah, mereka menulis melanjutkan pendahulu-pendahulu mereka. Musa menulis lima kitab Taurat tanpa mengacu pada tulisan orang lain. Tetapi tulisan Yosua ditulis berdasarkan kitab Taurat Musa. Dengan kata lain, ministri firmanYosua tidak berdiri sendiri; pelayanannya sebagai seorang pelayan dilakukan berdasarkan pengetahuannya mengenai kitab Taurat. Setelah Yosua ada penulis-penulis lain, seperti penulis kitab Samuel, yang juga berbicara atas dasar tulisan-tulisan Musa. Artinya, selain Musa, yang secara ilahi dipanggil sejak awal untuk menulis lima kitabnya, pelayan-pelayan firman yang setelah dia berfungsi di atas dasar firman Allah yang sebelumnya. Sisa kitab-kitab Perjanjian Lama ditulis dengan tulisan sebermula sebagai dasar mereka. Meskipun penulis yang kemudian menulis secara berbeda, mereka mendasari perkataan mereka pada firman yang sebelumnya. Semua pelayan firman Allah setelah Musa berbicara berdasarkan pada firman ilahi yang yang ada sebelum mereka. Firman Allah adalah satu kesatuan, dan tidak ada penulis yang bisa berbuat seenaknya. Mereka yang muncul setelah itu selalu berbicara berdasar pada firman yang sudah ada sebelumnya.

Ketika kita sampai pada Perjanjian Baru, satu-satunya wahyu yang baru yang kita temukan adalah misteri Tubuh Kristus. Efesus temberitahu kita bahwa Tubuh terdiri dari orang-orang Yahudi dan orang kafir. Selain hal itu, tidak ada yang baru, semuanya berdasarkan pada pengajaran Perjanjian Lama, dan segala sesuatu yang ada di dalam Perjanjian Baru bisa ditemukan juga dalam Perjanjian Lama. Perjanjian Lama terdiri dari banyak wahyu yang doktrinal. Bahkan langit baru dan bumi baru ditemukan dalam Perjanjian Lama. Salah satu versi Alkitab menulis dengan huruf besar semua kutipan Perjanjian Baru yang diambil dari Perjanjian Lama. Jika seorang membacanya, dia akan menemukan banyak hal di dalam Perjanjian Baru yang telah dibicarakan terlebih dahulu di dalam Perjanjian Lama. Beberapa catatan di dalam Perjanjian Baru jelas merupakan kutipan langsung dari Perjanjian Lama. Beberapa catatan bukan kutipan langsung, tetapi penulisnya dengan jelas merujuk langsung pada catatan di dalam perjanjian Lama. Ini seperti pemberitaan kita, terkadang kita mengutip Alkitab dengan cara membuat referensi dari beberapa pasal dan ayat saja. Pada waktu yang lain kita menghafal seluruh ayat, dan mereka yang terbiasa dengan Alkitab akan tahu ferensi-referensinya. Ada lebih dari lima ratus ayat referensi Perjanjian Lama yang dicatatat dalam Perjanjian Baru. Kita harus ingat bahwa pelayanan firman di dalam Perjanjian Baru berdasarkan pada pengutaraan ilahi dalam Perjanjian Lama. Tidak ada pembicaraan yang berdiri sendiri.

Jika ada seorang yang hari ini berdir dan menyatakan bahwa dia telah menerima wahyu tersendiri, kita dengan segera bisa menyatakan wahyu ini tidak bisa dipercaya. Hari ini tidak ada seorang pun yang bisa menerima firman Allah terpisah dari Alkitab. Bahkan keberadaan Perjanjian Baru tidak sendirian. Perkataan Paulus tidak bisa ada sendiri. Seorang tidak bisa memotong Perjanjian Lama dan hanya mau Perjanjian Baru. Demikian juga tidak seorang pun yang bisa membuang empat kitab Injil dan hanya menyimpan surat-surat kiriman Paulus. Kita harus menyadari bahwa firman-firman yang terkemudian ada karena firman yang terdahulu; firman itu terang yang dibawakan dari firman sebelumnya, tidak berdiri sendiri, tidak terpisah. Secara terpisah, firman yang terpisah bias menjadi firman yang sesat; tidak bisa menjadi firman Allah. Kita harus mengerti apakah pelayanan firman itu. Semua pelayanan di dalam Alkitab berhubungan satu sama lain. Tidak seorang pun yang bisa menerima wahyu yang benar-benar tersendiri dan tidak berhubungan dengan wahyu yang lain. Kedua puluh tujuh kitab Perjanjian Baru di dasarkan pada Perjanjian Lama. Pelayan-pelayan terkini selalu menerima suplai dari pelayan sebelumnya.

D U A

Kita harus menghakimi semua wahyu independen dan pelayanan independen. 2 Petrus 1:20 mengatakan, “Tidak ada nubuat Alkitab yang berasal dari penafsiran sendiri.” Kata “sendiri” bisa juga diterjemahkan “pribadi”. Karena itu bisa dipadankan dengan “penafsiran”. Ini berarti nubuat Allah tidak bisa ditafsirkan hanya menurut konteks seketika, tidak bisa ditafsirkan hanya dari pesan itu sendiri. Contohnya, Matius 24 tidak bisa ditafsirkan hanya dengan Matius 24 saja, kita harus melihatnya dalam terang Alkitab dari pasal dan ayat yang lain. Kita tidak bisa menafsirkan nubuat dari nubuat itu sendiri. Kita tidak bisa menafsirkan Daniel 2 dengan Daniel 2 saja, atau Daniel 9 dengan Daniel 9 saja. Jika kita menafsirkan teksnya saja, kita membuat “penafsiran pribadi”. Kita harus ingat bahwa firman Allah tidak terpisahkan. Untuk membicarakan firman Allah, kita pertama-tama harus menyadari bahwa firman itu tidak terpisahkan. Tidak ada bagian Alkitab yang boleh ditafsirkan secara pribadi., dan tidak dapat diterjemahkan hanya menurut teksnya saja. Alkitab harus ditafsirkan dalam hubungannya dengan kitab lain. Hai ini kita memiliki Alkitab di tangan kita; kita tidak bisa dengan seenaknya menerjemahkan “firman Allah” tetapi tidak mengkaitkannya dengan firman Allah yang sudah ada. Jika perkataan kita tidak cocok dengan firman Allah yang sudah ada, kita menyebarkan bidah dan penipuan satan.

Pelayan firman Allah pertama-tama berbicara secara independen untuk Allah. Mereka berbicara demikian karena tidak ada pelayan firman sebelum mereka. Kelompok kedua harus membangun perkataan mereka di atas kelompok pertama. Perkataanya seharusnya merupakan pengulangan dan penjelasan tambahan dari kelompok pertama. Setelah kelompok ketiga muncul, perkataanya seharusnya berdasarkan perkataan kelompok pertama dan kedua.; mereka juga tidak bisa berbicara secara independen. Terang yang Allah berikan hanya bisa menjadi penerapan lebih lanjut dari kelompok pertama dan kedua. Allah mungkin memberikan visi dan wahyu yang baru, tetapi visi dan wahyu ini berdasarkan pada firman yang telah Dia ucapkan. Iniah asal mula munculnya golongan Berea. Mereka mengkaji Alkitab untuk melihat apakah yang mereka telah dengar benar-benar tercantum di dalam Alkitab (Kis. 17:10-11). Firman Allah tidak berubah hari demi hari. Tidak terpisahkan, tidak berubah dari awal sampai akhir. Firman terus terbangun sedikit demi sedikit. Allah sedang membangun sesuatu yang Dia dambakan. Manusia dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru yang menerima terang yang lebih lanjut tidak menerima wahyu yang independen.; wahyu mereka didasarkan pada wahyu pertama yang ada dalam Perjanjian Lama. Wahyu yang pertama terus berlanjut. Dari satu wahyu terang semkin banyak; mata manusia semakin terbuka, sampai kita akhirnya memiliki Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Seorang manusia menjadi pelayan firman Perjanjian Baru Allah melalui menerima visi firman Allah di dalam Perjanjian Lama. Setiap orang yang ingin seorang pelayan firman hari ini harus mempertimbangkan firman Allah dari sudut pandang Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru; dia tidak bisa memiliki firman Allah yang terpisah dari diri mereka. Ini prinsip yang sangat penting. Seorang pelayan firman hari ini tidak bebas, sama seperti para pelayan firman-Nya di masa-masa ini tidak independen. Semua pelayan firman bersandar pada pembicaraan Allah sebelumnya. Tidak ada seorang pun yamg meneriama wahyu yang terpisah dari Alkitab. Setiap orang yang menerima wahyu yang terpisah dari Alkitab menandakan dia menerima bidah, sesuatu yang benar-benar tidak bisa diterima.

Di antara anak-anak Allah terdapat kesalahpahaman mengenai Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Mereka beranggapan bahwa keduanya bertentangan. Mereka berpikira bahwa hukum taurat dan kasih karunia berlawanan. Tetapi saat membaca firman Alah, dapatkah kita menemukan bahwa keduanya bertentangan? Jika kita membaca surat-surat kiraman dari Roma sampai Galatia, kita tidak melihat adanya pertentangan. Faktanya, kitab Galatia malah menunjukkan kepada kita bahwa keduanya saling melengkapi. Banyak orang memiliki anggpan yang salah bahwa hukum taurat dan kasih karunia itu saling bertentanganm karena mereka sadar Allah berhubungan dengan manusia di Perjanjian Lama berbeda caranya dengan Perjanjian Baru. Mereka berpikir bahwa Perjanjian Lama dan perjanjian Baru bertentangan karena Allah muncul kepada manusia di bawah hukum taurat dan kasih karunia. Mereka tidak menyadari bahwa Perjanjian baru merupakan pengembangan dari Perjanjian Lama, sama sekali tidak bertentangan. Kasih karunia adalah kemajuan dari hukum taurat, bukan pertentangan. Kita harus menyadari bahwa perjanjian Baru merupakan kelanjutan dan pengembangan lenih lanjut dari Perjanjian Lama, keduanya tidak bertentangan sama sekali.

Paulus memberitahu kita bahwa kasih karunia tidak hanya dimulai dari jaman Perjanjian Baru. Ketika membaca kitab Galatia, kita menemukan “janji” yang diberikan saat Allah memanggil Abraham. Dengan kata lain, Allah memberitakan injil kepada Abraham dan memberitahu dia untuk menantikan Kristus, yang melalui-Nya berkat akan datang ke seluruh bumi. Pada saat Allah mengaruniakan kasih karunia kepada Abraham, hukum taurat belum ada. Kitab Galatia dengan jelas memberitahu kita bahwa Allah tidak memberi hukum taurat melainkan sebuah janji, yang sebenarnya adalah injil (3:8). Dalam kitab Galatia Paulus berkata bahwa injil kita itu berdasarkan pada injil Abraham dan kasih karunia kita berdasarkan pada kasih karunia yang telah diterima oleh Abraham. Janji yang kita terima berdasarkan pada janji yang telah diberikan kepada Abraham, dan Kristus yang telah kita terima adalah benih yang sejati dari Abraham (ay. 9, 14, 16). Paulus dengan jelas menunjukkan bahwa Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru keduanya mengikuti alur yang sama.

Lalu mengapa kita memiliki hukum taurat? Dalam kitab Galatia Paulus mengatakan bahwa hukum taurat adalah sesuatu yang “ditambahkan” (3:19). Pada mulanya Allah memberikan kasih karunia kepada manusia; Ia memberi injil kepada manusia. Tetapi karena orang-orang berdosa tidak tahu atau menghakimi dosa mereka, mereka tidak bisa menerima kasih karunia dan injil. Dengan kedatangan hukum taurat, dosa mereka diekspos dan dihakimi. Tetapi kitab Galatia memberitahu kita bahwa meskipun manusia dihakimi, Allah tetap memberikan injil dan janji. Dengan kata lain, Allah tidak memberi kita kasih karunia kemudian di waktu lain memberi kita hukum taurat. Ia tidak memberi kita janji pada suatu waktu dan meminta kita bekerja pada waktu lain. Pekerjaan Allah tidak berubah dari awal sampai akhir. Kitab Galatia memberitahu kita bahwa kasih karunia yang kita terima hari ini tidak lebih tinggi dibandingkan dengan kasih karunia yang diberikan kepada Abraham. Kasih karunia ini sama. Karena kita telah menjadi keturunan Abraham, kita bisa mewarisi kasih karunia ini dan menikmati janji Allah. Maka, janji yang sebermula, hukum taurat yang menghalangi, dan perampungan injil Kristus semuanya ada pada garis yang sama. Firman Allah tidak terpisahkan; tidak ada dua garis. Firman itu maju terus, tidak bertentangan.

Pertama-tama Allah memberikan janji kepada Abraham. Kemudian Ia memberikan hukum taurat kepada bangsa Israel. Apakah kedua hal ini bertentangan? Tidak. Keduanya tidak bertentangan. Sebaliknya, hal ini menunjukkan kemajuan. Hari ini kita mencari penanggulangan Allah dengan kita menurut kasih karunia sekali lagi. Apakah ini juga berarti pertentangan yang berbeda? Tidak. Melainkan kemajuan. Cara Allah menanggulangi manusia semakin jelas seturut waktu. Janji Allah kepada Abraham tidak dihapuskan oleh hukum taurat yang datang setelah empat ratus tiga puluh tahun kemudian (Gal. 3:17). Empat ratus tiga puluh tahun kemudian Dia memberikan janji kepada Abraham, Allah memberikan hukum taurat, tidak dengan tujuan menghapuskan janji melainkan untuk menggenapinya karena seseorang hanya akan menerima janji setelah dia menyadari dosa-dosanya. Dengan mengurung semua di bawah dosa, Allah bisa mengaruniakan kasih karunia kepada manusia yang Dia salurkan melalui anak-Nya (ay. 21-22). Perjanjian Lama sedang maju dan berkembang. Perjanjian Baru mengikuti Perjanjian Lama, juga sedang maju. Perjanjian Baru tidak bertentangan dengan Perjanjian Lama. Firman Allah tetap sebagai kesatuan yang tidak terpisahkan. Pelayanan firman meluas dan berkembang membentuk wahyu dan perintah Allah yang dahulu, sama sekali tidak independen dan bertentangan.

Seorang pelayan firman hari ini harus tahu apa yang telah dibicarakan oleh Allah dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Sangat jelas bahwa para pelayan firman yang menulis Perjanjian Baru mempelajari dan terbiasa dengan Perjanjian Lama. Juga sangat jelas bahwa para pelayan hari ini juga harus paham Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Kita harus terbiasa dengan perkataan para pelayan sebelum kita. Hanya dengan cara demikian perkataan kita bisa sesuai dengan Perjanjian Lama dan Perjanjian baru; dan perkataan kita pun tidak akan independen. Pelayanan firman hari ini bukanlah perkara menerima perkataan independen langsung dari Allah dan kemudian mengutarakannya langsung kepada manusia. Pelayanan firman hari ini berkaitan dengan pengetahuan dari apa yang telah dibicarakan Allah sebelumnya dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru dipertinggi oleh terang dan wahyu yang diperbarui. Ketika kita mengutarakan perkataan sedemikan kepada manusia, itu adalah Alah yang berbicara. Para pelayan firman Perjanjian Baru berbicara di atas dasar Perjanjian Lama. Ketika kita berdiri untuk berbicara hari ini, kita harus ingat bahwa kita sudah mempunyai banyak perkataan dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Ketika kelompok pertama berdiri untuk mengutarakan firman Allah, mereka tidak mempunyai perkataan dari Allah sebagai dasar mereka. Ketika kelompok kedua bangkit, mereka hanya bisa mengutip setengah dari firman kudus yang telah dilepaskan. Ketika kelompok ketiga, keempat, dan terbaru muncul, mereka hanya mengutip lebih banyak, dan mereka memiliki dasar yang lebih luas untuk membangun karena lebih banyak firman Allah yang telah dilepaskan. Hari ini kita lebih maju dan telah mencapai tempat yang lebih kaya. Semua firman dalam Perjanjian Lama telah dilepaskan. Demikian juga dengan Perjanjian baru. Kita dapat mencari semua firman yang telah Allah bicarakan di dalam Perjanjian lama maupun Perjanjian Baru. Pada waktu yang sama, semua firman itu ada di sini untuk menghakimi kita. Jika kita lepas kendali, firman ini akan memberitahu kita bahwa kita berbicara dari diri kita sendiri, tidak oleh Roh. Jika perkataan kita tidak sesuai dengan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, kita bisa yakin bahwa kita telah lepas kendali. Alkitab adalah firman Allah. Maka, jika kita tidak tahu Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, kita tidak bisa menjadi seorang pelayan firman. Setiap orang yang damba menjadi seorang pelayang firman Allah sedikitnya harus mempunyai pengetahuan yang praktis akan Alkitab; dia harus terbiasa dengan Alkitab sehingga dia bisa menerapkannya. Jika dia tidak terbiasa dengan seluruh Alkitab, dia tidak bisa menerapkannya, dan dia tidak bisa menjadi seorang pelayan firman Allah. Jika dia tidak pernah melihat sedikitpun terang dari firman yang tertulis, dia tidak memiliki dasar untuk perkataannya, dia tidak tahu kapan dia telah membelok dari perkataannya. Inilah alasannya kita harus membiasakan diri kita dengan Alkitab. Jika tidak, kita akan menghadapi masalah besar saat kita mencoba melayani sebagai seorang pelayan firman Allah.

Kita tidak mengatakan bahwa pengetahuan Alkitab membuat seorang itu bersyarat menjadi seorang minister firman. Kita mengatakan bahwa seorang minister firman harus membiasakan dirinya dengan Alkitab. Apabila kita tidak pernah mendengar firman yang Allah pernah katakana di masa lalu, maka kita tidak akan bisa menerima wahyu apa pun sekarang. Wahyu melahirkan wahyu; sama sekali tidak independen. Wahyu Allah pertama-tama ada di dalam Firman. Ketika Roh-Nya menerangi melalui firman, semakin banyak wahyu yang dihasilkan, semakin banyak terang yang dapat dilihat. Sinar semakin terang. Inilah caranya wahyu datang kepada kita. Allah tidak memberikan terang dari sesuatu yang tidak ada. Dia tidak melakukan hal demikian. Dia selalu membawakan terang keluar dari firman yang sudah ada, dan terus maju berdasarkan pada firman ini. Waktu demi waktu ketika terang ini ternyatakan, terang semakin terang. Inilah caranya wahyu Allah bekerja. Apabila kita tidak memiliki wahyu yang lalu dari Allah, terang-Nya tidak akan berarti untuk menerangi kita. Hari ini Allah tidak mengaruniai kita wahyu dengan cara yang Dia lakukan pada orang pertama. Hal ini merupakan prinsip pengaturan yang mendasar. Ketika Allah mewahyukan diri-Nya kali pertama kepada manusia, Dia berbicara tanpa kata-kata pendahuluan sebagai dasar-Nya. Tetapi hari ini semua perkataan Allah yang maju dan wahyu-Nya yang maju didasari pada perkataan yang pernah Dia katakana dan pernah wahyukan. Dia menambahkannya dengan cara membangun di atas dasar yang telah ada. Setiap orang yang tidak terbiasa dengan firman yang telah diucapkan Allah tidak bersyarat menjadi minister firman-Nya. Tanpa dasar sedemikian, Allah tidak bisa memberikan terang kepada kita.

T I G A

Mazmur 68:18 mengatakan mengenai Tuhan Yesus mendispensikan karunia pada saat keterangkatan-Nya. Inilah dasar perkataan Paulus dalam pasal satu dan empat kitab Efesus. Efesus 1 memberitahu kita bahwa Tuhan Yesus terangkat ke tempat tertinggi dan duduk di sebelah kanan Allah Bapa (ay. 20). Kemudian pasal 4 memberitahu kita bahwa dalam keterangkatan-Nya, Tuhan Yesus melepaskan tawanan yang ditawan oleh musuh Allah dan memberikan karunia kepada manusia (ay. 8). Jika kita menengok sejenak, kita akan menemukan bahwa inilah yang dikatakan Petrus pada hari Pentakosta. Dia berkata, “Dan sesudah Ia ditinggikan oleh tangan kanan Allah dan menerima Roh Kudus yang dijanjikan itu, maka dicurahkan-Nya apa yang kamu lihat dan dengar di sini” (Kis. 2:33). Baik perkataan Petrus mengenai pencurahan pada hari Pentakosta maupun perkataan Paulus dalam kitab Efesus mengenai kenaikan dan pemeberian karunia untuk pembangunan gereja semuanya didasarkan pada terang yang diwahyukan dalam Mazmur 68. Allah tidak memberikan terang yang langsung kepada Petrus. Dia menaruh terang ini di dalam Mazmur 68, lalu menyatakannya kepada Paulus. Siapa saja yang ingin mendapatkan terang ini, dia harus mengetahui Mazmur 68. Kita harus ingat bahwa Allah menyembunyikan terang ini di dalam Mazmur 68. Kemudian suatu hari, Dia membuka berita ini dan menyatakan terang ini kepada manusia. Manusia menjadi jelas mengenai kebenaran ini. Petrus dan Paulus adalah manusia wahyu, tetapi mereka tidak menerimanya secara independen.

Kitab Ibrani menyingkapkan masalah kurban-kurban persembahan dengan jelas. Hal itu menunjukkan bahwa Tuhan Yesuslah satu-atunya kurban yang sejati. Apabila seorang tidak mengerti kurban-kurabn Perjanjian Lama, dia tidak akan mengerti bagaiman Tuhan Yesus mempersembahkan diri-Nya sebagai kurban persembahan. Terang Allah ada di dalam kurban-kurban Perjanjian Lama. Penulis kitab Ibrani mengerti wahyu Perjanjian Lama. Dengan kata lain, terang Allah terdapat di dalam Abraham, Ishak, Yakub, Yusuf, Musa, Yosua, Samuel, Daud, dan Salomo. Apabila kita tidak melihat orang-orang itu, kita tidak akan melihat terang. Ini seperti mengatakan bahwa terang ada di dalam sebuah lilin. Tanpa lilin kita tidak akan melihat terang. Terang terekspresikan melalui pelita dan kaki dian. Tanpa keduanya, tidak ada terang. Kita harus menyadari bahwa firman dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian baru merupakan wadah terang Allah. Jika kita tidak mengerti kata-kata ini, kita tidak akan bisa memenuhi keperluan hari ini. Firman Allah itu sesuatu yang utuh. Firman ini merupakan tempat di mana terang Allah disimpan dan sumber terang itu bersinar.

Mari kita lihat contoh dalam Galatia 3:6, “Secara itu jugalah Abraham percaya kepada Allah, maka Allah memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.” Ini merupakan kutipan dalam Galatia 15:16, yang dikutip dua kali dalam Perjanjian Baru—dalam Roma 4:3 dan Yakobus 2:23. Ayat itu digunakan satu kali dalam Perjanjian Lama, namun dikutip tiga kali di dalam Perjanjian Baru. Ada tiga kata yang sangat penting dalam ayat ini—percaya, memperhitungkan, dan kebenaran. Kata-kata tersebut ada di dalam Perjanjian Lama. Terang Allah terkandung di dalamnya. Ketika Paulus menulis Roma 4, dia menggarisbawahi kata “memperhitungkan”. Mereka yang percaya diperhitungkan sebagai kebenaran. Dalam Galatia 3, Paulus mengutip hal yang sama sekali lagi, tetapi kali ini penekanannya bukan pada terhitung, tetapi pada kata percaya. Dia mengatakan bahwa mereka yang percaya dibenarkan. Ketika Yakobus membicarakan hal ini, dia tidak menekankan kata terhitung dan percaya, melainkan kebenaran. Seorang itu harus benar. Terang Allah dilepaskan dalam tiga aspek yang berbeda, dari tida seumber yang berbeda. Ketika Anda membaca Roma 4, Anda mendapatkan terang Allah yang tersembunyi dalam kitab Kejadian. Ketika Anda membaca kitab Galatia 3, Anda juga menemukan terang Allah yang tersembunyi di dalam kitab Kejadian. Ketika Anda membaca kitab Yakobus 2, Anda pun menemukan hal yang sama—terang Allah, yang tersembunyi dalam kitab Kejadian. Jika Paulus tidak pernah membaca kitab Kejadian 15, atau jika dia telah membacanya dan melupakannya, tulisan ini tidak akan pernah ditulis.

Seorang yang ceroboh, sembrono dan mudah berubah terhadap firman Allah tidak bisa menjadi seorang minister firman. Seorang minister firman harus menggali semua fakta di dalam Alkitab. Dia harus menemukan semua butir di dalam firman Allah. Dia pertama-tama harus masuk ke dalam fakta Allah sebelum dia bisa menerima terang Allah. Tanpa terang Allah, seorang tidak bisa melihat apa-apa. Tetapi tanpa fakta yang disingkapkan di dalam Alkitab, tidak ada sorang pun yang akan menerima terang. Jika tidak ada pelita, tidak mungkin ada terang. Namun, jika ada seorang memiliki pelita tetapi tanpa terang, tetap saja tidak ada terang. Terang harus bersinar melalui pelita. Tanpa pelita, tidak akan ada terang. Kita perlu Allah mendirikan firman-Nya sebelum kita menyatakan firman-Nya.

Habakuk 2:4 mengatakan, “Orang yang benar itu akan hidup oleh percayanya” (lit. imannya). Ayat ini juga dikutip tiga kali di dalam Perjanjian Baru—dalam Roma 1:17, Galatia 3:11, dan Ibrani 10:38. Ayat ini juga memiliki tiga kata penting—benar, iman, dan hidup. Roma 1 memperhatikan kata “benar”; orang benar akan hidup oleh iman. Galatia 3 memperhatikan kata “iman”, orang yang benar akan hidup oleh iman. Ibrani 10 memperhatikan kata “hidup”; orang yang benar akan hidup oleh iman. Terang allah ada di dalam Perjanjian Lama. Tetapi dalam Perjanjian Baru, terang ini dilepaskan melalui ayat yang sama. Maka, wahyu adalah terang yang dilepaskan berdasarkan perkataan yang telah diucapkan Allah. Terang ini tidak independent, melainkan ada dasarnya.

E M P A T

Ijinkan saya mengulang sekali lagi: selain misteri Tubuh Kristus, yang terdiri dari orang-orang Yahudi dan kafir, dan apa yang dilukiskan di dalam kitab Efesus, Perjanjian Baru tidak memiliki hal-hal yang baru. Semua yang ada di dalam Perjanjian Baru merupakan terang lebih maju dari Perjanjian Lama. Prinsip dasar yang harus diingat adalah terang Allah ada di dalam firman-Nya. Untuk mempelajari bagaimana melayani Tuhan dan menjadi minister firman-Nya, kita harus belajar mempelajari firman-Nya. Bukan setiap orang yang terbiasa dengan Alkitab bisa melayani sebagai seorang minister firman, tetapi mereka yang tidak terbiasa dengan Alkitab, akan kekurangan kesempatan untuk menjadi seorang minister firman. Kita tidak boleh malas dalam pengetahuan Alkitab kita. Untuk mengetahui Alkitab, perlu kesadaran rohani. Tidak cukup hanya mengingat atau membacanya saja. Kita harus membacanya di hadapan Tuhan. Kita perlu terang, dan Alkitab itu harus menjadi buku yang menerangi kita. Kita harus mempelajari firman yang terdapat di dalam buku ini di hadapan Allah, dan kita membiarkan firman yang telah diutarakan sebelumnya berbicara kepada kita sekali lagi. Jika seorang tidak pernah menjamah firman Allah di dalam Alkitab, dia tidak akan pernah menjamah terang Allah. Firman hari ini terkandung di dalam firman Perjanjian baru, sama seperti Perjanjian Baru terkandung di dalam Perjanjian Lama. Kita harus menyadari seperti Paulus dan rasul-rasul lainnya yang mengambil perkataan mereka dari Musa dan para nabi, kita pun mengambil perkataan kita dari Paulus dan para rasul. Kita harus belajar menerima perkataan yang lebih maju melalui menerima perkataan para rasul.

Semua wahyu yang kita miliki hari ini mewakili yang terang lebih maju dari firman yang telah diutarakan sebelumnya. Kali pertama Allah berbicara, Dia langsung berbicara kepada manusia. Sejak saat itu, kita menerima firman yang lebih jauh dari firman yang telah ada; perkataan kita dibangun di atas firman yang telah ada. Prinsip dasar hari ini adalah menerima firman melalui Firman dan membangun perkataan di atas perkataan Alkitab. Kita tidak menerima firman Allah secara independen maupun dengan merdeka. Apabila kita tidak menerima perkataan kita dari firman yang telah ada, kita tidak bersyarat menjadi seorang minister firman. Kita harus datang kepada firman Allah menurut teladan para rasul, bukan menurut kebiasaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Kita semua harus mencari terang dari Alkitab dan menghasilkan lebih banyak perkataan dari Alkitab. Biji gandum yang pertama diciptakan oleh Allah, tetapi biji gandum yang berikutnya ada karena dihasilkan. Satu benih gandum menghasilkan banyak butir, yang kemudian lebih banyak menghasilkan. Biji gandum yang pertama berasal dari Allah, diciptakan. Biji ini tidak didahului oleh apa pun, belum pernah terjadi. Firman Allah beekrja dengan prinsip yang sama. Firman yang pertama diciptakan oleh Allah; belum pernah terjadi sebelumnya. Dari firman ini ada lebih banyak kemajuan dan lebih banyak firman yang diutarakan. Firman yang pertama Allah ucapkan tidak pernah terjadi sebelumnya. Hari ini firman ini telah menghasilkan banyak perkataan. Sekali saja kita mendirikan perkataan di dalam kita, semakin banyak perkataan yang dihasiilkan. Setiap generasi menemukan fimran ini semakin jelas dan semakin kaya. Demikian juga, kita tidak bisa mengharapkan Allah menciptakan benih dari sesuatu yang tidak ada. Kita hanya bisa menerima firman berdasakan pada firman Allah sebelumnya; kita hanya bisa menerima terang berdasarkan terang yang telah ada dan wahyu berdasarkan wahyu yang telah ada sebelumnya. Inilah cara seorang minister firman hari ini. Jika ada yang melampaui batas ini, dia adalah seorang bidah.

Saudara saudari, jangan membiarkan seorang pun dengan ringan menyatakan bahwa dirinya adalah seorang rasul atau nabi. Jika seorang berada di luar batas yang telah ditetapkan Allah, yaitu di luar perkataan yang telah diucapkan, maka perkataan orang itu adalah bidah dan jahat. Jika seorang tidak berhati-hati dengan perkataannya, dia akan mendapatkan masalah. Hari ini terang terkandung di dalam terang yang telah diterima sebelumnya, perkataan ada di dalam Firman, dan wahyu ada di dalam wahyu yang telah ada sebelumnya. Apapun yang berasal dari Alkitab itu benar; segala sesuatu yang tidak berasal dari Alkitab, tetapi dari sumber yang lain, adalah salah. Semua pembicaraan yang kita miliki hari ini berasal dari pembicaraan masa lalu. Hari ini bukan hari penciptaan. Hari ini prinsipnya adalah mendapatkan, melahirkan, menghasilkan. Wahyu menghasilkan wahyu, terang menghasilkan terang, dan firman melahirkan firman. Hari ini kita belajar bicara setahap demi setahap. Akhirnya, kita berharap bahwa kita memiliki ministri firman.

.