ISI FIRMAN DAN PENYALURAN FIRMAN
Alkitab menunjukkan kepada kita bahwa Allah menyalurkan firman-Nya melampaui pikiran manusia. Menurut konsep kita, Allah dapat menyebarkan firman-Nya dan menjadikan perkataan-Nya diketahui dengan dua cara.
Pertama, Ia bisa menciptakan sesuatu yang sifatnya seperti tape recorder yang bisa dipakai untuk menyalurkan firman-Nya kepada manusia. Apabila manusia dapat menciptakan sebuah tape recorder, Allah pasti mampu dan dapat menciptakan di alam semesta ini sesuatu yang bisa dipakai untuk firman-Nya kata demi kata. Dengan alat itu, setiap kata akan bisa disimak dengan baik. Kemudian setiap kali, tape itu bisa dinyalakan dan setiap firman Allah bisa distel untuk manusia dengar. Jika Allah menyalurkan firman-Nya seperti itu, pasti tidak akan ada keslahan; setiap orang bisa mendengar firman Allah yang murni. Akan tetapi, Allah tidak memilih cara tersebut.
Kedua, Allah bisa memerintahkan malaikat-Nya untuk menyebarkan firman-Nya. Alkitab mengatakan bahwa malaikat mampu membawakan firman Allah kepada manusia. Akan tetapi, kejaidan seperti itu sangat jarang. Dalam setiap kasus, Allah melakukan hal demikian karena sudah tidak ada lagi orang yang bisa didapatkan. Memakai malaikat adalah suatu pengecualian; cara itu bukanlah suatu hal yang umum yang dipakai Allah untuk berkomunikasi dengan manusia. Jika Allah bermaksud memakai malaikat sebagai pembawa pesan, Dia dapat mendiktekan firman-Nya sebagai suatu peraturan, seperti sepuluh perintah. Namun dokumen atau peraturan demikian tidak akan ada warna pengalaman manusia; tidak akan ada kesalahan manusia. Banyak orang beranggapan bahwa pembicaraan demikian akan menghilangkan perdebatan teologi, pertentangan, dan kesesatan. Mereka beranggapan bahwa jika firman Allah diucapkan baris per baris, manusia tidak akan kesulitan untuk memahaminya. Akan sangat sederhana jika Allah mengucapkan firman-Nya sebanyak lima sampai enam ratus klausa yang menyerupai hukum taurat. Tetapi Allah tidak akan melakukan hal demikian. Beberapa orang berharap seandainya Alkitab ditulis dalam 1,189 dogma(doktrin) yang teratur alih-alih 1,189 pasal. Ketika seorang mengambil Alkitab, dia akan mempunyai buku pedoman kekristenan, yang akan mengajarkan dirinya mengenai semua hal kekeristenan dalam sekejap. Namun, Allah tidak memilih cara ini.
Andaikata Allah memakai sesuatu seperti tape recorder untuk menyalurkan firman-Nya, maka keslahan pun sedikit, dan Allah bisa terus menerus mengulangi firman-Nya. Firman-Nya tidak akan jarang dan tidak seorang pun yang bisa mengatakan visi-Nya telah pudar. Firman-Nya bisa terus berlanjut ti muka bumi. Tetapi masalah mendasar dari firman seperti itu adalah firman itu tidak memiliki unsur manusia, dan hanya Allah yang dapat memahaminya. Meskipun firman itu dari Allah, tetap saja tidak ada dasar untuk saling berkomunikasi; antara Allah dan manusia tidak ada hubungan. Allah tetap akan menjadi Allah yang berbicara sedangkan manusia tidak bisa memahaminya. Jika firman Allah tidak mempunyai ciri khas manusia, firman itu akan seperti petir bagi kita; kita tidak akan bisa memahaminya. Yang pasti, Allah tidak akan berbicara kepada kita dengan cara ini.
Selanjutnya, Allah juga tidak mengatur firman-Nya kedalam bentuk doktrin maupn peraturan-peraturan. Saat ada doktrin dalam firman Allah, firman-Nya tidak hanya ditulis untuk pengertian manusia. Banyak orang suka memilih bagian doktrin perkataan Allah. Mereka senang bagian ini. Banyak orang yang belum percaya menemukan Alkitab itu tidak ada cita rasanya, penuh dengan kata-kata biasa seperti kita, kamu, dan mereka. Bagi mereka Sepuluh Perintah lebih menarik. Manusia selalu ingin menempatkan firman Allah dalam bab tersendiri, dengan beberapa bagian dibicarakan oleh malaikat, sebagian lagi dibicarakan oleh Allah, dan sebagian lagi disingkapkan melalui petir dan kilat, tanpa unsur manusia. Tetapi kita harus ingat firman Allah selalu ada unsur manusia. Inilah ciri khas firman Allah. Tidak ada buku yang sangat pribadi seperti firman Allah. Dalam menulis surat kirimannya Paulus berulang kali menggunakan kata “aku”. Kita biasanya menghindari penulisan bentuk “aku” dalam sebuah surat, karena surat itu akan menjadi sangat pribadi. Tetapi Alkitab penuh dengan unsur manusia. Allah memilih manusia untuk menjadi pelayan firman-Nya, dan Dia ingin firman-Nya mengandung unsur manusia. Inilah prinsip yang mendasar.
ISI FIRMAN
Disini kita perlu menjelaskan apakah unsur manusia itu. Menyangkut isi, Alkitab itu penuh dengan unsur manusia. Jika kita menghilangkan unsur manusia dari Alkitab, tidak akan ada yang tersisa. Unsur manusia menempati tempat yang penting dalam firman Allah. Contohnya, kitab Galatia berbicara mengenai janji Allah dengan mengacu pada cerita Abraham. Jika kita menyingkirkan cerita Abraham dari Alkitab, kita tidak akan dapat memahami apakah janji Allah itu. Tuhan Yesus adalah Anak Domba Allah yang menebus kita dari dosa (Yoh. 1:29), dan Perjanjian Lama berbicara mengenai manusia yang secara berulang mempersembahkan korban berupa kambing dan lembu. Dari persembahan yang Habel berikan dalam kitab Kejadian sampai kitab Imamat dengan semua korban-korban persembahannya, kita mendapati mereka terus menerus mempersembahkan korban kepada Allah. Hal tersebut merupakan gambaran Tuhan Yesus yang menjadi Anak Domba Allah yang mendamaikan orang berdosa. Pertimbangkan mengenai kisah Daud dalam Perjanjian Lama. Ia berperang dalam pertempuran dan menang. Ia menaati Allah, dan Dia adalah manusia yang diperkenan Allah. Ia menyiapkan bahan untuk pembangunan rumah Allah, dan Salomo membangun bait dengan emas, perak, dan batu-batu berharga yang telah dipersiapkan oleh Daud. Kita melihat Daud, dan kita melihat Salomo. Kedua gambaran tersebut menunjukkan bagaimana Allah berperang, bagaimana Dia menang, bagaimana Dia terangkat, dan bagaimana Dia bertakhta. Jika kisah Daud dan Salomo dihilangkan, kita tidak akan bisa melihat gambaran Tuhan Yesus secara penuh. Alkitab mengatakan bahwa Tuhan Yesus lebih besar daripada Daud dan Salomo (Mat. 22:43-44; 12:42). Sebelum Tuhan Yesus datang, harus ada Daud dan Salomo sebagai pendahulunya. Jika tidak, kita tidak akan melihat apa pun. Coba lihat teladan Musa saat memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir melalui padang gurun. Setiap perincian kisah ini ada di dalam Alkitab, termasuk kisah bagaimana Yosua memimpin bangsa Israel ke tanah Kanaan dan bagaimana mereka menang atas tiga puluh satu raja-raja yang ada di Kanaan. Jika kisa Musa dan Yosua disingkirkan, catatan kitab Keluaran, Bilangan, dan Yosua akan menjadi sedikit. Jika kita tidak ada memiliki kitab Yosua, kita akan sulit memahami kitab Efesus. Contoh-contoh ini menunjukkan bagaimana unsur manusia ada dalam firman Allah.
Salah satu ciri khusus firman Allah adalah penuh dengan unsur manusia.firman Allah tidak dilepaskan melalui udara yang tipis; tetapi dilepaskan melalui manusia. Allah melepaskan firman-Nya melalui manusia bahkan berkaitan dengan manusia. Hal ini membuat firman-Nya sederhana, bisa dimengerti dan dipahami. Saat Alah berbicara, Ia berbicara sehingga manusia bisa mengerti. Firman Allah bukan hanya perkataan Allah melainkan sesuatu yang bisa dipahami oleh manusia. Firman-Nya tidak supernatural tetapi juga alami. Firman-Nya tidak hanya rohani tetapi juga manusiawi. Melalui tulisan manusia kita dapat memahami apa yang sedang Allah kerjakan dan apa yang sedang Dia katakan. Kitab Kisah Para Rasul berisi sedikit doktrin; kitab ini terutama mencatat pergerakan para rasul di bawah pimpinan Roh Kudus. Pergerakan Petrus menjadi bagian firman Allah, dan pergerakan Paulus juga menjadi bagian firman Allah. Permulaan gereja di Yerusalem menjadi bagian firman Allah, dan permulaan gereka di Samaria dan Antiokhia juga menjadi bagian firman Allah. Kisah-kisah mereka bukan hanya sebagai cerita sejarah, melainkan merupakan bagian firman Allah. Melalui sejarah, manusia memperhidupkan firman Allah. Dengan melihat sejarah, kita melihat firman Allah yang diberitakan. Roh Kudus menyingkapkan firman Allah melalui sejarah manusia. Firman Allah penuh dengan dengan unsur manusia. Inilah ciri khusus Alkitab. Alkitab bukan kitab kredo. Alkitab merupakan buku yang berisi manusia memperhidupkan firman Allah. Ketika firman Allah diperhidupkan, ditampilkan oleh manusia, kita memiliki firman Allah.
Satu prinsip dasar Alkitab adalah inkarnasi. Jika seorang tidak memahami inkarnasi, yaitu prinsip firman yang menjadi daging, dia akan sulit memahami firman Allah. Firman Allah tidak abstrak dan tidak terlalu rohani sampai mengalahkan cita rasa manusia. Firman Allah tidak jauh; firman juga bukan tidak terlihat, tidak terjamah, dan berada dalam alam yang tidak dapat didekati. “Pada mulanya adalah Firman… Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah” (Yoh.1:1-2) tetapi Firman ini menjadi daging dan bertabernakel di antara manusia, penuh kasih karunia dan realitas (ay. 14). Inilah firman Allah. Firman-Nya bertabernakel di antara manusia. Kita harus mengingat inkarnasi Tuhan Yesus yang menyingkapkan prinsip dasar ministri firman Allah. Jika kita ingin memahami inkarnasi Tuhan Yesus, kita harus memahami inkarnasi Tuhan Yesus. Apakah ministri pelayanan firman? Yaitu firman menjadi daging. Firman itu benar-benar surgawi, tetapi firman tidak di surga melainkan di bumi. Firman itu seratus persen surgawi, tetapi bukannya tanpa daging, malahan firman itu terwujud dalam daging. Meskipun firman itu surgawi namun tidak menghindari unsur manusia, sebaliknya dimanifestasikan melalui manusia. Firman benar-benar surgawi, tetapi bersamaan dengan itu dapat dilihat dan dijamah manusia. Inilah kesaksian para rasul. I Yohanes 1:1 mengatakan, “…yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan dan yang telah kami raba dengan tangan kami…” Firman Allah dapat dilihat, disaksikan dan diraba.
Pertimbangkan perkara kekudusan. Sebelum Tuhan datang, tak seorang pun yang tahu apa artinya kekudusan. Namun, hari ini kekudusan tidak lagi abstrak, karena kita dapat melihat kekudusan diperhidupkan di bumi di dalam diri Tuhan Yesus. Kekudusan berjalan di antara manusia. Ketika kita melihat Tuhan Yesus, kita tahu apa itu kekudusan. Firman menjadi daging berarti kekudusan telah menjadi daging. Kita tidak tahu apakah penderitaan itu. Akan tetapi hari ini kita melihat penderitaan di dalam diri Tuhan Yesus. Allah adalah kasih, tetapi kita tidak tahu seperti apakah kasih itu. Hari ini kasih itu bisa dilihat di dalam diri Yesus dari Nazaret. Kita mungkin beranggapan bahwa manusia rohani itu tidak tersenyum atau menangis atau tidak berperasaan sama sekali. Akan tetapi saat kita melihat Yesus dari Nazaret, kita mengerti artinya menjadi rohani.
Jika semua hal yang kita miliki adalah sifat kudus Allah, kita tidak akan tahu apakah kekudusan itu. Tetapi sekarang kita bisa memahaminya karena kita memiliki kekudusan Tuhan Yesus. Jika semua hal yang kita miliki adalah kasih Allah, kita tidak akan tahu apakah kasih itu. Tetapi sekarang kita dapat memahaminya karena kita memiliki kasih Tuhan Yesus. Jika kita memiliki penderitaan Allah, kita tidak akan tahu apakah penderitaan itu. Tetapi kita sekarang bisa memahami penderitaan karena kita memiliki penderitaan Tuhan Yesus. Jika semua hal yang kita miliki adalah kemuliaan Allah, kita tidak akan tahu kemuliaan itu. Tetapi kita sekarang bisa memahaminya karena kita memiliki kemuliaan Tuhan Yesus. Jika semua hal yang kita miliki adalah kerohanian Allah, kita tidak akan tahu apakah kerohanian itu. Tetapi sekarang kita bisa memahaminya karena kita memiliki kerohanian Tuhan Yesus. Inilah artinya firman menjadi daging. Saat firman menjadi daging, kemuliaan menjadi daging, kasih menjadi daging, penderitaan dan kekudusan menjadi daging. Saat kita menjamah daging ini, kita menjamah Allah. Kasih Yesus adalah kasih Allah. Kemuliaan-Nya adalah kemuliaan Allah, kekudusan-Nya adalah kekudusan Allah, dan kerohanian-Nya adalah kerohanian Allah. Jika semua hal yang kita miliki adalah Allah, kita tidak akan tahu hal-hal tersebut. Namun, sekarang kita bisa melihat Tuhan Yesus, kita bisa memahaminya.
Prinsip inkarnasi adalah prinsip mendasar pekerjaan Allah atas manusia dan kesatuan-Nya dengan manusia dikendalikan oleh hal itu. Meskipun kita tidak memiliki inkarnasi dalam Perjanjian Lama, namun kita melihat Allah bergerak menuju cara ini. Meskipun sekarang Sang Inkarnasi telah terangkat ke surga, Allah tetap beroperasi menurut prinsip ini. Pekerjaan-Nya dalam diri manusia dan persekutuan-Nya dengan mereka mutlak berdasar pada prinsip inkarnasi. Hari ini Allah bukan lagi Allah yang abstrak, Allah yang surgawi, atau Allah yang tersembunyi. Ia telah berinkarnasi; Ia telah datang. Sering kali saat kita memberitakan injil, kita senang memproklamirkan bahwa Allah telah datang. Dalam Perjanjian Lama Dia tidak datang. Mazmur 18:11 mengatakan, “Ia membuat kegelapan di sekeliling-Nya menjadi persembunyian-Nya.” Hari ini Allah adalah terang. Ia telah datang. Ia telah mewahyukan diri-Nya di dalam terang, dan kita bisa melihat Dia. Saat Allah bersembunyi di dalam gelap, kita tidak bisa melihat dan mengenal Dia. Tetapi hari ini Allah adalah terang, dan kita bisa melihat dan mengenal Dia. Ia telah datang. Ia telah datang dalam persona Yesus Putra-Nya. Inkarnasi merupakan prinsip dasar. Firman Allah berisi penuh dengan unsur manusia.
TRANSMISI FIRMAN
Sejak firman Allah penuh dengan unsur manusia, Ia pun merangkum manusia dalam mentransmisikan firman-Nya. Karena firman Allah penuh unsur manusia, Allah tidak bisa memakai tape recorder, kilat, petir, atau malaikat untuk berbicara mengenai firman-Nya. Unsur manusia harus terlibat dalam pembicaraan firman-Nya. Karena isinya penuh dengan unsur manusia, Allah harus menyalurkannya melalui unsur manusia. Jadi bukan masalah menerima suara dari Allah dan kemudian mengirimkannya melalui menyuarakannya. Firman Allah harus melalui roh kita dan bahkan pikiran, perasaan, dan pemahaman kita sehingga bisa dialihkan ke dalam kata-kata kita sendiri sebelum dibicarakan. Inilah artinya menjadi minister firman. Bukan maslah menerima firman-Nya dengan satu tangan lalu menyampaikannya melalui tangan yang lain. Itu bukan ministri firman. Jika kita menerima firman dari Allah dan menyampaikannya kata demi kata, kita akan seperti mesin perekam. Allah tidak menginginkan kita mentransmisikan firman-Nya seperti mesin. Ia ingin kita menerima firman dan kemudian berbaur dengannya, merasakannya, dijamah olehnya, bersukacita atasnya, dan mengunyahnya sebelum menyampaikannya.
Yohanes 7:37 mengatakan, “Dan pada hari terakhir, yaitu pada puncak perayaan itu, Yesus berdiri dan berseru: "Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum!” Apabila aku haus, aku dapat pergi kepada Tuhan dan minum. Tetapi masalahnya tidak hanya sampai di sini. Dalam ayat 38 Tuhan mengatakan, “Barangsiapa percaya kepada-Ku, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup." Saat saya haus, saya bisa datang kepada Tuhan Yesus dan minum. Tetapi saat orang lain perlu, bisakah saya menuangkan air bagi mereka? Tidak, firman Allah mengatakan bahwa setelah manusia minum, air itu masuk ke dalam seluruh dirinya dan sungai air hidup mengalir dari dirinya untuk meleraikan dahaga orang lain. Jalur tidak langsung ini menyusun pelayanan firman. Bukan masalah berapa banyak ayat Alkitab yang kita hafalkan atau berapa banyak berita yang bisa kita sampaikan. Melainkan masalah air hidup membiat arus masuk dan keluar dari diri kita. Perlunya mengalirkan air masuk ke dalam diri kita dan mengalirkannya keluar memberitahu kita keperluan membayar harga. Seringkali air hidup mengalir masuk ke dalam kita tatapi tidak bisa mengalir keluar. Pada waktu lain, air itu tidak lagi hidup saat masuk ke dalam kita. Tetap saja, banyak ketidakmurnian dari diri kita mengalir keluar. Saat itu terjadi, kita tidak memiliki ministri firman.
Ministri firman tidak berkaitan dengan upacara yang baik. Saat firman datang kepada kita, maka firman itu teraduk dan tercampur di dalam kita. Saat firman itu melewati kita, unsur manusia ditambahkan pada firman. Firman tidak tercemar atau rusak, melainkan ditambahkan. Inilah artinya memiliki ministri firman. Tuhan menjadikan kita saluran air hidup; air harus mengalir keluar dari diri kita. Bagian kita yang terdalam adalah salurannya. Supaya air hidup ini mengalir keluar dari kita, diri kita ini harus tepat. Jika kita tidak tepat, firman Allah tidak bisa keluar dari kita. Kita tidak seharusnya berpikir bahwa kekuatan berita itu ada karena kepandaian dan kemampuan. Tidak, kepandaian dan kemampuan bukanlah poinnya. Poinnya adalah entahkah unsur manusia kita itu akan menambahkan dan melengkapi firman Allah atau tidak saat melewati diri kita. Apakah firman menjadi manusia sementara firman itu ilahi, atau justru kita merusak firman Allah saat unsur manusia kita itu ditambahkan? Hal ini merupakan pertanyaan mendasar yang harus dihadapi pelayan firman.
Masalah banyak orang adalah air hidup itu berhenti saat melewati diri mereka! Itulah sebabnya kita menekankan pendisiplinan Roh Kudus. Jika seorang manusia tidak melihat pentingnya ditanggulangi Tuhan dan jika kebiasaan, karakter, dan kehidupannya tidak ditanggulangi, dia tidak akan berguna untuk menyampaikan firman Allah. Apabila seorang berpikir bahwa menjadi seorang pelayan firman itu bergantung pada kemampuan dan kepandaian, dia jauh dari kebenaran! Faktanya, tidak ada sesuatu pun yang jauh dari kebenaran! Firman Allah pertama harus datang pada kita, melewati kita, memnuhi kita, dan bahkanmejamah, menggiling kita, meremas kita, dan menanggulangi kita. Pertama kita harus menderita pengujian dan membayar harga sebelum kita bisa sampai pada kesadaran firman Allah. Dengan cara ini firman Allah ditambahkan kepada kita sedikit demi sedikit. Firman dikumpulkan dan dijalin ke dalam kita dengan halus seperti selimut. Kemudian saat firman datang pada kita, firman akan terlibat pelepasan roh, tidak hanya pengulangan kata-kata. Air yang masuk akan bersih dan murni, benar-benar keluar dari Allah. Kita hanya menyempurnakannya; kita tidak akan merusak kesempurnaannya. Kita hanya akan menambahkan kekudusannya, bukan menguranginya. Saat kita lepaskan, air hidup itu akan dilepaskan. Saat kita berbicara, Allah juga berbicara. Inilah artinya ministri firman.
Ministri firman seperti gabungan dua arus sungai, bukan satu sungai. Supaya hal ini bisa terjadi, Roh Kudus harus bekerja di dalam kita. Kita perlu Roh Kudus mengatur lingkungan untuk mendisiplinkan kita dengan berbagai cara. Saat Roh Kudus bekerja di atas kita, meremukkan, membongkar, mencetak kita, kita dibentuk ke dalam sebuah saluran yang di dalamnya air hidup dapat mengalir. Manusia insani kita perlu diremukkan dan dibongkar oleh Allah, dan perlu secara tuntas dan menyeluruh di tanggulangi oleh Allah. Roh kita akan memperoleh pemahaman dan Roh Kudus akan memiliki kebebasan untuk melepaskan firman Allah melalui kita hanya setelah Roh Kudus merampungkan pekerjaan-Nya. Firman Allah akan mengangkat unsur manusia kita, tetapi tidak akan tercemar karenanya. Alih-alih, perkataan-Nya dengan perkataan kita akan bergabung menjadi satu aliran.
Kita harus selalu ingat apa makna ministri firman. Ministri firman berarti Roh Allah mengalir dalam firman ilahi-Nya melalui manusia. Ministri firman bukan semata pelepasan Roh Allah dalam firman-Nya secara tersendiri, melainkan pelepasan Roh-Nya dalam firman-Nya yang berhubungan dengan manusia. Inilah makna ministri firman, berisi firman Allah sama seperti ministri manusia. Firman Allah ada dalam pengutaraan ini demikian juga halnya dengan ministri manusia. Firman Allah pertama-tama datang pada manusia. Ministri manusia kemudian ditambahkan pada firman ini. Kemudian keduanya dilepaskan bersama. Apabila hanya ada firman Allah tanpa ministri manusia, kita tidak memiliki pelepasan firman-Nya.
Beberapa orang beranggapan bahwa mereka bisa dengan sukses menyalurkan firman-Nya selama mereka mengambil beberapa ayat dari sana-sini. Namun, tidak sesederhana itu. Ministri firman merupakan arus gabungan, bukan ministri tunggal. Ministri tunggal tidak akan berhasil. Allah tidak beroperasi dengan cara ini, karena hal ini bertentangan dengan prinsip ministri firman. Kita harus menyadari bahwa firman Allah tidak bisa dilepaskan tanpa perkataan manusia; Ia harus memakai manusia. Berbicara mengenai sifat dan alamiah kita, kita itu keras kepala, najis, dan pemberontak. Bagi Allah sangat mudah memakai keledai daripada memakai kita, tetapi Ia toh tetap cenderung memilih manusia. Dalam ministri firman dan pelepasan firman-Nya, Allah ingin unsur manusia pun terlibat di dalamnya. Allah telah memilih manusia untuk melepaskan firman-Nya. Kita harus ingat bahwa firman Allah ada bersamaan dengan adanya pelayan firman. Tanpa mereka, kita tidak memiliki firman Allah. Allah harus memiliki pelayan sebelum Dia melepaskan firman-Nya. Tanpa pelayan, tidak ada firman. Kita akan sia-sia menunggu Allah melepaskan firman-Nya tanpa menyiapkan pelayan yang tepat untuk dipakai-Nya. Jalan yang Allah tetapkan adalah pertama-tama menaruh perkataan-Nya ke dalam pelayan-Nya, yaitu mereka yang mengalami penanggulangan Roh Kudus. Kita semua setuju bahwa Roh Allah ada dalam firman-Nya. Tetapi Roh-Nya pun ada di dalam kita. Dengan kata lain, Roh Allah ada di dalam firman-Nya dan di dalam pelayan-Nya. Roh Allah ada dalam firman. Tetapi jika hanya firman yang dilepaskan, Roh-Nya tidak akan melakukan apa pun. Ia akan bekerja saat firman-Nya tinggal dan berbaur dengan pelayan-Nya. Ketujuh anak Skewa berusaha mengusir setan dalam nama Yesus yang diberitakan oleh Paulus, tetapi mereka tidak bisa mengusirnya. Setan-setan itu tidak mau keluar bahkan menyerang mereka, menggagahi mereka (Kis. 19:13-16). Mereka memiliki perkataan yang tepat, tetapi Roh tidak melakukan apa pun. Tidak semudah itu mengucapkan perkataan yang tepat. Akan tetapi perlu juga menjadi orang yang tepat, pelayan yang tepat. Roh Allah pertama-tama harus bergabung dengan para minister. Kemudian air hidup akan mengalir saat Roh-Nya dilepaskan melalui firman.
Saya ulangi; firman Allah tidak bergerak sendiri, tetapi diekspresikan melalui unsur manusia. Manusia adalah saluran. Saluran Allah. Sangat mustahil mencoba membalikkan prinsip ini dengan berasumsi bahwa firman Allah sudah cukup, lalu tidak perlu mempertimbangkan kondisi manusia. Tanpa pengoperasian Roh Allah di balik firman-Nya, firman-Nya akan tidak bermanfaat, seperti cangkang kosong. Kesimpulannya, penting ada pelayan. Fokusnya adalah pelayan. Pelayan harus memiliki Roh. Roh Allah harus bersamaan dengan pelayan-Nya sebelum firman itu efektif. Akibatnya, masalah mendasar adalah para pelayan firman. Pelayan firman bukan hanya perkara firman. Jika hanya menekankan firman tanpa menekankan pelayan, apa yang dia miliki bukan firman. Firman demikian akan kosong dan tidak akan menjadi ministri.
Hari ini, masalahnya berkaitan dengan pelayan. Tidak ada kelangkaan visi, terang, maupun firman Allah. Masalahnya adalah Allah tidak bisa mendapatkan pelayan yang tepat. Seringkali terang Allah tidak bisa dilihat oleh orang lain saat ditaruh dalam mulut kita. Banyak orang berbicara mengenai Roh Kudus dalam kotbah mereka, tetapi tidak seorang pun yang menjamah Roh Kudus. Sebaliknya, mereka menjamah daging. Mereka juga berbicara mengenai kekudusan Allah, tetapi orang lain tidak merasakan kekudusan di dalam mereka. Mereka hanya menjamah hal-hal yang tidak berguna. Mereka juga berbicara mengenai di atas mimbar, tetapi orang lain tidak merasakan bahwa mereka telah melewati penanggulangan apa pun. Bahkan jejak salib pun tidak ada di dalam mereka. Beberapa orang lagi senang bicara mengenai kasih, tetapi hanya emosi daripada kasih yang diekspresikan melalui mereka. Semua kasus ini berbicara satu masalah yang mendasar—ada yang salah dengan para pelayan itu. Andaikata semua pemberitaan seturut dengan prinsip pelayanan, gereja akan sangat kaya. Sangat disayangkan bahwa sedikitnya firman Allah merugikan semua pemberitaan! Hal ini menjadi masalah mendasar di dalam gereja. Tanpa pelayan, tidak ada inspirasi dan wahyu. Sedangkan pada beberapa orang lainnya, semakin memberitakan, semakin perkataan mereka menjadi inspirasi, membawa terang, dan bisa disebut sebagai wahyu. Masalahnya adalah dengan para pelayan itu.; mereka bukan orang yang bisa dipakai Allah. Allah tidak bisa memakai orang-orang demikian, tetapi Dia pun tidak ingin bicara sendiri. Ini masalah. Ia punya firman, tetapi Dia tidak ingin melepaskan firman-Nya sendiri. Ia tidak ingin menjadi pelayan firman; Ia ingin manusia menjadi pelayan firman-Nya.
Saudara, Allah tidak akan berbicara sendiri. Jika seorang pelayan tidak bisa mengutarakan firman-Nya, bagaimana kondisi gereja nantinya? Gereja rusak, miskin, dan hancur karena unsur manusia tidak bisa mencapai standar firman Allah. Jika Allah bisa mendapatkan orang yang telah ditanggulangi, yang telah remuk, dan tak berdaya, firman Allah akan mengalir melalui dia. Kita selalu mencari firman Allah, tetapi Dia selalu mencari manusia yang bisa Dia pakai. Kita mencari firman Allah, sementara Dia mencari seorang pelayan.
Jika kita tidak rela ditanggulangi, kita tidak akan bisa bekerja bagi Allah. Kita jangan berpikir penanggulangan itu merupakan suatu pilihan. Kita jangan beranggapan bahwa setelah mendengar kotbah tertentu, kemudian kita pun bisa melepaskan perkataan yang sama. Tidak! Jika manusia tidak tepat, kotbahnya pun tidak tepat. Manusia bisa menyelubungi firman Allah. Roh Kudus tidak dilepaskan melalui kata-kata saja. Ketika Allah firman Aah datang pada kita, kita harus bebas dari semua selubung. Kita harus diremukkan, dan kita harus membawa tanda-tanda salib. Roh kita seharusnya menajdi roh yang telah dipukul. Allah hanya bisa memakai orang yang demikian. Apabila Roh Kudus terkunci di dalam kita, tudung dan hal yang menyulitkan berasal dari manusia lahiriah kita, emosi, dan bahkan temperamen kita. Saat hal-hal itu ada di dalam kita, tentu saja firman Allah tidak bisa mengalir melalui kita. Bahkan jika kita membawakan ibadah yang luar biasa, secara realitas tidak ada apa-apa, hanya kata-kata, pengajaran, dan doktrin belaka; tidak ada frma Allah.
Firman Allah harus meresapi seantero diri kita—perasaan, pemahaman, hati, dan roh kita. Harus mengalir masuk dan keluar dari diri kita; harus bisa dikenalidengan kita, lalu bisa dilepaskan dari kitasebagai hasil penghancuran, pemerasan, dan penekanan. Jika emosi kita tidak diluruskan, jika pikiran kita tidak lemah, atau jika pemahaman, hati, dan roh kita diabaikan, kita akan merusak firman Allah. Tidak hanya perkataan kita kurang, gereja pun akan menderita. Kita akan merusak firman Alah dan berakibat pada gereja. Inilah ministri firman, dan inilah dasar dari masalah kita. Kita harus belajar membiarkan firman Allah melewati kita tanpa ada suatu pun hambatan dan pencemaran. Jika Alah penuh rahmat kepada kita, kita akan mendapat terang dari perkara ini.