← Daftar isi Ministri Firman Allah · bab 3/17

JALUR PERTANDINGAN PAULUS DAN MINISTRINYA

Kita telah membahas sifat firman Allah. Firman Allah mengandung banyak unsur manusia, namun tetap firman Allah. Firman tidak dirusak oleh unsur manusia. Firman tetap kekal, unggul, luar biasa, ilahi, kudus, dan murni. Kita juga telah melihat bahwa ministri firman terdiri dari pelepasan manusia melalui indera manusia seperti ingatan, pemahaman, pemikiran, hati, roh, dan perkataan. Itulah sebabnya alasan pentingnya seorang pelayan firman Allah menjadi orang yang tepat di hadapan Tuhan saat dia membawakan firman. Apabila kondisinya tidak tepat, firman Allah menjadi rusak.

Mari kita melihat Paulus yang sangat dipakai oleh Tuhan di masa Perjanjian Baru. Kita akan melihat cara dia melayani sebagai pelayan firman Allah.

SATU

Paulus mengatakan, “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik” (2 Tim 4:7). Kata pertandingan (course) dalam bahasa Yunani mengacu pada perjalanan. Pertandingan Paulus berdasar pada perjalanan yang terus maju. Allah menetapkan suatu pertandingan bagi setiap orang. Pertandingan ini telah ditandai dan dihitung terlebih dahulu. Ditandai tidak hanya arahnya bahkan juga jaraknya. Paulus mendapat belas kasih dari Allah dan mampu untuk berlari pada pertandingan yang telah ditetapkan baginya. Ia menyelesaikannya tepat pada waktunya. Ketika dia akan meninggal, dia berkata, “Aku telah mencapai garis akhir.” Saya percaya Allah telah menempatkan pertandingan ini jauh sebelum Paulus percaya pada Tuhan.

Kita tahu bahwa Allah memulai pekerjaan-Nya pada seorang sebelum orang itu diselamatkan. Paulus mengatakan hal yang sama pada orang-orang Galatia: “Tetapi waktu Ia, yang telah memilih aku sejak kandungan ibuku dan memanggil aku oleh kasih karunia-Nya, berkenan menyatakan Anak-Nya di dalam aku, supaya aku memberitakan Dia di antara bangsa-bangsa bukan Yahudi, maka sesaat pun aku tidak minta pertimbangan kepada manusia“ (Galatia 1:15-16). Dalam berita pertamanya Paulus mengatakan, “Ia yang telah memilih aku sejak kandungan ibuku dan memanggil aku oleh kasih karunia-Nya.” Hal ini menunjukkan bahwa Paulus telah dipilih sejak kandungan ibunya. Kemudian dia memberitahu kita bahwa dia menjadi pelayan firman Allah. Sementara dia berada dalam kandungan ibunya, Allah telah memilih dia dan pertandingan untuknya telah ditetapkan. Ketika dia diselamatkan dia ditandai pada pertandingan ini. Hal ini menunjukkan bahwa persiapan dan pemilihan seorang pelayan itu ditetapkan oleh Allah ketika dia masih berada dalam kandungan.

Setiap pengalaman yang kita miliki sebelum kita diselamatkan berada di bawah pengaturan kedaulatan Allah. Allah memberi kita perbedaan karakter, emosi, kekurangan, dan kebajikan. Allah menyiapkan semua hal itu. Tidak seorangpun yang melewati pengalaman secara kebetulan. Setiap pengalaman merupakan bagian yang diatur oleh kedaulatan Allah. Tidak seorang pun mewarisi sifat secara kebetulan; semuanya berada di bawah tangan kedaulatan Allah. Ia menyediakan masa lalu untuk kemampuan alamiah kita, dan Dia menyiapkan bagi kita tugas di masa mendatang. Paulus telah dipilih sejak dia ada dalam kandungan ibunya. Pertandingannya telah diatur oleh Allah. Bahkan pekerjaannya sebelum pertobatannya telah diatur oleh Allah.

Petrus sedang memancing ketika dia dipanggil. Pekerjaannya seumur hidup ialah membawa manusia kepada Tuhan (Matius 4:18-20). Kunci kerajaan surga diberikan kepadanya; dialah yang membuka pintunya (16:19). Ia membuka pintunya saat Pentakosta, dan dia membuka pintunya di rumah Kornelius. Kita harus memperhatikan fakta pada seorang nelayan yang membawa manusia.

Yohanes pun seorang nelayan. Tetapi saat dia dipanggil, dia sedang tidak memancing. Dia sedang menambal jala. (4:21-22). Injil Yohanes merupakan injil terakhir dari keempat kitab injil yang ditulis. Di dalam injilnya dia menyingkapkan perkara hayat kekal. Jika kita hanya memiliki tiga kitab injil pertama dan jika Yohanes tidak pernah menambal apa yang kurang dari ketiga kitab injil itu, kita hari ini tidak akan pernah tahu apakah hayat kekal itu. Selanjutnya, surat kiriman Yohanes ditulis setelah surat Petrus dan Paulus ditulis. Pada masa itu, kaum Gnostik telah membawa masuk filosofi mereka. Yohanes memalingkan mereka untuk kembali pada perkara hayat kekal. Ia menunjukkan kepada kita kondisi dan ekspresi seorang yang dilahirkan Allah. Saat pertama kali terjadi bidah, kita mempunyai seorang penambal yang menambal jala dengan hayat kekal. Wahyu Yohanes merupakan buku terakhir dari keenampuluh enam kitab dengan hayat kekal. Tanpa kitab ini, Alkitab tidak akan lengkap; banyak hal tidak akan memiliki kesimpulan yang sempurna. Yohanes menambal dan menyempurnakan Alkitab dengan wahyu. Hal ini menunjukkan ministri Yohanes—ministri penambalan.

Mari kita kembali pada Paulus. Allah telah menetapkan sebuah pertandingan untuknya. Bahkan profesinya telah ditetapkan oleh Allah. Ia seorang pembuat tenda; ia bukan seorang penenun atau penganyam. Ia menjahit dan menisik dengan dengan kain, dan dia membuat tempat tinggal yang nyaman untuk suaut perjalanan. Ministrinya ada setelah ministri Tuhan Yesus dan pekerjaan Petrus. Ministri Paulus berbarengan dengan pekerjaan Petrus dan pekerjaan masa depan gereja. Kerajaan masih belum datang. Pada saat bersamaan, manusia diselamatkan dan membangun gereja. Ministri Paulus merupakan ministri membaut tenda; dia menggunakan bahan dan menjadikannya tempat tinggal. Pekerjaannya bukan menghasilkan kain—seperti sutra. Pekerjaannya berkaitan dengan tenda—yang layak untuk ditinggali. Pekerjaannya diatur oleh Allah.

Seorang pelayan firman telah dipilih sejak dalam kandungan ibunya. Karena alasan itulah tidak seorang pun yang bisa bertindak bodoh di hadapan Tuhan. Setiap orang harus memahami pengaturan kedaulatan Allah dalam lingkungannya. Pengaturan tangan kedaulatan Allah ada dibelakang segala sesuatu—lingkungan, keluarga, dan pekerjaannya. Allah tidak memiliki maksud menghapus unsur manusia; Ia tidak bermaksud menghilangkannya. Allah tidak ingin kita bertindak tidak alamiah. Ia tidak ingin kita pura-pura atau melanggar hukum. Ia mau kita sederhana seperti anak-anak. Namun pada waktu bersamaan, diri kita (bukan unsur manusia), yang menjadi “kulit”, yaitu hayat alamiah, dengan emosi dan kepandaian, harus diremukkan oleh-Nya. Allah harus meremukkan hal ini. Manusia insani harus diremukkan dan dihancurkan. Tetapi bukan berarti Allah akan menyingkirkan unsur manusia tersebut.

Masalah terbesar adalah kita tidak tahu pada titik mana pekerjaan itu mulai dan berakhir. Kita tidak tahu berapa banyak hal di atas dri kita yang diperkenan Allah dan berapa banyak yang dibenci oleh Allah yang harus diremukkan. Segera setelah kita berfungsi di dalam ministri kita, siapa saja yang telah diajari Allah akan memiliki kemurnian pelayanan yang batiniah atau pelayanan yang cemar. Hal ini bukan jalan yang sederhana untuk dijalani. Setiap orang harus tunduk pada pendisiplinan Allah; setiap orang harus tunduk pada salib. Salib telah menghilangkan semua hal yang dihakimi dan dibenci Allah, dan salib meremukkan segala sesuatu yang harus diremukkan. Manusia harus belajar tunduk; dia harus mengatakan kepada Tuhan, “Aku punyak banyak masalah di dalamku. Aku tidak tahu bagaimana mengatasi semuanya hal itu. Aku meminta terang-Mu, terang yang membunuh. Tanggulangi aku seturut terang-Mu. Tanggulangi aku sampai di titik dimana unsur manusiaku tidak lagi menjadi penghalang bagi pekerjaan-Mu tetapi pakailah untuk mengekspresikan pekerjaan-Mu.” Seluruh hidup Paulus, dari awal sampai akhir, berada di bawah tangan Allah. Keselamatannya merupakan contoh bagi orang lain (1 Tim. 1:16). Pertama, terang Allah menaklukkan dia; dia jatuh di depan Tuhan. Ini merupakan keselamatan yang kuat. Segera setelah dia berdiri, firman Allah datang kepadanya dan tidak pernah berhenti. Ia menulis hampir seluruh surat kiriman dalam Perjanjian Baru. Allah senang secara terus menerus melepaskan firman-Nya melalui Paulus. Ia adalah seorang pelayan firman besar di bawah tangan Allah.

DUA

Mari kita memperhatikan surat kiriman Paulus kepada orang-orang Korintus, dalam hal dia menyelesaikan pelayanan firmannya. Seorang saudara pernah mengatakan dari semua kitab-kitab dalam Alkitab, surat Korintus, khusunya 1 Korintus 7, menunjukkan kepada kita pengalaman manusia. Ini benar. Pengalaman Paulus membuktikannya. Perhatikan contoh berikut ini:

Ayat 6 mengatakan, “Hal ini kukatakan kepadamu sebagai kelonggaran, bukan sebagai perintah.” Frase “hal ini kukatakan” menunjukkan perkataan Paulus sendiri.

Ayat 7 mengatakan, “Namun demikian alangkah baiknya, kalau semua orang seperti aku.” Pengharapan demikian merupakan pengharapan Paulus sendiri. Ayat 6 menampilkan perkataan Paulus, sedangkan ayat 7 berbicara mengenai harapannya. Ia tidak mengatakan bahwa Allah memerintahkan demikian atau Allah menetapkan demikian. Ayat 7 melanjutkan, “Tetapi setiap orang menerima dari Allah karunianya yang khas, yang seorang karunia ini, yang lain karunia itu.” Allah bekerja dengan cara yang berbeda. Kelihatannya Paulus memberikan pendapatnya sendiri. Ia berharap semua orang sama seperti dirinya.

Ayat 8 mengatakan, “Tetapi kepada orang-orang yang tidak kawin dan kepada janda-janda aku anjurkan, supaya baiklah mereka tinggal dalam keadaan seperti aku.” Ini pun merupakan perkataan Paulus.

Ayat 10 mengatakan, “Kepada orang-orang yang telah kawin aku -- tidak, bukan aku, tetapi Tuhan -- perintahkan, supaya seorang isteri tidak boleh menceraikan suaminya.” Paulus pertama-tama memerintahkan, tetapi kemudian dia mengatakan bukan dia tetapi Tuhan yang memerintahkan mereka. Kita dapat menemukan ekspresi itu hanya dalam 1 Korintus 7. Disatu pihak, Paulus memerintahkan, dipihak lain, bukan perintahnya melainkan perintah Tuhan.

Ayat 12 mengatakan, “Kepada orang-orang lain aku, bukan Tuhan, katakan.” Ini merupakan perkataan Paulus lagi. Ayat 12 sampai 24 semuanya merupakan perkataan Paulus: bukan perkataan Tuhan. Bagaimana Paulus berani mengatakan perkataan demikian? bagaimana dia demikian berani? Dengan otoritas apa dia mengatakan perkataan itu? Dalam ayat berikutnya dia menyatakan dasar ucapannya.

Ayat 25 mengatakan, “Sekarang tentang para gadis. Untuk mereka aku tidak mendapat perintah dari Tuhan.” Paulus tidak berdusta. Dengan jujur dia mengakui bahwa dia tidak mendapat perintah dari Tuhan. “Tetapi aku memberikan pendapatku sebagai seorang yang dapat dipercayai karena rahmat yang diterimanya dari Allah.” Inilah pendapat seorang yang telah menerima rahmat dari Allah, seorang yang dikuatkan Tuhan untuk setia. Allah telah melakukan pekerjaan yang luar biasa di atas dirinya dan telah menjadikannya seorang yang dapat dipercayai. Dia bisa mengatakan bahwa Allah merahmati dirinya sehingga menjadikan dia seorang yang bisa dipercayai, yang telah melakukan banyak pekerjaan di dalamnya sehingga dia bisa mengekspresikan pendapatnya. Di sini kita tidak mencari perintah Tuhan. Sebaliknya, kita mencari pendapat Paulus mengenai hal-hal yang khusus. Semua perkataan di sini adalah perkataan Paulus. Dia memberitahu orang-orang Korintus bagaimana perasaannya.

Ayat 26 mengatakan, “Aku berpendapat, bahwa, mengingat waktu darurat sekarang, adalah baik bagi manusia untuk tetap dalam keadaannya.” Paulus mengatakan inilah pendapatnya.

Ayat 28 mengatakan, “Aku mau menghindarkan kamu dari kesusahan itu.” Ini pun pendapat Paulus.

Ayat 29 mengatakan, “Saudara-saudara, inilah yang kumaksudkan.” Ini perkataan Paulus.

Ayat 32 mengatakan, “Aku ingin, supaya kamu hidup tanpa kekuatiran.” Ini perkataan Paulus.

Ayat 35 mengatakan, “Semuanya ini kukatakan.” Ini pun perkataan Paulus.

Ayat 40 mengatakan, “Tetapi menurut pendapatku.” Ini pendapat Paulus.

Dalam ayat 17 Paulus mengatakan, “Inilah ketetapan yang kuberikan kepada semua jemaat.” Dia mengatakan hal ini tidak hanya kepada orang-orang Galatia tetapi kepada semua gereja. Dia memerintahkan semua gereja dengan hal yang sama.

Saudara-saudari, betapa ajaibnya! Ini bertentangan dengan pemahaman kita yang umum. Dalam Yohanes 8:28 Tuhan mengatakan, “Tetapi Aku berbicara tentang hal-hal, sebagaimana diajarkan Bapa kepada-Ku,” dan dalam 12:50 Ia berkata, “Aku menyampaikannya sebagaimana yang difirmankan oleh Bapa kepada-Ku.” Tetapi Paulus berani mengatakan kepada mereka bahwa perkataannya adalah pendapatnya, pandangannya, dan perintahnya kepada gereja-gereja. Hal ini bukan pengalaman tertinggi maupun terburuk. Syukurlah bahwa ini merupakan pengalaman tertinggi. Tidak ada tempat di dalam Alkitab seperti 1 Korintus 7. Setelah perkataannya dalam berita ini, Paulus menyimpulkan dengan mengatakan, “Dan aku berpendapat, bahwa aku juga mempunyai Roh Allah” (ayat 40). Di sini kita mencapai puncak tertinggi. Paulus merasa jelas bahwa dia tidak memiliki perintah Allah; dia jelas bahwa dia tidak memiliki perkataan dari Tuhan. Perkataannya hanya berdasar pada rahmat yang diberikan kepadanya. Dia tidak memiliki dasar yang lain. Dasar satu-satunya adalah kesabaran dan rahmat Allah kepadanya. Tetapi setelah dia berbicara, dia berkata dia pun memiliki Roh Allah.

Hal ini merupakan “unsur manusia” yang kita bahas diawal. Ini contoh yang mutlak dan menonjol dari unsur manusia yang dipakai oleh Allah. Di sini ada satu orang yang disiplin, dibatasi, dan diremukkan oleh Tuhan sampai satu titik dia bisa mengatakan bahwa Tuah tidak mengatakan apa pun. Pada akhirnya, firmannya menjadi firman Roh Kudus. Paulus memberikan pendapatnya sendiri. Akhirnya pendapatnya merupakan pendapat Roh Kudus. Paulus mengatakan bahwa itu pikiran dan pendapatnya. Namun hal itu merupakan tujuan Roh Allah. Di sini ada manusia di bawah Roh Tuhan dan pengoperasian-Nya sehingga mengatakan saat dia berbicara, Roh Kudus pun berbicara. Alangkah berbedanya hal ini dengan keledai Bileam! Keledai Bileam bisa mengutarakan firman Allah saat firman Allah ditaruh di dalam mulutnya. Saat firman Allah diambil, yang tersisa hanya keledai. Sebaliknya, di sini ada seorang manusia yang telah mengikuti Tuhan, menerima rahmat dari-Nya, dan telah setia selama bertahun-tahun. Pada akhirnya perkataannya menjadi perkataan Roh. Paulus dengan jelas mengatakan bahwa itu pendapatnya sendiri. Tetapi pada akhirnya itu menjadi pendapat Tuhan. Allah telah bekerja di dalamnya sampai pada titik dimana dia bisa mengutarakan firman Allah tanpa memiliki perkataan Allah. Apa ini? Inilah minister (pelayan) firman.

Beberapa hamba Tuhan, firman Allah hanya bisa ditemukan di dalam mereka saat firman ditaruh dalam mulut mereka, dan saat tidak ada firman, mereka tidak apa perkataan. Namun Paulus telah sampai pada tingkat dimana dia memiliki firman Allah meskipun firman itu tdak diletakkan dalam mulutnya. Di sini ada seorang yang begitu terlatih sehingga dia bisa mendapatkan kepercayaan Tuhan. Dia merupakan manusia yang begitu terlatih dan dipercaya oleh Allah sehingga perkataannya menjadi perkataan Allah. Kita tidak dapat melakukan apa pun kecuali memohon belas kasihan Allah. Saudara, kita tidak bisa hanya menjadi keledai. Kita tidak bisa puas jika firman hanya diletakkan dalam mulut kita. Jika ini kondisi kita, berarti kita tidak ada hubungannya dengan firman Allah. Paulus adalah seorang yang sangat berkaitan dengan firman Allah. Bahkan pendapatnya menjadi pendapat Allah. Sedikit pikirannya telah menjadi pikiran Roh Kudus. Dia satu dengan Roh Alah! Perkataannya mewakili perkataan Allah. Dia mencapai puncak yang tertinggi.

Seorang pelayan firman bukan hanya seorang yang menyalurkan firman Allah. Ia harus seorang manusia yang mempunyai hubungan khusus dengan firman Allah. Ia mempunyai pikiran dan opini Allah, dan dia telah mencapai tingkatan di mana kedambaannya menjadi kedambaan Allah. Ia tidak bertindak sembarangan karena ia memikirkan kedambaan Allah. Sebaliknya, dia dibatasi oleh Allah semapai satu titik dimana percaya pada pemikiran dan idenya. Allah bisa mengakui pemikiran dan idenya sebagai milik-Nya sendiri. Inilah yang kita telah katakan selama bertahun-tahun; inilah yang kita sebut konstitusi Roh kudus. Allah mengkonstitusi diri-Nya ke dalam kita. Dia bekerja dan membawakan diri-Nya ke dalam kita. Kaki dian emas terbuat dari emas tetmpaan (Kel. 25:31). Kita harus ingat bahwa sesuatu diberikan kepada kita oleh Tuhan, sementara di sisi lain Allah sedang menempa. Kita seperti sepotong emas yang tidak tajam. Allah sedang menempa kita sedikit demi sedikit sampai kita terbentuk menjadi kaki dian. Roh Kudus tidak haya meletakkan perkataan ilahi ke dalam mulut kita tetapi juga menempa perkataan itu menjadi diri kita sampai kita terbentuk menajdi bentuk tertentu. Hal ini bukan perkara pakah kita memiliki perkataan Allah di mulut kita atau tidak tetapi masalah apakah kita telah ditempa sampai titik dimana Allah bisa mempercayakan perkataan-Nya kepada kita. Paulus dikonstitusi oleh Tuhan sampai opininya dapat dipercaya, Tuhan bekerja di dalamnya sampai pikirannya bisa dipercaya untuk menyingkapkan firman Allah. Ketika perkataan Allah diletakkan dalam orang yang demikian dan dia disebut sebagai pelayan firman, maka tidak ada bahaya firman itu menjadi rusak.

Seorang pelayan firman adalah orang yang didalamnya Allah menaruh kepercayaannya dan imannya. Seorang pelayan firman berarti bukan hanya memiliki perkataan tetapi manusianya, orangnya, yang melayani sebagai pelayan firman. Orang yang demikian telah disempurnakan sehingga firman Allah tidak akan dirugikan atau disalahpahami saat keluar dari mulutnya. Ia adalah seorang yang bisa dipakai Allah, seorang yang melayani sebagai pelayan firman. Seorang pelayan firman adalah seorang yang telah dikonstitusi oleh Allah sehingga Allah bisa mempercayakan segala opini, pemikiran, dan hasrat hati-Nya. Unsur manusianya bisa terlibat dalam perkataannya dan tidak akan merusak perkataan yang ilahi. Saudara saudari, jangan berpikir kita bertentangan dengan pemberitaan kita yang lalu. Dulu kita memberitakan bahwa unsur manusia dilarang terlibat dalam pekerjaan Allah. Lalu mengapa kemudian sekarang kita berkata bahwa firman Allah berisi unsur manusia? Kita tidak mengakui setiap jenis unsur manusia, kita mengatakan bahwa hanya beberapa unsur manusia tertentu yang yang bisa terlibat dalam firman Allah. Mereka yang memililki unsur-unsur tersebut akan melihat firman Allah dengan leluasa keluar dari diri mereka. Allah sepenuhnya bisa mempercayai mereka.

Kita harus meluangkan lebih banyak waktu untuk melihat tulisan-tulisan Paulus. Dia berkata bahwa dia telah menerima rahmat menjadi seorang yang setia. Rahmat itu dari Allah, dan hasilnya adalah kesetiaan. Ini berarti Allah melakukan pekerjaan konstitusi di atas Paulus. Dia bekerja di dalam Paulus sampai satu titik sehingga seluruh diri Paulus menyerupai perkataan Allah. Karena itu, Paulus bisa melepaskan firman Allah dimana pun dia berada. Paulus bisa mengatakan, “Aku harap,” “Aku katakan,” atau “Aku tujukan kepada seluruh gereja” karena dia adalah seorang yang tela bertemu dengan Allah; dia mengenal Allah. Ketika dia berbicara, firman Allah yang keluar dari mulutnya. Kita harus ingat bahwa firman Allah tidak dilepaskan dengan kekuatan luar biasa, melainkan dilepaskan melalui manusia dan dengan unsur manusia. Jika orangnya tidak tepat, firman Allah tidak bisa dilepaskan, dan orang itu tidak bisa menkadi pelayan firman. Jangan pernah berpikir bahwa seseorang bisa memberitakan sebuah kotbah dengan hanya menghafalnya. Firman Allah harus mengubah orang itu sebelum firman itu diberitakan. Jika Anda bukan orang yang tepat, firman Allah akan rusak saat keluar dari mulut Anda. Saat kesembronoan dan keduniawiaan masuk, firman Allah tercemar. Orang itu harus sampai pada satu titik di mana pekerjaan konstitusi Allah terbentuk dengan baik di dalam dirinya. Kemudian firman Tuhan bisa melewati dia tanpa kekurangan dirinya.

Dalam I Korintus 7 firman Allah tidak mengalami kerugian karena Paulus. Dia adalah seorang yang matang. Jika dia berbicara menurut opininya, kita yakin perkataannya itu benar. Saat dia menyuruh gereja-gereja melakukan suatu hal, kita yakin arahannya itu benar. Di sini ada seorang manusia yang mengarahkan orang lain, tetapi firman Allh keluar melalui dia; dia tidak bertindak sendirian. Dia adalah seorang yang bisa dipercaya Allah. Dia telah sampai puncak. Seorang pelayan firman harus mencapai titik ini sebelum dirman Allah bisa dilepaskan melalui dia. Ukuran pendisiplinan dan pembatasan yang diterima dari Tuhan menentukan tingkat kemurnian firman Allah yang keluar melalui dia. Tingkat peremukkan dari Tuhan menentukan tingkat kemurniaan perkataan seseorang. Semakin sedikit seorang menerima dan belajar dari Tuhan, semakin firman Allah tercemari dan tercampur saat keluar melalui dia. Semakin pembatasan, disiplin, pukulan, dan peremukkan diterima, semakin murni firman Allah saat dilepaskan melalui dia. Ministri firman berdasar pada ministri yang dimiliki seseorang di hadapan Tuhan. Jika ministri kita di hadapan Tuhan gagal, maka perkataan kita pun gagal.

TIGA

Mari kita kembali pada 1 Korintus 14, yang mengatakan, “Tentang nabi-nabi--baiklah dua atau tiga orang di antaranya berkata-kata dan yang lain menanggapi apa yang mereka katakan. Tetapi jika seorang lain yang duduk di situ mendapat penyataan, maka yang pertama itu harus berdiam diri. Sebab kamu semua boleh bernubuat seorang demi seorang, sehingga kamu semua dapat belajar dan beroleh kekuatan. Karunia nabi takluk kepada nabi-nabi.” Karunia nabi (Lit., roh nabi) merupakan ministri tertinggi di antara semua ministri firman Allah. Roh kudus memberikan perkataan kepada para nabi dan Roh yang sama pun ada di dalam mereka. Roh para nabilah yang memungkin mereka mengutarakan firman Allah. Tetapi hal lain juga disebutkan: seorang yang sedang berbicara harus memperhatikan jika orang lain pun menerima pernyataan Allah. Dia harus membiarkan mereka berbicara. Meskipun orang yang pertama telah menerima perkataan Allah di dalam mulutnya, dia harus berhenti dan membiarkan mereka yang menerima wahyu untuk berbicara. Jika empat atau lima orang telah menerima wahyu, mereka tidak seharusnya bicara bersamaan, sedikitnya dua atau tiga orang yang berbicara sedangkan yang lainnya tetap diam, kaerna roh para nabi takluk pada nabi. Ketika Roh Kudus ada di atas diri seseorang dan dia sebagai pelayan Allah sedang melayani, roh orang lain tunduk kepadanya. “Karunia nabi (Lit., roh nabi) takluk kepada nabi-nabi”, ini perkataan Tuhan sendiri.

Di sini kita menemukan prinsip yang mendasar: saat melepaskan firman Allah, Roh Kudus memutuskan apa yang harus dibicarakan. Dalam sidang, jika dua atau tiga orang menerima wahyu dan berbicara, empat atau lima orang lainnya harus menutup mulut mereka meskipun mereka juga telah menerima wahyu. Meskipun firman yang telah mereka terima itu dari Roh Kudus, mereka harus tahu kapan harus mengutarakannya. Mereka tidak bisa bicara seenaknya. Jika seorang lain juga menerima wahyusaat mereka sedang berbicara, mereka harus diam dan membiarkan yang lain yang berbicara. Karena itu, firman diberikan oleh Roh Kudus, tetapi kapan dan caranya diungkpakan itu bergantung pada para nabi. Roh nabi takluk pada nabi. Ketika Roh Allah ingin Anda bicara, Anda harus berpikir bahwa roh Anda itu tunduk kepada Anda. Waktu dan cara berbicara ditentukan oleh nabi. Yang lain tidak berbicara saat firman datang kepada orang tersebut.

Tanggung jawab seorang pelayan firman itu sangat besar. Sebagian tanggung jawab itu ada pada para pelayan, bukan pada Allah. Jika seorang pelayan tidak tepat, firman Allah akan dirugikan. Firmannya mungkin benar, tetapi perilaku pembicara bisa salah atau waktunya salah. Akibatnya, firman yAllah yang dirugikan. Jika kita tidak tepat, kita tidak bisa melepaskan firman yang tepat. Atau jika kita tidak bisa dipercaya, firman akan gagal meskipun firman itu tetap ada di dalam kita. Jika roh nabi takluk pada nabi, betapa besanya tanggung jawab seorang nabi! Sangat mudah berbicara saat firman datang pada kita. Tetapi Tuhan memberi kita firman, kita tetap harus memutuskan bagaimana dan kapan kita harus mengutarakan perkataan itu. Jika kita tidak pernah ditanggulangi dan dibatasi oleh Tuhan dan jika kita tidak dikonstitusi oleh Roh Kudus maupun pengenalan jalan-Nya di dalam kita, firman-Nya akan rusak di tangan kita. Tuhan mempercayakan firman-Nyakepada kita, dan kita harus mempertimbangkan bagaimana dan kapan kita mengutarakannya. Tanggung jawab ini sungguh luar biasa, dan kita tidak boleh meremehkannya.

Kita harus menyadari ministri firman berarti bahwa Allah mempercayakan firman-Nya kepada manusia. Firman ini tidak diputar dari tape recorder, tetapi yang diletakkan di dalam manusia. Firman memberi tempat pada manusia untuk mempertimbangkan cara dan waktunya dibicarakan. Roh nabi takluk pada nabi. Tuhan bermaksud agar roh demikian takluk pada nabi. Waktu dan tempat kapan diutarakan seluruhnya bergantung pada tanggung jawab nabi; bukan tanggung jawab Roh itu. jika seorang nabu tidak memiliki pengalaman ditanggulangi, disiplin, dan dibatasi, rohnya akan menjadi liar, dan menyebabkan masalah. Hari ini yang terpenting bukan perkara ada nabi atau tidak melainkan seperti apakah nabi itu. Perbedaannya bukan nabi atau bukan nabi melainkan antara nabi yang satu dengan yang lainnya, yaitu perbedaan di antara mereka. Dengan kata lain, apakah perbedaan antara Yeremia dengan Bileam? Kita harus jelas mengenai hal in di depan Tuhan. Hari ini ada keperluan firman Allah, dan juga ada keperluan pelayanan firman. Tanpa firman Allah, tidak ada pelayanan firman, dan tanpa orang yang tepat, tidak ada pelayanan firman.

Satu hal mendasar di dalam gereja adalah kurangnya seorang pelayan firman yang tepat. Bukan berarti firman Allah jarang atau visi atau terang tidak jelas, melainkan kurangnya orang yang bisa Allah pakai. Allah damba roh nabi takluk pada nabi. Siapakah nabi yang kepadanya roh nabi akan tunduk? Dapatkah roh nabi tunduk kepada mereka yang berjalan menurut keinginan mereka sendiri, yang memberikan kesempatan pada daging, dan yang keras kepala dalam pikiran dan emosi mereka? Jika seorang tidak membawa tanda salib di atas dirinya, dia menjadi orang yang liar dan sombong. Mungkin dia pernah menderita pendisiplinan selama bertahun-tahun, tetapi dia masih belum dikalahkan. Tangan pukulan Tuhan mungkin pernah menimpanya sekali, dua kali, atau bahkan sepuluh kali, tetapi dia masih belum kalah. Selain pendisiplinan berulang, dia masih belum menyerah. Orang demikian menunjukkan bahwa dirinya bejana yang tidak berguna. Apakah masalah kita karena kurangnya visi, terang, atau firman? Bukan. Masalahnya adalah kurangnya nabi yang bisa dipakai Allah.

Ciri khas Paulus adalah kemampuan Allah memakai dirinya dan kerelaan Allah percaya kepadanya. Jika Allah tidak bisa memakai seseorang, Dia tidak bisa mempercayakan perkataannya. Jika Allah mempercayakan firman-Nya kepada Anda dan mendorong Anda untuk bicara, bagaimana Anda akan melakukannya? Anda harus berbicara menurut apa adanya diri Anda. Ketika Allah membiarkan Anda mengutarakan firman-Nya, jika pikiran Anda tidak tepat, Anda akan merusak firman Allah. Jika emosi Anda tidak tepat, emosi Anda akan mencemari firman Allah. Jika motivasi Anda tidak tepat, motivasi Anda akan menghancurkan firman Allah. Jika opini Anda tidak tepat, opini Anda akan mencemari firman Allah. Jika roh Anda tidak tepat, Anda akan membuat orang lain berpikir bahwa roh Anda tidak tepat meskipun perkataan Anda itu benar. Masalah mendasar hari ini adalah firman Allah telah dirugikan oleh tangan manusia! Firman-Nya mengalami kerugian di tangan manusia! Itulah sebabnya Allah tidak bisa mempercayakan firman-Nya kepada manusia.

Semakin kita ditanggulangi oleh Tuhan dan semakin penanggulangan-Nya menjamah bagian batiniah kita, kita semakin memiliki wahyu. Ketika emosi, pikiran, tekad, dan roh seseorang ditanggulangi, Roh Kudus meletakkan perkataan-Nya ke dalam mulut orang itu, dan perkataannya menjadi inspirasi, wahyu. Inspirasi Alkitab muncul tatkala unsur manusia berada di bawah pengendalian Roh Kudus, dan tidak menyeleweng dari batasan-Nya. Dan ketika firman ditaruh ke dalam mulut mereka, hasil ministri firman adalah wahyu, inspirasi. Itulah sebabnya kita mengatakan bahwa semakin kita menerima penanggulangan, kita akan menerima semakin banyak inspirasi. Pikiran, emosi, dan tekad kita semuanya melewati penanggulangan Allah. Bahkan ingatan kita pun harus melewati penanggulangan Allah. Selanjutnya, pengertian kita yang sangat berkaitan dengan firman Allah, juga harus melewati penanggulangan Allah. Hati kita harus ditanggulangi. Demikian juga dengan motivasi kita. Allah harus menggarap seluruh diri kita. Kita harus ingat bahwa seorang pelayan firman tidak bisa dikonstitusi tanpa membayar harga. Kita jangan pernah berpikir bahwa konstitusi bisa ada tanpa membayar harga. Dapatkah seorang manusia menjadi pelayan firman hanya karena dia mempunyai kecerdasan? Tidak. Kita jangan mempunyai anggapan yang salah bahwa hikmat, pengetahuan, atau kemahiran seseorang itu bisa menambahkan sesuatu pada firman Allah. Kita harus diremukkan, ditekan, dan dibongkar. Mereka yang mengenal Tuhan menyadari tangan-Nya sangat berat menekan pada orang yang Dia pakai. Tujuan tangan-Nya adalah membuat mereka menjadi bejana yang berguna. Tuhan harus meremukkan dan membongkar kita sebelum kita bisa menjadi seorang pelayan firman. Menjadi seorang pelayan firman harus membayar harga.

Beberapa orang harus melewati tahun-tahun penanggulangan, mungkin sepuluh, dua puluh, atau bahkan tiga puluh tahun. Selama tahun-tahun itu, tangan Tuhan ada di atas mereka. Dia telah menanggulangi mereka terus menerus dan telah menggarap mereka berulang kali. Apakah kita begitu bodoh? Apakah kita begitu tertidur? Sangat mustahil jika kita tetap orang yang sama dan kemudian berharap bisa berbagian dalam ministri firman. Kita harus merendahkan diri di depan Tuhan dan berkata, “Aku bejana yang tidak berguna. Aku harus maju. Aku harus dipukul dan diremukkan sampai pada titik dimana aku menjadi berguna di tangan-Mu. Jika tidak, aku tidak mempunyai jalan untuk merampungkan apapun bagi-Mu.” Saat kita mencapai titik ini, firman Tuhan akan dengan lancer dilepaskan oleh kita.

Kesimpulannya, Roh Kudus menaruh perkataan-Nya ke dalam kita. Roh Kudus bertanggung jawab memberitahu kita apa yang harus kita bicarakan. Tetapi Dialah yang menentukan bagaimana dan kapan kita harus berbicara. Allah mempercayakan dan mempercayai kita. Dorongannya adalah roh nabi takluk pada nabi. Betapa pentingnya tanggung jawab seorang nabi! Cara ministri firman itu dilepaskan merupakan cara pelepasan firman Allah melalui pikiran manusia dan perkataan manusia. Jika sumbangsih kita tidak mencapai standar, perkataan Allah bukan tidak lagi menjadi firman-Nya. Hal ini berakibat serius! Sangat mudah bagi Allah berbicara dari surga. Juga mudah bagi-Nya untuk berbicara melalui para malaikat. Teapi Dia mengasihi kita dan telah memilih kita. Sangat disayangkan jika kita menjadi penghalang. Kita sering kali terbukti sebagai bejana yang tidak berguna. Supaya Allah menjamin pelayan firman, kita harus memohon rahmat. Kita harus berkata kepada Tuhan, “Aku tidak akan melepaskan Engkau kecuali aku mendapatkan rahmat-Mu.” Jika kita tidak menerima rahmat dari-NYa, firman-Nya akan berhenti. Hari ini tanggung jawab ini ada di pundak kita.

Kita telah memberitakan firman selama sepuluh atau dua puluh tahun, tetapi berapa banyak pengutaraan kita merupakan perkataan Tuhan? Kita berani mengatakan bahwa kita memberitakan firman Tuhan, tetapi berapa banyak firman Tuhan yang benar-benar telah diberitakan? Prinsip dasar ministi firman adalah prinsip inkarnasi, firman menjadi daging. Firman tidak bisa tanpa daging. Ketika ada pelayan firman, ada firman Allah. Ketika tidak ada pelayan, firman Allah pun tidak ada. Jika kita tidak menemukan pelayan, kita tidak menemukan firman Allah. Harus ada pelayan firman sebelum ada firman Allah. Alangkah besarnya tanggung jawab seorang pelayan di hadapan Tuhan. Jika kita adalah pelayan, kita harus menyadari tanggung jawab ada di pundak kita. Allah harus menjmani pembicaranya sebelum Dia bisa berbicara. Tanpa pelayan, Allah tidak bisa bicara. Hari ini Allah tidak berbicara langsung kepada manusia, surga tidak langsung berbicara kepada manusia, dan malaikat tidak langsung bicara kepada manusia. Jika manusia tidak membuka mulutnya, tidak seorang pun yang akan mendengar firman Allah, dan firman-Nya akan terkunci. Selama dua ribu tahun silam, firman Allah dilepaskan ketika Dia mendapatkan beberapa orang. Kadangkala, Dia mendapatkan seorang, dan firman-Nya bisa dilepaskan secara luar biasa. Jika Allah hari ini menemukan pelayan-pelayan, firman-Nya sekali lagi akan dilepaskan secara luar biasa. Jika gereja tetap berdiri pada dasar yang baru dan memuaskan Allah untuk menjadi bejana-Nya, firman Allah akan sekali lagi dilepaskan secara luar biasa. Tetapi jika kita tidak berubah, Allah tidak akan mendapatkan jalan untuk terus bergerak di bumi ini. Ekali lagi saya ulangi, yang membawa firman Allah masuk adalah para pelayan. Tanpa mereka tidak ada firman. Roh nabi tunduk pada nabi. Kita harus diangkat sampai standar Paulus. Ketika kita membicarakan firman Allah, kita harus memiliki perasaan bahwa kita dan Tuhan sedang berbicara. Maka kita akan mendapatkan kekayaan. Firman Allah kaya. Semoga Dia menaruh rahmat kepada kita dan mengaruniakan kita perkataan. Semoga kita melihat pelayan-pelayan firman dibangkitkan.