← Daftar isi Ministri Firman Allah · bab 1/17

TIGA JENIS PELAYAN

Kisah 6:4 mengatakan, “Dan supaya kami sendiri dapat memusatkan pikiran dalam doa dan pelayanan (ministry) Firman.” Kata Ministry dalam bahasa Inggris dapat diterjemahkan sebagai “pelayanan firman.” Pekerjaan pelayanan manusia dengan firman Allah dikenal sebagai pelayanan firman, dan orang-orang yang terlibat di dalamnya disebut sebagai pelayan (minister). Ministry (pelayanan) mengacu kepada pekerjaan, sedangkan minister mengacu kepada personanya. Pelayanan firman menempati tempat terpenting dalam pekerjaan Allah. Pemberitaan firman Allah dan pelayanan firman kepada manusia memiliki prinsip-prinsip khusus, dan pelayan Allah harus belajar prinsip-prinsip ini.

Sepanjang jaman Perjanjian Lama dan Baru, Allah berbicara. Ia berbicara di jaman Perjanjian Lama. Ia juga berbicara di masa Perjanjian Baru, pada jaman Tuhan Yesus dan melalui gereja. Alkitab menunjukkan kepada kita bahwa pekerjaan Allah yang terpenting di bumi adalah pembicaraan Firman-Nya. Jika kita menyingkirkan firman-Nya dari pekerjaan-Nya, secara otomatis tidak akan ada yang tertinggal dari pekerjaan-Nya. Butir terpenting dari pekerjaan-Nya di dunia ini adalah perkataan-Nya. Tanpa firman-Nya, pasti tidak ada pekerjaan. Jika firman-Nya disingkirkan maka dengan segera pekerjaan-Nya menjadi kosong. Kita harus menyadari posisi firman Allah dalam pekerjaan-Nya. Begitu kita menyingkirkan firman-Nya dari pekerjaan-Nya, pekerjaan-Nya akan terhenti. Pekerjaan Allah dilaksanakan melalui firman-Nya. Faktanya, Firman-Nya adalah pekerjaan-Nya. Pekerjaan-Nya tidak ditempati oleh yang lain kecuali Firman-Nya.

Bagaimana Allah melepaskan Firman-Nya? Sangat luar biasa dan tidak umum menyadari firman Allah dilepaskan melalui mulut manusia. Itulah sebabnya Alkitab tidak hanya menyebutkan firman Allah tetapi juga menyebutkan pelayan-pelayan firman. Jika Allah secara langsung mengutarakan perkataan-Nya, maka pelayan firman tidak diperlukan lagi. Akan tetapi, Dia memilih berbicara melalui manusia. Itulah sebabnya perlu pelayan. Kita harus jelas di depan Tuhan bahwa pekerjaan Allah disalurkan melalui firman-Nya dan firman-Nya dilepaskan melalui manusia. Dengan demikian kita melihat pentingnya posisi manusia dalam pekerjaan Allah. Allah tidak melepaskan firman-Nya kecuali melalui mulut manusia. Ia memerlukan pelayan-pelayan firman, dan Ia memerlukan manusia untuk menyalurkan firman-Nya.

Sepanjang jaman Perjanjian Lama dan Baru, kita menemukan tiga jenis pelayan. Secara sederhana, tiga jenis pelayan firman terlibat dalam perluasan firman Allah. Dalam Perjanjian Lama firman Allah dilepaskan melalui nabi-nabi, yaitu melalui pelayanan nabi-nabi. Ketika Tuhan Yesus hidup di bumi, firman Allah menjadi daging, dan ada pelayanan Tuhan Yesus. Dalam catatan Perjanjian Baru, firman Allah dilepaskan oleh para rasul, yaitu melalui pelayanan para rasul.

PARA PELAYAN FIRMAN DALAM

PERJANJIAN LAMA—PARA NABI

Dalam Perjanjian Lama, Allah memilih banyak nabi untuk menyampaikan Firman-Nya. Para nabi ini menerima visi dan berbicara. Bahkan orang seperti Bileam pun berbicara bagi Allah. Bileam adalah seorang nabi. Nubuat-Nya merupakan nubuat terbesar dalan Perjanjian Lama (Bil. 23-24). Para nabi dalam Perjanjian Lama adalah pelayan firman Allah, berbicara ketika firman Allah datang kepada mereka. Bileam berbicara saat Roh Allah turun ke atas dirinya; dia dengan terpaksa mengutarakan apa yang dikatakan Roh kepadanya. Perasaan dan pemikirannya ditangguhkan oleh Allah untuk sejangka waktu. Wahyu dan perkataan yang dia terima dari Allah tidak berkaitan dengan kondisi dirinya, tetapi secara otomatis keluar dari mulutnya. Ia tidak ada bagian dalam firman Allah. Pendapat, perasaan, dan pemikirannya sama sekali tidak terlibat. dengan kata lain, Allah memakai mulutnya seperti milik-Nya sendiri. Bileam adalah contoh pelayan firman dalam Perjanjian Lama. Roh Kudus akan memberikan perkataan, dan Allah akan memberikan pengutaraan. Di bawah kekuatan desakan dan dorongan Roh Kudus, firman Allah dilepaskan melalui mulut pelayan Perjanjian Lama. Tidak mungkin ada kesalahan. Allah memakai manusia, tetapi mereka hanya menyampaikan firman Allah. Dalam wahyu ini, manusia hanya memiliki sedikit bagian. Tidak ada bagian manusia yang ditambahkan pada pengutaraan ilahi. Peran manusia hanya sebagai juru bicara.

Dalam Perjanjian Lama kita juga melihat Musa, Daud, Yesaya, dan Yeremia, yang dipakai Allah untuk berbicara bagi Dia dalam pekerjaan mereka. Namun, mereka lebih dari juru bicara Allah; mereka lebih maju dibandingkan dengan Bileam atau nabi-nabi lainnya. Semua tulisan Musa merupakan firman yang diberikan oleh Allah. Dia berbicara menurut perintah Allah, secara pengertian perkataannya sama prinsipnya dengan perkataan Bileam. Ketika Yesaya melihat visi demi visi, dia mencatat visi ini dalam tulisannya. Secara pengertian, tulisannya pun sama prinsipnya dengan perkataan Bileam. Allah meletakkan perkataan dalam mulut Bileam, dan Allah juga meletakkan perkataan dalam mulut Musa dan Yesaya. Pada prinsipnya mereka mengalami hal yang sama, namun ada juga perbedaan antara Musa dan Yesaya, pada satu sisi, dengan Bileam pada sisi lainnya. Ketika Bileam berbicara berdasarkan kepentingannya, dia mengutarakan sesuatu menurut perasaannya. Perkataaan seperti ini salah dan dihukum oleh Allah. Ketika dia berbicara di bawah inspirasi ilahi, dia mengutarakan firman Allah. Ketika dia berbicara dari dirinya sendiri, hasilnya adalah dosa, kesalahan dan kegelapan. Musa berbeda. Meskipun banyak perkataannya diperintahkan oleh Allah, namun saat dia berbicara menurut perkataannya sendiri di hadapan Tuhan, perkataannya diakui oleh Allah dan dianggap sebagai perkataan ilahi. Ini berarti Musa lebih dari sekadar instrumen (alat) Allah daripada Bileam. Yesaya pun sama. Kebanyakan nubuat Yesaya itu dia terima melalui visi langsung dari Tuhan. Akan tetapi ada beberapa catatan dalam kitab Yesaya yang menunjukkan dia berbicara dari dirinya sendiri. Daud dan Yeremia berbicara menurut perasaan mereka sendiri lebih daripada Musa dan Yesaya. Mereka menyerupai pelayan Perjanjian Baru. Namun pada prinsipnya, mereka sama seperti para nabi Perjanjian Lama yang hanya berbicara saat firman Allah turun ke atas mereka.

PELAYAN FIRMAN

DALAM KITAB-KITAB INJIL—TUHAN YESUS

Tuhan Yesus adalah Firman yang menjadi daging di bumi. Ia adalah Firman Allah. Ia mengenakan daging dan menjadi manusia daging. Semua hal yang Dia lakukan dan katakan membentuk bagian Firman Allah. Pelayanan Tuhan Yesus merupakan pelayanan firman Allah. Di dalam Dia, Firman Allah dilepaskan dalam cara yang berbeda dibandingkan dengan melalui nabi-nabi Perjanjian Lama. Dalam Perjanjian Lama Allah hanya memakai suara manusia untuk menyatakan perkataan-Nya. Bahkan Yohanes Pembaptis, nabi terakhir, hanyalah suara di padang gurun. Firman Allah dialirkan hanya melalui suaranya. Tetapi Tuhan Yesus adalah firman itu sendiri yang menjadi daging di atas bumi. Dengan kata lain, Dia adalah Firman yang terwujud dalam daging; Dia adalah firman yang menjadi manusia. Kita dapat mengatakan bahwa di sini ada seorang manusia, dan kita juga dapat mengatakan di sini ada firman Allah. Ketika firman Allah turun ke atas manusia dalam Perjanjian Lama, firman tetap firman dan manusia tetap manusia. Firman benar-benar dialirkan melalui suara manusia. Meskipun ada sedikit perbedaan dalam kasus Musa dan Daud, pada prinsipnya, suara manusia hanyalah pengantar dalam jaman Perjanjian Lama. Akan tetapi saat Tuhan Yesus datang, firman tidak lagi turun ke atas manusia, dengan firman tetap firman dan manusia tetap manusia. Firman Allah mengenakan daging manusia; dan firman menjadi manusia. Firman Allah tidak lagi dilepaskan melalui suara manusia sebagai pengantarnya, tetapi firman mengenakan manusia. Firman memiliki perasaan manusia, pikiran, dan pendapat, tetapi tetap sebagai Firman Allah.

Ketika opini manusia ditambahkan pada firman Allah dalam Perjanjian Lama, maka dianggap menghentikan firman Allah. Perasaan manusia, pikiran, dan opini ditambahkan pada firman Allah, dengan segera firman itu tidak lagi sempurna, murni, dan tanpa campuran. Firman Allah dirusak. Kemurnian Firman Allah hanya dapat dipertahankan saat firman itu tidak dicemari dengan perasaan, pikiran, dan opini manusia. Ketika firman Allah dilepaskan melalui suara Bileam, itu adalah nubuat. Akan tetapi saat Bileam memasukkan perasaan dan opininya, firman tidak lagi hanya firman Allah. Firman Allah telah berubah. Inilah Perjanjian Lama. Dalam Kasus Tuhan Yesus, firman Allah tidah hanya dialirkan melalui suara manusia tetapi melalui pikiran, perasaan, dan opini-Nya. Pikiran manusia menjadi pikiran Allah, perasaan manusia menjadi perasaan Allah, dan opini manusia menjadi opini Allah. Hal ini merupakan ministri firman yang Allah jaminkan dalam Tuhan Yesus. Tuhan Yesus melayani sebagai pelayan firman di bawah prinsip yang berbeda dari pelayan Perjanjian Lama. Pelayan Perjanjian Lama secara prinsip melayani Allah dengan suara mereka. Dengan beberapa orang tertentu Allah memakai lebih dari suara mereka; mereka bertindak lebih dalam prinsip Perjanjian Baru. Akan tetapi, pada kenyataannya, mereka tetap berdiri pada prinsip Perjanjian Lama. Namun, pada kasus Tuhan Yesus, Dia adalah Firman Allah yang sesungguhnya. Firman Allah menjadi daging. Maka, kita dapat mengatakan bahwa perasaan Tuhan Yesus merupakan perasaan firman Allah, pikiran-Nya merupakan pikiran firman Allah, dan opini-Nya merupakan opini firman Allah. Tuhan Yesus benar-benar adalah firman Allah yang menjadi daging. Allah tidak mau firman-Nya hanya tetap firman; Ia mau firman-nya menjadi sama dengan manusia. Ia tidak puas hanya dengan firman saja; Ia mau firman-Nya menjadi daging. Ini merupakan misteri terbesar dalam Perjanjian Baru. Allah tidak puas dengan firman semata; Ia ingin firman-Nya diwujudkan sehingga ada perasaan, pikiran, dan pendapat manusia di dalamnya. Tuhan Yesus adalah pelayan firman yang demikian.

Dalam persona Tuhan Yesus, firman Allah tidak lagi objektif, tetapi sudah menjadi subjektif. Dengan firman ini kita menemukan perasaan, pikiran, dan opini manusia. Tetapi firman tetaplah firman Allah. Di sini kita menemukan prinsip alkitabiah terbesar: sangat tidak mungkin jika firman Allah tidak dipengaruhi oleh perasaan manusia. Bahkan dengan keberadaan perasaan manusia, firman Allah tidak menjadi tercemar. Pertanyaannya adalah apakah perasaan manusia itu memenuhi standar atau tidak. Bukan berarti setiap saat perasaan manusia muncul, firman Allah menjadi rusak. Tidak ada perkara itu. Ini perkara yang dalam! Di sini kita menemukan prinsip yang luar biasa: unsur manusia belum tentu menghalangi firman Allah. Di dalam diri Tuhan Yesus kita menemukan bahwa saat Firman menjadi daging, pikiran daging itu menjadi pikiran Allah. Sesungguhnya, kita dapat mengatakan bahwa pikiran daging adalah pikiran manusia. Tetapi dalam Perjanjian Baru, firman telah menjadi manusia; pikiran manusia ini merupakan pikiran firman Allah. Di dalam diri Tuhan Yesus, kita menemukan pikiran manusia yang memenuhi standar. Ada pikiran manusia, saat ditambahkan pada firman Allah tidak mencemarinya, sebaliknya malahan menyempurnakannya. Firman Allah tidak ditutupi oleh unsur manusia Tuhan Yesus. Sebaliknya, firman itu dipenuhi melalui pikiran Tuhan Yesus. Di dalam diri Tuhan Yesus kita menemukan firman Allah yang mencapai tingkat lebih tinggi dibandingkan dengan apa yang terdapat dalam Perjanjian Lama. Matius 5:21 mengatakan, “Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita…”Ini adalah perkataan Yehova kepada Musa. Ini merupakan inspirasi langsung yang Musa terima dari Allah. Tetapi Tuhan Yesus dalam ayat 22 melanjutkan, “Tetapi Aku berkata kepadamu…” Di sini kita melihat Tuhan berbicara dari diri-Nya sendiri; Ia berbicara menurut perasaan dan opini-Nya sendiri. Tetapi pembicaraan-Nya itu tidak mengubah kedaulatan Allah; malahan melengkapi Kedaulatan-Nya. Perkataan-Nya tidak mengubah firman Allah, malah mencapai poin tertinggi dalam Perjanjian Lama.

Di sini kita melihat karakteristik Tuhan Yesus sebagai pelayan firman Allah. Di dalam Dia, perkataan Allah menjadi penuh. Di dalam diri orang yang berdosa ini, tidak hanya ada suara tetapi juga perasaan dan pemikiran. Di dalam diri Tuhan Yesus, perkataan Allah tidak hanya wahyu; perkataan itu Tuhan Yesus sendiri. Perkataan Allah tidak hanya dinyatakan melalui suara manusia saja, tetapi menjadi manusia. Perkataan-Nya diwujudkan. Perkataan Allah telah menjadi satu dengan perkataan manusia, dan perkataan manusia telah menjadi perkataan Allah. Makna perkataan Allah telah menjadi satu dengan manusia adalah perkataan-Nya telah menjadi satu dengan perkataan manusia. Ini merupakan fakta yang sungguh mulia! Ketika Yesus dari Nazaret berbicara, Allah berbicara! Di sini ada manusia yang perkataan-Nya tidak cocok dengan waktu sebelum dan sesudah masanya. Tidak ada seorang pun yang berbicara seperti Yesus dari Nazaret. Dia benar-benar tanpa dosa. Dia adalah Yang Kudus dari Allah, dan Dia adalah Allah yang sempurna. Perkataan Allah ada di dalam diri-Nya, dan Dia adalah perwujudan perkataan Allah. Perkataan Allah ada di dalam-Nya, dan Dia adalah perkataan Allah. Ketika Dia berbicara, Allah berbicara. Inilah pelayan firman, yang di dalam-Nya perkataan Allah menjadi subjektif. Perkataan Allah sangat subjektif di dalam Dia. Sangat subjektif sehingga Dia adalah firman Allah yang sejati.

Dalam Perjanjian Lama kita menemukan nabi-nabi yang berbicara bagi Allah. Dalam kitab Injil kita menemukan Tuhan Yesus yang menjadi firman Allah. Pada masa para nabi dalam Perjanjian Lama, kita hanya dapat menganggap seseorang itu nabi saat dia membuka mulut dan berkata, “Beginilah firman Allah.” Tetapi dengan diri Tuhan Yesus, kita dapat menunjuk persona-Nya dan berkata, “Orang ini adalah firman Allah.” Perasaaan-Nya adalah perasaan firman Allah, dan pemikiran-Nya adalah pemikiran firman Allah. Saat Dia membuka mulut-Nya, ada firman Allah, dan tetap ada firman saat Dia tidak membuka mulut-Nya. Personanya adalah Firman Allah. Pelayan firman Allah telah telah maju dari wahyu menjadi perwujudan. Dalam Perjanjian Lama firman dan manusia merupakan dua hal yang berbeda. Firman adalah firman dan manusia tetap manusia. Firman telah disalurkan melalui manusia, tetapi manusianya tetap tidak berubah, tetap manusia. Akan tetapi, dalam diri Tuhan Yesus, firman Allah telah menjadi daging, manusia menjadi firman Allah. Ketika manusia ini berbicara, Allah berbicara. Ia tidak memerlukan wahyu, karena Dia adalah firman Allah. Ia tidak memerlukan firman Allah yang turun ke atas diri-Nya secara luaran sebelum Dia mengucapkan perkataan yang ilahi, karena perkataan-Nya sendiri itulah perkataan Allah. Ia tidak perlu firman Allah karena diri-Nya itu adalah firman Allah. Saat Dia berbicara, Allah berbicara. Saat Dia merasakan sesuatu, perasaan-Nya itulah firman Allah. Opini-Nya adalah opini Allah. Di dalam diri manusia ini, firman Allah tidak dipengaruhi dan dibatasi oleh unsur manusia. Saat manusia ini membuka mulut-Nya, firman murni Allah keluar. Meskipun Dia adalah manusia, firman Allah tidak kesulitan keluar melalui diri-Nya. Faktanya, firman Allah diekspresikan sepenuhnya melalui Dia. Inilah ministri Yesus dari Nazaret.

PELAYAN FIRMAN PERJANJIAN BARU—PARA RASUL

Ada jenis pelayan firman dalam Perjanjian Baru—para rasul. Pelayan firman dalam Perjanjian Lama benar-benar objektif. Ministri firman Tuhan Yesus benar-benar subjektif. Dalam Perjanjian Lama ministri firman diakui saat firman turun ke atas manusia dan suara manusia dipakai sebagai sarana. Di dalam diri Tuhan Yesus pelayanan firman tidak melalui kunjungan firman tetapi melalui perwujudan firman sebagai manusia. Firman tidak hanya mengambil suara manusia tetapi melalui pikiran, perasaan, dan opini manusia. Segala sesuatu yang dimiliki oleh manusia ini dipakai oleh firman, karena setiap aspek dari diri manusia ini berada dalam keharmonisan dengan firman Allah. Manusia ini adalah Tuhan Yesus.

Ketika kita sampai pada para rasul dalam pelayanan firman Perjanjian Baru, kita menemukan ministri yang sifatnya sama seperti ministri Tuhan Yesus. Kita juga menemukan elemen wahyu Perjanjian Lama berbaur dengan sifat ministri Tuhan Yesus. Perbedaan antara ministri firman Perjanjian Baru dan ministri firman Tuhan adalah: pada kasus Tuhan Yesus, yang adalah firman Allah yang menjadi daging, pertama-tama ada firman Allah dan kemudian ada daging yang cocok dengan firman ini. Semua perasaan, pikiran, dan kesadaran manusia ini berada dalam keharmonisan dengan firman Allah. Pada kasus ministri firman Perjanjian baru, pertama ada daging. Kita semua memiliki daging. Supaya daging ini menjadi pelayan firman, daging ini harus diubah untuk memenuhi syarat firman Allah. Ini berarti pikiran, perasaan, dan opini daging harus diubah. Daging harus cocok dengan firman Allah. Maka, kita dapat mengatakan bahwa ministri firman Perjanjian Baru berbeda dari Perjanjian Lama dan dari ministri Tuhan Yesus. Diri Tuhan Yesus sendiri seratus persen subjektif; Dia sendiri adalah firman itu. Ministri Perjanjian Baru, adalah ministri para rasul ditambah ministri Tuhan Yesus. Ada kunjungan firman Allah, wahyu Allah. Tetapi juga ada perasaan, pikiran, dan opini manusia. Kita dapat mengatakan hal tersebut sebagai unsur manusia. Ministri firman Perjanjian Baru adalah wahyu ilahi ditambah unsur manusia.

Manusia dipilih oleh Allah dalam Perjanjian Baru berbeda dari Tuhan Yesus yang adalah “Kudus” (Luk.1:35) dan “Sang Kudus” Allah. Di dalam Dia tidak ada percampuran; firman-Nya adalah firman Allah. Dengan diri seorang yang dipilih oleh Allah dalam Perjanjian Baru, kita ada cerita yang berbeda. Untuk menambahkan simpanan firman di dalam diri mereka, Allah harus menanggulangi persona mereka; Dia harus membangun diri mereka. Pada satu sisi, Allah meletakkan firman-Nya ke atas orang yang demikian. Di sisi lain, Dia menanggulangi mereka. Allah memakai pikiran, perasaan, dan karakteristik mereka, dan pada saat bersamaan Dia menanggulangi mereka. Allah menanggulangi minister Perjanjian Baru dalam pengalaman, perkataan, perasaan, pikiran, opini, dan karakteristik mereka. Ia menanggulangi mereka sebelum Dia memakai mereka untuk mengekspresikan firman-Nya. Minister Perjanjian Baru tidak hanya memiliki firman Allah dan tidak hanya melepaskan firman Allah dengan suara manusianya tetapi juga mengekspresikan firman Allah melalui kehidupan manusianya dari berbagai sisi. Allah puas meletakkan firman-Nya ke dalam manusia dan membiarkan manusia yang demikian mengekspresikan firman-Nya. Tuhan Yesus adalah firman yang menjadi daging, sedangkan pelayan Perjanjian Baru adalah mereka yang mengekspresikan firman dalam daging yang telah ditanggulangi oleh Allah.

UNSUR MANUSIA DI DALAM INSPIRASI ILAHI

Beberapa orang beranggapan bahwa tidak ada unsur manusia yang bisa diisi oleh inspirasi ilahi. Mereka beranggapan sekali saja unsur manusia terlibat, inspirasi ilahi tidak lagi ilahi. Ini salah. Mereka yang berpikir seperti itu tidak memahami sifat inspirasi. Inspirasi Allah tidak mengandung unsur manusia. Faktanya, firman-Nya diekspresikan melalui unsur manusia. Meskipun unsur manusia dalam ministri nubuat Perjanjian Lama itu sedikit, tetapi tidak bisa dikatakan tidak ada sama sekali. Sedikitnya Allah memakai mulut manusia untuk menyampaikan pesan-Nya. Tuhan Yesus adalah Firman yang menjadi daging. Semua unsur manusia di dalam diri-Nya adalah firman Allah. Hari ini dalam Perjanjian Baru, Allah menjamin minister firman melalui mengekspresikan firman-Nya melalui manusia dengan unsur ilahi.

Jika membaca Perjanjian Baru dengan hati-hati, sangat jelas dilihat bahwa Paulus secara berkala menggunakan kata yang tidak pernah dipakai oleh Petrus. Yohanes menggunakan kata yang tidak pernah dipakai oleh Matius. Beberapa kata hanya ditemukan dalam tulisan Lukas, dan beberapa kata yang lain hanya ditemukan dalam tulisan Markus. Saat mempelajari Alkitab, kita menemukan bahwa setiap penulis memiliki karakteristik khusus. Injil Matius berbeda dari Injil Markus, dan Injil Markus berbeda dari Injil Lukas maupun Injil Yohanes. Surat-surat Paulus ditulis dengan gaya yang khusus, sedangkan surat-surat Petrus ditulis dengan gaya yang lain. Injil Yohanes dan surat-surat kiriman berisi subjek yang sama dan saling berhubungan. Contohnya, kalimat pertama Injil Yohanes mengatakan, “Pada mulanya…” kalimat pertama surat kirimannya mengatakan, “Apa yang telah ada sejak semula…” Yang satu mengatakan pada mulanya, dan yang lainnya mengatakan yang telah ada sejak semula. Kitab Wahyu, yang juga ditulis oleh Yohanes, menyuarakan hal yang sama dalam kitab injil dan surat kirimannya pun berisi gaya yang sama. Terlebih lagi, kita dapat menyelidiki bahwa setiap penulis menggunakan ekspresi kata yang sama yang membedakannya dengan orang lain. Lukas adalah seorang dokter. Dalam mendeskripsikan penyakit, dia dengan leluasa menggunakan istilah kedokteran. Ketiga penulis kitab injil yang lainnya hanya mendeskripsikan penyakit dengan istilah yang umum. Kitab Kisah Para Rasul juga ditulis oleh Lukas, dan kita juga menemukan istilah kedokteran. Setiap kitab Injil memiliki isitlah dan tema yang berbeda. Contohnya, Markus sangat khusus menggunakan istilah segera, Matius dalam isitlah Kerajaan Surga, dan Lukas dalam penggunaan istilah Kerajaan Allah. Semua istilah tersebut merupakan ciri khusus para penulis. Setiap kitab menghasilkan tanda setiap penulis, tetapi setiap kitab tetap mengandung firman Allah.

Meskipun Perjanjian Baru penuh dengan unsur manusia, tetapi tetap penuh firman Allah. Setiap penulis memiliki gayanya, ekspresi, dan cirinya sendiri, dan Allah memakai ciri ini untuk mengekspresikan firman-Nya melalui mereka. Firman-Nya tidak dirusak oleh proses ini. Meskipun ada tanda dan karakteristik manusia namun tetap firman Allah. Inilah ministri Perjanjian Baru. Di dalam minitri Perjanjian Baru Allah mempercayakan perkataan-Nya kepada manusia, dan Dia memakai setiap unsur manusia untuk mengekspresikan perkataan-Nya. Ia tidak menjadikan manusia mesin perekam, yang merekam semua perkataan-Nya kata demi kata dan kemudian memutarnya secara objektif. Allah tidak menghendaki hal ini. Tuhan Yesus telah datang, dan Roh Kudus membawa pekerjaan-Nya dalam manusia. Tujuan pekerjaan-Nya adalah menjaga unsur manusia dan pada waktu yang sama tidak merusak perkataan ilahi-Nya. Inilah dasar ministri Perjanjian Baru. Roh Kudus menyesuaikan, mengatur, dan beroperasi pada manusia pada tingkat unsurnya tetap tinggal namun firman Allah tidak dikorbankan; sebaliknya, dilengkapi. Jika firman Allah kekurangan unsur manusia, artinya manusia telah menjadi alat perekam. Hari ini firman Allah mengandung unsur manusia dan pada faktanya, dilengkapi dengan unsur manusia. Kita tahu bahwa bahasa lidah adalah pemberian dari Allah. Namun, Paulus tidak mendorong setiap mereka untuk berbicara bahasa lidah dalam setiap pertemuan, karena saat manusia berbahasa lidah, pikirannya tidak berdoa (I Kor. 14:14, 27-28) dengan kata lain, pikiran manusia tidak terlibat. Hal ini lebih maju dibandingkan dengan ministri Perjanjian Lama; dan berbeda dari ministri Perjanjian Baru. Saat manusia berbahasa lidah, mulutnya menyatakan perkataan yang tidak dapat dipahami, yang ilahi. Tetapi Allah menginginkan unsur manusia dalam ministri Perjanjian Baru. Dengan pembatasan, pengaturan, dan pengoperasian Roh Kudus, setiap hal dari manusia bisa dipakai oleh Allah, dan Allah dapat melepaskan perkataan-Nya melalui manusia. Perkataan itu benar-benar firman Allah, tetapi pada saat bersamaan penuh unsur manusia. Minister Perjanjian Baru Allah harus dimiliki oleh Allah sampai tahap demikian.

Coba kita melihat perumpamaan seorang musisi. Ia mungkin sangat mahir bermain piano, organ, dan biola. Ia bisa memainkan nada yang sama dengan alat musik yang berbeda-beda. Setiap alat musik memiliki cirinya tersendiri, dan musik yang dihasilkan pun memiliki perbedaannya. Seseorang dapat mengatakan entahkah musik itu berasal dari piano atau dari biola. Nadanya sama namun suaranya berbeda. Setiap alat musik memiliki suara yang berbeda. Piano ada kekhasannya, demikian juga dengan organ dan biola. Setiap alat berbeda, namun semua ciri khas itu dipadukan menghasilkan perasaan dan etos musik yang berbeda pula. Apa perbandingan akan hal ini dengan minister Perjanjian Baru? Beberapa orang seperti piano, sedangkan yang lainnya seperti organ dan biola. Nadanya boleh saja sama, tetapi suara yang dihasilkannya berbeda. Yang seorang melepaskan firman Allah dan kita menemukan unsur insani ada di dalamnya. Seorang lagi melepaskan firman Allah, dan kita menemukan unsur dirinya di dalam firman. Setiap orang yang dipakai oleh Allah memiliki unsur manusianya sendiri. Di bawah pengaturan, arahan, dan penyempurnaan Roh Kudus, unsur manusia tidak menjadi penghalang firman Allah. Malahan, unsur manusia justru memuliakan firman Allah.

Karena firman Allah harus melewati manusia dan harus mengenakan unsur manusia, mereka yang tidak pernah ditanggulangi Allah jangan harap unsur manusianya bisa dipakai. Jika unsur manusianya sendiri di hadapan Allah dipertanyakan, Allah tidak akan bisa melepaskan firman-Nya melalui orang yang demikian. Orang yang demikian tidak bisa melayani sebagai pelayan firman, dan Allah tidak bisa memakai dirinya. Dalam Perjanjian Lama Allah memakai keledai untuk berbicara bagi-Nya. Namun, hari ini adalah jaman Perjanjian Baru, dan ministri firman Perjanjian Baru berbeda dengan Perjanjian Lama. Dalam Perjanjian Baru firman Allah dieksperesikan melalui unsur manusia. Itulah sebabnya Allah begitu pemilih; Dia memutuskan siapa yang bisa dipakai dan siapa yang tidak. Jika unsur manusia kita tidak secara tepat ditanggulangi, kita tidak bisa menjadi pelayan firman. Kita tidak memiliki pilihan untuk mengalirkan firman Allah seperti tape recorder. Allah ingin melihat perubahan di dalam kita. Jika kita tidak bisa sampai pada standar Allah, Dia tidak dapat memakai kita. Jika kita ingin menjadi saluran firman Allah, kita membutuhnkan pembentukan dan pembetulan. Jika Allah menyingkirkan unsur manusia kita, sangat mudah bagi Allah untuk mengalirkan firman-Nya. Tetapi Allah menginginkan unsur manusia, dan seseorang yang Dia pakai itu menjadi hasil yang besar. Beberapa unsur manusia tercemar dengan pencemaran, kekanak-kanakan, dan jejak kejatuhan. Allah tidak bisa memakai semua itu; Dia harus menyingkirkan semua itu. Ada jugabeberapa orang yang tidak bisa dihancurkan oleh Tuhan. Yang lainnya memiliki pikiran yang jahat. Yang lain lagi berdebat dengan Tuhan, sedangkan yang lainnya belum pernah ditanggulangi dalam pikiran dan emosi mereka. Mereka tetap tegar tengkuk. Firman Allah tidak akan pernah dilepaskan melalui orang-orang yang demikian. Bahkan meskipun mereka menerima firman Alah, mereka tetap tidak bisa melewatinya. Bahkan saat mereka memaksa diri mereka melampauinya, mereka tetap tidak mampu melakukannya secara efektif. Pertimbangan dasar seorang minister Perjanjian Baru adalah kondisinya di depan Tuhan.

Hari ini Allah tidak ingin firman-Nya tetap firman saja; Ia ingin firman-Nya diucapkan melalui mulut manusia yang kelihatannya seperti perkataan manusia itu. Apa yang diinginkan Allah adalah firman yang terlihat ilahi namun pada waktu bersamaan juga manusiawi. Saat membaca Perjanjian Baru, dapatkah kita menemukan satu kata saja yang tidak ditulis oleh manusia? Ciri Perjanjian Baru yang terkenal dari halaman pertama sampai akhir, adalah catatan pembicaraan manusia. Benar-benar manusiawi; tidak ada yang lebih manusiawi dibandingkan perkataannya. Pada waktu yang sama, benar-benar ilahi; seratus persen firman Allah. Allah tidak puas hanya dengan ekspresi firman-Nya; Ia ingin firman-Nya diekspresikan melalui perkataan manusia, sehingga firman yang dilepaskan benar-benar manusiawi dan juga ilahi. Inilah ministri firman Perjanjian Baru.

Dalam 2 Kor. 2:4 Paulus berkata, “Aku menulis kepada kamu dengan hati yang sangat cemas dan sesak dan dengan mencucurkan banyak air mata.” Saat menulis kepada orang-orang Korintus, Paulus melayani mereka dengan firman Allah. Ia menulis dari hati yang cemas dan sesak. Ia menyampaikan firman Allah dengan mencucurkan banyak air mata. Inilah seorang manusia yang seluruh dirinya ada dalam perkataannya. Apa adanya dirinya menjadi perkataannya. Tulisannya penuh dengan perasaan manusiawi. Ketika firman Allah datang kepadanya, dia penuh kecemasan dan kesesakan, dan dia menulis dengan mencucurkan banyak air mata. Sementara dia menulis, unsur manusiawinya berbaur dengan firman Allah dan dia melepaskan firman Allah dengan cara ini. Unsur manusiawinya menambahkan firman Allah dan menjadikannya lebih sebagai firman Allah. Paulus tidak kekurangan perasaan dan pikiran. Ia tidak seperti pembicara bahasa lidah, yang menerima perkataan lalu melewatkannya begitu saja tanpa ada perubahan dalam pikirannya. Paulus menulis firman Allah penuh dengan perasaan dan melatih pikirannya. Saat firman Allah diutarakan, dia penuh kecemasan dan kesesakan, dan dia menulis dengan mencucurkan banyak air mata. Inilah minister firman Perjanjian Baru.

Firman Allah diekspresikan melalui manusia, seluruh diri manusia. Karena itu ciri manusia. Ekspresi penggunaan kata, nada suara, dan pengalaman pribadi depan Alah mengalir keluar melalui firman. Melalui firman kita bisa melihat batasan mana seorang manusia itu diajari oleh Allah, didisiplin, dan diuji oleh Allah. Ketika firman Allah sampai pada manusia, firman itu dapat diekspresikan melalui unsur manusia tanpa merusak firman Allah. Firman itu tidak menjadi tercemar. Inilah yang disebut sebagai minister firman dalam Perjanjian Baru. Seorang minister Perjanjian Baru adalah seorang yang telah diajar oleh Allah selama bertahun-tahun dan seorang yang dengan leluasa Allah pakai. Saat firman mencapai orang yang demikian, firman itu bisa mengalir dengan leluasa. Firman ilahi akan tercemar hanya jika unsur manusia yang berhubungan dengan firman Allah itu bersifat daging atau alamiah.

Hanya ketika Allah dikandung dengan unsur manusia maka firman itu menjadi sempurna. Jangan salah; firman Allah bukan hanya berupa satu perintah atau sepuluh perintah. Alkitab menunjukkan kepada kita dengan jelas bahwa di sana ada cita rasa manusia dan unsur manusiawi di dalam firman Allah. Allah telah meletakkan firman-Nya ke dalam manusia dan mempercayakan manusia untuk membicarakan firman-Nya. Lebih lagi, dia meminta syarat kondisi manusia itu tepat sehingga Dia dapat membawa manusia itu dalam perkataan-Nya. Prinsip dasar pembicaraan Allah adalah prinsip Firman menjadi daging. Alah tidak puas dengan firman-Nya saja; Dia mau firman-Nya menjadi daging, menjadi bagian dari perkataan manusia. Ini tidak berarti Allah telah turun tingkat sampai hanya perkataaan manusia saja. Artinya firman Allah telah dibumbui dengan rasa manusia. Akan tetapi, hal itu membuat firmaNya menjadi murni. Benar-benar perkataan manusia dan pada waktu yang sama benar-benar perkataan manusia. Ministry firman Perjanjian Baru adalah pembicaraan firman Allah. Saat membaca Kisah Para Rasul dan 1 dan 2 Timotius, Titus, dan Filemon, kita juga menemukan firman Allah. Firman Allah termanifestasi melalui perkataan manusia dan terekspresi melalui unsur manusia. Itu adalah perkataan manusia, tetapi Allah mengakui hal itu sebagai firman-Nya.

Jika demikian, betapa besarnya tanggung jawab mereka yang mengutarakan firman Allah! Jika seorang melakukan kesalahan atau jika dia memasukkan unsur yang najis ke dalam perkataannya, firman Allah akan tercemar dan menderita kerugian. Kita harus menyadari bahwa faktor terpenting dalam pembicaraan firman Allah bukanlah perkara jumlah pengetahuan yang dimiliki. Akan tidak berguna jika yang dimiliki hanya doktrin kosong dan pengetahuan Alkitab semata. Doktrin dan pengetahuan tersebut bisa menjadi sesuatu yang objektif bagi orang tersebut. Seseorang bisa saja memberitakan semua hal yang dia ingin sampaikan tetapi pemberitaannya itu tetap saja terpisah dari dirinya. Kita tidak bisa seperti Tuhan Yesus, yang adalah firman yang telah menajdi daging. Akan tetapi, sebagai minister firman, kita harus menyadari bahwa firman Allah diekspresikan melalui daging kita; Dia memerlukan daging kita. Itulah sebabnya daging kita harus ditanggulangi oleh Allah. Setiap hari kita harus bertransaksi dengan Allah; kita harus mengalami penanggulangan-Nya. Jika kita kekurangan hal ini, firman Allah akan segera rusak saat keluar dari mulut kita dan berbaur dengan kata-kata kita sendiri.

Jangan berpikir bahwa setiap orang bisa membicarakan firman Allah. Hanya satu jenis orang yang bisa membicarakan firman Allah—seorang yang telah melewati penanggulangan-Nya. Tantangan terbesar seorang pembicara firman bukanlah masalah ketepatan topik atau pilihan kata tetapi diri pembicaranya itu. Jika orang itu salah, segalanya menjadi salah. Semoga Allah mengajari kita cara yang sejati untuk melayani ministri firman. Kita harus ingat bahwa memberitakan itu bukan perkara sederhana; pemberitaan adalah melayani umat Allah dengan firman Allah. Semoga Allah menaruh rahmat-Nya kepada kita. Karena seantero diri kita terlibat langsung dengan firman, setiap hal yang tidak tepat dari diri kita seperti pikiran, ekspresi, tingkah laku, dan kekurangan dalam latihan dan pengalaman kita akan tanpa sadar merusak firman-Nya. Seantero diri kita harus ditanggulangi oleh Tuhan. Jika kita ditanggulangi oleh Tuhan, firman-Nya tidak akan mengalami pencemaran saat kita melayani sebagai minister-Nya. Kita akan mampu melepaskan firman-Nya secara murni. Kita dapat melihat hal ini dalam diri Paulus, Petrus, Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes, dan kita dapat melihat hal ini dalam diri pelayan Tuhan lainnya. Unsur manusia ada dalam firman Allah. Tetapi saat unsur manusia tidak ada, mereka tidak mengekspresikan daging. Sebaliknya, seorang akan mendapatkan kemuliaan dalam ekspresinya. Ini sungguh luar biasa—firman Allah menjadi perkataan manusia, dan perkataan manusia menjadi firman Allah.