← Daftar isi Kristus dan Hidup Baru · bab 3/4

KRISTUS MENJADI HAYAT DI DALAM ROH KUDUS

Kita telah melihat bahwa Allah mencakupkan kita semua di dalam Kristus. Dan di dalam Kristus, Allah menggenapkan penyelamatan bagi kita, membereskan segalanya bagi kita. Memang Allah telah mencakupkan kita di dalam Kristus, tetapi ini adalah perkara di pihak Allah. Persoalannya sekarang adalah: bagaimana Kristus dapat digarapkan ke dalam kita? Bagaimana Ia dapat berhubungan dengan manusia secara subyektif ?

Memiliki Kristus tergarap ke dalam kita, dan memiliki hubungan yang erat antara Kristus dengan kita adalah perkara yang sangat penting. Dalam Injil Yohanes, Kristus sendiri berkali-kali mengucapkan klausa “Kamu di dalam Aku dan Aku di dalam kamu”. Saling menghuni demikian adalah kesatuan yang sejati, yang dapat membuat segala yang Allah kerjakan tergarap dan tergenap di atas diri kita.

KESATUAN YANG LEBIH SEMPURNA

Allah telah mencakupkan kita di dalam Kristus. Tetapi kita lebih perlu nampak bagaimana Kristus dapat tergarap ke dalam kita. Hanya ketika Kristus tergarap ke dalam kita, barulah kesatuan ini benar-benar sejati dan utuh; dan segala milik Kristus baru dapat tergarap ke dalam kita. Bersatu dengan Kristus sedemikian inilah baru terhitung kesatuan, mutlak satu.

Suatu hari saya mengamati seorang pandai besi yang sedang bekerja. Dia menaruh sebatang besi ke dalam api, dibakarnya besi itu hingga merah membara, setelah merah membara, barulah besi itu diambil dan ditempa. Seorang pembantunya, yang berdiri di dekatnya, membantunya menyalakan api. Ia menggulung selembar kertas, tetapi tidak melemparkannya ke dalam api, melainkan menyentuhkan kertas itu pada besi yang merah membara itu. Segera kertas itu terbakar. Saya sangat heran melihat api keluar dari besi itu! Batangan besi itu kini telah berbeda dengan besi-besi lainnya. Anda katakan itu besi, tetapi di dalamnya ada api; Anda katakan itu bara api, nyatanya ia benar-benar besi. Ia adalah besi juga api. Di dalam besi itu ada api, dan di dalam api itu ada besi. Batangan besi itu mempunyai sifat besi dan wujud api. Bila Anda menyentuhkan sehelai kertas padanya, kertas itu akan segera terbakar.

PEKERJAAN LANJUTAN ALLAH

Allah menghendaki kesatuan kita dengan Kristus sepertilah besi dan api itu. Allah telah mengampuni dosa-dosa kita dan mengakhiri manusia lama kita di dalam Kristus. Tetapi Ia tidak berhenti di sana. Ia ingin kita sepenuhnya esa dengan Kristus, seperti besi yang bersatu dengan api itu. Setiap molekul besi dibaurkan dengan api, dan setiap ciri-ciri api ternyata dalam besi itu. Allah mau supaya segala adanya Kristus tergarap ke dalam kita.

Kita masih perlu melihat penggarapan itu dari aspek Allah. Untuk sementara kita tidak membahas apa yang harus kita lakukan, kita akan membahas bagaimana Allah telah menempa kita dan Kristus menjadi satu. Dulu telah kita bahas bagaimana Allah di dalam Kristus menggenapkan penyelamatan. Kini akan kita lihat karya penyatuan-Nya. Untuk ini, Allah harus melakukan satu tindakan yang sangat penting dalam Kristus. Inilah yang akan kita bahas dalam bab ini.

YESUS YANG TERBATAS OLEH RUANG DAN WAKTU

Kita semua tahu bahwa Yesus orang Nazaret adalah Allah yang berinkarnasi. Dengan kata lain, Ia adalah keilahian yang diselubungi keinsanian. Kalau Allah tidak menyelubungi diri-Nya dengan tubuh daging, Ia tidak akan dapat menggenapkan penyelamatan-Nya. Sebab itulah Ia harus berinkarnasi. Tetapi begitu Ia mengenakan tubuh daging, Ia segera terbatas oleh dua hal. Pertama, Ia terbatas oleh waktu; dan kedua Ia terbatas oleh ruang. Kalau Ia Allah semata, Ia tidak terbatas oleh ruang dan waktu. Tetapi begitu Ia mengenakan tubuh daging, Ia telah direpotkan oleh dua faktor itu; Ia menjadi sama seperti kita, manusia yang bertubuh daging.

Bagaimana tubuh daging terikat oleh ruang dan waktu? Kalau seseorang saat ini ada di Tientsin, maka pada saat yang sama ia tidak akan ada di Peking, atau ada di tempat lainnya. Kalau ia ada di China, tidak mungkin ia ada di Inggris, atau di Amerika. Selama Anda mengenakan tubuh daging, Anda terikat oleh tempat. Anda hanya dapat berada di satu tempat pada satu saat. Tubuh daging membatasi keberadaan kita, sehingga kita tidak mungkin ada di dua tempat dalam waktu yang bersamaan.

Di samping itu, tubuh kita pun terbatas oleh waktu. Anda tidak dapat hidup dalam dua waktu yang berbeda sekaligus. Saya dapat melihat Anda hari ini, tetapi besok, belum tentu. Saya dapat melihat Anda tahun ini, tetapi tahun depan, belum tentu dapat melihat Anda. Bahkan sering, saya masih dapat berbicara dengan seseorang satu jam yang lalu, tetapi satu jam kemudian, saya tidak akan pernah dapat berbicara lagi dengannya. Orang yang menjadi teman bicara saya itu terbatas; ia hanya dapat terlihat oleh saya pada satu saat, dan pada saat lain, sudah tidak terlihat lagi. Itulah belenggu yang dikenakan oleh waktu pada tubuh daging kita. Kita dapat bersama, tetapi tidak untuk selamanya. Semua tubuh daging pasti terkena batasan ruang dan waktu.

Yesus dari Nazaret, Kristus yang memakai tubuh daging, juga terikat oleh dua hal itu. Maka yang dapat Allah lakukan adalah mencakupkan kita semua ke dalam Kristus, menggenapkan penyelamatan bagi kita. Namun belum dapat membuat kita masuk ke dalam Dia, karena kita tidak dapat masuk ke dalam satu tubuh lain. Entah kita yang ingin masuk ke dalam Kristus, bersatu dengan-Nya, atau Kristus yang ingin masuk ke dalam kita, bersatu dengan kita, Kristus tidak dapat sebagai Kristus dalam tubuh daging, Ia harus ada dalam bentuk lain. Ia harus tampil dalam model lain untuk dapat bersatu dengan kita. Api bisa masuk ke dalam besi, karena ia adalah satu benda yang dapat keluar. Anda tidak dapat menyuruh sebatang kayu masuk ke dalam besi, mustahil! Kalau Kristus mau masuk ke dalam kita, Ia harus berubah ke dalam satu bentuk yang lain.

TIDAK LAGI MENGENAL KRISTUS MENURUT DAGING

Dua Korintus 5:16 mengatakan, “Sebab itu, kami tidak lagi menilai seorang pun juga menurut ukuran manusia. Jika kami pernah menilai Kristus menurut ukuran manusia, sekarang kami tidak lagi menilai-Nya demikian.” Frase “menurut ukuran manusia” pada ayat di atas, lebih tepat diterjemahkan “menurut daging”. Dalam ayat di atas rasul memperlihatkan kepada kita salah satu doktrin yang paling penting dalam kekristenan, yaitu Kristus yang rasul beritakan bukan Kristus dalam daging. Kristus yang diberitakan hari ini sangat berbeda dengan Kristus yang dulu ada dalam tubuh daging. Kristus yang dulu dikenal oleh 12 rasul adalah Kristus dalam tubuh daging, bagaimana Dia makan, berjalan, tinggal, dan pergi menyeberang danau beserta dengan mereka. Mereka bersama Kristus pergi ke sana, ke mari. Mereka melihat wajah-Nya dan menjamah tangan-Nya; mereka mendengar suara-Nya dan menyaksikan mujizat-mujizat yang dibuat-Nya. Segala yang mereka ketahui tentang Dia adalah menurut daging. Tetapi di sini ada satu ayat Alkitab yang mengherankan, memberi tahu kita bahwa sekarang mengenal Dia bukan lagi menurut daging, mengenal Kristus menurut daging sudah tidak ada gunanya lagi.

Mengapa ada ayat seperti ini? Ada alasan yang sangat kuat atasnya. Kalau Kristus masih di dalam daging, Ia akan masih terbatas oleh ruang dan waktu. Kalau Dia tetap dalam daging, maka pada satu saat kita dapat mendekati-Nya, dan pada saat lain kita jauh dari-Nya; ada orang yang dapat mendekati-Nya dan ada orang yang tidak dapat mendekati-Nya; orang-orang yang tidak berada di tempat di saat Ia berada, tidak dapat menjamah-Nya.

Kalau Kristus yang kami beritakan hari ini masih tetap di dalam daging, bayangkan apa saja yang akan terjadi! Maka Kristus yang ada dalam tubuh daging ini, yaitu Yesus dari Nazaret, kalau pada saat ini Ia ada di Yerusalem, Ia tidak dapat kita temui di Tientsin. Dan kalau Ia datang ke Tientsin, maka hanya orang-orang di Tientsin yang dapat melihat-Nya, mendengar suara-Nya, menjamah-Nya, sedang orang-orang di Yerusalem tidak. Ia telah menjadi tahanan ruang dan waktu seperti kita.

SANGAT TIDAK LELUASA MENJUMPAI DIA

Kalau Ia tetap tinggal di Yerusalem, bagaimana kita dapat melihat Dia? Mungkin satu atau tiga tahun sekali kita harus mengeluarkan biaya untuk pergi ke Yerusalem mengunjungi Dia. Sekurang-kurangnya kita perlu melakukan kunjungan sekali setahun untuk melihat Allah yang berinkarnasi. Di Yerusalem mungkin Anda dapat tinggal sangat dekat dengan Dia, tetapi begitu Anda meninggalkan Yerusalem, Anda akan terpisah lagi dari Dia. Jadi, kalau Kristus masih dalam daging, kepercayaan kita akan menjadi agama materialistis. Kekristenan akan memiliki satu pusat di bumi ini yang mengendalikan dan mengatur semua orang Kristen.

Ketika kedua belas murid masih bersama Kristus, Ia masih mengenakan tubuh daging. Saat itu, kalau Ia berkhotbah, orang-orang yang tidak bersama dengan-Nya di tempat yang sama tidak dapat mendengar-Nya. Ketika Ia berbicara dengan tiga orang, yang sembilan orang lainnya tidak ikut mendengar-Nya. Ketika Ia berbicara kepada sebelas murid-Nya, yang satu, karena tidak di tempat, juga ketinggalan. Bahkan ketika mereka makan bersama, beberapa orang akan lebih dekat kepada-Nya daripada yang lain. Ada orang yang dapat bersandar ke pangkuan-Nya, ada yang tidak. Ia terbatas oleh ruang dan waktu karena masih berada di dalam tubuh daging.

KRISTUS HARUS MENANGGALKAN TUBUH DAGING

Kalau Anda bertanya apakah saya senang melihat Kristus hidup dalam tubuh daging, seperti dulu dengan murid-murid-Nya? Saya akan menjawab, “Tidak!” dengan tegas. Itu sama sekali tidak berguna bagi saya! Kalau Yesus dari Nazaret ada di sini, Ia akan tetap ada jarak dengan kita. Ia tidak dapat masuk ke dalam kita, kita pun tidak dapat masuk ke dalam Dia; karena Ia masih berada dalam tubuh daging. Dia mustahil dengan membawa tubuh daging-Nya masuk ke dalam kita, dan kita pun mustahil masuk ke dalam tubuh daging-Nya. Inilah yang kita perhatikan — Kristus harus menanggalkan tubuh daging-Nya.

DENGAN KEMATIAN MENANGGALKAN TUBUH DAGING-NYA

Bagaimana Kristus menanggalkan tubuh daging-Nya? Melalui kematian! Ingatlah bahwa kematian Kristus bukan hanya untuk menanggung dosa-dosa kita, menanggulangi manusia lama kita, tetapi juga untuk menanggalkan tubuh daging-Nya, supaya Ia tidak lagi terikat di dalam tubuh daging. Melalui kematian, Ia telah menanggalkan tubuh daging-Nya dan kini berada di dalam Roh. Saya tidak mengatakan bahwa Kristus yang bangkit tidak memiliki tubuh daging, tetapi Kristus telah menjadi Roh pada saat Ia bangkit. Kini Ia masih memiliki satu roh, satu jiwa, satu tubuh, tetapi semuanya bersifat rohani.

MENGENAKAN ROH

Apa yang disebut di dalam daging, dan apa pula yang disebut di dalam roh? Ini sepertilah mengenakan pakaian. Di dalam tubuh daging, adalah mengenakan tubuh daging, dan di dalam roh adalah mengenakan roh. Ketika di bumi, Kristus mengenakan tubuh daging. Ketika Ia mati, Ia menanggalkan tubuh daging, dan menggantinya dengan satu tubuh kebangkitan, memakai pakaian yang lain, yaitu Roh. Kristus yang sekarang telah mengenakan Roh, sebagaimana dulu Ia mengenakan tubuh daging.

Dengan demikian, pengenalan kita terhadap Kristus ada dua macam. Kita bisa mengenal Kristus yang ada dalam tubuh daging, dan kita pun bisa mengenal Kristus yang ada di dalam Roh. Ada orang memustikakan pengenalan terhadap Kristus dalam daging, tetapi sebenarnya mengenal Kristus dalam Roh lebih mustika. Kristus yang kini telah di dalam Roh, membuat kita dapat masuk ke dalam-Nya, juga dapat membuat Dia masuk ke dalam kita, sehingga antara kita dengan Dia terjalin satu kesatuan yang betapa erat.

SEKARANG BISA TINGGAL DI DALAM KITA

Berkali-kali Alkitab memperlihatkan kepada kita bahwa Allah adalah Tritunggal. Pada suatu kali, Allah mengenakan tubuh daging menjadi Kristus, kini Ia juga mengenakan Roh. Karena itu Allah, Kristus, Roh Kudus, ketiga-Nya adalah satu. Kristus yang dulu mengenakan tubuh daging, terbatas dalam segala hal; kini Kristus yang telah mengenakan Roh, Ia bisa ada di mana-mana, bisa tinggal di dalam setiap orang. Setiap orang yang ingin mendapatkan-Nya, bisa mendapatkan-Nya; setiap orang yang percaya kepada-Nya dapat menerima-Nya. Karena Ia tidak lagi terbatas oleh ruang dan waktu, maka kapan saja, di mana saja, kita dapat berpadu esa dengan-Nya.

Kalau Kristus tidak hidup dalam Roh, maka kepercayaan kita mati, dan kekristenan adalah agama yang mati. Kalau hari ini Kristus tidak di dalam Roh, maka yang kita percayai tidak lain adalah ajaran dan teori saja, secara realitas kita tidak akan memiliki apa-apa, karena Kristus yang dalam tubuh daging, tidak dapat masuk ke dalam kita.

MEMEGANG TANGAN, MENGAJAR MENULIS

Meskipun saya telah banyak menulis, tetapi coretan tulisan saya tidak baik, mungkin karena dulu saya tidak mau belajar. Ketika saya masih kecil, ayah saya mengundang seorang guru tua untuk mengajar menulis. Tetapi saya selalu bertentangan dengan dia, tidak mau baik-baik menurutinya belajar menulis. Melihat keadaan demikian, tuan guru ini dengan marah berkata kepada saya, “Lihat, adikmu laki-laki dan kedua adikmu perempuan, mereka semua menulis dengan rapi, hanya engkau yang tidak rapi.” Akhirnya ia berkata, akan memegang tangan saya mengajar menulis. Tangannya yang besar, mencengkeram tangan saya yang kecil, sambil memegang tangan sambil menulis. Meskipun tangan saya telah dipegang oleh tangannya yang besar, tetapi saya masih keras kepala, tidak mau bekerja sama dengan gerakannya. Ketika ia berhenti, saya sengaja meneruskannya sedikit; ketika dia mau menulis lurus, saya sengaja membelokkan coretannya, akhirnya tulisan saya tetap tidak baik.

Pada suatu hari, tuan guru itu mengatakan satu perkataan yang sangat berarti dan dalam, yang membuat saya selamanya tidak akan dapat melupakannya. Dia berkata, “Aku sangat ingin masuk ke dalammu, sehingga dapat mengajar kamu menulis dengan baik.”

MASUK KE DALAM MENJADI HAYAT

Cara penyelamatan Allah terhadap kita ialah Ia masuk ke dalam kita, melaksanakan satu penyelamatan yang efektif dan tuntas. Ia tidak secara luaran mengajar Anda demikian-demikian, juga tidak dengan menggenggam tangan Anda dan menarik Anda menggores ke sana ke mari, atau tidak mengizinkan Anda begini atau begitu, menghendaki Anda begini atau begitu. Dia telah menanggalkan tubuh daging-Nya, masuk ke dalam Roh, dan kini dapat masuk ke dalam kita menjadi hayat kita, dan dapat memperhidupkan diri-Nya sendiri melalui kita. Apa yang tidak dapat dilakukan oleh guru tadi, telah dilakukan dan dicapai oleh Allah di dalam Roh.

PENOLONG

Bagaimana Kristus di dalam Roh Kudus? Kita harus dengan cermat melihatnya dalam Injil Yohanes. Kita lihat Yohanes 14:16, “Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya.”

Kita semua tahu bahwa Penolong di sini ditujukan kepada Roh Kudus. Kata aslinya adalah “parakletos”.Kata ini terbentuk dari dua akar kata. Yang pertama “para” berarti di samping. Yang kedua “kletos” berarti membantu dan menunjang. Maka dua kata itu berarti membantu Anda dari samping. Versi King James menerjemahkannya sebagai Penghibur, memberi kesan bahwa ada seorang di dekat Anda, membantu, menjaga, dan menunjang Anda. Di sini Tuhan minta kepada Bapa, mengutus seorang Penolong, yang senantiasa dekat pada Anda, membantu Anda dan menunjang Anda.

ROH REALITAS

Ayat 17 mengatakan, “Yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu.”

Penolong ini adalah Roh Kebenaran. Menurut saya, kata “kebenaran” lebih baik diterjemahkan menjadi “realitas”. Karena segala realitas rohani ada di dalam Roh Kudus. Ada Roh Kudus, baru ada realitas. Karena itu, Penolong itu adalah Roh Realitas.

Roh Realitas ini hanya berhubungan dengan kaum beriman, Ia tidak berhubungan dengan orang milik dunia. Mengapa dunia tidak menerima Dia? Sebab pertama adalah dunia tidak melihat Dia. Orang dunia biasanya tidak mau menerima sesuatu yang tidak mereka lihat. Sebab kedua adalah mereka tidak mengenal-Nya. Sesuatu yang tidak dikenal, biasanya juga tidak akan diterima. Tetapi Tuhan berkata, “Tetapi kamu mengenal Dia.” Orang Kristen mengenal Roh Kudus, sebab “Ia menyertai kamu”.

Sampai hari ini Roh Kudus tetap menyertai kaum beriman. Ini adalah kenyataan. Tetapi perhatikanlah perkataan selanjutnya, “dan akan diam di dalam kamu.” Kata “akan” mengacu pada masa yang akan datang. Perkataan Tuhan berarti, Roh Kudus ini telah beserta dengan kamu, tetapi pada suatu hari, Roh Kudus ini akan masuk dan tinggal di dalam kamu. Mari kita baca ayat selanjutnya.

Ayat 18 mengatakan, “Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu. Aku datang kembali kepadamu.” Apakah arti yatim piatu? Yatim piatu adalah seorang anak yang ditinggal oleh ayahnya, tidak dirawat, dibimbing oleh ayahnya. Seorang anak yang masih memiliki ayah, tentu makanan, pakaian, buku-buku pelajaran, alat-alat sekolahnya disediakan oleh ayahnya baginya. Tetapi anak yatim piatu, yang tidak memiliki ayah lagi, harus menyiapkan sendiri segala kebutuhannya. Di sini Tuhan berkata bahwa Ia tidak akan meninggalkan kita sebagai yatim piatu, untuk mengurusi perkara-perkara rohani seorang diri. Dia akan datang lagi menjadi bapa kita, merawat dan menunjang kita.

DUA KATA GANTI

Perhatikanlah kata ganti dalam ayat 17 dan ayat 18. Ayat 17 mengatakan bahwa “Ia” akan diam di dalam kamu, sedangkan ayat 18 mengatakan bahwa “Aku” akan datang kepadamu. Apakah hubungan antara “Ia” dalam ayat 17 dan “Aku” dalam ayat 18? Apakah kata-kata itu mengacu kepada dua orang? Atau satu orang? Lebih baik kita membaca kedua ayat itu lagi, untuk melihat siapa yang dimaksud dengan Dia dan Aku dalam ayat 17 dan ayat 18.

Kalau saya memberi tahu Anda demikian, “Tadi ada seseorang yang menghentikan sebuah taksi, dan meminta sopirnya mengantar orang itu ke mari. Setelah tiba di tempat tujuan, ia membayar ongkosnya dan segera masuk ke tempat yang dituju. Begitu saya masuk ke dalam ruangan, saya melihat di sini sudah banyak yang hadir, segera pula saya mulai berkhotbah, . . .” Coba katakan kepada saya, apa hubungan seseorang itu dengan saya? Tentunya seseorang itu adalah saya dan saya adalah seseorang itu, hanya saja cara menyebutnya lain. Demikian pula “Aku” dalam ayat 18 adalah “Ia” dalam ayat 17. Maka jelaslah artinya, Tuhan akan meminta kepada Bapa, dan Bapa akan mengutus Penolong kepada mereka. Penolong ini adalah Roh Kudus, yang tak lain adalah Kristus yang akan diam di dalam mereka, supaya murid-murid-Nya tidak menjadi yatim piatu.

AKU DI DALAM DIA

Betapa mustikanya ayat Alkitab ini. Ketika Kristus hidup di atas bumi, Roh Kudus yang adalah Penolong itu hidup di dalam-Nya. Setelah Kristus mati, bangkit dan terangkat, Ia tinggal di dalam Roh Kudus. Karena itu ketika Kristus hidup di bumi, Ia beserta dengan murid-murid-Nya, maka Roh Kudus karena ada di dalam Kristus, juga menyertai mereka. Tetapi apa yang terjadi pada hari-hari selanjutnya? Melalui mati dan bangkit, Kristus ada di dalam Roh. Jadi, Ia datang kepada murid-murid-Nya dengan Roh, melalui Roh, dan di dalam Roh. Mengatakan Roh Kudus ada di dalam murid-murid, sebenarnya Kristuslah yang ada di dalam murid-murid itu. Itulah sebabnya dalam bagian pertama ayat Alkitab ini mengatakan, “Ia akan diam di dalam kamu,” tetapi kemudian dikatakan, “Aku datang kembali kepadamu.” Ini karena “Aku” ada di dalam “Ia”.

TANGAN DALAM SARUNG TANGAN

Suatu kali saya sedang berbicara dengan seorang saudara mengenai hal bagaimana Kristus ada di dalam Roh Kudus. Datanglah seorang wanita dari luar negeri, ia masuk dan ingin menyalami saya. Saat itu ia sedang memakai sarung tangan, dan mau melepaskan sarung tangannya. Saya segera menyambutnya dan berkata, “Tidak perlu melepaskan sarung tangan Anda, begini pun baik!” Demikianlah tangan saya berjabatan tangan dengan tangannya yang memakai sarung tangan. Saya berkata kepada saudara tadi, “Saya sedang memegang sarung tangan atau tangannya?” Kalau Anda mengatakan bahwa saya memegang sarung tangan, tetapi jelas saya sedang memegang tangannya. Kalau Anda katakan bahwa saya memegang tangannya, nyatanya saya sedang memegang sarung tangannya. Demikian pula Kristus dalam Roh Kudus. Anda memegang Roh Kudus yang di luar, berarti Anda memegang Kristus yang di dalam. Anda menerima Roh Kudus, berarti Anda menerima Kristus. Saudara itu mengangguk-anggukkan kepala dan berkata, “Ya, ya, aku sekarang mengerti.”

Ini sama dengan yang telah kita bahas dulu, bagaimana Yesus dari Nazaret adalah Allah. Anda mengatakan Dia adalah Allah, memang Dia adalah Allah; Anda mengatakan Dia adalah manusia, Dia pun benar-benar manusia. Ketika Anda menjamah keilahian-Nya, Anda pun tidak bisa tidak menjamah keinsanian-Nya. Dan ketika Anda menjamah keinsanian-Nya, bersamaan dengan itu Anda juga menjamah keilahian-Nya. Demikian pula hari ini, Kristus dan Roh Kudus adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Anda dapat memakai kedua istilah itu bergantian seperti sinonim. Roh Kudus ada di dalam Dia, dan Dia ada di dalam Roh Kudus.

DIA DAPAT TINGGAL DI DALAM KITA

Kita baca lagi ayat 19 dan 20, “Sesaat lagi dunia tidak akan melihat Aku lagi, tetapi kamu akan melihat Aku, sebab Aku hidup dan kamu pun akan hidup. Pada waktu itulah kamu akan tahu bahwa Aku di dalam Bapa-Ku dan kamu di dalam Aku dan Aku di dalam kamu.”

Pada ayat di atas Tuhan memberi tahu kita tujuan di balik penanggalan tubuh daging-Nya dan masuknya Dia ke dalam Roh Kudus, yaitu agar kita kaum beriman tahu bahwa “Aku di dalam Bapa dan kamu di dalam Aku dan Aku di dalam kamu”; sehingga tercapailah satu kesatuan yang sempurna. Perkara ini akan menjadi kenyataan “pada hari itu”, ketika Kristus ada di dalam Roh Kudus, Roh Kudus masuk ke dalam kita. Saat itulah kita tahu kesatuan Kristus di dalam Bapa dan kita di dalam Kristus dan Kristus di dalam kita.

Kesatuan sedemikian inilah membuat segala yang dikerjakan Allah di atas diri Kristus dapat tergarap ke dalam kita. Segala hakiki Allah, juga melalui Kristus tergarap ke dalam kita, menjadi bagian kita. Demikianlah Allah berbaur menjadi satu dengan manusia.

KITA MENJADI SATU ROH DENGAN KRISTUS

Kristus telah mati bagi kita, juga telah bangkit bagi kita. Tetapi jika Ia tidak datang kembali dalam Roh Kudus, maka karunia keselamatan tetap belum tergenap, karena Kristus belum bersatu dengan kita. Ia akan seperti guru saya dulu, yang berharap bisa masuk ke dalam saya, tetapi sayang tidak bisa.

Tetapi kini Kristus telah memiliki satu tubuh rohani, Dia dapat masuk ke dalam kita. Kita dapat menerima Kristus ke dalam kita, karena Dia ada di dalam Roh. Alkitab pun mengatakan, “Siapa yang mengikatkan dirinya pada Tuhan, menjadi satu roh dengan Dia.” Kristus ada di dalam Roh Kudus, kita masing-masing memiliki roh. Begitu roh kita menerima Kristus yang adalah Roh itu, keduanya menjadi satu roh. Inilah yang paling mustika. Kalau tidak ada ini, apa yang kita percayai adalah agama biasa yang tidak begitu berarti, tidak dapat menggenapkan keselamatan batini.

KRISTUS PERGI, BERGUNA BAGI KITA

Mari kita baca lagi Yohanes 16:7, “Namun benar yang Kukatakan ini kepadamu: Lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penolong itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu.”

Di sini Kristus memberi tahu kita kebenaran tentang kematian-Nya. Selama Ia masih dalam tubuh daging, Penghibur itu tidak akan dapat datang. Kalau Ia masih berupa Kristus yang di dalam tubuh daging, maka Kristus yang di dalam Roh Kudus tidak dapat datang. Karena itu, kematian-Nya lebih berguna bagi kita.

Ketika saya di Shanghai, seorang saudara berkata, “Sayang sekali Kristus telah terangkat. Kalau hari ini Ia masih di atas bumi, aku pasti segera pergi kepada-Nya, tidak peduli berapa jauhnya Ia dariku. Betapa aku ingin dapat seperti murid-murid-Nya pada saat itu, yang dapat hidup, berjalan, makan, . . . bersama-sama Dia.” Sambil mendengarkan dia, saya menatap wajahnya dan berkata, “Kalau saya tidak pernah mendambakan seperti Petrus, Yohanes atau murid-murid yang lain!” Ia segera bertanya, “Apa maksudmu?”

Saya berkata, “Tahukah kamu, bahwa Kristus yang saya kenal jauh lebih tegas daripada yang dikenal oleh Petrus dan teman-temannya saat itu? Tidak hanya saya, tetapi setiap orang yang menerima Kristus seharusnya dapat berkata bahwa Kristus yang kita terima tidak hanya Kristus dalam tubuh daging yang pernah dijamah oleh Petrus, bahkan Kristus yang di dalam Roh. Kristus mereka dapat berpisah dengan mereka. Hari ini beserta, esok harinya belum tentu. Tetapi Kristus kita selama-lamanya bersama dengan kita. Di mana pun kita berada, Dia ada di sana. Bahkan saya tidak takut pergi ke neraka sekalipun, karena kalau saya pergi ke sana, maka Allah yang ada di dalam saya juga akan ikut pergi ke sana.”

DI DALAM ROH BARU DAPAT MENGENAL DIA

Kapan Petrus baru mengenal Kristus dengan jelas? Bukan dalam tiga tahun ketika ia mengikuti Tuhan ke sana ke mari. Yang mereka kenal saat itu hanyalah Yesus dari Nazaret. Setelah Kristus bangkit, berada di dalam Roh Kudus, barulah mereka mengenal Kristus seperti kita hari ini. Kalau Kristus tidak di dalam Roh Kudus, masuk ke dalam kita, kita pun tidak akan mengenal Dia secara nyata.

Beberapa tahun yang lalu, saya sing gah di Mesir. Beberapa orang misionaris dalam kelompok kami menganjuri saya singgah di Palestina, dan tinggal di sana dua bulan. Kata mereka, “Kunjungilah Yerusalem, Betlehem, tempat Yesus lahir, gunung Golgota, tempat Yesus disalib, dan banyak lagi tempat bersejarah, hal ini akan menguatkan imanmu.”

Pada saat itu, saya memiliki waktu dan kemampuan untuk bepergian. Tetapi saya menjawab mereka, “Aku tidak ingin pergi ke sana. Hal itu tidak akan menguatkan imanku, atau membantuku mengenal kristus lebih banyak. Kristus yang kupercayai tidak akan terpengaruh oleh Yerusalem. Sekalipun Yerusalem tidak ada lagi, Galilea dan Nazaret telah lenyap, aku tetap mengenal Dia. Aku esa dengan Dia, dan pengalamanku terhadap-Nya tidak bisa dipengaruhi oleh faktor luaran apa pun. Aku sama sekali tidak berminat kepada apa yang disebut malaf, kayu salib, paku-paku yang besar, dan barang-barang peninggalan lainnya. Barangbarang itu paling banyak membantuku mengenal Kristus dalam tubuh daging, tetapi aku lebih memustikakan pengenalan Kristus di dalam roh.” Kristus yang di dalam Roh lebih riil, karena itu pengenalan sedemikian juga lebih riil, lebih riil daripada kehadiran Anda dan saya di sini.

KRISTUS YANG HIDUP DI DALAM KITA

Kita telah membaca sebuah ayat Alkitab yang menyuruh kita tidak lagi mengenal Kristus menurut tubuh daging. Kalau kepercayaan kita adalah satu agama yang di luar, maka kita perlu ada satu tempat kudus, seperti agama lainnya sebagai pusat kita, sehingga kita dapat menyembahnya dan berkiblat padanya. Tetapi yang kita percayai adalah Kristus yang hidup di dalam kita, yang membuat kita tahu bahwa Dia hidup di dalam kita, bersamaan dengan itu, Ia pun adalah Allah yang di surga.

Kita mengenal Dia tidak saja sebagai Allah yang di surga, Dia pun pernah menjadi Kristus yang bertubuh daging, dan sekarang telah tinggal di dalam Roh Kudus. Kristus dalam tubuh daging telah berlalu, kini adalah Kristus yang di dalam Roh Kudus, yang dapat masuk ke dalam kita.

Teman yang kekasih, saya ingin bertanya, Kristus yang Anda kenal adalah Kristus yang di dalam tubuh daging, atau di dalam Roh Kudus? Atau dengan kata lain, Kristus yang Anda kenal adalah Kristus yang di dalam keempat kitab Injil, atau Kristus yang dalam Surat-surat Rasuli? Saya tidak mengatakan Anda tidak perlu percaya kepada Kristus yang ada dalam empat kitab Injil. Anda perlu percaya kepada-Nya. Tetapi itu hanyalah separuh yang di depan, Anda masih perlu menambahkan separuh lagi, yaitu Kristus yang ada di dalam Roh Kudus.

Sampai di sini, kita telah melihat tiga aspek hakiki Allah, yang juga adalah tiga aspek kepercayaan kita kepada Allah. Pertama, Dia adalah Allah yang di surga; kedua, Dia adalah Allah yang datang ke bumi menjadi manusia; ketiga, Dia adalah Allah di dalam Roh Kudus. Ketiga aspek ini juga merupakan tiga langkah pengalaman kita terhadap Allah.