ORANG DOSA JUGA TERSALIB BERSAMA TUHAN
Allah senang memberikan hayat-Nya kepada manusia. Ini adalah satu butir yang paling penting dalam cara penyelamatan Allah. Hanya dengan memiliki hayat Allah, baru dapat memiliki kehidupan yang mirip Allah. Mustahil kita menempuh hidup yang mirip Allah dengan hayat insani kita, karena yang diekspresikan hayat manusia adalah dosa. Sebab itu, Allah harus terlebih dulu membereskan segala dosa yang kita perbuat, mengampuni dosa-dosa kita, dengan tidak menyalahi kebenaran-Nya sendiri. Telah kita lihat bahwa Putra Allah dihakimi demi tujuan tersebut. Dan karena kita di dalam Putra-Nya, maka segala dosa kita telah diampuni.
MASIH PERLU MEMBERESKAN SUMBER DOSA
Namun keselamatan Allah tidak berhenti pada pengampunan dosa, melainkan menjangkau lebih tuntas dari itu, yaitu membereskan sumber dosa. Karena telah kita lihat bahwa berdosanya manusia bukan bersumber dari lingkungan yang tidak baik, melainkan bersumber dari diri manusia yang memang rusak. Hayat yang bagaimana, pasti mengekspresikan keadaan yang bagaimana. Hayat manusia telah rusak, dengan sendirinya timbullah kehidupan dosa.
Misalnya, ketika saya menggunakan jari tangan saya mengetuk-ngetuk sebuah meja kayu, kalian akan mendengar suara “tok, tok, tok”, dan mengatakan bahwa suara itu dihasilkan dari kayu. Kalau saya mengetuk lempengan besi, akan terdengar suara “teng, teng, teng”, dan kita tahu suara itu dihasilkan dari besi. Suara yang dihasilkan berbeda, bukan karena cara saya mengetuknya lain, melainkan karena kadar bendanya lain. Tidak peduli bagaimana cara saya mengetuknya, saya tidak akan dapat mengetuk kayu sehingga mengeluarkan bunyi seperti besi. Demikian pula sebaliknya.
Ekspresi hidup manusia juga demikian. Lingkungan kita tidak bisa mengeluarkan sesuatu yang tidak ada di dalam kita. Orang yang lamban, dalam lingkungan bagaimanapun ia akan lamban, tidak tergesa-gesa. Tetapi orang yang tergesa-gesa, begitu lingkungan mengetuknya sedikit, segeralah terburu-burunya itu muncul. Semua ekspresi luaran tergantung bagaimana keadaan hayat di dalam. Sebab itu, pencobaan dalam lingkungan hanyalah sarana yang mengungkapkan barang yang ada di dalam. Lingkungan tidak dapat membuat apa yang tidak ada di dalam manusia tertampil keluar.
LINGKUNGAN MENYINGKAPKAN HAYAT KITA
Seorang teman pernah memberi tahu saya bahwa manusia terkendali oleh lingkungan; suatu lingkungan yang baik akan menghasilkan pribadi yang baik, dan lingkungan yang buruk akan menghasilkan pribadi yang buruk pula. Dalam lingkungan yang baik, orang akan menjadi baik; dalam lingkungan yang buruk, orang juga akan menjadi buruk.
Saya berkata, “Jika menurut pendapat Anda demikian, maka dapat dikatakan bahwa semua ikan di laut pastilah asin, karena air laut itu asin; semua ikan di sungai-sungai pastilah tawar, karena airnya tawar. Tidak demikian. Lingkungan tidak bisa mengendalikan apa yang tidak ada di dalam kita. Lingkungan hanya menyingkapkan apa yang sebenarnya ada di dalam kita!
Apa yang terdapat dalam hayat manusia? Batin manusia sungguh penuh dengan kejahatan, kebobrokan. Sedikit diketuk saja, segeralah ternyata apa adanya. Banyak moralis berkata bahwa yang perlu dilakukan seseorang adalah mengekang diri sendiri, kalau mampu, itu baik. Banyak orang yang berusaha mengekang diri sendiri, tidak berani kendur, karena begitu kendur sedikit, segera tersembul apa adanya. Demikianlah orang menjadi orang yang sangat terikat, setiap hari mengekang dan menindas keinginan diri. Tetapi kenyataannya, tidak tahan lama, tidak berhasil.
ALLAH TIDAK MENGUBAH HAYAT KITA
Dapatkah kita mengubah hayat kita? Tidak! Kita mustahil mengubahnya, Allah pun tidak ingin mengubahnya. Hayat manusia seperti pabrik dosa, setiap hari memproduksi dosa. Maka, selain mengampuni dosa, Allah masih perlu membereskan sumber berdosanya kita. Kalau Allah tidak mengubah hayat kita, bagaimanakah Ia menyelamatkan kita? Inilah yang akan kita lihat, yaitu aspek kedua dari keselamatan-Nya.
Roma 6:7 mengatakan, “Sebab siapa yang telah mati, ia telah bebas dari dosa.” Jika seseorang ingin mendapatkan keselamatan, terlepas dari kehidupan dosanya, satu-satunya cara adalah mati. Orang yang mati bebas dari dosa, tidak mungkin berdosa lagi.
Saya kenal seorang teman yang gemar bermain kartu. Siang malam ia dikuasai oleh permainan itu, kalau tidak ada teman bermain, ia sangat tersiksa. Jika tidak main, ia merasa sedikit senang asal dapat melihat orang main, dan ia ikut memegang-megang kartunya. Seluruh hidupnya dikuasai oleh kartu. Namun, sekarang ia telah tiada. Begitu dia meninggal, dia tidak dapat main kartu lagi. Kalaupun Anda menyisipkan kartu-kartu di sela jari-jari tangannya, ia tidak akan memegangnya. Kematian telah melepaskan dia dari kartu-kartu itu.
Misalnya lagi, ada seorang yang begitu sombong, sangat senang membanggakan dirinya sendiri, tidak ada satu cara pun untuk membuang kesombongannya itu. Suatu hari, ia mati. Saat itu, kalaupun orang seluruh dunia datang mengitarinya dan memuji-mujinya, menyanjung hidupnya yang baik, apa yang akan dilakukannya? Masih dapatkah membanggakan diri?
KEMATIAN MELEPASKAN KITA DARI DOSA
Sebab itu, cara penyelamatan Allah bagi manusia adalah kematian! Orang yang mati bebas dari dosa.
Kita perlu melihat ayat yang berada di depan ayat yang kita baca tadi. Roma 6:6 mengatakan, “Karena kita tahu bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa.” Kita perlu mengamati dengan cermat ayat ini.
Frase “hilang kuasanya”, dalam bahasa aslinya mengandung dua arti: yang satu tidak ada pekerjaan, menganggur; sedang lainnya lumpuh, tidak bisa bergerak lagi. Dalam hal ini, penekanannya lebih berat ke pengangguran. Jadi kita dapat menerjemahkan, “supaya tubuh dosa kita kehilangan pekerjaannya.”
DOSA, MANUSIA LAMA, DAN TUBUH
Dalam ayat di atas ada tiga hal penting, pertama adalah dosa; kedua adalah manusia lama; dan ketiga adalah tubuh. Dosa adalah satu benda yang berpribadi, bisa menjadi tuan. Dosa, di sini tidak mengacu kepada perkara-perkara dosa yang diperbuat, melainkan kepada satu tuan yang berkekuasaan, yang bisa mengendalikan manusia, bisa mencengkeram manusia, membuat manusia melakukan perkara-perkara dosa. Manusia menjadilah hamba dosa, diatur oleh tuan dosa ini, mendengarkan perintahnya, melakukan berbagai macam dosa.
Dalam keadaan biasa, manusia tidak begitu merasakan kekuatan sang tuan ini. Tetapi begitu ia sadar dan ingin menaklukkannya, ia segera tahu betapa banyaknya tenaga yang harus dikeluarkannya, dan ini pun tetap tidak bisa mengalahkan kuasa dosa itu. Kalau Anda berusaha mengendalikan amarah Anda, ingin sabar, telah menggunakan banyak tenaga untuk menahannya, tetapi entah bagaimana tiba-tiba telah meletus lagi amarah, tidak dapat sabar. Dosa adalah tuan, yang memaksa manusia melakukan perkara dosa.
Manusia lama yang disebut dalam Alkitab, mengacu kepada diri manusia kita. Pada dasarnya manusia ini senang akan dosa. Ketika dosa datang menggoda, dan manusia mendengar suara godaan dosa itu, manusia senang mendengarnya sehingga tunduk kepada pengaturannya. Dosa memang memiliki kuasa, ditambah dengan respon manusia lama kita, segeralah terjadi satu kaitan yang mengikat.
Dalam keadaan demikian, kedua peran itu mencari sasaran dan menemukan tubuh; dan tubuh pun mereka pakai untuk melakukan aksinya. Mungkin menyuruh mata melihat, menyuruh telinga mendengar, menyuruh tangan melakukan sesuatu atau menyuruh kaki melangkah ke tujuan. Demikianlah tubuh melakukan perintah yang diperintahkan oleh dosa dan juga disetujui oleh manusia lama. Dosa sebagai pemegang perintah, manusia lama tunduk kepada perintah ini, dan tubuh melaksanakan perintah ini, timbullah perbuatan dosa. Ketiganya adalah satu, juga serasi. Melalui kerja sama ketiganya inilah berbagai macam dosa dilakukan.
BUKAN MENCABUT DOSA
Penyelamatan Allah adalah menyelamatkan kita terlepas dari dosa. Tetapi cara penyelamatan Allah berbeda dengan konsepsi kita. Menurut konsepsi kita pada umumnya, asal dapat mencabut dosa keluar dari tubuh kita, itu sudah cukup, dan kita tidak akan melakukan dosa lagi. Tetapi cara penyelamatan Allah bukan mencabut dosa dari diri kita, bukan seperti mencabut sebuah pohon beserta akar-akarnya. Ia tidak berbuat demikian.
Orang Timur ada satu konsepsi bahwa asal seseorang dapat menekan dosa sedemikian rupa, sehingga dosa tidak bisa berkutik, maka kita tidak akan berdosa lagi. Tetapi faktanya, kita adalah orang yang senang akan dosa, sehingga sama sekali tidak ingin menekan dosa. Kalaupun memaksakan diri menekannya, juga tidak akan berhasil. Cara penyelamatan Allah bukan dengan mencabut dosa, juga bukan menanggulangi tubuh, melainkan Dia mengganti persona di dalam kita. Manusia lama yang senang akan dosa itu disingkirkan dan diganti dengan satu hayat yang tidak senang akan dosa. Ketika cobaan dosa datang, maka hayat/ hidup baru itu dengan sendirinya tidak menyukainya, tidak menanggapinya. Dengan demikian, tubuh kehilangan fungsinya untuk menampilkan dosa-dosa.
ALLAH HANYA MENANGGULANGI MANUSIA LAMA
Jadi, cara penyelamatan Allah sama sekali berbeda dengan konsepsi agama. Allah tidak menanggulangi dosa, dosa dibiarkan dan tidak dihiraukan; demikian juga Ia tidak menanggulangi tubuh. Yang ditanggulangi Allah adalah manusia lama batini kita. Manusia lama kita itu adalah hayat kita. Mematikan manusia lama, berarti hayat lama diakhiri, dan satu hayat baru ditaruh untuk menggantikannya. Dosa yang di sini dan tubuh yang di sana dibiarkan, hanya peran di tengah yang diganti dengan yang baru, sehingga dosa tidak dapat melewatinya dan mencapai tubuh.
Manusia yang tersusun dari hayat baru ini disebut “manusia baru” di dalam Alkitab. Bila cobaan dosa datang lagi, reaksi manusia baru dan manusia lama mutlak berbeda. Manusia baru ini tidak lagi menerima godaannya, tidak lagi menyetujuinya. Ia tidak sama seperti manusia lama yang sering berespon pada usul dosa, yang mengakibatkan tubuh berbuat dosa. Manusia baru berdiri menentang dosa, tidak mendengarkan bujukan dan usul dosa.
MENGANGGUR DALAM HAL BERDOSA
Lalu, bagaimana dengan tubuh? Walaupun tubuh masih senang menjadi hamba dosa, tetapi kuasa dosa telah dibatasi oleh manusia baru, sehingga tidak dapat tersalur ke tubuh. Manusia baru ini tidak lagi mendengarkan perintah dosa, tidak lagi menyetujui usulan dosa, sehingga tubuh tidak lagi dapat melakukan sesuatu, berarti juga ia menganggur. Dulu, mulut kita sering memaki orang, sekarang mulut ini tidak memaki orang lagi, ia kehilangan pekerjaannya. Dulu, tangan kita sering memukul orang, berkelahi; sekarang, manusia baru tidak senang berkelahi, maka tangan pun tidak lagi memukul, ia juga menganggur. Sekarang mata kita menganggur terhadap hal-hal yang tidak seharusnya kita lihat; telinga kita telah menganggur terhadap hal-hal yang tidak seharusnya kita dengar. Demikianlah tubuh yang berdosa telah menjadi pengangguran dalam hal-hal berdosa.
Inilah yang dimaksudkan oleh Alkitab yang mengatakan “bahwa manusia lama kita telah disalibkan bersama Dia.” Alkitab dengan jelas memberi tahu kita bahwa yang Allah bereskan adalah manusia lama kita. Bagaimanakah hasilnya? “supaya tubuh dosa kita menganggur, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa.” Kita tidak lagi berada di bawah pengaturan dosa. Kita tidak ada hubungan lagi dengan dosa, tidak lagi menempuh hidup yang berdosa.
Kita dapat melihat bahwa titik dasar cara penyelamatan Allah adalah terlebih dulu membereskan hayat kita. Hayat kita, yang adalah manusia lama kita, di pandangan Allah haruslah mati. Kalau hayat ini tidak mati, ia akan menghasilkan betapa banyak dosa. Ia akan melahirkan iri hati, kesombongan, pembunuhan, perzinaan, dan masih banyak lainnya. Begitu terlahir, ia memang senang akan dosa, tidak peduli Anda bagaimana menekannya, mengekangnya, ia tetap senang berbuat dosa. Jika menyuruh dia berbuat dosa, tak perlu mengeluarkan tenaga dan usaha; tetapi menyuruh dia tidak berdosa, menyuruh dia sabar, amat sangat sulitnya, bahkan tidak mungkin. Sebab itu, Allah tidak ada cara lain selain mematikannya. Hidupnya harus diakhiri, dan manusia lama harus mati. Kapan manusia lama mati, dosa pun akan kehilangan pasangannya.
MEMATIKANNYA
Suatu kali, saya mengunjungi seorang teman. Ia mempunyai seorang pembantu yang sangat menyulitkan dia. Pembantu ini tidak saja tidak mau bekerja dengan baik, malahan mencuri. Ia melakukan kejahatan yang dapat dilakukan oleh seorang pembantu. Teman saya bertanya kepada saya, bagaimana menghadapi masalah ini. Maksudnya, agar saya menasihati dia sehingga dia dapat berubah. Saya menjawab, caranya sangat sederhana, tidak dengan mengubah dia, gantilah dia! Persilakan dia pergi dan gantilah dengan yang lain! Cara Allah membereskan kita pun demikian. Hayat manusia tidak mungkin diperbaiki melalui nasihat, ia tidak dapat diubah. Allah seolah berkata, “Aku tidak memerlukan engkau lagi.” Dengan demikian Ia mematikannya. Inilah cara penyelamatan Allah.
Di sinilah perbedaan antara cara penyelamatan Allah dengan konsepsi kita. Kita sering berharap dapat menindas dosa, menaklukkan cobaan dosa, tetapi apakah hasilnya? Saya mengakui ada orang yang tidak percaya Tuhan, tetapi hidupnya berbeda dengan yang dulu. Penampilan mereka berubah, dulu penuh dosa, kini tidak berbuat dosa lagi; dulu sangat kasar, sekarang lemah lembut. Tetapi ini bukan cara penyelamatan Allah. Cara penyelamatan Allah tidak memandang berapa banyaknya dosa yang dulu Anda lakukan, dan sekarang telah berkurang; atau dulu sangat kasar, dan sekarang lembut. Allah melihat hayat kita adalah hayat yang berdosa, karena itu Ia membereskan dari dasarnya, yaitu mengenyahkan hayat itu. Selama hayat ini hidup, ia akan terus berbuat dosa. Tetapi begitu hayat ini mati, dosa pun terhenti.
BUKAN DIANGGAP MATI
Kematian ini bukan kematian yang dibicarakan orang-orang, yang hanya menganggap bahwa segala yang lampau telah berlalu dan mati. Misalnya ada orang berkata, “Aku mudah sekali memaki orang, tabiatku sangat jelek. Sejak kini kuanggap aku telah mati, yang dulu telah berlalu, dan aku tidak akan marah-marah lagi.” Yang mengherankan adalah, Anda boleh sekuat tenaga menganggap amarah Anda telah berlalu dan mati, tetapi nyatanya amarah Anda selalu muncul lagi. Anda hanya dapat beranggapan secara psikologis, dan kenyataannya amarah Anda masih tetap hidup, terus mengganggu Anda di mana pun Anda berada. Setiap saat Anda berpaling, ia ada di sana. Anda tidak dapat membebaskan diri dari amarah, tidak peduli bagaimana kerasnya usaha Anda.
MATI DALAM KRISTUS
Bagaimana kita dapat mati? Jawabannya kembali kepada satu fakta bahwa Allah telah menaruh kita di dalam Kristus. Allah telah membuat Kristus mati, dan bila kita ada di dalam Dia, kita pun mati. Telah kita katakan bahwa kita bisa mendapat pengampunan dosa karena kita berada di dalam Kristus. Ketika Allah menghukum Kristus, berarti Ia juga telah menghukum kita, sehingga dosa kita diampuni. Kita tidak berdaya mematikan diri sendiri. Allahlah yang mencakupkan kita ke dalam kematian Kristus, demikianlah kita mati di dalam Kristus.
Mari kita lihat lagi Roma 6:6, “Karena kita tahu bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan.” Manusia lama kita harus mati, jika tidak, tidak ada jalan lain. Namun, mati bukanlah perkara sederhana. Karena itu, Allah membuat kita tercakup dalam Kristus dan turut disalibkan. Ketika Kristus mati di salib, kita semua tercakup di dalam-Nya. Sejak saat itu, kita bukan lagi diri kita, kita sudah tidak ada lagi. Bukan kita yang mati disalibkan, melainkan kita tersalib bersama Dia. Asal Anda berada di dalam Kristus, manusia lama Anda pasti akan terbereskan, sehingga dapat dari dasarnya terlepas dari dosa.
TERSALIB BERSAMA KRISTUS
Kita di dalam Kristus, mati bersama Kristus. Bukan hanya Kitab Roma mengatakan demikian, kitab-kitab lain pun mengatakan demikian. Galatia 2:19b-20 mengatakan, “Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup.” Sekarang yang hidup bukan aku lagi, karena aku telah disalibkan bersama Kristus.
Kita lihat lagi Galatia 5:24, “Siapa saja yang menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya.” Bukan kita yang menyalibkan diri sendiri, melainkan kita tersalib bersama-Nya.
Telah kita lihat, ketika Kristus terpaku di salib, Ia menanggung dosa-dosa kita. Sekarang kita melihat bahwa Ia pun memikul diri kita di atas salib. Dia telah menanggung dosa-dosa kita, juga telah menggantikan manusia kita. Hari itu, di atas salib, bukan hanya ada dosa Anda dan saya, bahkan ada manusia Anda dan saya. Allah tidak hanya mencakup semua dosa kita di dalam kristus, juga mencakup manusia kita di dalam-Nya. Sebab itu, ketika Allah menyalibkan Yesus Kristus, kita pun tersalib. Betapa baiknya jika kita dapat nampak ini.
Ada satu kidung yang melukiskan fakta ini dengan baik:
Dengan Kristus, ku tersalib, barulah ku terlepas.
Dengan Kristus, aku bangkit, jiwaku dikuasai-Nya.
Mati sertanya sungguhlah nyaman! Lepas diri dan dunia!
Hidup serta-Nya sungguhlah mulia! jiwaku dikuasai-Nya!
KRISTUS ADALAH MANUSIA KORPORAT
Dalam Alkitab kita dapat melihat bahwa Kristus bukanlah persona individual, Ia adalah Manusia korporat. Seperti contoh yang telah kita katakan di depan, bahwa bangsa China adalah keturunan Huang Ti. Kalau waktu itu, ada orang membunuh Huang Ti, maka semua keturunannya pun mati. Demikian pula, kita semua tercakup di dalam Kristus. Ketika Kristus mati di atas salib, maka semua orang yang ada di dalam-Nya juga turut mati di atas salib. Dia menerima hukuman, maka semua dosa kita dapat diampuni. Karena Dia telah mati, maka kita dapat terlepas dari dosa. Di pihak negatifnya, ekspresi luaran dari dosa kita, maupun hayat dosa di dalam kita telah dibereskan. Di pihak positifnya, di dalam Kristus kita memiliki satu permulaan baru, dari Allah mendapat satu hidup (hayat) baru.