← Daftar isi Kristus dan Hidup Baru · bab 1/4

PENGAMPUNAN DOSA

Dalam menggenapkan pekerjaan-Nya atas manusia, Allah tidak perlu berurusan dengan orang per orang. Ia mencakup seluruh umat manusia di dalam Kristus. Allah hanya bekerja di atas diri Kristus, dan apa yang ada pada Kristus tergarap pula ke dalam kita. Doktrin tentang penyelamatan Allah atas manusia ada dalam Kristus, dalam Dia pula Allah memberi manusia satu hidup (hayat) baru.

Karena itu, Allah tidak bermaksud mengubah tingkah laku luar kita, melainkan Ia akan menggantikan hidup (hayat) kita yang lama dengan yang baru. Allah dapat menggantikan hidup (hayat) yang lama dengan yang baru juga dikerjakan di dalam Kristus. Asal kita berada di dalam Kristus, pekerjaan penggantian itu dengan sendirinya tergenap atas diri kita.

BEBERAPA HAL YANG HARUS DILAKSANAKAN

Namun, sebelum Allah dapat memberikan satu hayat (hidup) baru kepada kita, ada beberapa hal yang perlu dilaksanakan. Kalau hal-hal itu tidak dibereskan, Allah tidak mungkin memberikan hayat baru kepada kita, dan kita tidak mungkin memiliki hak untuk mendapatkan hayat itu. Kita tahu bahwa perkara paling penting dalam kepercayaan orang Kristen adalah pemilikan satu hayat baru dari Allah. Tetapi sebelum itu, ada beberapa prasyarat yang harus dibereskan, kalau tidak kita tidak akan dapat berbagian dalam hayat itu. Sebab itu, hal ini, yang menduduki posisi sangat penting, patut kita perhatikan.

PENGAMPUNAN DOSA

Hal pertama adalah dosa-dosa kita harus terlebih dulu mendapat pengampunan. Hal ini akan membuat Allah berkedudukan, memberi hayat baru kepada kita.

Kita semua tahu bahwa tingkah laku yang ternyata dari hayat alamiah kita sangatlah jahat, dan ini ternyata pada dosa-dosa yang kita perbuat. Ada orang melakukan dosa-dosa yang kasar dan kotor, sedang yang lain mungkin terlibat dalam dosa-dosa yang lebih halus, terencana dan tersembunyi. Tetapi baik yang kasar maupun yang halus, semuanya harus terlebih dulu mendapat pengampunan. Dosa-dosa itu harus diampuni dengan adil dan tepat, kemudian baru dapat menerima hayat Allah.

PEMBERESAN HAYAT LAMA

Kedua, hayat yang membuat kita berdosa itu harus dibereskan dengan tuntas. Kalau hayat ini tidak dicabut berikut akarnya, tetap saja ada kemungkinan berdosa; hayat itu akan terus menghasilkan buah yang rusak, membuat tutur kata dan tindakan Anda tetap dalam dosa. Sebab itu, Allah harus membereskan dengan tuntas hayat lama kita, diakhiri secara mutlak.

Setelah kedua hal itu dibereskan, Allah dapat dalam Kristus memberikan satu hayat baru kepada kita, supaya hari-hari selanjutnya kita dapat hidup berdasarkan hayat itu. Saat inilah kita baru dapat menempuh hidup yang serupa Allah di bumi dan mencapai tujuan-Nya.

TIDAK CUKUP HANYA BERTOBAT

Bagaimana Allah mengampuni dosa-dosa kita? Banyak orang yang memiliki konsepsi yang salah mengenai hal ini. Mereka mengira, walaupun mereka telah berbuat banyak dosa, semua itu dapat dimaafkan bila mereka bertobat atas sikap mereka yang jahat itu.

Tetapi saya ingin memberi tahu Anda, pertobatan tidak pernah dapat menghapuskan suatu dosa yang telah Anda lakukan, karena kasus dosa itu masih ada. Anda boleh bertobat atas dosa-dosa yang telah Anda perbuat, tetapi dosadosa itu tidak akan terhapus hanya dengan pertobatan Anda.

Ketika saya berkhotbah di Kai Feng, beberapa pejabat pemerintah juga hadir dalam pertemuan itu. Saya berkata kepada mereka, misalnya ada seorang pejabat telah berbuat banyak kejahatan dan membunuh banyak orang, beberapa waktu lamanya ia tidak tertangkap. Pada suatu hari, tibatiba ia muncul di hadapan Anda, berkata, “Aku menyesal atas kejahatan-kejahatanku di masa lampau. Sejak sekarang aku akan berubah. Aku memutuskan menjadi warga negara yang patuh pada hukum dan menjadi seorang manusia yang baik.” Coba katakan kepada saya, dapatkah penyesalannya menghapuskan segala kejahatannya yang dulu, segala perkara yang menghukumnya karena korban-korban kejahatannya, dan segala tuduhan hukum atas dirinya? Dapatkah hal-hal itu ditiadakan? Akankah hukum negara membiarkannya begitu saja?

KEADILAN ALLAH HARUS DIPERTAHANKAN

Alkitab memperlihatkan kepada kita bahwa segala dosa mengakibatkan satu hukuman tertentu. Segala yang kita lakukan, segala yang kita perbuat, tidak akan ada satu pun yang akan berlalu begitu saja. Penampilan luaran hayat kita penuh dosa. Tidak hanya berdosa terhadap diri sendiri, juga berdosa terhadap orang lain, bahkan berdosa terhadap Allah. Allah adalah Allah yang adil. Ia tidak dapat melewatkan dosa-dosa manusia dengan begitu saja. Keadilan-Nya tidak membiarkan dosa-dosa manusia lewat begitu saja.

Saya ingat suatu kisah nyata: Dulu ada seorang membunuh orang lain dan merampas uangnya. Kemudian ia lari ke kota lain. Di sana ia menikah dan mempunyai beberapa orang anak. Orang-orang di tempat itu tidak ada yang tahu masa lampaunya.

Suatu hari, tiga orang detektif datang mencari dia. Mereka berhasil menemukan orang itu dan menangkapnya. Ketika akan dibawa pergi, ia berpaling kepada istrinya dan bertanya, “Selama bertahun-tahun aku bersama-sama engkau, bukankah aku seorang suami yang baik?” Istrinya berkata, “Engkau benar-benar seorang suami yang baik.” Lalu ia berpaling kepada anak-anaknya, katanya, “Bukankah aku bapa yang baik bagi kamu semua?” Anak-anaknya pun mengakui bahwa ia benar-benar bapa yang baik. Terakhir, ia memandang tetangga-tetangganya, katanya, “Selama ini, pernahkah aku merugikan kalian atau bersalah kepada kalian? Bukankah aku seorang warga yang baik?” Para tetangga tanpa ragu-ragu setuju bahwa ia orang yang baik.

Lalu ia berpaling kepada ketiga orang detektif itu dan membela diri, katanya, “Lihat, selama ini aku adalah orang baik. Mereka ini sudah bersaksi bahwa aku tidak pernah bersalah. Kalian harus membebaskan aku!” Ketiga detektif itu menjawab, “Anda boleh saja baik di hadapan orang-orang, tetapi Anda tidak benar di hadapan hukum. Pertobatan Anda mungkin menjaga keadaan Anda yang tidak bersalah lagi, tetapi Anda tidak dapat menyingkirkan kesalahan Anda di masa lampau, juga tidak dapat meloloskan Anda dari hukuman.” Akhirnya, ia tetap harus menghadap ke pengadilan.

HATI NURANI TIDAK MELEWATKAN

Bahkan, hati nurani kita pun tidak melewatkan kita. Ketika hati nurani tertidur, kita tidak terlalu merasa bersalah. Meskipun hati nurani sering tertidur, tetapi ia tidak pernah mati. Begitu hati nurani terbangun, ia akan menyadarkan kita akan dosa-dosa kita, dan membuat kita merasa tidak tenang. Mungkin hari ini ia diam, tetapi ia tidak akan tutup mulut selamanya. Ia tidak akan membiarkan apa yang telah dilakukan seseorang di masa lampau.

PENGAMPUNAN ALLAH BERDASAR PADA KEADILAN ALLAH

Allah tidak dapat dengan sembarangan mengampuni dosa-dosa kita. Kalau kita berdosa dengan sembarangan, dan Allah mengampuninya juga dengan sembarangan, maka saya akan berkata dengan tegas, Allah sendiri jatuh ke dalam dosa. Allah bukannya tidak dapat mengampuni dosa, tetapi Allah hanya dapat memberi pengampunan atas keadaan sesuai dengan martabat-Nya. Ia tidak dapat karena mengampuni dosa-dosa kita, malah membuat diri-Nya tidak benar. Allah selamanya Allah yang adil.

Di Kai Feng, saya bertemu dengan seorang Kristen bermarga Wen. Ia adalah pimpinan di satu pengadilan negeri. Suatu hari ia mengundang saya makan malam. Selesai makan malam, ia mengutarakan kesulitan yang dihadapinya. Dalam kantornya ada beberapa orang diketahui terlibat dalam penipuan sebesar lebih dari sepuluh ribu dolar. Perbuatan itu terungkap dan orang-orang yang bersalah ditahan. Menurut hukum, orang-orang yang menggelapkan uang di atas lima ribu dolar harus dihukum mati. Sebab itu, menurut hukum, mereka harus menjalani hukuman mati.

Wen berkata kepada saya, “Sebagai orang Kristen, aku sangat enggan menghukum mati orang. Tetapi kalau aku mengampuni mereka, maka aku sendiri bersalah dengan melanggar hukum. Namun, menghukum mati mereka, aku tidak tega, dan tidak tahan memikirkan akan menghukum mati orang! Aku sungguh sulit. Bagaimana pendapatmu?” Hari itu saya pun tidak dapat mencarikan jalan untuk menyelamatkan mereka. Hukum itu mutlak! Tidak ada jalan keluar lainnya. Sebagai orang Kristen, kita tidak dapat melanggar hukum dan jatuh ke dalam ketidakadilan. Namun, kalau menjunjung keadilan, nyawa orang lain akan hilang karenanya.

ALLAH TELAH MENGHAKIMI KRISTUS

Lalu bagaimana Allah mengampuni dosa-dosa kita? Alkitab menampakkan kepada kita bahwa kita tidak hanya menerima pengampunan dalam keselamatan kita, kita pun mendapatkan pembenaran. Sering kali Alkitab mengatakan pengampunan dan pembenaran. Kedua hal itu merupakan langkah awal menuju penerimaan hayat baru.

Mari kita perhatikan lebih saksama perkara bagaimana mendapatkan pengampunan dan pembenaran. Kembali kita harus berpaling kepada Kristus, karena Ia adalah kunci atas perkara itu. Allah menganggap Kristus sebagai kepala dari satu umat manusia. Dia adalah manusia kedua, pun Adam yang terakhir. Adam yang pertama adalah manusia besar, yang mencakup seluruh umat manusia. Ia adalah seorang yang berdosa, seluruh umat manusia juga berdosa. Kini Allah melaksanakan penghakiman-Nya atas dosa pada diri Kristus. Karena Kristus juga seorang manusia yang sangat besar, maka kita yang tercakup di dalam-Nya, juga menerima segala penghakiman Allah di dalam diri-Nya.

Sebab itu, Alkitab menyatakan bahwa Kristus mati menggantikan kita. Kita tidak mati secara perorangan, kita mati di dalam Kristus. Kematian-Nya mencakup kita semua. Dengan kematian itu, dosa-dosa kita kini dapat diampuni. Jadi, pengampunan Allah berdasar pada penghakiman-Nya atas Kristus. Ini bukan pengampuman tanpa alasan, melainkan pengampunan yang sangat adil.

PROSEDUR PENGAMPUNAN ALLAH

Suatu kali ada orang berdebat dengan saya tentang hal pengampunan. Katanya, “Tuan Nee, kalau Allah ingin mengampuni dosa-dosa kita, mengapa Ia tidak mengampuni begitu saja? Mengapa Ia harus mengutus Putra-Nya untuk disalibkan? Itu terlalu repot!” Saya berpikir, ia tidak tahu bahwa Allah kita bukanlah orang baik yang menghapus dosadosa kita secara sembarangan tanpa memperhatikan hukum! Ia tidak mengerti bahwa Allah harus menempuh beberapa prosedur untuk dapat memberikan pengampunan.

Beberapa tahun yang lalu, saya berkhotbah tentang Yesus mati di atas salib, agar dosa-dosa kita diampuni, di suatu sekolah putri di Nan King. Namun, pelajar-pelajar itu tidak dapat memahami berita tersebut. Saat itu di depan saya ada meja kecil dengan vas bunga yang indah di atasnya. Saya bertanya kepada kepala sekolah itu, “Misalnya ada orang memecahkan vas bunga ini. Menurut peraturan sekolah, apa yang akan Anda lakukan?” Kepala sekolah itu menjawab, perlu mengganti rugi. Saya bertanya, “Bagaimana kalau ia tidak sanggup membayar?” Kepala sekolah itu mengatakan bahwa peraturan itu akan tetap berlaku. Saya mendesak dia terus dan bertanya, “Bagaimana kalau salah satu siswa yang Anda sukai yang melakukannya?” Ia tetap menjawab, peraturan yang samalah yang diterapkan.

Keesokan harinya, ketika berhimpun lagi, vas itu hilang. Ternyata vas itu dihancurkan oleh salah satu siswa kesukaan kepala sekolah yang kebetulan sangat miskin yang tidak mampu mengganti. Saya gunakan kesempatan itu untuk memberitakan keselamatan oleh kematian Yesus sekali lagi. Kepala sekolah tidak dapat membebaskan siswanya dari tanggung jawabnya karena kasih. Namun siswa tersebut tidak dapat menggantinya. Dalam dilema seperti itu, hanya ada satu cara, kepala sekolah harus memakai uangnya sendiri untuk menggantikan vas itu bagi siswa tersebut. Di satu pihak, hal itu sesuai dengan peraturan sekolah; di lain pihak, hal itu menunjukkan kasih kepala sekolah itu kepada muridnya itu.

Kristus datang ke dunia untuk menanggung penghakiman atas dosa-dosa kita dan memikul akibatnya agar kita dapat diampuni. Kedatangan Kristus adalah kedatangan Allah sendiri. Ia datang menggantikan kita. Dengan demikian, Ia tidak menjerumuskan diri-Nya sampai berbuat tidak adil; sebaliknya Ia membuktikan diri-Nya sangat adil dan benar.

PENGAMPUNAN BERARTI MENANGGUNG KERUGIAN

Saya rasa, kita masih perlu melihat satu aspek makna pengampunan. Pengampunan mengandung arti orang yang dilukai memikul hukuman orang yang melukai. Misalnya, seseorang mencuri pensil saya, dan saya mengampuninya, berarti saya rugi satu pensil. Lalu apa artinya tidak mengampuni? Itu berarti menarik kembali pensil dari orang yang mencuri, agar saya tidak rugi. Jadi, mengampuni adalah menderita kerugian.

Bila seorang murid memecahkan vas, ia harus menggantinya. Tidak mengampuni berarti murid itu harus menderita kerugian karena membayar ganti rugi. Kalau mengampuni berarti orang yang dilanggar haknya, yakni kepala sekolah, harus memikul kerugian itu dengan membayar uang ganti rugi itu dengan uangnya sendiri. Sebab itu, bila Allah mengampuni dosa-dosa kita, berarti Ia memikul kerugian karena dosa-dosa kita. Tidak ada pihak lain yang dapat mengampuni dosa-dosa kita. Hanya yang dirugikan yang dapat menanggung kerugian pembuatnya. Di sini, Kristus adalah Allah, dan kepada-Nyalah kita berdosa. Pengampunan-Nya adalah penanggungan kerugian atas dosa-dosa kita.

KRISTUS DALAM KEDUDUKAN SEBAGAI MANUSIA

Bukan itu saja, Kristus adalah manusia. Ia memikul dosa-dosa kita dalam kedudukan sebagai manusia. Allah memandang Kristus sebagai manusia dan mencakup kita semua di dalam-Nya. Ketika Allah menghukum Kristus, Ia pun menghukum kita. Jadi, Allah telah menghukum kita dalam Kristus, dan pula Allah telah mengampuni kita dalam Kristus. Pengampunan Allah benar-benar adil.

Dua Korintus 5:14 mengatakan, “. . . karena kami telah mengerti bahwa jika satu orang sudah mati untuk semua orang, maka mereka semua sudah mati.” “Satu orang” di sini mengacu kepada Kristus, dan “semua orang” mengacu kepada kita. Ketika Kristus mati, kita semua mati bersama-Nya, karena kita semua tercakup di dalam-Nya. Orang mengatakan, semua orang China berasal dari satu orang bernama Huang Ti. Kalau dulu ada orang membunuh Huang Ti, ia pun telah membunuh seluruh bangsa China, karena bangsa ini tercakup di dalamnya. Begitu pula kalau kita berada di dalam Kristus, dan Kristus telah mengalami penghukuman karena dosa, maka kita pun telah mengalaminya. Kristus telah mati, maka kita semua juga telah mati.

Ayat 21, pasal yang sama, menyatakan, “Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.” Orang yang “tidak mengenal dosa” juga adalah Kristus. Ia dijadikan dosa karena kita. Apa maksudnya “dijadikan dosa”? Itu berarti ketika Kristus terpaku di salib, Allah menganggap-Nya dosa karena Anda dan saya. Di atas salib, Allah memandang Kristus sebagai dosa mewakili seluruh umat manusia. Ketika Kristus mati di atas salib, secara menyeluruh dosa diakhiri dan dilenyapkan. Kini kita semua yang ada di dalam Dia, telah diakhiri dosa-dosanya; kita menjadi kebenaran Allah di dalam Kristus.

KEBENARAN ALLAH YANG MENGAMPUNI KITA

Mengapa di sini dikatakan “menjadi kebenaran Allah” dan bukan “menjadi benar”? Apa beda kedua istilah itu? Menjadi benar berarti apa yang telah kita lakukan tidak salah. Sedangkan menjadi kebenaran Allah menyatakan bahwa Allah adalah benar. Kedua istilah ini berbeda. Pengampunan Allah atas dosa-dosa kita bukanlah tidak benar, pengampunan yang Ia berikan benar adanya. Allah telah menghukum Kristus, hasilnya Allah di dalam Kristus mengampuni dosa-dosa kita. Ia tidak dengan ceroboh melewatkan kita, Dia bukan Allah yang sembarangan, penghapusan yang Ia berikan sangat benar.

Suatu kali, saya dengan seorang teman naik sebuah kapal pergi ke Chiu Chiang. Di atas geladak kapal saya melihat ada seorang sedang membaca buku. Ternyata dia penganut suatu aliran agama dan sedang membaca kitabnya. Saya berbincang-bincang dengannya dan berkata, “Saya ingin melihat kitab Anda, apakah di dalamnya ada jalan keselamatan?” Dia menjawab, “Asal sebelumnya sudah bertobat, boleh beroleh selamat, buat apa jalan keselamatan!” Saya berkata, “Kalau Allah demikian mengampuni dosa-dosa Anda, itu berarti Allah sendiri telah berdosa!”

Mendengar perkataan saya ini, dia sangat terkejut, karena tidak pernah mendengar perkataan ini sebelumnya. Saya berkata, “Jika seseorang berdosa, asal bertobat bisa memperoleh pengampunan dosa, lihatlah, apakah ini adil? Misalnya, ada seorang jaksa yang telah menangkap seorang penjahat, penjahat itu bertobat, lalu jaksa itu membebaskannya, apakah ia berbuat benar?” Setelah berpikir sejenak, ia mengakui itu tidak benar. Sayang karena tidak ada waktu lagi, sehingga tidak sempat memberitakan kematian penggantian Kristus kepadanya. Cara penyelamatan Allah ialah telah menghukum Anak-Nya, sehingga kita beroleh pengampunan di atas diri Anak-Nya.

MENETAPKAN YESUS SEBAGAI TUTUP PENDAMAIAN

Roma 3:25-26 mengatakan, “Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian melalui iman, dalam darah-Nya. Hal ini dibuat-Nya untuk menunjukkan keadilan-Nya, karena Ia telah membiarkan dosa-dosa yang telah terjadi dahulu pada masa kesabaran-Nya. Maksud-Nya ialah untuk menunjukkan keadilan-Nya pada masa ini, supaya nyata bahwa Ia benar dan juga membenarkan orang yang percaya kepada Yesus.” Potongan Alkitab ini tidak mudah dimengerti. Namun, di dalamnya ada dua hal yang perlu kita perhatikan.

Allah menentukan Kristus sebagai jalan pendamaian. Dalam bahasa aslinya, kata jalan pendamaian berarti tutup pendamaian. Dalam Perjanjian Lama, Tabut Perjanjian ditutupi oleh bingkai emas yang disebut tutup pendamaian. (King James Version menerjemahkannya “takhta rahmat”). Doa-doa manusia mencapai Allah lewat tempat itu; dan jawaban Allah sampai kepada manusia, juga melalui tempat itu. Itulah tempat pertemuan antara Allah dan manusia. Kini Yesus telah menjadi tutup pendamaian tersebut, Dia adalah tempat pertemuan antara Allah dan manusia. Ini dapat terjadi berdasarkan darah Yesus. Yesus telah mati bagi kita, Ia telah mengucurkan darah-Nya dan mengampuni dosa-dosa kita. Kini Ia telah menjadi tutup pendamaian kita.

Jadi, sebelum Yesus mati, Allah “telah membiarkan dosa-dosa yang telah terjadi dahulu pada masa kesabaran-Nya, hal ini dibuat-Nya untuk menunjukkan keadilan-Nya”. Dari Adam sampai Yesus, kurang lebih 4.000 tahun, entah berapa banyak dosa yang telah dibuat oleh manusia, meskipun Allah sabar, tetapi Ia tidak melewatkannya, karena Allah tidak pernah tidak adil. Dan sekarang Allah telah mengutus Anak-Nya, sehingga sejak kini, Yesus membuat kita dibenarkan. Allah demikian membenarkan orang yang percaya Yesus, juga adalah satu kebenaran. Bagian ayat ini memperlihatkan kepada kita bagaimana Allah menangani dua perkara tersebut. Pertama, semua dosa Anda pada saat ini dapat diampuni, Dia berbuat demikian adalah benar. Kedua, Allah sabar terhadap dosa-dosa yang lampau, ini juga benar. Mengapa? Karena Allah tahu bahwa Yesus akan datang. Karena kematian Yesus, Allah menyatakan kita tidak berdosa, ini tetap menyatakan Dia benar.

BAGAIMANA MUNGKIN ALLAH TIDAK ADIL

Suatu kali saya bertemu dengan seorang saudari. Dia berkata, bahwa ia adalah seorang yang tidak baik dan telah berbuat banyak dosa. Ia telah melakukan segala dosa yang dapat dilakukan oleh seorang wanita. Karena itu, pikirnya ia tentu tidak mungkin memperoleh pengampunan dosa. Saya tanya dia, apakah ia mengakui Yesus mengucurkan darah-Nya untuk dosa-dosa manusia. Ia berkata, ia tahu semua doktrin itu. Tetapi setelah menjadi orang Kristen sekian tahun, dan masih melakukan dosa yang demikian besar dan banyak, tentu tidak mungkin ia diampuni lagi. Semula saya duduk di depannya. Saat itu, saya segera berdiri dan menatapnya, sambil berkata dengan serius, “Saya tidak peduli dosa-dosa Anda diampuni atau tidak! Tetapi apa yang Anda katakan menyiratkan bahwa Allah telah berdosa. Itulah yang saya persoalkan! Di satu pihak, Anda percaya Anda ada di dalam Kristus. Namun, di pihak lain, Anda tidak yakin dosa-dosa Anda diampuni! Coba renungkan, kalau Allah tidak mengampuni Anda, bukankah itu berarti Allah tidak adil? Kalau Ia tidak adil, tentu Ia berdosa! Bagaimana mungkin Ia berdosa? Saya tidak peduli kalau Anda dihukum binasa! Tetapi Allah telah mengasihi Anda, dan mengutus Putra-Nya membayar hutang-hutang dosa Anda. Kematian Putra-Nya adalah kematian Anda. Segala dosa Anda telah ditimpakan kepada-Nya! Kalau yang Anda katakan itu benar, tentu Allah telah menarik balik perkataan-Nya! Ia datang lagi menagih hutang dosa-dosa Anda! Anda berkata, Allah tidak dapat mengampuni dosadosa Anda dan Ia telah menjadi Allah yang tidak adil! Perkataan apa itu! Untuk hal itu saya harus membela! Allah saya tidak pernah tidak adil!”

Pada saat itu, air matanya mengalir. Ia berseru, “Aku berdosa, tetapi Allah adil! Dia di dalam Kristus tidak dapat tidak mengampuni aku! Walaupun dosaku banyak, terima kasih kepada-Nya, Ia harus mengampuniku! Ia akan menjadi tidak adil kalau tidak mengampuniku!”

BEROLEH SELAMAT KARENA KEBENARAN ALLAH

Memang Allah penuh anugerah, tetapi Anda tidak hanya diselamatkan berdasarkan anugerah-Nya. Anda pun dapat diselamatkan oleh kebenaran-Nya. Kasih karunia Allah berdasar pada kasih-Nya kepada kita, yang membuatnya mau menyelamatkan kita. Tetapi kebenaran-Nya berdasar pada kematian Putra-Nya bagi kita, yang membuat-Nya tidak dapat tidak menyelamatkan kita. Sebelum Yesus mati, Allah bebas, boleh menyelamatkan kita, boleh tidak. Tetapi begitu Yesus mati, Allah terikat! Ia mutlak harus menyelamatkan siapa saja yang datang kepada Allah dengan darah Yesus! Sudahkah Anda mengetahui hal ini? Ia tidak dapat tidak harus mengampuni.

Itulah keselamatan menurut kebenaran-Nya. Sebelum Kristus mati, kalau Ia mengampuni dosa-dosa kita dengan sembarangan, sehingga kita tidak menerima hukuman dosa, ini menjadikan diri-Nya berdosa. Kini Allah telah membuat Putra-Nya dipaku di kayu salib, menerima hukuman karena dosa, membereskan masalah dosa. Allah tidak dapat lagi menolak siapa saja yang datang kepada-Nya dengan darah Yesus. Kini kalau Ia tidak mengampuni, Ia akan berdosa, karena Ia membuat diri-Nya tidak adil.

MUSTAHIL ALLAH TIDAK MENYELAMATKAN KITA

Beberapa orang mungkin berpikir, “Begitu mudahkah kita diselamatkan? Mungkin perlu lebih banyak berdoa! Harus berdoa sedemikian rupa sehingga Allah melunakkan hati-Nya dan menolong aku! Dengan demikian, barulah aku beroleh pengampunan.” Tidak ada hal semacam itu! Hari ini, walaupun Allah tidak melunakkan hati-Nya, Ia tetap harus mengampuni dosa-dosa Anda! Bahkan kalaupun Allah sangat tidak senang terhadap Anda, Ia tetap harus mengampuni dosa Anda! Itu sama sekali bukan soal Anda berdoa cukup lama atau tidak. Sebaliknya, mutlak tergantung pada fakta bahwa penebusan telah genap. Sekalipun Allah tidak senang menyelamatkan saya, Ia sudah terlambat! Itu masih mungkin kalau terjadi 2.000 tahun yang lalu. Kini Allah telah menerima pengorbanan Kristus; mustahil Ia tidak menyelamatkan kita. Seorang yang berdosa hanya dapat satu kali menanggung hukuman, ia tidak dapat dihakimi dua kali!

Bahkan untuk mengampuni dosa kita, Allah telah mengeluarkan banyak tenaga dan pekerjaan, menggenapkan keselamatan dalam Kristus. Kini Ia telah mengamanatkan para penginjil pergi ke seluruh dunia, menunjukkan kepada orang karya keselamatan yang telah genap itu. Kini Ia dapat mengampuni dosa-dosa Anda tanpa membuat diri-Nya berada di kedudukan yang tidak benar.

ALLAH MENGAMPUNI DENGAN TEPAT DAN JUJUR

Orang lain mungkin berkata, “Mengapa aku tidak merasa sudah beroleh selamat? Mengapa setelah saya percaya tidak terjadi sesuatu yang istimewa. Aku tidak merasa damai di hati.” Ingatlah ini bukan soal Anda merasa damai atau tidak, melainkan soal Allah merasa damai atau tidak. Anda merasa damai atau tidak itu tidak penting! Hal terpenting adalah Allah damai atau tidak! Apakah Allah mengampuni Anda dengan tepat dan jujur! Bila Allah mengampuni Anda dalam Kristus, Ia melakukannya dengan benar, jujur, dan terbuka. Yang perlu Anda lakukan adalah menerima-Nya.

Suatu kutipan yang sangat sering dikatakan orang adalah Markus 10:45, “Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani.” Sayang banyak yang membacanya hanya sampai di situ. Mereka memotong bagian belakangnya. Kata “dan” yang menyusul di belakangnya seharusnya diterjemahkan “sedemikian rupa, hingga”. Sampai sejauh mana Tuhan Yesus datang untuk melayani? “Sedemikian rupa, hingga Ia memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”

Dalam Matius 26:28 Tuhan Yesus berkata, “Sebab inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa-dosa.” Jadi pengucuran darah-Nya adalah untuk pengampunan dosa-dosa kita, Dia memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi kita; di dalam Kristus kita baru dapat memperoleh pengampunan. Di luar Dia pengampunan macam apa pun yang Anda dapat, tidaklah benar.

KRISTUS MATI KARENA DOSA-DOSA KITA

Berikut ini kami pilihkan beberapa kutipan ayat-ayat Alkitab lagi untuk melihat bagaimana Kristus menggenapkan penebusan bagi kita, sehingga kita beroleh selamat karena Dia.

Roma 5:6-8 mengatakan, “Karena waktu kita masih lemah, Kristus telah mati untuk kita orang-orang durhaka pada waktu yang ditentukan oleh Allah. Sebab tidak mudah seorang mau mati untuk orang yang benar — tetapi mungkin untuk orang yang baik ada orang yang berani mati. Akan tetapi, Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita dalam hal ini: Ketika kita masih berdosa, Kristus telah mati untuk kita.”

Roma 5:9-10 mengatakan, “Lebih-lebih, karena kita sekarang telah dibenarkan oleh darah-Nya, kita pasti akan diselamatkan melalui Dia dari murka Allah. Sebab jikalau kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah melalui kematian Anak-Nya, lebih-lebih kita, yang sekarang telah diperdamaikan, pasti akan diselamatkan oleh hidup-Nya!” Ayat-ayat itu dengan jelas menunjukkan bahwa kematian Kristus bukanlah kematian sebagai seorang martir. Ia mati bukan untuk suatu kepercayaan atau aliran tertentu. Ia mati karena dosa, agar terbukalah satu jalan bagi orang-orang dosa untuk dinyatakan tak bersalah! Karenanya, 1 Korintus 15:3 mengatakan bahwa Kristus “mati karena dosa-dosa kita”.

Ibrani 9:22 mengatakan, “Tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan.” Dosa hanya dapat diampuni setelah ada penghakiman.

Satu Petrus 2:24 mengatakan, “Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh.” Pasal 3:18 mengatakan, “Sebab juga Kristus telah mati sekali untuk dosa-dosa kita, Ia yang benar untuk orang-orang yang tidak benar, supaya Ia membawa kita kepada Allah; Ia, yang telah dibunuh dalam keadaan-Nya sebagai manusia, tetapi telah dibangkitkan menurut Roh.”

Satu Yohanes 1:7 mengatakan, “Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari segala dosa.”

SEGALA DOSA TERTIMPA PADA DIRI YESUS

Yesaya 53:6 mengatakan, “Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi Tuhan telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian.” Kata “menimpakan” di atas dapat pula diterjemahkan “menanggungkan”. Segala dosa kita telah ditanggungkan pada diri Yesus. Seorang saudara yang berprofesi akuntan berkata bahwa hal itu seperti memindahbukukan suatu rekening. Semula dosa ada pada rekening Anda. Kini segala dosa itu telah dipindahbukukan ke rekening Yesus Kristus.

Suatu kali seseorang bertanya kepada satu orang Kristen tentang jalan memperoleh pengampunan dosa. Orang Kristen itu menunjukkan kutipan Kitab Yesaya tersebut dan memberi tahu dia, bahwa jika ia mau masuk melalui “sekalian” yang pertama, dan keluar melalui “sekalian” yang kedua, ia akan selamat. Kita sekalian sesat seperti domba. Ya, saya termasuk di dalamnya. Saya adalah orang berdosa yang sesat. Tuhan telah menimpakan kejahatan kita sekalian kepada-Nya. Ya, segala kejahatan saya tertimpa pada-Nya.

Ada sebuah lagu yang dengan sangat baik menyinggung tentang penyelamatan Tuhan, syair lagu itu sebagai berikut:

1.

Mengapa ku bimbang ragu? Bukankah semua dosaku, dipikul Putra-Nya?

2.

Lunas sudah s’mua hutangku, mungkinkah Allah yang adil, menagihku ulang?

3.

Sempurna penebusan-Mu, tiap peser t’lah Kau bayar, tiada yang sisa; murka Allah tak menimpa, aku telah dipercik darah, bahkan dibenarkan.

4.

Kau berikan pengampunan, pula kurnia cuma-cuma, lunas hutang dosa; Pembelaku bayar lunas, mungkinkah Allah Sang Benar, menagihku ulang?

5.

Hai hatiku, bersyukurlah, kar’na semua karya Tuhan telah membebaskan! Kini hanya sandar darah, tidak takut Allah tolak, kar’na Dia telah wafat.