← Daftar isi Kristus dan Hidup Baru · bab 4/4

MENDAPATKAN HAYAT DEMI IMAN

Kini kita sampai pada butir yang paling penting dalam kepercayaan keristenan kita, yaitu puncak keselamatan Allah. Kita akan melihat bagaimana Kristus dapat menjadi hayat kita secara subyektif.

Agar kita dapat mengenal Dia dan berhubungan dengan-Nya, suatu kali Allah telah berinkarnasi menjadi manusia, dan melalui manusia inilah kita dapat mengenal Allah itu adalah Allah yang bagaimana. Manusia ini tak lain adalah Yesus dari Nazaret. Dia adalah Allah yang mengenakan tubuh daging manusia.

Secara jasmani, tubuh Yesus tidak berbeda dengan tubuh kita. Tetapi secara hayat di dalam, Dia mutlak berbeda dengan kita. Hayat-Nya murni hayat Allah. Ciri-ciri hayat-Nya adalah ciri-ciri hayat Allah. Dan di kemudian hari, hayat yang Allah karuniakan kepada setiap orang yang ada di dalam Kristus juga adalah hayat yang dulu ada di dalam Yesus dari Nazaret.

KEMATIAN MEMBEBASKAN HAYAT

Namun, ketika Yesus masih hidup di atas bumi, Allah belum bisa memberikan hayat ini kepada kita. Salah satu sebabnya adalah Kristus Yesus masih mengenakan tubuh daging, dan hayat-Nya karena tubuh daging terbatas oleh ruang dan waktu, tidak dapat masuk ke dalam dan menjadi hayat baru dari orang yang percaya kepada-Nya. Karena itu Kristus masih perlu mati di dalam tubuh daging. Ketika Ia mati, belenggu tubuh daging terorak dan hayat-Nya terbebaskan.

Dalam Yohanes 12:24 Tuhan berkata, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Jika biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.” Tuhan membandingkan diri-Nya dengan sebutir biji gandum, yang di dalamnya terdapat hayat. Bila biji gandum itu jatuh ke dalam tanah dan mati, hayat yang di dalamnya terbebaskan, dan akan menghasilkan banyak buah.

Jadi, Allah tidak berhenti pada inkarnasi, Ia masih harus melewati kematian agar hayat-Nya tidak lagi terbatas oleh tubuh daging, melainkan terbebaskan dalam Roh Kudus; dan sejak itu Ia tidak terbatas lagi oleh ruang dan waktu. Hayat-Nya kini dapat diberikan kepada setiap orang yang percaya kepada-Nya. Kematian Kristus di atas salib bukan hanya untuk menebus dosa manusia, bahkan untuk membebaskan hayat Allah. Penebusan dosa adalah yang sekunder, tetapi membebaskan hayat adalah yang primer, utama.

KEMATIAN JUGA MEMBERESKAN PERSOALAN DOSA

Di satu pihak, ketika kita masih sebagai orang dosa, Allah tidak mungkin memberikan hayat-Nya kepada kita. Karena itu, kematian Yesus Kristus juga membereskan dosa-dosa kita, supaya Allah memiliki satu kedudukan kebenaran untuk dapat memberikan hayat-Nya kepada kita. Bersamaan dengan itu, kita pun memiliki satu kedudukan yang tepat untuk menerima hayat baru Allah.

ALLAH MENGARUNIAKAN ANAK TUNGGAL-NYA KEPADA MANUSIA

Dalam Alkitab ada satu ayat yang mungkin telah sering kita dengar. Yohanes 3:16, “Karena Allah begitu mengasihi dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Dalam ayat Alkitab ini ada dua butir penting, dan inilah yang khusus akan saya bahas.

Di sini tidak dikatakan Allah mengasihi orang-orang dosa, tetapi mengatakan “Allah mengasihi dunia”. “Dunia” di sini meliputi semua orang pada umumnya, yang memiliki satu kriteria tersendiri, dan orang dosa, pastilah lebih rendah dari kriteria ini. Saya tidak mengatakan bahwa Allah tidak mengasihi orang-orang dosa, tetapi Allah mempunyai satu tujuan, yaitu akan memberikan hidup yang kekal kepada orang-orang dalam kriteria itu. Bagaimanapun orang berusaha berbuat baik, tetap tidak bisa melampaui kriteria manusia yang memerlukan hidup kekal. Apalagi seorang berdosa, yang lebih rendah tingkatannya. Maka, jika Allah ingin memberikan hidup kekal kepadanya, perlu terlebih dulu mengampuni dosanya, membereskan dosa-dosanya, sehingga ia tidak lagi sebagai orang dosa. Ini memerlukan Kristus mati bagi dosa-dosanya, membayar harga tebusan, sehingga ia bukan lagi orang dosa.

PUNCAK KARUNIA KESELAMATAN ALLAH

Namun, kalau hanya menerima pengampunan dosa-dosa, ini hanyalah memulihkan keadaan kita kepada keadaan Adam, sebelum manusia jatuh dalam dosa. Dia tetap adalah seorang manusia, hayatnya adalah hayat manusia, dan hanya mencapai standar manusia. Allah masih perlu memberikan Anak-Nya yang tunggal kepada manusia, agar manusia memiliki hidup yang kekal. Inilah puncak karunia keselamatan Allah. Allah tidak hanya memulihkan apa yang hilang dari kita di dalam Adam, bahkan Ia mau supaya kita mendapatkan apa yang tidak didapatkan oleh Adam. Adam tidak memakan buah pohon kehidupan. Sekalipun ia tidak berbuat dosa, ia tetap hanya seorang manusia, tidak bersangkut paut dengan hayat Allah. Yang kita dapatkan di dalam Kristus betapa jauh lebih baik. Selain kita memiliki hayat insani, masih ditambah satu hayat baru, yaitu hayat Allah, yang adalah Anak Allah sendiri. Itulah hidup yang kekal.

HIDUP YANG KEKAL

Apakah hidup yang kekal itu? Kata kekal mengandung arti dunia kekekalan, jadi hidup yang kekal adalah hayat yang bersifat kekal. Hayat manusia bersifat sementara, tidak dapat hidup selamanya. Hanya dalam Anak Allah ada hayat kekal yang akan hidup sampai kekal. Kalau menaruh hayat saya ke dalam alam kekekalan, hayat ini akan segera sirna, tidak bisa hidup! Seperti Anda tidak dapat menaruh ikan di udara, atau menaruh burung di dalam air; karena begitu melaksanakan ini, pastilah mereka mati, tidak hidup lagi. Hayat manusia hanya dapat hidup sementara di atas bumi, tidak dapat hidup selamanya. Hanya hayat yang kekal yang dapat hidup selamanya.

HIDUP YANG KEKAL ADA DI DALAM ANAK ALLAH

Satu Yohanes 5:11-12 mengatakan, “Dan inilah kesaksian itu: Allah telah mengaruniakan hidup yang kekal kepada kita dan hidup itu ada di dalam Anak-Nya. Siapa yang memiliki Anak, ia memiliki hidup; siapa yang tidak memiliki Anak, ia tidak memiliki hidup.” Ayat ini memberi tahu kita bahwa hidup kekal itu ada di dalam Anak Allah, tidak terdapat di tempat lain. Siapa yang tidak memiliki hidup yang ada di dalam Anak ini, ia hanya manusia semata, ia hanya dapat hidup di atas bumi ini, tidak dapat hidup di alam kekekalan, karena dia tidak memiliki hayat yang mampu membuatnya hidup sampai kekal.

Setelah Anak Allah mati dan bangkit, Ia telah menjadi Roh Kudus yang tidak terbatas oleh ruang dan waktu, sehingga kita dapat menerima-Nya kapan saja dan di mana saja. Sebagaimana dulu, siapa yang menerima Anak Allah berarti menerima Allah, demikian pula sekarang, siapa yang menerima Roh Kudus berarti menerima Anak Allah. Satu Korintus 15:45b mengatakan, “Adam yang terakhir (yaitu Kristus) menjadi roh yang menghidupkan.” Ayat ini lebih tepat bila diterjemahkan menjadi “Adam yang akhir telah menjadi Roh pemberi-hayat.” Siapa yang menerima Kristus, bukan hanya dosa-dosanya diampuni, bahkan mendapatkan satu hayat baru, yaitu hayat kekal dari Allah.

HARUS DILAHIRKAN KEMBALI

Yohanes 3:7 mengatakan, “Kamu harus dilahirkan kembali.” Mendapatkan hayat baru ini adalah suatu keharusan dan juga paling penting dalam kepercayaan kekristenan kita. Di sinilah terletak perbedaan antara orang Kristen sejati dengan orang Kristen palsu. Satu Yohanes 5:12 mengatakan, “Siapa yang memiliki Anak, ia memiliki hidup; siapa yang tidak memiliki Anak, ia tidak memiliki hidup.” Ayat 13 meneruskan, “Semuanya itu kutuliskan kepada kamu, supaya kamu yang percaya kepada nama Anak Allah, tahu bahwa kamu memiliki hidup yang kekal.” Ini bukan soal doktrin, juga bukan suatu kelakuan, moral, melainkan apakah menerima Anak Allah, apakah memperoleh hidup yang kekal.

BUKAN MELAKUKAN SUATU PERBUATAN

Pemberesan Allah atas hayat manusia bukanlah mengoreksinya, melainkan menyalibkannya di kayu salib. Allah telah memakukan manusia lama kita bersama Kristus di salib, dan mengakhirinya di sana. Kemudian Ia pun membuat kita hidup bersama Kristus, dengan Kristus sebagai hayat baru kita, menjadikan kita manusia baru, memiliki permulaan baru, dan menempuh satu kehidupan yang baru. Semua ini merupakan karya Allah yang telah genap di dalam Kristus.

Dalam hal ini manusia tidak dapat melakukan apa-apa. Yang dapat dilakukan manusia hanyalah percaya dan menerima. Hanya agama biasa yang menuntut manusia melakukan suatu perbuatan, memperbaiki diri, mengubah kelakuan; tetapi tidak membiarkan Kristus menjadi hayat.

Ketika pertama kali saya bekerja di bagian selatan propinsi Fu Kien, yang hadir dalam sidang-sidang gereja mencapai lebih dari 1.500 orang. Saya hanya berkhotbah tiga kali, pendeta-pendeta di kota itu mulai takut dan cemas. Mereka mengundang saya dan berkata, “Tuan Nee, Sewaktu kami meminta Anda berkhotbah, kami mengharap Anda berkhotbah menganjuri jemaat untuk lebih giat, bekerja keras, dan lebih gairah melayani Tuhan. Tetapi di sini Anda berkata, kalian tidak perlu melakukan sesuatu apa pun, yang kalian perlukan adalah menerima Kristus. Pada dasarnya mereka memang malas, kini setelah mendengar khotbah Anda, mereka mungkin akan makin malas bekerja! Anda di sini hanya berkunjung sebentar, setelah ini Anda pergi. Tetapi kami tetap di sini! Lalu, bagaimana selanjutnya?”

Saya berkata, “Ini baru hari kedua dalam rangkaian sidang kali ini, bukankah masih ada 16 hari lagi! Kiranya kalian sabar sejenak, dan menantikan apa yang akan terjadi pada akhirnya! Pekerjaan batini Kristus, jauh melampaui pekerjaan luaran manusia yang bersandar diri sendiri! Saya yakin, orang-orang yang menerima Injil yang saya beritakan, keadaan mereka pasti akan mengalami perubahan.”

Saat itu mereka tidak dapat mempercayai perkataan saya. Tetapi karena mereka sudah terlanjur mengundang saya, mereka tidak dapat menghentikan saya. Meskipun saya berkata bahwa saya akan bertanggung jawab atas hasil sidang kali ini, mereka tetap menggelengkan kepala sambil berkata, itu sangat berbahaya! Tetapi satu minggu kemudian, banyak pendeta datang kepada saya minta maaf dan berkata, “Benar, menerima pekerjaan batini Anak Allah, jauh lebih baik daripada usaha kita sendiri.”

ALLAH MENGARUNIAKAN, MANUSIA MENERIMA

Kita perlu membaca Yohanes 3:16 bersama dengan Yohanes 1:12. Yohanes 3:16 mengatakan, “Allah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal kepada manusia”, dan Yohanes 1:12 mengatakan, “Namun semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya.” Jadi, bagaimana kita dapat memperoleh hayat ini? Sangat mudah. Allah mengaruniakan, dan manusia menerima. Begitu sederhana. Terima saja, tanpa ragu atau takut, apa yang Allah berikan. Semakin sederhana Anda, semakin baik.

C.H. Spurgeon adalah seorang penginjil Amerika yang terkenal. Pada suatu kali ia membicarakan soal berdoa kepada sekelompok murid. Ada seorang murid bertanya, “Setelah berdoa, bagaimana supaya doanya dijawab oleh Allah?” Spurgeon mengeluarkan sebuah arloji emas dari sakunya dan meletakkannya di atas meja. Lalu ia mengatakan kepada murid-murid itu, “Siapa yang mau arloji ini, boleh mengambilnya.”

Semua murid mulai tegang, berbisik-bisik. Ada yang berpikir, arloji demikian baik, mungkinkah diberikan secara cuma-cuma? Benarkah? Pura-purakah? Ada yang berpikir, kalau sewaktu aku mengambilnya, ia mengangkatnya, sehingga aku tidak dapat mengambilnya, bukankah aku akan malu? Ada juga yang berpikir, kalau aku pergi mengambilnya, tetapi ia membatalkannya, tentunya tak berarti! Sejenak kemudian, seorang gadis kecil datang ke hadapan Spurgeon dan berkata, “Aku mau!” Segera Spurgeon menaruh arloji itu di tangan gadis kecil ini dan menasihatinya, “Jaga baikbaik, jangan sampai jatuh ke tanah sehingga rusak.” Ketika semua murid sedang menyesali keragu-raguan mereka, Spurgeon berkata, “Aku berkata, aku akan memberikan arloji itu, aku pasti memberikannya, mengapa kalian tidak percaya? Apa yang Allah berikan kepada manusia, jauh lebih berharga daripada arloji itu; Ia memberikan Anak-Nya yang tunggal kepada kita, menjadi hayat kita. Kalau Allah mau mengaruniakan, mengapa kita tidak mau percaya? Mengapa tidak menerima-Nya?”

Dengan sederhana, percayalah, terimalah, Anda akan memperoleh hidup yang kekal.

PERCAYA SEPERTI BERNAFAS

Seorang lain yang juga dipakai Tuhan secara besar adalah F.B. Meyer. Mulanya ia juga tidak mengerti bagaimana Kristus dapat menjadi hayat di dalam Roh Kudus, ia juga tidak memahami bagaimana bisa menerima hayat tersebut. Suatu hari, ia pergi ke gunung dan berdoa, berharap mendapatkan Anak Allah sebagai hayat. Tiba-tiba dia paham, bahwa semua itu cukup dengan sederhana percaya. Kemudian ia menarik nafas dalam-dalam, menghembuskan lagi, menarik nafas lagi dalam-dalam sambil berdoa, “Tuhan, dengan iman, aku menghirup Engkau masuk, seperti aku menghirup udara ini.” Setelah ia turun gunung, ia bersaksi kepada orang lain, “Hari itu, aku telah menghirup Anak Allah, dan sejak itu hayatku berubah sama sekali.”

Menerima Anak Allah menjadi hayat adalah perkara yang paling sederhana, sesederhana menghirup udara.

BERDASARKAN IMAN, BUKAN PERASAAN

Suatu kali seorang teman berkata, “Tuan Nee, aku sangat ingin menerima Anak Allah menjadi hayatku; aku pun pernah berlutut berdoa kepada Allah dan berkata kepada-Nya bahwa aku mau menerima Kristus menjadi hayatku. Tetapi ada orang yang memberi tahu aku bahwa kalau Kristus masuk ke dalam seseorang, orang itu akan merasakan sesuatu yang membara di dalam. Tetapi ketika aku berlutut berdoa, hatiku tetap dingin; setelah selesai berdoa tetap juga dingin seperti es. Bagaimana aku tahu bahwa aku benar-benar telah menerima Anak Allah menjadi hayat?”

Saya berkata kepadanya, “Alkitab selamanya tidak pernah mengatakan bahwa seseorang yang menerima Anak Allah menjadi hayat, harus merasa membara ataupun dingin di dalam dirinya. Alkitab hanya mengatakan, harus percaya. Jadi, harus dengan iman, bukan dengan perasaan. Kalau berdasarkan perasaan memutuskan mendapatkan atau tidak, dan tidak percaya firman Allah, itu berarti Allah telah berbohong. Ketika Allah berfirman memberikan, Ia pasti memberikan. Itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan perasaan Anda.”

KEMULIAAN MENYUSUL TUHAN

Saya tinggal satu tahun di Chefoo. Suatu hari seorang saudara berkata kepada saya, “Aku telah percaya bahwa Anak Allah menjadi hayatku, tetapi aku tidak mempunyai perasaan yang mulia terhadap hal itu, apakah aku belum benar-benar menerima-Nya?”

Saya berkata kepadanya, “Untuk menjawab persoalan Anda, baiklah saya mengambil satu perumpamaan. Ada tiga orang berjalan di atas sebuah tembok yang sempit, seorang demi seorang berjalan. Si A, yang berjalan paling depan, mewakili fakta Kristus menjadi hayat kita. Si B, berjalan di tengah, mewakili iman kita. Karena ada fakta yang sudah Allah genapkan, maka timbullah iman yang mengikuti di belakang kita. Si C, berjalan paling belakang, mewakili semua perasaan mulia manusia. Perasaan mulia ini timbul setelah seseorang percaya, karena itu berada di paling belakang.

Ketika ketiga orang ini berjalan di atas tembok, si B, yang di tengah hanya dapat melihat si A yang di depannya. Demikian juga iman kita muncul karena kita melihat fakta pekerjaan Allah. Allah telah mengaruniakan Anak-Nya kepada kita menjadi hayat kita, setelah kita melihat fakta ini, timbullah iman. Jadi si B, hanya dapat melihat si A, yang di depan.

Setelah memiliki iman, barulah muncul perasaan mulia menjadi anak-anak Allah. Karena itu yang dapat dilihat si C adalah si B, bukannya si A. Jika si B tidak melihat si A, tetapi membalikkan badannya melihat si C, dia akan segera tergelincir jatuh dari tembok. Karena iman yang tidak bertumpu pada fakta adalah iman yang goyah. Begitu si B jatuh, maka si C akan ikut jatuh, maka tiadalah perasaan mulia apa pun. Karena itu, janganlah memperhatikan perasaan mulia yang di belakang, cukup ikuti dengan iman, maju ke depan.

Apalagi kini Allah di dalam Kristus telah menggenapkan segala sesuatu. Kristus telah mati dan telah bangkit, menjadi Roh Kudus. Kini Ia siap masuk ke dalam Anda. Begitu Anda percaya, jadilah demikian. Kalau Allah tidak mengaruniakan Anak-Nya, sekalipun Anda memiliki perasaan yang mulia, perasaan itu tidak dapat diandalkan.”

Setelah Kristus menjadi hayat manusia, di atas diri orang itu pasti ada perubahan yang nyata. Perubahan ini mustahil dihasilkan dengan pembatasan hukum, atau pendidikan moralitas; juga bukan karena memperbaiki diri, atau dengan mendisiplinkan diri. Saya dapat menyebutkan tiga atau empat puluh orang yang berdosa besar, begitu menerima Anak Allah menjadi hayatnya, mereka memiliki perubahan yang drastis. Terlebih pula, ada jutaan orang Kristen yang dapat bersaksi bahwa sejak mereka menerima Kristus menjadi hayat mereka, terjadilah perubahan yang drastis dalam hidup mereka. Perubahan ini bukan berasal dari mendisiplinkan diri dengan penderitaan, atau usaha keras; melainkan karena Kristus yang ajaib dan berkuasa ini menjadi hayat kita.