MINYAK URAPAN MAJEMUK — ROH MAJEMUK (2)
Pembacaan Alkitab:
Kel. 30:23-30; Kej. 1:2; Hak. 3:10; Luk. 1:35; Yoh. 7:39; Rm. 8:2, 9;
Kis. 5:9; 16:6-7; Yoh. 14:17; Flp. 1:19; 1Kor. 15:45; 2Kor. 3:18; Ibr. 10:29;
Why. 1:4; Rm. 8:16; 1Ptr. 1:2; Why. 2:7; 22:17
Dalam berita ini kita akan membahas unsur-unsur Roh majemuk.
DALAM CIPTAAN ALLAH —
ROH ALLAH DENGAN UNSUR KEILAHIAN
Dalam ciptaan Allah, Roh Allah bersifat aktif: “Dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air” (Kej. 1:2b). Benda (zat) riil apa pun pasti memiliki unsur, dan Roh Allah adalah suatu benda yang riil. Unsur apakah yang ada dalam Roh Allah? Unsur Roh Allah adalah Allah, keilahian.
Sebagaimana telah saya tunjukkan dalam berita sebelumnya, hakekat dari zat (benda) tertentu adalah sari benda itu. Sebagai contoh, hakekat anggur bukan hanya anggur itu saja, melainkan sarinya. Dalam prinsip yang sama, kita boleh mengatakan bahwa hakekat Roh Allah adalah sari Allah. Roh ini memiliki keilahian, yaitu unsur apa adanya Allah. Karena ciptaan itu ada oleh Allah, dan Roh Allah memiliki unsur keilahian, maka menurut Roma 1:20; ciptaan itu menyatakan kekuatan dan keilahian Allah yang kekal.
DALAM HUBUNGAN ALLAH DENGAN MANUSIA —
ROH TUHAN DENGAN UNSUR TRINITAS ILAHI
Setelah Allah menciptakan manusia, Ia datang untuk berkontak dengan manusia. TUHAN (Yehova) adalah nama Allah dalam hubungan-Nya dengan manusia. Dalam Kejadian 1 kita hanya memiliki nama Allah, namun dalam Kejadian 2 kita memiliki nama lain, yaitu TUHAN (Yehova), karena dalam pasal ini Allah mulai berkontak dengan manusia yang Dia ciptakan. Jadi, TUHAN (Yehova) adalah nama yang digunakan Allah untuk berkontak dengan manusia. Nama ini menunjukkan hubungan Allah dengan manusia.
Nama Yehova berasal atau bentukan dari kata kerja “to be” (adalah). Keluaran 3:14 mengatakan, “Firman Allah kepada Musa: ‘AKU ADALAH AKU ADALAH’” (Tl.). Lagi firman-Nya: ‘Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKU ADALAH AKU ADALAH telah mengutus aku kepadamu” (Tl.). Yehova adalah yang telah ada, yang ada, dan yang akan datang. “telah ada”, “ada”, dan “yang akan datang semua ini adalah bentuk kata kerja “to be”. Sebenarnya, kata kerja “to be” hanya berlaku untuk Allah. Hanya Dialah yang ada, telah ada, dan yang akan datang. Hanya Dialah Sang kekal, yaitu Yang ada dengan sendirinya. Hayat kita singkat. Jika kita tidak memiliki Allah, kita tidak akan terus-menerus ada, bahkan sekarang pun sebenarnya kita tidak ada, karena kata kerja “to be” tidak dapat diterapkan pada diri kita, sebagaimana diterapkan pada Allah. Kata kerja to be adalah akar kata kerja. Segala sesuatu bergantung pada kata kerja ini. Sebagai contoh, makan tergantung pada keberadaan kita. Jika saya tidak ada bagaimana saya dapat makan? Semua kata kerja lain, yang mungkin berjumlah ribuan, tergantung pada kata kerja unik ini, yaitu kata kerja ada (to be). Hanya Allahlah Sang ada itu; hanya Dialah AKU ADALAH AKU ADALAH, yaitu Sang ada yang kekal dan yang ada dengan sendirinya.
Untuk berhubungan dengan manusia, Allah harus menjadi tritunggal Bapa, Putra, dan Roh. Menurut Keluaran 3, Yehova menunjukkan Allah Tritunggal. Ini ditunjukkan dalam Keluaran 3:6, yaitu Allah berkata, “Akulah Allah ayahmu, Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub.” Setelah Allah berkata kepada Musa, “AKU ADALAH AKU ADALAH” dan menyuruhnya mengatakan kepada orang Israel, “AKU ADALAH AKU ADALAH”, telah mengutus aku kepadamu”; selanjutnya Ia berkata, “Beginilah kaukatakan kepada orang Israel: TUHAN, Allah nenek moyangmu, Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub, telah mengutus aku kepadamu: itulah nama-Ku untuk selama-lamanya, dan itulah sebutan-Ku turun-temurun” (ayat 15). Dalam Keluaran 3:14 Allah berkata, “AKU ADALAH AKU ADALAH telah mengutus aku kepadamu,” tetapi dalam ayat berikutnya Ia berkata, “TUHAN, Allah nenek moyangmu, Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub, telah mengutus aku kepadamu.” Ini menunjukkan bahwa Yehova adalah Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub. Sebutan (gelar) Allah ini Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub menunjukkan Tiga ke-Allahan, yaitu Trinitas. Dalam Pelajaran-Hayat Kitab Kejadian telah saya tunjukkan bahwa sebagian besar dari Kitab Kejadian berhubungan dengan Allah sebagai Allah dari tiga persona: Abraham, yaitu bapa; Ishak, yaitu anak; dan Yakub si perampas, seorang licik yang akhirnya berubah. Allah Abraham melambangkan Bapa; Allah Ishak melambangkan Putra; dan Allah Yakub melambangkan Roh itu. Yehova sebagai Allah dalam hubungan-Nya dengan manusia adalah Allah Tritunggal. Karena itu, Roh Yehova adalah Roh itu dengan unsur Trinitas ilahi-Nya.
Banyak ayat dalam Perjanjian Lama yang membicarakan Roh TUHAN: Hakim-hakim 3:10; 6:34; 11:29; 13:25; 14:6, 19; 15:14; 1Samuel 10:6; 16:13; 14; 2Samuel 23:2; 1Raja-raja 18:12; 22:24; 2Raja-raja 2:16; 2Tawarikh 18:23; 20:14; Yesaya 11:2; 63:14; Yehezkiel 11:5; 37:1; Mikha 3:8; Zakharia 7:12. Kapan saja Allah datang berkontak dengan orang-orang dalam Perjanjian Lama, la adalah Roh Yehova dengan unsur Trinitas-Nya. Sebenarnya, Roh Yehova adalah sari dari unsur Allah Tritunggal.
DALAM INKARNASI —
ROH KUDUS MEMBAWA SERTA UNSUR SIFAT KUDUS ILAHI
Sebelum inkarnasi, sebutan Roh Kudus tidak digunakan. Namun, versi King James tidak menuliskan fakta ini dengan jelas dalam terjemahannya atas Mazmur 51:13 dan Yesaya 63:10-11. “Roh Kudus-Mu” dalam Mazmur 51:13 seharusnya adalah “Roh kekudusan-Mu”, dan “Roh Kudus-Nya” dalam Yesaya 63:10-11 seharusnya adalah “Roh kekudusan-Nya”. Sebutan “Roh Kudus” kali pertama digunakan berkenaan dengan inkarnasi Kristus, pada saat Roh itu datang kepada Maria, sehingga ia mengandung Tuhan Yesus.
Menurut Lukas 1:35, malaikat berkata kepada Maria, “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah.” Kata Yunani yang diterjemahkan “kudus” di sini boleh juga diterjemahkan “orang kudus”. Keduanya benar. Sebelum inkarnasi Kristus, tak ada seorang pun yang memiliki sifat kudus. Sebaliknya, semua orang mulai dari zaman Adam dan selanjutnya adalah awam, biasa. Dalam Perjanjian Lama, Roh Kudus tidak menyebabkan seseorang kudus dengan sifat kudus Allah. Memang, orang-orang dan bendabenda tertentu menjadi kudus karena disisihkan bagi Allah. Sebagai contoh, Harun disisihkan bagi Tuhan untuk melayani-Nya sebagai imam besar, namun ia tidak menjadi kudus dengan sifat kudus Allah. Baru setelah Tuhan Yesus lahir, Dia adalah yang memiliki sifat kudus. Ini dapat terjadi karena Ia dikandung dari Roh Kudus, sedangkan Roh Kudus memiliki unsur sifat ilahi yang kudus. Karena itu, Matius 1:18 mengatakan bahwa Maria “mengandung dari Roh Kudus.” Demikian pula, malaikat Tuhan berkata kepada Yusuf, “Janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai istrimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus” (ayat 20).
Dalam Perjanjian Baru, kadang-kadang bahasa Yunani menyebut “Roh itu, Yang Kudus”. Pernyataan ini menunjukkan bahwa Roh itu adalah kudus. Ini mewahyukan bahwa Roh Allah, yaitu Roh Yehova, sekarang adalah Roh Kudus membawa serta sifat kudus Allah, untuk menghasilkan orang yang bersifat kudus sebagaimana diri Allah sendiri adalah kudus. Allah itu kudus tidak hanya pada posisi-Nya, tetapi juga kudus pada sifat-Nya. Karena Tuhan Yesus dikandung dari Roh Kudus, maka sifat-Nya juga kudus.
Roh Kudus yang bersifat sedemikian ini telah menjadikan kita, kaum beriman, kudus dengan sifat Allah. Jika kita memahami hal ini, kita akan tahu makna pengudusan dalam Perjanjian Baru. Pengudusan dalam Perjanjian Baru menjadikan kita kudus tidak hanya pada posisi, tetapi juga pada sifat. Pengudusan ini menyebabkan kita kudus dalam sifat, seperti Allah yang adalah kudus. Karena itu, saya mengatakan bahwa Roh Kudus memiliki unsur sifat kudus ilahi.
SEBELUM KEBANGKITAN KRISTUS,
ROH ITU BELUM ADA, BELUM DICAMPUR
DENGAN UNSUR-UNSUR LAIN
Yohanes 7:39 mengatakan, “Yang dimaksudkan-Nya ialah Roh yang akan diterima oleh mereka yang percaya kepada-Nya; sebab Roh itu belum ada, karena Yesus belum dimuliakan” (Tl.). Ayat ini menunjukkan bahwa sebelum kebangkitan Kristus, Roh itu Roh yang dicampur dengan unsur-unsur lain belum ada. Roh Allah telah ada dari semula, namun Roh itu sebagai Roh Kristus dan Roh Yesus Kristus (Flp. 1:19) belum ada ketika Tuhan mengatakan firman ini, karena Ia belum dimuliakan. Yesus dimuliakan ketika Ia bangkit (Luk. 24:26). Setelah kebangkitan-Nya, Roh Allah menjadi Roh Yesus Kristus yang berinkarnasi, disalibkan, dan dibangkitkan, yang oleh Yesus diembuskan kepada murid-murid pada hari Ia bangkit (Yoh. 20:22). Sekarang Roh itu adalah “Penolong yang lain”, yaitu Roh realitas yang dijanjikan oleh Kristus sebelum Ia wafat (Yoh. 14:16-17). Ketika Roh itu sebagai Roh Allah, Ia hanya memiliki unsur ilahi. Ketika Ia menjadi Roh Yesus Kristus melalui inkarnasi, penyaliban, dan kebangkitan Kristus, Ia memiliki baik unsur ilahi maupun unsur insani berikut semua sari dan realitas inkarnasi, penyaliban, dan kebangkitan Kristus. Karena itu, sekarang Ia adalah Roh almuhit Yesus Kristus.
Dari zaman Kejadian 1 sampai zaman Yohanes 20:22, Roh itu belum ada. Istilah “Roh itu” adalah almuhit, karena mencakup semua unsur dari seluruh sebutan lain atas Roh itu. Sebagaimana akan kita lihat, Roh itu mencakup Roh realitas, Roh Yesus, Roh Kristus, Roh Yesus Kristus, Roh hayat, Roh pemberi-hayat, Roh Tuhan, Roh anugerah, dan tujuh Roh. Alangkah ajaib!
Mengenai Roh itu, saya menganjurkan Anda agar jangan mengikuti ajaran-ajaran tradisional. Ajaran-ajaran itu telah membius banyak orang beriman. Bertahun-tahun saya telah terkena bius ajaran-ajaran tradisional itu, dan Tuhan memerlukan waktu yang panjang untuk menyadarkan saya dari bius itu. Saya khawatir ada orang di antara kita, terutama mereka yang tua, masih berada di bawah pengaruh bius ajaran-ajaran tradisional. Pengaruh ini dapat menyebabkan Anda berada dalam keadaan tidak sadar kapan saja Anda membaca Alkitab. Itulah sebabnya mengapa Anda tidak menerima terang ketika Anda mempelajari firman. Mungkin Anda masih terlalu banyak berada di bawah pengaruh tradisi dan pengertian alamiah Anda sendiri. Setiap kali kita menghampiri Alkitab, kita harus menghampirinya dengan pikiran jernih, yaitu pikiran yang telah “kosong” tidak terbius. Selain itu, kita harus miskin di dalam roh dan murni dalam hati. Tuhan Yesus mengatakan bahwa siapa saja yang miskin di dalam roh dan murni dalam hati, akan diberkati (Mat. 5:3, 8 Tl.). Kita perlu memiliki roh yang tidak terisi, tidak terduduki oleh barang apa pun, kita juga perlu memiliki hati yang murni, yang hanya mencari Tuhan. Jika kita memiliki pikiran, roh, dan hati yang sedemikian, saat kita membaca tentang Roh dalam firman, kita akan melihat makna dari semua sebutan untuk Roh Allah.
Tak satu pun dari sebutan Roh itu yang tidak bermakna. Sebagai contoh, Ibrani 10:29 berbicara tentang menghina Roh anugerah. Sangatlah bermakna bahwa ayat ini tidak berbicara tentang menghina Roh Allah. Roh anugerah memungkinkan kita mengecap Allah Tritunggal sebagai kenikmatan kita. Inilah pengecapan atas anugerah. Menghina Roh anugerah adalah hal yang sangat serius. Menurut Kitab Ibrani, kita harus memperhatikan darah Yesus yang menguduskan dan Roh anugerah, yaitu Roh untuk kenikmatan kita. Ibrani 10:29 menggambarkan fakta bahwa setiap sebutan untuk Roh itu bermakna, karena setiap sebutan menunjukkan unsur tertentu Roh itu.
ROH REALITAS
Setelah kebangkitan Tuhan, firman-Nya mengenai Roh itu sebagai Penolong yang lain, sebagai Roh realitas, telah terpenuhi. Ia pernah mengatakan bahwa Ia akan berdoa agar Bapa memberi kita seorang Penolong yang lain, yaitu Roh realitas yang akan tinggal di dalam kita. Selanjutnya Ia mengatakan, pada hari itu kita akan tahu bahwa Dia di dalam Bapa, kita di dalam Dia, dan Dia di dalam kita. Dengan tegas Ia mengatakan kepada murid-murid bahwa Ia tidak akan meninggalkan mereka sebagai yatim piatu, melainkan akan datang kepada mereka. Kedatangan Roh realitas justru adalah kedatangan Kristus, karena Kristus adalah Roh ini. Pada hari kebangkitan-Nya, Tuhan Yesus menampakkan diri kepada murid-murid-Nya, mengembusi mereka seraya berkata, “Terimalah Roh Kudus” (Yoh. 20:22). Inilah Roh realitas, yaitu Roh yang mengandung semua unsur selanjutnya dari Roh itu.
Kita jangan beranggapan bahwa sejak kebangkitan Kristus Roh itu bukan lagi Roh Allah, Roh Tuhan, atau Roh Yehova, maupun Roh Kudus. Tidak, Roh itu tetap adalah Roh Allah (Rm. 8:9, 14; 1Kor. 2:14), Roh Yehova, Roh Tuhan (Kis. 5:9; 8:39; 2Kor. 3:17), dan Roh Kudus (Kis. 16:6; Rm. 15:13, 16). Selain itu, Roh ini juga adalah Roh realitas (Yoh. 14:17; 15:26; 16:13 Tl.).
ROH YESUS DENGAN UNSUR-UNSUR
INSANI, KEHIDUPAN INSANI, DAN PENYALIBAN
Menurut Kisah Para Rasul 16:6, Paulus dan para sekerjanya “dicegah oleh Roh Kudus agar tidak memberitakan Injil di Asia”. Namun, ayat 7 mengatakan bahwa Roh Yesus tidak mengizinkan mereka memasuki Bitinia. Dalam kedua ayat ini pertama-tama ada Roh Kudus, kemudian ada Roh Yesus. Jika kita mempelajari konteks dari ayat 7, kita akan melihat bahwa Paulus sedang menderita. Itulah sebabnya Roh Yesus menyertainya. Roh Yesus memiliki unsur insani, kehidupan insani, dan penyaliban. Karena Paulus dalam Kisah Para Rasul 16 sedang mengalami penderitaan insani dan kematian Kristus, maka Roh Allah, Roh Tuhan, dan Roh Kudus pada saat itu menjadi Roh Yesus, yaitu Roh dari Yang berinkarnasi, yang hidup di bumi sebagai manusia, dan mati di atas salib.
ROH KRISTUS
DENGAN UNSUR KEBANGKITAN
Roma 8:9 mengatakan, “Tetapi kamu tidak hidup dalam daging, melainkan dalam Roh, jika memang Roh Allah tinggal di dalam kamu. Tetapi jika orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus.” Roma 8:9, 10, dan 11 berkenaan dengan kebangkitan Kristus. Roh Kristus dalam ayat 9 memiliki unsur kebangkitan. Roh ini adalah Roh Allah yang disebutkan dalam ayat yang sama dan juga Roh hayat yang disebutkan dalam ayat 2. Dalam Roh itu kita memiliki inkarnasi, insani, kehidupan insani, kematian, dan kebangkitan Kristus. Ini diwahyukan oleh bermacam-macam sebutan Roh itu. Jika Roh itu tidak mengandung unsur insani, kehidupan inkarnasi, dan penyaliban, mengapa disebut Roh Yesus? Demikian pula, jika Roh itu tidak mengandung unsur kebangkitan, mengapa disebut Roh Kristus? Lagi pula, jika Roh itu tidak mengandung hayat ilahi, mengapa disebut Roh hayat? Sebutan-sebutan untuk Roh itu menunjukkan fakta-fakta tertentu. Karena itu, berdasarkan sebutan-sebutan Roh itu dalam Perjanjian Baru, kita dapat mengatakan bahwa dalam Roh Yesus kita memiliki inkarnasi, unsur insani, kehidupan insani, penderitaan, dan penyaliban, dan dalam Roh Kristus kita memiliki kebangkitan, kekuatan kebangkitan, dan hayat ilahi.
ROH YESUS KRISTUS DENGAN SUPLAI YANG LIMPAH LENGKAP
DARI SEMUA UNSUR INSANI,
KEHIDUPAN INSANI, PENYALIBAN, DAN KEBANGKITAN
Dalam Filipi 1:19, Paulus membicarakan Roh Yesus Kristus: “Karena aku tahu bahwa kesudahan semuanya ini ialah keselamatanku oleh doamu dan suplai yang limpah lengkap dari Roh Yesus Kristus” (Tl.). Ketika Paulus menulis firman ini, ia berada dalam penjara. Namun, meskipun ia adalah seorang tahanan, ia bersukacita karena ia memiliki suplai yang limpah lengkap dari Roh Yesus Kristus. Ia menikmati Roh Yesus, yaitu Roh yang menderita, dan Roh Kristus, yaitu Roh yang telah bangkit. Roh ini menyuplai dan menunjang Paulus dalam penderitaannya dan menyebabkan ia dapat bersukacita. Karena itu, dalam Filipi 1:20-21 Paulus dapat berkata, “Sebab yang sangat kurindukan dan kuharapkan ialah bahwa aku dalam segala hal tidak akan beroleh malu, melainkan seperti sediakala, demikian pun sekarang, Kristus dengan nyata dimuliakan di dalam tubuhku, baik oleh hidupku, maupun oleh matiku. Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.”
ROH HAYAT
DENGAN KEKAYAAN HAYAT ILAHI
Roma 8:2 berkata, “Hukum Roh hayat telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan maut” (Tl.). Sebenarnya tak usah dijelaskan lagi bahwa Roh hayat mengandung unsur hayat ilahi. Pada Roh hayat kita memiliki hayat ilahi.
ROH PEMBERI-HAYAT DENGAN PENYALURAN HAYAT ILAHI
Satu Korintus 15:45 mengatakan bahwa Kristus, yaitu Adam yang akhir, menjadi Roh pemberi-hayat. Kemudian 2Korintus 3:6 mengatakan bahwa hukum yang tertulis mematikan, namun Roh memberi hayat. Menurut ayat-ayat ini, Roh itu juga adalah Roh pemberi-hayat. Inilah Roh itu dengan penyaluran hayat ilahi. Roh pemberi-hayat memiliki kemampuan untuk memberikan hayat kepada kita. Sekarang kita memiliki hayat di dalam kita. Namun, kita tidak memiliki kemampuan untuk menyalurkan hayat ini kepada orang lain. Namun, Roh hayat juga adalah Roh pemberi-hayat. Karena itu, dalam sebutan Roh ini, unsur penyaluran hayat dinyatakan.
ROH TUHAN DENGAN UNSUR KENAIKAN KE SURGA
DAN KEKEPALAAN-NYA
Dua Korintus 3:18 berkata, “Kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita sedang diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar.” Dalam ayat ini Paulus tidak membicarakan Roh Allah, Roh Kudus, maupun Roh hayat. Sebaliknya, ia menunjukkan Roh Tuhan. Dalam aspek Roh ini unsur kekepalaan tercakup. Tuhan Yesus menjadi Tuhan setelah kenaikan-Nya ke surga. Ini berarti seorang manusia dari Nazaret yang bernama Yesus telah menjadi Tuhan. Sekarang kekepalaan ini berada dalam Roh itu. Dalam Roh Tuhan kita memiliki unsur kenaikan ke surga dan kekepalaan.
ROH ANUGERAH DENGAN UNSUR KENIKMATAN ATAS
ALLAH TRITUNGGAL
Roh majemuk juga adalah Roh anugerah (Ibr. 10:29). Roh anugerah memiliki unsur kenikmatan atas Allah Tritunggal. Unsur ini ialah anugerah.
TUJUH ROH YANG DIPERKUAT TUJUH GANDA
Wahyu 1:4 mengatakan, “Dari Yohanes kepada ketujuh jemaat yang di Asia Kecil: Anugerah dan damai sejahtera menyertai kamu, dari Dia, yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang, dan dari ketujuh roh yang ada di hadapan takhta-Nya.” Roh itu tidak hanya memiliki unsur penyaluran hayat, tetapi juga diperkuat. Tujuh Roh dalam Kitab Wahyu menunjukkan Roh itu dengan unsur intensifikasi tujuh ganda.
ROH ITU DENGAN SEMUA UNSUR SEBUTAN-NYA —
ROH YANG ALMUHIT
Apabila semua aspek dan unsur dari Roh itu disatukan, maka kita akan memperoleh suatu jumlah, suatu totalitas, yang dalam Perjanjian Baru dikenal sebagai Roh itu (Rm. 8:16, 23, 26, 27; Gal. 3:14; 5:16-18, 22, 25; 1Ptr. 1:2; Why. 2:7; 14:13; 22:17). Sebagaimana Alkitab adalah kitab itu, demikian pula Roh Allah adalah Roh itu. Roh itu adalah Roh majemuk yang almuhit dan yang telah melalui proses. Roh ini adalah Roh Allah, Roh Yehova, Roh Kudus, Roh realitas, Roh Yesus, Roh Kristus, Roh Yesus Kristus, Roh Hayat, Roh pemberi-hayat, Roh Tuhan, Roh anugerah, dan tujuh Roh.
Kita telah melihat bahwa pada masa Yohanes 7:39, Roh itu “belum ada”. Masa itu adalah masa sebelum Tuhan Yesus disalibkan dan dimuliakan dalam kebangkitan. Namun, sekarang kita yang percaya dalam Kristus dapat mencapai hasrat kita untuk menikmati Roh itu, dan Roh itu akan menjadi sungai air hayat yang mengalir keluar dari lubuk apa adanya kita. Menurut Yohanes 7:38 dan 39, Roh itu, yaitu Roh yang almuhit, akan menjadi sungai air hayat yang mengalir keluar dari batin kita. Ini berarti dalam pengalaman kita, satu Roh itu menjadi banyak sungai air hayat. Inilah kenikmatan atas Roh itu.
Tulisan Yohanes, Petrus, dan Paulus, membicarakan Roh itu. Paulus menggunakan istilah Roh itu lebih banyak daripada sebutan-sebutan lain untuk Roh itu. Dalam 1Petrus 1:2, Petrus tidak mengatakan pengudusan oleh Roh Kudus, melainkan pengudusan oleh Roh itu. Alasannya ialah karena Roh Kudus tidak sekaya Roh yang almuhit. Dalam Kitab Wahyu, Yohanes tidak menggunakan sebutan Roh Allah, Roh Tuhan, maupun Roh Kudus. Dalam Kitab Wahyu hanya digunakan dua nama atas Roh itu: tujuh Roh dan Roh itu. Dalam Wahyu 1:4; 4:5; dan 5:6 kita jumpai tujuh Roh. Dalam Wahyu 2 dan 3, sebutan Roh itu digunakan berkali-kali. Sebutan ini juga ditemukan dalam Wahyu 14:13, dan yang terakhir dalam Wahyu 22:17. Wahyu 22:17 mengatakan, “Roh dan pengantin perempuan itu berkata, ‘Marilah!’” ini mewahyukan bahwa Roh itu sebagai totalitas Allah Tritunggal telah menjadi esa dengan gereja, yang sekarang telah dewasa untuk menjadi pengantin perempuan. Maka, Roh itu dan pengantin perempuan adalah satu. Alangkah ajaibnya!
Mengenai pemberitaan Injil kepada Abraham, Galatia 3:14 mengatakan, “Yesus Kristus telah melakukan hal ini, supaya di dalam Dia berkat Abraham sampai kepada bangsa-bangsa lain, sehingga melalui iman kita menerima Roh yang telah dijanjikan itu.” Dalam memberitakan Injil kepada Abraham, Allah menjanjikan Roh itu. Sekali lagi, dalam Galatia 3:14 kita tidak menjumpai Roh Allah, Roh Tuhan, maupun Roh Kudus. Dalam ayat ini kita jumpai Roh itu, karena Roh itu adalah berkat unik dari ekonomi Perjanjian Baru yang dijanjikan Allah kepada Abraham. Ini berarti kepada Abraham, Allah telah memberitakan Injil Roh itu.
Saya telah menunjukkan bahwa dalam Alkitab, Roh itu adalah perwujudan Allah Tritunggal setelah melalui proses menjadi Roh yang almuhit, Roh majemuk, yaitu Roh pemberi-hayat. Karena itu, Roh itu tak lain adalah Allah Tritunggal sendiri. Namun, terlepas dari proses yang Ia lewati, Ia bukanlah Allah Tritunggal. Roh itu adalah Allah Tritunggal setelah Ia melewati proses inkarnasi, kehidupan insani, penyaliban, kebangkitan, dan kenaikan ke surga. Setelah melalui proses ini, Allah Tritunggal sekarang adalah Roh sempurna itu sebagai berkat Perjanjian Baru. Roh itu adalah berkat dari ekonomi Allah. Mula-mula, Injil mengenai berkat ini diberitakan kepada bapa kita Abraham. Sekarang, sebagai anak-anak Abraham, kita harus mengikuti langkahnya untuk menikmati Roh itu sebagai berkat unik dari ekonomi Perjanjian Baru Allah.
FUNGSI ROH MAJEMUK
Setelah melihat unsur Roh majemuk, sekarang kita dapat mengatakan fungsi Roh ini. Fungsi Roh majemuk ialah untuk mengurapi tempat kediaman Allah dengan perabotan dan perkakasnya (Kel. 30:26-29), dan mengurapi imamat Allah (Kel. 30:30). Ini menunjukkan bahwa Roh majemuk adalah untuk pembangunan dari imamat Allah. Jika kita tidak untuk pembangunan dan imamat Allah, kita tidak akan dapat memperoleh bagian apa pun dalam Roh majemuk, meskipun mungkin kita memperoleh kenikmatan dan partisipasi dalam Roh Allah, Roh Tuhan, dan Roh Kudus. Hanya mereka yang untuk pembangunan dan imamat Allahlah yang bisa memperoleh kenikmatan atas Roh majemuk, almuhit, dan melalui berbagai proses. Semua unsur yang berlimpah dari Roh majemuk adalah untuk rumah Allah dan imamat Allah.