MINYAK URAPAN MAJEMUK — ROH MAJEMUK (1)
Pembacaan Alkitab:
Kel. 30:23-30; Kej. 1:2; Hak. 3:10; Luk. 1:35; Yoh. 7:39; Rm. 8:2, 9;
Kis. 5:9; 16:6-7; Yoh. 14:17; Flp. 1:19; 1Kor. 15:45; 2Kor. 3:18;
Ibr. 10:29; Why. 1:4; Rm. 8:16; 1Ptr. 1:2; Why. 2:7; 22:17
Minyak urapan kudus yang dijelaskan dalam Keluaran 30:23-30 adalah minyak urapan majemuk. Dalam Kitab Suci, Roh Allah mula-mula dilambangkan dengan minyak. Minyak ini terdiri atas satu unsur, tanpa campuran maupun perbauran sedikit pun. Namun dalam Keluaran 30, minyak dicampur dengan empat macam rempah-rempah: mur, kayu manis, deringo, dan kayu teja. Keempat macam rempah-rempah yang berharga dan wangi ini dicampur, dibaurkan dengan minyak. Alhasil, minyak tersebut menjadi minyak urapan majemuk. Menurut Alkitab, keempat macam rempah-rempah ini berhubungan dengan Tuhan Yesus. Baik pada saat kelahiran maupun penguburan-Nya, mur digunakan oleh orang-orang yang menghormati-Nya. Dalam Kitab Kidung Agung, rempah-rempah tertentu memiliki makna rohani, baik berkenaan dengan Tuhan sendiri maupun orang yang mencari-Nya.
Catatan tentang minyak urapan majemuk dalam Keluaran 30 sangatlah bermakna. Perintah Tuhan kepada Musa untuk membuat minyak urapan majemuk ini sangat penting. Perintah ini diberikan setelah Kemah Suci berikut semua perabotan serta perkakasnya dan imamat diwahyukan. Ini berarti sebelum penjelasan tentang minyak urapan majemuk kita memiliki dua wujud. Wujud yang pertama ialah Kemah Suci, yaitu tempat kediaman Allah; wujud yang kedua ialah imamat, yaitu orang-orang yang melayani Allah.
TEMPAT KEDIAMAN ALLAH DAN IMAMAT
Satu Petrus 2 membicarakan tempat kediaman Allah dan imamat. Menurut pasal ini, Allah menghendaki dua hal. Pertama-tama, Tuhan Yesus adalah batu hidup. Sebagai orang-orang yang datang kepada-Nya, kita ini batu-batu hidup, yang dibangun menjadi sebuah rumah rohani dan masuk ke dalam imamat kudus. Di sini kita memiliki rumah rohani, yaitu tempat kediaman Allah, dan juga imamat, yaitu kelompok (badan) orang-orang yang melayani. Sebenarnya, kedua satuan ini, yaitu rumah rohani dan imamat, adalah satu wujud dari dua aspek. Di satu aspek, kita ini tempat kediaman Allah; di aspek lain, kita ini imamat Allah. Kita adalah rumah untuk Allah tinggali, dan kita adalah imam untuk melayani Allah. Allah memerlukan tempat kediaman di bumi untuk ekspresi-Nya. Pada saat yang sama, Ia juga memerlukan imamat yang melayani-Nya. Allah ingin mengekspresikan diri-Nya, dan Ia ingin dilayani. Karena itu, Ia menghendaki rumah rohani dan imamat kudus.
Wahyu tentang minyak urapan majemuk tidak diberikan dalam Keluaran 1. Wahyu ini bahkan tidak diberikan dalam Keluaran 29, melainkan menjelang akhir Keluaran 30, yaitu setelah tempat kediaman Allah dan imamat diwahyukan. Ini menunjukkan bahwa minyak urapan majemuk semata-mata adalah untuk mengurapi tempat kediaman Allah dan imamat-Nya. Menurut Keluaran 30:26-28, minyak urapan digunakan untuk mengurapi Kemah Suci, tabut, meja roti sajian dan perkakasnya, kaki pelita dan perkakasnya, mezbah pembakaran ukupan, mezbah kurban bakaran dan perkakasnya, serta bejana pembasuhan dan alasnya. Lagi pula, ayat 30 mengatakan, “Engkau harus juga mengurapi dan menguduskan Harun dan anak-anak-nya supaya mereka memegang jabatan imam bagi-Ku.” Ayatayat ini dengan jelas menunjukkan bahwa minyak urapan majemuk adalah untuk mengurapi Kemah Suci dan para imam.
KENIKMATAN ATAS TUHAN DALAM KITAB KELUARAN
Dalam Kitab Keluaran terdapat sejumlah kenikmatan. Sebagai contoh, Paskah merupakan kenikmatan bagi orang Israel. Paskah adalah perayaan yang akhirnya menjadi peraturan. Tiap tahun, perayaan yang pertama ialah Paskah. Fokus perayaan ini adalah anak domba, yang melambangkan Kristus sebagai penebus kita. Ini menunjukkan bahwa Kristus adalah kenikmatan pertama bagi umat pilihan Allah. Bahkan ketika orang Israel masih berada di Mesir, mereka dapat memiliki kenikmatan atas anak domba Paskah. Mereka tidak hanya mengoleskan darah pada ambang pintu, tetapi juga memakan daging anak domba tersebut. Karena itu, anak domba adalah untuk kenikmatan mereka. Setelah orang Israel tiba di padang gurun, mereka mulai menikmati manna dan air hidup yang mengalir dari batu karang. Jadi, orang Israel sedikitnya menikmati tiga hal Paskah, manna, dan air hidup. Kita harus mengetahui bahwa semua kenikmatan ini mereka peroleh sebelum Kemah Suci dan imamat diwahyukan. Ini berarti bahkan tanpa Kemah Suci dan imamat pun, mereka dapat memperoleh kenikmatan atas anak domba, manna, dan air hidup. Jika kita mengetahui dengan jelas situasi orang Israel, maka kita akan dapat melihat di mana orang-orang Kristen hari ini berada. Di manakah sebagian besar orang Kristen berada sebelum wahyu tentang Kemah Suci dan imamat, ataukah sesudahnya? Tidak diragukan lagi, sebagian besar orang Kristen berada sebelum wahyu tentang Kemah Suci dan imamat. Ini berarti situasi orang-orang Kristen hari ini adalah tanpa kediaman dan imamat Allah. Paling banyak, sebagian besar orang Kristen menikmati anak domba Paskah, manna, dan air hidup. Namun, jumlah mereka yang menikmati air hidup sungguh sedikit sekali. Ketika saya masih muda, saya mendengar banyak pembicaraan tentang anak domba Paskah dan manna, namun saya hampir tidak pernah mendengar pembicaraan tentang air hidup yang mengalir dari batu karang.
Berkenaan dengan kenikmatan atas Kristus ini, kita harus bertanya kepada diri kita sendiri di mana kita berada. Apakah kita hanya memiliki kenikmatan yang datang sebelum wahyu tentang Kemah Suci dan imamat, yaitu kenikmatan atas anak domba, manna, dan air hidup? Di manakah Anda berada berkenaan dengan kenikmatan atas Kristus? Anda berada sebelum wahyu tentang Kemah Suci dan imamat, ataukah sesudahnya? Pertanyaan ini amat penting. Jika dalam kenikmatan Anda atas Kristus, Anda berada sebelum Kemah Suci dan imamat, maka Anda tidak akan dapat memperoleh bagian sedikit pun dalam minyak urapan majemuk. Minyak urapan ini hanya dapat dinikmati setelah tempat kediaman Allah dan kelompok yang terdiri atas orang-orang yang melayani Allah muncul. Terpisah dari tempat kediaman Allah dan imamat-Nya, umat pilihan Allah tidak dapat menikmati minyak urapan majemuk.
Ketika ditanyai apakah kenikmatan Anda atas Kristus berada sebelum Kemah Suci dan imamat atau sesudahnya, mungkin Anda akan mengalami kesulitan dalam menjawab pertanyaan ini. Mungkin Anda ragu-ragu, tidak tahu apakah Anda harus menjawab “sebelumnya” atau “sesudahnya”. Namun, saya yakin sebagian besar di antara kita setidaknya telah memiliki beberapa pengalaman atas minyak urapan majemuk. Apa yang kita nikmati dan alami bukan hanya minyak bahkan minyak urapan. Minyak itu sederhana, karena hanya mengandung satu unsur, sedangkan urapan itu kaya. Sebagaimana telah berkalikali saya tunjukkan, minyak urapan adalah campuran yang dihasilkan dengan cara mencampur empat macam rempahrempah dengan minyak zaitun. Sungguh sangat bermakna bahwa dalam Keluaran 30 kita memiliki catatan wahyu ilahi mengenai campuran minyak urapan ini. Unsur dan kuantitas rempah-rempah ini pun bermakna. Meskipun rempah-rempah ini ada empat macam, sesungguhnya hanya terdapat tiga satuan yang masing-masing terdiri atas lima ratus syikal.
MAKNA DARI ANGKA TIGA DAN LIMA
Dalam catatan tentang minyak urapan majemuk, kita jumpai angka tiga dan lima. Dalam Alkitab, kapan kala angka tiga dan lima digabungkan, kombinasi ini berhubungan dengan bangunan Allah. Bangunan Allah yang pertama adalah bahtera Nuh. Dalam penjelasan tentang bahtera tersebut terdapat kelipatan angka tiga dan lima: “Beginilah engkau harus membuat bahtera itu: tiga ratus hasta panjangnya, lima puluh hasta lebarnya dan tiga puluh hasta tingginya” (Kej. 6:15). Selain itu, bahtera tersebut dibuat bertingkat “bawah, tengah dan atas” (Kej. 6:16). Bangunan Allah yang kedua ialah Kemah Suci. Kemah Suci terdiri atas tiga bagian: pelataran luar, tempat kudus, dan tempat maha kudus. Pada Kemah Suci, angka lima sering muncul. Sebagai contoh, Kemah Suci dibuat dengan sepuluh tenda dari lenan halus. Menurut Keluaran 26:3, lima tenda disambung (LAI: dirangkap) menjadi satu, dan yang lima lagi juga disambung menjadi satu. Lagi pula, pelataran luar berbentuk bujur sangkar yang tiap-tiap sisinya berukuran lima hasta. Mezbah kurban bakaran pun memiliki panjang lima hasta, lebar lima hasta, dan tinggi lima hasta. Jadi, pada bangunan Allah yang kedua kita memiliki angka tiga dan lima.
Dalam Alkitab angka tiga melambangkan Allah Tritunggal dalam kebangkitan. Kebangkitan, sebagaimana kita ketahui, terjadi pada hari ketiga. Karena itu, Allah Tritunggal dan kebangkitan dilambangkan dengan angka tiga. Sebagaimana telah beberapa kali saya jelaskan, dalam Alkitab, angka lima terbentuk dari empat tambah satu, yang melambangkan pertanggungjawaban. Karena itu, angka tiga dan lima bersama-sama melambangkan Allah Tritunggal dalam kebangkitan yang memikul tanggung jawab atas umat-Nya. Ini untuk pembangunan.
MENJELASKAN FIRMAN
Beberapa orang mungkin mendebat bahwa mengatakan angka tiga dan lima itu melambangkan Allah Tritunggal dalam kebangkitan yang memikul tanggung jawab atas umat-Nya dan angka-angka tersebut berhubungan dengan bangunan Allah merupakan suatu pengiasan yang berlebihan atas firman. Namun, apa yang mereka anggap sebagai kiasan itu hanyalah pengertian mengenai apa yang diwahyukan dalam Alkitab. Kita boleh menyamakan pengiasan ini dengan membaca dan mengucapkan dan mengeja sebuah kata. Misalnya kata “availability” dieja demikian: a-v-a-i-la-b-i-l-i-t-y. Bila kita membaca kata ini, kita harus mengejanya dengan tepat dan mengetahui artinya. Proses ini sama dengan apa yang kita lakukan kapan kala kita mengiaskan Kitab Suci dalam cara yang tepat. Tuhan Yesus dan Rasul Paulus mengiaskan Alkitab karena mereka mengetahui makna dari abjad rohani yang terkandung dalam firman. Kita boleh menganggap empat macam rempahrempah dalam Keluaran 30 sebagai huruf dalam abjad rohani. Demikian pula, takaran keempat macam rempahrempah itu juga merupakan huruf-huruf dalam abjad ini. Cara untuk membaca dan memahami huruf-huruf itu adalah mengiaskan huruf-huruf itu sendiri.
Ketika saya masih muda, saya bekerja pada sebuah badan hukum yang setiap hari menerima telegram. Tidak seperti hari ini, lima puluh tahun yang lalu perdagangan internasional tergantung pada komunikasi yang dilakukan dengan telegram. Kadang-kadang telegram hanya berisi sebuah kata yang ditulis dalam huruf sandi. Mula-mula saya tidak dapat mengartikan telegram semacam itu. Akhirnya, dengan mempelajari buku sandi/kode yang menjelaskan bermacam-macam arti huruf sandi, saya dapat membaca berita yang ditulis dalam huruf sandi. Sering dua huruf menunjukkan kalimat yang panjang. Ketika mengartikan, saya memahami bahwa kata sandi yang terdiri atas sepuluh huruf dapat menjadi berita yang benar-benar panjang.
Cara terbaik untuk mempelajari Alkitab ialah berlatih mengartikannya. Mengartikan Alkitab berarti menguraikan firman Tuhan. Jika kita tidak tahu bagaimana cara mengartikan Alkitab, kita akan menjadi seperti orang yang membaca telegram yang ditulis dalam huruf sandi, namun tidak tahu bagaimana cara mengartikan. Bagi banyak orang Kristen hari ini, Alkitab seperti sebuah kata yang ditulis dalam huruf sandi, yang tidak dapat mereka artikan. Beginilah kedangkalan orang-orang Kristen berkenaan dengan wahyu kudus Allah. Sesungguhnya, dalam setiap pasal dari Alkitab terdapat sesuatu yang tidak dapat mereka artikan. Sebagai contoh, 1Petrus 1:2 mengatakan bahwa kita telah dipilih sesuai dengan rencana Allah, supaya taat kepada Yesus Kristus dan menerima percikan darah-Nya. Apa arti dari semua ini? Seseorang bisa saja telah menjadi orang Kristen selama empat puluh tahun lebih, tetapi belum juga mampu memahami ayat ini.
MELIHAT WAHYU TENTANG MINYAK URAPAN MAJEMUK
Saya sungguh khawatir melihat situasi orang-orang Kristen hari ini. Di satu aspek, tiap hari saya merasa bersukacita dalam Tuhan. Di aspek lain, kapan kala saya memperhatikan situasi kaum beriman dan mendoakannya, saya merasa sedih. Bahkan saya sering pula merasa sedih bila memperhatikan situasi kaum beriman dalam gereja lokal. Tidak banyak orang beriman yang benar-benar memasuki kedalaman wahyu Allah. Sebaliknya, banyak di antara mereka yang terbius dan pingsan rohani. Karena mereka pingsan, maka mereka merasa puas dengan keadaan mereka, bahkan meskipun keadaan itu jauh dari memuaskan. Lagi pula, mereka yang telah puas dengan keadaan mereka tidak lagi mencari Tuhan. Oh, kita harus menghargai firman Tuhan dan memahaminya! Khususnya, kita harus berusaha menjamah kedalaman wahyu ilahi tentang minyak urapan majemuk dalam Keluaran 30.
Telah lebih dari lima puluh tahun saya membaca bukubuku yang ditulis oleh orang-orang lain untuk melihat bagaimana mereka menafsirkan lambang dari urapan majemuk. Guru-guru Kaum Saudara lebih banyak memperhatikan hal ini daripada guru-guru Alkitab lainnya. Hanya merekalah orang-orang yang menyinggung masalah ini. Mereka semua sependapat bahwa minyak melambangkan Roh Allah. Beberapa di antara mereka bahkan menghubungkan minyak urapan majemuk dalam Keluaran 30 dengan perkataan Yohanes tentang pengurapan dalam 1Yohanes 2:20 dan 27. Namun, meskipun mereka memiliki sedikit terang, mereka tidak mengatakan secara pasti dan rinci mengapa Roh Allah perlu dicampur.
Pertama-tama Alkitab menggunakan minyak untuk melambangkan Roh Allah. Namun, setelah wahyu tentang Kemah Suci dan imamat, Allah memberikan suatu formula campuran minyak dan rempah-rempah untuk dijadikan suatu minyak urapan majemuk. Mengapa setelah tempat kediaman Allah dan orang-orang yang melayani-Nya muncul, Allah memerlukan minyak urapan majemuk sebagai pengganti dari minyak murni yang hanya dengan unsurnya sendiri? Mengapa minyak urapan majemuk tidak diwahyukan sebelumnya? Menyadari bahwa ini adalah masalah yang penting, saya mempelajarinya selama bertahun-tahun. Alhasil, saya dapat menjamah kedalaman dari kebenaran Alkitab dalam firman berkenaan dengan Roh Allah. Karena belas kasihan-Nya, sedikit demi sedikit saya mulai memahami wahyu ilahi tentang Roh majemuk.
Segera setelah saya beroleh selamat, saya mulai menuntut pengalaman mati terhadap dosa. Saya tahu apa yang Roma 6 katakan, dan saya ingin dimerdekakan dari perhambaan hukum dosa. Saya diberi tahu agar memperhitungkan diri saya mati. Namun, sebagaimana telah saya tunjukkan di tempat lain, perhitungan ini tidak manjur dalam pengalaman saya. Akhirnya, melalui lebih banyak pengalaman, saya tahu bahwa tenaga, kekuatan, dan khasiat kematian Kristus berada dalam Roh itu. Kemudian saya mendengar Saudara Nee mengatakan bahwa aspek subyektif dari kematian Kristus hanya dapat dialami melalui Roh dalam Roma 8. Perkataannya memperkuat apa yang telah saya temukan dalam pengalaman saya, dan saya merasa gembira sekali mengetahui bahwa pengalaman subyektif atas kematian Kristus hanya mungkin diperoleh melalui Roh itu. Ini membantu saya mengetahui bahwa ada sesuatu yang tercakup dalam Roh Allah, yaitu yang berbaur dengan Roh Allah. Dari pengalaman saya tahu bahwa kematian Kristus dalam Roma 6 tercakup atau berbaur dengan Roh dalam Roma 8.
Karena saya menghabiskan banyak waktu untuk mempelajari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, maka pada suatu hari dari Keluaran 30 Tuhan menunjukkan kepada saya bahwa di sini kita memiliki minyak dan rempah-rempah, bukan hanya minyak sebagai unsur tunggal. Kemudian saya mulai mempelajari rempah-rempah tersebut. Dari pelajaran sebelumnya saya tahu bahwa dalam lambang, mur menunjukkan kematian Tuhan. Saya terus mempelajari rempah-rempah lain dan takarannya. Saya mulai melihat bahwa di sini kita memiliki tiga satuan yang terdiri atas lima ratus syikal, dan satuan yang di tengah dipecah menjadi dua bagian. Kemudian mata saya terbuka dan melihat bahwa ini melambangkan Allah Tritunggal. Dengan cara demikianlah wahyu tentang minyak urapan majemuk dan Roh majemuk datang.
SEBUTAN ROH ITU
Dalam berita yang akan datang kita akan membahas bermacam-macam sebutan Roh itu yang terdapat dalam Alkitab. Salah satu dari sebutan ini yang dijelaskan dalam Ibrani 10:29 ialah Roh anugerah. Dalam Perjanjian Baru terdapat dua hal yang penting: Darah yang menguduskan dan Roh anugerah. Sebenarnya, Perjanjian Baru terdiri atas darah yang menguduskan kita, dan Roh anugerah yang menyuplai kita dengan Allah Tritunggal. Dalam Alkitab kita memiliki tiga belas Roh Allah: Roh Allah (Rm. 8:9, 14; 1Kor. 2:14); Roh TUHAN, Roh Tuhan (Kis. 5:9; 8:39; 2Kor. 3:17); Roh Kudus (Kis. 16:6; Rm. 15:13, 16); Roh realitas (Yoh. 14:17; 15:26; 16:13 Tl.); Roh Yesus (Kis. 16:7); Roh Kristus (Rm. 8:9); Roh Yesus Kristus (Flp. 1:19); Roh hayat (Rm. 8:2 Tl.); Roh pemberi-hayat (1Kor. 15:45; 2Kor. 3:6 Tl.); Tuhan Roh (2Kor. 3:18); Roh anugerah (Ibr. 10:29); tujuh Roh (Why. 1:4); dan Roh itu (Rm. 8:16, 23, 26, 27; Gal. 3:14; 5:16-18, 22, 25; 1Ptr. 1:2; Why. 2:7; 14:13; 22:17). Roh realitas memiliki unsur lebih lanjut yang dijanjikan dalam Yohanes 14:17; 15:26; dan 16:13. Roh Yesus memiliki unsur insaniah, kehidupan insani, dan penyaliban. Roh Kristus memiliki unsur kebangkitan. Roh Yesus Kristus memiliki suplai yang limpah ruah atas unsur insaniah, kehidupan insani, penyaliban, dan kebangkitan. Roh hayat memiliki kekayaan hayat ilahi. Roh pemberi-hayat adalah untuk memberikan hayat ilahi. Roh Tuhan memiliki unsur kenaikan ke surga dan ke-Allahan. Roh anugerah adalah untuk menyuplai kita dengan kekayaan ilahi sebagai kenikmatan kita. Tujuh Roh adalah untuk intensifikasi tujuh ganda. Yang terakhir, Roh itu mencakup semua unsur dari sebutan sebelumnya. Karena itu, Roh itu adalah Roh yang almuhit. Ini berarti Roh itu merupakan jumlah keseluruhan dari semua aspek Roh Allah.
Tentang Roh Allah kita harus berpaling dari ajaran kekristenan tradisional dan kembali kepada wahyu ilahi dalam firman murni Allah. Mengapa Alkitab memberi tahu kita lambang tentang minyak urapan majemuk? Mengapa Alkitab mengandung demikian banyak sebutan dari Roh itu? Dalam Kejadian 1, Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air. Namun dalam pasal terakhir dari Alkitab dikatakan, “Roh dan pengantin perempuan itu berkata” (Why. 22:17). Mengapa wahyu ilahi dimulai dari Roh Allah dalam Kejadian 1 sampai dengan Roh itu dalam Wahyu 22? Kita juga harus tahu mengapa di antara sebutan-sebutan Roh itu kita memiliki Roh TUHAN, Roh Kudus, Roh realitas, Roh Yesus, Roh Kristus, Roh Yesus Kristus, Roh hayat, Roh pemberi-hayat, Tuhan Roh, Roh anugerah, dan tujuh Roh. Kita jangan menerima hal-hal dalam firman kudus ini sebagai sesuatu yang sudah seharusnya. Kita harus memasuki kedalaman wahyu ilahi tentang Roh itu memahami lambang dari minyak urapan majemuk, dan mengetahui bagaimana cara menerapkan Roh majemuk yang hebat ini dalam pengalaman kita.