MINYAK URAPAN KUDUS (3)
Pembacaan Alkitab: Kel. 30:22-33
PERLU PENGALAMAN ROHANI
Ketika saya masih muda, saya mendengar banyak berita dari Kitab Keluaran. Saya sering mendengar berita tentang anak domba Paskah dan manna, dan saya mendengar sedikit berita tentang air hidup. Namun, saya tidak pernah mendengar berita tentang Roh majemuk.
Orang Israel tinggal di Gunung Sinai untuk menerima hukum Taurat dan peraturan-peraturannya serta wahyu tentang Kemah Suci. Beberapa guru menunjukkan bahwa hukum Taurat diberikan oleh Allah sebagai ujian bagi umat-Nya. Allah tidak bermaksud agar umat Israel memelihara hukum Taurat. Namun, karena kebodohan mereka, maka Allah perlu memberikan hukum tersebut. Karena itu, Allah menguji umat Israel dengan cara memberikan hukum Taurat kepada mereka. Segera setelah pemberian hukum Taurat, Allah memberi Musa wahyu tentang Kemah Suci. Guru-guru itu menuding bahwa wahyu ini merupakan masalah anugerah. Yohanes 1:17 berkata, “Sebab hukum Taurat diberikan melalui Musa, tetapi anugerah dan kebenaran datang melalui Yesus Kristus.” Yesus Kristuslah realitas Kemah Suci. Ketika Kemah Suci ini datang, maka anugerah pun datang. Beberapa guru memiliki terang tentang hal ini; tetapi, pengalaman mereka terbatas. Karena mereka kekurangan pengalaman, maka mereka tidak dapat memahami urapan majemuk dalam Keluaran 30 ini dengan tepat.
Pengalaman bukan sekadar mengajar secara doktrinal bahwa “Kemah Suci ialah lambang Kristus”. Selama kita memiliki terang yang obyektif, kita memang dapat mengajarkan lambang ini secara doktrinal. Namun, untuk menjamah makna riil urapan majemuk dalam pengajaran, kita memerlukan pengalaman rohani. Karena guru-guru tadi kurang memiliki pengalaman, maka mereka tidak memahami urapan majemuk.
Guru-guru Alkitab menunjukkan bahwa minyak dalam Keluaran 30, sebagaimana di tempat-tempat lain dalam Perjanjian Lama, melambangkan Roh Allah. Beberapa di antara mereka bahkan mengajarkan bahwa minyak yang dituang oleh Yakub pada batu dalam Kejadian 28 melambangkan Roh yang dicurahkan ke atas umat pilihan Allah. Meskipun guru-guru Alkitab ini telah melihat makna dari minyak, mereka belum melihat makna dari urapan.
URAPAN MAJEMUK
Minyak urapan dalam Keluaran 30 merupakan suatu campuran. Namun, minyak itu sendiri bukanlah campuran, melainkan unsur tunggal tanpa unsur apa pun. Minyak urapan adalah campuran yang terbentuk dengan cara mencampur empat macam rempah-rempah dengan minyak zaitun. Minyak urapan majemuk ini dapat diibaratkan dengan cat. Cat ialah campuran yang mengandung lebih dari satu macam unsur. Demikian pula minyak urapan dalam Keluaran 30.
C.A. Coates banyak berkata tentang Roh dalam tulisannya. Mengenai Keluaran 30, ia mencurahkan perhatiannya hampir tiga halaman berkenaan dengan minyak urapan dan ukupan. Pada bagian dari tulisannya, ia menggunakan istilah Roh Kristus atau Roh sebanyak dua puluh satu kali. Ia tidak mengatakan Roh itu sebagai Roh Kudus atau Roh Allah. Ia menunjukkan bahwa Roh Kristus adalah Roh manusia yang diperkenan Allah. Coates juga mengatakan Roh Manusia yang lain, yaitu Roh manusia yang duduk di sebelah kanan Allah.
C.A. Coates berkata bahwa keempat macam rempahrempah “mewakili keistimewaan-keistimewaan anugerah yang demikian sempurna tercampur dalam Roh Kristus”. Ini enunjukkan bahwa Coates mengetahui sesuatu tentang pencampuran rempah-rempah dengan minyak zaitun tersebut. Namun, ia tidak mengatakan apa keistimewaankeistimewaan anugerah yang tercampur dalam Roh Kristus itu. Mengenai hal ini, ia tidak memiliki terang. Ia tidak melihat bahwa mur melambangkan kematian Kristus yang almuhit, dan kayu manis melambangkan khasiat kematian Kristus. Lagi pula, ia tidak melihat bahwa deringo (LAI: tebu), yang muncul menjulang ke udara dari lahan berlumpur ialah lambang kebangkitan Kristus, dan bahwa kayu teja, zat yang menghalau serangga dan ular, melambangkan kekuatan kebangkitan Kristus.
Urutan keempat macam rempah-rempah di atas sangat penting; mur, kayu manis, tebu, dan kayu teja. Lagi pula, di sini kita dapat melihat tiga satuan utuh yang terdiri atas lima ratus syikal. Ada lima ratus syikal mur dan lima ratus syikal kayu teja. Di sini kita jumpai dua satuan utuh. Namun, selain itu terdapat dua ratus lima puluh syikal kayu manis dan dua ratus lima puluh syikal tebu. Kedua satuan yang separuh ini bersama-sama membentuk satu satuan. Ini berarti kesatuan tersebut adalah satuan kedua yang terpecah menjadi dua bagian. Ini merupakan tanda bahwa Trinitas yang kedua terpecah menjadi dua bagian di atas salib. Karena itu, pada unsur-unsur dan takaran dari minyak urapan yang kudus, kita dapati lambang kematian dan kebangkitan Kristus. Selain itu, dalam rempah-rempah tersebut kita juga melihat khasiat kematian Kristus dan kekuatan kebangkitan-Nya.
ROH ITU DAN MINYAK URAPAN
Yohanes 7:39 berkata, “Yang dimaksudkan-Nya ialah Roh yang akan diterima oleh mereka yang percaya kepada-Nya; sebab Roh itu belum ada, karena Yesus belum dimuliakan” (Tl.). Ini berarti bahwa sebelum Tuhan dimuliakan, Roh majemuk belum ada. Roh Allah ada dalam Kitab Kejadian dan Roh Kudus berhubungan dengan kelahiran Kristus. Kristus dikandung dari Roh Kudus. Namun, sebagaimana dijelaskan oleh Andrew Murray dalam bab ke lima dari buku Roh Kristus, istilah “Roh Kudus” tidak digunakan dalam Perjanjian Lama. Roh Kudus kali pertama disebutkan pada permulaan Perjanjian Baru ketika Kristus dikandung. Karena Kristus dikandung dari Roh Kudus, berarti keinsanian-Nya, yang merupakan bagian dari ciptaan Allah, juga kudus. Roh keterkandungan tersebut dalam bahasa Yunani disebut Roh itu, yaitu Yang Kudus. Namun, meskipun Roh Kudus ada pada saat Tuhan Yesus berada dalam kandungan, Roh itu belum ada, karena Kristus belum bangkit, yaitu belum dimuliakan. Setelah Kristus dimuliakan barulah pencampuran Roh itu sempurna.
Dalam tulisan Yohanes, istilah Roh Kudus jarang digunakan. Namun, khususnya dalam Kitab Wahyu, Yohanes sering menyinggung tentang Roh itu. “Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat” (Why. 2:7). Pernyataan ini diulangi di Wahyu 2 dan 3. Kemudian Wahyu 14:13 mengatakan, “‘Sungguh’, kata Roh,” dan Wahyu 22:17 mengatakan, “Roh dan pengantin perempuan itu berkata ‘Marilah!’”
Dalam suratnya yang pertama, Yohanes menekankan pengurapan minyak urapan. Satu Yohanes 2:20 mengatakan, “Tetapi kamu telah beroleh pengurapan dari Yang Kudus, dan dengan demikian kamu semua mengetahuinya.” Dalam 1Yohanes 2:27 ia berkata, “Sebab di dalam diri kamu tetap ada pengurapan yang telah kamu terima dari Dia. Karena itu, kamu tidak perlu diajar oleh orang lain. Tetapi sebagaimana pengurapan-Nya mengajar kamu tentang segala sesuatu dan pengajaran-Nya itu benar, bukan dusta dan sebagaimana Ia dahulu telah mengajar kamu, demikianlah hendaknya kamu tetap tinggal di dalam Dia.” Tidak diragukan lagi, ketika Yohanes menulis ayatayat ini, dalam pikirannya ia memiliki gambaran tentang minyak urapan yang kudus dalam Keluaran 30. Tahukah Anda apa pengurapan itu? Pengurapan ialah pergerakan, “pengecatan”, oleh Roh majemuk. Kita semua memiliki pengurapan, yaitu pencatan ini di dalam kita. Selain itu, pengurapan yang kita terima mengajar kita.
Kita bersyukur kepada Tuhan bahwa selama beberapa tahun ini, Ia telah menjelaskan kepada kita tentang Roh majemuk tersebut. Dulu, banyak orang Kristen yang hanya mengalami Paskah, manna, dan paling akhir, air hidup. Pengalaman kekristenan mereka belum sampai pada butir ikut mengambil bagian atas Roh majemuk.
KEMAH SUCI DAN IMAMAT
Mengapa demikian banyak orang Kristen yang gagal dalam mengalami urapan majemuk? Alasannya ialah karena Roh ini adalah untuk pembangunan rumah rohani dan imamat kudus. Dalam 1Petrus 2 kita jumpai rumah rohani dan juga imamat kudus. Demikian pula, dalam Keluaran 25 sampai 27 diwahyukan Kemah Suci. Ini sesuai dengan rumah rohani dalam 1Petrus 2. Kemudian dalam Keluaran 28 dan 29 kita jumpai imamat. Karena itu, di Gunung Sinai disiapkan dua hal Kemah Suci dan imamat. Setelah wahyu tentang Kemah Suci dan imamat, kita jumpai penjelasan tentang urapan majemuk. Ini menunjukkan bahwa urapan majemuk adalah bagi tempat kediaman Allah dan imamat.
Jika kita tidak memperhatikan pembangunan Allah dan imamat-Nya, maka kita tidak akan dapat mengalami Roh majemuk. Karena kurangnya pembangunan rohani, maka orang-orang Kristen selama berabad-abad tidak melihat perkara Roh majemuk ini. Lagi pula, tak ada imamat. Minyak urapan tidak hanya untuk mengurapi imam secara individual. Menurut Kitab Keluaran, Harun dan anakanaknya diurapi. Ini menunjukkan bahwa pengurapan adalah bagi imamat, yaitu untuk kelompok para imam. Dalam Perjanjian Baru, dua kata Yunani yang berbeda diterjemahkan “imamat”. Salah satu dari kata-kata tersebut artinya ialah “jabatan imam”; sedangkan arti kata lainnya ialah “badan” atau “kelompok” imam. Dalam Kitab Keluaran kita tidak hanya memiliki jabatan imam, tetapi juga kumpulan korporat para imam, yaitu imamat. Jika kita ingin memperoleh pengurapan Roh majemuk, kita harus memiliki tempat kediaman Allah dan imamat yang korporat.
ROH YANG TERCAMPUR
MELALUI PENDERITAAN KRISTUS
Kelima unsur dari minyak urapan empat macam rempah-rempah dan minyak zaitun semuanya harus melewati suatu proses yang mencakup baik pemerasan maupun pemotongan. Sebagai contoh, jika buah zaitun tidak diperas, buah tersebut tidak dapat mengalirkan minyak. Demikian pula, untuk memperoleh mur dan kayu manis, kulit kayu harus ditoreh. Ada orang yang mengatakan bahwa pada saat sebuah pohon mur meneteskan getah, getahnya kelihatan seperti air mata. Ini menunjukkan suatu pengalaman atas penderitaan. Darah dan air mata yang keluar dari tubuh kita juga merupakan tanda penderitaan. Kapan kala pohon mur mengalirkan getahnya, kita boleh berkata bahwa pohon tersebut mencucurkan air mata. Sebagaimana telah saya tunjukkan dalam berita sebelumnya, kayu manis berasal dari bagian dalam kulit kayu, sedangkan kayu teja berasal dari bagian luar kulit kayu. Kayu manis dapat digunakan untuk merangsang hati, sedangkan kayu teja untuk menghalau serangga dan ular. Semua rempah-rempah tersebut disiapkan untuk dipakai melalui penderitaan. Ini menunjukkan bahwa Roh Allah dapat menjadi Roh Kristus sebagai minyak urapan majemuk hanya melalui penderitaan Kristus. Sebenarnya, pencampuran adalah penderitaan. Melalui penderitaan Kristuslah rempah-rempah itu dicampur dengan minyak untuk membentuk Roh majemuk.
Tuhan Yesus menderita kematian sepanjang hidup-Nya, bukan hanya selama enam jam di atas salib. Segera setelah Ia dilahirkan, Ia mulai menderita. Penderitaan ini dilambangkan oleh mur. Dulu saya pernah menunjukkan bahwa Tuhan Yesus menjalani kehidupan tersalib. Kehidupan tersalib ialah kehidupan yang menderita. Tuhan Yesus terusmenerus disalibkan. Ia disalibkan oleh ibu-Nya, saudarasaudara-Nya dalam daging, dan murid-murid-Nya. Tiap hari Ia menjalani hidup tersalib. Inilah pengalaman atas mur yang menetes seperti air mata karena irisan-irisan pada pohonnya.
Setelah Tuhan Yesus lahir, orang-orang majus mengekspresikan penghargaan mereka dengan mempersembahkan emas, kemenyan, dan mur. Pada saat kematian-Nya, Nikodemus dan Yusuf dari Arimatea juga menunjukkan penghargaan mereka dengan membubuhkan mur ke atas tubuh-Nya ketika mereka menguburkan-Nya. Karena itu, pada permulaan dan akhir kehidupan Tuhan di bumi, pada saat kelahiran dan kematian-Nya, terdapat mur. Ini menunjukkan bahwa kehidupan Tuhan sejak lahir hingga wafat adalah kehidupan yang menderita, yaitu kehidupan yang penuh air mata. Ia menempuh kehidupan tersalib, yaitu kehidupan mur.
SARI KEMATIAN KRISTUS
Kita harus mempelajari bagaimana menerapkan mur dalam pengalaman kita. Di manakah kematian Kristus hari ini, dan bagaimanakah kita dapat menerapkannya? Kematian Kristus berada dalam Roh itu. Dalam bahasa kita kata “roh” pada penggunaan tertentu dapat berarti intisari dari suatu zat yang disaripatikan dalam bentuk cairan, terutama melalui penyulingan. Karena itu, sari dari zat tertentu ialah roh dari zat tersebut. Sebagai contoh, minuman mengandung alkohol yang dibuat dari penyaripatian biji padi-padian dikenal sebagai sari arak. Demikian pula, gaharu yang digunakan bersama mur untuk mengurapi tubuh Tuhan Yesus ketika dikuburkan juga dianggap sebagai semacam sari. Bila tanaman, biji padi-padian, atau zat lain diperas, maka kita dapat menyaripatikan sari zat itu. Kita dapat menerapkan prinsip ini pada kematian Tuhan dan menanyakan pertanyaan ini: Apakah sari kematian Kristus itu? Sari kematian Tuhan adalah unsur dalam Roh Kristus. Sebagai contoh, bila kita minum teh, sebenarnya yang kita minum adalah sari teh tersebut. Khasiat teh tersebut berada dalam sarinya. Demikian pula, khasiat kematian Kritus adalah salah satu unsur dari Roh majemuk. Dalam membicarakan pengalaman yang subyektif atas salib Kristus, Jessie Penn Lewis menekankan Roh itu. Dalam tulisannya ia banyak berkata tentang Roh itu. A.B. Simpson juga melihat sesuatu mengenai aspek yang subyektif dari kematian Kristus. Namun, mengenai pengalaman yang subyektif atas salib, ia tidak menekankan Roh itu sebanyak yang Jesse Penn Lewis lakukan. Penyajian A.B. Simpson secara doktrinal memang baik, tetapi secara pengalaman tidak banyak membantu. Mengenai penyatuan kita terhadap Kristus dalam kematian-Nya, A.B. Simpson menekankan masalah perhitungan. Ia bahkan menulis sebuah kidung tentang masalah perhitungan.
Saudara Watchman Nee menunjukkan bahwa jika kita ingin mengalami kematian Kristus, maka kita memerlukan Roh itu. Ia juga mengatakan bahwa fakta yang diwahyukan dalam Roma 6, yaitu manusia lama kita telah disalibkan bersama Kristus, hanya dapat dialami melalui Roh dalam Roma 8. Dengan kata lain, terpisah dari Roh itu, kita tidak dapat mengalami kematian Kristus. Fakta menunjukkan bahwa penyatuan kita dengan Kristus berada dalam Roma 6, sedangkan pengalamannya berada dalam Roma 8.
ROH KRISTUS
Dalam Roma 8 setidaknya terdapat empat istilah yang digunakan untuk menjelaskan Roh itu: “Roh hayat”, “Roh Allah”, “Roh Kristus”, dan “Roh Dia yang membangkitkan Kristus dari antara orang mati”. Aspek Roh dalam Roma 8 yang terpenting bukanlah Roh Allah, Roh hayat, maupun Roh Dia yang membangkitkan Kristus dari antara orang mati. Aspek yang terpenting dalam pasal ini ialah Roh Kristus.
Gelar Kristus mencakup inkarnasi, kehidupan insani, kematian, kebangkitan, dan kenaikan ke surga. Kristus ialah Sang terurap. Sebagai Yang diurapi Allah, Kristus melewati kelahiran, kehidupan insani, penyaliban, kebangkitan, dan kenaikan ke surga. Hari ini Roh Kristus mengandung sari kematian-Nya, kebangkitan-Nya, dan kenaikan-Nya ke surga. Roh Kristus bahkan mengandung sari kelahiran dan kehidupan insani-Nya. Karena itu, Roh Kristus ialah Roh, yaitu sari kelahiran Kristus, kehidupan insani Kristus, kematian Kristus, kebangkitan Kristus, dan kenaikan Kristus ke surga. Kita telah melihat bahwa roh dari suatu zat merupakan sari zat tersebut. Kita boleh mengatakan bahwa sari kelahiran Kristus, kehidupan Kristus, kematian Kristus, kebangkitan Kristus, dan kenaikan Kristus ke surga, sekarang adalah unsur Roh Kristus. Karena itu, dalam satu Roh inilah kita memiliki khasiat kelahiran Kristus, kehidupan Kristus, kematian Kristus, kebangkitan Kristus, dan kenaikan Kristus ke surga. Hanya melalui pengalamanlah kita dapat memiliki pengertian tentang Roh Kristus ini. Bila kita hidup menurut roh, kita akan memiliki inkarnasi dan kehidupan insani Kristus. Kita tidak hanya mencontoh cara hidup Kristus, melainkan memiliki kematian, kebangkitan, dan kenaikan-Nya ke surga.
BERKONTAK DENGAN ROH ITU
Terpisah dari Roh Kristus, kita tidak dapat mengalami duduk bersama Kristus di surga (Ef. 2:5-6). Beberapa guru Alkitab menyajikan Efesus 2:5-6 hanya sebagai doktrin. Mereka menyatakan bahwa duduk bersama Kristus di surga adalah masalah kedudukan, dan kita harus menerima fakta tersebut dengan iman. Namun, bila kita percaya demikian, maka tidak akan terjadi apa-apa. Cara Paulus mengajar tidaklah demikian. Menurut ajaran Paulus, sari kenaikan Kristus ke surga tercakup dalam Roh Kristus. Dalam Roh ini kita memiliki pengalaman duduk bersama Kristus di surga.
Sebagian besar orang Kristen hari ini kurang memiliki pengalaman rohani. Namun, dalam pemulihan-Nya, Tuhan terus berjalan. Kita tidak dapat membantah bahwa karena belas kasihan dan anugerah-Nya, beberapa tahun ini kita telah belajar banyak tentang Roh itu. Secara doktrinal kita menerima terang dari guru-guru Alkitab, sedangkan dari pengalaman kita tahu bahwa memperhitungkan dan menerima kedudukan kita dengan iman tidak menghasilkan sesuatu. Beberapa guru Alkitab menyatakan bahwa yang perlu kita lakukan ialah dengan iman menerima fakta yang terampungkan. Menurut pengertian ini, kita tidak usah melakukan apa pun kecuali mempercayai fakta tersebut. Saya mempraktekkan hal ini, namun tidak mendapatkan hasil. Semakin saya berusaha mempercayai fakta tersebut, saya makin menjadi mati. Saya tidak mengalami dorongan ilahi apa pun. Namun, saya dapat bersaksi bahwa kapan kala saya berdoa dan berkontak dengan Roh itu, saya mengalami dorongan Tuhan.
Berabad-abad yang lalu sejumlah orang beriman telah mengalami Roh itu, meskipun mereka belum memiliki terang tentang Roh majemuk. Ketika mereka berdoa, mereka didorong oleh Roh itu dan secara spontan mengalami unsur kematian Kristus yang tercakup dalam Roh itu. Mereka mengalami ini karena mereka berdoa dalam Roh itu. Karena mereka berada dalam Roh itu, maka mereka mengalami sari kematian Kristus yang terkandung dalam Roh Kristus, mereka tidak perlu memperhitungkan diri mereka mati, dan mereka pun tidak perlu menerima posisi tersebut dengan iman. Hanya melalui berada dalam Roh itulah mereka mengalami khasiat kematian Kristus.
TIDAK ADA TIRUAN ATAS ROH ITU
Hari ini kita juga perlu mengalami khasiat kematian Kristus dalam cara yang riil. Kapan kala kita berada dalam Roh mengalami sari kematian Kristus, maka daging, temperamen, dan tabiat alamiah kita dimatikan. Selain itu, kebaikan alamiah kita akan berakhir. Kita bahkan akan membenci kebaikan alamiah ini karena kita menyadari bahwa kebaikan ini adalah sesuatu yang kita peroleh dari sifat bawaan kita. Setelah berdoa dan berkontak dengan Roh itu, kita akan menyadari bahwa Allah tidak menginginkan apa pun yang bersumber dari hayat alamiah kita. Kebaikan alamiah adalah tiruan atas Roh itu. Ketika saya berada di China, saya “diganggu” oleh fakta bahwa tingkah laku beberapa murid Konghucu lebih baik daripada orang-orang Kristen. Murid-murid Konghucu itu sabar, ramah, simpatik, dan suka membantu. Namun, semua tingkah laku yang baik itu bersifat alamiah, dan tak ada hubungannya dengan Roh itu. Sebagian besar orang Kristen menempuh kehidupan tiruan. Orang-orang tidak percaya Tuhan dapat juga bersifat ramah, rendah hati, sabar, dan suka membantu. Namun, semua itu tak ada hubungannya dengan Roh itu.
Jika kita sebagai orang Kristen hidup seperti ini, berarti kita membuat tiruan atas minyak urapan, yaitu sesuatu yang sangat dilarang dalam Keluaran 30. Namun, dalam kebaktian agamawi, banyak orang Kristen yang diajar dan dianjurkan untuk menempuh kehidupan tiruan. Mereka didorong menjadi ramah, penuh kasih, dan jujur, yang semuanya tanpa Kristus dan tanpa Roh itu. Ini merupakan sesuatu yang sangat membencikan dalam pandangan Allah. Kita mungkin saja melakukan hal yang sama. Jika kita tidak melihat perkara Roh campuran ini, mungkin dalam kehidupan sehari-hari kita akan sama dengan mereka yang meniru Roh itu.
Murid-murid Konghucu mempraktekkan ajaran etisnya. Mereka menyatakan bahwa mereka telah diajar oleh Konghucu, dan mereka menghargainya. Ini adalah aspek kebudayaan orang Timur. Namun, di negara-negara bagian Barat pun dipraktekkan hal yang sama di bawah nama Kristus dan pengaruh ajaran Alkitab. Dalam kedua perkara tersebut, orang-orang berperilaku dalam cara alamiah. Kebudayaan Barat dipengaruhi oleh Alkitab, sedangkan kebudayaan China dipengaruhi oleh ajaran etis dari Konghucu. Ini berarti ajaran Konghucu punya pengaruh moral di China, dan ajaran Alkitab punya pengaruh moral atas kebudayaan Barat. Jika kita hidup menurut pengaruh ini, berarti kita meniru Roh itu.
Sebenarnya, semua bentuk kehidupan yang berdasarkan etika adalah tiruan, boleh jadi orang bersikap sabar, namun kesabaran itu adalah tiruan. Ada bunga tiruan, dan ada pula bunga yang asli. Karena bunga asli bersifat organik, maka mereka hidup dan berkembang. Dalam bungabunga ini terdapat unsur hayat. Bunga tiruan mungkin memiliki warna yang sama, bentuk yang sama, dan kelihatan seperti bunga asli, tetapi bunga tersebut tidak mengandung unsur hayat. Orang-orang Kristen tertentu dan murid-murid Konghucu mungkin memiliki sikap rendah hati, sabar, dan penuh kasih. Kerendahan hati, kesabaran, dan kasih mereka boleh jadi kelihatannya sama dengan buah Roh yang dijelaskan dalam Galatia 5. Namun, buah Roh bersifat organik dan penuh hayat, sedangkan kelakuan alamiah yang baik berdasarkan etika adalah pekerjaan yang mati. Kelakuan tersebut tak memiliki hayat sedikit pun. Mereka yang hidup menurut etika manusia berarti melakukan pekerjaan yang mati. Jika demikian, bagaimana dengan orang-orang Kristen yang meniru Roh itu dengan jalan hidup menurut kebaikan alamiah mereka? Dalam hal ini mereka juga menempuh kehidupan buatan dan tanpa hayat, yaitu tiruan atas Roh majemuk.
Kita jangan menerima firman tentang Roh majemuk ini sebagai doktrin belaka. Sebaliknya, kita harus memahaminya secara pengalaman dan berlatih menerapkannya secara riil.