MINYAK URAPAN KUDUS (2)
Pembacaan Alktab: Kel. 30:22-33; Mzm. 133:2; 1Yoh. 2:20, 27
Dalam berita ini kita akan membahas hal-hal rinci yang berhubungan dengan minyak urapan kudus dalam Keluaran 30:22-33.
BAHAN MINYAK URAPAN
Empat Macam Rempah-rempah
Bahan minyak urapan kudus terdiri atas dua kategori dan berjumlah lima. Kategori pertama meliputi empat macam rempah-rempah: mur, kayu manis, deringo (LAI: tebu), dan kayu teja. Kategori kedua terdiri atas satu barang minyak zaitun.
Mur Tetesan
Mur tetesan, yang berbau harum tetapi memiliki rasa pahit, melambangkan kematian Kristus yang mustika. Dalam Alkitab, mur kebanyakan digunakan untuk penguburan. Karena itu, mur berhubungan dengan kematian. Menurut Yohanes 19, ketika Nikodemus dan lain-lainnya hendak menguburkan tubuh Tuhan Yesus, mereka menggunakan mur.
Mur berasal dari pohon yang harum. Pohon ini meneteskan getahnya akibat pemotongan, atau pengelupasan alamiah, atau penyadapan. Pada zaman kuno, getah ini digunakan untuk mengurangi penderitaan menjelang mati. Ketika Tuhan Yesus disalibkan, Ia diberi anggur yang dicampur dengan mur untuk mengurangi rasa sakit-Nya, tetapi Ia menolaknya. Tidak diragukan lagi, mur dalam Keluaran 30 adalah lambang kematian Tuhan.
Cairan mur yang harum tidak hanya mengurangi rasa sakit, tetapi juga dapat digunakan untuk menyembuhkan tubuh. Ketika tubuh mengeluarkan sesuatu yang tidak semestinya, mur dapat membereskan keadaan ini dalam tubuh manusia. Dalam kehidupan insani kita banyak terdapat sesuatu yang tidak semestinya, tetapi kematian Tuhan di atas salib membereskan problem ini.
Kayu Manis yang Harum
Kayu manis yang harum melambangkan kemanisan dan khasiat kematian Kristus. Kayu manis tidak hanya memiliki bau khusus, tetapi juga dapat digunakan untuk menguatkan hati. Kayu manis boleh dipergunakan untuk menguatkan hati yang lemah.
Mur melambangkan kematian Kristus yang mustika, sedangkan kayu manis melambangkan khasiat kematian-Nya. Jika kita menerapkan kematian Tuhan pada situasi kita, maka kematian Tuhan akan mengurangi rasa sakit kita, membetulkan pengeluaran yang tidak semestinya, dan yang terakhir merangsang kita serta membuat kita gembira dan sukacita. Saya dapat memberikan kesaksian tentang hal ini berdasarkan pengalaman saya. Sering halhal negatif di sekitar saya menyebabkan saya merosot tenggelam. Namun, ketika saya menerapkan kematian Tuhan, saya diperbaiki, dibetulkan, dirangsang, dan digugah.
Deringo yang Harum
Deringo (LAI: tebu) dalam Keluaran 30 adalah tanaman sejenis buluh. Akar kata “mur” dalam bahasa Ibrani berarti “tetesan” atau “menetes”, sedangkan “deringo” berarti “berdiri”. Deringo tumbuh di rawa-rawa atau tempat yang berlumpur. Meskipun tumbuh di rawa-rawa, deringo dapat dengan cepat tumbuh menjulang ke udara. Menurut urutan rempah-rempah di atas, deringo melambangkan kebangkitan Tuhan Yesus dari tempat kematian. Tuhan ditaruh ke dalam rawa-rawa, yaitu situasi kematian, tetapi dalam kebangkitan, Ia bangkit dan berdiri. Karena itu, deringo melambangkan kebangkitan Kristus yang mustika.
Kayu Teja
Rempah-rempah keempat, yaitu kayu teja, melambangkan kuat kuasa kebangkitan Kristus. Kayu teja dan kayu manis berasal dari famili (ordo) yang sama. Kayu manis dari bagian dalam kulit kayu, sedangkan kayu teja dari bagian luar kulit kayu. Baik kayu manis maupun kayu teja memiliki rasa yang manis dan bau yang harum. Selain itu, tumbuh-tumbuhan ini hidup dan bertumbuh di tempattempat yang tumbuh-tumbuhan lain tidak dapat tumbuh.
Pada zaman kuno, kayu teja digunakan sebagai penolak untuk menghalau serangga dan ular. Jadi, kayu teja melambangkan kuat kuasa, khasiat kebangkitan Kristus. Kebangkitan Kristus dapat menahan suasana apa pun, dan kebangkitan-Nya benar-benar merupakan suatu penolak. Kebangkitan-Nya menolak semua “serangga jahat”, dan khususnya si ular tua, yaitu Iblis.
Mur, kayu manis, deringo, dan kayu teja berasal dari satu kategori bahan-bahan, yaitu kategori rempah-rempah. Sekarang, kita sampai pada minyak zaitun, satu-satunya barang dalam kategori kedua.
Minyak Zaitun
Dalam Alkitab minyak zaitun melambangkan Roh Allah. Minyak zaitun diperoleh dengan jalan memeras buah zaitun. Minyak zaitun melambangkan Roh Allah, yang mengalir keluar melalui tekanan kematian Kristus.
Minyak zaitun adalah dasar dari urapan, yaitu unsur dasar yang dicampur dengan rempah-rempah. Empat macam rempah-rempah dicampurkan ke dalam minyak zaitun agar menjadi minyak urapan. Ini menunjukkan bahwa Roh Allah, yang dilambangkan dengan minyak zaitun, sekarang bukan lagi merupakan minyak belaka, melainkan minyak yang telah dicampur dengan unsur-unsur tertentu. Mengenai hal ini Yohanes 7:39 mengatakan, “Yang dimaksudkan-Nya ialah Roh yang akan diterima oleh mereka yang percaya kepada-Nya; sebab Roh itu belum ada, karena Yesus belum dimuliakan” (Tl.). Ini berarti sebelum Tuhan dimuliakan, Roh majemuk belum ada. Baru setelah kebangkitan Kristuslah Roh majemuk ini ada.
Keempat Macam Rempah-rempah
Melambangkan Sifat Insani dalam Ciptaan Allah
dan Minyak Melambangkan Sifat Ilahi dalam ke-Allahan
Keempat macam rempah-rempah melambangkan sifat insani dalam ciptaan Allah. Dalam Alkitab angka empat melambangkan ciptaan Allah. Kita dapati empat mahluk hidup dan empat sudut bumi. Lagi pula, keempat rempahrempah itu sendiri adalah unsur ciptaan Allah. Rempahrempah itu melambangkan sifat insani Tuhan Yesus. Dalam inkarnasi-Nya Tuhan Yesus adalah Allah juga manusia. Keempat rempah-rempah tersebut melambangkan sifat insani Tuhan Yesus dalam ciptaan Allah. Memang, beberapa orang Kristen tidak senang mendengar kata ciptaan yang diterapkan pada kasus Tuhan Yesus. Ini disebabkan oleh adanya ajaran bidah dari Arius yang mengajarkan bahwa Kristus hanyalah ciptaan belaka, bukan Allah yang kekal.
Minyak melambangkan sifat ilahi dalam ke-Allahan. Kita telah melihat bahwa angka empat melambangkan makhluk ciptaan. Angka satu melambangkan Allah, Sang Pencipta yang unik.
Dalam urapan majemuk ini kita mendapati angka empat dan satu, yaitu angka empat dicampur dengan angka satu. Ini melambangkan sifat insani yang dicampur dengan sifat ilahi. Mengenai urapan majemuk, kita mau tak mau harus menggunakan kata “berbaur”. Kata dicampur sebenarnya berarti berbaur. Keempat macam rempah-rempah tersebut berbaur dengan minyak.
Pembauran rempah-rempah dengan minyak dapat disamakan dengan pembauran tepung terbaik dengan minyak dalam kurban sajian (Imamat 2). Untuk kurban sajian, adonan diperoleh dengan jalan mencampurkan, yaitu membaurkan tepung yang terbaik dengan minyak. Ini juga melambangkan bahwa dalam satu persona Kristus, kita memiliki baik sifat ilahi maupun sifat insani.
Saya pernah membaca beberapa buku yang mengatakan bahwa Injil Yohanes ditulis untuk mendamaikan kelompok-kelompok yang memperdebatkan persona Kristus. Ada orang mengatakan bahwa Kristus adalah Allah, yang lainnya mengatakan bahwa Dia hanyalah manusia belaka. Ada lagi yang mengatakan bahwa Kristus bukanlah Allah, melainkan Firman, yaitu Logos, yang diciptakan oleh Allah. Yohanes 1:1 berkata, “Pada mulanya ada Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.” Ini dengan jelas mengatakan bahwa Firman, yang adalah Kristus, ialah Allah. Selain itu, Yohanes 1:14 berkata, “Firman itu telah menjadi manusia.” Sebenarnya, saya tidak suka menggunakan kata “damai” berkenaan dengan tulisan Yohanes. Tulisan Rasul Yohanes sebenarnya bukan bersifat mendamaikan; sebaliknya, tulisan Rasul Yohanes bersifat almuhit. Kristus adalah Sang almuhit. Jika Ia hanya Allah belaka dan bukan manusia, Ia tidak almuhit. Puji Tuhan, Kristus adalah Allah juga manusia, manusia juga Allah! Karena Kristus itu almuhit, maka tulisan Yohanes pun almuhit.
Demikian pula urapan majemuk. Dapatkah Anda melihat kealmuhitan urapan majemuk ini? Dalam campuran yang almuhit ini kita jumpai minyak zaitun, mur, kayu manis, deringo, dan kayu teja. Ini menunjukkan bahwa dalam Roh majemuk yang dilambangkan dengan urapan majemuk, kita dapat melihat keilahian, keinsanian, kematian Kristus yang almuhit, dan khasiat kematian Kristus. Selain itu, kita dapat melihat kebangkitan Kristus yang mustika dan kuasa kebangkitan-Nya. Semua unsur ini tercakup dalam Roh Kristus.
Sebagaimana digunakan dalam Perjanjian Baru, Roh Kristus merupakan ekspresi yang almuhit. Filipi 1:19 membicarakan suplai yang limpah lengkap dari Roh Yesus Kristus. Namun, di situ tidak terdapat keterangan tentang suplai yang limpah lengkap dari Roh Allah. Dalam Kejadian 1 kita jumpai Roh Allah. Namun, dalam Surat-surat Paulus kita jumpai Roh Kristus dan Roh Yesus Kristus.
Semoga kita semua terkesan secara mendalam bahwa hari ini Roh almuhit, sebagaimana urapan majemuk, tak lain adalah Allah Tritunggal yang telah melalui proses menjadi Roh almuhit untuk mencapai kita. Ada orang Kristen menganggap pemahaman demikian terhadap Roh ini adalah bidah. Namun, penghakiman yang dibuat hari ini bukan yang terakhir. Menurut Alkitab, sekarang ini adalah hari manusia, dan hari manusia belum berakhir. Mari kita tunggu sampai pada hari Tuhan, dan biarkan Ia yang menghakimi. Saya jamin pada hari itu Tuhan akan berkata bahwa pemahaman terhadap Roh almuhit ini benar.
Dalam Perjanjian Lama kita jumpai minyak zaitun yang melambangkan Roh Allah. Akhirnya, setelah Kemah Suci didirikan dan para imam siap, yang ada bukanlah minyak zaitun belaka, melainkan urapan majemuk. Ini menunjukkan bahwa kita tidak hanya memiliki Roh Allah, tetapi juga Roh Kristus. Tidak diragukan lagi, Mr. C.A. Coates telah melihat sesuatu di sini. Dalam tulisannya tentang minyak urapan dalam Keluaran 30, ia membicarakan Roh Kristus dan Roh Manusia yang lain.
Sebagai kaum beriman, kita telah diurapi dengan urapan majemuk, yaitu dengan Roh almuhit. Mazmur 133:2 menjelaskan bagaimana minyak urapan meleleh dari kepala Harun ke janggutnya dan kemudian ke leher jubahnya. Ini menunjukkan bahwa keseluruhan tubuh diurapi dengan Roh.
Kemudian dalam 1Yohanes 2:20 dan 27 dikatakan bahwa kita telah beroleh pengurapan, dan pengurapan ini mengajar kita tentang segala sesuatu. Satu Yohanes 2:20 berkata, “Tetapi kamu telah beroleh pengurapan dari Yang Kudus, dan dengan demikian kamu semua mengetahuinya.” Ayat 27 berkata, “Sebab di dalam diri kamu tetap ada pengurapan yang telah kamu terima dari Dia. Karena itu, kamu tidak perlu diajar oleh orang lain. Tetapi sebagaimana pengurapan-Nya mengajar kamu tentang segala sesuatu dan pengajaran-Nya itu benar, bukan dusta dan sebagaimana Ia dahulu telah mengajar kamu, demikianlah hendaknya kamu tetap tinggal di dalam Dia.”
Menerima pengurapan minyak urapan berarti menerima pengecatan ilahi. Tukang cat tahu bahwa hasilnya akan lebih baik bila ia mengecat lebih dari satu lapisan cat. Dalam mengecat benda-benda tertentu kita perlu memberikan berlapis-lapis cat. Dalam pengalaman kita atas Roh, kita perlu “dicat” berkali-kali. Akhirnya, kita akan menerima beratus-ratus lapisan cat. Puji Tuhan, tiap hari Ia mengecat kita dengan pengurapan-Nya!
Ketika pengurapan minyak urapan diterapkan pada kita, pengurapan minyak urapan ini mengajar kita. Hari ini Allah mengajar kita dengan diam-diam melalui pengurapan minyak urapan. Sebagai contoh, mungkin Anda bertanya tentang suatu hal kepada Tuhan, dan Ia akan mengajar Anda tentang hal tersebut dengan jalan mengurapi Anda. Jika kita berkata, “Tuhan, katakan kepadaku warna apa yang Kaukehendaki,” mungkin Tuhan tidak akan mengatakan apa pun. Sebaliknya, Ia akan mengambil “kuas”-Nya dan mengecat Anda dengan warna tertentu, boleh jadi hijau. Ketimbang berkata kepada Anda tentang warna hijau tersebut, Allah memberi tahu Anda bahwa Ia menghendaki warna hijau dengan jalan mengecat Anda hijau. Inilah cara Tuhan mencat kita.
Menurut 1Yohanes 2, pengurapan di dalam kita mengajar kita tentang segala sesuatu. Sering kita menyadari bahwa kita keliru. Tak perlu seorang pun memberi tahu kita, karena pergerakan pengurapan minyak urapan di dalam kita mengajar kita bahwa kita keliru. Saya yakin kita semua memiliki beberapa pengalaman atas ajaran tentang pengurapan minyak urapan ini.
TAKARANNYA
Lima Ratus Syikal Mur
Lima ratus syikal mur melambangkan satu kesatuan tanggung jawab yang utuh. Angka lima dalam Alkitab melambangkan tanggung jawab. Kita boleh menggunakan tangan manusia sebagai ilustrasi. Tangan kita memiliki empat jari dan satu ibu jari. Karena itu, tangan kita dapat mengerjakan segala hal dan memikul tanggung jawab.
Lima terdiri atas empat ditambah satu. Sekali lagi, angka empat melambangkan makhluk ciptaan, dan angka satu melambangkan Allah. Karena itu, angka lima melambangkan Allah yang ditambahkan kepada manusia untuk memberi kita kemampuan memikul tanggung jawab.
Dalam Alkitab terdapat gambaran yang jelas tentang fakta bahwa lima ialah angka tanggung jawab. Sepuluh Perintah Allah ditulis pada dua loh batu, masing-masing berisi lima perintah. Demikian pula sepuluh anak dara dalam Matius 25 dipisahkan dalam dua kelompok, yang masing-masing lima orang. Dalam hal Sepuluh Perintah Allah dan anak dara tersebut, angka lima melambangkan tanggung jawab. Lima ratus syikal mur terdiri atas seratus kali lima, melambangkan satu satuan tanggung jawab yang penuh.
Dua Ratus Lima Puluh Syikal Kayu Manis
dan Dua Ratus Lima Puluh Syikal Deringo
Menurut Keluaran 30:23, takaran kayu manis ialah “setengah dari itu, yakni dua ratus lima puluh syikal, dan deringo (LAI: tebu) yang baik dua ratus lima puluh syikal.” Dua ratus lima puluh syikal melambangkan setengah satuan tanggung jawab yang penuh. Dua ratus lima puluh syikal kayu manis dan dua ratus lima puluh syikal deringo bersama-sama membentuk satu satuan, yang menunjukkan bahwa Trinitas ilahi yang kedua terbagi melalui kematian. Ini bukan suatu kebetulan bahwa pada rempah-rempah tersebut terdapat tiga satuan utuh, dan satuan yang di tengah dipisahkan menjadi setengah bagian. Hal ini ditulis oleh Allah dengan maksud menunjukkan bagaimana Putra Allah dipaku di atas salib.
Lima Ratus Syikal Kayu Teja
Ayat 24 mengatakan, “dan kayu teja lima ratus syikal, ditimbang menurut syikal kudus, dan minyak zaitun satu hin.” Kayu teja juga melambangkan satu satuan tanggung jawab yang penuh.
Tiga Satuan yang Masing-masing Lima Ratus Syikal dalam Empat Macam Rempah-rempah
Tiga satuan yang masing-masing lima ratus syikal dalam empat macam rempah-rempah melambangkan Allah Tritunggal dalam kebangkitan berbaur dengan sifat insani untuk memikul tanggung jawab. Saya dapat memberikan kesaksian bahwa dalam ministri firman, Allah Tritunggal dalam kebangkitan membaurkan diri-Nya dengan pemberita untuk memikul tanggung jawab dalam memberitakan firman kepada umat-Nya.
FUNGSI MINYAK URAPAN
Fungsi minyak urapan yang kudus sebagai urapan majemuk ialah menguduskan benda-benda dan orang-orang milik Allah, yaitu memisahkan mereka dari segala sesuatu yang awam, dan membuat mereka maha kudus bagi pelayanan Allah. Menurut Keluaran 30:26-28, minyak urapan digunakan untuk mengurapi Kemah Suci, tabut kesaksian, meja roti sajian,dan seluruh perkakasnya, kaki pelita, dan seluruh perkakasnya, mezbah pembakaran ukupan, mezbah kurban bakaran dan seluruh perkakasnya, dan bejana pembasuhan berikut alasnya. Ayat 30 berkata, “Engkau harus juga mengurapi dan menguduskan Harun dan anak-anaknya supaya mereka memegang jabatan imam bagi-Ku.” Siapa atau apa saja yang diurapi berarti dikuduskan, yaitu dipisahkan. Minyak urapan menjadi suatu tanda yang memisahkan mereka dari segala sesuatu yang awam.
Ayat 29 mengatakan, “Haruslah kaukuduskan semuanya, sehingga menjadi maha kudus; setiap orang yang kena kepadanya akan menjadi kudus.” Segera setelah minyak urapan diurapkan pada suatu benda, maka benda tersebut menjadi maha kudus. Selain itu, siapa saja yang menyentuhnya akan menjadi kudus.
Mari kita umpamakan bahwa kita mengecat sebuah kursi dengan cat hijau yang tak pernah kering. Siapa pun yang menyentuhnya akan terkena cat itu. Kita boleh mengatakan bahwa kita telah dicat dengan cat ilahi yang tidak pernah kering. Karena itu, siapa pun yang menyentuh kita akan terpengaruh oleh kita. Semua orang Kristen harus berpengaruh secara demikian; harus menjadi sesuatu yang menulari orang-orang di sekitar mereka. Jika Anda menyentuh kami, Anda akan terkena cat. Kadang-kadang ada orang yang berkata kepada saya, “Jangan berhubungan dengan orang itu! Jika Anda berhubungan dengannya, Anda akan terpengaruh olehnya.” Memang pekerjaan saya sebagai pelayan Kristus ialah mempengaruhi orang lain. Jika saya tidak berpengaruh dalam cara demikian, maka sebagai pelayan firman saya tidak ada gunanya. Pelayan firman yang berguna selalu memiliki sesuatu yang menjalar kepada orang lain.
TURUN-TEMURUN
Keluaran 30:31 mengatakan, “Dan kepada orang Israel haruslah kaukatakan demikian: Inilah yang harus menjadi minyak urapan yang kudus bagi-Ku di antara kamu turun-temurun.” Ini menunjukkan bahwa prinsip atau kebijaksanaan Allah dalam ekonomi ilahi-Nya tidak berubah. Peraturan tentang pengurapan minyak urapan tetap untuk selamanya. Bahkan dalam kekekalan Allah akan terus mengurapi kita.
TIDAK BOLEH DICURAHKAN PADA TUBUH MANUSIA
Ayat 32 mengatakan bahwa minyak urapan yang kudus “tidak boleh dicurahkan kepada badan orang biasa.” Dalam Alkitab, tubuh manusia menunjukkan manusia yang telah jatuh dalam ciptaan lama. Sebagai kaum beriman dalam Kristus, kita semua telah dilahirkan kembali, dan dalam kelahiran kembali kita telah menjadi ciptaan baru. Di satu aspek, kita memiliki roh kelahiran kembali; di aspek lain, kita masih memiliki tubuh daging yang lama, yaitu yang telah jatuh. Perintah agar jangan mencurahkan minyak urapan pada badan orang biasa menunjukkan bahwa pengurapan minyak urapan tidak boleh diberikan pada manusia ciptaan lama. Kapan kala kita hidup dan berjalan menurut daging, berarti kita putus dengan Roh Kristus. Jika kita mau mengambil bagian dalam Roh ini dan menikmati Roh yang almuhit, kita harus tetap tinggal dalam roh kita.
Roh Kristus tidak dapat dicurahkan pada sifat (tabiat) lama kita, yaitu manusia lama kita. Daging kita tidak memiliki kedudukan untuk ikut ambil bagian dalam urapan majemuk ini. Kapan saja Anda marah-marah, Anda berada di dalam daging dan tidak dapat menikmati Roh Kristus. Namun, kapan saja Anda berpaling pada roh Anda, segera Anda akan merasakan pengurapan dalam roh Anda. Anda akan menyadari bahwa Anda sedang dicat dengan Roh Kristus, karena Anda berada dalam ciptaan baru, bukan sifat (tabiat) lama Anda.
Keluaran 30:33 menunjukkan bahwa urapan tidak boleh dibubuhkan pada badan orang awam. Kata “orang awam” menunjukkan pebedaan antara imam dengan bukan imam. Para imam yang melayani di hadirat Allah tidak boleh bertindak menurut sifat lama mereka. Sebaliknya, mereka hidup menurut sifat baru mereka, dan dengan demikian mereka menikmati pengurapan minyak urapan. Namun, dalam pandangan Allah, semua orang lain adalah orang awam. Kita boleh mengatakan bahwa daging, yaitu manusia lama, adalah orang awam. Kita, umat Kristen hari ini bukanlah orang-orang awam, kita adalah imam-imam. Mereka yang bukan kaum beriman adalah orang-orang awam. Kapankala kita bertindak menurut daging kita, kita berada dalam ciptaan lama dan dianggap sebagai orang awam dalam pandangan Allah. Bila kita adalah orang awam semacam ini, kita tidak dapat menikmati Roh Kristus. Kita harus tinggal dalam roh kita, dan kita harus hidup, bertindak, berbicara, dan berkontak dengan orang lain dalam roh. Dengan demikian kita akan berada dalam ciptaan baru sebagai imam-imam yang melayani Allah dan berpartisipasi dalam Roh Kristus.
Jika kita ingin menikmati Roh Kristus, kita harus menjadi imam-imam dalam ciptaan baru. Jangan berada dalam daging, agar Anda tidak menjadi orang awam dalam pandangan Allah. Jika kita adalah orang awam, maka kita tidak akan berbagian sedikit pun dalam Roh yang almuhit.
TIDAK BOLEH MEMBUAT MINYAK SEMACAM ITU
DENGAN MEMAKAI CAMPURAN ITU JUGA
Bagian tengah dari ayat 32 mengatakan, “Janganlah kaubuat minyak yang semacam itu dengan memakai campuran itu juga.” Lagi pula, ayat 33 selanjutnya mengatakan, “Orang yang mencampur rempah-rempah menjadi minyak yang semacam itu atau yang membubuhnya pada badan orang awam, haruslah dilenyapkan dari antara bangsanya.” Perintah agar jangan membuat minyak semacam minyak urapan itu dengan memakai campuran yang sama berarti kita tidak boleh menirunya. Namun, di antara orang-orang Kristen hari ini banyak sekali tiruan. Karena itu, kita harus dapat membedakan mana yang benar-benar Roh itu dan mana yang tiruan. Sebagai contoh, kerendahan hati seseorang mungkin bukan berasal dari Roh itu. Di China saya melihat beberapa murid kepercayaan lain yang jauh lebih rendah hati daripada pengajar-pengajar Kristen. Namun, kerendahan hati itu tidak ada hubungannya dengan Roh Kristus. Karena pengaruh ajaranajaran tertentu, banyak orang Kristen yang berusaha membuat diri mereka rendah hati. Namun, kerendahan hati itu bukan berasal dari Roh Kristus, melainkan tiruan.
Jangan meniru kebajikan rohani apa pun dengan usaha Anda sendiri. Berbuat demikian sama dengan membuat minyak semacam minyak urapan. Dalam pandangan Allah, itu merupakan sesuatu yang sangat Ia benci.
Karena kekristenan telah ada berabad-abad lamanya, maka banyak sekali orang, termasuk yang bukan kaum beriman, terpengaruh oleh ajaran Alkitab. Di bawah pengaruh ajaran-ajaran ini, banyak orang yang berusaha menjadi jujur, penuh kasih, dan setia. Semua itu merupakan peniruan atas Roh itu. Berusaha bertindak secara demikian berarti meniru minyak urapan yang sejati. Kejujuran kita harus berasal dari Roh Kristus. Demikian pula, kasih, kerendahan hati, kesabaran, dan keramahan kita asalkan itu kebajikan harus merupakan hasil dari Roh yang tinggal di dalam kita. Jika tidak, berarti kita meniru minyak urapan. Karena itu, kita tidak boleh bertindak dalam sifat lama kita dan meniru apa pun yang berasal dari Roh Kristus.