← Daftar isi Keluaran (10) · bab 5/17

MINYAK URAPAN KUDUS (1)

Pembacaan Alkitab: Kel. 30:22-33; Mzm. 133:2; 1Yoh 2:20, 27

Dalam berita ini kita mulai membahas minyak urapan kudus. Minyak ini ialah campuran yang terdiri atas empat macam rempah-rempah yang dicampur dengan minyak. Hal pertama yang perlu kita lihat ialah posisi urapan ini dalam catatan ilahi yang tertulis dalam Kitab Keluaran. Kita harus tahu mengapa hal ini diungkapkan pada akhir Keluaran 30. Jika kita memahami posisi urapan ini, kita akan mengetahui hubungan antara urapan ini dengan Kemah Suci.

POSISI MINYAK URAPAN

Kitab Keluaran dimulai dengan umat pilihan Allah yang menderita sebagai budak di Mesir. Akhirnya, umat Israel keluar dari kondisi perbudakan itu, menyeberangi Laut Merah, tiba di padang gurun, dan menikmati persediaan Allah. Bahkan ketika mereka masih berada di Mesir, mereka menikmati Paskah. Mereka juga mengalami penyelamatan Allah yang hebat, karena Allah telah mengeluarkan mereka dari Mesir dan menyelamatkan mereka dari tangan Firaun dan tentaranya. Di padang gurun umat Allah mencicipi makanan surgawi, yaitu manna, dan juga minum air hayat yang keluar dari batu karang. Melalui belas kasih Allah mereka mengalami banyak mukjizat.

Umat Israel dibawa ke Gunung Sinai, dan tinggal di sana lebih kurang sepuluh bulan. Di Gunung Sinai mereka menerima wahyu dari Allah bahwa Ia menghendaki mereka mendirikan Kemah Suci bagi-Nya, agar Ia memiliki tempat kediaman di bumi. Selain itu, melalui Kemah Suci Allah dapat memiliki komunikasi yang terbaik, yaitu persekutuan yang terbaik dengan umat-Nya. Karena itu, di Gunung Sinai Allah memberi Musa rancangan Kemah Suci yang surgawi.

Mulai Keluaran 25, kita jumpai penjelasan yang rinci tentang Kemah Suci dan semua perabotan serta perkakasnya. Penjelasan ini berakhir pada Keluaran 27. Kemudian dalam Keluaran 28 dijelaskan tentang wahyu ilahi sampai dengan masalah imam-imam. Setelah itu, dalam Keluaran 29 Allah mewahyukan jenis makanan imam. Pasal ini menunjukkan bagaimana imam dikuduskan dan dipenuhi dengan kekayaan barang-barang yang diperlukan oleh Allah. Karena itu, menjelang akhir Keluaran 29, imam sudah siap.

Dalam Keluaran 30, mula-mula kita jumpai mezbah pembakaran ukupan, dan kemudian sensus bagi wajib militer ilahi untuk membentuk pasukan Allah. Dalam berita sebelumnya telah saya tunjukkan mengapa wajib militer untuk pembentukan pasukan Allah dilakukan setelah penjelasan tentang mezbah pembakaran ukupan. Alasannya ialah karena mezbah pembakaran ukupan adalah faktor penggerak bagi pergerakan Allah, dan pergerakan Allah membutuhkan pasukan. Pasukan ini harus berperang bagi pergerakan Allah, sehingga jalan bagi Allah lancar.

Dalam Keluaran 30 kita juga memiliki bejana pembasuhan yang letaknya tidak jauh dari pintu masuk Kemah Suci. Sebelum memasuki Kemah Suci untuk melayani Allah, para imam harus membasuh tangan dan kaki mereka di bejana pembasuhan.

Setelah penjelasan tentang bejana pembasuhan, kita jumpai catatan tentang minyak urapan yang kudus, yaitu urapan majemuk. Minyak urapan ini menguduskan para imam, Kemah Suci, dan semua perabotan serta perkakasnya. Dengan kata lain, Kemah Suci, perabotan, perkakas-perkakas, dan juga para imam harus diurapi dengan minyak urapan ini. Sebelum akhir Keluaran 30, waktunya tidak tepat bagi Allah untuk membicarakan minyak urapan. Sekarang, kita dapat memahami mengapa catatan tentang minyak urapan didapati menjelang akhir Keluaran 30.

Wahyu Allah itu progresif, dan berlangsung selangkah demi selangkah, bahkan satu bagian demi satu bagian. Di Mesir umat Israel menikmati anak domba Paskah. Di padang gurun mereka menikmati manna dan air yang mengalir dari batu karang.

SATU KEBENARAN YANG LEBIH MENDALAM

Banyak orang Kristen yang mengetahui anak domba Paskah, manna surgawi, dan air hidup. Sejumlah kidung ditulis mengenai Paskah, manna, dan air hidup. Namun, banyak orang Kristen yang belum pernah membaca buku atau mendengar berita tentang minyak urapan majemuk.

Akhir-akhir ini saya memeriksa apa yang penulis lain katakan mengenai minyak urapan majemuk yang terdapat dalam Keluaran 30. Dalam Ikhtisarnya, J.N. Darby hanya memberikan perkataan yang pendek tentang minyak urapan dan ukupan. Dalam catatannya tentang kelima buku pertama dari kitab Perjanjian Lama, C.H. Mackintosh mengatakan bahwa dalam minyak urapan yang kudus “kita mengenal jelas lambang dari berbagai anugerah dari Roh itu dalam seluruh kelimpahan ilahi, yaitu di dalam Kristus.” Namun, ia tidak memberi tahu kita apa anugerah-anugerah itu. Tulisan C.A. Coates mengenai Keluaran 30 menunjukkan kemajuan yang besar. Mengenai minyak urapan, berkali-kali ia menggunakan istilah “Roh Kristus”. Sedikit sekali penulis yang menggunakan istilah ini; sebagian besar menggunakan Roh Allah, Roh Kudus, atau Roh itu. Selain itu Coates juga menggunakan “Roh Manusia perkenan Allah” dan juga “Roh Manusia yang lain Roh Manusia yang berada di sebelah kanan Allah”. Ini menunjukkan bahwa Coates melihat Roh Kristus bukan hanya Roh Allah saja, melainkan juga Roh Manusia yang lain. Mengenai empat macam rempah-rempah, Coates mengatakan bahwa rempah-rempah itu “mewakili semua keistimewaan anugerah yang demikian sempurna terbaur dalam Roh Kristus”. Coates mengetahui sesuatu tentang perbauran rempah-rempah itu dengan minyak zaitun. Empat macam rempah-rempah dicampur dengan minyak zaitun sehingga menjadi minyak urapan.

Minyak urapan dalam Keluaran 30 sebenarnya menunjukkan salah satu kebenaran yang lebih mendalam dalam Alkitab. Saya khawatir ada beberapa di antara kita yang belum mengetahui kebenaran yang lebih mendalam ini. Karena itu, kita perlu mengetahui makna minyak urapan majemuk.

MAKNANYA

Minyak urapan majemuk digunakan untuk mengurapi Kemah Suci dan seluruh perabotannya, mezbah dengan seluruh perkakasnya, bejana pembasuhan dan alasnya, dan para imam (Kel. 30:26-30). Minyak urapan ini melambangkan Allah, yang adalah tritunggal, setelah melalui proses yang panjang, menjadi Roh majemuk yang almuhit untuk mencapai umat pilihan dan umat tebusan-Nya guna menjadi satu dengan mereka.

Sebenarnya adalah hal yang baik bagi umat Israel menikmati Paskah, manna dari surga, dan air dari batu karang. Namun, tak satu pun dari kenikmatan-kenikmatan tersebut yang dapat menandingi kenikmatan atas minyak urapan. Minyak urapan menunjukkan bahwa sekarang, Allah Tritunggal Bapa, Putra, dan Roh dapat mencapai umat pilihan yang dilahirkan-Nya kembali untuk menjadi satu dengan mereka. Ini melampaui Juruselamat atau Tuhan penebus yang dilambangkan dengan anak domba, dan juga manna maupun air hidup. Minyak urapan ini melambangkan Allah Tritunggal Allah dalam Trinitas ilahi-Nya setelah melalui proses yang panjang, menjadi Roh majemuk yang almuhit untuk mencapai kita, menjadikan kita esa dengan-Nya, dan Ia esa dengan kita. Alangkah ajaibnya!

Telah berabad-abad lamanya perkara yang ajaib tentang minyak urapan majemuk ini diabaikan oleh orang Kristen. Itulah sebabnya tidak ada kidung mengenai hal ini. Namun, sering kali kita temui kidung tentang Paskah. Sebagai contoh, syair sebuah kidung terkenal berkata, “Bila Aku melihat darah, Aku akan mengampunimu.” Sejumlah kidung tentang manna dan air hidup pun telah ditulis oleh orang Kristen yang lebih berbobot. Namun, di manakah dapat Anda temui kidung tentang minyak urapan majemuk?

Ada orang Kristen tertentu, begitu mendengar kita membicarakan minyak urapan majemuk, boleh jadi mereka akan berkata, “Apa yang Anda bicarakan? Apa arti Allah Tritunggal telah melalui proses yang panjang dan menjadi Roh majemuk yang almuhit? Dapatkah Allah Roh dibaurkan? Dan apakah yang Anda maksud dengan Roh yang mencapai kita? Kita tahu bahwa pada hari Pentakosta Roh Kudus datang ke atas kaum beriman. Namun, Bapa tetap berada di atas takhta beserta Putra di samping-Nya. Apa yang Anda maksud dengan Allah Tritunggal yang mencapai kita untuk menjadi satu dengan kita?” Siapa yang mengetahui hal-hal demikian dewasa ini? Dan siapa yang membicarakan hal-hal ini?

Bertahun-tahun saya berbeban untuk sekali demi sekali membicarakan Roh majemuk. Pengulangan hal-hal penting merupakan suatu prinsip dalam Alkitab. Dalam kitab suci, hal-hal tertentu berkali-kali diulangi. Sebagai contoh, perhatikan berapa kali dalam Alkitab kita mendengar tentang percaya kepada Tuhan Yesus. Mengapa Allah mengulangi hal ini demikian banyak? Ia mengulangi hal ini karena hal ini sangat penting. Demikian pula, karena Roh perbauran ini demikian penting, maka saya merasa khawatir terhadap pengaruh suasana keagamaan hari ini. Karena pengaruh ini, banyak orang beriman yang hanya memperhatikan halhal yang dangkal. Boleh jadi mereka tahu tentang Anak Domba, manna surgawi, atau bahkan sedikit tentang air hidup. Namun, ketika sampai pada berita tentang minyak urapan majemuk dalam Keluaran 30, sedikit sekali orang Kristen yang memperhatikannya. Mereka menyukai berita yang menggelitik telinga mereka, dan bukan hal-hal yang dalam dan berat.

Saya harap kita semua lebih terkesan pada fakta bahwa kehendak Allah bukanlah hanya memberi kita seorang Penebus, atau menyuplai kita dengan manna surgawi dan air hidup. Kehendak Allah ialah mencapai kita sebagai Roh majemuk yang almuhit, yaitu sebagai Roh yang meliputi keilahian, keinsanian, inkarnasi, kehidupan insani, penyaliban, kebangkitan, dan keterangkatan. Semua ini dicampurkan untuk menghasilkan minyak urapan majemuk, dan minyak urapan majemuk ini untuk mengurapi umat pilihan dan umat tebusan Allah.

Mengecat dapat digunakan untuk mengilustrasikan pengurapan. Kapan kala kita mengecat suatu benda, cat akan mencapai benda tersebut dan menjadi satu dengannya. Demikian pula, ketika Allah mengurapi kita dengan diri-Nya sendiri, Ia mencapai kita dan menjadikan Dia esa dengan kita.

Apa yang bersangkutan dengan pengurapan Allah atas kita jauh lebih rumit daripada penciptaan-Nya atas langit dan bumi. Dalam penciptaan, ketika Allah menginginkan sesuatu, Ia hanya perlu berkata. Sebagai contoh, Allah berfirman, “Jadilah daratan,” maka daratan itu jadi. Namun, untuk menghasilkan minyak urapan, yaitu “cat” ilahi, Allah harus melalui suatu proses. Unsur-unsur minyak urapan ini meliputi keilahian dan keinsanian. Unsurunsur lainnya adalah inkarnasi dan kehidupan insani Kristus.

Allah ini “hidup” di bumi selama tiga puluh tiga setengah tahun. Ini merupakan suatu hal yang besar! Pencipta yang mahakuasa hidup sebagai manusia dalam sebuah keluarga miskin di kota yang dipandang rendah. Setelah tiga puluh tiga setengah tahun, Ia wafat di atas salib. Ia dikuburkan dalam sebuah kubur, dan Ia berkeliling di alam baka. Kemudian, dalam kebangkitan, Ia keluar dari antara orang mati, lalu naik ke surga. Semua langkah ini diperlukan bagi perbauran rempah-rempah dengan minyak untuk menghasilkan minyak urapan.

Menurut Keluaran 30, unsur dasar dari minyak urapan majemuk ialah minyak zaitun. Minyak zaitun ini melambangkan Roh Allah, yaitu yang ketiga dari ke-Allahan. Kita telah melihat bahwa unsur Roh perbauran meliputi keilahian, keinsanian, inkarnasi, kehidupan insani, penyaliban, kebangkitan, dan kenaikan ke surga. Unsur-unsur ini dibaurkan dengan Roh ilahi. Sekarang, Roh ilahi bukan lagi minyak belaka, melainkan telah menjadi suatu minyak urapan.

Tak ada sesuatu pun yang dapat menandingi urapan yang hebat ini. Perbedaan apakah yang terdapat antara minyak urapan dengan Anak Domba? Sungguh suatu fakta yang ajaib bahwa Allah telah menjadi Juruselamat dan Penebus kita. Yesus adalah TUHAN Juruselamat kita, dan saya sangat menghargai penyelamatan-Nya. Namun, Anak Domba tidak dapat menandingi Allah Tritunggal yang telah melalui suatu proses untuk menjadi Roh majemuk yang almuhit guna mencapai kita, yaitu menjadikan diri-Nya esa dengan kita, dan kita esa dengan-Nya. Menurut 1Korintus 6:17, siapa saja yang mengikatkan dirinya pada Tuhan menjadi satu roh dengan Dia. Alangkah hebatnya!

Terkesan pada masalah ini dalam cara yang doktrinal belumlah cukup. Kita perlu berdoa, “Tuhan, tunjukkanlah kepadaku visi tentang Roh yang almuhit ini. Tunjukkanlah kepadaku bahwa hari ini Engkau adalah Roh almuhit yang terdiri atas keilahian, keinsanian, inkarnasi, kehidupan insani, penyaliban, kebangkitan, dan keterangkatan. Tuhan, aku perlu melihat bahwa keinsanian-Mu yang tinggi, kealmuhitan-Mu, kematian-Mu yang ajaib dan misterius, serta kebangkitan-Mu yang tak terlukiskan itu telah terbaur ke dalam Roh.” Jika kita telah melihat visi ini, kita harus berdoa, “Tuhan, aku bersyukur kepada-Mu, karena Roh itu sekarang adalah Roh majemuk. Roh pemberi-hayat yang almuhit ini adalah Allah Tritunggal sendiri yang mencapai aku, mengurapi aku, menjadikan diri-Nya esa denganku, dan aku esa dengan-Nya.”

Roh almuhit ini lebih besar daripada anak domba Paskah, manna, dan air hidup. Sebenarnya, Roh ini lebih besar daripada segala sesuatu. Tak ada sesuatu pun yang dapat melebihi Allah Tritunggal yang telah melewati proses panjang untuk menjadi Roh pemberi-hayat ini. Sekarang kita tidak hanya menikmati Roh ini, bahkan menjadi satu dengan-Nya!

Di alam semesta ini banyak malaikat yang telah memberontak kepada Allah, dan manusia telah jatuh. Sekarang, bumi ini berada dalam daerah pemberontakan terhadap Allah. Kelihatannya tidak mungkin bagi Allah untuk mendapat tempat kediaman di bumi ini. Namun, Ia memiliki sejumlah umat pilihan-Nya untuk menjadi tempat kediaman-Nya. Karena itu, Ia datang kepada mereka, menjadikan diri-Nya esa dengan mereka, dan mereka esa dengan-Nya. Ia bahkan menjadikan mereka sebagai tempat kediaman-Nya dengan jalan masuk ke dalam mereka dan tinggal di antara mereka. Lagi pula, mereka dapat melayani-Nya, bersekutu dengan-Nya, menjadi esa dengan-Nya, dan tinggal bersama-Nya. Inilah pengudusan yang riil. Demikianlah yang dimaksud dengan menguduskan orang untuk menjadi tempat kediaman Allah di bumi. Orang-orang ini adalah para imam yang melayani Allah, berkontak dengan Allah, bersekutu dengan Allah, dan bahkan menjadi esa dengan Allah.

Allah tidak dapat memiliki tempat kediaman semacam ini di Mesir maupun di padang gurun pada jalan yang menuju ke Gunung Sinai. Sebaliknya, Ia harus membawa umat itu ke dalam hadirat-Nya di Gunung Sinai, dan menunjukkan kepada mereka wahyu surgawi mengenai Kemah Suci berikut perabotan dan perkakasnya, pengudusan para imam, dan minyak urapan. Minyak urapan yang digunakan untuk mengurapi Kemah Suci dan para imam adalah lambang Allah Tritunggal sendiri, yang telah melewati berbagai proses, menjadi minyak urapan majemuk untuk mencapai umat pilihan dan tebusan-Nya.

Setelah catatan tentang minyak urapan dalam Keluaran 30, kita jumpai penjelasan tentang ukupan. Minyak urapan mewahyukan bagaimana Allah datang untuk mencapai kita di dalam Kristus dan bersama Kristus. Ukupan melambangkan bagaimana kita kembali kepada Allah di dalam Kristus dan bersama Kristus. Karena itu, di sini kita memiliki Allah yang datang kepada kita di dalam Kristus dan bersama Kristus, dan kembalinya kita kepada Allah di dalam Kristus dan bersama Kristus. Ini sesuai dengan wahyu dalam Injil Yohanes. Dalam Yohanes 1—3 kita jumpai kedatangan Allah di dalam Kristus dan bersama Kristus untuk mencapai kita. Kemudian, khususnya dalam Yohanes 14—17 kita jumpai Tuhan Yesus yang menunjukkan jalan bagi kita untuk kembali kepada Allah di dalam Kristus dan bersama Kristus. Pertama-tama Allah datang kepada kita di dalam Kristus dan bersama Kristus, dan sekarang kita kembali kepada-Nya di dalam Kristus dan bersama Kristus. Alangkah hebatnya lalu lintas ilahi ini! Kita semua harus berlatih ikut mengambil bagian atas pengurapan tersebut, dan berlatih mempersembahkan Kristus kepada Allah di atas mezbah pembakaran ukupan sebagai ukupan yang harum bagi kepuasan Allah.