BEJANA PEMBASUHAN DARI TEMBAGA
Pembacaan Alkitab: Kel. 30:17-21; 38:8; 40:7, 30-32
Dalam berita ini kita akan melihat bejana pembasuhan dari tembaga yang dilukiskan dalam Keluaran 30:17-21. Kita mungkin tidak mengetahui betapa pentingnya bejana pembasuhan ini, tetapi yang penting kita perlu menemukan makna dari pokok ini.
TEMBAGA, PERAK, EMAS
Menurut catatan dalam Kitab Keluaran, bejana pembasuhan ditulis setelah perak pendamaian, dan perak pendamaian ditulis setelah mezbah ukupan. Satu hal yang menarik sekali, mezbah ukupan disalut dengan emas, setengah syikal untuk pendamaian adalah perak, dan bejana pembasuhan adalah dari tembaga. Di sini kita mempunyai tiga logam: emas, perak, dan tembaga. Perak dan tembaga adalah untuk emas. Kita dari tembaga ke perak, kemudian dari perak ke emas.
Keluaran 30 tidak menyinggung besi. Namun, dalam lukisan tentang patung besar dalam Daniel 2, kita mempunyai emas, perak, tembaga, besi, dan tanah liat. Patung yang dilihat oleh Nebukadnezar dalam mimpinya mempunyai kepala dari emas, dada dan lengan dari perak, perut dan pinggang dari tembaga, paha dari besi, dan kaki sebagian dari besi dan sebagian dari tanah liat (Dan. 2:32-33). Dalam pembangunan Allah, dalam kesaksian Allah, ada emas, perak, dan tembaga; tetapi tidak ada besi maupun tanah liat. Logam yang paling rendah dalam pembangunan adalah tembaga.
Kita perlu mempunyai kesan yang dalam terhadap emas, perak, dan tembaga dalam Keluaran 30. Tentunya logam-logam ini sejajar. Dalam Keluaran 30, pertama kita mempunyai mezbah ukupan yang disalut dengan emas, kemudian seonggok kepingan perak, sesudah itu bejana pembasuhan yang terbuat dari tembaga.
Mempelajari lambang-lambang dalam Keluaran 30 tidak sulit, tetapi untuk mengerti dan menerapkan lambang-lambang itu perlu pengalaman yang cukup banyak. Pertama, kita perlu menyentuh roh penulisnya. Namun, tidak mudah melakukan hal ini dalam perlambangan. Kedua, kita perlu pengalaman yang cukup untuk menafsirkan lambang-lambang. Sesungguhnya lambang tentang tembaga, perak, dan emas dalam Keluaran 30 adalah saling berkaitan.
BEJANA PEMBASUHAN UNTUK PENGOPERASIAN KEMAH SUCI
Mezbah ukupan adalah untuk doa syafaat, dan doa syafaat untuk pergerakan Allah, operasi Allah. Apa yang membuat kesaksian Allah, tabut, dan segenap Kemah Suci, tempat kediaman Allah bergerak di bumi? Bagaimana Kristus sebagai kesaksian Allah, dan gereja sebagai tempat kediaman Allah bisa bergerak di bumi? Tabut dan Kemah Suci, Kristus dan gereja, bergerak melalui pasukan.
Kemah Suci adalah tempat tinggal Allah. Dipandang dari sudut tempat tinggal, Kemah Suci adalah tempat kediaman Allah. Namun, dipandang dari sudut yang lain, Kemah Suci adalah markas yang berhubungan dengan pasukan. Dalam Kitab Keluaran dan Bilangan, kita melihat markas pasukan Allah. Markas atau kemah ini untuk berperang. Kemah Suci adalah markas inti, dan kedua belas suku Israel bermarkas di sekeliling Kemah Suci. Jadi kedua belas suku Israel bermarkas di sekeliling markas TUHAN, Kemah Suci. Ketika orang Israel meneruskan perjalanan, enam markas berjalan di depan markas TUHAN, dan enam markas lainnya mengikuti di belakang.
Mezbah ukupan adalah untuk pergerakan Allah, dan Allah bergerak berdasarkan pasukan. Bagaimana pasukan itu terbentuk? Pasukan itu terbentuk melalui memanggil orang yang bersyarat masuk wajib militer. Hari ini di beberapa negara ada wajib militer. Ketika para pemuda mencapai usia tertentu, mereka dipanggil masuk wajib militer. Jadi untuk bersyarat terpanggil masuk wajib militer tergantung pada pertumbuhan. Seorang anak kecil tidak dapat dipanggil masuk militer. Sebaliknya, seorang anak kecil perlu diberi makan, dipelihara, dan dirawat. Seorang yang akan dipanggil masuk militer, pertama ia perlu mencapai batas umur minimum. Batas umur minimum dalam Keluaran 30 adalah dua puluh tahun. Semua lakilaki yang berumur dua puluh tahun ke atas terdaftar dan harus membayar setengah syikal perak pendamaian. Sensus dan pembayaran perak pendamaian ini adalah untuk pergerakan Allah.
Perak pendamaian juga untuk pembangunan Allah. Seratus alas tiang Kemah Suci terbuat dari perak pendamaian. Kepala tiang, kait, dan penyambung tiang juga terbuat dari perak ini. Ini menunjukkan bahwa perak pendamaian adalah untuk pembangunan tempat kediaman Allah. Laki-laki yang berumur dua puluh tahun ke atas membayar perak pendamaian dan dipanggil untuk bergabung dengan pasukan yang berperang bagi pergerakan Allah. Setengah syikal yang dibayar mereka adalah untuk pembangunan Allah. Siapa saja yang bersyarat dan membayar setengah syikal dapat bergabung dengan pasukan ini untuk berperang bagi pergerakan kesaksian Allah di bumi. Sebab itu, baik mezbah ukupan maupun perak pendamaian adalah untuk pergerakan Allah.
Bejana pembasuhan adalah untuk pengoperasian Kemah Suci. Di pelataran luar ada mezbah dan bejana pembasuhan; di dalam tempat kudus ada meja, kaki pelita, dan mezbah ukupan; di dalam tempat maha kudus ada tabut. Tanpa pasukan, Kemah Suci tidak bisa bergerak. Namun, tanpa bejana pembasuhan, semua yang berada di dalam Kemah Suci atau di pelataran luar tidak bisa beroperasi. Untuk pengoperasian Kemah Suci, perlu persembahan kurban di mezbah. Kurban-kurban ini meliputi kurban bakaran, kurban sajian, kurban keselamatan, kurban penghapus dosa, dan kurban penebus salah. Tanpa kurbankurban ini dipersembahkan kepada Allah, Kemah Suci tidak bisa beroperasi. Imam juga perlu masuk ke dalam tempat kudus untuk menyajikan roti di atas meja, dan mengatur lampu. Mereka juga perlu berdoa syafaat di mezbah ukupan. Semuanya ini termasuk dalam pengoperasian Kemah Suci. Ketika imam-imam datang ke mezbah untuk mempersembahkan sesuatu kepada Allah atau masuk ke Kemah Suci menjalankan tugas pelayanan, terlebih dulu mereka harus pergi ke bejana pembasuhan untuk mencuci tangan mereka. Kalau para imam tidak membasuh diri di bejana pembasuhan, Kemah Suci tidak bisa beroperasi. Tanpa pasukan, Kemah Suci dan segala sesuatu yang berkaitan dengannya akan berhenti, tidak bisa bergerak. Namun, tanpa bejana pembasuhan, Kemah Suci tidak bisa beroperasi. Kalau bejana pembasuhan diambil dari pelataran, walaupun segala sesuatu yang berada di Kemah Suci dan pelataran tetap utuh, semuanya tidak bisa beroperasi.
KITA PERLU MEMBASUH BERSIH SENTUHAN DUNIAWI
Pelayanan imam di pelataran luar atau di Kemah Suci tergantung pada pembasuhan mereka di bejana pembasuhan. Tak ada orang yang bisa dalam beberapa hari tidak mencuci tangannya. Namun, secara rohani, orang Kristen mungkin sudah berhari-hari tidak mencuci tangannya di bejana pembasuhan. Misalnya, beberapa saudari mungkin sering berdoa baik secara pribadi maupun di dalam sidang. Saya sangat memperhatikan pelayanan doa mereka. Saudarisaudari, sebelum kalian berdoa, apakah kalian mencuci tangan di bejana pembasuhan? Apakah kalian melakukan pembasuhan rohani sebelum Anda masuk dalam pelayanan doa? Beberapa saudari mungkin menjawab, “Kami mengakui dosa-dosa, kesalahan, kegagalan, dan kekurangan kami, bukankah ini semacam pembasuhan?” Betul, mengakui dosa-dosa kita di hadapan Allah adalah mengalami semacam pembasuhan. Namun, ini adalah pembasuhan oleh darah, bukan pembasuhan oleh air di dalam bejana pembasuhan. Untuk membasuh dosa, dosa-dosa, kesalahan, dan pelanggaran kita, kita perlu darah. Kita juga perlu darah untuk membasuh kegagalan, kekalahan, dan kekurangan kita. Kita memerlukan darah mencuci semuanya ini, karena semuanya ini adalah dosa. Namun, ketika Tuhan Yesus membasuh kaki murid-murid-Nya, Ia memakai air. Pembasuhan semacam itu tidak membutuhkan darah. Kaki murid-murid kotor dan perlu dibasuh dengan air. Ini bukan persoalan dosa, melainkan persoalan kotor, atau najis.
Kalau kita berbohong atau marah-marah, kita telah berdosa. Namun, kalau kita menjadi najis karena persentuhan duniawi, kita tidak melakukan suatu dosa. Jadi jangan mencoba memakai darah membersihkan kenajisan ini. Misalnya, tangan kita yang kotor karena menyentuh lantai, perlu dibersihkan dengan air. Demikian juga, kalau kita menjadi najis karena persentuhan duniawi, kita perlu dibasuh dengan air yang di dalam bejana pembasuhan.
Saya prihatin melihat kenyataan, karena latar belakang agama dan suasana keliling kita, banyak orang Kristen tidak begitu berperasaan terhadap kenajisan rohani. Mereka mungkin mengira bahwa dinajiskan atau dikotori selalu merupakan perkara dosa. Namun, Alkitab membicarakan dua macam kenajisan: kenajisan yang berasal dari dosa dan kenajisan yang berasal dari persentuhan duniawi. Kalau kita berbohong atau mencuri, kita melakukan dosa dan menjadi najis karena pelanggaran-pelanggaran itu. Namun, kita mungkin tercemar dengan cara yang lain, yaitu melalui menyentuh hal-hal duniawi, dengan persentuhan duniawi.
Sebelum makan saya selalu mencuci tangan, karena saya sadar bahwa di bumi ini di mana-mana ada debu. Bahkan tangan kita yang menyentuh baju kita pun akan menjadi kotor. Seprinsip dengan ini, secara rohani kita mudah sekali menjadi kotor karena bersentuhan dengan perkara-perkara duniawi. Asal menempuh hidup dan bertindak tanduk di bumi, kita akan menjadi kotor. Untuk menjadi kotor, kita tidak usah berhubungan dengan orang jahat. Ketika berhubungan dengan orang yang baik pun kita bisa menjadi kotor. Meskipun kita begitu mudah menjadi kotor, mungkin kita tidak mempunyai sedikit kesadaran, atau sedikit perasaan tentang kenajisan yang berasal dari persentuhan duniawi. Di bawah sadar kita mungkin merasa tidak salah karena kita tidak berbohong atau mencuri. Kita mungkin baik, rendah hati, tulus, dan sabar. Namun, kita mungkin tercemar karena pergi ke rumah makan atau toko serba ada.
Beberapa tahun yang lalu saya mengunjungi kaum beriman di Las Vegas. Beberapa orang mendesak saya pergi menengok kasino, hanya untuk melihat-lihat saja. Saya berkata kepada mereka, “Aku tidak mau pergi ke tempat semacam itu. Karena aku tahu, kalau aku mengunjungi tempat itu, aku akan tercemar. Kemudian, aku akan tidak bisa berdoa selama sejangka waktu.” Kapan kala kita dicemari oleh persentuhan duniawi, kita perlu dibasuh dengan air dalam bejana pembasuhan, bukan dengan darah.
Anda mungkin bisa mengaku dosa-dosa, kegagalan, kekurangan, dan kesalahan Anda terhadap Tuhan, tetapi Anda tidak merasa perlu dibasuh dengan air yang di dalam bejana pembasuhan. Mencuci tangan di bejana pembasuhan akan mengingatkan kita untuk berhati-hati supaya tangan kita tidak kotor. Sama seperti mencuci tangan kita dengan sabun dan air, mengingatkan kita harus menjaga supaya tangan kita bersih; jadi membasuh tangan di bejana pembasuhan, mengingatkan kita pentingnya menjaga diri kita dari pencemaran yang timbul karena bersentuhan dengan hal-hal duniawi. Mereka yang merasa tidak perlu membasuh dengan air yang di dalam bejana pembasuhan mungkin tidak merasa salah bila pergi ke tempat duniawi hanya untuk melihat-lihat apa yang terjadi di sana. Mereka mungkin tidak berbuat dosa, tetapi mereka tetap tercemar. Kita mungkin akan tercemar karena mendengar percakapan orang-orang duniawi. Meskipun kita tidak mengambil bagian dalam percakapan itu, kita akan tercemar karena mendengar percakapan mereka. Meskipun kita tidak melakukan dosa, kita tetap mungkin tercemar. Karena seluruh dunia kotor, maka mudah sekali kita tercemar.
AKIBAT DARI PELAYANAN DI KEMAH SUCI
YANG TIDAK TERLEBIH DULU MEMBASUH DI BEJANA PEMBASUHAN
Ketika kita berdoa, mempersembahkan sesuatu kepada Tuhan, pertama kita perlu membasuh tangan kita bahkan kaki kita di bejana pembasuhan. Datang berfungsi di dalam sidang, sesungguhnya adalah masuk ke dalam Kemah Suci melayani Tuhan. Sebelum kita melayani Tuhan di dalam Kemah Suci, kita perlu dibasuh. Namun dalam hidup kekristenan banyak orang beriman dan dalam pelayanan mereka kepada Allah, kelihatannya tidak ada bejana pembasuhan. Ketika mereka datang ke mezbah mempersembahkan kurban kepada Allah, kedua tangan mereka kotor. Mungkin mereka datang dan melayani persidangan gereja dengan tangan yang tidak dibasuh di bejana pembasuhan. Pelayanan semacam ini mendatangkan kematian. Sebab itu Keluaran 30:21 mengatakan, “Haruslah mereka membasuh tangan dan kaki mereka, supaya mereka jangan mati.”
Kita harus hati-hati, jangan menjamah pelayanan Allah, selain kita terlebih dulu membasuh tangan kita di bejana pembasuhan. Kalau kita mencoba melayani Allah di dalam Kemah Suci dengan tangan yang kotor, secara rohani kita akan mati. Betapa banyak kematian di tengah-tengah orang Kristen hari ini! Semakin melayani, semakin banyak kematian, karena mereka melayani dengan tangan yang tidak bersih. Berdoa dan melayani dengan tangan yang kotor mendatangkan kematian.
Kalau kita di dalam sidang tidak berdoa atau berfungsi, dipandang dari satu sudut, mungkin kita masih hidup sedikit. Namun, kalau kita berdoa atau berfungsi tanpa dibasuh di bejana pembasuhan, kita akan mendatangkan kematian kepada diri sendiri dan menyebarkan kematian kepada orang lain. Kematian adalah akibat dari doa atau pelayanan kita yang tidak membasuh diri di bejana pembasuhan.
MENGALAMI BEJANA PEMBASUHAN
UNTUK PENGOPERASIAN TEMPAT KEDIAMAN ALLAH
Perak pendamaian adalah untuk pergerakan Allah, dan bejana pembasuhan adalah untuk pengoperasian tempat kediaman Allah. Tanpa perak pendamaian, tempat kediaman Allah tidak bisa terbangun, dan tidak bisa bergerak; akan kekurangan perak untuk membuat alas, kepala, kaitan, dan penyambung tiang. Juga tidak cukup jumlah orang yang dipanggil masuk wajib militer bagi pembentukan pasukan yang berperang untuk pergerakan Allah. Seprinsip dengan ini, tanpa bejana pembasuhan, Kemah Suci tidak bisa beroperasi. Meskipun kita mempunyai tempat kediaman Allah dan semua perabotannya, kita tidak bisa mengoperasikan barang-barang itu. Tanpa pembasuhan di bejana pembasuhan, tidak ada seorang pun yang bersyarat melayani di dalam Kemah Suci. Sayang sekali kalau hanya menekankan mezbah, meja, kaki pelita, tabut, dan mezbah ukupan, tetapi tidak banyak menekankan bejana pembasuhan. Kita harus mengalami bejana pembasuhan untuk pengoperasian tempat kediaman Allah.
HUBUNGAN BEJANA PEMBASUHAN DENGAN MEZBAH
Lokasi bejana pembasuhan terletak sesudah mezbah, tetapi dalam fungsinya, bejana pembasuhan di depan mezbah. Ketika imam-imam bertugas di mezbah, mereka harus terlebih dulu membasuh diri di bejana pembasuhan. Mereka juga harus membasuh diri dulu di bejana pembasuhan, sebelum mereka masuk bertugas di Kemah Suci. Dari sini kita melihat bahwa fungsi bejana pembasuhan adalah sebelum mezbah.
Lokasi bejana pembasuhan menunjukkan ia berasal dari mezbah. Mezbah disalut dengan tembaga, dan bejana pembasuhan dibuat dari tembaga. Dalam perlambangan, tembaga melambangkan penghakiman Allah. Mezbah melambangkan salib Kristus. Di mezbah, di salib Kristus, penghakiman Allah terlaksana sepenuhnya. Pelaksanaan penghakiman Allah inilah yang menghasilkan bejana pembasuhan. Tembaga di mezbah menandakan penghakiman, tetapi tembaga di bejana pembasuhan menandakan hasil, akibat, dari penghakiman Allah. Hasilnya adalah kekuatan pembasuhan. Artinya kekuatan pembasuhan dari bejana pembasuhan berasal dari penghakiman Allah.
Berdasarkan Perjanjian Baru, kekuatan pembasuhan dari bejana pembasuhan adalah Roh pemberi-hayat. Titus 3:5 membicarakan permandian kelahiran kembali dan pembaruan yang dikerjakan oleh Roh Kudus. Ayat ini mewahyukan, Roh pemberi-hayat, Roh hayat, adalah kekuatan pembasuhan. Jadi, bejana pembasuhan menandakan pembasuhan melalui Roh pemberi-hayat.
Bejana pembasuhan melambangkan kekuatan pembasuhan dari Roh pemberi hayat yang dihasilkan oleh kematian Kristus. Mezbah menandakan penebusan Kristus, dan bejana pembasuhan menandakan pembasuhan Roh pemberi-hayat. Di mezbah kita melihat penebusan Kristus, di bejana pembasuhan kita melihat pembasuhan Roh pemberihayat. Namun, Roh pemberi-hayat ini bukan persona yang lain. Roh pemberi-hayat ini adalah Kristus sendiri. Setelah melewati penghakiman Allah yang sempurna dan masuk ke dalam kebangkitan, Kristus yang tersalib menjadi Roh pemberi-hayat yang membasuh kita.
TEMBAGA MEZBAH DAN BEJANA PEMBASUHAN
Tembaga yang dipakai untuk menyalut mezbah berasal dari perbaraan 250 orang yang memberontak, yang dihukum oleh Allah. Setelah orang-orang yang memberontak itu dihukum, Tuhan berkata kepada Musa, “Katakanlah kepada Eleazar, anak imam Harun, supaya ia mengangkat perbaraan-perbaraan dari antara kebakaran itu, lalu hamburkanlah api itu jauh-jauh, karena semuanya itu kudus, yakni perbaraan orang-orang berdosa yang telah membayarkan nyawanya, kemudian semuanya itu harus ditempa tipis-tipis menjadi salut mezbah, sebab telah dibawa ke hadapan TUHAN oleh orang-orang itu, jadi semuanya itu kudus; dengan demikian hal itu menjadi tanda bagi orang Israel.” (Bil. 16:37-38). Ini menunjukkan bahwa tembaga di mezbah seharusnya memperingatkan umat Allah tentang penghukuman Allah terhadap orang-orang yang memberontak. Jadi, tembaga yang dipakai untuk membungkus mezbah menjadi suatu peringatan tentang penghukuman Allah terhadap pemberontakan.
Tembaga pada bejana pembasuhan berasal dari cermincermin para pelayan perempuan yang melayani di depan pintu Kemah Pertemuan (Kel. 38:8). Arti kata Ibrani “pertemuan” dalam Keluaran 38:8 adalah “bertemu atau berhimpun untuk menjadi pasukan”. Ini adalah petunjuk lain bahwa semua kemah atau markas orang Israel adalah pasukan. Perempuan-perempuan yang berkumpul di pintu Kemah Pertemuan melayani seperti satu pasukan. Dengan kata lain, pelayanan mereka merupakan bagian dari tugas militer juga. Cermin-cermin perempuan-perempuan ini dipakai untuk membuat bejana pembasuhan. Ini secara tidak langsung menyatakan bahwa bejana pembasuhan adalah cermin, dapat memantulkan dan menyingkapkan atau menampakkan hal-hal yang tersembunyi. Tembaga di mezbah adalah peringatan terhadap penghukuman Allah, dan tembaga di bejana pembasuhan adalah cermin yang menyingkapkan umat Allah. Ini menandakan penghukuman yang diderita oleh Kristus di atas salib mempunyai kekuatan menyingkapkan kita.
Mereka yang datang ke bejana pembasuhan akan disingkapkan kecemarannya. Dengan demikian mereka akan menyadari bahwa mereka membutuhkan pembasuhan. Saya ingat bertahun-tahun yang lalu, ketika anak-anak saya menyangkal kalau mereka kotor dan perlu dibasuh, saya mengambil sebuah cermin dan meletakkannya di depan mereka. Ketika mereka melihat diri mereka sendiri pada cermin, mereka diyakinkan bahwa diri mereka kotor dan mau membasuh diri. Demikian juga, bejana pembasuhan adalah sebuah cermin yang mencerminkan keadaan kita dan menyingkapkan kecemaran kita. Sebab itu, tembaga di mezbah mengingatkan kita tentang penghakiman Allah, dan tembaga di bejana pembasuhan mengingatkan kita bahwa kita kotor dan perlu dibasuh.
Di bejana pembasuhan kita mempunyai tembaga, cermin, dan air. Ketika kita berada di bejana pembasuhan, tembaga akan mengingatkan kita bahwa apa saja yang bersifat dosa, duniawi, dan daging telah dihakimi oleh Allah di kayu salib. Namun, meskipun kita mungkin mengaku dosa-dosa kita, kita mungkin tidak memahami betapa kita milik duniawi dan daging. Dalam pandangan Allah, kita telah ditebus, tetapi kita masih perlu dibasuh. Setelah ditebus dengan darah di mezbah, kita perlu dibasuh dengan air di bejana pembasuhan.
Hari ini, di antara orang-orang Kristen, tidak banyak berita yang memberi tahu kaum beriman bahwa meskipun sangat indah sekali kita telah tertebus oleh darah Kristus, tetapi kita masih perlu dibasuh oleh Roh pemberi-hayat. Kendatipun kita telah mengakui dosa-dosa kita, kita tetap perlu menanggulangi kecemaran, dan kenajisan yang berasal dari persentuhan dengan dunia. Kita juga perlu menanggulangi kecemaran yang berasal dari daging dan hayat alamiah. Sebab itu, kita perlu dibasuh oleh Roh pemberihayat.
PEMBASUHAN ROH PEMBERI-HAYAT
Setiap hari kita pertama-tama perlu mempersembahkan Kristus sebagai kurban penghapus dosa dan kurban penebus salah. Di satu pihak, ini akan menuntun kita mengalami Kristus sebagai suplai hayat dan makanan yang dipersembahkan kepada Allah. Di lain pihak, ini akan menuntun kita memahami bahwa kita perlu dibasuh oleh Roh pemberi-hayat.
Kalau kita makin bertindak di dalam Roh dan hidup di dalam roh perbauran, kita akan semakin dibasuh. Setiap pembasuhan akan mengingatkan kita jangan pergi ke tempat tertentu, jangan berkontak dengan orang tertentu, atau terlibat dalam keadaan yang akan mencemarkan kita. Meskipun kita mungkin tidak berbuat dosa, tetapi mungkin kita menyentuh hal-hal duniawi atau hal-hal alamiah sehingga tercemar. Kalau kita tetap di dalam keadaan yang tercemar, kita tidak akan bisa berdoa, melayani Tuhan, atau berfungsi di dalam sidang. Kalau kita mencoba berfungsi di dalam sidang tanpa membasuh kecemaran di bejana pembasuhan, kita akan mengalami kematian.
Saya dapat bersaksi, pemahaman dan penafsiran makna bejana pembasuhan ini cocok dengan pengalaman kita. Apa yang kita bicarakan tentang bejana pembasuhan dalam berita ini dapat dibuktikan dengan pengalaman kita.
Keluaran 30:18 berkata, “Haruslah engkau membuat bejana dan juga alasnya dari tembaga, untuk pembasuhan, dan kautempatkanlah itu antara Kemah Pertemuan dan mezbah, dan kautaruhlah air ke dalamnya.” Alas bejana pembasuhan menandakan kekukuhan. Bejana pembasuhan diletakkan di antara Kemah Pertemuan dan mezbah, untuk penerusan pekerjaan mezbah, supaya dapat masuk ke dalam Kemah. Air yang diisikan ke dalam bejana pembasuhan menandakan pembasuhan Roh pemberi-hayat (lihat Ef. 5:26).
Ayat 19 mengatakan, “Maka Harun dan anak-anaknya haruslah membasuh tangan dan kaki mereka dengan air dari dalamnya.” Seperti yang telah kita tunjukkan, pembasuhan menandakan membasuh kecemaran yang berasal dari persentuhan duniawi (Yoh. 13:10).
KETETAPAN UNTUK SELAMA-LAMANYA
Ayat 20 dan 21 mengatakan, “Apabila mereka masuk ke dalam Kemah Pertemuan, haruslah mereka membasuh tangan dan kaki dengan air, supaya mereka jangan mati. Demikian juga apabila mereka datang ke mezbah itu untuk menyelenggarakan kebaktian dan untuk membakar kurban api-apian bagi TUHAN, haruslah mereka membasuh tangan dan kaki mereka, supaya mereka jangan mati. Itulah yang harus menjadi ketetapan bagi mereka untuk selama-lamanya, bagi dia dan bagi keturunannya turun-temurun.” Imam harus membasuh diri di bejana pembasuhan ketika masuk Kemah Pertemuan atau ketika bertugas di mezbah. Hari ini kita perlu pembasuhan dari Roh pemberi-hayat untuk menghindari kematian rohani.
Imam perlu membasuh di bejana pembasuhan ketika akan masuk ke dalam Kemah Pertemuan atau ketika bertugas di mezbah. Seperti yang ditunjukkan di ayat 21 bagian bawah, ini akan menjadi ketentuan yang selama-lamanya, prinsip kekal bagi semua keturunan.
MEZBAH UKUPAN, PERAK PENDAMAIAN,
DAN BEJANA PEMBASUHAN
Menurut Keluaran 30, setelah mezbah ukupan, kita langsung mempunyai perak pendamaian untuk pembangunan Allah dan pergerakan Allah. Selanjutnya kita mempunyai bejana pembasuhan tembaga untuk pengoperasian tempat kediaman Allah. Tanpa perak penebusan, tempat kediaman Allah tidak bisa dibangun, juga tidak bisa bergerak. Dikatakan lebih jauh, jika tidak ada bejana pembasuhan tembaga, tempat kediaman Allah juga tidak dapat beroperasi. Tanpa bejana pembasuhan, pembangunan akan berhenti, dan segala sesuatu yang berhubungan dengannya akan mandek.
Sekarang kita bisa mengerti, mengapa perak pendamaian dan bejana pembasuhan tembaga langsung disebut di belakang mezbah ukupan emas. Kita perlu perak untuk membangun tempat kediaman Allah dan untuk pergerakannya. Kita perlu tembaga untuk pengoperasian tempat kediaman Allah. Ini berarti pengoperasian hidup gereja yang sesungguhnya tergantung pada bejana pembasuhan tembaga. Kita akan melihat, dalam Keluaran 30 juga ada susunan minyak urapan dan ukupan. Minyak urapan dan ukupan milik perak pendamaian dan bejana pembasuhan dari tembaga. Sebab itu, setelah mezbah ukupan kita mempunyai empat pokok: perak, tembaga, minyak urapan, dan ukupan. Setelah kita mempunyai perak dan bejana pembasuhan tembaga, kita perlu minyak urapan untuk mengurapi kita, dan perlu juga ukupan untuk dibakar di mezbah ukupan sebagai doa syafaat.
Saya menganjuri Anda berdoa mengenai perak pendamaian dan bejana pembasuhan tembaga dan bersekutu tentang hal-hal ini. Pengertian yang wajar tentang hal-hal ini memerlukan banyak doa dan persekutuan.