← Daftar isi Keluaran (10) · bab 10/17

MINYAK URAPAN MAJEMUK — ROH MAJEMUK (3)

Pembacaan Alkitab:

Kel. 30:23-30; Kej. 1:2; Hak. 3:10; Luk. 1:35; Yoh. 7:39; Rm. 8:2, 9;

Kis. 5:9; 16:6-7; Yoh. 14:17; Flp. 1:19; 1Kor. 15:45; 2Kor. 3:18; Ibr. 10:29;

Why. 1:4; Rm. 8:16; 1Ptr. 1:2; Why. 2:7; 22:17; 1Ptr. 4:14

Satu Petrus 4:14 mengatakan, “Berbahagialah kamu, jika kamu dihina karena nama Kristus, sebab Roh kemuliaan, yaitu Roh Allah ada padamu.” Dalam ayat ini Petrus membicarakan Roh kemuliaan. Baru-baru ini saya ditanyai bagaimana hubungan antara Roh kemuliaan dengan aspek-aspek lain Roh itu. Roh kemuliaan tidak berhubungan dengan sifat Allah sebanyak aspek-aspek lain Roh itu. Lagi pula, lambang minyak urapan majemuk dalam Keluaran 30 tidak banyak menunjukkan hubungannya dengan kemuliaan Allah. Keempat macam rempah-rempah yang berbaur dengan minyak zaitun semuanya adalah unsur. Unsur-unsur ini bukan untuk ekspresi, juga bukan untuk kemuliaan.

TERSUSUN DARI SIFAT ALLAH

Selain 1Petrus 4:14, semua ayat yang dikutip di atas berhubungan dengan sifat, sari, maupun unsur dari Roh yang telah melalui berbagai proses, almuhit, dan pemberihayat. Roh Allah memiliki unsur ilahi, yaitu unsur apa adanya Allah. Roh Yehova memiliki unsur Trinitas ilahi, yaitu unsur Bapa, Putra, dan Roh. Roh Kudus memiliki unsur ini, maka Roh Kudus dapat membuat sifat kita kudus, bahkan kudus seperti Allah. Proses pengudusan ini dimulai dengan dikandungnya Tuhan Yesus oleh Maria. Lukas 1:35 menyebut Yesus sebagai “kudus”. Karena Tuhan Yesus dikandung dari Roh Kudus, maka Ia kudus bukan hanya dalam susunan, tetapi juga kudus dalam posisi.

Dari zaman Adam sampai kelahiran Tuhan Yesus, tak seorang pun yang memiliki sifat kudus. Banyak orang yang dikuduskan berhubung disisihkan bagi Allah, tetapi tak seorang pun dari mereka yang dikuduskan dengan sifat Allah. Dengan kata lain, tak seorang pun di antara mereka yang tersusun dari sifat kudus Allah. Sebagai contoh, meskipun Harun dikuduskan untuk melayani Allah sebagai imam, tetapi ia tidak tersusun dari sifat kudus Allah. Karena itu, Roh Allah dengan unsur ilahi-Nya dan Roh Yehova dengan unsur Trinitas-Nya datang sebagai Roh itu, yaitu Roh dengan unsur sifat kudus ilahi, untuk menghasilkan seorang anak yang tersusun dari sifat kudus Allah. Menurut Lukas 1:35, anak itu disebut “kudus” atau “Sang kudus”. Ia tidak hanya kudus karena disisihkan bagi Allah, tetapi juga kudus dalam sifat, karena sifat kudus ilahi telah tersusun di dalam-Nya.

Dalam Perjanjian Baru, pengudusan mencakup tersusunnya kita dari sifat kudus Allah. Dalam hal ini, pengudusan merupakan kelanjutan dari inkarnasi. Dalam inkarnasi, Tuhan Yesus tersusun dari sifat kudus Allah. Sekarang, melalui proses pengudusan, kita yang percaya dalam Kristus juga tersusun dari sifat Allah. Jika kita melihat hal ini, kita akan menyadari bahwa ajaran “tentang pengudusan” di antara orang-orang Kristen dewasa ini sangat dangkal, bahkan lebih dangkal daripada konsepsi tentang pengudusan yang terdapat dalam Perjanjian Lama. Sebenarnya, pengudusan Perjanjian Baru ialah inkarnasi, yaitu inkarnasi dari sifat ilahi yang kudus ke dalam insani kita sehingga kita menjadi kudus di dalam sifat, bahkan kudus seperti Allah sendiri.

Sebutan “Roh Kudus” menunjukkan unsur sifat kudus Allah. Sebagaimana telah saya tunjukkan dalam berita sebelumnya, sebutan ini tidak digunakan dalam Perjanjian Lama. Dalam Mazmur 51:13 “Roh kudus-Mu (LAI: roh-Mu yang kudus)” seharusnya adalah “Roh kekudusan-Mu”. Dalam Yesaya 63:10 dan 11, “Roh kudus-Nya” seharusnya adalah “Roh kekudusan-Nya”.

ROH REALITAS

Aspek-aspek sebagai Roh Allah, Roh Yehova, dan Roh Kudus, semuanya merupakan persiapan ekonomi Perjanjian Baru Allah. Dalam ekonomi Perjanjian Baru Allah, pertama-tama, kita memiliki Roh realitas. Terlepas dari Roh realitas, dalam pengalaman kita, kita tidak akan dapat memiliki keilahian, Trinitas, maupun sifat kudus Allah. Semua itu hanya akan menjadi istilah saja bagi kita. Jika kita tidak memiliki Roh realitas, kita tidak akan memiliki realitas keilahian, realitas Trinitas, dan realitas sifat ilahi yang kudus. Realitas semua perkara ini adalah Roh realitas.

Ketika Tuhan Yesus masih berada di bumi, realitas belum masuk ke dalam manusia. Realitas telah ada, karena Kristus sendirilah realitas. Namun, realitas ini hanya berada di sekitar para murid; belum masuk ke dalam mereka. Karena itu, Tuhan mengatakan, adalah berguna bagi mereka jika Ia pergi. Tujuan kepergian-Nya ialah agar Ia mengalami perubahan bentuk, yaitu perubahan dari bentuk daging ke bentuk Roh. Segera setelah perubahan ini terlaksana, realitas-Nya menjadi realitas Roh, dan Roh itu akan menjadi Roh realitas. Kemudian Roh realitas ini akan tinggal di dalam para murid. Dalam Yohanes 14:17, Tuhan Yesus berkata, “Yaitu Roh Kebenaran (realitas). Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu.” Karena Roh realitas telah masuk ke dalam kita, maka sekarang realitas ada di dalam kita.

ROH YESUS

Roh Yesus ialah Roh inkarnasi, insani, kehidupan insani, dan penyaliban. Khususnya, Roh ini adalah aspek dari Roh itu yang mencakup penderitaan Tuhan. Seluruh kehidupan Tuhan Yesus sejak lahir sampai dikuburkan adalah kehidupan yang menderita. Ia lahir dalam palungan. Ini merupakan tanda bahwa Ia akan menjalani kehidupan menderita. Tidak lama setelah Ia lahir, Ia menjadi seorang pengungsi. Ini merupakan bagian dari penderitaan-Nya. Ketika keluarga-Nya kembali ke tanah kudus setelah mengungsi ke Mesir, mereka tidak dapat tinggal di Yudea. Mereka harus hidup di Galilea, yaitu di kota Nazaret yang dipandang rendah. Sebutan Roh Yesus menunjukkan penderitaan Tuhan dalam kehidupan insani-Nya. Sekarang, sari kehidupan insani Tuhan tercakup dalam Roh Yesus.

SEBUTAN-SEBUTAN LAIN UNTUK ROH ITU

Roh itu juga adalah Roh Kristus, Roh Yesus Kristus, Roh hayat, Roh pemberi-hayat, dan Roh Tuhan. Roh Kristus meliputi unsur, yaitu sari kebangkitan Kristus. Roh Yesus Kristus meliputi inkarnasi, insani, kehidupan insani, penderitaan, dan kebangkitan. Roh hayat adalah realitas hayat ilahi. Kristus adalah hayat dan juga pemberi-hayat. Roh itu adalah Roh hayat dan juga Roh pemberi-hayat. Sebagai Roh pemberi-hayat, Roh itu memiliki kemampuan untuk menyalurkan hayat kepada kita. Sebutan “Roh Tuhan” menunjukkan kenaikan ke surga dan kekepalaan Kristus. Hari ini manusia Yesus Kristus adalah Tuhan. Realitas kekepalaan-Nya berada dalam Roh itu. Ketika kita berkontak dengan Roh itu, kita akan menjamah unsur kenaikan Tuhan ke surga dan kekepalaan-Nya.

Roh itu juga adalah Roh anugerah. Aspek Roh ini berhubungan dengan kenikmatan atas Allah Tritunggal, karena Allah Tritunggal adalah anugerah kita. Ayat yang sangat penting, yaitu Ibrani 10:29, membicarakan darah pengudusan dan Roh anugerah.

Yang terakhir, dalam Kitab Wahyu, Roh itu disebut “tujuh Roh”. Sebutan “tujuh Roh” menunjukkan bahwa Roh itu telah diperkuat tujuh ganda. Roh ini memperkuat semua unsur Roh itu: Ia memperkuat keilahian, Trinitas, inkarnasi, penyaliban, kuasa kebangkitan, intisari realitas, pemberian hayat ilahi, dan anugerah sebagai kenikmatan kita.

Yang terakhir, Roh Allah adalah Roh itu. Sebagaimana telah saya tunjukkan, Roh itu adalah totalitas, yaitu jumlah dari semua sebutan Roh itu. Karena itu, Roh itu adalah Roh yang almuhit.

ROH KEMULIAAN

Roh kemuliaan dalam 1Petrus 4:4 adalah Roh ekspresi. Dalam suratnya yang pertama, Petrus menyebutkan Roh itu hanya sebanyak tiga kali. Ia membicarakan pengudusan oleh Roh itu, Roh Kristus, dan Roh kemuliaan (1Ptr. 1:2, 11; 4:14). Dalam Pelajaran-Hayat 1Petrus telah saya tunjukkan bahwa Petrus bahkan memiliki keberanian untuk menunjukkan bahwa fungsi Roh Kristus tidak hanya pada kaum beriman Perjanjian Baru, melainkan juga pada nabi-nabi dalam Perjanjian Lama. Dalam ekonomi Allah, fakta adalah satu hal, sedangkan penggenapan fakta tersebut adalah hal lain. Sebagai contoh, pelaksanaan penyaliban Tuhan terjadi sekitar seribu sembilan ratus tahun yang lalu. Namun, jauh sebelum inkarnasi, bahkan sebelum dunia dijadikan, dalam pandangan Allah, fakta penyaliban Kristus telah ada. Dilihat dari sudut Allah, segala sesuatu yang mencakup kematian Kristus adalah kekal. Allah lebih memperhatikan fakta daripada penggenapannya dalam waktu. Perhatikan fakta pilihan Allah yang ilahi. Allah Bapa memilih kita sebelum dunia dijadikan. Namun, fakta ini masih perlu terlaksana dalam waktu.

Surat Petrus yang singkat tentang Roh itu menunjukkan bahwa Roh pengudusan adalah Roh Kristus yang tinggal di dalam kita. Petrus tidak mengatakan apa pun tentang Kristus yang tinggal di dalam kita. Tak sepatah kata pun dalam suratnya yang membicarakan berhuninya Kristus di dalam kita. Jika Roh Kristus berada dalam nabi-nabi Perjanjian Lama, betapa jauh lebih banyak Roh ini di dalam kita!

Yang terakhir, Petrus menyebutkan Roh kemuliaan. Konteks ini menunjukkan Roh itu adalah pengalaman kaum beriman atas penderitaan dan penganiayaan. Untuk kaum beriman yang menderita, di dalam mereka Roh itu tidak hanya sebagai unsur ilahi yang berhuni di dalam mereka, tetapi juga berada di atas mereka sebagai kemuliaan. Ini berlaku untuk siapa pun yang mati martir. Saya pernah memberi tahu Anda tentang kejadian seorang wanita muda yang mati martir pada masa pemberontakan Boxer di China. Seorang laki-laki muda yang melihat dia, yang kemudian bersaksi kepada saya mengatakan bahwa wanita muda tersebut bersinar dengan kemuliaan. Ia memberi tahu saya bahwa wajah wanita muda tersebut penuh dengan terang. Terang ini adalah cahaya kemuliaan Tuhan. Roh kemuliaan benar-benar berada pada dirinya.

Bertahun-tahun yang lalu saya pernah mendengar cerita tentang seorang pengabar Injil yang mati martir. Pengabar Injil ini telah menulis sebuah sajak yang mengatakan bahwa wajah orang yang mati martir itu seperti wajah malaikat, dan hati orang yang mati martir itu seperti hati singa. Saya juga bermaksud mengatakan bahwa pada orang yang mati martir terdapat cahaya Roh kemuliaan. Roh kemuliaan adalah Roh yang berhuni, Roh Kristus, Roh anugerah, yang menjadi kemuliaan yang bersinar atas kaum beriman.

ROH KEKUDUSAN

Dalam Roma 1:4, Paulus menyebutkan Roh kekudusan: “Dan menurut Roh kekudusan dinyatakan oleh kebangkitan-Nya dari antara orang mati.” Roh kekudusan di sini berlawanan dengan daging dalam Roma 1:3. Karena daging dalam ayat 3 menunjukkan sari esens insani Kristus, maka dalam ayat 4, Roh itu bukan menunjukkan persona Roh Kudus Allah, melainkan esens ilahi Kristus yang adalah “kepenuhan ke-Allahan” (Kol. 2:9). Esens ilahi Kristus, yang adalah Allah sendiri ini (Yoh. 4:24), adalah kekudusan yang penuh dengan sifat kudus. Mereka yang menganiaya Kristus dan menentang-Nya menganggap Dia sebagai manusia biasa saja. Melalui Roh kekudusan, dalam kebangkitan, Ia dimeteraikan sebagai Anak Allah. Ia adalah manusia, tetapi Ia memiliki sifat Anak Allah.

Istilah “Roh kekudusan” sebenarnya amat sukar dipahami. Para penerjemah menemui kesulitan dalam menentukan apakah kata “Roh” dalam ayat ini ditulis dengan huruf besar atau tidak. Roh itu di sini menunjukkan Roh Kudus, ataukah Tuhan Yesus? Ketika Tuhan wafat, Ia menyerahkan nyawa-Nya kepada Allah (Luk. 23:46). Namun, meskipun perkara Roh kekudusan ini tidak dapat didefinisikan dengan tepat, namun kita tahu bahwa oleh Roh kekudusanlah Kristus dinyatakan sebagai Anak Allah dalam kebangkitan.

TIDAK MENSISTEMATISKAN WAHYU ILAHI

Jika kita berusaha untuk mensistematiskan wahyu ilahi dalam Alkitab, kita akan mengalami kesulitan. Sukar bagi kita untuk menganalisis hayat insani kita, apalagi sifat Allah Tritunggal dan Roh. Sebagai manusia, kita memiliki hayat. Kita memiliki hayat “bios” dan juga hayat “psuche”. Apabila kita mati, hayat jenis apakah yang mati itu? Hayat bios, ataukah hayat psuche? Orang “ateis” menyatakan bahwa apabila seseorang mati, berarti hayatnya musnah. Mereka mengatakan bahwa tak ada sedikit pun yang tertinggal setelah kematian. Mereka menganggap manusia sama dengan hewan. Almarhum Perdana Menteri China, yaitu Chou En Lai, menginstruksikan agar tubuhnya dibakar dan abunya ditaburkan dari sebuah pesawat terbang. Ia adalah seorang ateis yang percaya bahwa tidak ada yang tertinggal setelah kematian. Namun, kita percaya kepada Allah yang hidup dan Alkitab.

Kita percaya akan tritunggal. Kita juga percaya bahwa manusia terdiri atas tiga bagian roh, jiwa, dan tubuh. Setelah seseorang dilahirkan kembali, ia memiliki tiga hayat: hayat bios, hayat psuche, dan roh yang telah dilahirkan kembali dengan hayat ilahi. Karena itu, sangatlah sukar bagi kita untuk mendefinisikan hayat. Apabila Anda membicarakan hayat, hayat apakah yang Anda maksudkan? Menurut firman Tuhan dalam Lukas 16, baik orang kaya maupun Lazarus mati. Meskipun mereka mati dalam bios mereka, namun mereka masih hidup dalam jiwa mereka, yaitu dalam psuche mereka.

Saya mengatakan demikian untuk menunjukkan bahwa kita tidak setuju dengan pensistematisan para ahli agama. Perkara hayat yang misterius ini tidak mungkin dapat disistematiskan. Bila kita membahas Roh itu dan khususnya Roh kekudusan dalam Roma 1:4, kita jangan berusaha mensistematiskan wahyu dalam firman Allah. Kita juga harus berhati-hati ketika kita membahas Trinitas. Daripada mensistematiskan wahyu tentang Allah Tritunggal, lebih baik kita percaya pada apa yang dikatakan oleh Alkitab mengenai Trinitas.