← Daftar isi Keluaran (10) · bab 11/17

UNSUR-UNSUR ROH MAJEMUK YANG DILAMBANGKAN DENGAN MINYAK URAPAN MAJEMUK (1)

Pembacaan Alkitab:

Kel. 30:23-30; 1Yoh. 2:18-27; 4:1-3, 6;

Rm. 8:16; 1Kor. 6:17; Gal. 5:22-24; Rm. 8:13

Kita telah melihat bahwa minyak urapan majemuk adalah lambang Roh majemuk. Dalam berita ini dan dua berita berikutnya, pertama-tama kita akan membahas unsur-unsur Roh majemuk, kemudian kita akan membahas fungsi Roh majemuk. Sebenarnya, perhatian kita yang utama ialah pada fungsinya. Namun, untuk memahami fungsi Roh majemuk, kita harus melihat unsur-unsur Roh ini. Dengan mengetahui unsur-unsur Roh ini, kita akan memperoleh bantuan untuk memahami 1Yohanes 2:18-27.

Jika kita membaca 1Yohanes 2:18-27 dengan teliti dan membahas konteksnya, kita akan melihat bahwa Yohanes membicarakan pengurapan untuk menanggulangi Antikristus. Ayat 18 dengan jelas mengatakan, “Anak-anakku, waktu ini adalah waktu yang terakhir, dan seperti yang telah kamu dengar bahwa antikristus akan datang, sekarang telah bangkit banyak antikristus. Dari hal inilah kita mengetahui bahwa waktu ini benar-benar waktu yang terakhir.” Selanjutnya dalam ayat 19, Yohanes mengatakan bahwa antikristus-antikristus ini “memang mereka berasal dari antara kita, tetapi mereka tidak sungguh-sungguh termasuk pada kita; sebab jika mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita, tentu mereka tetap bersama-sama dengan kita. Tetapi hal itu terjadi, supaya nyata bahwa mereka semua tidak termasuk pada kita.” Setelah itu, dalam ayat 20, Yohanes mengatakan bahwa kita, kaum beriman, telah beroleh “Pengurapan dari Yang Kudus”. Ini menunjukkan bahwa perkataan Yohanes mengenai pengurapan memiliki hubungan dengan peringatannya tentang Antikristus.

Injil dan Surat-surat Yohanes ditulis ketika bermacammacam bidah tentang persona Kristus muncul. Menurut salah satu bidah ini, Kristus memang ilahi, namun tidak insani. Menurut ajaran bidah ini, Kristus itu Allah, namun bukan manusia. Ini adalah bidah yang berhubungan dengan insani Kristus. Menurut ajaran bidah yang lain, Kristus itu insani, bukan ilahi, Ia adalah manusia, bukan Allah. Ini adalah bidah yang berhubungan dengan keilahian Kristus. Karena itu, dua ajaran bidah ini mewakili dua ekstrem yang berbeda.

Dalam Injilnya, Yohanes menyatakan bahwa Firman, yang adalah Allah, menjadi daging (1:1, 14 Tl.). Kata “daging” dalam Yohanes 1:14 menunjukkan keinsanian Kristus. Firman itu Allah, dan Firman itu telah menjadi daging, yaitu manusia. Ini mewahyukan bahwa Kristus adalah Allah, juga manusia. Semua orang Kristen sejati mengakui bahwa Yesus Kristus adalah Allah juga manusia. Selama berabadabad sejumlah guru besar menggunakan istilah “Allahmanusia” untuk menunjukkan fakta bahwa Kristus adalah Allah dan manusia. Sebelum inkarnasi Ia adalah Allah, namun melalui inkarnasi Ia menjadi manusia. Karena itu, setelah inkarnasi-Nya, Kristus adalah Allah juga manusia, yaitu Allah-manusia.

Satu Yohanes 2:20 dan 27 membicarakan pengurapan yang dilambangkan dengan minyak urapan majemuk dalam Keluaran 30. Pengurapan dalam ayat-ayat tersebut merupakan tanda bahwa pengurapan tersebut bersumber pada lambang minyak urapan dalam Keluaran 30. Minyak urapan adalah urapan majemuk, yaitu urapan yang mengandung sejumlah unsur. Unsur dasarnya adalah minyak zaitun. Kita boleh menggunakan cat sebagai ilustrasi sederhana untuk urapan majemuk. Unsur dasar dari cat ialah minyak, kemudian minyak ini ditambah dengan unsurunsur lain. Dalam prinsip yang sama, pada unsur dasar minyak zaitun ditambahkan empat macam rempah-rempah untuk menghasilkan minyak urapan majemuk. Minyak urapan majemuk ini dibuat dengan jalan mencampur minyak zaitun dengan empat macam rempah-rempah. Ini sangat membantu kita untuk memahami semua unsur minyak urapan ini dan apa yang mereka maksudkan.

Roh Kristus adalah penggenapan dari lambang minyak urapan majemuk. Roh Kristus adalah Roh majemuk, dan Roh ini adalah Roh pemberi-hayat yang almuhit. Jika kita memahami unsur-unsur Roh ini, maka kita akan dapat memahami fungsi Roh majemuk. Sebagaimana kita lihat, fungsi Roh itu adalah untuk mengurapi kita. Itulah sebabnya 1Yohanes 2:20 dan 27 membicarakan pengurapan.

UNSUR-UNSUR ROH MAJEMUK Allah yang Unik — Satu Hin Minyak Zaitun

Kadar, unsur apakah yang menyusun Roh majemuk itu? Unsur pertama ialah Allah, yaitu Allah yang unik, yang dilambangkan dengan minyak zaitun, dan takaran minyak zaitun, yaitu satu hin. Dalam takaran Ibrani, satu hin adalah satuan yang utuh. Dalam hal ini, satu hin dapat disamakan dengan satu pon sebagai satuan yang utuh dan enam belas ons. Karena itu, satu hin adalah ungkapan Ibrani yang menunjukkan satu satuan yang utuh. Satu hin minyak zaitun dalam Keluaran 30 melambangkan Allah semata, yaitu Sang Pencipta (1Tim. 1:17; Rm. 16:27; Kel. 30:24).

Satu hin minyak zaitun sebagai dasar dari minyak urapan majemuk melambangkan Allah yang unik sebagai dasar dari Roh majemuk. Pengertian ini logis dan bermakna. Kita percaya akan Allah, tetapi bukan dalam cara yang sederhana seperti orang Yahudi. Sebaliknya, kita percaya akan Allah berdasarkan wahyu Perjanjian Baru. Dalam Perjanjian Baru, Allah tidak hanya Allah dengan unsur ilahi-Nya yang tunggal, sebab Ia telah berbaur dengan unsur-unsur lain.

Sekali lagi, perhatikan pencampuran rempah-rempah dengan minyak zaitun untuk menghasilkan minyak urapan majemuk. Pertama-tama, minyak zaitun terdiri atas satu unsur. Namun, setelah dicampur dengan empat macam rempah rempah, minyak ini tidak lagi hanya memiliki unsur tunggal. Minyak ini telah menjadi campuran dari lima unsur. Dari kelima unsur ini, satu minyak adalah dasar, dan lain-lainnya empat macam rempah-rempah adalah unsur-unsur untuk pencampuran. Ini menunjukkan bahwa dalam Perjanjian Lama, Roh Allah terdiri atas satu unsur, dan unsur itu ialah Allah yang unik, Sang Pencipta. Namun, Perjanjian Baru mewahyukan bahwa telah terjadi suatu proses pencampuran. Proses ini meliputi inkarnasi, kehidupan insani, penyaliban, kebangkitan, dan kenaikan Kristus ke surga. Setelah melalui proses pencampuran ini, Roh Allah bukan lagi Roh yang hanya memiliki satu unsur. Sekarang, Ia adalah Roh majemuk. Namun, Roh ini tetap memiliki Allah yang unik sebagai dasar. Dasar ini, yaitu Allah yang unik, dilambangkan dengan satu hin minyak zaitun.

Allah Tritunggal, Bapa, Putra, dan Roh —

Tiga Satuan TakaranEmpat Macam Rempah-rempah

Dalam Roh majemuk kita juga memiliki Allah Tritunggal, yaitu Bapa, Putra, dan Roh. Boleh jadi Anda berpikir bagaimana mungkin kita dapat melihat Allah Tritunggal yang dilambangkan dengan minyak urapan majemuk. Dalam minyak urapan ini Allah Tritunggal dilambangkan dengan tiga satuan takaran empat macam rempah-rempah (Kel. 30:23-34). Dalam minyak urapan majemuk terdapat lima ratus syikal mur, dua ratus lima puluh syikal kayu manis dan dua ratus lima puluh syikal deringo, dan lima ratus syikal kayu teja. Meskipun terdapat empat macam rempah-rempah, namun takarannya adalah jumlah dari tiga satuan yang terdiri atas lima ratus syikal. Namun, bagaimana kita dapat menerapkan hal ini pada Allah Tritunggal? Satuan pertama ialah lima ratus syikal mur. Namun, satuan kedua, yaitu yang berjumlah lima ratus syikal, dibagi menjadi dua bagian: dua ratus lima puluh syikal kayu manis, dan dua ratus lima puluh syikal deringo. Satuan ketiga ialah lima ratus syikal kayu teja. Perhatikan satuan kedua, yaitu satuan yang di tengah, dibagi menjadi dua bagian. Tentu saja ini menunjukkan urutan kedua dari Allah Tritunggal, yaitu Putra, dan penyaliban-Nya.

Ajaran terbesar dalam Alkitab ialah Trinitas ilahi. Menurut bahasa Ibrani, untuk kali pertama Allah disebutkan dalam Alkitab (Kej. 1:1), digunakan kata “Elohim”. Nama “Elohim”, yang berarti Allah, berbentuk jamak. Ini merupakan tanda Trinitas. Selain itu, dalam Kejadian 1:26 dikatakan bahwa ketika Allah hendak menciptakan manusia, Ia berkata kepada diri-Nya sendiri, “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita.” Ini merupakan tanda lain bahwa Allah itu tritunggal. Namun, tentu saja ini bukan wahyu yang jelas tentang Trinitas. Kita jumpai wahyu jelas semacam ini dalam Matius 28:19, yaitu setelah kebangkitan-Nya, Tuhan Yesus memberi perintah kepada murid-murid-Nya demikian: “Karena itu, pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku, dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus.” Di sini kita jumpai satu nama untuk tiga ke-Allahan yaitu untuk Bapa, Anak, dan Roh.

Dalam Yohanes 14, 15, dan 16, Tuhan Yesus mewahyukan Trinitas ilahi kepada murid-murid-Nya. Pada tingkat tertentu, Ia bahkan menegaskan hubungan-Nya dengan Bapa dan Roh. Dalam Yohanes 14:8, Filipus berkata kepada Tuhan, “Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami.” Rupa-rupanya kaget dengan permintaan Filipus, Tuhan menjawab, “Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Siapa saja yang telah melihat Aku, Ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami.” Selanjutnya Tuhan Yesus berkata, “Aku di dalam Bapa, dan Bapa di dalam Aku” (ayat 10). Pada saat itu para murid setidaknya pasti menjadi agak jelas tentang Anak dan Bapa.

Selanjutnya dalam Yohanes 14:16 dan 17, Tuhan berkata kepada para murid, “Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran (Realitas). Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu.” Kemudian Tuhan berkata pula, “Jika seseorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan tinggal bersama-sama dengan dia” (ayat. 23). Seandainya saya adalah salah seorang di antara murid-murid tersebut, mungkin saya akan bertanya kepada Tuhan, “Bagaimana Engkau dapat datang kepada kami dan diam bersama-sama kami?” Sebenarnya, jawaban dari pertanyaan ini ialah firman Tuhan tentang Roh realitas yang diam di dalam para murid, bukan hanya di tengah-tengah mereka. Di sini seolah-olah Tuhan berkata, “Roh realitas akan datang, bukan hanya ke tengah-tengah kamu, melainkan juga di dalam kamu. Kapan kala Ia datang untuk tinggal di dalam kamu, berarti Aku sendirilah yang datang kepada kamu. Kepergian-Ku ialah kembali-Ku. Pada hari itu kamu akan tahu bahwa Aku ada di dalam Bapa-Ku, dan kamu di dalam Aku, dan Aku di dalam kamu. Jangan menganggap Bapa dan Aku adalah dua. Tidak, Kami adalah satu.” Para murid mendengar firman yang tercatat dalam Yohanes 14 ini beberapa minggu sebelum mereka diberi perintah dalam Matius 28:19. Dalam ayat itu Tuhan memerintahkan para murid untuk membaptis semua bangsa dalam nama Bapa, Anak, dan Roh. Dari Yohanes 14 kita tahu bahwa Tuhan telah berbicara kepada mereka tentang Bapa dan Roh. Dari Yohanes 14 dan Matius 28 kita dapat melihat bahwa sebelum kenaikan Tuhan ke surga, Trinitas telah sepenuhnya diwahyukan kepada para murid. Dalam Matius 28:19, Bapa, Anak, dan Roh adalah tiga, namun memiliki satu nama. Para murid diperintahkan untuk membaptis kaum beriman bukan dalam “namanama”, melainkan “nama”, yaitu Bapa, Anak, Roh. Karena itu, ayat ini mewahyukan Trinitas.

Kembali pada tiga satuan yang masing-masing terdiri atas lima ratus syikal dalam minyak urapan majemuk, kita melihat bahwa kesatuan yang di tengah dibagi menjadi dua bagian. Ini melambangkan kematian Tuhan Yesus di atas salib. Pembagian ini menunjukkan kematian Kristus. Fakta bahwa satuan yang dibagi ini adalah satuan yang di tengah, yaitu yang melambangkan Anak yang dibelah, merupakan petunjuk kuat bahwa ketiga satuan yang terdiri atas lima ratus syikal tersebut melambangkan Trinitas. Satuan pertama melambangkan Bapa; satuan kedua melambangkan Anak yang dibelah, yaitu yang mati di atas salib; dan satuan ketiga melambangkan Roh. Karena itu, ketiga satuan dari takaran rempah-rempah tersebut melambangkan Allah Tritunggal. Memiliki pengertian demikian berarti memahami bahasa surgawi dalam Keluaran 30.

Manusia, Ciptaan Allah —

Empat Macam Rempah-rempah yang Berasal dari Hayat Nabati

Selanjutnya dalam unsur-unsur Roh majemuk kita jumpai manusia, yaitu ciptaan Allah. Tentu saja, ini menunjukkan insani Yesus, atau Manusia Yesus. Kapan kala seseorang mendengar bahwa manusia, yaitu ciptaan Allah, adalah unsur Roh majemuk seperti yang dilambangkan dengan minyak urapan majemuk, boleh jadi mereka berkata, “Di sini tidak dibicarakan soal manusia. Bagaimana Anda dapat mengatakan bahwa manusia sebagai ciptaan Allah adalah unsur dalam minyak urapan majemuk!” Jawabannya ialah manusia dilambangkan dengan keempat macam rempah-rempah yang berasal dari hayat nabati.

Dalam Alkitab angka empat melambangkan ciptaan Allah. Bukti yang kuat ditunjukkan oleh empat makhluk hidup dalam Kitab Yehezkiel dan Wahyu. Dalam Wahyu 4, Yohanes dengan tegas menyebutkan empat makhluk hidup. Yang manakah di antara keempat makhluk hidup tersebut yang utama? Yang utama di antara mereka ialah yang berwajah manusia. Ini menunjukkan bahwa manusia adalah yang utama dari ciptaan Allah, suatu fakta yang sesuai dengan Kejadian 1. Meskipun Allah menciptakan manusia pada urutan yang terakhir, tetapi Allah menjadikannya kepala atas semua ciptaan; Allah memberi manusia kekuasaan untuk memerintah semua ciptaan-Nya. Dalam Keluaran 30, manusia dilambangkan dengan empat macam rempah-rempah.

Sekarang mari kita perhatikan dua ayat dalam Perjanjian Baru yang berhubungan dengan keinsanian Kristus. Yohanes 19:5 menuliskan perkataan yang dikatakan oleh Pilatus sebelum Tuhan disalibkan, “Lalu Yesus keluar, bermahkota duri dan berjubah ungu. Kemudian kata Pilatus kepada mereka, ‘Lihatlah orang itu!’” Satu Timotius 2:5 berkata, “Karena Allah itu esa dan esa pula pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus.” Perkataan ini ditulis Paulus setelah kenaikan Tuhan ke surga. Pernyataan Paulus mewahyukan bahwa meskipun setelah penyaliban, kebangkitan, dan kenaikan-Nya ke surga, Tuhan Yesus tetap adalah manusia.

Namun, banyak orang Kristen yang memiliki konsepsi bahwa Kristus sebagai manusia hanyalah dari saat inkarnasi sampai penguburan-Nya. Kemudian, menurut pengertian mereka, setelah kebangkitan-Nya, Ia bukan lagi manusia. Mungkin Anda pun memiliki konsepsi demikian sebelum masuk ke dalam pemulihan Tuhan. Mungkin pula orang lain tidak pernah memikirkan hal ini secara serius. Boleh jadi mereka telah merasa puas dengan keyakinan mereka bahwa Yesus Kristus adalah Putra Allah, Juruselamat, dan Penebus, dan bahwa sejak kebangkitan-Nya, Ia berada di surga.

Suatu hari seorang saudara lulusan suatu seminari mengatakan kepada saya bahwa betapa kagetnya ia ketika untuk kali pertama ia menyanyikan kata-kata di bawah ini dari suatu kidung tentang pemuliaan Kristus (kuningKidung 115):

Tengok, Yesus duduk surga!

Kristus Tuhan bertakhta;

Dia insan nan terangkat,

hormat mulia Dia dapat.

Mengenakan sifat insan,

Hidup taat murad-Nya!

Mati, bangkit, d’ngan tubuh-Nya,

Tetap insan di surga.

Tengok, insan duduk surga!

Raja s’mesta bertakhta!

Dialah Yesus Juruselamat,

mulia, hormat, selamanya.

Saudara itu memberi tahu saya bahwa ia sangat heran dengan apa yang tertulis dalam kidung ini tentang fakta bahwa bahkan setelah kenaikan-Nya ke surga, Tuhan tetap adalah seorang manusia. Ia berkata, “Aku lulus dari suatu seminari terkemuka, tetapi aku belum pernah mendengar bahwa di atas takhta Tuhan Yesus tetap adalah seorang manusia, dan Ia masih memiliki sifat insani.” Kita harus tahu dengan jelas tentang kebenaran bahwa Yesus Kristus tetap adalah manusia. Ia tetap memiliki sifat insani. Tidak mempercayai hal ini adalah suatu hal yang serius. Karena itu, kita semua harus tahu bahwa Yesus Kristus Penebus kita, hari ini adalah Allah juga manusia. Dari masa inkarnasi sampai penyaliban-Nya, Ia adalah manusia. Itulah sebabnya Pilatus mengatakan, “Lihatlah Manusia itu!” Namun bahkan setelah kebangkitan dan kenaikan-Nya ke surga, Tuhan tetap adalah manusia. Karena alasan itulah, maka dalam 1Timotius 2:5, Paulus memberi tahu kita bahwa ada seorang Pengantara antara Allah dan manusia, yaitu Manusia Kristus Yesus. Allah yang unik, yaitu Allah Tritunggal, dan manusia Kristus Yesus, semuanya adalah unsur-unsur dari Roh majemuk. Kita akan membahas unsur-unsur yang lain dalam berita selanjutnya.