PERAK PENDAMAIAN (2)
Pembacaan Alkitab:
Kel 30:11-16; 38:25-28; Bil 1:45-46; 2:32
Dalam berita terdahulu kita mulai membahas masalah perak pendamaian dalam Keluaran 30:11-16. Keluaran 30:12 membicarakan tentang jumlah, atau sensus orang Israel menurut jumlah orang-orang yang dihitung; dan ayat 16 membicarakan tentang memungut perak pendamaian dari orang Israel, untuk keperluan Kemah Pertemuan. Untuk memahami makna perak pendamaian, kita perlu menanyakan beberapa pertanyaan penting. Pertama, apa hubungan antara mezbah ukupan dengan perak pendamaian? Kedua, mengapa orang Israel dalam pasal 30 memerlukan perak pendamaian padahal mereka telah ditebus? Ketiga, mengapa pendamaian atau harga tebusan dalam Keluaran 30 berhubungan dengan perak dan bukannya bertalian dengan darah hewan, padahal penebusan dirampungkan melalui Domba Paskah? Keempat, mengapa perak pendamaian disebut suatu persembahan unjukan? Kelima, mengapa perak pendamaian dibayar untuk orang laki-laki yang berumur dua puluh tahun ke atas, dan bukannya untuk semua orang Israel?
BERDOA DAN PEMBENTUKAN PASUKAN
Dalam jawaban pertanyaan yang pertama, kita telah melihat bahwa doa, yaitu doa syafaat di mezbah ukupan adalah untuk pergerakan Allah; dan pergerakan Allah membutuhkan suatu pasukan yang sanggup berperang bagi kepentingan Allah. Untuk membentuk pasukan, diperlukan satu sensus. Melalui ini kita dapat mengerti hubungan antara mezbah ukupan dengan perak pendamaian. Kita bisa mengerti mengapa perak pendamaian disinggung segera setelah penjelasan mezbah ukupan. Doa di mezbah ukupan menghasilkan pendaftaran orang Israel, untuk pembentukan suatu pasukan yang berperang bagi pergerakan Allah di bumi.
Andaikata di tengah-tengah orang Israel tidak terbentuk satu pasukan. Apakah Kemah Suci bisa bergerak tanpa satu pasukan? Tidak, kalau tidak ada satu pasukan yang berperang untuk kepentingan Allah, Kemah Suci tidak bisa bergerak. Menurut Kitab Bilangan, pendaftaran orang lakilaki berumur dua puluh tahun ke atas adalah untuk pembentukan pasukan. Kemudian, Kitab Bilangan menyebut dua belas suku sebagai pasukan. Ini menyatakan setiap suku terbentuk menjadi satu pasukan, kecuali suku Lewi. Karena suku Lewi adalah pasukan Kemah Suci. Setiap suku dibentuk menjadi pasukan, tujuannya untuk pergerakan Allah.
Dalam Keluaran 30, segera setelah catatan mengenai mezbah ukupan, ada uraian tentang sensus dan perak pendamaian. Untuk pembentukan pasukan yang sanggup berperang, perlu ada sensus. Doa syafaat di mezbah ukupan adalah untuk pergerakan Allah. Namun, bagaimana Allah bisa bergerak dalam situasi yang penuh dengan musuh? Jawabannya adalah: Allah bergerak melalui peperangan. Namun, di manakah pasukan Allah? Di manakah laskar-Nya? Laskar ini pasti terbentuk dari umat pilihan Allah. Pula, hanya laki-laki yang telah mencapai umur dua puluh tahun yang bersyarat masuk dalam pasukan ini. Ini menyatakan bahwa untuk pembentukan pasukan, umat pilihan Allah perlu matang.
Di beberapa negara, orang muda pada usia tertentu dipanggil masuk wajib militer. Namun, wajib militer semacam ini tidak ada sangkut pautnya dengan penebusan. Untuk masuk wajib militer, seorang pemuda tidak perlu ditebus. Akan tetapi, keadaannya lain sekali dengan pembentukan pasukan Allah. Pembentukan pasukan Allah memerlukan penebusan. Apakah Anda percaya, orang alamiah bersyarat berada di dalam pasukan Allah? Orang alamiah tentunya tidak bersyarat terpanggil masuk dalam tugas wajib militer dalam pasukan ini. Sebab itu, perlu ada perak penebusan, perak pendamaian, syarat tambahan selain darah Domba Paskah.
DOMBA PASKAH DAN PERAK PENDAMAIAN
Di antara Domba Paskah dan perak pendamaian ada perbedaan yang penting. Domba Paskah mutlak untuk penebusan saja, dan berlaku untuk semua orang. Namun, perak penebusan berhubungan dengan penebusan, berlaku untuk orang-orang yang bersyarat dibentuk menjadi pasukan Allah. Misalnya umat pilihan Allah yang di bawah umur dua puluh tahun mau membayar perak penebusan setengah syikal. Karena mereka belum cukup umur, belum matang, mereka tidak bersyarat membayar perak tebusan. Namun, dalam penebusan yang dirampungkan melalui Domba Paskah, tidak ada faktor umur. Semua orang Israel, tidak peduli berumur berapa, bersyarat ditebus oleh domba. Bayi yang baru lahir pun bersyarat ditebus. Perbedaan syarat untuk domba dan perak penebusan telah diabaikan oleh beberapa guru Alkitab.
KEBUTUHAN MENDESAK UNTUK MENJADI MATANG
Sebagai umat pilihan Allah, tidak peduli berapa umur kita, secara rohani, kita semua telah ditebus. Namun, kita perlu bertanya kepada diri kita sendiri, menurut kematangan kita, berapa besar umur rohani kita. Mungkin umur rohani Anda hanya beberapa minggu atau beberapa tahun. Jumlah keseluruhan orang Israel saat Keluaran 30 sedikitnya ada dua juta orang. Namun, kurang dari sepertiganya, tepatnya 603.550 orang bersyarat menjadi pasukan Allah. Lebih dari dua per tiga umat Allah, terdiri dari perempuan dan laki-laki yang di bawah umur dua puluh, karenanya tidak dapat didaftar dalam sensus militer ini.
Makna rohani hal ini adalah kalau kita mau masuk dalam pasukan ini untuk berperang bagi pergerakan Allah, kita perlu matang. Kita perlu bertumbuh sampai usia rohani kita mencapai umur dua puluh tahun. Doa syafaat yang dipanjatkan di mezbah ukupan adalah untuk kematangan ini, supaya pasukan ini bisa terbentuk. Semakin banyak doa syafaat dipanjatkan di mezbah ukupan, semakin mendesak keperluan pertumbuhan umat Allah. Kita akan semakin banyak memahami kebutuhan kematangan itu sangat mendesak sekali. Adanya keluhan yang mendesak maka semakin banyak orang dari antara kita perlu bertumbuh, perlu mencapai kematangan, sehingga bersyarat dibentuk ke dalam pasukan. Ketika pasukan semacam ini terbentuk, barulah Allah bisa bergerak di bumi untuk kehendak-Nya. Terlepas dari pasukan yang terbentuk dari orang-orang yang sudah matang, Allah tidak bisa bergerak! Oh, umat pilihan Allah perlu bertumbuh! Doa syafaat yang dipersembahkan kepada Allah di mezbah ukupan adalah untuk ini.
Saudari-saudari jangan kecewa mendengar hanya lakilaki Israellah yang dapat terbentuk di dalam pasukan Allah. Dalam pengalaman rohani, laki-laki menandakan orang yang kuat. Hari ini, secara rohani, mungkin beberapa saudari adalah laki-laki, sebaliknya beberapa saudara adalah perempuan. Dari sudut kerohanian kita laki-laki atau perempuan tidak tergantung kita adalah saudara atau saudari; ini tergantung kita di dalam roh kuat atau lemah. Kalau Anda di dalam roh kuat, Anda adalah laki-laki. Namun, bila Anda di dalam roh lemah, Anda adalah perempuan. Di antara kita terlalu banyak perempuan, sebab itu sangat perlu menjadi matang.
BERPERANG BERDASARKAN KRISTUS YANG MUSTIKA
YANG DI DALAM KETERANGKATAN
Misalkan Anda telah matang, bisa di dalam pasukan Allah. Anda sedikitnya sudah berumur dua puluh tahun, Anda memenuhi syarat berada di dalam deretan orang-orang yang bisa berperang. Namun, apakah berarti Anda bisa langsung masuk dalam peperangan? Tentunya tidak demikian. Kalau Anda mencoba langsung maju berperang, Anda akan kena tulah. Keluaran 30:12 mengatakan, “Apabila engkau menghitung jumlah orang Israel pada waktu mereka didaftarkan, maka haruslah mereka masing-masing mempersembahkan kepada TUHAN uang pendamaian karena nyawanya, pada waktu orang mendaftarkan mereka, supaya jangan ada tulah di antara mereka pada waktu pendaftarannya itu.” Untuk menghindari tulah, kita jangan maju berperang dalam diri kita sendiri. Kita seharusnya berkata, “Berdasarkan diriku sendiri, aku tidak akan maju berperang dalam barisan pasukan Allah. Hanya di dalam Kristus dan berdasarkan Kristus, aku baru maju berperang. Aku mempunyai Kristus sebagai setengah syikal, menjadi perak penebusanku. Dia itu berharga dan mustika.” Kalau kita berperang dalam pasukan Allah, kita harus hanya berperang berdasarkan Kristus yang mustika.
Kristus yang dilambangkan dengan perak penebusan bukannya Kristus yang tersalib; Kristus yang mati di atas salib adalah kurban penghapus dosa dan kurban penebus salah. Perak pendamaian, sebaliknya, adalah persembahan unjukan, dan persembahan unjukan melambangkan Kristus yang bangkit dan yang terangkat, Kristus yang di surga. Menurut perlambangan, perak pendamaian, Kristus, yang bersandar-Nya kita berperang bukanlah Kristus yang tersalib, melainkan Kristus yang terangkat. Mungkin Anda belum pernah memikirkan hal ini, tetapi inilah gambaran yang disajikan oleh perlambangan.
Selain itu, dari pengalaman kita mengetahui bahwa setiap kali kita maju berperang bersandar diri sendiri dan tidak bersandar Kristus sebagai perak penebusan kita, kita terkena tulah. Ini berarti dalam peperangan rohani ada malapetaka. Namun, sedikitnya ada beberapa orang di antara kita telah mempunyai pengalaman dalam peperangan rohani tidak bersandar dirinya sendiri, melainkan bersandar Kristus sebagai perak penebusan. Mereka berperang bersandar Kristus sebagai persembahan unjukan, sebagai Persona yang bangkit dan yang terangkat.
Semua yang melakukan peperangan rohani mengetahui bahwa peperangan ini bukan terjadi di bumi, melainkan di angkasa. Untuk melakukan peperangan semacam ini, kita perlu berada di langit bersama Kristus yang terangkat. Kita perlu berada di langit bersama Kristus sebagai persembahan unjukan kita. Di tempat yang lain, kita pernah menunjukkan bahwa kurban timangan menandakan Kristus yang bangkit, dan kurban unjukan menandakan Kristus yang terangkat. Sebab itu, kurban unjukan lebih maju daripada kurban timangan; Kristus yang terangkat lebih unggul daripada Kristus yang bangkit. Dalam keterangkatan, Kristus mengalahkan musuh.
Menurut catatan dalam Kitab Keluaran dan Kitab Bilangan, hanya melalui sensus militer, pasukan Allah baru bisa terbentuk. Ketika Allah mempunyai pasukan semacam ini, Ia dapat bergerak di bumi untuk kepentingan-Nya. Namun, ketika kita berperang di dalam pasukan ini untuk pergerakan Allah, kita harus berperang bersandarkan Kristus yang bangkit dan terangkat. Jangan sekali-kali berperang bersandarkan diri kita sendiri.
BERDOA SYAFAAT Dl MEZBAH UKUPAN
Kalau pemulihan Tuhan ingin maju, banyak orang beriman perlu mengalami semua aspek pelataran luar dan Kemah Suci. Mereka harus maju ke mezbah, kemudian menikmati Kristus sebagai suplai hayat pada meja yang di tempat kudus. Kemudian mereka perlu menerima Kristus sebagai terang dan mengalami peremukan manusia alamiah mereka untuk mendapatkan tabut, yaitu Kristus sebagai kesaksian Allah. Terakhir mereka akan mencapai mezbah ukupan dan berdoa syafaat untuk pergerakan Allah.
Ada sejumlah orang beriman dalam pemulihan Tuhan yang mempunyai pengalaman ini. Melalui pengalaman mereka dapat mengerti apa yang saya bicarakan. Kaum beriman ini damba tetap tinggal di mezbah ukupan untuk berdoa. Meskipun secara lahiriah mereka tidak mempunyai banyak waktu untuk berdoa, tetapi roh di batin mereka sangat damba tetap tinggal di mezbah ukupan dan berdoa, “Tuhan, kami berseru kepada-Mu untuk pemulihan-Mu. Ya Tuhan, majulah. Lihatlah situasi hari ini, di mana-mana ada musuh. Ya Tuhan, di manakah kesaksian-Mu? Kami berdoa, sekiranya kesaksian-Mu maju.” Inilah doa syafaat yang dipersembahkan di mezbah ukupan.
Setelah kita mencapai mezbah ukupan dan tinggal di sana beberapa saat, kita tidak akan ada hati berdoa untuk hal-hal materi, seperti mobil atau rumah. Satu-satunya kecenderungan kita adalah berdoa untuk pergerakan Tuhan. Kita akan terbeban untuk kesaksian-Nya di seluruh muka bumi. Kita akan berdoa, “Tuhan, semoga kesaksian-Mu bergerak maju. Tuhan, bagaimana kesaksian-Mu di bumi? Tuhan, majulah di Eropa dan di Amerika Selatan.” Kita mungkin sangat berbeban berdoa untuk pergerakan Tuhan, sampai-sampai tidak berbeban berdoa untuk perkara pribadi kita. Kita akan menyerahkan perkara-perkara itu, termasuk kesehatan kita, ke dalam tangan Tuhan. Meskipun kita berdoa untuk urusan pribadi atau untuk kesehatan kita, tetapi hal-hal ini bukanlah hal-hal yang benar-benar kita perhatikan. Hal yang paling kita perhatikan adalah pemulihan Tuhan, pergerakan Tuhan, dan kesaksian Tuhan.
Doa syafaat di mezbah ukupan membuat Allah segera mengadakan sensus di antara umat-Nya, supaya terbentuk satu pasukan yang bisa berperang bagi pergerakan Allah. Ini berarti doa di mezbah ukupan mendorong terbentuknya pasukan. Janganlah menganggap pengertian ini adalah hasil imajinasi saya. Ini bukan suatu imajinasi, ini adalah satu penjelasan yang sungguh-sungguh atas perkara-perkara dalam dunia rohani. Hasil dari doa di mezbah ukupan, Tuhan melakukan sensus militer terhadap kaum beriman di dalam gereja-gereja-Nya. Di mana-mana Ia menghitung umat-Nya. Mereka yang dihitung adalah yang bersyarat maju berperang. Namun, mereka harus sadar bahwa mereka tidak dapat berperang di dalam dirinya sendiri; mereka perlu Kristus sebagai Sang terangkat. Mereka perlu Kristus yang duduk di takhta di langit tingkat ketiga.
GEREJA TERLETAK PADA PENGALAMAN ATAS KRISTUS
SEBAGAI PERAK PENEBUSAN
Menurut Keluaran 38:25, perak yang dikumpulkan dari laki-laki yang dihitung untuk membentuk pasukan adalah “seratus talenta dan seribu tujuh ratus tujuh puluh lima syikal, ditimbang menurut syikal kudus.” Ayat 27 memberi tahu kita, seratus talenta perak dipakai untuk menuang alas-alas tempat kudus dan alas-alas tiang tabir, “Seratus talenta perak dipakai untuk menuang alas-alas tempat kudus dan alas-alas tiang tabir itu, seratus alas sesuai dengan seratus talenta itu, jadi satu talenta untuk satu alas.” Setiap alas beratnya satu talenta, dan satu talenta kirakira sama dengan seratus pon. Seluruh Kemah Suci dipikul oleh seratus alas perak. Lagi pula semua tiang di Kemah Suci mempunyai tutup yang dibuat dari perak. Tutup-tutup ini menandakan kemuliaan. Keluaran 38:28 mengatakan, “Dari yang seribu tujuh ratus tujuh puluh lima syikal itu dibuatnyalah kaitan-kaitan untuk tiang-tiang itu, disalutnyalah kepala tiang itu dan dihubungkannya tiang-tiang itu dengan penyambung-penyambung.” Kait dan penyambung adalah untuk pembentukan Kemah Suci dan mempersatukannya.
Perak ini melambangkan Kristus yang di langit sebagai harga yang dibayar oleh mereka yang bisa pergi berperang. Setiap gereja lokal terletak pada Kristus yang dialami oleh kaum beriman yang bisa maju berperang. Saudara saudari ini telah mengalami Kristus yang bangkit dan naik ke surga sebegitu rupa, dan Kristus yang dialami mereka menjadi alas perak, salut kepala perak, kait perak, dan penyambung perak.
Saya dapat menjamin, ini bukan suatu doktrin saja. Kalau Anda belajar sejarah setiap gereja lokal, Anda akan melihat bahwa hal ini adalah situasi yang sebenarnya. Di mana ada gereja lokal, di situ pasti ada beberapa orang beriman yang secara rohani telah mencapai umur dua puluh, dan menerima Kristus sebagai perak penebusan mereka. Kristus ini bukan yang tersalib; Dia adalah Kristus yang bangkit dan terangkat. Kaum beriman ini bersatu dengan Kristus dan mengalami Dia sampai taraf tertentu, sehingga Dia menjadi dasar gereja dalam lokal mereka. Dia juga menjadi salut kepala tiang; yaitu Dia menjadi kemuliaan gereja. Lagi pula, Kristus yang terangkat menjadi kait dan penyambung, menjadi tenaga dan kekuatan yang mempersatukan gereja.
Pengalaman atas Kristus yang terangkat sebagai perak penebusan adalah untuk pergerakan Allah. Inilah hasil dari doa syafaat di mezbah ukupan. Sebab itu, perak penebusan mempunyai hubungan yang langsung dengan mezbah ukupan.