← Daftar isi Keluaran (10) · bab 16/17

UKUPAN (2)

Pembacaan Alkitab: Kel. 30:34-38

Dalam berita yang lalu kita melihat lalu lintas dua arah antara Allah dengan kita yang digambarkan dengan minyak urapan dan ukupan. Minyak urapan melambangkan Allah yang datang kepada kita dalam Kristus dan melalui Kristus untuk kenikmatan kita. Ukupan melambangkan kepergian kita kepada Allah melalui Kristus dalam doa untuk kepuasan-Nya. Dalam berita ini kita akan mulai memperhatikan unsur-unsur ukupan.

KOMPOSISI MINYAK URAPAN DAN UKUPAN

Dalam minyak urapan dan ukupan, kita dapati angka tiga, empat dan lima. Selain itu, keduanya juga menggambarkan Allah Tritunggal. Dalam minyak urapan dan ukupan kita melihat keilahian, keinsanian, perbauran keilahian dengan keinsanian, dan kematian serta kebangkitan Kristus.

Allah Tritunggal

Dalam berita-berita mengenai minyak urapan, telah kita tunjukkan bahwa meskipun ada empat macam rempah-rempah, kuantitas rempah-rempah tersebut adalah tiga satuan, masing-masing lima ratus syikal. Satuan kedua, terdiri atas kayu manis dan deringo, dibagi dalam dua bagian, masing-masing dua ratus lima puluh syikal. Sebab itu, pada minyak urapan kita dapati empat macam rempahrempah, tetapi hanya tiga satuan. Ketiga satuan tersebut melambangkan Allah Tritunggal. Hal ini khususnya dijelaskan oleh fakta bahwa satuan yang kedua melambangkan Putra yang “terbelah” di salib. Sebaliknya, pada ukupan kita dapati tiga macam rempah-rempah, bahkan empat. Nanti akan kita lihat bahwa ketiga macam rempah-rempah pada ukupan itu juga melambangkan Allah Tritunggal.

Dalam ukupan ada tiga macam rempah-rempah, yaitu getah damar, kulit lokan, dan getah rasamala, ditambah kemenyan tulen. Menurut jumlah dan macam-macam bahannya, ada tiga di dalam satu, yakni tiga macam rempahrempah ditambah kemenyan tulen. Menurut susunan tata bahasa ayat 34, ketiga macam rempah-rempah itu membentuk satu kelompok, sedangkan unsur keempat, kemenyan tulen, termasuk kelompok tersendiri. Sebab itu, di sini kita lihat tiga ditambah satu, yang sama dengan empat. Tiga adalah angka Allah Tritunggal, dan empat, angka ciptaan, umat manusia, dalam arti positifnya. Jadi, ini berarti Allah Tritunggal menjadi manusia. Keilahian dibawa masuk ke dalam keinsanian. Tentu saja, ini mengacu kepada Yesus Kristus. Dialah Allah yang menjadi manusia; Dialah keilahian dibawa masuk ke dalam keinsanian.

Keempat bahan tersebut di atas dicampurbaurkan menjadi satu ukupan. Sebab itu, di sini kita melihat Allah berbaur dengan manusia, Allah bercampur dengan manusia, keilahian bercampur-baur dengan keinsanian, untuk menghasilkan ukupan.

Hayat yang Menghasilkan dan Hayat yang Menebus

Keluaran 30:34 mengatakan, “Berfirmanlah TUHAN (Yehova) kepada Musa: ‘Ambillah wangi-wangian, yakni getah damar, kulit lokan dan getah rasamala, wangi-wangian itu serta kemenyan yang tulen, masing-masing sama banyaknya.’” Rempah-rempah pertama getah damar, dan ketiga, getah rasamala, adalah getah beracun yang keluar dari pohon. Rempah-rempah kedua, kulit lokan, adalah cangkang binatang kecil. Susunan ketiga macam rempah-rempah tersebut sungguh bermakna, sungguh penting, kulit lokan tidak disebutkan pertama atau terakhir, melainkan kedua, di tengah. Seperti telah kita tunjukkan beberapa kali dalam berita-berita yang lalu, ada dua faktor dalam hayat Kristus: hayat yang memproduksi atau menghasilkan, dilambangkan oleh hayat tumbuh-tumbuhan, dan hayat yang menebus, dilambangkan oleh hayat hewan. Kedua aspek hayat Kristus tersebut dapat dilihat dalam Injil Yohanes. Menurut Yohanes 12:24, Kristus adalah sebutir biji gandum yang jatuh ke dalam tanah, mati, dan menghasilkan banyak butir. Inilah hayat tetumbuhan sebagai hayat yang memproduksi, hayat yang menghasilkan. Namun, hayat hewan adalah untuk penebusan, karena hayat hewan dapat disembelih dan mencurahkan darah. Dalam Yohanes 1:29 kita melihat hayat penebusan Kristus, “Lihatlah Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia!” Kristus adalah Anak Domba yang tersalib untuk penebusan kita. Sebab itu, Kristus memiliki hayat yang menghasilkan dan hayat yang menebus. Sebagai Anak Domba Allah, Kristus memiliki hayat yang dilambangkan dengan hayat hewan, dan sebagai sebutir biji gandum, Dia memiliki hayat yang dilambangkan dengan hayat nabati, hayat tanaman. Hayat hewan adalah untuk penebusan, dan hayat nabati adalah untuk memproduksi, menghasilkan.

Untuk menebus kita, kita memerlukan yang kedua dari ke-Allahan, dengan aspek hayat hewan yang dilambangkan dengan kulit lokan, tersembelih bagi kita. Tuhan Yesus adalah Sang Penebus. Sebagai yang kedua dari ke-Allahan, Dia merampungkan penebusan bagi kita. Inilah sebabnya, yang memiliki hayat hewan adalah rempah-rempah yang kedua, bukan yang pertama atau yang ketiga. Jadi, kulit lokan, rempah-rempah yang kedua, benar-benar melambangkan yang kedua dari Allah Tritunggal, Dialah yang tersalib bagi penebusan kita, bukan Bapa atau Roh yang mati untuk merampungkan penebusan. Putralah yang mencurahkan darah-Nya di salib, sehingga kita dapat ditebus. Jadi, ketiga macam rempah-rempah, dengan kulit lokan di tengah, memberi kita gambar lain dari Allah Tritunggal.

Keinsanian

Dalam hal apakah keinsanian dilambangkan oleh bahanbahan ukupan? Keinsanian ditunjukkan oleh angka empat yang tersirat dalam ayat 34. Pada ayat ini, kita melihat tiga rempah-rempah dan kemenyan tulen, semuanya berjumlah empat. Kita telah melihat bahwa dalam Alkitab, angka empat melambangkan ciptaan, khususnya keinsanian. Jadi, keempat bahan ukupan melambangkan keinsanian.

Kebangkitan Kristus

Pada ukupan kita pun dapat melihat kebangkitan Kristus. Pada minyak urapan, kebangkitan Kristus dilambangkan oleh deringo dan kayu teja. Namun, pada ukupan, kebangkitan-Nya dilambangkan oleh kemenyan tulen. Jadi, pada minyak urapan dan ukupan kita dapati kematian dan kebangkitan Kristus.

Gambar Persona yang Ajaib

Pada minyak urapan dan ukupan kita melihat Allah Tritunggal, keilahian, keinsanian, serta kematian dan kebangkitan Kristus. Dalam keduanya ini kita telah melihat perbauran antara keilahian dengan keinsanian, telah melihat Allah Tritunggal di dalam manusia melewati kematian dan muncul dalam kebangkitan. Dalam keduanya ini terdapat angka tiga dan empat yang melambangkan keilahian dan keinsanian. Pada ukupan, ketiga macam rempah-rempah melambangkan kematian Kristus untuk menghasilkan dan menebus, dan kemenyan melambangkan kebangkitan-Nya. Ini berarti pada ukupan kita dapati gambaran tentang persona Kristus yang ajaib. Ukupan tidak lain adalah Kristus sendiri dengan semua proses yang telah Dia lalui dan dengan semua yang telah Dia rampungkan. Prinsip pada unsur minyak urapan dan ukupan hampir sama. Namun, minyak urapan adalah untuk kedatangan Allah kepada kita, dan ukupan adalah untuk kepergian kita kepada Allah. Dalam minyak urapan, kita dapati Allah Tritunggal, keilahian, keinsanian, serta kematian dan kebangkitan Kristus.

DIMINYAKI DAN DIGARAMI

Akhirnya, baik pada minyak urapan maupun pada ukupan, kita dapati angka lima. Pada minyak urapan, keempat rempah-rempah dicampurkan dengan minyak zaitun sehingga jumlah seluruhnya lima. Namun, pada ukupan, keempat bahan, tiga macam rempah-rempah dan kemenyan, dibubuhi garam sehingga jumlah seluruhnya lima. Pada minyak urapan, unsur yang dicampurkan adalah minyak, tetapi pada ukupan unsur yang dicampurkan adalah garam. Ini berarti kedatangan Allah kepada kita adalah perkara kita diminyaki, tetapi kepergian kita kepada Allah adalah perkara kita digarami.

Mengapa ketika Allah datang kepada kita ada minyak berlimpah-limpah, tetapi tiada garam? Sebabnya ialah pada Allah tidak ada yang najis. Ia datang kepada kita dari sumber yang murni. Namun, sumber kita penuh kenajisan. Maka, kepergian kita kepada Allah memerlukan garam, bukan minyak. Garam adalah zat yang murni sekalipun terdapat di tempat yang najis. Garam adalah salah satu zat yang paling murni di bumi. Dicampurnya keempat unsur ukupan dengan garam, menunjukkan bahwa doa kita perlu digarami sepenuhnya hingga semua “kuman” terbunuh dan kita dimurnikan. Unsur garam juga merupakan unsur yang membauri doa kita. Syukur kepada Tuhan, Ia tidak datang kepada kita dengan garam. Sungguhlah tidak menyenangkan bila Dia datang kepada kita bukan dengan minyak yang berlimpah-limpah, melainkan dengan garam dalam jumlah yang besar. Namun, puji Dia, karena ketika kita pergi kepada Allah kita digarami, dibumbui, dicampurkan!

KITA PERLU DIGARAMI

Dalam hidup gereja hari ini, kita semua perlu digarami. Kalau tidak, akan timbul pergesekan dan perselisihan di antara kita. Khususnya para penatua perlu digarami. Siapa yang melayani sebagai penatua seharusnya mengharap digarami. Menjadi penatua serupa dengan ikan segar yang ditaruh dalam guci garam. Kepenatuaan dapat dibandingkan dengan guci garam. Percayalah, hai para penatua, kepenatuaan akan menggarami Anda.

Baru-baru ini di Anaheim diadakan sidang untuk kaum beriman berbahasa Mandarin. Saya lihat, sewaktu saudarasaudara yang melayani mempersiapkan sidang ini, mereka perlu digarami. Kalau Anda bertanya kepada beberapa saudara yang memimpin tentang ini, mereka akan berkata tegas bahwa pada saat mereka melayani, mereka perlu digarami. Kita perlu digarami, karena tanpa garam, kita tidak dapat memiliki ukupan yang harum membubung kepada Allah.

Banyak orang dapat bersaksi bahwa dalam kehidupan pernikahan, kita juga perlu digarami. Kalau Anda belum menikah, Anda seperti ikan segar. Namun, setelah menikah, Anda mulai digarami; bahkan mungkin pada saat Anda sedang berbulan madu, sudah mulai digarami. Digarami adalah perkara yang sangat positif. Kalau ikan tidak digarami, setelah beberapa hari akan berbau busuk. Namun, ikan asin rasanya tidak berubah dalam jangka waktu yang lama. Demikian pula, kalau kehidupan pernikahan Anda digarami, rasa Anda yang positif akan tetap bertahan. Saudara-saudara, inginkah Anda menjadi suami yang baik? Kalau begitu, Anda perlu digarami. Saudari-saudari, Anda ingin menjadi istri yang baik atau istri yang cerewet? Yang cerewet belum digarami. Kalau Anda ingin menjadi istri yang baik, Anda perlu digarami. Kalau seorang saudari digarami selama beberapa tahun dalam kehidupan pernikahannya, ia akan menjadi sangat menyenangkan. Kita semua perlu digarami. Kita tak dapat pergi kepada Allah tanpa garam. Garam yang dengannya kita digarami adalah garam perjanjian kekal Allah. Lebih dari sekali Perjanjian Lama mengatakan soal mengingat garam perjanjian Tuhan (Im. 2:13; Bil. 18:19). Garam yang dipakai sebagai campuran ukupan berhubungan dengan garam perjanjian Allah. Yang penting di sini adalah jika kita ingin mengalami hidup kristiani yang lebih baik, kita akan menyadari bahwa doa kita perlu sepenuhnya digarami.

GARAM SALIB DITERAPKAN PADA DOA KITA

Apakah unsur garam yang dengannya kita digarami? Unsur ini adalah salib. Kedatangan Allah kepada kita bukanlah perkara pekerjaan salib yang berlangsung setiap hari. Kedatangan-Nya sepenuhnya di dalam minyak, Roh itu. Namun, kepergian kita kepada Allah memerlukan salib. Kita perlu salib sepanjang waktu. Garam di sini melambangkan salib Kristus, kematian-Nya yang membunuh. Kita perlu mengalami kematian Kristus yang membunuh dalam doa kita. Saya dapat bersaksi bahwa saya sering mengalami hal ini. Kalau motivasi, maksud, dan hati saya tidak murni, saya tidak mampu berdoa. Di samping itu, kalau roh saya agak menyeleweng, saya pun tak dapat berdoa. Untuk berdoa, roh saya harus tidak menyeleweng, dan motivasi serta maksud saya harus murni. Untuk menjadi murni sedemikian diperlukan garam, diperlukan salib.

Orang muda mungkin menyadari bahwa kalau mereka berbuat dosa, mereka akan merasa sulit sekali berdoa. Namun, bila kita bertumbuh dalam Tuhan dan mencapai tingkat hidup kerohanian yang lebih baik, kita akan melihat bahwa penyelewengan dalam roh kita yang sekecil apa pun, dapat menghalangi kita berdoa dengan wajar. Doa kita terhambat bukan hanya karena dosa. Penyelewengan dalam roh Anda yang sekecil apa pun dapat menghambat doa Anda. Mungkin Anda masih berdoa dengan roh yang menyeleweng, tetapi batin Anda menyadari bahwa itu bukanlah doa yang Tuhan kehendaki. Saya tidak berani mengatakan apakah Tuhan akan menjawab doa yang berasal dari roh yang menyeleweng. Namun, saya jamin itu bukanlah doa yang Tuhan kehendaki.

Saya juga menyadari bahwa doa semacam itu tidak harum bagi-Nya. Sebaliknya, bagi-Nya aroma doa semacam itu sangat menyengat. Sering kali doa kita sepenuhnya menyengat dan tak menyenangkan bagi penciuman Tuhan. Saya yakin kaum beriman yang berpengalaman, dapat menguatkan perkataan ini dan mengaminkannya. Dari pengalaman mereka tahu bahwa doa yang berasal dari motivasi yang tidak murni atau dari roh yang menyeleweng, sangat menyengat bagi Tuhan.

UKUPAN DIGARAMI

Hingga kini kita seharusnya jelas bahwa untuk kedatangan Allah kepada kita diperlukan Roh itu, minyak itu. Namun, untuk kepergian kita kepada Allah, diperlukan salib, garam itu. Minyak dan garam adalah unsur pencampur. Minyak dicampurkan pada urapan bagi kedatangan Allah kepada kita, tetapi garam dicampurkan pada ukupan bagi kepergian kita kepada Allah. Doa kita perlu di dalam Roh itu. Namun, Alkitab melalui gambar yang jelas tentang doa kita menunjukkan bahwa yang terutama diperlukan adalah salib. Inginkah Anda berdoa? Kalau hendak berdoa, Anda perlu disingkirkan. Diri alamiah Anda, cara alamiah Anda, pemikiran alamiah Anda, keinginan alamiah Anda, pilihan alamiah Anda, kesukaan alamiah Anda, semuanya harus disingkirkan.

Mungkin Anda tidak sadar berapa banyak unsur yang najis atau berapa parah kekotoran diri Anda. Pikiran Anda kotor, emosi Anda kotor, tekad Anda pun kotor. Mungkin banyak kenajisan dalam kasih dan kebencian Anda. Akibatnya, unsur-unsur najis terekspresi dalam ucapan doa Anda. Ini berarti, dalam doa Anda mungkin saja terdapat kenajisan atau kebobrokan. Doa orang semacam ini dapat diumpamakan letusan gunung api, yang meledak, menghamburkan barang-barang najis. Orang-orang itu mungkin merasa berdoa kepada Allah, sebenarnya, mereka menyebarkan kenajisan dari batin mereka.

Dengan menekankan perlunya kita digarami, saya tidak mengatakan bahwa kita tidak memerlukan Roh itu dalam doa kita. Kita sungguh-sungguh perlu Roh itu, tetapi itu bukanlah keperluan terbesar, yang terbesar adalah salib, garam itu. Untuk menikmati Allah, unsur pokok yang kita perlukan adalah minyak. Sewaktu Allah datang kepada kita menjadi kenikmatan kita, Ia harus sebagai minyak, Roh itu. Sebab itu, Allah sendiri perlu menjadi minyak. Kalau tidak, kita tak berdaya menikmati Dia. Namun, untuk pergi kepada Allah dalam doa, kita perlu banyak garam. Kita perlu digarami sepenuhnya dan semutlaknya.