← Daftar isi Keluaran (10) · bab 15/17

UKUPAN (1)

Pembacaan Alkitab: Kel. 30:34-38

Menjelang akhir dari bagian yang berkenaan dengan wahyu tentang Kemah Suci, dijelaskan dua hal: minyak urapan dan ukupan. Saya yakin bahwa dalam berita-berita sebelumnya kita telah membahas panjang lebar perkara pengurapan minyak. Kita telah melihat bahwa minyak ini adalah lambang yang baik dan menyeluruh tentang Kristus sebagai Roh pemberi-hayat yang almuhit. Sebagai Roh pemberi-hayat, Kristus tidak hanya datang kepada kita dari Allah, tetapi Ia juga adalah Allah yang datang kepada kita. Kedatangan-Nya tidak hanya dari Allah, namun juga bersama Allah, karena Kristus datang sebagai Allah. Akhirnya, Dia yang datang ini melewati kematian dan kebangkitan dan telah menjadi Roh pemberi-hayat yang almuhit. Dalam alam semesta ada lalu lintas ilahi yang bergerak dalam dua arah. Kedatangan Allah kepada kita di dalam Kristus adalah arah pertama dari lalu lintas ilahi ini. Pada ukupan kita temukan arah lain dari lalu lintas ilahi ini, yaitu Kristus dari kita pergi kepada Allah. Karena itu, pengurapan minyak ialah Kristus sebagai Allah datang kepada kita dari Allah, sedangkan ukupan ialah Kristus dari kita pergi kepada Allah. Kita semua perlu melihat lalu lintas dua arah ini.

Lalu lintas ini berhubungan erat dengan pengalaman kekristenan kita. Tahukah Anda apa pengalaman kekristenan kita itu? Pengalaman kekristenan kita ialah Allah datang kepada kita di dalam Kristus, dan kita pergi kepada Allah di dalam Kristus dan bersama-sama dengan Kristus. Kedatangan Allah kepada kita adalah masalah pengurapan, sedangkan kepergian kita kepada Allah adalah masalah doa. Lalu lintas ilahi ini adalah pengalaman kekristenan yang tepat. Khususnya, kedatangan kita kepada Allah di dalam Kristus memerlukan pengalaman.

TIGA MACAM REMPAH-REMPAH YANG WANGI

Tanpa pengalaman rohani yang cukup, kita tidak akan dapat memahami maupun menafsirkan lambang tentang ukupan. Lambang ini betul-betul sangat aneh, lebih aneh daripada pengurapan minyak. Keanehan ukupan terlihat dari tiga macam rempah-rempah penyusunnya getah damar, kulit lokan, dan getah rasamala yang tidak umum, bahkan kata-katanya pun tidak lazim. Sebaliknya, kata-kata tersebut adalah kata-kata yang biasanya mengacu kepada benda-benda yang tidak umum.

Lebih dari dua puluh tahun yang lalu, saya menghabiskan banyak waktu untuk mempelajari ukupan dan unsur-unsurnya. Kemudian saya menyampaikan berita tentang ukupan tersebut setidaknya pada dua kesempatan. Sebagian dari berita tersebut dicetak dalam buku “Cara Bersidang”.

Keluaran 30:34 mengatakan, “Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: ‘Ambillah wangi-wangian, yakni getah damar, kulit lokan dan getah rasamala, wangi-wangian itu serta kemenyan yang tulen, masing-masing sama banyaknya.” Dalam ayat ini Tuhan dua kali menyebutkan rempahrempah wangi. Getah damar, bagian pertama dari rempahrempah ini, adalah getah yang berfungsi sebagai mur termurni, yaitu mur yang dapat dimakan. Bertahun-tahun yang lalu saya pernah membaca bahwa mur semacam ini dapat digunakan sebagai obat batuk. Khususnya, mur semacam ini menyembuhkan sakit tenggorokan dan mengurangi kelebihan ludah; ini adalah obat yang dapat dimakan. Namun, dua macam rempah-rempah lainnya, yaitu kulit lokan dan getah rasamala, tidak dapat dimakan. Sebenarnya kedua macam rempah-rempah tersebut beracun. Getah rasamala memiliki bau yang sangat tidak enak dan bahkan beracun. Namun, Tuhan menunjukkan bahwa getah ini juga adalah rempah-rempah yang wangi. Nanti kita akan tahu bagaimana unsur yang berbau tidak enak dan beracun ini dapat menjadi wangi.

DOA YANG MEMBUBUNG KEPADA ALLAH

Sebagian besar orang Kristen, termasuk orang-orang yang telah bertahun-tahun berada dalam pemulihan Tuhan, masih belum memiliki banyak pengenalan tentang doa yang sejati. Lagi pula, boleh jadi kita belum banyak mengalami doa yang sejati ini. Kita bersyukur kepada Tuhan bahwa kadang kala doa kita sejati. Namun, sebagian besar doa kita tidaklah sejati. Hanya dalam persentasi kecillah doa kita sejati. Sebagian besar doa kita bersifat alamiah.

Baik dalam Perjanjian Lama maupun dalam Perjanjian Baru, ukupan melambangkan doa kita. Dalam Kitab Mazmur, doa kaum beriman bagaikan ukupan yang dipersembahkan dan naik ke hadapan Allah (Mzm. 141:2). Namun, ukupan sebenarnya bukan untuk dipersembahkan, melainkan dinaikkan. Kita sering membicarakan bahwa doa itu dipersembahkan kepada Tuhan. Sebenarnya, pengertian ini tidak alkitabiah. Menurut Alkitab, doa itu bukanlah persembahan, melainkan ukupan yang dinaikkan kepada Allah.

Kita telah melihat bahwa pada Kemah Suci terdapat dua mezbah: mezbah tembaga di pelataran luar dan mezbah emas dalam tempat kudus. Mezbah tembaga adalah untuk kurban bakaran, persembahan. Pada mezbah ini kurban dipersembahkan kepada Allah. Tentu, pada pembakaran kurban di atas mezbah tembaga di pelataran luar, ada sesuatu dinaikkan kepada Allah.

Mezbah emas dalam Kemah Suci terletak dekat dengan tabut dalam tempat maha kudus. Pada mezbah ukupan dari emas ini tidak dipersembahkan persembahan. Kurban bakaran, kurban sajian, dan kurban-kurban jenis lainnya tidak boleh dipersembahkan di sini. Mezbah ini hanya untuk membakar ukupan bagi Allah. Karena itu, ukupan yang dibakar di mezbah emas dinaikkan kepada Allah. Ini bukan persembahan, melainkan kenaikan. Ukupan yang dinaikkan kepada Allah melambangkan doa kita.

KEMANISAN DOA YANG SEJATI

Ukupan bukan untuk dilihat, melainkan untuk dihirup baunya oleh Allah. Ini menunjukkan bahwa Allah lebih senang menghirup doa kita daripada melihatnya. Seperti apakah bau doa Anda? Pertanyaan ini dapat membantu kita untuk mengetahui bahwa ukupan adalah lambang yang lebih mendalam, yaitu lambang yang tidak dapat dipelajari hanya berdasarkan doktrin maupun ajaran. Kita dapat memahami lambang ini hanya melalui pengalaman kita.

Baik ukupan maupun minyak urapan, keduanya adalah Kristus. Kedatangan Allah kepada kita ialah Kristus, dan doa kita yang dinaikkan kepada-Nya juga adalah Kristus. Pengurapan berasal dari Allah dan juga milik Allah, sebab sebenarnya pengurapan adalah Allah sendiri. Kita telah menggunakan cat sebagai gambaran tentang pengurapan. Bagaimana kita mengecat tembok dengan cat, demikian pula Allah mengurapi kita dengan diri-Nya sendiri. Ia “mengecat” kita dengan diri-Nya sendiri sebagai cat ilahi. Kapan kala Allah mengurapi kita dengan diri-Nya sendiri sebagai urapan, Ia dioleskan kepada kita dan masuk ke dalam kita. Dengan kata lain, kapan kala Allah mengurapi kita dengan diri-Nya sendiri, Ia ditambahkan kepada kita. Unsur ilahi-Nya ditambahkan pada diri kita sebagaimana cat ditambahkan pada tembok. Pengurapan ini ialah kedatangan Allah.

Sekarang kita harus selangkah maju untuk mengetahui bahwa doa kita ialah kedatangan kita kepada Allah di dalam Kristus. Tidak hanya demikian, karena ukupan adalah Kristus, maka doa kita sebenarnya adalah Kristus pergi ke hadapan Allah. Apakah doa yang sejati itu? Doa yang sejati ialah Kristus. Doa semacam ini sebenarnya adalah Kristus, yaitu kita di dalam Kristus pergi ke hadapan Allah. Ini bukan hanya kedatangan kita kepada Allah, tetapi juga kepergian kita kepada Allah melalui Kristus dan bersama Kristus. Pengurapan membawa Allah kepada kita, supaya kita berbagian dalam unsur ilahi. Ukupan adalah kepergian kita kepada Allah bersama Kristus dan sebagai Kristus di dalam doa untuk kenikmatan Allah. Pada mezbah di pelataran luar, Allah memiliki makanan. Namun, wangi-wangian yang membuat Allah senang dan puas membubung dari mezbah ukupan emas. Apa yang Allah inginkan bukan hanya makanan untuk memenuhi selera-Nya, tetapi juga wangi-wangian yang harum untuk menyenangkan Dia.

Tiap hari boleh jadi kita makan makanan yang sehat dan bergizi. Namun, kadang-kadang makanan ini kurang sedap. Sering orang makan di restoran bukan untuk menikmati makanan yang bergizi, melainkan untuk menikmati makanan yang enak. Khususnya anak-anak senang makan makanan yang enak rasanya. Allah pun memiliki daya kecap dan daya cium. Jangan mengira bahwa Allah demikian agung sehingga Ia tidak menikmati bau yang harum. Allah bukan hanya makan Ia juga menikmati wangi-wangian yang harum.

Pada mezbah tembaga kita mempersembahkan Kristus kepada Allah sebagai makanan. Kurban bakaran, kurban sajian, dan kurban keselamatan, semuanya melambangkan Kristus sebagai makanan bagi Allah untuk dimakan. Setiap kali kita mempersembahkan Kristus kepada Allah sebagai kurban keselamatan, berarti ada makanan bagi Allah untuk dimakan. Namun, kita harus ingat bahwa Allah juga menikmati rasa dan bau.

Sedikit sekali orang Kristen yang berminat mendengarkan hal-hal seperti ini. Hanya orang-orang Kristen yang sungguh-sungguh menuntut Tuhanlah yang memiliki minat untuk mengetahui hal-hal ini. Jika Anda tidak menuntut Tuhan, Anda tidak akan tertarik pada berita-berita tentang ukupan. Berita-berita semacam ini tidak akan menggelitik telinga Anda. Namun, penuntut sejati akan tertarik untuk mendengarkan firman tentang ukupan. Mereka tertarik untuk mendengarkan hal-hal tentang apa yang berbau harum bagi Allah. Saya dapat memberikan kesaksian bahwa doa yang sejatilah yang harum.

Pada dua mezbah, yaitu mezbah tembaga dan mezbah emas, terdapat makanan dan kenikmatan untuk Allah. Mezbah di pelataran luar lebih besar daripada mezbah dalam tempat kudus. Mezbah di pelataran luar dibuat dari tembaga, sedangkan mezbah di tempat kudus dibuat dari emas. Lagi pula, mezbah emas untuk pembakaran ukupan lebih halus daripada mezbah tembaga kurban bakaran. Pada mezbah tembaga terdapat banyak kayu, dan karenanya, terdapat gundukan abu yang besar. Namun, pada mezbah emas untuk pembakaran ukupan hanya terdapat api kecil, dan abunya hanya sedikit. Mezbah ini bukan untuk makanan, namun untuk wangi-wangian dan kepuasan. Tujuan mezbah persembahan ukupan ialah untuk menimbulkan bau harum yang naik kepada Allah bagi kenikmatan-Nya. Beginilah seharusnya doa kita.

Dalam buku kidung pujian kita, kita memiliki kidung pendek yang membicarakan tentang lalu lintas dua arah antara Allah dengan kita, dan kita dengan Allah. Bait terakhir dari kidung ini, yaitu kidung tentang urapan dan ukupan, demikian:

Minyak urapan adalah Kristus bagi kita,

Betapa mulia!

Ukupan adalah Kristus bagi Allah,

Mutlak bagi Dia!

Minyak urapan mengalir ke atas kita,

Demikian Kristus menjadi bagian kita;

Ukupan naik kepada Allah,

Harum bagi-Nya.

Oleh urapan minyak, kita alami Kristus,

Menyusul membakar ukupan —

Kristus dalam doa dan pujian kita.

Oh, Kristus yang membubung dari pengalaman,

Sangat mustika bagi Allah.

Kidung ini mengekspresikan pokok berita ini. Beban saya ialah menunjukkan kepada Anda lalu lintas ilahi; membantu Anda melihat Allah datang kepada kita melalui Kristus, dan kita menghadap Allah di dalam Kristus dan melalui Kristus. Sebenarnya, kedatangan Allah itu Kristus, dan kepergian kita kepada Allah juga Kristus. Kita harus terkesan dengan fakta bahwa kepergian kita kepada Allah itu ialah doa kita. Mungkin Anda tidak pernah membayangkan bahwa kepergian kita kepada Allah ialah doa kita, dan doa ini adalah Kristus sendiri.

KRISTUS UNTUK PEMERINTAHAN ALLAH

Dalam salah satu berita tentang mezbah emas untuk pembakaran ukupan telah kita tunjukkan bahwa mezbah pembakaran ukupan ialah pusat pemerintahan (administrasi) rencana Allah. Kemah Suci berikut pelataran luar mewahyukan rencana Allah, ekonomi Allah. Rencana ini, ekonomi ini, dilaksanakan melalui suatu pemerintahan. Mezbah pembakaran ukupan ialah pusat pemerintahan Allah, yaitu “Istana Merdeka” ilahi. Segala sesuatu dalam Kemah Suci dan pelataran luar adalah untuk mezbah pembakaran ukupan. Ini berarti mezbah tembaga adalah untuk mezbah emas. Lagi pula, kaki pelita, meja roti sajian, dan tabut pun adalah untuk mezbah pembakaran ukupan emas. Dalam pengalaman kita, kita mulai pada mezbah kurban bakaran, yaitu mezbah tembaga di pelataran luar. Setelah itu kita menuju meja roti sajian, kaki pelita, dan tabut. Selanjutnya, kita sampai pada pusat pemerintahan ini untuk membakar ukupan. Ukupan yang kita bakar di atas mezbah ini ialah Kristus sendiri. Karena itu, ukupan yang naik kepada Allah ialah kepergian kita kepada Allah di dalam Kristus. Perkara ini sungguh dalam. Ini berarti kepergian kita kepada Allah dengan cara yang tepat ialah Kristus untuk pemerintahan Allah.

Perkara yang dalam seperti pembakaran ukupan ini hanya dapat dipahami melalui pengalaman. Kapan kala Anda mencapai titik ini, memiliki pengalaman ini, Anda akan melihat bahwa pengalaman Anda sebenarnya digambarkan dengan lambang ukupan dalam Keluaran 30. Anda pergi kepada Allah di dalam doa, dan doa Anda ialah kepergian Anda kepada Allah. Tidak hanya demikian, kepergian Anda kepada Allah ini ialah Kristus. Inilah doa Anda, yaitu bau-bauan yang wangi bagi Allah. Doa yang membubung kepada-Nya sebagai bau-bauan yang wangi tersebut ialah pemerintahan Allah dan melaksanakan rencana Allah. Allah tidak memiliki jalan lain dalam melaksanakan ekonomi-Nya. Jika kita terus-menerus menuntut Tuhan, akhirnya pengalaman kita akan membawa kita ke dalam realitas dari fakta bahwa doa kita sebenarnya ialah Kristus sendiri. Doa kita ialah Kristus, juga kepergian kita kepada Allah di dalam Kristus, bersama Kristus, dan bahkan sebagai Kristus. Doa semacam ini bukan hanya memuaskan Allah dengan bau-bauan yang wangi saja, tetapi juga secara bersamaan melaksanakan pemerintahan Allah.

JALAN KE MEZBAH PEMBAKARAN UKUPAN

Dalam Perjanjian Lama, imam-imam yang melayani harus datang ke mezbah dulu sebelum memasuki Kemah Suci. Pada butir ini para imam mempunyai dua keperluan mereka memerlukan darah untuk membasuh mereka, dan mereka memerlukan makanan untuk memelihara mereka. Mezbah tembaga di pelataran luar menyuplai kedua keperluan imam ini. Darah membersihkan mereka dari dosa-dosa mereka, dan daging memelihara mereka. Ketika mereka datang ke mezbah ini, mereka kotor dan lapar. Secara luaran mereka kotor; sedang bagian dalam mereka kosong. Karena itu, mereka memerlukan darah yang dipercikkan pada mezbah untuk membersihkan mereka dari kekotoran mereka, dan daging kurban bakaran untuk mengenyangkan kelaparan mereka.

Setelah dibersihkan dan dirawat di mezbah, para imam bisa berjalan terus. Ini berarti suplai di mezbah tembaga memperlengkapi dan menyebabkan mereka memenuhi syarat untuk memasuki Kemah Suci. Secara spontan mereka pun dapat datang ke meja roti sajian untuk menerima suplai hayat yang lebih lanjut. Ini menunjukkan bahwa kita harus makan secara berkesinambungan. Kita tidak dapat makan sekali untuk selamanya. Ada makan di mezbah tembaga, ada pula makan yang lebih lanjut di meja roti sajian.

Suplai hayat di meja roti sajian membawa para imam ke kaki pelita, dan di sana mereka memperoleh terang. Suplai hayat selalu menghasilkan terang. Jika kita tidak makan di meja roti sajian, kita akan berada di dalam gelap. Namun, makan di meja roti sajian membawa kita ke kaki pelita. Ini berarti secara pengalaman, makan di meja roti sajian ini menghasilkan terang. Banyak di antara kita yang memiliki pengalaman demikian. Pagi-pagi kita mempersembahkan Kristus sebagai kurban penghapus dosa dan kurban penebus salah kita. Kita mengalami semua ini di mezbah tembaga yang di pelataran luar, tempat kita dibasuh dan dirawat. Ini menguatkan kita untuk melanjutkan kenikmatan kita atas Kristus di meja roti sajian, tempat kita memperoleh-Nya sebagai suplai hayat kita. Suplai hayat selalu membawa kita kepada terang. Berapa banyak terang yang kita terima tergantung pada berapa banyak suplai hayat yang kita nikmati.

Terang yang kita terima di kaki pelita memimpin kita menuju tabut. Di tabut kesaksian kita berkontak dengan Allah, dan kehadiran Allah memimpin kita menuju mezbah emas pembakaran ukupan, yaitu tempat doa.

Sekali kita berada di hadirat Allah, hadirat-Nya membawa kita menuju mezbah pembakaran ukupan. Dengan kata lain, hadirat-Nya membawa kita berdoa. Siapa pun yang masuk ke dalam hadirat Allah dengan spontan akan berdoa; tak ada seorang pun yang bisa menahan doa. Kapan kala kita berdoa, kita tidak lagi berada di tabut kesaksian, melainkan berada di mezbah pembakaran ukupan.

Kita telah menunjukkan bahwa mezbah pembakaran ukupan sangat dekat dengan tabut. Mengenai ukupan, Keluaran 30:36 mengatakan, “Sebagian dari ukupan itu haruslah kaugiling sampai halus, dan sedikit daripadanya kauletakkanlah di hadapan tabut hukum (kesaksian) di dalam Kemah Pertemuan, di mana Aku akan bertemu dengan engkau.” Apa kesaksian itu? Kesaksian ialah hukum yang ada di dalam tabut. Karena alasan inilah, maka tabut disebut tabut kesaksian. Ayat 36 menunjukkan bahwa mezbah pembakaran ukupan berhadapan langsung dengan tabut. Meskipun ada tabir yang memisahkan tabut dari mezbah pembakaran ukupan, mereka tetap sangat dekat. Menurut catatan Alkitab, kadang-kadang mezbah pembakaran ukupan berada di balik tabir. Dekatnya mezbah dengan tabut berarti doa Kristus sendiri adalah hasil dari kita mengontak Allah. Kita boleh juga mengatakan bahwa doa tersebut adalah hasil dari beradanya kita di hadirat Allah.

Jika kita mau masuk ke hadirat Allah, pertama-tama kita harus datang ke mezbah tembaga. Setelah itu kita harus mengeluarkan waktu di meja roti sajian dan kaki pelita. Akhirnya kaki pelita akan memimpin kita menuju tabut, tempat Allah bertemu dengan kita di tutup pendamaian. Sekarang kita berada di hadirat Allah. Hasil dari beradanya kita di hadirat-Nya ialah doa yang adalah Kristus yang membubung kepada Allah sebagai ukupan. Jika pengalaman Anda belum sampai pada titik ini, mungkin perkataan ini agak aneh bagi Anda, dan Anda tidak akan memahami apa yang saya maksudkan. Namun, jika Anda memiliki sejumlah pengalaman, Anda akan memahami perkataan saya dan merasa bahwa hal ini benar.

GAMBARAN TENTANG LALU LINTAS DUA ARAH

Pernahkah Anda menaruh perhatian pada kedua gambaran dalam Keluaran 30 ini, yaitu tentang minyak urapan dan ukupan? Makna dari gambar-gambar ini sangat besar. Maknanya di sini ialah lalu lintas dua arah, yaitu datang dan pergi. Sebagaimana telah kita tunjukkan, minyak urapan datang kepada kita, sedangkan ukupan pergi kepada Allah. Kristus sebagai Roh itu yang datang kepada kita ialah minyak urapan, sedangkan Kristus yang naik dari kita kepada Allah ialah ukupan. Minyak urapan untuk kita, sedangkan ukupan untuk Allah. Minyak urapan untuk kenikmatan kita, sedangkan ukupan untuk kenikmatan Allah. Kita jangan beranggapan bahwa ukupan adalah untuk kenikmatan kita. Jika kita berusaha untuk menikmatinya sendiri, kita akan dilenyapkan. Keluaran 30:38 dengan jelas menyatakan hal ini: “Orang yang akan membuat minyak yang semacam itu dengan maksud untuk menghirup baunya, haruslah dilenyapkan dari antara bangsanya.” Ukupan sepenuhnya dan mutlak untuk Allah. Namun, ada pula kenikmatan untuk kita, dan kenikmatan ini ialah minyak urapan, yaitu Roh majemuk. Saya telah menekankan fakta bahwa dengan minyak urapan para imam dan segenap bagian Kemah Suci diurapi. Inilah bagian kita. Ukupan ialah bagian Allah. Minyak urapan ialah Kristus untuk kita; ukupan ialah Kristus untuk Allah.

Dalam pengalaman kita, kita jangan hanya memiliki lalu lintas satu arah. Ini berarti jangan hanya memiliki Kristus yang datang kepada kita, namun juga Kristus yang kembali kepada Allah. Kita harus memiliki lalu lintas dua arah, yaitu Allah yang datang kepada kita melalui Kristus, dan kita yang pergi kepada Allah melalui Kristus. Kita harus menggenapkan siklus ini melalui membakar ukupan. Karena itu, kita memerlukan pengurapan dan juga pembakaran ukupan. Allah mengurapi kita dengan minyak urapan, dan kita membakar ukupan untuk Allah. Dalam dua berita selanjutnya kita akan membahas secara rinci unsur ukupan.