← Daftar isi Keluaran (10) · bab 17/17

UKUPAN (3)

Pembacaan Alkitab: Kel. 30:34-38

Dalam berita pertama mengenai ukupan kita telah melihat lalulintas dua arah antara Allah dengan kita dan antara kita dengan Allah. Kita melihat bahwa minyak urapan melambangkan Allah datang kepada kita di dalam Kristus dan melalui Kristus, dan ukupan melambangkan perginya kita kepada Allah di dalam Kristus dan melalui Kristus. Dalam berita kedua mengenai ukupan kita menyatakan bahwa pada keduanya, minyak urapan dan ukupan, kita melihat Allah Tritunggal, keilahian, keinsanian, serta kematian dan kebangkitan Kristus. Kita juga melihat bahwa untuk mengalami datangnya Allah kepada kita di dalam Kristus diperlukan minyak, tetapi untuk mengalami perginya kita kepada Allah di dalam Kristus diperlukan garam. Ini berarti doa-doa kita perlu digarami oleh kematian Kristus yang berkhasiat. Dalam berita sebelumnya kita menekankan dengan tegas keperluan kita untuk memurnikan doa-doa kita dengan garam sehingga kita dapat mempersembahkan ukupan yang harum kepada Allah bagi kepuasan-Nya. Sekarang marilah kita perhatikan unsurunsur ukupan lebih lanjut.

REMPAH-REMPAH YANG HARUM

Getah Damar

Rempah-rempah harum pertama yang digunakan untuk membuat ukupan ialah getah damar. Kata Ibrani untuk “getah damar” ialah “nataph”. Itu mengacu kepada mur, getah yang lengket yang digunakan sebagai mur yang paling murni. Jadi, getah damar ialah jenis lain dari mur dan melambangkan kematian Kristus yang manis. Kita harus ingat bahwa rempah-rempah pertama dalam minyak urapan juga mur. Ini menandakan bahwa untuk keduanya, keperluan dasar kedatangan Allah kepada kita dan kepergian kita kepada Allah ialah kematian Kristus. Tanpa kematian Kristus, mustahil kita datang kepada Allah. Selanjutnya lebih mustahil lagi Allah datang kepada kita. Inilah alasan Tuhan Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penolong itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu” (Yoh. 16:7). Perkataan Tuhan menunjukkan bahwa jika Dia tidak “pergi” dengan mati di kayu salib untuk penggenapan penebusan, maka tidak ada jalan bagi Allah untuk masuk ke dalam kita. Ketika Tuhan Yesus bersama dengan murid-murid-Nya, Allah hadir bersama mereka. Namun, ini hanyalah bagian kedatangan Allah kepada murid-murid-Nya. Sementara Tuhan Yesus ada bersama murid-murid-Nya di dalam daging, Allah baru datang kepada manusia setengah jalan. Dia belum mempunyai jalan untuk masuk ke dalam murid-murid-Nya. Karena itu, Tuhan harus pergi, yaitu, Dia harus melalui kematian guna membuka jalan bagi Allah untuk masuk ke dalam manusia yang jatuh.

Akar kata Ibrani yang diterjemahkan getah damar, nataph, berarti menetes (Ayb. 29:22; Kid. 4:11; Lihat Luk. 4:22). Kita telah menunjukkan bahwa mur yang digunakan sebagai suatu ramuan dalam minyak urapan tampak seperti air mata ketika mengalir dari pohon. Sekarang kita melihat bahwa akar kata Ibrani untuk getah damar berarti menetes. Ini sangat berarti. Hal ini menunjukkan bahwa Tuhan Yesus mencucurkan air mata dalam kehidupan insani-Nya. Ketika Dia berjalan di dunia sambil mengalami mur, Dia mencucurkan air mata. Bahkan ketika Dia melayani, di dalam-Nya ada “tetesan” air mata. Di kayu salib ada tetesan yang agung dari kehidupan insani Tuhan, kehidupan jiwani-Nya. Karena itu, bisa ada mur, getah damar, sebagai unsur pertama dari ukupan.

Kulit Lokan

Kata Ibrani untuk kulit lokan adalah Shecheleth. Kata ini mengacu kepada kulit dari sejenis binatang kecil yang berkembang biak di rawa-rawa Laut Merah, kulit yang baik untuk obat dan juga dipakai sebagai rempah-rempah. Ini melambangkan Kristus dengan hayat penebusan-Nya mati bagi orang-orang dosa. Supaya kita ditebus, perlu yang kedua dari ke-Allahan, yang dilambangkan oleh kulit lokan, untuk dibunuh demi kepentingan kita. Lokan berkembang biak di rawa-rawa Laut Merah yang melambangkan dunia yang kotor. Tuhan Yesus menjadi “hewan” kecil yang hidup di dalam rawarawa dari dunia yang kotor ini selama tiga puluh tiga setengah tahun. Inilah Kristus yang disalibkan untuk menebus kita. Seperti yang telah kami tunjukkan, hayat hewan melambangkan aspek penebusan dari hayat Kristus; itu juga menandakan bahwa Tuhan Yesus mempunyai hayat penebusan dan bahwa Dia memperhidupkan hayat penebusan untuk kita. Kemudian di atas salib hayat penebusan-Nya diberikan kepada orang-orang berdosa.

Getah Rasamala

Kata Ibrani untuk getah rasamala ialah Chelebnah. Ini menunjuk kepada getah yang lengket. Sebagai unsur ketiga dalam ukupan, getah rasamala melambangkan kematian Kristus yang penuh kuasa menghasilkan hayat. Akar kata Ibrani untuk getah rasamala berarti lemak, dan akhir perkataan itu berarti menangis. Lemak berarti Kristus menempuh hidup yang mutlak untuk Allah. Ini adalah lambang lemak dari kurban bakaran. Sementara Ia menempuh hidup yang mutlak untuk Allah, Kristus menangis bagi mereka yang tidak untuk Allah. Di satu pihak, Dia sendiri menempuh hidup yang mutlak untuk Allah, di pihak lain, Dia menangis bagi mereka yang tidak peduli akan Allah. Bau getah rasamala sebagai getah yang lengket luar biasa keras, tidak enak, tidak menyenangkan, dan mengganggu. Bau yang tidak menyenangkan ini mempunyai tiga fungsi: pertama, walaupun dia sendiri baunya mengganggu, dia menguatkan wangi bau-bauan yang lain, wangi dari rempah-rempah lain bertambah.

Ketika Tuhan Yesus di bumi, Dia benar-benar pengganggu bagi orang-orang Farisi dan Saduki. Kemarahan-Nya atas orang Farisi sangat melukai mereka. Menurut Matius 23:33, Dia menyebut mereka “ular berbisa”. Betapa keras dan pedasnya Tuhan! Namun begitu, sebagai getah rasamala, Dia menguatkan aroma dari wangi-wangian lain. Mur itu wangi, dan kulit lokan melepaskan wangi yang menyenangkan ketika dibakar. Semakin kulit lokan dibakar, semakin menyenangkan wanginya. Karena itu, baik kulit lokan dan mur memiliki bau yang harum. Namun, ketika getah rasamala ditambahkan pada rempah-rempah ini, bau getah rasamala yang mengganggu ini menambah keharuman bau mur dan kulit lokan. Fungsi kedua dari getah rasamala ialah membuat wangi ukupan tetap dan tahan lama. Dengan kata lain, ia membuat wangi ukupan tahan lebih lama. Sebab itu getah rasamala tidak hanya memperkuat wangi rempah-rempah lain, tetapi juga menyebabkan ukupan itu bertahan wanginya.

Ketiga, getah rasamala berfungsi sebagai pengusir. Ia menolak dan mengusir serangga-serangga dan binatangbinatang melata yang beracun, termasuk ular. Getah rasamala itu sendiri beracun dan biasa dipakai untuk menolak dan mengusir serangga, binatang melata yang beracun, dan ular; terutama terhadap “ular tua, si Iblis”. Getah rasamala menandakan kematian Kristus mengalahkan si ular. Di satu pihak, kematian Kristus tidak menyenangkan, tetapi ini benar-benar menguatkan dan melindungi unsurunsur yang lain, dan ia mengusir ular itu. Kematian-Nya ialah suatu penolak; ia memiliki kuasa penolak untuk mengalahkan Iblis.

Dari gambaran dalam ayat-ayat ini kita melihat bahwa ketiga rempah-rempah semuanya melambangkan kematian Kristus. Dalam sari dari semua ramuan itu kita memiliki kematian Kristus. Allah Tritunggal masuk ke dalam keinsanian untuk mati agar menebus kita, untuk melahirkan putra-putra, dan mengusir si jahat. Allah Tritunggal menjadi manusia untuk melahirkan kita sebagai putra-putra, untuk menebus kita dari kejatuhan, dan untuk mengusir semua kejahatan. Setiap kali saya memikirkan ketiga rempah-rempah yang digunakan untuk membuat ukupan, saya diyakinkan sekali lagi bahwa Alkitab benar-benar sesuatu yang diilhamkan oleh Allah dan diwahyukan oleh-Nya. Hikmat manusia tidak bisa menyusun catatan yang sedemikian. Pasti, kata-kata ini ditulis menurut inspirasi dan wahyu Allah.

Kemenyan

Kemenyan ialah getah putih yang lengket yang melambangkan kebangkitan Kristus yang manis. Akar kata Ibrani untuk kemenyan berarti putih. Selain itu kemenyan diperoleh dari lima macam pohon yang menghasilkan getah. Pohon-pohon ini mempunyai bunga berkelopak lima dan buah bersisi lima. Ini melambangkan tanggung jawab dalam kebangkitan bersama Trinitas. Adalah hal yang juga menarik untuk dicatat bahwa di antara bunga-bunga pohonpohon ini ada lima putik dan lima benang sari. Karena itu, pada pohon yang menghasilkan kemenyan kita lagi-lagi melihat angka lima. Kita melihat angka ini dengan jenisjenis pohon, dengan lima kelopak bunga dengan lima benang sari, dan lima putik di antara bunga-bunga, dan dengan buah-buah bersisi lima. Semua ini berhubungan dengan perlambangan kemenyan.

Ukuran yang Sama dari Keempat Unsur Dasar

Menurut Keluaran 30:34, “masing-masing sama banyaknya.” Ini berarti ada empat ukuran yang sama bagi keempat unsur dasar itu. Ini melambangkan bahwa semua atribut dari kematian dan kebangkitan Kristus adalah genap. Tidak boleh ada yang tidak seimbang pada ukupan. Namun, banyak orang Kristen pada hari ini tidak seimbang dalam pengalaman mereka. Sebagai contoh, kaum beriman tertentu terlalu banyak menekankan pengalaman salib. Bagi mereka, tidak ada pengalaman kebangkitan. Mereka selalu lebih suka berbicara mengenai salib. Tampaknya mereka belum pernah mempunyai wajah yang bahagia dan gembira. Dalam sidang-sidang, orang Kristen yang demikian mungkin akan banyak mengeluh, kalau ada pujian pun sangat sedikit. Saya pernah menghadiri sidang-sidang di mana orang menghabiskan waktu yang baik untuk mengeluh. Orang-orang yang menghadiri sidang-sidang demikian menekankan kematian Tuhan, tetapi mengabaikan kebangkitan-Nya.

Orang Kristen yang lain, pada ekstrem yang sebaliknya, tampaknya selalu meluap-luap dengan kegembiraan. Sebenarnya, ini bukanlah pengalaman akan kebangkitan Kristus. Sebaliknya, merupakan ekspresi emosi alamiah. Orang-orang Pentakosta tertentu termasuk dalam golongan ini. Mereka sering dengan gembira berkata “Puji Yesus! Puji Yesus!” Pada mereka sedikit sekali keluhan.Saya menggunakan contoh-contoh ini untuk menunjukkan keperluan kita untuk seimbang dalam pengalaman kita akan Kristus. Kita perlu porsi kematian dan kebangkitan Tuhan yang sama.

Dalam berita yang lalu kita menekankan fakta bahwa kita digarami oleh kematian Kristus. Ya, kita benar-benar perlu garam salib Tuhan. Namun, ukupan itu juga meliputi kemenyan yang melambangkan kebangkitan. Bersamaan dengan pengalaman kita akan kematian Kristus, kita perlu pengalaman akan kebangkitan-Nya. Ketiga rempah-rempah itu menandakan bahwa Tuhan Yesus menempuh hidup yang melahirkan hayat, yang dilambangkan oleh hayat nabati; dan juga hayat penebusan, yang dilambangkan oleh hayat hewan. Rempah-rempah pertama dan ketiga, getah damar dan getah rasamala berasal dari hayat tetumbuhan. Rempah-rempah kedua berasal dari hayat hewan. Ketiga rempah-rempah ini melambangkan kematian Kristus. Menurut perlambangan rempahrempah pertama, getah damar, Kristus mati untuk melahirkan banyak putra. Menurut makna perlambangan rempah-rempah yang kedua, kulit lokan, Dia mati untuk menebus orang-orang berdosa yang telah jatuh. Menurut makna rempah-rempah yang ketiga, getah rasamala, Dia mati untuk mengusir musuh. Dengan ini kita melihat bahwa kematian Kristus memiliki tiga fungsi: untuk menebus orang-orang berdosa yang telah jatuh, untuk melahirkan putra-putra Allah, dan untuk mengusir ular tua, Iblis. Puji Tuhan atas fungsi melahirkan, menebus, dan mengusir!

Dalam resep untuk minyak urapan yang dicatat dalam Keluaran 30, jumlah tertentu ditetapkan untuk masingmasing ramuan. Namun, dalam resep ukupan tidak ada jumlah apa pun yang disebutkan. Ini menyatakan bahwa Kristus tidak terukur, tak terbatas. Ukupan ini tidak ada takaran dan tidak mencantumkan beratnya. Di alam semesta ini tidak ada alat yang tersedia untuk memberi tahu ukuran Kristus. Karena alasan ini, dalam Efesus 3:18, Paulus memberi tahu kita bahwa Kristus itu lebar, panjang, tinggi, dan dalam. Dengan kata lain, Kristus tidak terbatas. Ketakterbatasan Kristus ditandai oleh fakta bahwa tidak ada ukuran yang diberikan untuk getah damar, kulit lokan, getah rasamala, dan kemenyan. Kita hanya diberi tahu bahwa harus ada bagian atau porsi yang sama dari masing-masing unsur yang digunakan untuk membuat ukupan.

Dibumbui dengan Garam

Ayat 35 mengatakan, “Semuanya ini haruslah kaubuat menjadi ukupan, suatu campuran rempah-rempah, seperti buatan seorang tukang campur rempah-rempah, digarami, murni, kudus.” Seperti yang telah kita lihat, garam di sini melambangkan khasiat kematian Kristus. Garam ini membunuh seluruh hal negatif dan juga berfungsi sebagai pengawet (Im. 2:13). Di dalam garam ada kuasa pembunuh kebusukan. Dalam perlambangan, garam melambangkan kuasa pelindung dan juga kuasa membunuh dari kematian Kristus. Unsur-unsur dari ukupan dibumbui dengan garam. Minyak urapan dicampur dengan minyak zaitun Roh Kudus. Namun, ukupan dicampur dengan garam salib Kristus.

UKUPAN DIGILING HALUS

DAN DILETAKKAN DI HADAPAN TABUT TUHAN

DI DALAM KEMAH PERTEMUAN

Ayat 36 mengatakan, “Sebagian dari ukupan itu harus-lah kaugiling sampai halus, dan sedikit dari padanya kau letakkanlah di hadapan tabut hukum di dalam Kemah Pertemuan (Suci), di mana Aku akan bertemu dengan engkau.” Menurut ayat 35 dan 36, ukupan harus digarami, digiling, dan dibakar. Penggilingan ukupan dan peletakannya di hadapan tabut hukum di dalam Kemah Pertemuan, melambangkan pencampuran kematian Kristus yang manis dan kebangkitan-Nya yang wangi, serta persembahan kematian dan kebangkitan-Nya kepada Allah di atas mezbah ukupan, sebagai dasar bagi doa syafaat Kristus dan doa syafaat anggota-anggota Tubuh-Nya.

Supaya pengalaman kita akan Kristus menjadi wangiwangian yang harum bagi Allah, pengalaman ini harus dibumbui, digiling, bahkan dibakar. Ketika pengalaman kita melalui proses yang demikian, itu menjadi wangi-wangian yang harum bagi Allah. Ini berarti kita tidak hanya perlu mengalami esens apa adanya Kristus dan apa yang Ia lakukan, tetapi pengalaman kita akan Kristus perlu digarami, digiling, dan dibakar. Ketika sesuatu dibakar, ia berubah menjadi abu. Apa pun yang kita persembahkan kepada Tuhan sebagai ukupan akan dibakar, tetapi itu akan menjadi wangi-wangian bagi Dia. Hanya bila pengalaman kita akan Kristus telah digarami, digiling, dan dibakar, barulah kita memiliki ukupan untuk dipersembahkan kepada Allah sebagai wangi-wangian yang harum. Mula-mula, kita memerlukan pengalaman akan Kristus yang sejati dengan semua unsur ukupan. Kemudian kita memerlukan penggaraman, penggilingan, dan pembakaran dari ukupan ini. Dengan ini kita melihat, untuk pembakaran ukupan diperlukan pengalaman. Kita harus memiliki pengalaman akan Kristus dan pengalaman ini harus digarami, digiling, dan dibakar.

TIDAK UNTUK DIHIRUP BAUNYA OLEH MANUSIA

Keluaran 30:37 dan 38 mengatakan, “Dan tentang ukupan yang harus kaubuat menurut campuran yang seperti itu juga janganlah kamu buat bagi kamu sendiri; itulah bagian untuk TUHAN, yang kudus bagimu. Orang yang akan membuat minyak yang semacam itu dengan maksud untuk menghirup baunya, haruslah dilenyapkan dari antara bangsanya.” Dalam ayat ini kita melihat bahwa ukupan mutlak bukan dihirup baunya oleh manusia, melainkan untuk kenikmatan dan kepuasan Allah. Apakah artinya hal ini bagi kita dalam prakteknya? Ini berarti kita berdoa bukanlah untuk didengar oleh orang-orang yang hadir dalam sidang gereja. Sering kali doa-doa kita ucapkan untuk didengar manusia. Inilah kesalahan yang serius. Ukupan harus dipersembahkan hanya untuk Allah, dinaikkan kepada Allah, dan dinikmati oleh Allah. Demi alasan ini, kita seharusnya tidak berdoa untuk didengar manusia, tetapi demi kepuasan Tuhan.

Dalam ketiga berita mengenai ukupan ini kita telah membicarakan sejumlah perkara yang dalam sehubungan dengan pengalaman rohani. Saya anjurkan Anda menyediakan waktu yang cukup untuk memperhatikan butir-butir ini dengan mendoakannya dan bersekutu dengan yang lainnya mengenai butir-butir ini.

?