HARI TUHAN
”Inilah hari yang dijadikan TUHAN, marilah kita bersorak-sorak dan bersukacita karenanya!”
Mazmur 118:24
”Pada hari Tuhan aku dikuasai oleh Roh dan aku mendengar . . . ”
Wahyu 1:10
”Pada hari pertama dalam minggu itu, ketika kami berkumpul untuk memecah-mecahkan roti, . . .”
Kisah Para Rasul 20:7
”Tentang pengumpulan uang bagi orang-orang kudus, hendaklah kamu melakukannya sesuai dengan petunjuk-petunjuk yang kuberikan kepada jemaat-jemaat di Galatia. Pada hari pertama dari tiap-tiap minggu hendaklah kamu masing-masing — sesuai dengan apa yang kamu peroleh —menyisihkan sesuatu ..”
1 Korintus 16:1-2
I. HARI TUHAN BUKAN HARI SABAT
Dalam enam hari, Allah telah menyelesaikan penciptaan langit, bumi dan segala sesuatu. Pada hari ketujuh, Ia berhenti dari segala pekerjaan-Nya dan menikmati sabat (perhentian). Berselang hampir dua ribu lima ratus tahun kemudian, Allah menurunkan kesepuluh hukum (Kel. 20:1-17), dan dalam hukum keempat ditetapkan agar manusia memperingati hari Sabat, demi memperingati perbuatan Allah. Tujuan peringatan ini ialah agar umat-Nya mengenangkan kembali, bahwa Allah dalam enam hari telah menyelesaikan penciptaan alam semesta, kemudian Ia mengaso pada hari ketujuh. Allah memberikan hari Sabat ini kepada manusia, agar manusia juga menikmati perhentian.
Perkara-perkara dalam Perjanjian Lama hanya merupakan bayangan dari perkara-perkara indah yang akan datang (Ibr. 10:1). Hari Sabat yang Allah berikan kepada manusia itu, juga mengandung makna rohani seperti halnya perkara-perkara lain dalam Perjanjian Lama. Allah menciptakan manusia pada hari keenam, pada hari ketujuh Ia menikmati perhentian. Jadi, begitu manusia tercipta, manusia bukan bekerja dahulu, melainkan memasuki perhentian Allah. Allah terlebih dulu bekerja selama enam hari kemudian baru menikmati perhentian, tetapi manusia sebaliknya. Manusia menikmati perhentian dulu, baru kemudian bekerja. Inilah prinsip Injil. Karena itu, hari Sabat adalah lambang dari Injil. Terlebih dulu ada keselamatan, kemudian baru ada pekerjaan; ada hayat dahulu, kemudian baru ada perbuatan. Perhentian mendahului pekerjaan, perhentian mendahului perbuatan, inilah Injil. Allah memperlihatkan kepada kita bahwa Ia telah menyediakan perhentian penebusan, agar kita kemudian dapat bekerja. Syukur kepada Allah, setelah memiliki perhentian barulah dapat bekerja.
Hari Sabat berarti manusia tidak bekerja, melainkan memasuki perhentian Allah. Manusia masuk ke dalam perhentian Allah, berarti manusia sendiri tidak bekerja, melainkan menerima pekerjaan Allah. Karena itu, jika ada orang yang melanggar hari Sabat, alangkah besar dosa itu! Allah menyuruh Anda tidak perlu bekerja, cukup mengaso saja, Anda harus taat; jika Anda tetap bekerja, itu berarti Anda menolak perhentian yang dikaruniakan Allah kepada Anda.
Melanggar hari Sabat itu sama dengan Musa memukul batu karang dengan tongkatnya. Allah memerintahkan Musa untuk ”menyuruh batu karang itu mengalirkan air”, tidak memerintahkannya memukul batu karang, sebab batu karang pernah dipukul sekali, tidak seharusnya dipukul lagi. Pekerjaan sudah selesai, tak perlu dikerjakan lagi. Jika dikerjakan lagi, berarti menyangkal pekerjaan yang telah rampung. Musa seharusnya mematuhi firman Allah, yaitu ”menyuruh” batu karang mengalirkan air. Jika ia memukulnya lagi, itu berarti menyangkal pekerjaan Allah yang pertama kali. Namun, Musa melanggar perintah Allah, sebab itu, ia tidak dapat masuk ke tanah Kanaan (Kel. 17:1-6; Bil. 20:7-12).
Dalam pandangan manusia, pelanggaran atas hari Sabat seolah-olah tidak begitu berarti. Tetapi, ditinjau dari kebenaran Allah, betapa seriusnya perkara ini. Manusia harus menikmati perhentian Allah dahulu, baru bisa bekerja; manusia harus menerima Injil dahulu, baru bisa memiliki perbuatan; manusia harus memperoleh perhentian Allah dahulu, baru bisa mengerjakan pekerjaan Allah. Bila manusia melanggar hari Sabat, itu sama dengan melanggar prinsip yang telah Allah tetapkan. Itulah sebabnya nilai hari Sabat begitu tinggi dalam zaman Perjanjian Lama. Dalam Perjanjian Lama, jika ada seseorang memungut kayu pada hari Sabat, ia akan diseret oleh umat keluar perkemahan, lalu dirajam dengan batu sampai mati; sebab ia telah melanggar hari Sabat Allah (Bil. 15:32-36). Orang yang tidak memelihara Sabat, berarti ia dapat bekerja sendiri; berdasarkan dirinya sendiri, ia dapat melakukan sesuatu. Dengan kata lain, ia tak memerlukan pekerjaan Allah. Allah sangat puas akan pekerjaan-Nya; manusia memelihara hari Sabat berarti manusia juga merasa puas akan pekerjaan Allah. Memelihara hari Sabat berarti manusia mengaso dalam perhentian Allah, manusia menerima pekerjaan Allah. Maka perintah Allah dalam Perjanjian Lama ialah: manusia tidak boleh mengerjakan pekerjaan apa pun pada hari Sabat. Inilah yang diperlihatkan Perjanjian Lama kepada kita.
Tetapi sampai Perjanjian Baru, keadaannya berbeda. Pada hari Sabat, Tuhan Yesus pergi ke bait Allah untuk membaca kitab Suci (Luk. 4:16), juga mengajar orang di bait Allah (Mrk. 1:21). Para rasul pada hari Sabat mengajar dan berkhotbah di tempat-tempat ibadah (Kis. 17:1-3; 18:4). Dari sini terbukti bahwa hari Sabat tidak saja ada perhentian pada aspek negatifnya, juga ada pemanfaatannya yang positif. Asalnya, hari Sabat merupakan hari beristirahatnya tubuh, tetapi pada Perjanjian Baru, hari Sabat telah berubah menjadi hari untuk menuntut (mencari) perihal rohani. Inilah satu kemajuan.
Jika kita membaca Alkitab dengan cermat, kita akan tampak bahwa wahyu Allah dalam Alkitab selalu progresif. Dalam berita ”Membaca Alkitab”, kita juga menyinggung pentingnya menemukan fakta, sebab dalam fakta terkandung terang. Di mana ada perubahan fakta, di situ ada terang baru. Demikian pula halnya dengan hari Sabat. Pada mulanya Alkitab mengatakan, ”Allah memberkati hari ketujuh” (Kej. 2:3). Namun ketika Tuhan Yesus bangkit, Alkitab mencantumkan, ”Hari pertama minggu itu” (Mat. 28:1). Di situ tidak dikatakan, ”Hari ketujuh”, melainkan ”hari pertama” minggu itu, yakni hari kebangkitan Tuhan Yesus. Keempat kitab Injil memperlihatkan kepada kita, bahwa Tuhan Yesus bangkit pada hari pertama minggu itu. Setelah Tuhan Yesus bangkit, sedikitnya tercantum lima kali Ia menyatakan diri-Nya, dan semua itu terjadi pada ”hari pertama” dalam satu minggu (Yoh. 20:1, 11-19; Mat. 28:1, 9; Luk. 24:1, 13-15, 34, 36). Dalam Kisah Para Rasul kita tampak pencurahan Roh Kudus pada hari Pentakosta. Hari Pentakosta adalah hari setelah hari Sabat (Im. 23:15-16), yakni hari pertama dalam satu minggu. Jadi, hari pertama dalam satu minggu adalah hari Tuhan. Hal ini akan kita bahas lagi di belakang. Sudah tentu, ini bukan berarti Allah akan mengganti hari Sabat dengan hari Tuhan. Namun Alkitab dengan jelas menunjukkan kepada kita bahwa Allah telah mengalihkan perhatian kita, yaitu agar kita memperhatikan hari pertama dalam satu minggu itu.
Seperti telah kita katakan di depan bahwa hari Sabat melambangkan Injil. Bila realitas Injil itu telah tiba, maka berlalulah lambang tersebut. Prinsip hari Sabat ialah Injil, sama seperti salib adalah prinsip persembahan. Semua lembu atau domba yang dipakai untuk kurban persembahan dalam Perjanjian Lama, melambangkan Anak Domba Allah — Tuhan Yesus. Setelah Tuhan Yesus datang, lembu dan domba tidak dipakai lagi. Bila hari ini masih ada orang yang membawa lembu atau domba untuk dipersembahkan, itu berarti ia tidak mengenal salib. Tuhan telah menjadi kurban persembahan, bagaimana mungkin manusia masih memberikan persembahan lembu atau domba? Demikian pula, Injil telah tiba, manusia dapat menikmati perhentian di hadapan Allah melalui Injil. Karena Allah melalui penebusan Putra-Nya di salib telah menggenapkan segala pekerjaan bagi kita, maka Allah tidak memerintahkan kita mengerjakan apa-apa dahulu, melainkan memerintahkan kita mengaso dahulu, yakni mengaso dalam pekerjaan Putra-Nya. Kita datang ke hadirat Allah bukan untuk bekerja, melainkan untuk mengaso; sebab Injil menyuruh kita mengaso di hadapan Allah. Sesudah mengaso barulah kita melayani Allah. Setelah perhentian Injil datang, dengan sendirinya bagi kaum beriman hari Sabat itu pun berlalu, sama seperti kurban lembu atau domba telah berlalu. Sebagaimana hari ini tiada lagi kurban lembu atau domba, demikian pula hari ini tiada lagi hari Sabat. Hari Sabat ialah suatu lambang dalam Perjanjian Lama, yang telah terwujud saat Perjanjian Baru tiba.
II. DASAR HARI TUHAN
Dalam Perjanjian Lama, Allah memilih satu hari dari antara ketujuh hari, yaitu hari ketujuh, dan menetapkannya sebagai hari Sabat. Dalam Perjanjian Baru, walaupun hari ketujuh itu telah berlalu, namun prinsip pemilihan satu hari dari antara ketujuh hari itu masih berlaku, hanya saja Perjanjian Baru menetapkan hari lain, bukannya mengganti hari Sabat menjadi Hari Tuhan. Kalau pada masa Perjanjian Lama Allah memilih hari ketujuh dalam seminggu, maka pada masa Perjanjian Baru Ia memilih hari pertama. Bukan mengganti hari ketujuh menjadi hari pertama, melainkan memilih satu hari yang lain. Hari yang lain ini sama sekali berlainan dengan hari Sabat Perjanjian Lama.
Mazmur 118:22-24 mengatakan, ”Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru. Hal itu terjadi dari pihak TUHAN, suatu perbuatan ajaib di mata kita. Inilah hari yang dijadikan TUHAN, marilah kita bersorak-sorak dan bersukacita karenanya!” Ayat-ayat ini sangat penting. Di sini kita tampak satu kalimat, ”Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan.” Berguna tidaknya sebuah batu tergantung pada tukang bangunan; jika tukang mengatakan batu ini tak berguna, ia tak berguna. Namun ada satu hal yang ajaib, yaitu ”batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan” telah Allah jadikan ”batu penjuru”, yaitu batu dasar; Allah telah meletakkan kewajiban yang terpenting di atas diri-Nya. ”Hal itu terjadi dari pihak TUHAN, suatu perbuatan ajaib di mata kita.” Ini benar-benar perkara yang sangat ajaib. Pada ayat 24 kita dapati satu kalimat yang lebih ajaib, ”Inilah hari yang dijadikan TUHAN, marilah kita bersorak-sorak dan bersukacita karenanya!” Ini berarti bahwa hari dibuangnya batu oleh tukang-tukang bangunan (dan batu itu telah dijadikan batu penjuru oleh Allah), adalah hari yang ditetapkan oleh TUHAN. Meskipun tukang-tukang bangunan membuang batu itu, tetapi Allah telah melakukan satu perkara yang ajaib, yaitu menjadikan batu itu batu penjuru, dan hari itu menjadi hari yang ditetapkan TUHAN.
Kita harus mencari, sebenarnya hari manakah yang menjadi hari yang ditetapkan TUHAN itu. Pada hari manakah tukang-tukang bangunan membuang batu, yang kemudian Allah jadikan sebagai batu penjuru? Di manakah hari itu? Mari kita baca Kisah Para Rasul 4:10-11, ”Maka ketahuilah oleh kamu sekalian dan oleh seluruh umat Israel bahwa dalam nama Yesus Kristus, orang Nazaret, yang telah kamu salibkan, tetapi yang telah dibangkitkan Allah dari antara orang mati — bahwa oleh karena Yesus itulah orang ini berdiri dalam keadaan sehat sekarang di depan kamu. Yesus adalah batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan — yaitu kamu sendiri — namun Ia telah menjadi batu penjuru.” Ayat 10 mengatakan, ”telah kamu salibkan, tetapi yang telah dibangkitkan Allah dari antara orang mati.” Ayat 11 menjelaskan, ”Yesus adalah batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan, namun Ia telah menjadi batu penjuru.” Dengan kata lain, batu yang telah menjadi batu penjuru ialah Tuhan Yesus yang telah bangkit. Hari Ia dibuang oleh tukang-tukang bangunan, itulah hari Ia disalibkan; dan hari Ia menjadi batu penjuru, itulah hari Ia dibangkitkan dari antara orang mati. Karena itu, ”hari yang dijadikan/ditetapkan TUHAN” ialah hari kebangkitan Tuhan Yesus. Yang dibuang orang, dibangkitkan oleh Allah; kebangkitan ini adalah perbuatan Allah. Jadi, hari kebangkitan Tuhan Yesus itulah hari yang ditetapkan Allah. Suatu perbuatan ajaib di mata kita, karena hari itu bukan hari yang ditetapkan manusia, melainkan ditetapkan Allah. Jadi, hari apakah yang ditetapkan Allah? Tidak lain ialah hari kebangkitan Tuhan Yesus.
Di sini kita tampak bahwa pada dasarnya hari kita berbeda dengan hari Sabat di bawah Taurat Perjanjian Lama. Pada hari Sabat Perjanjian Lama orang tidak boleh berbuat ini, tidak boleh berbuat itu, semua serba negatif. Jika seseorang melanggar hari Sabat, ia harus dihukum mati; hukumannya sangat berat. Tetapi, perasaan semacam itu tidak terdapat pada kita hari ini. Allah menubuatkan bahwa pada zaman Perjanjian Baru Ia akan memilih satu hari yang lain. Allah tidak mengatakan pada hari itu kita tak boleh melakukan sesuatu, melainkan kita harus berbuat sesuatu. Allah ingin kita bersorak-sorai dan bersukacita pada hari yang ditetapkan-Nya itu. Maka ciri-ciri Hari Tuhan ialah adanya perintah-perintah yang positif, tanpa yang negatif.
Kita perlu memberi penjelasan lebih lanjut atas hari ini. Allah tidak saja menggabungkan hari menjadi tahun dan bulan, tetapi juga menggabungkan hari menjadi minggu. Seolah-olah setiap tujuh hari merupakan satu bagian, dan berakhir pada hari ketujuh. Telah kita katakan bahwa hari Sabat adalah lambang yang berada dalam ciptaan lama. Begitu Tuhan Yesus bangkit dari kematian, mulailah ciptaan baru. Berakhirnya ciptaan lama ialah pada hari ketujuh dalam satu minggu, jelas sekali itu menjadi satu minggu, satu minggu yang lengkap. Sedang permulaan ciptaan baru ialah pada hari pertama dalam satu minggu, satu permulaan baru yang mutlak bersih dan tegas. Satu minggu yang terdahulu mutlak usang, sedangkan satu minggu yang kemudian mutlak baru. Ciptaan lama dan ciptaan baru terpisah dengan jelas sekali. Bukan dalam seminggu separuh usang, separuh baru, melainkan terpisah dengan jelas dan tegas; yang satu mutlak ciptaan lama, yang satu lagi mutlak ciptaan baru. Tanpa sisa, hanya ada satu minggu yang utuh. Tuhan Yesus bangkit pada hari pertama dalam minggu itu, maka satu minggu itu merupakan ciptaan baru yang lengkap dan genap. Gereja di bumi terlahir pada hari Pentakosta, juga hari pertama dalam minggu itu, maka itu pun sepenuhnya baru. Seandainya Tuhan bukan bangkit pada hari pertama dalam satu minggu, misalnya pada hari ketujuh atau satu hari lainnya, tentu akan terdapat ciptaan baru dan ciptaan lama dalam satu minggu, sehingga menjadi bercampur-aduk. Namun, Tuhan Yesus bangkit pada hari pertama dalam satu minggu, itulah awal permulaan satu minggu yang lain. Satu minggu itu ciptaan lama, satu minggu ini ciptaan baru. Perkara-perkara ciptaan lama berakhir sampai hari terakhir — hari ketujuh — dalam satu minggu itu; sedang ciptaan baru dimulai pada hari pertama dalam satu minggu atau ketujuh hari berikutnya. Demikianlah ciptaan baru terpisah dengan ciptaan lama secara tegas dan tuntas.
Dalam satu minggu, Allah sengaja memilih satu hari, dan hari ini disebut Alkitab ”Hari Tuhan”, yang tercantum dalam Wahyu 1:10. Pernah ada orang mengatakan ”Hari Tuhan” adalah ”hari kedatangan Tuhan” yang juga tercantum dalam Alkitab. Padahal bukan. Dalam bahasa aslinya, istilah ”hari Tuhan” ini sama sekali berbeda dengan ”hari kedatangan Tuhan”. ”Hari kedatangan Tuhan” ialah hari kedatangan Tuhan yang kedua kalinya (1 Tes. 5:2; 2 Tes. 2:2; 2 Ptr. 3:10). Keduanya mutlak berbeda. Di lain pihak, dalam karangan-karangan bapa-bapa gereja kuno, kita dapat menemukan banyak data yang membuktikan bahwa ”Hari Tuhan” itu ditujukan kepada hari pertama dalam ketujuh hari, sebagai hari berhimpun atau bersidangnya seluruh gereja. Ada juga orang mengatakan, orang-orang Kristen abad kedua dan ketiga biasanya bersidang setiap hari Sabat, hingga abad keempat baru diubah. Perkataan itu tidak sesuai dengan kenyataannya. Sebab dalam tulisan-tulisan para bapa gereja kuno, terdapat banyak data yang membuktikan, mulai dari murid-murid Yohanes sampai dengan abad keempat, perhimpunan orang Kristen semua dilakukan pada hari pertama dalam ketujuh hari (Lihat bab terakhir dalam buku ini).
III. PENGGUNAAN HARI TUHAN
Menurut Alkitab ada tiga perkara yang harus khusus diperhatikan dalam penggunaan hari Tuhan:
Pertama, seperti yang tercantum dalam Mazmur 118:24, yaitu setiap anak-anak Allah wajib bersorak-sorak dan bersukacita pada hari pertama dalam satu minggu ini. Tuhan kita telah bangkit dari kematian. Inilah hari yang ditetapkan Allah, maka pada setiap hari ini, kita wajib memelihara satu sikap, yaitu bersorak-sorak dan bersukacita. Hari ini adalah hari kebangkitan Tuhan kita, tiada satu hari yang seperti hari ini. Pada hari pertama dalam satu minggu, Tuhan menyatakan diri-Nya kepada murid-murid; Tuhan berhimpun bersama mereka. Tercurahnya Roh Kudus pada hari Pentakosta, juga terjadi pada hari pertama dalam ketujuh hari. Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru, ini sebenarnya ditujukan kepada penyaliban dan kebangkitan Tuhan Yesus. Penolakan orang-orang Yahudi mengacu kepada penolakan tukang-tukang bangunan; kebangkitan Tuhan Yesus membuat diri-Nya menjadi batu penjuru. Inilah hari yang ditetapkan Allah, maka kita wajib bersorak-sorak dan bersukacita di hari tersebut, ini adalah suatu hasil yang timbul dengan sendirinya.
Kedua, Kisah Para Rasul 20:7 mengatakan, ”Pada hari pertama dalam minggu itu, ketika kami berkumpul untuk memecah-mecahkan roti . . .” Menurut bahasa aslinya, istilah ”hari pertama dalam minggu itu” tidaklah terbatas pada hari pertama dalam ketujuh hari tertentu, melainkan setiap hari pertama dalam ketujuh hari; dan pada setiap hari inilah mereka berkumpul untuk memecah-mecahkan roti memperingati Tuhan. Inilah perkara yang dilakukan dengan spontan oleh semua gereja pada masa itu. Ya, hari manakah yang lebih indah daripada hari pertama dalam ketujuh hari ini? Hari pertama dalam satu minggu adalah hari kebangkitan Tuhan dari kematian; hari ini adalah hari perjumpaan kita dengan Tuhan. Ada satu perkara yang wajib kita lakukan pada hari ini, yaitu memperingati Tuhan. Inilah hari yang dipilih Tuhan. Kita wajib terlebih dulu datang ke hadapan Tuhan pada hari pertama dalam satu minggu. Hari Tuhan ialah hari pertama dalam satu minggu (hari Senin adalah hari kedua dalam satu minggu); pada hari ini, kita wajib berjumpa dengan Tuhan.
Pemecahan roti dalam Alkitab memiliki dua makna: Pertama ialah memperingati Tuhan, kedua ialah menyatakan adanya persekutuan di antara kita dengan sesama anak-anak Allah. Yang pertama menyatakan persekutuan kita dengan Allah, persekutuan kita dengan Tuhan; yang kedua menyatakan persekutuan kita dengan Tubuh Tuhan, yakni dengan gereja. Roti mewakili Tuhan, juga mewakili gereja. Setiap Hari Tuhan adalah hari terbaik untuk kita bersekutu, baik dengan Tuhan maupun dengan segenap anak-anak Allah. Walau kita di bumi ini terbatas oleh ruang dan waktu, sehingga tak mungkin bersekutu dan berjabat tangan dengan setiap anak-anak Allah, namun setiap hari Tuhan, tangan setiap anak-anak Allah menjamah roti yang seketul ini. Tak peduli di mana saja, setiap anak-anak Allah pasti menyentuh roti ini, tangan kita juga menyentuh roti ini, ini berarti kita telah bersekutu dengan semua anak-anak Allah. Di sini kita tidak saja bertemu dengan Tuhan kita, juga bertemu dengan seluruh saudara saudari kita. Dalam Sidang ini, Anda tidak saja bersekutu dengan saudara saudari yang bersama-sama memecahkan roti, Anda juga bersekutu dengan setiap orang yang menyentuh roti ini. Pada hari ini, tangan laksaan orang beriman di seluruh dunia menyentuh roti ini. ”Roti adalah satu, maka kita, sekalipun banyak, adalah satu tubuh” (1 Kor. 10:17). Kita bersama-sama memecahkan roti, berarti kita bersekutu di dalam roti ini.
Saudara saudari yang baru percaya Tuhan harus belajar bersekutu dengan setiap anak-anak Allah, tanpa sekatan. Sejak mulanya harus belajar mengasihi, belajar mengampuni. Bila Anda tak mau belajar mengasihi dan mengampuni, Anda tak dapat menyentuh roti ini. Tak seorang pun di antara anak-anak Allah yang boleh Anda benci atau tolak, dan tak seorang pun yang dengannya Anda boleh bersekatan; kecuali mereka mempunyai masalah sehingga dikucilkan karena suatu kelakuan (1 Kor. 5:11), atau karena suatu kebenaran (2 Yoh. 7-11). Anda wajib bersekutu dengan setiap anak-anak Allah yang normal. Karena kita memperingati Tuhan kita, karena kita menjamah-Nya, maka kita pun menjamah semua orang yang menjadi milik-Nya. Karena Tuhan demikian mengasihi kita, menyerahkan diri-Nya bagi kita, maka kita tak dapat tidak memperingati-Nya, kita tak dapat tidak mengasihi orang yang dikasihi-Nya, kita tak dapat tidak memaafkan atau mengampuni orang yang diampuni-Nya, kita pun tak dapat tidak teringat akan orang yang diingat-Nya. Tidak ada satu hari lainnya yang lebih indah daripada hari pertama dalam ketujuh hari ini, sebab inilah hari yang ditetapkan Tuhan, inilah hari kebangkitan Tuhan kita. Pada hari ini kita ingat kepada semua orang yang bersama kita mendapatkan ciptaan baru. Inilah perkara yang wajar dan spontan.
Ketiga, dalam 1 Korintus 16:1-2 dikatakan, ”Tentang pengumpulan uang bagi orang-orang kudus, hendaklah kamu melakukan sesuai dengan petunjuk-petunjuk yang kuberikan kepada jemaat-jemaat di Galatia. Pada hari pertama dari tiap-tiap minggu hendaklah kamu masing-masing — sesuai dengan apa yang kamu peroleh — menyisihkan sesuatu dan menyimpannya, supaya jangan pengumpulan itu baru diadakan pada saat aku datang.” Di sini kita tampak perkara ketiga, yang wajib dilakukan pada hari pertama dalam tiap minggu. Paulus meminta gereja-gereja di Galatia melakukan demikian, ia juga meminta gereja di Korintus melakukan hal yang sama. Ini menjelaskan kepada kita bahwa di zaman rasul, hari pertama dalam tiap minggu merupakan hari yang istimewa. Pada hari itu ada pemecahan roti memperingati Tuhan, juga ada pengumpulan uang bagi orang-orang kudus. Pada hari pertama dalam tiap minggu, setiap orang harus menyisihkan sebagian dari penerimaannya untuk dipersembahkan kepada Tuhan. Inilah perkara yang sangat indah. Di satu pihak ada pemecahan roti, di pihak lain ada persembahan. Di satu pihak kita memperingati bagaimana Tuhan mengaruniakan diri-Nya kepada kita, di pihak lain kita memberi persembahan kepada Tuhan. Jika seseorang di hadapan Allah menerima lebih banyak, ia wajib memberikan lebih banyak. Dalam sekian banyak kurban pujian dan syukur, persembahan uang juga merupakan salah satu kurban yang perlu kita persembahkan (Ibr. 13:16). Dengan berbuat demikian, hati Allah akan berkenan. Sejak permulaan kita menjadi orang, kita harus belajar dan melaksanakan memberikan persembahan uang pada Hari Tuhan.
Kita tidak seharusnya dengan sembarangan mencomot sedikit uang dari saku kita, lalu memasukkannya ke dalam peti persembahan. Sebelumnya kita harus dengan rasa hormat dan khidmat menghitung dan mempersiapkannya di rumah; atau memasukkannya lebih dulu ke dalam amplop, kemudian dengan rasa hormat dan khidmat memasukkannya ke dalam kotak persembahan. Di sini Paulus memperlihatkan kepada kita bahwa persembahan uang harus dilakukan secara terencana, diperhitungkan lebih dahulu. Setiap hari pertama dalam seminggu, kita harus menyisihkan penerimaan kita sendiri dan berkata kepada Tuhan, ”Tuhan, Engkau telah mengaruniakan berkat yang limpah kepadaku, kini aku menyisihkan apa yang kuperoleh untuk kupersembahkan kepada-Mu.” Anda harus menetapkan sebagian yang ingin Anda persembahkan dengan rela hati, entah itu banyak atau sedikit. Kita harus mengetahui bahwa pemecahan roti adalah satu perkara yang serius, persembahan uang juga adalah satu perkara yang serius.
Tuhan sengaja menyisihkan satu hari dalam satu minggu dan menyebutnya hari Tuhan. Semoga saudara saudari pada hari ini dapat menikmati kasih karunia Tuhan dan dapat melayani Tuhan dengan sebaik-baiknya. Hari Tuhan kita berbeda dengan hari Sabat Perjanjian Lama. Yang dipentingkan oleh hari Sabat ialah: pantang berbuat ini dan tidak boleh berbuat itu; itulah sebabnya orang-orang Yahudi menyalahkan Tuhan Yesus ketika Ia menyembuhkan orang sakit atau mengusir setan pada hari Sabat. Namun hari Tuhan bukanlah untuk istirahat tubuh, bukan pula untuk berhenti bekerja. Hari Tuhan sama sekali berbeda dengan hari Sabat. Hari Tuhan sama sekali tidak mengandung konsepsi bekerja atau mengaso. Apa yang boleh dikerjakan pada hari lain, pada hari Tuhan juga boleh dikerjakan; dan apa yang pantang dikerjakan di hari lain, pantang pula dikerjakan pada hari Tuhan. Alkitab tidak memberitahu kita, boleh atau pantang berjalan, boleh atau pantang membeli barang, dan boleh atau pantang berbuat ini atau itu pada hari Tuhan; atau harus memelihara hari Tuhan seperti halnya orang memelihara hari Sabat. Yang Alkitab katakan kepada kita ialah kita harus bersorak-sorak dan bersukacita pada Hari Tuhan, dan mengkhususkan diri datang ke hadirat Tuhan untuk menerima kasih karunia-Nya, memperingati Tuhan, melayani Tuhan serta memberikan persembahan. Kita harus memisahkan hari Tuhan ini sebagai hari yang istimewa dalam seumur hidup kita. Setidaknya, kita harus memperuntukkan hari pertama dalam satu minggu ini bagi Tuhan. Hari ini bukan hari kita, melainkan ”Hari Tuhan”. Waktu ini waktu Tuhan, bukan waktu kita. Sibuk untuk Tuhan, mengaso pun untuk Tuhan. Melakukan atau tidak melakukan suatu perkara, semua untuk Tuhan; ini sama sekali tidak mengandung perasaan hari Sabat. Hari ini adalah hari kita memberikan persembahan kepada Tuhan. Inilah hari Tuhan.
Perkataan yang diucapkan Yohanes sangatlah indah, katanya, ”Pada hari Tuhan aku dikuasai oleh Roh (di dalam roh) . . .” (Why. 1:10). Semoga banyak orang dapat berkata, ”Pada hari Tuhan, aku di dalam Roh.” Semoga hari ini menjadi hari Roh Kudus menggerakkan gereja-Nya. Semoga hari ini menjadi hari kita menerima berkat-Nya. Kita mengharapkan saudara saudari yang baru percaya, sejak semula dapat mementingkan hari Tuhan ini, dan pada hari ini dapat memberikan persembahan sebaik-baiknya kepada Tuhan, serta berkata kepada Tuhan, ”Ya Tuhan, hari ini adalah hari-Mu.” Jika sejak remaja kita sudah berbuat demikian, maka setelah lewat 70 tahun, kita dapat mengatakan bahwa kita telah mutlak bagi Tuhan selama 10 tahun penuh. Ini akan menjadi berkat besar bagi gereja. ”Ya Tuhan! Dalam sehari ini, aku menggunakan semua waktuku untuk-Mu, dengan sukacita aku memecahkan roti memperingati-Mu; aku persembahkan apa yang kumiliki kepada-Mu.” Jika kita semua berbuat demikian, niscaya berkat Allah akan tercurah secara besar-besaran ke dalam gereja-Nya.
CATATAN TAMBAHAN TENTANG DATA-DATA SEJARAH HARI TUHAN PADA GEREJA KUNO
Mengenai hari Tuhan, tercantum dalam buku ”Ajaran-ajaran Para Rasul” (sejilid kitab pertama yang umum dibaca dalam gereja selain Alkitab, yang ditulis sekitar tahun 75-90, hampir bersamaan waktunya dengan kitab Wahyu) sebagai berikut: ”Setiap hari Tuhan kamu harus berhimpun bersama memecah-mecahkan roti sambil bersyukur, dan harus terlebih dahulu mengaku dosa-dosamu. Dengan demikian, kurban yang kamu persembahkan itu akan menjadi suci dan bersih.” Ini dengan jelas menunjukkan kepada kita bahwa kaum beriman sejak akhir abad pertama sudah bersidang pada tiap hari Tuhan.
Rasul Yohanes mempunyai seorang murid yang bernama Ignatius; ia lahir pada tahun 30 dan mati sahid pada tahun 107. Ia pernah menulis sepucuk surat kepada kaum beriman di Mernisia pada tahun 100. Dalam suratnya pasal kesembilan ia mengatakan dengan jelas, ”Kalian (orang Yahudi) yang menurut ajaran kuno, hari ini janganlah memelihara hari Sabat (hari ketujuh) lagi, melainkan harus memelihara hari Tuhan. Sebab hayat kita telah dibangkitkan bersama Dia.” Ini juga memperlihatkan kepada kita bahwa gereja di masa semula bukan memelihara hari Sabat, melainkan hari Tuhan.
Sekitar tahun 120, Barnabas (bukan Barnabas yang terdapat dalam Alkitab) dalam suratnya pasal 15 mencatat kata-kata, ”Kita memelihara hari ke delapan dengan sukacita, itulah hari kebangkitan Tuhan Yesus dari antara orang mati.”
Ada lagi seorang bapa gereja yang ternama, yang disebut orang, Martir Yustinus. Ia lahir pada tahun 100, dan mati sahid pada tahun 165. Pada tahun 138, ia menulis sebuah buku — ”Perdebatan”. Dalam bukunya, antara lain ia mengatakan, ”Pada hari Minggu, yakni hari pertama dalam seminggu, setiap penduduk kota maupun desa berhimpun bersama membaca riwayat hidup para rasul dan karangan-karangan para nabi, dengan menghabiskan waktu yang ada. Setelah selesai membaca, saudara yang memimpin lalu memberikan beberapa nasihat dan menganjuri semua orang meneladani perkara-perkara yang baik itu. Selanjutnya segenap kita berdiri berdoa, dan sesudah itu kita menyediakan roti dan anggur. Saudara yang memimpin lalu mempersembahkan doa dan syukur yang disambut dengan ”Amin” oleh seluruh hadirin. Kemudian orang-orang yang ada dan yang rela hati satu persatu mempersembahkan uang yang disyukurinya. Uang tersebut kemudian diserahkan kepada orang yang memimpin guna dimanfaatkan untuk anak-anak yatim piatu, janda, orang sakit, orang yang terbelenggu serta orang-orang yang berhimpun bersama kita. Dengan kata lain, diberikan kepada semua orang yang kekurangan. Maka hari Minggu ialah hari sidang umum kita. Sebab pada hari ini Yesus Kristus, Juruselamat kita, bangkit dari kematian. Ia tersalib pada sehari sebelum hari Sabtu, dan sehari sesudah hari Sabtu, yakni hari Minggu, Ia menyatakan diri kepada rasul-rasul dan murid-murid-Nya, Ia mengajar mereka tentang hal ini. Hari ini kami menulis perkara ini kepada kalian, harap kalian mempertimbangkan.” Di bagian lain dalam suratnya dikatakan pula, ”Kita telah menerima sunat dari dalam dosa dan kesalahan melalui Tuhan Yesus. Ia telah dibangkitkan pada hari pertama dari ketujuh hari itu. Maka hari tersebut menjadi hari utama, hari pertama dalam semua hari.”
Pada tahun 170, seorang bapa gereja di Sardis yang bernama Militus pernah menulis dalam sebuah buku demikian, ”Kita hari ini melalui hari kebangkitan Tuhan, dan saat ini kita telah membaca banyak surat rasuli.”
Pada tahun 194, bapa gereja yang terkenal dari Aleksandria, yakni Clement pernah berkata, ”Hari ketujuh telah menjadi hari kerja, yakni hari kerja yang biasa saja.” Selanjutnya ia berkata lagi, ”Kita seharusnya memelihara hari Tuhan.”
Tahun 200, bapa gereja Tertullian pernah berkata, ”Tiap hari Minggu kita merasa gembira luar biasa. Kita memelihara hari ini, yakni hari kebangkitan Tuhan, tanpa aral dan khawatir apa pun.” Pada waktu itu, sudah ada orang yang mengatakan memelihara hari Tuhan berarti menyembah matahari, maka Tertullian membantah mereka, katanya, Kita bergembira di hari Tuhan, kita tidak menyembah matahari, kita berbeda dengan orang-orang yang bermalas-malasan dan berpesta pora pada hari Sabtu.”
Seorang bapa gereja, namanya Otigen, ia juga seorang ahli teologi Aleksandria yang terkenal, ia mengatakan, ”Memelihara hari Tuhan adalah tanda bagi seorang Kristen yang sempurna.”
Ada orang mengatakan bahwa kaum beriman kuno asalnya memelihara hari Sabat, sampai abad keempat baru diganti menjadi hari pertama dalam seminggu oleh kaisar Konstantinus. Perkataan ini tidak sesuai dengan fakta! Konstantinus sama sekali tidak mengganti hari itu, ia hanya mengakui fakta itu, sebab sejak semula gereja sudah memelihara hari Tuhan. Sebelum tahun 313, orang Kristen menderita aniaya. Sampai tahun 313, Konstantinus merebut Roma, lalu mengeluarkan sebuah surat perintah di Milan yang melarang penganiayaan terhadap orang-orang Kristen. Pada tahun 321, Konstantinus mengeluarkan sebuah surat perintah lagi, isinya antara lain: ”Pada setiap hari Minggu semua pejabat dan rakyat yang tinggal di kota wajib beristirahat, segala pekerjaan harus dihentikan.” Dalam surat perintah tersebut dari awal hingga akhir Konstantinus tak pernah menyinggung tentang hari Sabat, ia hanya mengakui dan mengokohkan hari pertama (hari Minggu) sebagai hari gereja.
Maka berdasarkan data-data tersebut di atas, kita dapat mengetahui bahwa pemeliharaan hari Tuhan sudah dimulai sejak zaman para rasul, oleh para bapa gereja dan berlangsung terus dari zaman ke zaman.