Daftar isi Pembinaan Dasar · bab 10/50

HAYAT KITA

Pembacaan Alkitab : Kolose 3:4a; Filipi 1:21a; Galatia 2:19b-20

I. KRISTUS ADALAH HIDUP (HAYAT) KITA

Banyak orang Kristen mempunyai konsepsi yang salah terhadap Tuhan, yakni menyangka Tuhan telah meninggalkan suatu teladan yang baik di bumi untuk kita tiru. Memang dalam Alkitab ada perintah yang menyuruh kita meneladani Tuhan (Rm. 15:5 Tl.; 1 Kor. 11:1; dan lainnya). Akan tetapi Alkitab tidak menyuruh kita meneladani Tuhan dengan mengandalkan diri kita sendiri. Terlebih dulu kita perlu tampak sesuatu, baru kita dapat meneladani Tuhan. Banyak orang yang terus-menerus ingin meneladani Tuhan, tetapi akhirnya selalu gagal. Mereka mengira Tuhan ibarat sebuah contoh dan kita harus meniru-Nya sedikit demi sedikit; mereka tidak menyadari betapa piciknya manusia, dan kekuatan daging manusia sama sekali tidak mampu meneladani Tuhan.

Ada orang Kristen mengatakan bahwa Alkitab pernah memberi tahu, “Segala hal dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku” (Flp. 4:13), oleh karena itu mereka mohon Tuhan memberi kekuatan. Mereka merasa banyak perkara yang wajib dilakukan, banyak perintah Alkitab yang wajib ditaati, dan banyak teladan Tuhan yang wajib diikuti, namun mereka sendiri tidak memiliki kekuatan, maka mereka mohon Tuhan memberi kekuatan. Mereka berpikir bila Tuhan memberi kekuatan, segala perkara akan mampu dilakukan. Sebab itu, banyak sekali orang dari hari ke hari mengharapkan Tuhan memberi kekuatan, agar mereka dapat melakukan apa yang mereka anggap perlu.

Mohon Tuhan memberi kekuatan itu memang tidak salah, tetapi selain Tuhan memberi kekuatan, kita perlu tampak sesuatu. Jika tidak, walaupun kita telah mohon Tuhan memberi kekuatan, kita tetap tidak mungkin beroleh kekuatan. Kita boleh setiap hari mohon Tuhan memberi kekuatan, tetapi doa yang demikian tidak selalu dikabulkan. Bila Tuhan memberi kekuatan, kita dapat berbuat segalanya, tetapi bila tidak, kita pun tidak dapat berbuat apa-apa. Itulah sebabnya banyak orang Kristen sering mengalami kegagalan. Memang kita wajib mohon Tuhan memberi kekuatan, tetapi jika kita menganggap hal itu sebagai perintah tunggal atau metode tunggal, itu tidaklah benar.

Alkitab menunjukkan kepada kita bahwa hubungan yang mendasar antara kita dengan Tuhan ialah “Kristus adalah hidup (hayat) kita”. Setelah Kristus menjadi hayat kita, barulah kita dapat meneladani Tuhan. Setelah Kristus menjadi hayat kita, barulah kita dapat memohon kepada-Nya untuk memberi kekuatan. Tanpa memahami “Kristus adalah hayat kita”, mustahil kita meneladani Tuhan, dan mustahil pula kita mohon Tuhan memberi kekuatan kepada kita. Karena itu, “Kristus adalah hayat kita” adalah satu kunci. Kita harus terlebih dulu memahami, melihat, dan memperolehnya, barulah kita dapat meneladani Kristus, serta mohon Tuhan memberi kekuatan.

Kolose 3:4a mengatakan, “Kristus, yang adalah hayat kita.” Filipi 1:21a mengatakan, “Karena bagiku hidup adalah Kristus.” Semua ini memperlihatkan bahwa jalan kemenangan ialah “Kristus adalah hayat kita” dan “bagiku hidup adalah Kristus”. Jika seorang Kristen tidak mengerti makna kedua ungkapan ini, mustahil ia dapat mengalami kehidupan Tuhan yang di bumi, mustahil ia mengikuti Tuhan, mustahil menang bersandar Tuhan, dan mustahil maju menempuh jalan di depan.

II. BAGIKU HIDUP ADALAH KRISTUS

Banyak orang Kristen yang sangat menyalahartikan perkataan Filipi 1:21. Paulus berkata, “Karena bagiku hidup adalah Kristus.” Ini adalah satu fakta. Tetapi banyak orang menganggapnya sebagai suatu target, atau suatu pengharapan. Padahal Paulus bukan memberi tahu kita bahwa ia mempunyai satu target yang demikian. Maksud Paulus ialah: “Aku sendiri dapat hidup karena ada Kristus; tanpa Kristus, aku tidak mungkin hidup.” Jadi ini adalah faktanya, bukan targetnya; Ini adalah kunci kehidupannya, bukan pengharapannya. Kehidupannya adalah Kristus. Ia hidup, berarti Kristus yang hidup.

Banyak orang Kristen sangat hafal Galatia 2:19b-20, tetapi sayang banyak pula yang menyalahartikan ayat ini lebih hebat daripada Filipi 1:21. Mereka benar-benar memandang Galatia 2:19b-20 sebagai target atau sasaran mereka. Mereka sering berdoa dan mendambakan bisa mencapai suatu hidup yang “bukan lagi aku, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku”. Setiap kali mereka membaca ayat ini, mereka lalu dipenuhi oleh pengharapan itu. Bahkan banyak orang berdoa dan berpuasa agar pada suatu hari dapat tersalib bersama Kristus, sehingga bukan lagi aku yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Itulah sebabnya mengapa Galatia 2:19b-20 menjadi target dan pengharapan banyak orang.

Namun, menurut pengalaman kita yang lampau, kita dapat mengatakan bahwa kita tidak pernah melihat orang yang menaruh pengharapan sedemikian bisa mencapai target itu. Jika Anda menganggapnya suatu target, dan mengharap bisa mencapai taraf yang demikian, atau mengharap bisa tersalib dan mengharap bukan Anda lagi yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam Anda, Anda hanya menunggu entah sampai kapan, sebab Anda sama sekali mustahil melakukan hal itu.

Kita harus mengetahui bahwa hal itu adalah anugerah (kasih karunia) Allah yang ajaib. Di sini ada satu jalan keluar, agar semua orang yang gagal bisa beroleh kemenangan, yang najis bisa beroleh pentahiran, yang awam bisa dikuduskan, yang duniawi bisa menjadi surgawi dan yang nafsani bisa menjadi rohani. Ini adalah satu cara, bukan satu target atau sasaran. Cara ini adalah hayat pengganti. Sebagaimana dalam anugerah Tuhan ada penggantian mati, demikian pula ada penggantian hidup. Di atas salib Tuhan telah menanggung dosa bagi kita, dan oleh kematian itu Ia menghindarkan kita dari maut, sehingga kita beroleh pengampunan dosa dan terhindar dari hukuman. Demikian pula, di sini Paulus memberi tahu kita, Tuhan telah hidup di dalam kita, sehingga kita dapat terhindar dari hidup. Artinya sangat sederhana, yaitu Dia hidup di dalam kita, sehingga kita tidak perlu hidup. Sebagaimana Ia telah mati bagi kita di atas salib, demikian pula, hari ini Ia hidup bagi kita di dalam kita. Paulus tidak berkata: Aku harap aku bisa tidak hidup, aku harap aku bisa membiarkan Dia hidup; melainkan aku sudah tidak hidup lagi, biar Dia yang hidup bagiku; “namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.” Inilah kunci dan cara kemenangan.

Pada hari kita mendengar bahwa diri kita terhindar dari maut, kita menganggap inilah kabar kesukaan atau Injil besar. Demikian pula, pada hari kita mendengar bahwa diri kita boleh terhindar dari hidup, ini juga kabar kesukaan besar. Saya harap saudara saudari yang baru beriman banyak berdoa, mohon Allah memberi Anda terang, agar Anda tampak betapa Kristus dapat hidup di dalam manusia, sehingga manusia dapat hidup tanpa dirinya sendiri.

Jika tidak demikian, Anda akan merasa sangat sukar untuk menempuh kehidupan orang Kristen yang normal — memelihara kesaksian, menolak pencobaan, memikul salib, mematuhi kehendak Allah, dan sebagainya. Banyak orang Kristen yang merasa berat sekali untuk mempertahankan kehidupan orang Kristen. Setiap hari melakukannya, tetapi setiap hari selalu mengeluh; setiap hari berusaha, tetapi setiap hari gagal; setiap hari mempertahankan kesaksian, tetapi setiap hari memalukan Tuhan. Banyak orang ingin menolak dosa, tetapi tidak kuat; kalau tidak menolak dosa, hati merasa tidak damai. Ingin sabar tidak bisa; kalau marah-marah, hati tidak ada damai; ingin mengasihi orang, tidak mampu; kalau membenci orang, hati tidak enak. Banyak orang yang merasa “lelah” menjadi orang Kristen. Mereka merasa menjadi orang Kristen seolah menanggung beban yang berat sambil mendaki gunung, dan akhirnya tidak berhasil mencapai puncak gunung. Sebelum percaya Tuhan, ia telah menanggung beban dosa; sekarang sejak percaya Tuhan, ia tetap lelah menanggung beban kudus. Beban itu diganti dengan beban ini, namun tetap saja merasa berat, penat, dan sengsara.

Keadaan yang demikian membuktikan bahwa mereka telah menjadi orang Kristen yang salah. Paulus berkata, “Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.” Inilah rahasia kehidupan orang Kristen. Tuhanlah yang menjadi orang Kristen di dalam Anda, bukan Anda menjadi orang Kristen di dalam Anda sendiri. Bila Anda menjadi orang Kristen di dalam Anda sendiri, untuk bersabar terasa sulit, mengasihi sulit, rendah hati sulit, menanggung salib juga sulit. Sebaliknya, bila Kristus hidup di dalam Anda, bersabar terasa senang, mengasihi senang, rendah hati senang, memikul salib juga senang.

Saudara saudari, jika Anda sudah merasa letih dan kewalahan menjadi orang Kristen, dan jika Anda tampak bahwa sejak kini Anda tidak perlu hidup lagi, Anda akan merasa inilah satu Injil yang besar. Setiap orang Kristen boleh terhindar dari kehidupan yang meletihkan, inilah satu Injil yang besar! Anda tidak perlu memakai begitu banyak kekuatan untuk menjadi orang Kristen, dan tidak perlu memikul beban seberat itu! Anda boleh berkata, “Syukur kepada Allah, aku telah mendengar Injil yang mengatakan bahwa aku tidak perlu mati; hari ini aku sudah hidup sampai letih dan lelah, tetapi Allah mengatakan aku tidak perlu hidup lagi, tidak perlu hidup dengan jerih lelah, untuk ini aku juga bersyukur kepada Allah.”

Mati, tentu merupakan satu perkara yang susah, tetapi hidup di hadapan Allah juga merupakan satu perkara yang susah. Manusia seperti kita ini sama sekali tidak mengerti apa artinya kekudusan Allah, sama sekali tidak mengerti apa kasih itu, dan sama sekali tidak mengerti apa salib itu. Karena itu, kalau kita yang demikian ini disuruh hidup di hadapan Allah, sungguh merupakan satu beban yang sangat berat, yang tidak dapat kita tanggung. Semakin kita hidup, semakin mengeluh, semakin kita hidup, semakin merasa susah. Manusia seperti kita ini, jika ingin meronta-ronta dan berjuang untuk menjadi orang Kristen, sungguh merupakan suatu usaha yang menghabiskan tenaga dan akhirnya sama sekali tidak akan berhasil. Manusia seperti kita ini, sama sekali tidak dapat memenuhi permintaan Allah. Ada orang yang hidupnya selalu marah-marah, ada orang yang hidupnya selalu tidak dapat bersabar hati, ada pula orang yang hidupnya selalu congkak. Kalau orang yang congkak hidup di hadapan Allah, setiap hari ia terpaksa harus merendahkan dirinya, niscaya ia akan merasa lelah dan letih sekali.

Paulus dalam Roma 7 adalah seorang Kristen yang letih. Ia berkata, “Sebab menghendaki yang baik memang ada padaku, tetapi melakukan apa yang baik, tidak” (Rm. 7:18). Setiap hari ia bertekad berbuat baik, tetapi tidak berhasil. Akhirnya ia hanya dapat mengeluh, “Aku, manusia celaka!” (ayat 24). Padahal menjadi orang Kristen tidak berarti meletakkan seorang yang nafsani di surga untuk menjadi budak. Untung tidak ada seorang pun yang nafsani yang dapat masuk ke dalam surga, seandainya bisa masuk, pasti ia ingin cepat-cepat keluar lagi, sehari pun tidak kerasan, sebab tabiatnya tidak sama dengan tabiat Allah, opininya berbeda dengan opini Allah, caranya tidak sesuai dengan cara Allah, pendapatnya pun berlainan dengan pendapat Allah, mana mungkin ia tahan terhadap permintaan Allah? Ia sama sekali tidak berdaya hidup di hadapan Allah, ia pasti melarikan diri.

Akan tetapi, di sini ada berita Injil mengatakan kepada Anda: Allah tidak menginginkan Anda berbuat baik, Allah juga tidak menghendaki Anda bertekad untuk berbuat baik; Allah hanya menghendaki Kristus hidup di dalam Anda. Allah tidak memperhatikan masalah berbuat baik atau tidak berbuat baik, Allah memperhatikan siapa yang berbuat baik. Allah tidak menganggap sudah cukup asal ada perbuatan baik, melainkan siapa yang melakukan perbuatan itu?

Karena itu, cara Allah bukan menghendaki kita meniru Kristus, berbuat mirip Kristus, pun bukan menghendaki kita berlutut mohon Tuhan memberi kekuatan agar kita dapat berbuat seperti Kristus. Cara Allah ialah menghendaki kita, “Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.” Dapatkah Anda membedakan hal ini? Bukan meniru kehidupan Kristus, juga bukan memberi kekuatan kepada Anda agar Anda dapat memperhidupkan hidup itu, melainkan sama sekali bukan Anda yang hidup. Allah tidak membiarkan Anda, manusia ini, hidup di hadapan-Nya. Bukan Anda, manusia ini, yang datang ke hadapan Allah, melainkan Kristus hidup di dalam Anda dan datang ke hadapan Allah. Bukan kita meniru Kristus, juga bukan kita beroleh kekuatan Kristus, melainkan Kristus hidup di dalam kita.

Inilah kehidupan orang Kristen, yaitu bukan aku yang hidup, melainkan Kristus yang hidup. Tadinya aku yang hidup, bukan Kristus; sekarang bukan aku yang hidup, melainkan Kristus. Jadi, hari ini telah terjadi pergantian hidup. Kalau seseorang tidak dapat berkata, “Bukan lagi aku yang hidup, melainkan Kristus,” ia masih belum mengetahui apa kekristenan itu, ia belum mengetahui apa hayat Kristus, dan belum mengetahui apa kehidupan orang Kristen. Ia hanya berharap untuk dapat mencapai “bukan lagi aku yang hidup, melainkan Kristus”. Paulus tidak mengatakan dirinya ingin berbuat sesuatu untuk mencapai taraf ini, melainkan inilah cara kehidupannya. Caranya tidak lain ialah dirinya sendiri tidak hidup, dan membiarkan Kristus yang hidup.

III. AKU TELAH DISALIBKAN DENGAN KRISTUS

Boleh jadi ada orang bertanya, bagaimana baru dapat mencapai “namun sekarang aku hidup, tetapi bukan lagi aku”? Bagaimanakah “aku” ini bisa keluar? Jawaban pertanyaan ini justru pada kalimat pertama — Galatia 2:19b — “Aku telah disalibkan dengan Kristus.” Jika aku tidak disalibkan dengan Kristus, aku tidak akan keluar, dan aku tetap aku. Bagaimana bisa mengatakan “bukan lagi aku”? Itu hanya karena “aku telah disalibkan dengan Kristus”.

Mengenai perihal kita disalibkan dengan Kristus harus ada kerja sama dalam dua aspek, barulah hal itu bisa menjadi pengalaman kita. Dengan satu aspek saja tidak cukup, haruslah dua aspek.

Mata batiniah kita harus tercelik dan tampak ketika Tuhan Yesus mati di atas salib, Allah telah menaruh kita ke dalam Kristus, dan kita telah disalibkan bersama Dia; ini pekerjaan di pihak Allah. Anda percaya Tuhan Yesus mati bagi Anda, menanggung dosa Anda, itulah perkara yang terjadi sekitar seribu sembilan ratus tahun lebih yang lalu. Demikian pula, ketika Tuhan Yesus disalibkan, Allah juga telah menaruh Anda di dalam Tuhan Yesus. Sebagaimana dosa Anda telah dibereskan pada saat itu, manusia Anda juga telah dibereskan pada saat itu. Kapan Allah meletakkan dosa Anda ke atas diri-Nya, saat itu juga Allah menaruh diri Anda ke dalam-Nya. Dosa Anda telah dibereskan di atas salib, manusia Anda pun telah dibereskan di situ. Kita harus ingat perkataan Roma 6:6, “Karena kita tahu bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan.” Kita bukan mengharapkan penyaliban dengan Kristus, melainkan telah disalibkan dengan Kristus, dan fakta ini tidak berubah selama-lamanya. Ketika Kristus mati di atas salib, Allah meletakkan kita di dalam Kristus, maka kita pun telah mati di atas salib.

Misalkan, Anda menulis beberapa huruf besar pada selembar kertas, kalau Anda merobek-robek kertas itu, huruf-huruf itu pasti ikut terobek. Alkitab memberi tahu kita bahwa di atas tirai Bait Suci tersulam gambar kerub (Kel. 26:1); dan ketika Tuhan wafat, tirai itu terbelah (Mat. 27:51), sehingga kerub itu pun turut terbelah. Tirai melambangkan tubuh Kristus (Ibr. 10:20). Kerub mempunyai empat wajah: wajah manusia, wajah singa, wajah lembu, dan wajah elang (Yeh. 1:10, 10:20-21). Semua itu melambangkan makhluk ciptaan. Ketika tubuh Tuhan Yesus terbelah, Allah menaruh seluruh makhluk ciptaan-Nya di dalam-Nya, karena itu mereka pun turut terbelah. Kematiannya adalah “mengalami maut bagi semua manusia” (Ibr. 2:9. ‘bagi setiap hal’ — terjemahan J.N. Darby). Jadi, segenap ciptaan lama telah usai. Bertahun-tahun lamanya Anda adalah seorang yang tidak mampu berbuat baik, dan yang selalu gagal dalam kehidupan seorang Kristen, tetapi sekarang Anda tampak Allah telah menyalibkan Anda bersama dengan Kristus. Ketika Kristus terpaku di atas salib, segenap ciptaan lama telah terbelah, Anda pun turut terbelah di sana.

Anda harus percaya akan kebenaran ini. Mata Anda harus tercelik dan tampak bahwa dosa Anda telah berada di atas diri Kristus, manusia Anda pun telah berada di atas diri Kristus. Dosa maupun manusia Anda telah berada di atas salib. Dosa Anda telah ditanggung, manusia Anda pun telah mati tersalib, perkara itu telah digenapkan oleh Tuhan Yesus. Kegagalan kebanyakan orang Kristen justru disebabkan mereka selalu memandang pada diri sendiri. Orang yang beriman seharusnya memandang pada salib dan pekerjaan yang telah digenapkan di dalam Kristus. Kristus telah mati, kita pun telah mati!

Mengapa hari ini “manusia” Anda masih tetap hidup? Anda telah mati tersalib, mengapa Anda masih tetap hidup? Untuk memecahkan masalah ini, Anda perlu iman dan perlu menggunakan tekad Anda, yaitu meletakkan diri Anda di pihak Allah. Jika Anda setiap hari memandang pada “manusia” Anda, setiap hari mengharapkannya berbuat baik, tentu ia akan tetap hidup, ia tidak akan mati. Apakah artinya mati? Mati berarti orang telah menjadi lemah sedemikian rupa, sehingga tidak dapat lemah lagi, yaitu lemah sampai ke titik terakhir. Banyak orang tidak mengakui kelemahan dirinya sendiri, karena ia masih mempunyai begitu banyak permintaan terhadap dirinya sendiri, itu berarti ia belum mati.

Roma 6 mengatakan bahwa Allah menyalibkan kita bersama dengan Kristus. Tetapi dalam Roma 7 ada seseorang yang masih ingin bertekad. Allah telah menyalibkannya hingga mati, tetapi ia masih ingin berbuat baik. Ia seolah-olah tidak bisa mati, namun ia juga tidak bisa berbuat baik. Betapa baiknya kalau ia bisa berkata, “Tuhan, aku tidak berdaya, aku percaya bahwa aku memang tidak berdaya. Tuhan, aku tidak mampu berbuat baik, aku pun tidak bertekad untuk berbuat baik.” Akan tetapi, Roma 7 mengisahkan seseorang yang tidak rela mati. Allah telah menyalibkan manusia lama Anda, tetapi Anda sendiri tidak terima, Anda tetap bertekad untuk berbuat baik. Hari ini banyak orang Kristen yang tetap ingin berbuat baik, padahal itu tidak mungkin. Itulah yang membuat Allah tidak berdaya.

Misalkan, ada seseorang yang tidak bisa sabar, apa yang ia perbuat? Kalau ia ingin sabar, lalu berusaha dengan sekuat tenaga untuk beroleh kesabaran; ketika berdoa, ia mohon diberi kesabaran; ketika bekerja, selalu memikirkan untuk sabar. Jika demikian, ia akan semakin tidak dapat sabar. Seharusnya ia berkata, “Tuhan, Engkau telah menyalibkan aku, manusia yang tidak dapat sabar ini. Memang aku seorang yang tidak dapat sabar, sekarang aku tidak mau sabar lagi, aku pun tidak memikirkan hal itu lagi.” Inilah jalan kemenangan.

Tuhan telah menyalibkan Anda, maka Anda wajib berkata, “Amin!” Jika Anda tetap ingin memiliki kesabaran bersandarkan diri sendiri, itu tidak mungkin. Allah menganggap Anda tidak bisa, Ia ingin menyalibkan Anda, maka Anda akan salah besar jika tetap ingin mencoba bersabar. Allah telah menganggap Anda tidak bisa berbuat baik, maka Ia hanya dapat menyalibkan Anda. Tetapi, Anda masih mengira diri sendiri dapat berbuat baik, dan bertekad dengan meronta-ronta, itulah perbuatan yang amat bodoh! Jika Allah menganggap Anda tidak bisa, Anda harus mengakui bahwa Anda tidak bisa; inilah yang benar. Allah memandang Anda harus mati, Anda lalu berkata, “Amin, memang aku harus mati.” Inilah yang benar. Salib merupakan vonis Allah terhadap kita. Menurut pandangan Allah, Anda tidak bisa, kalau Anda bisa, tentu Ia tidak menyalibkan Anda. Allah memandang Anda harus mati, karena itu Ia menyalibkan Anda. Pandangan Anda seharusnya sesuai dengan pandangan Allah. Saudara saudari, Anda harus dipimpin Allah sedemikian rupa sehingga Anda dapat menerima keputusan Allah itu.

Maka di sini terdapat dua aspek:

1.

Kristus telah mati tersalib, aku pun telah mati tersalib; inilah pekerjaan Allah.

2.

Aku harus mengakui perkara ini, dan berkata, “Amin!”

Kedua aspek di atas harus seiring, barulah pekerjaan Allah atas diri kita bisa berhasil. Kalau Anda selalu mengganggu Dia, yakni selalu ingin bertekad untuk berbuat baik, sabar, atau merendahkan diri, maka pekerjaan Kristus tidak mungkin berhasil di atas diri Anda. Tekad Anda untuk merendahkan diri atau sabar itu telah merusak pekerjaan-Nya. Jika Anda menundukkan kepala dan berkata, “Tuhan, Engkau berkata bahwa aku harus disalibkan, aku juga berkata bahwa aku harus disalibkan. Engkau berkata bahwa aku tidak berguna, aku juga berkata bahwa aku tidak berguna. Engkau berkata bahwa aku tidak dapat sabar, maka sejak kini aku tidak lagi ingin bersabar. Engkau berkata bahwa aku tidak dapat merendahkan diri, sejak kini aku tidak ingin berusaha merendahkan diri, aku adalah orang yang demikian, bertekad pun tidak berguna, aku hanya layak mati di atas salib.” Kalau demikian, Kristus pasti dapat diekspresikan dari diri Anda.

Jangan menganggap ini adalah satu perkara yang sukar. Ketahuilah, ini adalah pelajaran yang harus dipelajari setiap saudara dan saudari setelah beroleh selamat. Sejak awal harus belajar: aku tidak hidup, melainkan membiarkan Tuhan yang hidup. Kesulitan yang mendasar terletak pada banyaknya orang Kristen yang belum putus asa terhadap dirinya sendiri, sehingga tetap mencoba untuk bertekad. Tuhan Yesus sudah sejak dulu putus asa terhadapnya, tetapi ia masih saja berusaha dan mencari akal. Berkali-kali jatuh, berkali-kali bangun; berulangulang berbuat dosa, berulang-ulang bertekad berbuat baik. Pada suatu hari Allah membelaskasihaninya, ia tampak: Allah memandang aku tidak bisa, aku juga memandang diriku tidak bisa; Allah memandang aku tidak berguna kecuali mati, aku juga memandang diriku tidak berguna kecuali mati. Dengan demikian barulah ia dapat mengaku di hadapan Allah, “Bukan hanya Engkau telah menyalibkan aku, aku sendiri pun tidak ingin hidup lagi. Aku telah disalibkan dengan Kristus. Sejak kini bukan lagi aku yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku!”

Kita sudah bertahun-tahun salah, berbuat dosa, lemah, congkak, dan menjadi pemarah, seharusnya kita sudah putus asa terhadap diri sendiri. Kita harus datang ke hadapan Tuhan dan berkata, “Aku sudah cukup berusaha, sungguh tidak berguna; hari ini aku sudah tidak mau menghiraukannya lagi, Engkaulah yang melakukan! Aku telah mati di atas salib, sejak kini, biarlah Engkau yang hidup!” Inilah yang dimaksud dengan “Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.”

IV. HIDUP OLEH IMAN DALAM ANAK ALLAH

Dalam Galatia 2:20 masih ada dua kalimat yang sangat penting — “Hidup yang sekarang aku hidupi di dalam daging adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah . . .” (Tl.). Kristus hidup di dalam kita, sejak kini kita hidup oleh iman dalam Anak Allah; setiap hari kita percaya bahwa Anak Allah hidup di dalam kita. Kita berkata kepada Tuhan, “Tuhan, aku percaya bahwa Engkau hidup bagiku. Tuhan aku percaya bahwa Engkau menjadi hayatku, aku pun percaya bahwa Engkau hidup di dalamku.” Kita percaya demikian, kita pun hidup demikian. Peristiwa apa pun yang kita jumpai, kita tidak bergerak sendiri. Pelajaran utama dalam Roma 7 adalah supaya kita tidak bertekad lagi; sedang pengajaran dasar dalam Roma 7 mengatakan bahwa bertekad terus-menerus tidak ada gunanya, karena itu, sejak kini tidak perlu bertekad lagi. Kalau bergerak sendiri tidak ada gunanya, maka sejak kini kita jangan bergerak lagi.

Tujuan Iblis mencobai kita, tidak saja menyuruh kita berbuat dosa, lebih-lebih menyuruh manusia lama kita bergerak. Karena itu, kapan ada pencobaan tiba, kita harus belajar menolak untuk bergerak. Berkatalah kepada Tuhan, “Tuhan, itu bukan urusanku, melainkan urusan-Mu. Tuhan, aku mengharap agar Engkau yang hidup bagiku.” Bagaimanapun kita harus belajar menengadah kepada-Nya, jangan bergerak sendiri. Keselamatan kita tergantung pada iman, bukan perbuatan. Ketika kita diselamatkan, seluruhnya adalah karena kita menengadah; hari ini kita pun hidup karena menengadah. Dalam hal beroleh selamat bukan oleh perbuatan kita, melainkan oleh perbuatan Tuhan. Demikian pula, hari ini kita hidup di atas bumi, bukan kita yang hidup, melainkan Tuhan. Kita harus menengadah kepada Tuhan, Sang Penyelamat kita dan berkata, “Bukan aku, melainkan Engkau!”

Bila Anda sudah mengatakan demikian, tetapi Anda sendiri tetap bergerak, maka sia-sialah perkataan Anda. Anda sendiri harus tidak bergerak lagi, perkataan Anda baru berguna. Saudara saudari, ingatlah, kegagalan bukan karena kekurangan perbuatan manusia, melainkan justru karena perbuatan manusia terlalu banyak. Kapan manusia mempunyai perbuatannya sendiri, anugerah Allah tidak akan tercurah ke atas dirinya, dosa-dosanya pun tidak akan beroleh pengampunan. Demikian pula, apabila kita banyak berbuat, dan kita bergerak sendiri, hayat Tuhan tidak mungkin terekspresikan. Ini satu prinsip.

Efektivitas salib selalu tidak dapat dinyatakan di atas diri orang yang mengandalkan perbuatannya sendiri. Bila kita selalu ingin berbuat baik, kita tidak mungkin beroleh selamat; sebaliknya, bila kita tidak mengandalkan diri sendiri dan hanya menengadah kepada Tuhan, kita pasti beroleh selamat. Hari ini masalahnya terletak di sini. Kalau bukan salib yang bekerja di dalam Anda, dan kalau bukan hayat Kristus yang bergerak di dalam Anda, tetapi Anda sendiri yang bergerak dan berbuat, maka perkataan ini akan sia-sia belaka. Kita perlu belajar menyalahkan diri sendiri, kita juga harus mengakui bahwa diri sendiri adalah orang yang tidak mungkin menang. Karena itu, kita tidak bertekad lagi, melainkan menengadah dan berkata, “Tuhan, aku menengadah agar Engkau hidup di dalamku! Semua kehidupanku Engkaulah yang menggantikan aku. Engkau yang menggantikan aku menang! Engkau yang mengekspresikan hayat-Mu sendiri!” Anda berkata demikian, Tuhan akan melakukan demikian. Jika perbuatan Anda berlawanan dengan iman Anda, maka Tuhan tidak dapat bekerja. Hal ini perlu ditanggulangi dengan tuntas.

Kita perlu setiap hari percaya dan setiap hari berkata kepada Tuhan, “Tuhan, aku tidak berguna! Aku menerima salib-Mu. Tuhan, jagalah agar aku tidak bergerak lagi. Tuhan, Engkaulah yang menjadi Tuhan, Engkaulah yang hidup!” Jika Anda bisa percaya, menengadah, dan bersandar demikian, niscaya Anda setiap hari dapat bersaksi dan berkata, “Bukan lagi aku yang hidup, melainkan Dia yang hidup!”