JABATAN IMAM
Dalam Alkitab ada satu jabatan yang disebut jabatan imam. Maksud dari jabatan ini tidak lain ialah adanya segolongan manusia yang dipisahkan sama sekali dari dunia dan khusus bertugas melayani Allah. Orang-orang yang demikian tidak memiliki profesi atau kewajiban lain selain melayani Allah. Alkitab menyebut mereka imam.
I. SEJARAH JABATAN IMAM DALAM ALKITAB
Mulai dari Kitab Kejadian, Allah telah memiliki imam. Melkisedek adalah imam Allah yang pertama. Pada masa Abraham, Melkisedek telah memisahkan diri sepenuhnya untuk khusus melayani Allah.
1. Mulai dari Kitab Kejadian Hingga Kenaikan Tuhan
Mulai dari Kitab Kejadian hingga bani Israel mendirikan kerajaan selalu ada imam. Pada saat Tuhan datang ke bumi hingga kenaikan-Nya, tetap ada insan. Di bumi, keimaman ini berlangsung demikian lamanya. Alkitab juga mewahyukan kepada kita, setelah kenaikan Tuhan Yesus ke surga, justru Ia sendiri menjadi imam di hadapan Allah. Dengan perkataan lain, Tuhan Yesus di surga mutlak melayani Allah.
2. Pada Zaman Gereja
Pada zaman gereja, kita juga tampak jabatan imam berlangsung terus, tidak pernah berhenti.
3. Pada Kerajaan Seribu Tahun
Pada awal Kerajaan Seribu Tahun, orang-orang yang pertama kali dibangkitkan, semuanya menjadi imam-imam Allah dan Kristus, bahkan akan memerintah sebagai raja bersama Kristus selama seribu tahun (Why. 20:6). Jadi, selama seribu tahun itu anak-anak Allah tetap menjadi imam-imam Allah dan Kristus. Ditinjau dari pihak dunia, mereka menjadi raja; ditinjau dari pihak Allah, mereka menjadi imam. Jabatan imam tidak pernah berubah, mereka adalah untuk melayani Allah.
4. Pada Langit Baru dan Bumi Baru
Istilah imam ini baru tidak tertampak ketika tibanya langit baru dan bumi baru. Pada waktu itu segenap anak-anak Allah, segenap hamba Allah, tidak melakukan hal lain selain melayani Dia. Dalam Yerusalem Baru setiap hamba-Nya akan melayani Dia. Ini berarti di sana anak-anak Allah akan tetap melayani Allah.
Jadi, di sini Anda tampak satu perkara yang sangat ajaib, yakni jabatan imam ini dimulai dari Melkisedek yang tidak bersilsilah, tidak berawal, tidak berkesudahan, dan tidak bersejarah, hingga zaman seribu tahun. Dalam arti sesungguhnya, hal ini berlangsung terus hingga kekekalan.
II. KERAJAAN IMAM BERUBAH MENJADI KELUARGA IMAM
Menurut wahyu Alkitab, Allah tidak saja menghendaki satu atau dua orang menjadi imam, melainkan segenap umat-Nya menjadi imam.
1. Allah Memilih Bani Israel Menjadi Kerajaan Imam
Ketika bani Israel keluar dari Mesir dan tiba di Gunung Sinai, Allah berfirman kepada mereka melalui Musa, “Kamu akan menjadi bagi-Ku kerajaan imam dan bangsa yang kudus. Inilah semuanya firman yang harus kaukatakan kepada orang Israel” (Kel. 19:6). Allah mengatakan kepada bani Israel bahwa mereka adalah kerajaan imam. Perkataan ini agaknya tidak mudah dimengerti. Mengapa Allah mengatakan mereka adalah kerajaan imam? Ini tidak lain berarti semua warga kerajaan adalah imam. Jadi, dalam kerajaan atau negara ini tidak ada orang yang biasa, semuanya adalah imam. Inilah tujuan Allah.
Ketika Allah memilih bani Israel menjadi umat-Nya, Ia hanya membentangkan satu tujuan di hadapan mereka: kerajaan ini berbeda dengan kerajaan lainnya di dunia, kerajaan ini adalah kerajaan imam. Semua orang yang ada di dalam kerajaan ini adalah imam. Ini berarti setiap orang dalam kerajaan ini hanya memiliki satu profesi, yaitu melayani Allah. Allah berkenan memilih orang-orang untuk melayani Dia di bumi ini. Allah senang melihat di bumi ini ada orang-orang yang hidupnya khusus bagi pekerjaan-Nya. Allah menghendaki seluruh anak-anak-Nya menjadi imam, melayani Dia.
Setibanya bani Israel di Gunung Sinai, Allah segera memberi tahu mereka bahwa Ia akan menjadikan mereka kerajaan imam. Ini adalah perkara yang amat indah! Negara Inggris disebut negara maritim, negara Amerika disebut negara dollar, negara China disebut negara tata krama, dan negara India disebut negara filsafat. Tetapi, di sini ada satu negara disebut “negara imam”. Betapa indahnya ini! Dalam negara atau kerajaan ini tidak ada seorang pun yang bukan imam. Baik laki-laki, baik perempuan, baik orang dewasa atau anak-anak, semuanya adalah imam. Orang-orang dalam kerajaan ini tidak melakukan pekerjaan lain, kecuali melayani Allah. Orang-orang dalam kerajaan ini yakni orang dewasa maupun anak-anak tidak melakukan pekerjaan lain kecuali mempersembahkan kurban, melayani Allah. Ini sungguh satu perkara yang menakjubkan.
Setelah Allah mengatakan kepada mereka bahwa Ia akan menjadikan mereka kerajaan imam, pada pasal berikutnya, Allah lalu menyuruh Musa naik ke atas gunung, dan Allah menuliskan kesepuluh hukum pada dua loh batu untuk bani Israel. Musa berada di atas gunung selama empat puluh hari empat puluh malam. Allah sendiri yang menuliskan kesepuluh hukum itu. Yang pertama ialah tidak boleh ada allah lain, kemudian tidak boleh membuat berhala . . . , hukum-hukum itu telah Allah tulis satu per satu.
2. Bani Israel Beribadah kepada Berhala
Ketika Musa berada di atas gunung, karena ia tidak cepat turun, maka umat Israel di bawah gunung menduga bahwa padanya mungkin telah terjadi sesuatu. Mereka lalu berkata kepada Harun, “Mari, buatlah untuk kami allah, yang akan berjalan di depan kami” (Kel. 32:1). Harun menuruti permintaan mereka dan mengumpulkan banyak anting-anting emas untuk kemudian membuat sebuah anak lembu emas. Umat itu lalu menyembah anak lembu emas itu, dan berkata, “Hai Israel, inilah allahmu, yang telah menuntun engkau keluar dari tanah Mesir” (Kel. 32:4).
Mulailah mereka menyembah patung berhala. Mereka duduk, makan, minum, kemudian bangun bersukaria, sebab pada hari itu terbentang di depan mereka satu allah yang dapat dilihat. Allah yang diperkenalkan Musa kepada mereka seolah-olah tidak praktis, sebab tidak diketahui di mana Ia berada dan sukar menemui-Nya. Hari itu, bahkan Musa yang menyembah-Nya pun tidak kelihatan. Sekarang sangat baik, ada satu anak lembu emas yang kelihatan yang dapat disembah. Dengan perkataan lain, Allah telah melantik mereka menjadi imam, namun sebelum mereka menjadi imam Allah, mereka sudah menjadi imam anak lembu emas. Allah menghendaki mereka menjadi kerajaan imam, tetapi sebelum mereka menjadi kerajaan imam Allah, mereka sudah mulai melayani patung anak lembu emas. Di luar Allah mereka memiliki allah lain, di luar Allah mereka telah memiliki sasaran penyembahan lain.
Demikianlah konsepsi manusia terhadap Allah. Manusia selalu ingin membuat satu allah bagi dirinya sendiri, manusia senang menyembah allah ciptaannya sendiri. Manusia tidak menerima kekuasaan dan kedudukan penciptaan Allah.
3. Allah Mengaruniakan Jabatan Imam kepada Suku Lewi
Ketika Musa masih berada di atas gunung, Allah menyuruhnya turun. Dengan membawa kedua loh hukum di tangannya, Musa turun dari gunung. Tetapi, ketika ia tiba di dekat perkemahan dan melihat keadaan umat itu, bangkitlah amarahnya sehingga kedua loh batu itu dilempar dan dipecahkannya. Kemudian Musa berdiri di pintu gerbang perkemahan itu dan berkata, “Siapa yang memihak kepada TUHAN datanglah kepadaku!” Lalu berkumpullah kepadanya seluruh suku Lewi. Musa berkata lagi kepada mereka, “Baiklah kamu masing-masing mengikatkan pedangnya pada pinggangnya dan berjalanlah kian ke mari melalui perkemahan itu dari pintu gerbang ke pintu gerbang, dan biarlah masing-masing membunuh saudaranya dan temannya dan tetangganya. Tidak peduli ia siapa, setiap orang yang dijumpai, dibunuh; karena orang-orang itu telah menyembah berhala, menyembah anak lembu emas. Tidak peduli bagaimana hubungannya dengan mereka, mereka harus menghunus pedang membunuhnya.”
Banyak orang merasa hal ini terlampau berat. Siapa yang sampai hati membunuh saudaranya atau temannya sendiri? Sebelas suku dari kedua belas suku itu tidak mau bertindak demikian. Mereka merasa bahwa harga ini terlalu besar. Akhirnya hanya suku Lewi yang menghunus pedang dan membunuhi saudara-saudara mereka. Pada hari itu tewaslah kira-kira tiga ribu orang. Orang-orang itu adalah saudara, kerabat, dan teman suku Lewi.
Perhatikanlah, setelah terjadinya kasus anak lembu emas, Allah segera memberi tahu Musa bahwa mulai hari itu Kerajaan Israel tidak dapat menjadi kerajaan imam lagi. Walaupun perkataan-Nya tidak langsung demikian, namun sejak saat itu, jabatan imam telah dikaruniakan-Nya kepada suku Lewi. Jabatan imam yang pada mulanya diberikan kepada kerajaan Israel, kini hanya dikaruniakan kepada keluarga Harun dari suku Lewi saja.
4. Sejak Hari Itu Umat Allah Terpisah dengan Imam Allah
Sejak itu, dalam kerajaan Israel terdapat dua jenis orang yang berbeda: umat Allah dan imam Allah. Pada mulanya Allah menghendaki setiap umat-Nya menjadi imam, Ia tidak bermaksud memisahkan umat-Nya dengan imam-Nya. Allah menghendaki agar seluruh kerajaan itu menjadi kerajaan imam, umat maupun imam Allah adalah satu. Siapa yang menjadi umat Allah, dia juga imam Allah. Asalkan Anda umat Allah, Anda juga imam Allah. Menjadi umat Allah berarti menjadi imam Allah. Tidak ada orang yang telah menjadi umat, tetapi bukan imam. Namun, karena banyak orang yang tamak akan dunia, memikirkan kasih manusia, meninggalkan kesetiaan, dan melayani berhala, maka terpisahlah umat Allah dengan imam Allah. Jika kasih seseorang kepada Tuhan tidak melebihi kasihnya kepada ayah, ibu, istri, anak, saudara laki-laki, dan saudara perempuan, ia tidak layak menjadi murid Tuhan. Banyak orang tidak dapat memenuhi syarat ini dan tidak dapat membayar harga ini. Karena itu, sejak hari itu dalam kerajaan Israel, umat Allah dengan imam Allah telah terpisah.
5. Imam Menjadi Masalah Satu Keluarga
Asalnya kerajaan imam, sejak hari itu telah berubah menjadi suku imam. Semula ada kerajaan imam, sejak hari itu berubah menjadi keluarga imam. Imam telah menjadi masalah satu keluarga, bukan masalah satu kerajaan. Bagi suku Lewi, umat Allah dengan imam Allah bersatu padu, umat Allah juga adalah imam Allah. Tetapi bagi kesebelas suku lainnya, umat Allah adalah umat Allah, mereka tidak dapat menjadi imam Allah. Ini adalah satu perkara yang sangat serius. Seseorang yang telah percaya kepada Tuhan, telah menjadi umat Allah, tetapi orang ini tidak menjadi imam Allah. Ini merupakan satu perkara yang sungguh serius.
III. CIRI-CIRI SISTEM IMAM — HIERARKI
Sejak keluarnya bani Israel dari Mesir hingga kedatangan Tuhan Yesus di bumi ini, selain suku Lewi tidak ada suku lainnya yang dapat melakukan tugas imam. Mereka harus melalui perantaraan imam, baru dapat mempersembahkan sesuatu kepada Allah. Jika mereka ingin datang kepada Allah untuk mengaku dosa, mereka harus melalui perantaraan imam. Untuk memisahkan diri dari dunia, juga tidak dapat, sebab mereka tidak berhak menyentuh minyak urapan dengan sebuah jari pun. Hanya imamlah yang layak mengurapkan minyak itu bagi mereka, setelah itu barulah mereka dapat dikuduskan. Semua masalah rohani tidak dapat mereka tangani sendiri, mereka harus melalui imam.
Sebab itu, dalam Perjanjian Lama, bagi bani Israel terdapat satu ciri khusus, yakni Allah terpaut jauh dan tidak dapat dihubungi oleh setiap orang. Dalam Perjanjian Lama Anda tampak terbentuknya satu “sistem imam”, saya menamakannya “sistem hierarki”. Artinya, manusia tidak dapat langsung datang ke hadirat Allah. Jika umat Allah ingin datang ke hadirat Allah, mereka harus melalui imam. Umat Allah tidak dapat langsung berkomunikasi dengan Allah. Allah datang kepada manusia melalui imam, manusia datang kepada Allah juga melalui imam. Di antara Allah dengan manusia ada suatu sistem hierarki. Satu sama lain tidak dapat berkomunikasi secara langsung. Di antara Allah dengan manusia telah terbentuk satu sistem hierarki.
Dalam tujuan Allah yang semula tidak ada hal ini. Semula Allah menghendaki umat-Nya datang kepada-Nya secara langsung, Ia juga secara langsung datang kepada umat-Nya. Tetapi hari ini telah muncul tiga pihak: umat Allah datang kepada Allah melalui imam, Allah datang kepada umat-Nya juga melalui imam. Allah tidak dapat berkomunikasi secara langsung dengan manusia.
IV. PERUBAHAN SISTEM IMAM
Ketidak-mungkinan umat Allah datang secara langsung ke hadirat Allah sudah berlangsung hampir 1.500 tahun, yaitu sejak zaman Musa hingga kedatangan Tuhan Yesus. Hanya ada satu keluarga yang menjadi imam, setiap orang harus melalui mereka baru dapat datang ke hadirat Allah. Bila seseorang secara langsung datang ke hadirat Allah, ia pasti mati. Pada masa itu, jabatan imam adalah jabatan yang sangat besar. Manusia tidak dapat langsung datang ke hadirat Allah, harus melalui imam baru dapat. Alangkah tinggi dan terhormatnya jabatan imam! Tanpa imam, orang tidak mungkin datang ke hadirat Allah. Sampai zaman Perjanjian Baru, manusia bisa beroleh selamat dan tertebus. Tiba-tiba kita mendengar firman yang mengatakan, “Biarlah kamu juga dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani, bagi suatu imamat kudus, untuk mempersembahkan persembahan rohani yang karena Yesus Kristus berkenan kepada Allah” (1 Ptr. 2:5).
1. Dalam Zaman Perjanjian Baru,
Setiap Orang yang Beroleh Anugerah Adalah Imam
Petrus memberi tahu kita bahwa Kristus adalah dasar dari gereja. Dialah batu yang dibuang oleh tukangtukang bangunan, namun telah menjadi batu penjuru. Kita semua adalah batu-batu hidup yang disusun dan dibangun menjadi rumah rohani. Juga dikatakan, “kamu adalah imamat yang kudus”. Di sini tiba-tiba ada satu suara dari surga yang memberi tahu kita bahwa semua orang yang beroleh anugerah adalah imam Allah. Setiap orang yang menjadi batu hidup, yang berhubungan dengan rumah yang rohani, adalah imam Allah.
2. Gereja Memperoleh Kembali Jabatan Imam yang Umum
Di sini tiba-tiba Anda tampak Allah memberi satu janji, janji yang telah dikesampingkan selama 1.500 tahun, kini diangkat lagi. Apa yang terhilang dari bani Israel, telah didapatkan kembali oleh gereja. Jabatan imam yang umum ini telah terbuang dari bani Israel, tetapi hari ini, dalam zaman Perjanjian Baru, tiba-tiba ada suara dari surga yang mengatakan bahwa jabatan imam yang umum ini telah dipulihkan, setiap orang yang menerima anugerah dan beroleh selamat disebut imam.
3. Gereja Adalah Kerajaan Imam
Dalam Wahyu 1:6 tercantum pula perkataan yang serupa, “Dan telah membuat kita menjadi suatu kerajaan, menjadi imam-imam bagi Allah, Bapa-Nya.” Asalnya segenap kerajaan Israel adalah imam, tetapi kemudian hilang. Hari ini, gereja adalah satu kerajaan imam. Apa yang hilang dari bani Israel di depan patung lembu emas, hari ini diperoleh kembali sepenuhnya oleh gereja dari Tuhan Yesus. Hari ini seluruh gereja adalah imam. Kerajaan imam yang ditetapkan Allah telah terpulih sepenuhnya.
4. Orang Kristen Hanya Memiliki Satu Profesi, yaitu Melayani Allah
Apa yang tidak diperoleh Allah dari bani Israel, telah diperoleh-Nya di dalam gereja. Hari ini gereja adalah kerajaan imam. Seluruh gereja adalah imam. Apakah artinya ini? Ini berarti segenap orang yang beroleh anugerah hanya memiliki satu profesi, yaitu melayani Allah. Saudara saudari, ketahuilah, sebelum seseorang percaya Tuhan, jika ia seorang dokter, maka pekerjaannya ialah mengobati orang sakit; seorang jururawat, pekerjaannya ialah merawat; seorang guru, pekerjaannya ialah mengajar; seorang petani, pekerjaannya ialah bertani; seorang pedagang, pekerjaannya ialah berjual-beli. Tetapi ingatlah, begitu Anda menjadi orang Kristen, profesi Anda sama sekali telah berubah. Semua orang Kristen hanya memiliki satu macam profesi, yaitu melayani Allah. Saya melayani Allah di hadirat-Nya, seumur hidup saya adalah untuk tujuan yang rohani.
Karena itu, setiap orang Kristen hanya memiliki satu profesi, yaitu melayani Allah. Orang yang tadinya sebagai dokter, sejak kini tidak seharusnya mengharap menjadi dokter yang ternama. Menjadi dokter hanya untuk mempertahankan penghidupan jasmani, profesi sesungguhnya adalah menjadi imam di hadapan Allah. Seorang yang tadinya menjadi dosen atau guru, tidak seharusnya mengharap menjadi dosen atau guru yang ternama, melainkan harus baik-baik menuntut menjadi imam Allah. Mengajar di sekolah hanyalah profesi sambilan; profesi utama adalah melayani Allah. Semua pekerja, pedagang, petani, atau orang yang melakukan apa pun, bukan untuk semuanya itu lagi. Pada hakikatnya kita hanya memiliki satu profesi, yaitu melayani Allah.
5. Hanya Ada Satu Ambisi, yaitu Mencari Perkenan Tuhan
Saudara saudari, pada saat Anda menerima anugerah, pada hari itu juga Anda harus memecahkan profesi Anda yang semula. Sejak Anda menjadi orang Kristen, Anda tidak seharusnya memiliki ambisi atau tekad yang muluk-muluk. Anda tidak dapat berharap agar darinya Anda dapat menjadi orang yang luar biasa; Anda tidak dapat berharap agar dari bidang karier tertentu itu Anda bisa menjadi orang yang terkenal. Setelah Anda menjadi orang Kristen, Anda perlu seperti Paulus, yaitu hanya memiliki satu ambisi: “mencari perkenan Tuhan”. Kecuali ini tidak ada ambisi lain. Profesi duniawi saya telah pecah. Saya tidak berambisi menjadi orang yang terkenal, saya hanya bersedia menjadi pelayan Tuhan di hadapan-Nya.
V. KEMULIAAN JABATAN IMAM
Tidak lama setelah saya percaya Tuhan, saya selalu merasa jika saya ingin menasihati seseorang yang baru percaya, seolah-olah harus mengeluarkan tenaga yang sangat besar, dan seolah-olah saya harus memohon dan menganjuri mereka untuk melayani Allah sebaik-baiknya. Ketahuilah, hal pandangan Allah sama sekali berbeda dengan pandangan kita. Ketika bani Israel berdosa, Allah segera mengambil jabatan imam itu dari mereka. Ditinjau dari pandangan Allah, melayani Dia adalah keuntungan dan kemuliaan yang paling besar. Bila manusia gagal dan jatuh, Allah akan mengambil jabatan imam itu darinya. Allah tidak bermaksud menasihati, menganjuri, meminta, atau mencari perkenan manusia. Jika seorang manusia bisa menjadi imam-Nya, itu adalah kemuliaan manusia, bukan kemuliaan-Nya.
1. Menjadi Imam Berarti Diangkat oleh Allah
Karena itu ingatlah: ada orang, ketika ia mempersembahkan api asing, ia segera mati (Im. 10:1); ada orang, ketika ia masuk ke tempat kudus, ia segera mati; dan ada orang, ketika ia mempersembahkan kurban, ia pun mati. Dengan kata lain, selain imam, Allah tidak mengizinkan orang lain datang kepada-Nya. Dalam pandangan Allah, menjadi imam berarti Allah mempercayainya; menjadi imam berarti Allah menambahkan kemuliaan kepadanya; menjadi imam berarti Allah telah mengangkatnya. Jika ada orang ingin mencoba dengan kemauannya sendiri, ia akan segera mati. Ketika tabut perjanjian tergelincir, siapa saja menopangnya, ia segera mati.
2. Orang Bodoh Mengira
Melayani Berarti Memberi Perlakuan Istimewa kepada Allah
Banyak orang mengira jika mereka mempersembahkan diri kepada Allah, hal itu seakan-akan mengangkat Allah. Belasan tahun ini saya telah tampak banyak kebangunan rohani, tetapi saya merasa sangat tidak enak, karena aktivitas-aktivitas itu seolah-olah meminta orang-orang untuk melayani Allah. Banyak orang yang hanya menyumbangkan sedikit uang, lalu merasa seolah-olah telah memberi perlakuan istimewa kepada Allah. Banyak juga yang mempersembahkan dirinya untuk bekerja, namun mereka merasa seolah-olah telah memberi perlakuan istimewa kepada Allah. Ada yang melepaskan sedikit kedudukan di dunia, lalu merasa telah mengangkat Allah. Ia seolah-olah berkata, “Orang seperti saya ini, hari ini juga datang melayani Allah.” Ada orang yang meletakkan satu jabatan kecil di pemerintahan, lalu merasa telah mengangkat Tuhan. Ia juga seolah-olah berkata, “Orang seperti saya, (berkedudukan) juga melayani Tuhan.” Ketahuilah, demikian ini berarti buta, bodoh, dan gelap!
3. Melayani Allah Adalah Kemuliaan Kita yang sangat Besar
Kalau Allah yang memanggil kita agar kita menjadi imam yang melayani Dia, maka dengan merangkak pun kita harus datang kepada-Nya, sebab hal ini adalah kemuliaan kita yang sangat besar. Ini berarti Allah telah meninggikan kita! Ini tidak berarti bahwa dalam dunia ini ada orang yang dapat memberi sesuatu kepada Allah. Ini justru berarti Allah mau menerima orang itu, Allah sudi berkenan kepadanya. Inilah kemuliaan kita! Jika manusia seperti kita ini layak melayani Allah, itulah kemuliaan yang sangat besar. Ini benar-benar anugerah! Ini benar-benar Injil! Injil tidak hanya berarti Tuhan Yesus menyelamatkan saya, Injil juga berarti manusia-manusia yang seperti kita ini, sejak hari ini, dapat melayani Allah. Inilah Injil! Injil yang sangat besar!
VI. PEMELIHARAAN IMAM
1. Jika Kehilangan Jabatan Imam yang Umum,
Tidak Ada Gereja
Jadi, dalam gereja hari ini tidak lagi jabatan imam yang terbatas, yang ada ialah jabatan imam yang umum. Kerajaan Israel pernah mengalami kegagalan, hari ini gereja tidak boleh mengulangi kegagalan tersebut. Kegagalan kerajaan Israel dikarenakan terpisahnya umat Allah dengan imam Allah. Dalam gereja hari ini, umat Allah juga adalah imam Allah. Setiap orang haruslah sebagai imam. Ada berapa saudara di antara kita, imam juga harus ada sebanyak itu. Kita masing-masing harus datang kepada Allah untuk mempersembahkan persembahan rohani, mempersembahkan persembahan puji-pujian, dan menangani tugas-tugas rohani. Ini bukan jabatan yang selektif, melainkan setiap orang harus datang ke hadirat Allah, melayani Allah. Jika ada satu gereja yang bukan setiap anggotanya melayani Allah, itu bukanlah gereja.
Jika hari ini jabatan imam tidak diterapkan secara umum, maka tiadalah gereja. Gereja seharusnya tidak mengulangi kegagalan kerajaan Israel. Selama dua ribu tahun ini, jabatan imam tidak pernah lebih besar daripada kedudukan umat. Dalam sejarah gereja selama hampir dua ribu tahun, Anda sering melihat kedudukan umat terpisah lagi dengan jabatan imam, dan timbul lagi sistem hierarki di kalangan umat-Nya. Itulah yang disebut perbuatan pengikut-pengikut Nikolaus, atau ajaran pengikut-pengikut Nikolaus (Why. 2:6, 15) yang dibenci Tuhan.
2. Kita Tidak Dapat Menerima Sistem Hierarki Lagi
Saya harap saudara saudari bisa tampak dengan jelas, yakni kita tidak boleh membiarkan lagi adanya hierarki. Anda tidak boleh menerima hierarki, Anda tidak patut menyetujui adanya hierarki imam di antara anak-anak Allah dengan Allah. Hal ini mutlak tidak dapat kita terima! Anda harus tampak apa itu gereja. Gereja adalah sesuatu yang di dalamnya setiap anak-anak Allah menjadi imam. Bukan hanya seorang atau beberapa orang yang diundang menjadi pelaksana tugas-tugas rohani, sehingga jika Allah ingin berfirman kepada kita harus melalui mereka, dan jika kita ingin datang ke hadirat Allah untuk urusan rohani juga harus melalui mereka. Gereja tidak seharusnya menerima sistem hierarki yang sedemikian.
Ingatlah, perselisihan antara kita dengan denominasi-denominasi Kristen bukanlah mengenai masalah bentuk atau ritual, melainkan mengenai masalah isi atau realitas. Hari ini dalam denominasi-denominasi Kristen terdapat suatu sistem hierarki. Hanya segolongan orang tertentu yang melayani Allah, sedang semua lainnya menjadi “jemaat awam” atau “anggota gereja”. Walau “anggota gereja” ini juga adalah anak-anak Allah, namun mereka harus melalui segolongan orang yang disebut pelayan-pelayan Allah baru dapat datang ke hadirat Allah. Hari ini, dalam kebanyakan organisasi kekristenan, eksistensi sistem hierarki ini disetujui dan dibenarkan. Namun kita tidak dapat menerima sistem hierarki ini. Janganlah kita membuang anugerah yang Allah karuniakan kepada gereja dalam Perjanjian Baru seperti yang telah dilakukan orang Israel.
3. Jika Setiap Orang Melayani Allah Sistem Hierarki akan Terhapus
Jadi, kita harus menghapus sistem hierarki. Jika kita ingin menghapusnya, maka setiap kita harus menjadi penggantinya. Bila setiap orang telah menggantikannya, otomatis hierarki itu akan lenyap. Bagaimana supaya tiga pihak ini — Allah, imam dan umat — dapat dijadikan dua pihak? Tidak ada cara lain kecuali Anda berlutut dan berkata, “Tuhan, aku mau melayani Engkau, aku mau menjadi imam.” Bila setiap umat Allah menjadi imam, niscayalah tiga pihak itu akan menjadi dua pihak.
Sistem hierarki berasal dari dunia, daging, penyembahan berhala, dan kecintaan akan dunia. Bila semua saudara saudari sejak semula dapat menolak dunia dan berhala, mereka pasti dapat mempersembahkan diri kepada Allah dan mengatakan bahwa sejak hari ini hidup mereka di dunia ini adalah untuk melayani Allah. Dengan demikianlah sistem hierarki akan terhapus dengan sendirinya. Kalau setiap saudara saudari mengakui bahwa profesi mereka tidak lain adalah melayani Allah, maka ketika setiap umat Allah melayani Allah, niscayalah sistem hierarki itu akan tersingkir sama sekali.
4. Menjadi Orang Kristen Haruslah Menjadi Imam
Saya harap sejak semula Anda sudah menyadari bahwa Anda seharusnya tidak membiarkan sistem hierarki muncul. Sistem hierarki timbul dikarenakan kegagalan, kejatuhan, dan bertindak menurut kemauan sendiri. Dalam keadaan itu dengan sendirinya timbul segolongan orang melayani Allah, dan segolongan lagi tidak melayani Allah. Orang-orang yang tidak melayani Allah mengelola urusan duniawi, sedang mereka yang melayani Tuhan menangani urusan rohani. Golongan yang tidak melayani Tuhan paling banyak hanya menyumbangkan sedikit uang kepada mereka yang mengerjakan urusan rohani. Selebihnya ada yang berdagang, mengajar atau menjadi dokter. Masing-masing mengerjakan urusannya sendiri dan menempuh jalannya sendiri; seolah-olah sama sekali tidak ada sangkut-pautnya dengan pelayanan kepada Allah. Ada orang berketetapan untuk menjadi orang Kristen yang dianggapnya baik, yakni dalam seminggu meluangkan sedikit waktu untuk mengikuti kebaktian; jika ada uang, menyumbangkannya sedikit. Orang yang demikian jelas telah memisahkan umat Allah dengan imam Allah! Kita harus tampak, jika kita tidak menjadi orang Kristen, tidak ada yang perlu dikatakan lagi. Tetapi jika kita menjadi orang Kristen, maka segalanya harus kita serahkan. Kalau menjadi orang Kristen, haruslah menjadi imam.
VII. PEMULIHAN JABATAN IMAM
1. Tidak Ada Kesulitan dalam Gereja yang Semula
Kita harus waspada, bahaya kerajaan Israel selama dua ribu tahun ini juga merupakan bahaya gereja hari ini. Tidak lama setelah Tuhan terangkat, hingga ditulisnya Kitab Wahyu dan sesudah masa itu, seluruh anak-anak Allah adalah imam-imam, tidak ada masalah sedikit pun. Sejak abad pertama hingga abad ketiga tidak terdapat kesulitan. Kalaupun ada, itu hanya bersifat pribadi, bukan bersifat korporat. Memang ada orang yang menjadi anak-anak Allah tidak berfungsi sebagai imam, namun ditinjau dari segi korporat, semua anak-anak Allah berfungsi sebagai imam. Pada masa itu tidak ada kesulitan yang berarti.
2. Setelah Kekaisaran Romawi Menerima Kekristenan,
Gereja Mulai Berubah
Setelah Kekaisaran Romawi menerima kekristenan, banyak orang yang masuk dengan tidak wajar, sebab percaya Tuhan dianggap suatu keuntungan duniawi; bisa satu agama dengan kaisar, bahkan menjadi saudara kaisar. Kalau perintah Tuhan yang semula adalah, “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah” (Mat. 22:21); sekarang kedua-duanya diberikan kepada Allah. Ini benar-benar merupakan kemenangan besar bagi kekristenan, sebab Kaisar Konstantinus telah percaya Tuhan. Akibatnya, sejak masa itu gereja berangsur-angsur mengalami perubahan besar. Banyak orang telah percaya, tidak seperti dahulu lagi. Dahulu, Kaisar Romawi pernah melakukan penganiayaan sepuluh kali, puluhan ribu orang Kristen telah mati sahid karenanya. Pada masa penganiayaan itu, kalau orang ingin menjadi orang Kristen palsu tidaklah mudah. Tetapi hari ini berbeda. Percaya Tuhan, menjadi orang Kristen adalah suatu perkara yang modern, sebab begitu seseorang percaya Tuhan, ia segera menjadi satu agama dan bersaudara dengan kaisar. Karena itu, banyak orang berduyun-duyun masuk agama Kristen. Di sini Anda tampak, umat makin bertambah tetapi imam tidak bertambah. Orang dapat masuk agama Kristen secara tidak wajar, tetapi mutlak tidak dapat menjadi imam dengan tidak wajar.
3. Dalam Gereja Terbagi Menjadi
Orang Rohani dan Orang Sekuler (duniawi)
Jadi, pada abad keempat, terjadi satu perubahan yang sangat besar dalam gereja. Pada masa itu, banyak orang yang masuk gereja; ada yang tidak beriman, ada yang setengah beriman, ada yang benar-benar beriman, tetapi mereka masuk dengan tetap memegang kekuasaan duniawi. Mereka masuk ke dalam gereja tanpa minat melayani Tuhan. Mereka paling banyak hanya beroleh selamat, mereka tidak mungkin melayani Tuhan. Dengan sendirinya muncullah golongan orang yang rohani yang menangani urusan gereja. Lalu, terdengarlah orang-orang berkata, “Kalianlah yang menangani! Kalianlah yang melayani Tuhan. Kami adalah orang-orang sekuler.” Inilah permulaan pemakaian istilah “sekuler”, yaitu pada abad keempat. Kami mengerjakan tugas-tugas duniawi, kalian melakukan pekerjaan-pekerjaan rohani. Akibatnya, ada sebagian orang melayani Allah dan ada banyak orang tidak melayani Allah.
Pada abad pertama, yakni pada zaman rasul, setiap orang yang percaya melayani Tuhan. Tetapi hingga abad keempat, kebanyakan orang berkata, “Biarlah orang-orang rohani yang menangani urusan rohani, kita hanyalah umat Allah, kita cukup melakukan profesi kita dalam dunia, dan mempertahankan kedudukan sosial kita.” Kadang-kadang mereka menyumbangkan sedikit uang, dan dengan demikian menganggap dirinya sudah menjadi orang Kristen. Sejak masa itu, gereja telah mirip dengan bani Israel, menyembah anak lembu emas dan memiliki sistem hierarki. Bukan seluruh umat Allah menjadi imam. Walaupun ada segolongan orang menjadi umat, tetapi tidak menjadi imam.
4. Hari Ini Tuhan Ingin Menempuh Jalan Pemulihan
Saya ingin saudara saudari tampak satu perkara, yaitu pada akhir zaman ini Allah ingin melakukan pemulihan dan menempuh jalan pemulihan. Saya yakin, pada waktu-waktu yang terakhir ini, Allah akan membawa semua anak-Nya ke dalam kedudukan ini. Tahap utama yang perlu dipulihkan dalam gereja ialah segenap anak Allah menjadi imam. Jika Anda adalah umat, Anda juga adalah imam. Pada hari ini ada imam, pada masa kerajaan tetap ada imam. Allah tetap menghendaki imam, Ia menghendaki segenap umat-Nya menjadi imam.
VIII. PELAYANAN IMAM
Karena itu, saudara saudari, bila Anda menjadi orang Kristen, Anda adalah imam. Ini adalah yang wajar. Janganlah Anda mengharap orang lain menggantikan atau mewakili Anda menjadi imam; Anda sendiri harus menjadi imam. Di antara kita tidak ada sistem hierarki, tidak ada orang yang menggantikan Anda melakukan urusan rohani, tidak ada orang yang mewakili Anda bekerja. Di antara kita seharusnya tidak ada tingkatan hierarki pekerja.
1. Dalam Gereja Harus Ada Pelayanan Menyeluruh
Jika Allah membelaskasihani kita, dengan sendirinya semua saudara saudari akan bekerja, memberitakan Injil, dan melayani Allah. Semakin merata jabatan imam, semakin tertampaklah gereja. Bila jabatan imam tidak merata, berarti kita gagal, dan kita tidak dapat menempuh jalan dengan baik.
2. Harus Tampak Melayani Allah Berarti Allah Mengangkat Kita
Manusia seperti kita yang demikian miskin, lemah, buta, dan cacat, ternyata bisa diterima Allah untuk menjadi imam-Nya, ini adalah kemuliaan kita! Pada zaman Perjanjian Lama semua orang yang cacat, timpang, dan yang berpenyakit tidak mungkin menjadi imam. Hari ini kita adalah orang-orang yang hina, najis, gelap, dan cacat, tetapi Allah sudi mengangkat kita menjadi imam! Dia adalah Tuhan! Saya pernah berkata, “Dengan merangkak atau berlutut pun saya harus datang kepada-Nya.” Saya harus berjalan dengan lutut dan berkata, “Tuhan, hamba rela melayani Engkau, hamba senang menjadi budak-Mu. Hamba dapat datang ke hadirat-Mu, tidak lain karena Engkau telah mengangkat hamba.” Ketahuilah, menjadi imam berarti dekat; menjadi imam berarti tanpa jarak; menjadi imam berarti dapat langsung masuk ke hadirat-Nya; menjadi imam berarti tidak perlu perantara; menjadi imam berarti dapat menjamah Allah!
3. Ada Pelayanan Menyeluruh Berarti Ada Kerajaan Allah
Jika pada suatu hari, segenap saudara saudari di setiap gereja lokal bangkit melayani Allah, maka di situ benar-benar akan muncul Kerajaan Allah, kerajaan imam, sebab semua warga kerajaan adalah imam. Saya rasa inilah perkara yang paling mulia. Semoga segala berhala tersingkir dengan tuntas dari antara kita. Kita harus membayar harga apa pun untuk ini di hadapan Allah. Orang-orang Lewi telah membayar harga, setia, dan tidak menghiraukan perasaan pribadi, orang semacam inilah yang layak menerima jabatan imam.
4. Perkenan Allah Adalah Dasar Jabatan Imam
Jika saudara saudari ingin memahami jabatan imam, hendaklah memahami bagaimana pandangan atau perlakuan Allah terhadap imam pada zaman Perjanjian Lama. Allah mengizinkan Anda datang dan tidak menghukum mati Anda; ini adalah perkara yang betapa besar. Hanya imamlah yang boleh makan roti sajian; hanya imamlah yang dapat melayani mezbah; hanya imamlah yang dapat memasuki tempat kudus. Hanya imam yang dapat melakukan persembahan. Bila orang lain masuk, ia segera mati. Sebab itu, perkenan Allah adalah dasar jabatan imam. Jika hari ini Allah sudi menerima saya, masakan saya tidak mau datang ke hadirat-Nya? Dulu, orang yang datang bisa mati, tetapi hari ini Allah berfirman, “Anda boleh datang!” Tidakkah kita mau datang? Sungguh aneh kalau kita tidak mau datang.
5. Menerima Karunia Melayani Adalah Belas Kasihan Allah
Di hadapan Allah kita harus tampak: kita bisa menerima karunia untuk melayani Allah, ini adalah anugerah Allah yang paling besar! Saya rasa, orang yang mengenal Allah akan berkata, “Aku bisa beroleh karunia untuk melayani Allah, ini sungguh lebih indah dan ajaib daripada saya menerima karunia keselamatan.” Anjing di bawah meja boleh makan remah-remah roti di bawah meja, namun ia tidak dapat melayani tuannya yang duduk di meja itu. Beroleh selamat adalah perkara yang sederhana, tetapi melayani Tuhan bukanlah yang dapat dilakukan setiap orang. Hari ini orang yang beroleh selamat dalam gereja layak melayani Tuhan. Jika Anda tidak merasakan hal ini adalah karunia yang paling besar, sungguh sangat bodoh.
6. Tidak Menerima Sistem Hierarki
Kekristenan hari ini menyetujui adanya sistem hierarki. Kalangan kekristenan hari ini tetap memisahkan golongan (kelas) imam Allah dengan golongan anak-anak Allah. Semoga di antara kita tidak ada golongan (kelas) apa pun. Mungkin dalam gereja ada seorang atau dua orang yang gagal, tetapi sistem itu tidak ada. Hari ini, di antara orang-orang Kristen sistem itu telah diterima. Pada prinsipnya mereka telah merosot menjadi serupa dengan keadaan bani Israel, yakni umat terpisah dengan imam. Semoga kita tidak merosot dan jatuh ke dalam sistem orang Israel tersebut.