JALAN GEREJA
Pembacaan Alkitab: Wahyu 2 dan 3
I. WAHYU TENTANG JALAN GEREJA
Dalam kitab Wahyu 2 dan 3 tercantum tujuh gereja. Pada waktu Yohanes menulis kitab Wahyu, ketujuh gereja itu berlokasi di Asia Kecil. Walau pada masa itu di Asia Kecil telah terbangun banyak gereja lokal, namun dari antara sekian banyak gereja, Allah khusus memilih ketujuh gereja itu saja, dan Allah bermaksud memakai mereka untuk keperluan nubuat. Karena dalam pasal 1:3 ditegaskan kepada kita bahwa kitab Wahyu ini adalah kitab nubuat, maka Allah memilih ketujuh gereja lokal tersebut untuk menubuatkan bagaimana sebenarnya jalan yang ditempuh gereja di bumi ini.
Mengapa kita harus khusus membaca Wahyu 2 dan 3? Kedua pasal itu mengandung makna yang sangat besar dan dalam. Karena melalui kedua pasal tersebut Allah menunjukkan kepada kita apakah yang akan dialami gereja selama dua ribu tahun ini; gereja yang mana yang dicela atau dihukum oleh-Nya, dan gereja yang mana yang diperkenan oleh-Nya. Sebab itu, kita tidak dapat tidak memahami Wahyu 2 dan 3. Hanya setelah kita memahami Wahyu 2 dan 3, barulah kita mengetahui jalan yang harus ditempuh gereja, kita wajib berada di gereja yang mana, serta menjadi orang yang bagaimana sehingga dapat diperkenan Tuhan. Wahyu 2 dan 3 menerangkan jalan gereja, bahkan khusus menerangkan bagaimana seharusnya kita memecahkan masalah gereja, agar kita dapat diperkenan Tuhan. Jika kita tidak memahami perkara-perkara yang tercantum dalam Wahyu 2 dan 3, niscaya kita tidak mungkin menjadi orang Kristen yang baik.
1. Gereja Pertama — EFESUS
Di sini ada tujuh gereja; yang pertama ialah Efesus. Gereja ini ditujukan kepada gereja di masa akhir abad pertama, yakni pada masa kitab Wahyu ini ditulis. Tatkala Yohanes menulis kitab Wahyu, kondisi gereja serupa dengan gereja yang pertama — Efesus.
2. Gereja Kedua — SMIRNA
Gereja yang kedua ialah Smirna. Gereja ini ditujukan kepada keadaan gereja setelah Yohanes wafat, mulai dari abad kedua sampai awal abad keempat, yaitu selama masa gereja menderita penganiayaan besar sepuluh kali oleh Kerajaan Romawi. Smirna mewakili keadaan gereja yang menderita penganiayaan, mulai dari akhir zaman rasul hingga Konstantinus menerima agama Kristen. Selama periode itu, kita tampak gereja teraniaya secara besar-besaran. Gereja di Smirna menubuatkan sejarah gereja dalam kurun waktu tersebut.
3. Gereja Ketiga — PERGAMUS
Gereja ketiga ialah Pergamus, yang berawal dari abad keempat, tahun 313 M. Gereja-gereja selama Konstantinus menerima agama Kristen disebut Pergamus. Kata ”Pergamus” berarti pernikahan. Kata ”Polygamy” dalam bahasa Inggris, yang berarti sistem pernikahan banyak istri, berasal dari kata Yunani ini — ”gamos”. Jadi ”Pergamus” berarti ”Perhatikanlah! Sekarang sudah kawin.”
a. Ketiga Gereja Pertama Telah Berlalu
Ketiga gereja pertama dari tujuh gereja ini telah berlalu, dan yang lainnya akan muncul berturut-turut di kemudian. Gereja yang keempat, kelima, keenam, dan ketujuh semua telah muncul! Di sini ada perbedaannya: Setelah yang pertama berlalu barulah muncul yang kedua, setelah yang kedua berlalu barulah muncul yang ketiga dan setelah yang ketiga berlalu barulah muncul yang keempat. Tetapi ketika yang kelima muncul, yang keempat masih tetap ada; yang keempat bergandengan dengan yang kelima. Walaupun dari yang keempat muncul yang kelima, yang keempat tetap ada, dan dari yang kelima muncul yang keenam, yang keempat dan kelima tetap ada. Begitu pula, walaupun dari yang keenam muncul yang ketujuh, tetapi yang keempat, kelima, dan keenam semuanya tetap ada.
b. Keempat Gereja Terakhir Akan Tetap Ada
Hingga Kedatangan Tuhan
Ketujuh gereja yang tercantum dalam Wahyu 2 dan 3 terbagi dalam dua kelompok: tiga gereja yang pertama dan empat gereja yang terakhir. Ketiga gereja yang pertama sudah berlalu; keempat gereja yang terakhir masih ada hingga hari ini dan akan tetap ada hingga kedatangan Tuhan.
Karena itu, ada nubuat bagi Tiatira yang berbunyi, ”Sampai Aku datang” (2:25). Jadi gereja Tiatira akan berlangsung hingga kedatangan Tuhan. Gereja Sardis juga akan berlangsung hingga kedatangan Tuhan. Pasal 3:3 mengatakan, ”Karena itu ingatlah apa engkau telah menerima dan mendengarnya; turutilah itu dan bertobatlah! Karena jikalau engkau tidak berjaga-jaga, Aku akan datang seperti pencuri dan engkau tidak tahu kapan saatnya Aku tiba-tiba datang kepadamu.” Ayat ini menunjukkan kepada kita bahwa gereja Sardis juga akan berlangsung hingga kedatangan Tuhan. Gereja Filadelfia pun akan berlangsung hingga kedatangan Tuhan, sebab dalam pasal 3:11 dikatakan, ”Aku datang segera. Peganglah terus apa yang ada padamu, supaya tidak seorang pun mengambil mahkotamu.” Gereja Laodikia merupakan gereja yang terakhir di atas bumi, kepadanya dijanjikan dalam 3:21 — ”Siapa yang menang, ia akan Kududukkan bersama-sama dengan Aku di atas takhta-Ku, sebagaimana Aku pun telah menang dan duduk bersama-sama dengan Bapa-Ku di atas takhta-Nya.” Dengan ini kita tampak bahwa gereja ini pun akan berlangsung hingga kedatangan Tuhan. Ketiga gereja pertama tidak mendapat janji kedatangan Tuhan, sedangkan keempat gereja yang terakhir mendapat janji kedatangan Tuhan; itu semua membuktikan bahwa mereka akan berlangsung hingga kedatangan Tuhan yang kedua kalinya.
c. Memilih Gereja dari Antara Keempat Gereja yang Terakhir
Oleh sebab itu, hari ini kita wajib mengkaji baik-baik keempat gereja tersebut di hadapan Allah, agar kita mengetahui jalan manakah yang sebenarnya harus ditempuh oleh anak-anak Allah! Jika hari ini di bumi terdapat empat macam gereja yang berbeda, yang berlangsung hingga kedatangan Tuhan, bagaimanakah hubungan setiap anak Allah dengan keempat gereja tersebut? Bukankah kita harus berhati-hati untuk memilih salah satu dari antara keempat gereja itu? Jika tidak, seandainya Anda berada di satu gereja yang tidak diperkenan dan dihukum Tuhan, bukankah Anda akan menderita kerugian yang sangat besar di hadapan Tuhan? Karenanya kita perlu menyelidiki keempat gereja terakhir ini secara saksama.
4. Gereja yang Keempat — TIATIRA
Gereja yang keempat ialah Tiatira. Setelah Kaisar Roma menerima kekristenan menjadi agama nasional, ia lalu menjunjung dan menunjang agama Kristen dengan kekuasaan politik. Kalau dahulu Kerajaan Romawi menggunakan kekuasaan politik menganiaya agama Kristen, sekarang mereka dengan kekuasaan politik itu pula menegakkan dan melindungi agama Kristen. Hal itu tidak saja mengakibatkan kekristenan kawin dengan dunia, bahkan dijunjung tinggi di atas dunia. Dalam nama ”Tiatira” ini mengandung makna ”gedung atau menara tinggi”. Tiatira sekarang telah menjadi satu gedung tinggi yang terpandang, terhormat, dan disanjung orang.
a. Tiatira adalah Agama Roma Katolik
Para pelajar Alkitab mengakui bahwa gereja Tiatira adalah agama Roma Katolik. Agama Roma Katolik merupakan gabungan antara gereja dengan dunia. Sebab itu, gereja ini beroleh kedudukan yang sangat tinggi di dalam dunia. Ketidakberesan apakah yang ada di dalam gereja ini? Yaitu munculnya seorang nabi perempuan yang bernama Izebel. Izebel mengajar hamba-hamba Allah, sehingga gereja berada di bawah pengaruh dan kekuasaannya. Maka, problema agama Roma Katolik ini sepadan dengan perumpamaan yang keempat dalam Injil Matius 13 — Ada seorang perempuan mengaduk ragi ke dalam tepung terigu tiga sukat. Alkitab memakai perempuan ini sebagai wakil agama Roma Katolik.
1) Dua Dosa Utama yang Besar —
Berzina dan Makan Persembahan Berhala
Apakah yang dilakukan perempuan itu? Ayat 20, ”Tetapi Aku mencela engkau, karena engkau membiarkan wanita Izebel, yang menyebut dirinya nabiah, mengajar dan menyesatkan hamba-hamba-Ku supaya berzina dan makan persembahan-persembahan berhala.” Izebel memiliki dua dosa utama yang besar: berzina dan makan persembahan berhala. Kedua dosa tersebut merupakan dosa yang harus disingkirkan. Ajaran Izebel mutlak dicela oleh Tuhan!
Ayat 21-23, ”Aku telah memberikan dia waktu untuk bertobat, tetapi ia tidak mau bertobat dari zinanya. Lihatlah, Aku akan melemparkan dia ke atas ranjang orang sakit dan mereka yang berbuat zina dengan dia akan Kulemparkan ke dalam kesukaran besar, jika mereka tidak bertobat dari perbuatan-perbuatan perempuan itu. Anak-anaknya pun akan Kubunuh dan semua jemaat akan mengetahui bahwa Akulah yang menguji pikiran dan hati orang, dan bahwa Aku akan membelaskan kepada kamu masing-masing menurut perbuatannya.” Gereja di Tiatira dan ajaran Izebel mempunyai dua keistimewaan: berzina dan menyembah berhala. Zina dalam Alkitab berarti kacau-balau atau campur- aduk. Kekacauan manusia mengakibatkan perzinaan. Di sini Anda tampak betapa agama Roma Katolik bercampur aduk dengan dunia.
2) Maria Menggantikan Dewi Yunani
Semua agama di seluruh dunia, masing-masing memiliki dewa mereka yang khas. Agama Budha memiliki dewi Kwan Im, orang Yunani menyembah Venus. Orang Roma mengikuti orang Yunani, juga memuja dewi mereka sendiri. Karena orang-orang Katolik tidak menemukan dewi dalam kekristenan, akhirnya mereka mengangkat Maria sebagai dewi agama Kristen mereka. Sebutannya Maria, padahal itu sebenarnya adalah dewi Yunani. Itulah perbuatan zina, itulah kacau-balau dan campur-aduk.
3) Perayaan Hari Matahari Diubah Menjadi Perayaan Hari Natal
Kebanyakan orang Roma memuja matahari, tiap tanggal 25 Desember mereka merayakan hari ulang tahun matahari. Sebab tanggal 22 Desember lazimnya merupakan hari terpendek dalam setahun, dan selewat hari itu malam akan menjadi lebih pendek daripada siang. Maka para pemuja matahari menetapkan tanggal 25 Desember sebagai hari kelahiran matahari. Ini adalah perayaan yang besar bagi mereka. Banyak orang setelah percaya Tuhan melihat teman-teman mereka yang tidak percaya Tuhan beramai-ramai merayakan hari itu, sedangkan orang Kristen diam saja tanpa berbuat apa-apa. Kemudian timbullah suatu ide, yaitu mengibaratkan Tuhan Yesus sebagai Sang Surya sejati, maka tanggal 25 Desember itu juga dianggap sebagai hari kelahiran Tuhan, dan akhirnya hari tersebut menjelma menjadi hari Natal. Ditinjau dari sebutannya, hari Natal seolah milik agama Kristen, tapi ditinjau dari kenyataannya, hari itu sebenarnya milik agama matahari. Kalian harus mengetahui, hal ini merupakan perzinaan dan kekacauan di hadapan Allah. Mereka mencampur aduk agama matahari dengan agama Kristen.
4) Kuil-kuil Kafir Diubah Menjadi Bait Allah
Gereja adalah Bait Allah. Pada zaman Perjanjian Lama Bait Allah dibangun dari kayu, khususnya dari batu. Sampai zaman Perjanjian Baru, Anda tampak Allah sendiri meruntuhkan Bait itu, sehingga tidak ada satu batu pun berada di atas batu lainnya. Hari ini, Bait itu adalah seluruh orang yang percaya kepada Tuhan. Tubuh kita adalah bait Roh Kudus. Namun hari ini, agama Roma Katolik membangun gedung-gedung yang besar dan tinggi. Orang-orang Yunani memang berbakat dalam membuat bangunan yang artistik. Orang Roma mewarisi bakat orang Yunani, mereka juga sangat pandai dalam arsitektur, mereka banyak membangun bangunan yang artistik. Mereka mengira setiap allah atau dewa harus memiliki kuil, hanya orang Kristenlah yang tidak memiliki kuil, sehingga tidak ada sesuatu yang boleh dikunjungi orang. Karenanya mereka meninggalkan ajaran rasul dan membangun gedung-gedung yang besar dan tinggi. Di seluruh dunia tidak ada bangunan yang dapat menyaingi katedral-katedral agama Roma Katolik. Mereka menyebut katedral itu Bait Allah. Baik katedral yang di Milan, katedral Paulus di Roma maupun katedral di Paris — Nortre Dame, semua adalah bangunan raksasa dan disebut Bait Allah. Ketahuilah, konsepsi yang demikian berasal dari agama lain; kuil agama lain telah diubah menjadi Bait Allah agama Kristen. Semua itu hanya ungkapannya saja milik Kristen, padahal berasal dari agama lain. Inilah perzinaan antara agama Kristen dengan agama kafir.
5) Imam Yahudi Berubah Menjadi Pastur
Dalam Perjanjian Baru setiap anak Allah adalah imam. Setiap orang yang percaya Tuhan Yesus adalah imam yang melayani di hadapan Allah. Tetapi agama Roma Katolik melihat dalam agama Yahudi ada kelas pengantara (Mediatoral Class), mereka lalu membagi-bagi penganut mereka menjadi dua golongan, ini berarti memindahkan sistem imamat agama Yahudi ke dalam gereja Perjanjian Baru. Ada segolongan orang yang mengenakan jubah dan topi imam. Segala yang tercantum dalam Alkitab yang dipakai oleh para imam Yahudi, semua diwariskan kepada pastur-pastur mereka. Mereka berdandan persis seperti para imam Perjanjian Lama, bahkan ditambah lagi dengan banyak benda lainnya. Mereka tidak saja meniru agama Yahudi, bahkan mengambil alih banyak benda dan tata cara agama Yunani dan kuil-kuil agama Roma asli. Mereka sudah mengubah apa yang ditetapkan Allah. Itulah berzina. Dalam Alkitab zina berarti campur-aduk atau kacau-balau.
6) Ditambah dengan Ketakhyulan Agama Kafir
Tidak saja demikian, mereka juga memasukkan perkara-perkara yang berasal dari Perjanjian Lama dan milik agama kafir, antara lain seperti: lilin, kaki dian, dupa perukupan. Itu pun berarti perzinaan. Mereka tidak pandang bulu, semua benda milik agama kafir, benda-benda pemujaan berhala, benda-benda takhyul dan benda-benda apa yang disebut misterius yang dimiliki orang Roma, semua diambil dan diganti dengan nama-nama lain, sehingga menjadi milik agama Kristen. Sebetulnya itu semua bukan kekristenan, melainkan kekacauan yang dahsyat!
7) Penuh dengan Berhala
Mereka tidak saja kacau-balau, Allah bahkan mencela mereka karena menyembah berhala. Apakah Anda merasa heran? Allah mutlak mencela gereja yang menyembah berhala! Sungguh benar, bahwa gereja ini pada faktanya menyembah berhala. Kalau pada zaman Perjanjian Lama orang menyembah ular tembaga, maka dalam agama Roma Katolik orang menyembah salib Tuhan Yesus. Mereka mengatakan bahwa salib Tuhan itu telah ditemukan. Dengan kayu salib itu mereka lalu membuat banyak salib kecil, untuk disembah orang. Tuhan Yesus adalah Allah, Allah yang tanpa bentuk dan rupa, namun mereka membuat bentuk rupa atau patung Allah untuk disembah. Mereka juga membuat patung-patung Maria, Petrus, Markus, dan lainnya, sehingga di seluruh dunia ini penuh dengan patung! Sudah tentu berhala-berhala itu ada yang indah, ada juga yang tidak indah, itu tergantung pada tingkat kebudayaan. Yang berkebudayaan tinggi, berhalanya juga indah; yang berkebudayaan rendah, berhalanya tidak indah. Tetapi berhala tetap berhala. Dalam katedral mereka penuh dengan berhala! Ketika orang-orang agama Roma Katolik berdoa, doa mereka bukan ditujukan kepada Allah yang di surga, melainkan membakar lilin di hadapan patung atau berhala, kemudian membuat tanda salib. Mereka membuat patung Tuhan Yesus, Maria, Paulus, Petrus, dan seterusnya. Bahkan membuat patung bagi semua orang kudus yang mati sahid sepanjang zaman. Hingga hari ini, jika ada oknum istimewa dalam gereja yang meninggal dunia, mereka lalu mengangkatnya menjadi orang suci, dan membuatkan patung baginya. Berhala-berhala mereka itu dibuat dan disembah oleh mereka sendiri.
8) Menyembah Tulang-belulang Orang-orang yang Mati Sahid
Lagi pula mereka menyembah tulang-belulang orang-orang yang mati sahid. Ada yang menyembah tulang kaki atau tulang tubuh lainnya. Jika Anda tidak mengenal agama Roma Katolik, Anda tidak tahu berapa banyak berhala yang mereka miliki. Jika Anda mengenal agama Roma Katolik, Anda baru tahu betapa agama itu seluruhnya telah dipenuhi patung-patung berhala.
Gereja Tiatira mewakili agama Roma Katolik. Gereja Tiatira memiliki dua dosa yang pokok: berzina, yaitu memasukkan benda-benda kafir ke dalam gereja; dan menyembah berhala, yakni membuat banyak patung berhala.
b. Tiatira adalah Gereja yang Dihukum Allah.
Maka Tuhan berkata kepada orang-orang dalam agama Roma Katolik, ”Pergilah (keluarlah) kamu, hai umat-Ku, pergilah (keluarlah) dari hadapannya, supaya kamu jangan mengambil bagian dalam dosa-dosanya, dan supaya kamu jangan turut ditimpa malapetaka-malapetakanya” (Why. 18:4). Allah tidak memperkenankan orang berada dalam agama Roma Katolik!
Menurut Wahyu 2 dan 3, Tiatira adalah gereja yang keempat. Gereja ini muncul sesudah Pergamus. Efesus telah berlalu, Smirna telah berlalu, Pergamus pun telah berlalu. Tetapi Tiatira tidak berlalu, ia akan berlangsung terus hingga kedatangan Tuhan. Ia adalah gereja keempat yang akan berlangsung terus hingga kedatangan Tuhan; ia takkan berhenti. Sebagai orang yang beriman kepada Allah, sebagai anak-anak Allah, hendaklah kita sekuatnya menjauhkan diri dari agama Roma Katolik dan segala sesuatu yang menjadi miliknya. Jangan sekali-kali kita menyentuh benda-benda yang najis itu. Bila Anda menyentuhnya, Anda akan terpengaruh olehnya. D. M. Panton pernah mengatakan, ”Berhubung dalam buku-buku mereka terlalu banyak kesalahan, maka ketika Anda membacanya, Anda tidak merasa salah.” Ya, sebab kesalahannya begitu banyak, hampir semuanya salah, maka Anda akan menjadi tidak berdaya membedakan, dan pikiran Anda dibuat kacau olehnya! Maka kita seharusnya tidak mengikuti agama Roma Katolik.
5. Gereja yang Kelima — SARDIS
Gereja kelima ialah Sardis. Gereja Sardis adalah gereja yang dipulihkan, atau gereja yang tersisa. Gereja ini muncul sesudah Tiatira, tapi ia bukan pengganti Tiatira. Tiatira sendiri tidak berhenti atau berakhir.
a. Dikatakan Hidup Padahal Mati
Kondisi Sardis demikian: ”Aku tahu segala pekerjaanmu: Engkau dikatakan hidup, padahal engkau mati! Bangunlah, dan kuatkanlah apa yang masih tinggal (tersisa) yang sudah hampir mati, sebab tidak satu pun dari pekerjaanmu Aku dapati sempurna di hadapan Allah-Ku . . . Tetapi di Sardis ada beberapa orang yang tidak mencemarkan pakaiannya . . .” (Why. 3:1-4). Ciri-ciri Sardis ialah: dikatakan hidup, padahal mati.
b. Reformasi Agama dan Reformasi Politik
Agama Protestan muncul sesudah agama Roma Katolik. Sardis mewakili semua agama Protestan. Walaupun Sardis meliputi reformasi, tetapi ia tidak mewakili reformasi, ia mewakili agama Protestan.
Ketika kekuasaan Roma Katolik masih utuh, agama ini menjadi sangat diktator dan kejam. Hal ini mengakibatkan beberapa negara di Eropa tidak tahan akan tekanan dan penganiayaan Gereja Roma Katolik itu, sehingga timbul pergerakan reformasi. Ketika reformasi bangkit, kita tampak munculnya dua macam kekuatan yang berbeda, yang satu berasal dari Allah, yang lain berasal dari manusia.
Yang berasal dari Allah diwakili oleh Martin Luther, yang langsung melawan Paus, para uskup, dan para pastur, bahkan melawan segenap agama Roma Katolik. Pada waktu itu Allah telah memberikan sebuah Alkitab yang terbuka bagi umum, dan menunjukkan kebenaran kepada orang tentang dibenarkan oleh iman. Pada masa itu di banyak tempat ada pengasih-pengasih Tuhan yang bangkit untuk mengadakan reformasi, di antara mereka ada yang menyaksikan firman hingga mengorbankan nyawanya sendiri. Mereka menderita aniaya dan kekerasan dari agama Roma Katolik, namun mereka percaya bahwa Tuhan menghendaki suatu pemulihan. Karenanya mereka rela mengorbankan segala-galanya untuk menyukseskan usaha yang disebut reformasi agama. Ketika itu Roh Kudus bekerja dengan hebat, sehingga banyak orang melayani Tuhan dengan setia. Alkitab makin terbuka, banyak orang makin tampak terang firman. Orang-orang yang beroleh selamat bertambah di mana-mana. Mereka mengumumkan, ”Tidak bersandar pada perbuatan sendiri atau para imam, melainkan bersandar kepada Allah.” Ini sungguh-sungguh merupakan pekerjaan Roh Kudus yang hebat!
Ketika Luther mengadakan reformasi, banyak kekuasaan politik yang menunggangi reformasi untuk mencapai tujuan politik mereka, karena mereka anti agama Roma Katolik. Karena itu reformasi bukan hanya sebagai reformasi agama, tetapi juga sebagai reformasi politik. Hal itu disebabkan agama Roma Katolik bukan hanya memiliki kekuasaan agama, tetapi juga memiliki kekuasaan politik; pada masa itu agama Roma Katolik menguasai seluruh benua Eropa. Reformasi sebenarnya hanya merupakan kasus agama, tetapi karena ada raja-raja, menteri-menteri, dan politikus-politikus dari beberapa negara ingin memanfaatkan kesempatan itu untuk melepaskan diri dari tindasan kekuasaan agama Roma Katolik dan menjadi negara merdeka, maka reformasi itu juga menjadi reformasi politik. Dulunya, baik gereja dalam negara mereka maupun pemerintahan mereka dikuasai oleh agama Roma Katolik, tetapi sekarang gereja maupun pemerintahan mereka telah melepaskan diri dari kekuasaan Roma Katolik.
c. Lahirnya Gereja Negara
Maka, akhirnya reformasi menjadi suatu pergerakan kombinasi, gereja bersatu dengan dunia untuk menggulingkan kekuasaan agama Roma Katolik. Jadi tidak saja gereja yang melawan Tiatira, politik pun melawan Tiatira. Mereka mengadakan aksi bersama dalam kesempatan yang sama. Sebagai akibatnya, kita tampak lahirlah apa yang disebut gereja negara. Di Jerman dan Swedia lahir gereja negara — Lutheran, di Inggris lahir gereja negara — Anglican, di Belanda lahir gereja negara — Protestan, dan sebagainya.
1) Politik Bergabung dengan Agama
Pada masa itu ada banyak umat Allah yang sepenuhnya ingin meninggalkan perzinaan agama Roma Katolik, dan meninggalkan penyembahan berhala mereka. Tetapi berhubung ada bantuan dari pihak kekuatan politik, usaha reformasi mereka menjadi lebih mudah. Ketika itu, mereka beroleh bantuan kekuatan dari luar itu karena kebodohan mereka, sehingga tatkala mereka mendirikan gereja yang baru, mereka tetap meniru corak agama Roma Katolik. Sama seperti agama Roma Katolik merupakan gabungan antara agama dengan politik, agama Protestan pun merupakan gabungan antara agama dengan politik.
2) Negara Sebagai Batas Lingkup Gereja
Orang Kristen masa itu telah meninggalkan agama Katolik, tetapi jika mereka mau kembali ke dalam kitab Perjanjian Baru, mereka niscaya akan tampak bahwa gereja adalah kelompok umat Allah yang tidak memiliki sandaran di dunia. Sayang pada waktu itu mereka kekurangan terang atau visi ini, dan ditambah pada waktu itu banyak pihak yang memperalat mereka, akibatnya mereka mendirikan apa yang disebut gereja negara. Mereka yang berada di Jerman mendirikan gereja negara Jerman; semua orang Jerman menjadi milik gereja negara tersebut. Mereka yang berada di Inggris mendirikan gereja negara Inggris (Anglican Church). Anak yang lahir di Inggris boleh dibaptis oleh pendeta gereja Anglican. Menurut peraturan gereja negara, berapa besarnya batas lingkungan negara, berapa besarnya pula batas lingkungan gereja. Tidak saja orang yang percaya Tuhan boleh berada dalam gereja, asalkan ia warga negara, ia boleh dibaptis di dalam gereja negara. Gereja negara dikatakan hidup, padahal mati. Demikianlah asal-usul sabda Tuhan tersebut!
3) Orang Beriman Bercampur-baur dengan Orang Tidak Beriman
Ciri khas agama Protestan ialah dunia berbaur dengan gereja. Pada mulanya campurannya bersifat umum, sekarang menjadi satu negara demi satu negara. Dahulu agama Roma Katolik menguasai seluruh dunia, sekarang ada gereja independen dalam tiap-tiap negara. Jadi, Anda tampak di sana ada umat Allah dan bukan umat Allah, keduanya bercampur-baur. Maka ia dikatakan hidup, padahal mati! Demikianlah kondisi agama Protestan.
4) Memiliki Raksasa Rohani Perseorangan
Namun kondisi itu tidak menghalangi munculnya sejumlah tokoh rohani di kalangan Protestan. Jadi, di antara Protestan masih terdapat tokoh-tokoh rohani yang ternama yang dipakai Allah. Tuhan bersabda, ”Tetapi di Sardis ada beberapa orang yang tidak mencemarkan pakaiannya; mereka akan berjalan dengan Aku dalam pakaian putih, karena mereka adalah layak untuk itu.” Ini juga menjadi sejarah agama Protestan dan menjadi ciri-ciri agama Protestan. Pada satu aspek ia dikatakan hidup, padahal mati; pada aspek lain ia terus menerbitkan raksasa rohani yang individual, bukan yang korporat. ”Ada beberapa orang”, ya, senantiasa hanya beberapa orang saja. Itulah ciri khas agama Protestan.
5) Bangkitnya Gereja-gereja Swasta
Sejarah gereja Protestan berawal dari gereja negara, tetapi selanjutnya sejarah gereja Protestan berubah menjadi gereja-gereja swasta. Yang menamakan dirinya ”Dissenters” (yakni orang-orang yang lain pendiriannya dengan gereja negara), pada mulanya melihat bahwa gereja negara menerima anggota melalui baptisan, bukan melalui iman, maka banyak yang menganggap itu tidak benar. Yang benar ialah orang harus beriman di hadapan Allah, baru dapat menjadi anak-anak Allah.
6) Berpisah karena Kebenaran Khusus
Atau karena mereka tampak kebenaran baru, lalu khusus memperhatikan kebenaran tersebut. Sedangkan gereja negara hanya mempertahankan organisasi negara itu saja, mereka tidak berminat melayani Allah. Maka, dengan sendirinya Allah membangkitkan seorang, beberapa orang, atau segolongan orang untuk menyatakan suatu kebenaran, dan membiarkan mereka menentukan sendiri perkara yang tidak benar. Mereka mendirikan apa yang disebut gereja independen, yakni gereja swasta (Dissenting Churches). Orang-orang itu mengalami banyak aniaya dan kecaman. Kisah John Bunyan adalah salah satu contoh; demikian pula aniaya yang diderita gereja Presbyterian di Skotlandia. Juga karena teraniaya, kaum Puritan mengungsi ke Amerika. Kemudian bangkitlah orang-orang seperti John Wesley dan George Whitefield. Mereka semua adalah orang-orang yang dibangkitkan Allah untuk menyatakan kebenaran-kebenaran khusus, menghakimi banyak perkara sebagai dosa serta memimpin umat Allah meninggalkan banyak dosa. Dengan demikianlah mereka terpisah dari gereja negara.
7) Kesatuan Harus Berdasarkan Sikap Menghakimi Dosa
Sewaktu mereka mulai terpisah dari gereja negara, mereka mendapat julukan sebagai perpecahan. Sebenarnya perpecahan bukan disebabkan oleh mereka, melainkan disebabkan gereja yang tercakup dalam gereja negara terlampau banyak. Karena itu, jika anak-anak Allah ingin mengikuti Tuhan, mau tidak mau harus keluar dari antara mereka.
Saya ingin menunjukkan kepada kalian, kesatuan tidak mungkin terwujud berdasarkan sikap mentolerir dosa, melainkan dengan sikap menghakimi dosa. Kesatuan yang diusahakan orang hari ini sebenarnya hanya mentolerir dosa belaka. Di sini ada satu dosa, Anda mentolerirnya, saya mentolerirnya, ia juga mentolerirnya, bahkan semua orang Kristen mentolerirnya. Itulah sifat kesatuan pada hari ini. Kalau semua orang mentolerir dosa, tentu tidak ada problema sedikit pun. Dalam gereja negara banyak hal yang bukan berasal dari Allah. Tetapi hari ini bila ada seseorang yang terjamah hati nuraninya, sehingga ia menyalahkan dosa-dosa itu dan menolaknya, maka akhirnya ia dituduh sebagai pemecah-belah. Sebenarnya yang menjadi problema bukan orang yang menyadari itu, melainkan orang yang tidak menyadari itu.
Bila semua anak Allah mau dan berani menghakimi dosa, niscaya kita akan bersatu-padu. Kesatuan anak-anak Allah bukan berdasarkan kesembronoan semua orang. Kita harus bersatu dengan Tuhan. Bila anak-anak Allah bersikap sembrono, tidak menghakimi dosa, meskipun mereka bisa memiliki kesatuan, namun mereka tidak bersatu dengan Tuhan.
Dalam sejarah agama Protestan hari ini, Allah selalu membangkitkan seorang, dua orang, dan menyuruh mereka belajar mengenal kehendak Allah, serta menghakimi perkara-perkara tertentu. Mungkin orang lain tidak tampak atau tidak sudi tampak, tetapi akhirnya orang yang tampak ini demi mematuhi Allah ia dicap sebagai pemecah-belah. Andaikata hari ini setiap anak Allah mau menghakimi dosa, dan membereskan segala sesuatu yang bukan berasal dari Allah, niscayalah semua dapat bersatu, pun dapat bersatu dengan Tuhan. Ingatlah, dasar kesatuan yang sejati ialah penghakiman atas kesalahan dan penghakiman atas dosa.
8) Generasi Pertama Penuh Berkat,
Generasi Kedua Organisasi,
Generasi Ketiga Jatuh
Dalam sejarah agama Protestan masih terdapat satu keadaan, yaitu bila ada seseorang beroleh kasih karunia dan berkat, maka pada generasi pertamanya menjadi hari-hari yang mulia. Sampai generasi kedua, keadaannya masih lumayan baik. Tetapi menjelang akhir generasi kedua, orang-orang lalu berkata, ”Kita telah menerima kasih karunia begitu banyak, perlulah kita mencari cara untuk memeliharanya, dan perlu membentuk satu organisasi untuk meneruskan dan mempertahankan kasih karunia ini.” Maka sampai generasi kedua atau ketiga, muncullah organisasi. Bahkan ada kalanya pada akhir generasi pertama, organisasi sudah terbentuk.
Mereka percaya bahwa Allah mau memberikan kasih karunia, tetapi mereka tidak dapat percaya kalau Allah juga mau memelihara kasih karunia itu. Akhirnya muncullah kaidah-kaidah, peraturan-peraturan, dan cara-cara buatan manusia untuk mempertahankan berkat-berkat yang telah mereka miliki. Tatkala sumbernya tertutup, air dalam kolam pasti akan semakin kurang, tak mungkin semakin meninggi. Sampai generasi ketiga, keadaannya menjadi sangat mati, seperti halnya induk gereja yang darinya mereka keluar. Mulai saat itu, Allah harus membangkitkan seorang lagi, memberikan visi baru, berkat segar, pemisahan dan kasih karunia baru. Ini merupakan hari pemulihan ulang. Pada generasi pertama penuh berkat, pada generasi kedua mulai ada organisasi, sampai generasi ketiga mulai jatuh lagi.
9) Terus-menerus dalam Batasan Hidup dan Mati
Pada mulanya mereka meninggalkan gereja negara; sekarang mereka sendiri harus ditinggal orang lain. Semula mengakui bahwa yang satu itu mati, harus ditinggalkan; sekarang mengakui dirinya sendiri juga mati dan harus ditinggal orang lain. Seluruh sejarah agama Protestan ialah: Dikatakan hidup, padahal mati. Jadi mereka selalu dalam batasan hidup dan mati. Ada hidup juga ada mati. Bukan mati terus, sebab ada beberapa orang tidak mencemarkan pakaiannya, yakni ada beberapa orang yang menonjol yang dipilih Allah. Mereka adalah tokoh-tokoh agama Protestan yang layak berjalan dengan Tuhan dalam pakaian putih.
Demikianlah keadaan keseluruhan sejarah agama Protestan.
Tiatira dicela Tuhan, Sardis pun dicela Tuhan. Kalau bagitu jalan manakah yang harus ditempuh kaum beriman?
6. Gereja Keenam — FILADELFIA
Sekarang kita melihat gereja yang keenam, yang bernama Filadelfia. ”Fila” berarti ”kasih”, ”delfia” berarti ”saudara”, jadi ”Filadelfia” berarti “kasih persaudaraan.”
a. Kembali ke Kasih Persaudaraan
Di antara ketujuh gereja, hanya satu gereja ini yang tidak dicela Tuhan. Agama Roma Katolik dicela, agama Protestan dicela, tetapi Filadelfia tidak dicela; sebaliknya, Filadelfia dipuji.
Di manakah keistimewaan Filadelfia? Wahyu 3:8, ”Aku tahu segala pekerjaanmu (perbuatanmu) . . . Aku tahu bahwa kekuatanmu tidak seberapa, namun engkau menuruti firman-Ku dan engkau tidak menyangkal nama-Ku.” Itulah keistimewaan Filadelfia. Keistimewaan Tiatira ialah ajaran-ajaran perempuan. Keistimewan Sardis ialah bergabung dengan dunia, selalu ingin melepaskan diri; mati dan hidup, meronta-ronta terus. Akan tetapi Filadelfia ialah kasih persaudaraan. Mereka kembali ke dalam kasih persaudaraan. Di sini tidak ada dunia, sebab mereka bersaudara. Mereka sama sekali tidak meronta-ronta, juga tidak berusaha meninggalkan kematian, melainkan kembali ke posisi persaudaraan yang semula. Di antara mereka setiap saudara saling mengasihi.
Kalau Sardis keluar dari Tiatira, maka Filadelfia keluar dari Sardis. Agama Protestan keluar dari agama Roma Katolik, Filadelfia keluar dari agama Protestan. Hanya saja sangat jelas, bahwa hal itu adalah suatu pergerakan Roh Kudus. Pergerakan ini mengeluarkan orang dari Sardis yang mati dan memberikan satu kedudukan bagi kasih persaudaraan. Dengan kata lain, mereka berdiri pada kedudukan Tubuh, tidak mengakui adanya hubungan lain, kecuali hubungan persaudaraan, juga tidak mengakui adanya persekutuan lain, kecuali persekutuan kasih. Itulah Filadelfia.
b. Menuruti Firman Tuhan
Filadelfia memiliki dua keistimewaan: Menuruti firman Tuhan dan tidak menyangkal nama Tuhan. Di sini ada sekelompok orang yang dipimpin Allah sedemikian rupa, sehingga dapat menuruti firman Tuhan. Allah menerangkan firman-Nya kepada mereka, sehingga semua orang dapat memahami firman Allah. Di antara mereka tidak ada teori dan tradisi, hanya ada firman. Sejak ada gereja, selain ajaran para rasul, merekalah gereja pertama yang dipuji Tuhan. Sebab hingga masa Filadelfia, kita baru tampak ada sekelompok orang yang kembali kepada firman Tuhan sepenuhnya, setiap kekuasaan, ajaran, dan dogma tidak berfaedah di antara mereka.
Ingatlah, manusia bisa memahami dan menyampaikan doktrin, namun tidak memahami Alkitab. Manusia pun bisa membaca dogma-dogma dan menerimanya, tetapi tidak dapat memahami Alkitab. Ini satu hal yang aneh! Seandainya gereja memerlukan dogma, pasti Tuhan sejak dini sudah memberikannya. Hari ini, manusia menganalisis dan mengelompokkan Alkitab menjadi satu dogma. Dogma itu khusus, sedangkan Alkitab tidak terbatas; dogma itu sederhana, sedangkan Alkitab kompleks. Dogma mudah dimengerti setiap orang, bahkan oleh yang bodoh sekalipun, tetapi Alkitab tidak. Alkitab hanya dapat dimengerti oleh sejenis manusia, lagi pula harus dalam suatu kondisi tertentu. Dogma membuka pintu selebar-lebarnya, siapa pun boleh masuk, tetapi sabda Allah hanya terbuka sebesar itu saja, hanya orang yang memiliki hayat baru dapat memasukinya. Dogma dapat dipahami segera oleh orang-orang yang berotak baik, tapi membaca firman Allah tidaklah semudah itu. Tanpa hayat, tanpa berada di hadirat Tuhan, tanpa mata yang khusus, tidak mungkin tampak dan tidak mungkin memahaminya.
Berhubung manusia menganggap ruang lingkup firman Allah terlalu sempit, maka mereka mencoba untuk melebarkannya, supaya mudah memasukinya. Tetapi orang-orang Filadelfia menolak setiap dogma dan ajaran macam mana pun, mereka hanya ingin kembali ke dalam firman Tuhan. Firman Tuhan, ”Kamu menuruti firman-Ku.” Dalam sejarah gereja tidak ada satu zaman yang memahami firman Allah seperti zaman Filadelfia. Sepanjang sejarah gereja, hanya di Filadelfialah firman Allah beroleh kedudukan yang wajar. Kalau pada zaman lain Anda hanya tampak orang menerima dogma dan tradisi, maka di Filadelfia tidak ada yang lain kecuali firman Allah. Mereka hanya kembali ke dalam firman Allah untuk menempuh jalan Tuhan. Dan dalam sejarah gereja tidak ada satu zaman yang memiliki ministri-ministri firman sebanyak di Filadelfia.
c. Tidak Menyangkal Nama Tuhan
Firman Tuhan, ”Engkau tidak menyangkal nama-Ku.” Ini pun merupakan keistimewaan Filadelfia. Dari abad ke abad, sepanjang sejarah gereja, nama Tuhan telah menjadi nama yang terakhir. Manusia mementingkan nama-nama manusia; nama Petrus dan nama-nama rasul lainnya mendapat perhatian. Manusia pun khusus mementingkan nama yang dipilihnya sendiri, baik nama ajaran maupun nama negara. Banyak orang dengan sombong mengakui, ”Aku orang gereja Lutheran”, ”Aku orang gereja Wesleyen.” Oh, itu adalah nama manusia. Ada orang mengatakan, “Aku orang Coptik (Nama sebuah kota).” Banyak pula orang mengaku dengan bangga, “Aku orang gereja Anglican”, itu berarti negara Inggris. Banyak nama telah memecah-belah anak-anak Allah! Nama Kristus seolah-olah tidak cukup untuk memisahkan kita dari dunia.
Kalau ada seorang bertanya kepada Anda, ”Siapakah Anda?” Anda menjawab, ”Aku orang Kristen.” Ia pasti tidak puas dan pasti bertanya lagi, “Anda orang Kristen macam apa?” Saya ingat, pernah sekali di luar negeri saya ditanyai oleh seseorang, ”Anda siapa?” Saya menjawab, ”Aku orang Kristen.” Ia berkata, ”Jawabanmu sama sekali tidak bermakna.”
1) Nama Tuhan Sudah Cukup
Bagi Tuhan, nama-Nya di atas diri anak-anak-Nya sudahlah cukup. Ketika Filadelfia tiba, barulah orang mengira cukup dengan nama Tuhan saja. Nama pemisah lainnya tidak berguna. Cukup dengan nama Tuhan saja! Ingatlah, di sini Tuhan memperhatikan satu hal: ”Engkau tidak menyangkal nama-Ku.” Inilah yang diperhatikan oleh-Nya.
Tidak ada satu zaman di dalam gereja yang menyangkal semua nama lain seperti di Filadelfia. Filadelfia menghapus semua nama lain, mereka hanya menjunjung tinggi nama Kristus! Hal ini sangat dihargai dan diperhatikan Tuhan. Dan ini menjadi dasar pujian dan perkenan Tuhan. Oleh sebab itu, jangan sekali-kali kita meremehkannya; jangan mengira ini suatu hal yang sembarangan. Tuhan tampak bahwa mereka mengakui nama-Nya, tidak menyangkal nama-Nya yang agung, maka Ia memperhatikan dan memuji perkara tersebut.
2) Masalah Kemenangan
Banyak saudara bertanya, “Apakah yang diperoleh para pemenang di Filadelfia?” Apakah Anda menemukan problema di sini? Para pemenang di Efesus dengan sendirinya menang atas masalah kasih yang semula. Pemenang di Smirna menang atas ancaman maut dari pihak luar. Pemenang di Pergamus menang atas ajaran-ajaran wanita itu. Pemenang di Sardis menang atas apa yang dikatakan hidup padahal mati — kematian rohani. Pemenang di Laodikia menang atas kondisi suam-suam kuku, dusta, dan kesombongan. Namun apakah kemenangan para pemenang di Filadelfia? Dalam seluruh surat itu, Tuhan memperlihatkan kepada kita bahwa Tuhan berkenan atas segala yang mereka lakukan. Dalam ketujuh surat hanya satu surat inilah yang sama sekali diperkenan Tuhan. Kalau sudah demikian diperkenan, apa lagi yang harus dimenangkan? Semua telah diperkenan, itulah yang terbaik. Filadelfia adalah gereja yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Tetapi dalam gereja di Filadelfia Tuhan masih memberi janji kepada pemenang; menang atas apa? Saya katakan sekali lagi, tidak ada satu pun hal istimewa yang harus mereka menangkan, sebab gereja ini tidak mempunyai problema apa pun.
3) Peganglah Apa yang Telah Ada
Namun Tuhan memberi suatu peringatan. Ayat 11 mengatakan, ”Aku datang segera. Peganglah apa yang ada padamu, supaya tidak seorang pun mengambil mahkotamu.” Dalam seluruh surat, hanya di sinilah terdapat satu-satunya peringatan. Tuhan menyuruh orang-orang di Filadelfia waspada, yaitu peganglah apa yang ada. Dengan kata lain, apa yang ada padamu semuanya baik tetapi jangan sampai dilepaskan. Jangan sampai suatu saat, karena sudah terbiasa, maka mencoba mengubahnya; jangan sampai pada suatu saat, karena merasa sudah melakukannya bertahun-tahun, lalu ingin menggantinya. Harus dipegang terus, jangan ditinggalkan! Inilah satu-satunya peringatan bagi Filadelfia. Tuhan hanya memberikan satu permintaan saja kepada Filadelfia, yaitu harus memegang apa yang telah ada. Apa yang Anda lakukan tidak salah, tetapi harus Anda lakukan lagi; apa yang Anda lakukan diberkati Allah, tetapi Anda harus melakukannya terus.
Bila Filadelfia tidak memegang apa yang ada padanya, Allah akan membangkitkan orang lain untuk merebut mahkotanya. Mahkota asalnya diberikan kepada Anda, tetapi Anda meninggalkan kedudukan Anda, maka orang lain akan datang merebut mahkota Anda. Inilah satu-satunya peringatan bagi Filadelfia. Jadi, kemenangan Filadelfia tergantung pada tidak kehilangan apa yang ada padanya. Hal ini berbeda dengan keenam gereja lainnya. Kita harus memperhatikan sabda Tuhan, yaitu hanya ada satu gereja — Filadelfia — yang sesuai dengan kehendak hati Tuhan; dan keistimewaannya ialah menuruti firman Tuhan serta tidak menyangkal nama-Nya. Maka, jangan sekali-kali kita kendur dalam kedua perkara tersebut.
7. Gereja yang Ketujuh — LAODIKIA
Di antara tujuh gereja ada lima yang dicela, satu tidak dicela, dan satu lagi dipuji, yaitu Filadelfia. Baik agama Roma Katolik, agama Protestan, maupun Filadelfia akan berlangsung hingga kedatangan Tuhan. Gereja terakhir — Laodikia, juga akan berlangsung hingga kedatangan Tuhan. Sardis keluar dari Tiatira, Filadelfia keluar dari Sardis, dan Laodikia keluar dari Filadelfia. Anda tampak, yang satu keluar dari yang lainnya.
a. Laodikia Terbentuk dari Filadelfia yang Jatuh
Hari ini persoalannya terletak di sini. Apabila Filadelfia jatuh atau gagal, ia akan menjadi Laodikia. Jangan sekali-kali keliru, jangan mengira agama Protestan itulah Laodikia. Tidak! Agama Protestan itu Sardis, bukan Laodikia. Ingatlah, gereja Protestan hari ini hanya bisa menjadi Sardis, tidak mungkin menjadi Laodikia. Pembaca Alkitab tidak dapat mengaku dengan sembrono bahwa mereka adalah Laodikia. Tidak, mereka adalah Sardis. Filadelfia yang telah jatuh barulah bisa menjadi Laodikia. Sardis keluar dari Tiatira, itu kemajuan; Filadelfia keluar dari Sardis, itu pun kemajuan. Namun, Laodikia keluar dari Filadelfia, itulah suatu kemunduran atau kemerosotan. Keempat gereja tersebut akan berlangsung terus hingga kedatangan Tuhan.
Laodikia adalah Filadelfia yang telah berubah bentuk, atau menyeleweng. Pada suatu hari, bila kasih persaudaraan telah hilang, ia akan segera berubah menjadi opini orang banyak. Itulah arti Laodikia. Laodikia berasal dari nama sebuah kota, yang oleh pangeran Roma disebut Entiochus. Pangeran tersebut mempunyai seorang istri yang bernama Laodios. Laodikia berasal dari namanya. Makna kata ”Lao”dalam bahasa Yunani ialah ”orang banyak”, ”Kia” berarti “opini”.
Ketika Filadelfia jatuh, saudara berubah menjadi orang banyak, kasih persaudaraan berubah menjadi opini orang banyak. Kasih berubah menjadi opini. Kasih persaudaraan itu sesuatu yang hidup, sedangkan opini orang banyak itu sesuatu yang mati. Kapan kasih persaudaraan lenyap, hubungan Tubuh dan komunikasi hayat putus, maka yang tersisa hanyalah opini orang banyak; tanpa opini Tuhan. Cukup dengan menuruti persetujuan mayoritas atau pemungutan suara. Begitu Filadelfia jatuh, ia segera berubah menjadi Laodikia.
b. Suam-suam Kuku dan Kesombongan Rohani
Dalam 3:15 dikatakan, ”Aku tahu segala pekerjaanmu, engkau tidak dingin dan tidak panas. Alangkah baiknya jika engkau dingin atau panas!” Itulah keistimewaan Laodikia. Ayat 17, ”Karena engkau berkata: Aku kaya dan aku telah memperkayakan diriku dan aku tidak kekurangan apa-apa, dan karena engkau tidak tahu bahwa engkau melarat, dan malang, miskin, buta dan telanjang.” Itulah ciri-ciri Laodikia. Laodikia suam-suam kuku dan memiliki kesombongan rohani di hadapan Tuhan. ”Aku kaya”, bahkan ”Aku telah memperkayakan diriku”, dan lagi ”Aku tidak kekurangan apa-apa.” Tetapi dalam pandangan Tuhan ”Engkau melarat, malang, miskin, buta dan telanjang.” Dari manakah datangnya kesombongan rohani mereka? Dari sejarah yang lampau. Memang pada suatu saat tertentu mereka pernah kaya, lalu mereka menyangka hari ini tetap kaya. Memang pada suatu masa mereka pernah dibelaskasihani Tuhan, mereka ingat akan sejarah itu, tetapi hari ini realitasnya sudah lenyap.
1) Hayat di Masa Lampau Telah Tiada
Dalam agama Protestan hari ini, sukar didapati seorang yang menyombongkan kekayaan rohaninya sendiri. Di luar negeri, termasuk pendeta-pendeta mereka, hampir semua mengatakan, ”Kami tidak cukup! Kami tidak memadai!” Anda tidak dapat menjumpai orang sombong di kalangan Sardis. Di sini ada segolongan orang yang dahulunya Filadelfia, yang menuruti firman Allah dan yang tidak menyangkal nama-Nya. Tetapi kini hayat yang semula itu sudah hilang. Hari ini kisah masa lalu masih teringat, tetapi hayat masa lalu telah lenyap! Mereka masih ingat betapa dahulu kaya, tidak kekurangan apa-apa, tetapi sekarang sudah melarat, malang, miskin, buta dan telanjang! Hanya segolongan oranglah yang dapat menyombongkan kekayaan dirinya sendiri, yaitu Filadelfia yang telah jatuh, Filadelfia yang telah kehilangan kuat kuasa dan hayat!
c. Harus Belajar Merendahkan Diri di Hadapan Allah
Karena itu, saudara saudari wajib ingat, bila kalian ingin terus menempuh jalan Filadelfia, kalian harus belajar merendahkan diri di hadapan Allah. Adakalanya saya mendengar salah seorang saudara berkata, ”Berkat Allah berada di tengah-tengah kita.” Saya mengakui perkataan ini benar, namun berhati-hatilah ketika kita mengucapkannya. Jika tidak, itu akan berbau Laodikia. Kita kaya, kita tidak kekurangan apa-apa. Saya katakan pada kalian, jika pada suatu hari kalian berdiri di atas posisi demikian, Anda sudah sangat dekat dengan Laodikia.
Ingatlah, pada kita tidak ada apa pun yang bukan berasal dari pemberian Tuhan. Mungkin orang-orang di sekeliling penuh dengan kematian, tetapi Anda tidak perlu mengetahui bahwa diri sendiri penuh dengan hayat; sekalipun orang-orang di sekitar miskin, tetapi Anda tidak perlu mengetahui bahwa diri sendiri kaya. Semoga Allah membelaskasihani kita, agar kita belajar hidup di hadapan Allah; boleh kaya, tapi tidak mengetahui diri sendiri kaya. Wajah Musa walau bercahaya, tetapi ia sendiri tidak mengetahuinya. Inilah hal yang lebih baik! Begitu Anda mengetahui, Anda akan menjadi Laodikia. Begitu Anda mengetahui, Anda akan menjadi suam-suam kuku. Laodikia tahu segalanya, namun tidak ada seorang pun yang panas. Mereka seakan-akan memiliki segalanya, tetapi tidak ada seorang pun yang dapat mengorbankan jiwa. Mereka ingat kemuliaan masa lalu, tetapi lupa akan kondisi hari ini di hadapan Allah. Dahulu adalah Filadelfia, tetapi hari ini telah menjadi Laodikia.
II. WAJIB MEMILIH JALAN GEREJA BAGI DIRI SENDIRI
Hari ini saya telah membentangkan keempat gereja ini di hadapan Anda. Sejak agama Roma Katolik, muncul empat macam gereja, dan keempatnya itu akan berlangsung terus hingga kedatangan Tuhan Yesus. Hari ini, setiap anak Allah wajib memilih jalan gereja bagi dirinya sendiri. Apakah aku harus menjadi orang agama Roma Katolik, ataukah aku harus menjadi orang agama Protestan? Apakah aku harus mengikuti kesatuan gereja Roma Katolik ataukah aku harus mengikuti sekte-sekte atau denominasi-denominasi agama Protestan yang beraneka ragam? Atau aku harus menempuh jalan Filadelfia? Atau aku pernah menjadi Filadelfia sebentar, tetapi hari ini aku hanya hidup dalam sejarahku yang lampau sambil menyombongkan kemuliaanku yang lampau, sehingga aku menjadi orang Laodikia? Ingatlah, pada saat orang mulai bersikap congkak, meninggalkan hayat, dan tidak mementingkan realitas, hanya teringat akan sejarahnya di masa lalu dan mengira dirinya kaya, dalam orang semacam ini hanya terdapat opini orang banyak dan hanya merundingkan urusan bersama-sama seolah-olah sangat demokratis, tetapi tanpa hubungan Tubuh. Bila Anda tidak mengenal ikatan, kekuasaan, dan hayat Tubuh, niscaya Anda tidak dapat mengenal kasih persaudaraan.
Keempat macam gereja ini akan berlangsung terus, maka hendaklah kita setia terus dalam Filadelfia. Jangan bertanya dengan rasa ingin tahu, bagaimana keadaan agama Roma Katolik? Orang yang selalu ingin tahu sering kali akan dirugikan. Jangan pula meniru-niru perbuatan berbagai sekte agama Protestan, karena itu bukan jalan Allah. Alkitab sangat jelas menunjukkan kepada kita bahwa segenap pergerakan agama Protestan memang diberkati Allah, tetapi ada banyak pula yang dihukum dan dicela Allah. Maka, kita tidak perlu menyelidiki atau menanyakannya.
Kita wajib belajar berdiri di atas posisi Filadelfia, senantiasa menuruti firman Tuhan dan tidak menyangkal nama Tuhan. Berdiri di atas kedudukan persaudaraan, jangan sekali-kali bersikap sombong! Jangan menyombongkan diri, baik di hadapan Roma Katolik, Protestan, maupun di hadapan berbagai sekte. Begitu Anda sombong, Anda akan menjadi Laodikia, bukan lagi Filadelfia! Begitu Anda tinggi hati di hadapan mereka, Anda bukan lagi Filadelfia, melainkan Laodikia. Kalian ingin menempuh jalan yang mana? Semoga Allah memberkati anak-anak-Nya, semoga saudara-saudara bisa menempuh satu jalan gereja yang tepat dan lurus.
Jalan gereja yang ditetapkan Tuhan adalah Filadelfia. Walaupun saya tidak memiliki jutaan bukti untuk mengatakannya, tetapi saya memiliki ratusan ribu bukti untuk mengatakannya, banyak anak Allah yang terbaik membenarkan dan menempuh jalan ini. Seluruh problema agama Protestan telah usai, tak perlu dicari detailnya lagi. Demikian pula agama Roma Katolik, tidak perlu dipertimbangkan lagi. Dan semua sekte (denominasi) sebanyak ribuan telah berlalu pula.
Jalan Tuhan hanya satu, yaitu Filadelfia. Marilah kita menempuh jalan Filadelfia! Tetapi berhati-hatilah, jangan bersikap sombong. Pencobaan terbesar bagi orang yang menempuh jalan Filadelfia ialah kesombongan. Jangan sekali-kali kita dengan sombong berkata, ”Aku lebih baik daripada Anda, kebenaranku jauh lebih jelas daripada Anda! Aku hanya memiliki nama Tuhan, aku tidak seperti Anda!” Begitu kita sombong, kita akan segera jatuh ke dalam Laodikia. Pengikut-pengikut Tuhan tidak sombong. Orang yang sombong akan dimuntahkan oleh Tuhan.
Semoga Tuhan membelaskasihani kita dan memperingatkan kita untuk tidak mengucapkan perkataan sombong! Untuk itu kita harus senantiasa hidup di hadapan Allah; hanya dengan senantiasa hidup di hadapan Allah barulah kita tidak melihat kekayaan diri sendiri dan tidak sampai bersikap sombong!