JIKA SEORANG BERBUAT DOSA
Pembacaan Alkitab: Yohanes 5:14; 8:11; Roma 6:1-2; Bilangan 19:1-10, 12-13, 17-19; 1 Yohanes 1:7—2:2
Setelah kita beroleh selamat, tidak seharusnya kita berbuat dosa lagi. Injil Yohanes 5 mencatat kisah Tuhan Yesus menyembuhkan seorang yang sakit selama 38 tahun di tepi kolam Betesda. Ketika Tuhan bertemu lagi dengan dia dalam bait Allah, Tuhan berkata kepadanya, ”Engkau telah sembuh; jangan berbuat dosa lagi, supaya jangan terjadi yang lebih buruk lagi padamu.” Injil Yohanes 8 mencatat kisah Tuhan Yesus mengampuni seorang perempuan yang berzina. Saat itu juga Tuhan berkata kepadanya, ”pergilah, dan mulai sekarang, ”jangan berbuat dosa lagi.” Jadi, setelah kita beroleh selamat, Tuhan segera memberi satu perintah kepada kita: ”Jangan berbuat dosa lagi!” Sebagai orang yang telah diselamatkan, kita sekali-kali tidak boleh tetap hidup di dalam dosa.
I. MASALAH BERBUAT DOSA SETELAH BEROLEH SELAMAT
Orang Kristen tidak seharusnya berbuat dosa, dan sama sekali tidak boleh tetap hidup di dalam dosa. Lalu, bisakah orang Kristen tidak berbuat dosa? Bisa! Orang Kristen bisa tidak berbuat dosa, karena di dalam orang Kristen ada hayat (kehidupan) Allah. Hayat ini tidak bisa berbuat dosa, dan juga tidak bisa mentolelir dosa sedikit pun. Hayat ini kudus, sebagaimana Allah adalah kudus. Hayat ini dalam batin kita memberi kita perasaan yang luar biasa pekanya terhadap dosa. Bila kita hidup menuruti perasaan hayat ini, atau bila kita hidup dalam hayat ini, niscaya kita bisa tidak berbuat dosa.
Tetapi, kita orang Kristen mungkin berbuat dosa, sebab kita masih berada di dalam daging. Bila kita tidak hidup menurut Roh Kudus, tidak hidup di dalam hayat, di mana dan kapan saja ada kemungkinan bagi kita untuk berbuat dosa. Galatia 6:1 mengatakan, ”Saudara-saudara, kalaupun seorang kedapatan melakukan suatu pelanggaran . . .” Satu Yohanes 2:1 mengatakan, ”Anak-anakku, . . . jika seorang berbuat dosa . . .” Ini membuktikan bahwa orang Kristen tetap ada kemungkinan berbuat dosa. Satu Yohanes 1:8-10 mengatakan, ”Jika kita berkata bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri . . .” Ayat 10 meneruskan, ”Jika kita berkata, bahwa kita tidak ada berbuat dosa, maka kita membuat Dia menjadi pendusta . . .” Jadi, dalam pengalaman, orang Kristen masih ada kemungkinan, karena malang, berbuat dosa.
Setelah seseorang beroleh selamat, jika ia malang berbuat dosa lagi, apakah ia akan binasa? Tidak! Tuhan pernah berjanji, ”Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorang pun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku” (Yoh. 10:28). Dengan kata lain, begitu seseorang beroleh selamat, ia akan selamat sampai selama-lamanya. Ini merupakan satu perkara yang mutlak teguh dan dapat diandalkan. Dalam 1 Korintus 5:5 dikatakan, ada seorang saudara telah melakukan dosa, yakni berzina, kata Paulus, ”Orang itu harus di serahkan . . . kepada Iblis, sehingga binasa tubuhnya, agar rohnya diselamatkan pada hari Tuhan.” Di sini dikatakan, bila seseorang yang telah beroleh selamat berbuat dosa lagi, tubuhnya memang akan binasa, tetapi rohnya tetap beroleh selamat.
Jika demikian, apakah setelah beroleh selamat, tidaklah berbuat dosa lagi? Tidak! Jika setelah beroleh selamat berbuat mengapa kalau dosa lagi, ada dua akibat yang mengerikan:
Pertama, akan menderita susah pada zaman sekarang. Bila setelah beroleh selamat berbuat dosa lagi, pasti akan mengecap akibat dosa. Seperti yang dikatakan dalam 1 Korintus 5, orang itu harus diserahkan kepada Iblis, sehingga tubuhnya binasa; ini merupakan suatu penderitaan yang sangat besar. Misalkan Anda melakukan suatu dosa, bila Anda bertobat dan mengaku dosa, walaupun Allah mau mengampuni Anda, darah Tuhan pun dapat menyucikan Anda, tetapi akibat dosa itu tidak mungkin Anda hindari.
Daud mengawini istri Uria. Sekalipun Allah telah menghapus dosanya, tetapi akibatnya, pedang tidak akan menyingkir dari keturunannya sampai selama-lamanya (2 Sam. 12:9-13). Oh, saudara saudari, dosa bagaikan ular beracun, jangan sekali-kali kita meremehkannya. Bila kita sekali terpagut olehnya, niscaya kita akan menderita.
Kedua, akan menerima ganjaran di zaman yang akan datang. Bila orang Kristen berbuat dosa lagi dan tidak menanggulanginya pada zaman ini, pada zaman kelak tetap harus menanggulanginya. Ketika Tuhan datang untuk kedua kalinya, ”Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya” (Mat. 16:27). Paulus berkata, ”Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat” (2 Kor. 5:10).
Selain kedua akibat yang mengerikan itu, masih ada satu akibat lagi yang terjadi segera pada saat itu juga, yaitu persekutuannya dengan Allah terputus. Orang Kristen dapat bersekutu dengan Allah, ini adalah hak yang paling mulia dan juga adalah kebahagiaan yang terbesar. Namun, bila ia berbuat dosa, segera persekutuannya dengan Allah terputus. Roh Kudus di dalamnya akan berduka karenanya, hayat di dalamnya akan merasa tidak nyaman, sukacitanya akan lenyap, dan persekutuannya dengan Allah akan putus. Tadinya, kalau ia bertemu dengan anak-anak Allah, ia merasa sangat akrab; sekarang, tidak akrab lagi, bagaikan tersekat sesuatu. Tadinya, membaca Alkitab dan berdoa sangat nyaman; sekarang, terasa hambar, tidak bisa menjamah Allah. Dulu, ikut bersidang merasa mustika dan merasa rugi besar kalau absen sekali saja, tetapi kini, bersidang terasa tawar, seolah tidak bersidang pun tidak mengapa. Bahkan kalau bertemu dengan anak-anak Allah lainnya, terasa ingin menghindar atau menjauhkan diri. Keadaan yang semula sama sekali telah berubah.
Jadi, jika setelah beroleh selamat berbuat dosa lagi, itu adalah perkara yang sangat serius! Maka jangan sekali-kali kita mengumbar tingkah-laku kita, dan jangan sekali-kali membiarkan dosa berkedudukan di atas diri kita.
Tetapi apa yang harus diperbuat, ”jika ada orang berbuat dosa”? Jika seorang Kristen karena malang atau tidak hati-hati, sehingga ”kedapatan melakukan suatu pelanggaran”, yakni berbuat dosa, apa yang harus ia lakukan? Bagaimanakah agar ia dapat kembali ke hadirat Allah? Bagaimanakah agar ia dapat memulihkan persekutuannya dengan Allah? Ini adalah perkara yang sangat penting, yang harus kita bahas dengan baik.
II. TUHAN TELAH MENANGGUNG
SEGALA DOSA
Pertama, kita harus tahu, bahwa ketika Tuhan Yesus terpaku di atas salib, Ia telah menanggung segala dosa kita. Apa yang telah ditanggung Tuhan di atas salib meliputi segala dosa. Dosa-dosa yang telah kita lakukan seumur hidup kita, baik yang telah lampau, yang sekarang maupun yang akan datang, semuanya telah ditanggung Tuhan di atas salib.
Tetapi, pada hari kita percaya Tuhan, ketika Allah menerangi kita, segala dosa yang terasa oleh kita itu adalah dosa-dosa yang kita perbuat sebelum percaya Tuhan. Kita hanya dapat merasakan dosa-dosa yang telah diterangi Allah, tidak mungkin merasakan dosa-dosa yang tak pernah kita lakukan. Karena itu, penanggungan dosa oleh Tuhan berbeda dengan perasaan dosa kita. Tuhan Yesus di atas salib telah menanggung segala dosa kita, sedang kita hanya tampak dosa-dosa yang dulu telah kita lakukan.
Tak peduli Anda beroleh selamat pada umur 16 tahun, atau 32 tahun, Anda pasti merasa bahwa dosa-dosa Anda sebelum Anda diselamatkan telah diampuni oleh Tuhan. Tetapi, tatkala Anda beroleh pengampunan, dosa-dosa yang Anda rasa telah diampuni itu tidak sebanyak dosa-dosa yang sebenarnya ditanggung oleh Tuhan. Anda hanya mengenal kasih karunia atas dasar pengalaman melakukan dosa yang individu. Namun Tuhan menanggung dosa kita berdasarkan dosa yang dikenal-Nya, yang kita lakukan itu. Kita harus mengetahui bahwa dosa-dosa yang tidak terasa oleh kita pun tercakup dalam penebusan Tuhan Yesus.
Mungkin Anda beroleh selamat pada umur 16 tahun. Misalkan dalam 16 tahun itu Anda telah melakukan 1000 macam dosa. Sewaktu Anda percaya Tuhan pada umur 16 tahun, Anda berkata, ”Tuhan, aku bersyukur kepada-Mu, segala dosaku telah Kau ampuni, sebab Engkau telah menanggung segala dosaku.” Anda mengatakan, bahwa Tuhan telah menanggung segala dosa Anda, itu berarti Tuhan telah menanggung 1000 macam dosa Anda itu. Jika Anda beroleh selamat pada umur 32 tahun, bagaimanakah jadinya? Menurut perbandingannya, misalkan pada umur 32 tahun Anda mempunyai 2000 macam dosa, Anda juga berkata, ”O Tuhan, segala dosaku telah Kau tanggung.” Jika Anda beroleh selamat pada umur 64 tahun, Anda pun berkata, ”Ya Tuhan, segala dosaku telah Kau tanggung.” Maka jelaslah, bahwa Tuhan menanggung dosa Anda yang Anda lakukan mulai dari umur 1 hingga 16, Tuhan pun menanggung dosa Anda yang Anda lakukan mulai dari umur 16 hingga 64. Di atas salib Tuhan telah menanggung segala dosa Anda.
Penjahat yang di atas salib baru percaya Tuhan menjelang ajalnya, Tuhan pun menanggung segala dosanya (Luk. 23:40-43). Dengan kata lain, di atas salib Tuhan menanggung dosa-dosa yang kita lakukan seumur hidup kita. Walaupun ketika kita beroleh selamat, dalam pengalaman, kita hanya merasa beroleh pengampunan atas dosa-dosa yang telah kita perbuat di masa lampau, tetapi dalam faktanya, Tuhan telah menanggung segala dosa kita; dosa-dosa yang kita perbuat setelah kita diselamatkan juga tercakup di dalamnya. Kita harus memahami fakta ini, barulah kita dapat memahami jalan pemulihan persekutuan.
III. ABU LEMBU BETINA MERAH
Kita juga dapat tampak betapa kematian Tuhan telah menanggung segala dosa kita melalui lambang abu lembu betina merah.
Bilangan 19 adalah pasal yang istimewa dalam Perjanjian Lama. Di sini ada seekor lembu betina merah yang istimewa. Lembu ini bukan untuk menanggulangi keperluan dewasa ini, melainkan untuk menanggulangi keperluan di masa yang akan datang; ini merupakan sesuatu yang istimewa.
Allah bersabda kepada Musa dan Harun, ”Katakanlah kepada orang Israel, supaya mereka membawa kepadamu seekor lembu betina merah yang tidak bercela, yang tidak ada cacatnya dan yang belum pernah kena kuk . . .” (Bil. 19:2). Yang dipakai bukan lembu jantan, melainkan lembu betina. Dalam Alkitab, perbedaan kelamin sangat besar artinya. Untuk kesaksian kebenaran semua memakai kelamin jantan, sedang untuk pengalaman hayat, memakai kelamin betina. Ini merupakan prinsip yang harus diketahui dalam membaca Alkitab. Abraham mewakili pembenaran oleh iman, Sara mewakili ketaatan. Pembenaran oleh iman berada di aspek objektif, yakni aspek kebenaran dan kesaksian; sedang ketaatan berada di aspek subjektif, yakni aspek hayat dan pengalaman. Dalam seluruh Alkitab, gereja diwakili oleh kelamin perempuan, sebab ia berada di aspek subjektif, yang merupakan pekerjaan Tuhan atas diri manusia. Demikian pula, di sini memakai lembu betina, tidak memakai lembu jantan, sebab ia mewakili aspek lain dari pekerjaan Tuhan, yakni pekerjaan Tuhan atas diri kita. Karena itu pekerjaan yang diwakili lembu betina merah beraspek subjektif, bukan objektif.
Lalu, lembu ini diapakan? Disembelih dan darahnya diambil sedikit dengan jari, kemudian dipercikkannya ke arah sebelah depan Kemah Pertemuan sampai tujuh kali (Bil. 19:4). Dengan kata lain, darahnya tetap diperuntukkan bagi Allah, sebab fungsi darah selalu diperuntukkan bagi Allah. Memercikkan darah lembu ke arah depan Kemah Pertemuan sampai tujuh kali berarti dipersembahkan kepada Allah dan untuk menebus dosa.
Setelah seekor lembu betina merah itu disembelih, lalu harus dibakar habis; kulitnya, dagingnya dan darahnya harus dibakar habis bersama-sama dengan kotorannya. Pendeknya, segala sesuatunya harus dibakar sampai habis. Ketika membakarnya, imam harus mengambil kayu aras, hisop dan kain kirmizi, dan melemparkannya ke tengah-tengah api yang membakar habis lembu itu. Makna apakah yang terkandung dalam kayu aras dan hisop? Kitab 1 Raja-raja 4:33 mengatakan, bahwa Salomo bersajak tentang pohon-pohonan, dari pohon aras sampai kepada hisop. Ini berarti mencakup seluruh pepohonan, mencakup seluruh dunia. Apa pula maknanya kain kirmizi? Menurut bahasa aslinya, kata ”kain” tidak ada; kata tersebut sama dengan kata ”kirmizi” dalam kitab Yesaya 1:18. Jadi kirmizi itu mewakili dosa kita. Maka kayu aras, hisop, kirmizi, dan lembu dibakar bersama, berarti semua dosa dalam seluruh dunia ini dibakar habis bersama seekor lembu yang dipersembahkan kepada Allah itu.
Di sini kita tampak sebuah lukisan salib. Tuhan Yesus mempersembahkan diri-Nya sendiri kepada Allah, dan semua dosa kita tercakup di dalamnya. Dosa kecil maupun dosa besar, semua ada di dalamnya; dosa yang dahulu, yang sekarang, dan yang akan datang, juga ada di dalamnya; dosa yang rasanya bisa diampuni atau yang rasanya tidak bisa diampuni, juga ada di dalamnya. Pokoknya, semua dosa ada di dalamnya, lalu bersama dibakar habis.
Setelah terbakar habis, apakah yang dilakukan? Ayat 9 mengatakan, ”Maka seorang yang tahir haruslah mengumpulkan abu lembu itu dan menaruhnya pada suatu tempat yang tahir di luar tempat perkemahan, supaya semuanya itu tinggal tersimpan bagi umat Israel untuk membuat air pentahiran; itulah penghapus dosa.” Apakah artinya? Keistimewaan lembu betina merah terletak di sini. Setelah lembu betina merah dibakar, kayu aras dan hisop dibakar, kirmizi pun dibakar, lalu abunya harus disimpan. Kelak, jika ada orang Israel menyentuh benda yang tidak tahir sehingga menjadi najis di hadapan Allah, maka harus ada seorang yang tahir membuat air pentahiran, yakni yang dibuat dari air dicampur dengan abu tadi, lalu dipercikkan ke atas tubuh orang tersebut, agar ia menjadi tahir. Dengan kata lain, fungsi abu adalah sebagai penghapus najis, yaitu sebagai ”persiapan” demi keperluan bila terjadi kenajisan di kemudian hari.
Dalam Perjanjian Lama, orang yang berdosa perlu datang ke hadirat Allah untuk mempersembahkan kurban. Tetapi kalau setelah seseorang memberi persembahan, lalu menyentuh barang yang najis, ia menjadi tidak tahir di hadapan Allah, dan tak dapat bersekutu dengan Allah. Jika demikian, apa yang harus ia perbuat? Harus ada orang yang tahir mengambil sedikit abu lembu betina merah dan menaruhnya ke dalam sebuah wadah, lalu dicampur dengan air, hingga menjadi air pentahiran; kemudian dipercikkan ke atas tubuhnya, dengan demikian najisnya akan terhapus, dosanya akan diampuni. Seorang Israel membawa seekor lembu atau kambing ke hadapan Allah dan mempersembahkannya sebagai kurban tebusan dosa, itu dikarenakan ia tahu, bahwa dirinya telah berbuat dosa, tetapi lain halnya dengan lembu betina merah. Dibakarnya lembu betina merah bukan untuk dosa-dosa yang diketahuinya di masa lampau, melainkan untuk segala kenajisannya di kemudian hari. Terbakarnya lembu betina merah bukan untuk dosa yang telah lampau, melainkan untuk dosa yang akan datang.
Ini memperlihatkan aspek lain dari pekerjaan penebusan Tuhan Yesus. Pekerjaan Tuhan Yesus ada sebagian seperti abu lembu betina merah, yang mencakup seluruh khasiat penebusan dosa. Semua dosa umat manusia di seluruh dunia tercakup di dalamnya, darah pun tercakup di dalamnya. Pada masa yang akan datang, kapan saja, bila Anda terkena najis atau menyentuh barang yang tidak tahir, Anda tidak perlu menyembelih seekor lembu betina merah lagi untuk dipersembahkan kepada Allah. Asalkan Anda dipercik dengan air abu lembu betina merah yang telah dipersembahkan, itu sudahlah cukup. Dengan kata lain, Tuhan tidak perlu melakukan pekerjaan penebusan dua kali. Dalam pekerjaan penebusan-Nya, Ia telah menyediakan persediaan untuk menanggulangi segala kenajisan dan dosa kita yang akan datang. Dalam penebusan-Nya, semua telah tersedia dengan lengkap.
Apa artinya abu? Dalam Alkitab, abu menandakan barang yang terakhir. Baik lembu maupun kambing, setelah dibakar, pada akhirnya menjadi abu. Abu paling dapat diandalkan. Kita tidak dapat membinasakan atau membasmi abu, sebab abu merupakan tahap terakhir dari suatu benda.
Lembu betina merah dibakar habis hingga menjadi abu, hal itu melambangkan khasiat yang kekal dan tidak berubah yang terkandung dalam penebusan Tuhan. Karya penebusan Tuhan paling dapat diandalkan. Jangan kita mengira batu-batu di gunung dapat diandalkan; ketahuilah bahwa batu-batu itu dapat terbakar menjadi abu; jadi abulah yang lebih dapat di andalkan daripada batu-batu. Abu lembu betina merah melambangkan Tuhan menyediakan satu penebusan bagi kita, yaitu penebusan yang tidak berubah dan tidak binasa sampai selama-lamanya, yang dapat kita manfaatkan setiap waktu. Bila orang Kristen karena malang menyentuh barang yang tidak tahir dan terkena najis, ia tidak perlu mohon Tuhan untuk mati lagi baginya, ia cukup bersandar saja pada khasiat (abu) yang takkan rusak selama-lamanya itu, yaitu mengambil air hayat lalu memercikkan ke tubuhnya, dengan demikian ia sudah dapat ditahirkan. Dengan kata lain, abu lembu betina merah menyatakan bahwa pekerjaan salib di masa lampau adalah untuk kegunaan di hari ini, dan bahwa fungsi salib mencakup segala keperluan di masa yang akan datang. Jadi abu ini khusus untuk menanggulangi masalah di masa yang akan datang. Maka, asalkan ada lembu betina merah terbakar menjadi abu, cukuplah dipakai untuk seumur hidup. Syukur bagi Allah, penebusan Tuhan Yesus cukup kita manfaatkan seumur hidup kita. Kematian-Nya telah menanggung segala dosa kita.
IV. HARUS MENGAKU DOSA
Apa yang kita bicarakan di atas adalah ditinjau dari aspek penebusan dan penanggungan Tuhan. Sekarang kita akan meninjau dari aspek kita.
Satu Yohanes 1:9 memberitahu kita, ”Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” Kata ”kita” di sini ditujukan kepada ”orang yang percaya”, bukan orang dosa. Jika seorang beriman berbuat dosa, ia harus mengaku dosa, baru dapat menerima pengampunan dosa. Setelah orang beriman berbuat dosa, bukan dosa itu diabaikan begitu saja, pun bukan disembunyikan. Amsal 28:13 mengatakan, ”Siapa menyembunyikan pelanggarannya tidak akan beruntung, tetapi siapa mengakuinya dan meninggalkannya akan disayangi.” Bila orang beriman berbuat dosa, harus mengakuinya, jangan dosa itu diberi satu sebutan yang indah untuk memaafkan diri sendiri. Misalkan Anda berdusta. Dusta itu dosa, Anda harus mengaku bahwa Anda sudah berbuat dosa, jangan Anda berkata, ”Aku hanya kelebihan bicara (atau kekurangan) sedikit,” Anda harus berkata, ”Aku sudah berbuat dosa.” Anda tidak boleh menjelaskan atau menutupinya dengan perkataan lain. Anda harus mengakuinya di hadapan Allah, bahwa Anda sudah melakukan dosa berdusta; Anda harus menghakimi dusta sebagai dosa.
Mengaku dosa berarti memihak kepada Allah, menghakimi dosa sebagai dosa. Dalam hal ini ada tiga aspek: Allah, aku dan dosa. Allah dan dosa ada di kedua ujung, aku ada di tengah-tengah. Apa artinya berbuat dosa? Berbuat dosa berarti aku memihak kepada dosa dan meninggalkan Allah. Begitu aku berbuat dosa, aku segera meninggalkan Allah. Kapan aku memihak kepada dosa, aku tak mungkin memihak kepada Allah. Begitu Adam berbuat dosa, ia segera menyembunyikan diri dari Allah, tidak berani memandang muka Allah (Kej. 3:8). Kolose 1:21 juga mengatakan, ”Kamu yang dahulu hidup jauh dari Allah dan menjadi musuh-Nya dalam hati dan pikiran seperti yang nyata dari perbuatanmu yang jahat.” Berbuat dosa akan menyebabkan Anda terpisah jauh dari Allah. Apa artinya mengaku dosa? Mengaku dosa berarti kembali ke pihak Allah dan mengaku bahwa apa yang telah Anda lakukan adalah dosa. Sekarang aku kembali ke pihak Allah, aku tidak memihak kepada dosa, aku berdiri di seberang dosa, aku menghakiminya sebagai dosa, itulah artinya mengaku dosa. Sebab itu, Anda harus berjalan dalam terang, memiliki perasaan yang peka terhadap dosa, membenci dosa dengan perasaan yang dalam, barulah Anda bisa mengaku dosa dengan sesungguhnya. Orang-orang yang tanpa perasaan terhadap dosa, yang menganggap pengakuan dosa sebagai hal yang biasa, maka pengakuan dosa mereka hanya di atas bibir saja, bukan di dalam hati, itu sama sekali tidak terhitung sebagai pengakuan dosa.
Bila seorang beriman berbuat dosa, dalam batinnya pasti ada perasaan, dan ia segera merasa tidak damai, hatinya seolah-olah tertusuk duri. Ketidakdamaian itu adalah pekerjaan Roh Kudus. Pada saat itulah ia seharusnya menaati pekerjaan Roh Kudus, yaitu mengakui dosa itu sebagai dosa.
Kaum beriman adalah anak-anak terang (Ef. 5:8) dan anak-anak Allah (1 Yoh. 3:1); sekarang mereka bukan lagi pendatang, melainkan kawan sewarga Allah. Maka wajib memiliki corak hidup keluarga Allah. Jika Anda sebagai anak Allah Bapa, Anda harus mengenal dosa, dan terhadap dosa harus bersikap seperti Allah Bapa. Bagaimana penilaian Bapa terhadap dosa, penilaian Anda pun harus seperti penilaian Bapa. Mengaku dosa ialah sikap yang harus dimiliki setiap anak Allah terhadap dosa di dalam keluarga Bapanya. Bagaimana Bapa menghakimi dosa sebagai dosa, demikian pula sikap anak Allah terhadap dosa. Bila seorang anak Allah berbuat dosa, ia harus menghakimi dosa sebagai dosa, sama dengan sikap Bapa kita itu.
Jika kita mengaku dosa kita, maka ”Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” Bila kita berbuat dosa, kita mengetahui dosa kita sendiri, kita pun mengakui bahwa kita mempunyai dosa ini, maka Allah akan mengampuni dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan kita. Sebab ”Allah adalah setia”, Ia tak dapat tidak setia, tak dapat tidak menggenapkan firman dan janji-Nya; dan lagi ”Ia adalah adil”, maka Ia tak dapat tidak memenuhi dan menghitung pekerjaan dan penebusan Putra-Nya di atas salib. Ia telah berjanji, tak dapat tidak mengampuni. Ia adalah setia dan adil, maka Ia tak dapat tidak mengampuni dosa kita, tak dapat tidak menyucikan kita dari segala kejahatan kita.
Kita wajib memperhatikan dua ungkapan ”segala” dalam 1 Yohanes 1. ”Segala dosa” dan ”segala kejahatan” kita telah diampuni dan telah disucikan. Itu pekerjaan Tuhan. Jika Tuhan berkata ”segala”, pastilah ”segala”; jangan sekali-kali mengubah kata tersebut. Tuhan berkata segala dosa, pasti segala dosa. Maka kita tidak hanya percaya bahwa segala dosa yang kita lakukan sebelum percaya Tuhan, atau dosa-dosa yang kita lakukan di masa lampau telah diampuni, bahkan segala dosa kita telah diampuni oleh-Nya.
V. ADA SEORANG PENGANTARA PADA BAPA
Satu Yohanes 2:1 mengatakan, ”Anak-anakku, hal-hal ini kutuliskan kepada kamu, supaya kamu jangan berbuat dosa . . .” Yang dimaksud ”hal-hal ini” ditujukan pada dosa kita yang telah beroleh pengampunan dan penyucian oleh janji dan pekerjaan Allah. Hal-hal ini ditulis Yohanes kepada kita, supaya kita jangan berbuat dosa, supaya kita karena melihat Tuhan telah mengampuni dosa kita yang sebanyak itu, maka kita tidak berbuat dosa lagi. Bukan karena kita telah beroleh pengampunan maka kita memberanikan diri untuk berbuat dosa lagi, melainkan tidak berbuat dosa lagi.
Kalimat berikutnya mengatakan, ”Namun jika seorang berbuat dosa, kita mempunyai seorang pengantara kepada Bapa, yaitu Yesus Kristus yang adil.” Kepada Bapa, inilah perkara dalam keluarga, inilah perkara yang terjadi setelah kita diselamatkan. Kita telah beroleh selamat, kita adalah salah satu di antara sekian banyak anak-anak Allah. Kepada Bapa, kita mempunyai satu pengantara, yaitu Yesus Kristus yang adil. ”Dialah pendamaian untuk segala dosa kita.” Karena Tuhan Yesus mati, dan karena Tuhan Yesus menjadi pendamaian kita, Ia patut menjadi Pengantara kita kepada Bapa. Kata-kata ini ditujukan kepada orang Kristen.
Pendamaian yang dikatakan di sini sepadan dengan abu lembu betina merah yang dikatakan dalam Bilangan 19. Bilangan 19 melambangkan bahwa Ia dapat mengampuni dosa-dosa kita yang akan datang berdasarkan karya yang telah dirampungkanNya di atas salib. Tidak perlu salib yang baru, cukup dengan pekerjaan di salib yang sekali itu. Melalui pekerjaan penebusan kekal dari salib itu, maka dosa-dosa kita dapat diampuni. Kurban itu bukan kurban yang biasa, melainkan kurban yang berlaku seterusnya. Berhubung itu abu, maka ia dapat dimanfaatkan terus-menerus. Tuhan Yesus menjadi Pengantara kita justru berdasarkan darah-Nya. Tuhan Yesus di salib telah merampungkan pekerjaan penebusan; kita hari ini bersandar pada karya yang telah dirampungkan-Nya, laksana memercikkan air abu itu di atas tubuh kita, sehingga kita dapat ditahirkan. Sebab itu, jika Anda malang berbuat dosa, jangan sekali-kali putus asa, dan jangan berbaring terus di dalam dosa. Bila Anda berbuat dosa, yang pertama harus Anda lakukan di hadapan Allah ialah mengaku dosa Anda sendiri. Kalau Allah mengatakan itu dosa, Anda juga harus mengatakan itu dosa; kalau Allah mengatakan itu tidak seharusnya, Anda pun harus mengatakan itu tidak seharusnya. Begitu Anda mohon kepada Allah untuk mengampuni dosa Anda, Anda akan tampak, Allah dapat mengampuni dosa Anda, dan dengan demikian persekutuan Anda dengan Allah akan terpulihkan.
Setiap saudara saudari seharusnya tidak berbuat dosa di hadapan Allah. Tetapi andaikata seorang karena malang berbuat dosa, ia harus segara bangkit ke hadirat Allah menanggulangi dosanya, dan segera membereskan masalah dosa yang dilakukan pada kali itu. Jangan sekali-kali menunda-nunda, lebih cepat lebih baik, harus segera mengaku dosa kepada Allah. ”Ya Allah, aku sudah berdosa!” Mengaku dosa adalah penghakiman terhadap diri sendiri. Jika kita mengaku dosa kita, Allah adalah setia dan adil, Ia akan mengampuni dosa kita, dan menyucikan kita dan segala kejahatan.
Jika seorang anak Allah setelah berbuat dosa tidak mau mengaku, dan jika ia terus berada di dalam dosanya, maka ia akan kehilangan persekutuan di hadapan Allah; persekutuannya dengan Allah akan terputus. Hati nuraninya akan bocor, dan ia tidak dapat berdiri tegak di hadapan Allah. Mungkin ia masih bisa bersekutu dengan Allah, tapi ia akan merasa persekutuannya tidak lancar dan mesra; ia akan menderita sengsara. Ibarat seorang bocah melakukan hal yang tidak baik di luar, setelah pulang ke rumah, asalkan ayahnya tidak mau bicara dengannya, ia akan merasa tidak enak di dalam rumah, sebab ia tidak dapat bersekutu mesra dengan ayahnya, ia menyadari bahwa dalam batinnya ada sekatan. Itulah penderitaan akibat kehilangan persekutuan.
Jalan pemulihannya hanya satu, yaitu datang ke hadirat Allah dan mengaku dosa-dosa kita, serta percaya bahwa Tuhan Yesus Kristus telah menjadi Pengantara kita yang telah menanggung segala dosa kita. Kita harus di hadapan Allah mengakui segala kegagalan dan ketidakbenaran kita dengan rendah hati, menengadah kepada Tuhan supaya lain kali dapat menempuh jalan tanpa bersikap congkak, tanpa ceroboh, dan belajar mengenal bahwa diri sendiri tidak lebih baik daripada orang lain. Di mana saja, kita berkemungkinan jatuh, maka harus mohon Allah membelaskasihani kita, agar kita dapat maju ke depan selangkah demi selangkah. Kapankala kita mengaku dosa, niscaya persekutuan kita di hadapan Allah segera terpulih, sukacita dan damai sejahtera yang dulu hilang akan kita peroleh kembali.
Terakhir, kita tetap harus mengatakan, bahwa orang Kristen tidak seharusnya berbuat dosa. Berbuat dosa adalah satu hal yang menyusahkan dan merugikan kita.
Semoga Allah membelaskasihani dan memelihara kita, agar kita berada dalam persekutuan dengan Allah tanpa berkeputusan dan dapat maju terus ke depan!