Daftar isi Pembinaan Dasar · bab 8/50

DIDIKAN DAN HAJARAN ALLAH

Dalam pergumulan kamu melawan dosa, kamu belum sampai mencucurkan darah. Sudah lupakah kamu akan nasihat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak? ”Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya; karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia mencambuk orang yang diakui-Nya sebagai anak.” Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya? Tetapi, jikalau kamu bebas dari ganjaran, yang harus diderita setiap orang, maka kamu adalah anak-anak haram, dan bukan anak-anak yang sah. Selanjutnya: Dari ayah kita yang sebenarnya kita beroleh ganjaran, dan mereka kita hormati; kalau demikian bukankah kita harus lebih taat kepada Bapa segala roh, supaya kita boleh hidup? Sebab mereka mendidik kita dalam waktu yang singkat sesuai dengan apa yang mereka anggap baik, tetapi Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya. Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ganjaran itu menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya. Sebab itu, kuatkanlah tangan yang lemah dan lutut yang goyah; dan luruskanlah jalan bagi kakimu, sehingga yang pincang jangan terkilir, tetapi menjadi sembuh.

Ibrani 12:4-13

I. SIKAP KITA SEWAKTU BERADA DI BAWAH DIDIKAN DAN HAJARAN

1. Bergumul Melawan Dosa

Belum Sampai Mencucurkan Darah

Pengalaman dari Ibrani 12 ini perlu kita lihat butir demi butir. Ayat 4, ”Dalam pergumulan kamu melawan dosa, kamu belum sampai mencucurkan darah.” Di sini Rasul berkata kepada kaum beriman Ibrani, bahwa sekalipun mereka bergumul melawan dosa hingga menerima banyak kepahitan, menjumpai ujian berat, bahkan mengalami berbagai macam kesukaran dan aniaya, namun bagaimanapun mereka belum sampai mencucurkan darah. Jika hal itu dibandingkan dengan yang diderita oleh Tuhan, tentu terpaut jauh sekali! Dalam ayat 2 dikatakan bahwa Tuhan Yesus dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib. Jadi, pengalaman kaum beriman terpaut jauh sekali dengan apa yang Tuhan alami! Tuhan Yesus dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib sedemikian rupa sehingga mencucurkan darah-Nya. Meskipun kaum beriman juga menderita penghinaan, menanggung kesengsaraan salib, namun semua itu belum sampai ke taraf mencucurkan darah.

2. Sewaktu Menemui Kesulitan

Harus Mengetahui Apa Maksudnya

Setelah seseorang menjadi orang Kristen, perkara apa yang harus siap dihadapinya? Kita sekali-kali tidak ingin membentangkan suatu harapan yang tidak wajar di hadapan saudara saudari, kita ingin memperlihatkan kepada mereka bahwa kita akan menjumpai banyak perkara, dan dalam perkara-perkara itu terkandung tujuan Allah, terkandung maksud Allah. Kita akan menjumpai banyak ujian dan kesulitan, tetapi apa sebenarnya maksud ujian dan kesulitan itu? Makna apa yang tersembunyi di baliknya? Bagaimanapun, sebelum Tuhan mengizinkan kita menjadi kaum martir, kita belum sampai mencucurkan darah karena bergumul melawan dosa. Meskipun demikian, kita sudah bergumul dan melawan! Lalu, apakah tujuan sebenarnya dari terjadinya perkara-perkara tersebut?

3. Jangan Putus Asa dan Jangan Menganggap Enteng

Ayat 5-6, ”Sudah lupakah kamu akan nasihat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak? ’Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya; karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia mencambuk orang yang diakui-Nya sebagai anak.’”

Ketika Rasul menulis ayat ini, ia mengutip perkataan dalam kitab Amsal dari Perjanjian Lama. Jika Tuhan mendidik kita, janganlah kita menolaknya; jika Tuhan menghajar kita, janganlah kita putus asa. Kedua sikap inilah yang harus dimiliki oleh kaum beriman. Ada orang, ketika menghadapi kesukaran, kesengsaraan, atau mengalami didikan dan hajaran Allah, ia menganggap kejadian-kejadian itu sebagai hal-hal yang biasa dan tidak penting; ia membiarkannya berlalu begitu saja. Sebaliknya, ada orang, ketika tertimpa tangan Tuhan, ia segera menjadi putus asa, merasa keadaan orang Kristen sangatlah sukar, terlalu sulit untuk menjadi orang Kristen. Ia mengharapkan jalan ini sangat lancar, seolah mengenakan baju lenan halus yang putih bersih sambil berjalan santai di atas jalan emas menuju gerbang mutiara. Dia tidak mengira bahwa sebagai orang Kristen, ia harus mengalami banyak perkara yang menyulitkan. Dia belum siap menjadi orang Kristen dalam situasi demikian. Sebab itu, ia menjadi putus asa; ia merasa jalan ini sulit ditempuh. Kitab Amsal memperlihatkan kepada kita bahwa kedua sikap tersebut adalah keliru.

4. Menghargai Didikan dan Hajaran Tuhan

Anak-anak Allah tidak seharusnya meremehkan didikan dan hajaran Tuhan. Bila Tuhan mendidik dan menghajar kita, kita harus memperhatikannya dengan serius. Setiap peristiwa yang diizinkan Tuhan menimpa diri kita, pasti mengandung tujuan dan makna tertentu. Melalui peristiwa-peristiwa itu Tuhan ingin membina kita. Semua didikan dan hajaran-Nya bertujuan menyempurnakan kita, agar kita menjadi lebih kudus. Setiap hajaran-Nya bertujuan menggarapkan sifat-Nya ke dalam sifat kita, agar dalam hal karakter kita menerima pendidikan ilahi. Inilah tujuan didikan dan hajaran Tuhan. Tuhan tidak mendidik dan menghajar tanpa alasan; Tuhan ingin menggarap kita hingga kita menjadi bejana-Nya. Tuhan tidak pernah menyuruh anak-anak-Nya menderita tanpa makna. Hanya menderita sengsara bukanlah tujuan dari penderitaan itu. Tuhan memberi kita kesukaran bukan sekadar menghendaki kita menderita. Semua penderitaan itu ada tujuannya, yakni agar kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya. Inilah tujuan didikan dan hajaran Allah.

Namun, banyak anak Allah yang mungkin sudah menjadi orang Kristen belasan tahun, sama sekali tidak pernah menghargai didikan dan hajaran Allah; tidak pernah menyadari bahwa didikan atau hajaran Tuhan sedang menimpa dirinya sedemikian rupa agar dirinya tergarap atau terukir menjadi satu bejana. Mereka tidak tampak tujuan dari pukulan, garapan, dan pengukiran Allah, semuanya dilalui dengan sembarangan saja. Hari ini, menjumpai satu perkara, dibiarkannya berlalu begitu saja; esoknya, menjumpai satu peristiwa lagi, tetap tidak tahu apa sebenarnya maksud Tuhan, maka dibiarkannya lagi berlalu begitu saja. Seolah-olah baginya Allah adalah Allah yang tanpa maksud tujuan, yang dengan sembarangan saja memberikan kesukaran kepada manusia. Saudara saudari ingatlah, belajar menghargai didikan dan hajaran Allah adalah sikap pertama yang harus dimiliki anak-anak Allah. Begitu ada suatu kejadian, maka pertanyaan kita yang pertama ialah, ”Apakah artinya ini?” ”Mengapa terjadi demikian?” Kita harus belajar menghargainya, tidak boleh memandangnya ringan. Memandang ringan berarti ceroboh; memandang ringan berarti terserah pada Allah apa yang ingin Ia perbuat, sedangkan dirinya sendiri tak tahu menahu dan membiarkannya lewat dengan sikap acuh tak acuh.

Pada satu pihak, didikan dan hajaran Allah tidak boleh kita anggap ringan, pada pihak lainnya, kita pun jangan menganggapnya terlampau berat. Kalau seorang Kristen sehari suntuk hanya menderita sengsara dan selalu tidak lancar, pasti akan membuat orang putus asa. Itulah artinya menganggap didikan dan hajaran Tuhan terlalu berat. Kita wajib belajar menerima didikan dan hajaran Tuhan, wajib belajar tampak dan memahami bahwa didikan dan hajaran Tuhan itu bertujuan. Tetapi kita pun jangan menjadi putus asa karenanya.

II. TUHAN MENGHAJAR ORANG YANG DIKASIHI-NYA

Ayat 6, ”Karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia mencambuk orang yang diakui-Nya sebagai anak.” Ayat ini berasal dari kitab Amsal, yang memperlihatkan kepada kita apakah sebenarnya alasan dari setiap didikan dan hajaran Tuhan.

1. Didikan dan Hajaran Adalah Pengaturan Kasih

Allah tidak mempunyai begitu banyak waktu senggang untuk menanggulangi orang-orang di dunia ini. Tetapi hanya orang yang dikasihi-Nyalah yang dididik dan dihajar-Nya. Dia mendidik dan menghajar kita karena kita dikasihi-Nya. Dia akan menggarap kita sedemikian rupa sehingga kita dapat menjadi satu bejana; itulah sebabnya Dia melakukan didikan dan hajaran-Nya. Allah tidak ada waktu untuk mendidik dan menghajar setiap orang di dunia, tetapi karena Ia mengasihi anak-anak-Nya sendiri, maka Dia sudi menghabiskan waktu untuk mendidik dan menghajar anak-anak-Nya. Jadi, didikan dan hajaran adalah pengaturan kasih. Kasihlah yang mengatur peristiwa-peristiwa itu bagi kita. Inilah yang kita namakan ”didikan dan hajaran”. Kasihlah yang menakarkan bagi kita apa yang harus kita hadapi, dan kasihlah yang menyediakan bagi kita peristiwa sehari-hari dalam lingkungan kita. Itulah yang disebut ”didikan dan hajaran”, yang Ia siapkan demi mendatangkan kebaikan terbesar, sehingga tercapai tujuan yang tertinggi dari penciptaan-Nya.

”Dan Ia mencambuk orang yang diakui-Nya sebagai anak”. Semua orang yang telah mengalami didikan dan hajaran mempunyai jaminan bahwa dirinya diakui Allah sebagai anak. Dicambuk tidak berarti ditolak, melainkan suatu bukti diakui atau diperkenan oleh Allah. Saya ulangi: Allah tidak mempunyai waktu untuk menanggulangi setiap orang, tetapi Ia hanya membuang waktu untuk menanggulangi anak-anak yang dikasihi dan diakui-Nya.

2. Didikan dan Hajaran adalah Pendidikan Bapa

Setelah Anda menjadi orang Kristen, Anda harus siap menerima didikan dan hajaran dalam tangan-Nya. Kalau Anda bukan anak Allah, Anda akan dibiarkan-Nya hidup sembarangan, Anda akan dibiarkan-Nya menempuh jalan Anda sendiri. Tetapi jika Anda telah menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat Anda, Anda adalah anak Allah yang dilahirkan oleh Allah, karena itu Anda harus siap menerima didikan dan hajaran Allah. Tak ada seorang ayah yang mau mendidik dan menghajar anak-anak orang lain; baik atau buruk anak-anak tetangga itu bukan tanggung jawabnya. Namun, seorang ayah yang baik pasti memberikan pendidikan secara teratur kepada anaknya sendiri. Ada perkara-perkara tertentu pasti akan ditanggulanginya dengan teliti. Ia tidak mendidik dan menghajar anaknya secara kebetulan atau sembarangan. Ia akan melakukannya sesuai dengan ketentuannya sendiri, agar anaknya dapat belajar menjadi manusia yang jujur, giat, mampu menghadapi kesulitan, serta bercita-cita luhur. Sang ayah akan mengatur suatu pelajaran untuk mendidik anaknya, agar anaknya menjadi orang yang sebaik itu. Demikian pula, sejak Anda diselamatkan, Allah sudah mulai mengatur suatu pelajaran bagi Anda untuk dipelajari, agar akhirnya Anda bisa menjadi orang yang sesifat dengan Dia. Ia menghendaki Anda menjadi serupa dengan Dia dalam banyak perkara, karena itu Ia memberikan didikan dan hajaran, pengaturan dan penderaan atas diri Anda.

Begitu seseorang menjadi orang Kristen, ia harus menyadari, ”Aku sudah menjadi anak Allah, dan Allah akan mulai memberi pelajaran-pelajaran kepadaku melalui berbagai macam pengaturan dalam lingkunganku. Allah akan mengatur berbagai macam urusan dan peristiwa, bahkan kesukaran-kesukaran untuk kualami, agar pada diriku tercipta semacam sifat atau karakter.” Allah ingin menggarap Anda hingga Anda memiliki semacam kepribadian. Itulah sebabnya Ia mengatur semuanya itu bagi Anda dalam lingkungan Anda.

Setelah Anda menjadi orang Kristen, Anda harus tampak tangan Allah sedang memimpin Anda; pengaturan-Nya dalam lingkungan akan datang, dan penderaan-Nya pun akan datang. Bila Anda tidak menempuh jalan-Nya, cambuk Allah akan mendera, mendesak, dan menggiring Anda untuk kembali ke jalan ini lagi. Setiap anak Allah harus mempersiapkan diri untuk menerima didikan dan hajaran dari tangan Allah. Karena Anda adalah anak, maka Allah harus mendidik dan menghajar Anda. Allah tidak mempunyai waktu untuk mendidik dan menghajar orang lain. Jika ia bukan anak yang dikasihi Allah, Allah takkan membuang waktu untuk mendidik dan menghajarnya. Kalau ia bukan orang yang diakui Allah sebagai anak, Allah pun tak mempunyai waktu untuk memperingatkannya. Adanya didikan dan hajaran membuktikan bahwa Allah mengasihi dan mengakuinya. Jadi, pukulan atau didikan dan hajaran hanya dimiliki oleh orang-orang Kristen.

3. Didikan dan Hajaran Bukan Siksaan,

Melainkan Kemuliaan

Yang kita terima adalah didikan dan hajaran, bukan hukuman. Hukuman bertujuan menyatakan kesalahan, tetapi didikan dan hajaran bertujuan mendidik demi kebaikan. Hukuman ada, karena Anda telah bersalah; ini adalah untuk perkara yang telah lalu. Didikan dan hajaran juga ada karena kesalahan Anda, namun itu untuk kemudian hari. Dalam didikan dan hajaran terkandung unsur kemuliaan, terkandung maksud tertentu. Anda hari ini berada di bawah nama Tuhan dan milik Tuhan, maka Anda harus menyatakan dengan tegas bahwa Allah hendak menggarap Anda menjadi seorang yang dapat memuliakan Dia. Saya dapat berkata dengan penuh keyakinan, yaitu setiap anak-anak Allah harus memuliakan Allah dalam perkara-perkara tertentu. Setiap anak-anak Allah wajib memuliakan Allah. Hanya saja, masing-masing orang berbeda; ada yang begini memuliakan Allah, ada yang begitu memuliakan Allah. Kita harus memuliakan Allah dengan berbagai corak dan keadaan, sehingga Allah beroleh kemuliaan yang sempurna. Setiap orang memiliki kekhususannya masing-masing, dan Allah akan menggarap tiap-tiap orang menjadi satu pribadi tertentu yang dapat memuliakan Allah. Demi penggenapan kehendak Allah ini, maka didikan dan hajaran Allah menimpa setiap anak-Nya. Tak seorang pun dari anak-anak Allah yang dapat menghindari tangan Allah itu.

4. Tak Mengerti Didikan dan Hajaran Allah

Adalah Satu Kerugian Besar

Sungguh adalah satu kerugian yang sangat besar bila anak-anak Allah tidak mengenal didikan dan hajaran Allah. Terus terang saya katakan, banyak orang sudah bertahun-tahun hidup di hadapan Allah, tetapi mereka adalah orang-orang yang bebal dan sembrono, mereka tidak mempunyai jalan untuk maju, dan tidak tahu apa yang hendak Tuhan lakukan atas dirinya. Mereka bertindak sekehendak hati, tidak terkendali, seolah orang yang berlari kian ke mari di padang gurun tanpa tujuan. Allah tidaklah demikian, Ia mempunyai tujuan; Ia menghendaki kita memiliki kepribadian khusus yang dapat memuliakan nama-Nya. Sebab itu, setiap didikan dan hajaran-Nya bermaksud memimpin kita menempuh jalan ini.

III. MENANGGUNG DIDIKAN DAN HAJARAN ALLAH

Ketika rasul menulis surat kepada kaum beriman Ibrani, ia mengutip perkataan dalam kitab Amsal. Mulai dari ayat 7, rasul menjelaskan arti dari ayat 5 dan 6. Yang kita baca di atas adalah perkataan Amsal, sekarang adalah penjelasannya: ”Jika kamu harus menanggung ganjaran.” Ini merupakan penjelasan pertama dari Perjanjian Baru, dan hal ini sangat penting. Sebab di sini rasul menunjukkan kepada kita bahwa menderita sengsara itu sama dengan mengalami didikan dan hajaran.

1. Menderita Sengsara

Itulah Didikan dan Hajaran Allah

Mungkin ada yang ingin bertanya, ”Apakah didikan dan hajaran Allah itu? Mengapa setelah ayat 2 dan 3 mengatakan tentang mengabaikan kehinaan, tekun memikul salib, tekun menanggung bantahan dari orang-orang dosa, lalu pada ayat 5 dan 6 mempersoalkan masalah didikan dan hajaran? Apa hubungan antara kedua hal tersebut? Apa artinya didikan dan hajaran? Apa pula maksudnya kehinaan, atau menanggung bantahan dari orang-orang dosa?” Ayat 7 memberikan kesimpulan dari ayat-ayat tersebut, yaitu segala yang kita tanggung dengan tekun itulah didikan dan hajaran Allah. Jadi penderitaan itulah didikan dan hajaran Allah, penghinaan dan kesusahan itulah didikan dan hajaran Allah. Walau dalam hal melawan dosa belum sampai mencucurkan darah, tetapi kesengsaraan atau kesusahan itulah didikan dan hajaran Allah.

Bagaimanakah cara Allah mendidik dan menghajar kita? Kita harus tampak bahwa segala yang Allah tentukan untuk kita alami dan derita itulah didikan dan hajaran Allah. Jangan mengira bahwa didikan dan hajaran Allah haruslah berupa perkara-perkara yang istimewa. Tidak, didikan dan hajaran Allah justru adalah sesuatu yang Anda tanggung dan derita setiap hari. Mungkin sepatah kata yang keras, sebuah wajah yang kurang ramah, sebuah lidah yang tajam, suatu perlakuan yang kurang sopan, suatu kritikan yang tak beralasan, suatu kesulitan yang di luar dugaan, macam-macam penghinaan, kerabat yang tidak bertanggung jawab, tindakan yang menyalahi kedudukan (lancang), atau kesulitan-kesulitan lainnya yang lebih berat. Ada kalanya juga berbagai macam penyakit, kemiskinan, kesengsaraan dan banyak lagi kesesakan lainnya. Pendek kata, semua yang Anda tanggung dan derita, menurut rasul, semua itu adalah didikan dan hajaran Allah.

2. Semua Peristiwa Bukan Kebetulan

Di sinilah persoalannya, jika seseorang memandang saya dengan wajah yang kurang enak, bagaimanakah reaksi saya? Kalau pandangan mata yang kurang enak itu merupakan didikan dan hajaran Allah, bagaimana pula reaksi saya? Jika kepentingan saya terbengkalai akibat kemampuan seseorang kurang baik, bagaimana sikap saya terhadapnya? Kalau kekurangan itu merupakan didikan dan hajaran Allah, bagaimana pula sikap saya terhadapnya? Kalau sakit saya kali ini dikarenakan ketularan, bagaimana sikap saya? Kalau kejadian yang tidak baik itu dikarenakan ”nasib” saya, apa komentar saya? Tetapi, jika hal itu adalah didikan dan hajaran Allah, bagaimana pula komentar saya? Saudara saudari, semuanya itu akan menimbulkan perbedaan yang sangat besar! Kalau Anda menganggap berbagai macam peristiwa yang menimpa diri Anda itu hanyalah nasib Anda belaka, Anda tentu akan menghadapinya dengan sikap tertentu. Tetapi bila Anda menyadari bahwa semua itu adalah didikan dan hajaran Allah, sikap Anda pasti akan berbeda. Karena itu, perkataan rasul sangat jelas, ”Yang kita tanggung adalah didikan dan hajaran Allah.” Jangan sekali-kali kita berkata bahwa perkara-perkara itu tak mungkin kita tanggung. Perkara-perkara itu adalah didikan dan hajaran Allah! Jangan sekali-kali kita berkata dengan sembarangan bahwa perkara-perkara itu terjadi secara kebetulan. Tidak, semua itu adalah didikan dan hajaran Allah, yang setiap hari telah diatur dan ditakar oleh Allah bagi kita.

3. Memperlakukan Kita Seperti Anak

Ayat 7 menjelaskan, ”Allah memperlakukan kamu seperti anak.” Ini berarti Allah memperlakukan kita seperti orang tua memperlakukan anaknya. “Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya?” Semua peristiwa yang kita alami adalah didikan dan hajaran Allah, dan itu dikarenakan Ia memperlakukan kita seperti orang memperlakukan anaknya sendiri. Ingatlah, didikan dan hajaran Allah adalah perlakuan Allah yang baik, bukan perlakuan yang tidak baik. Banyak orang yang salah mengerti, mengira didikan dan hajaran Allah merupakan perlakuan-Nya yang tidak baik. Tidak! Bila saya menerima hajaran Allah, itu berarti saya diperlakukan dengan baik oleh Allah, seperti terhadap anak-Nya. Di manakah ada seorang anak tidak dihajar oleh ayahnya? Didikan dan hajaran adalah perlakuan Allah yang baik! Karena Anda telah menjadi anak Allah, maka Anda akan menerima didikan dan hajaran-Nya. Didikan dan hajaran Allah bermaksud membawa Anda ke suatu posisi sehingga Anda beroleh berkat dan kemuliaan. Karenanya jangan sekali-kali kita mengira dididik dan dihajar Allah itu sama dengan disiksa Allah. Di manakah ada seorang anak yang tidak dihajar oleh ayahnya?

4. Harus Tampak Tangan Bapa

Di sini terdapat satu perbedaan yang sangat besar. Jika setiap orang tampak bahwa semua penderitaan atau peristiwa yang menimpanya itu berasal dari Allah, ia pasti akan mengambil satu sikap yang berbeda terhadap apa yang ia alami itu. Jika hari ini ada seseorang mencambuk saya, mungkin saya akan bertengkar dengannya. Saya akan merampas cambuk itu, lalu saya patahkan, dan saya lemparkan kembali ke mukanya; dan saya tidak merasa bersalah kepadanya. Tetapi jika bapa saya yang mencambuk saya, bolehkah saya melawannya seperti itu? Tentu tidak! Sering kali kita malah merasa bahwa cambuk bapa itu sangat baik. Seperti yang dikatakan oleh Madame Guyon, ”Aku ingin mencium cambuk yang mencambukku! Aku ingin mencium tangan yang mencambukku!” Itu adalah tangan Allah, itu adalah cambuk Bapa, maka urusannya akan lain. Jika itu peristiwa biasa, Anda boleh bersikap acuh tak acuh. Tetapi karena Anda tampak itu bukan peristiwa biasa, melainkan tangan atau cambuk Allah, yang bertujuan membuat Anda berbagian dalam sifat dan karakter-Nya, Anda pasti tidak akan menggerutu. Bila kita menyadari hal itu adalah perlakuan Bapa, maka perasaan kita akan mutlak berubah: ”Allahku memperlakukan aku seperti anak-Nya. Hari ini Ia mendidik dan menghajar aku, hal ini sangatlah mulia.”

5. Didikan dan Hajaran Adalah Bukti Sebagai Anak

Ayat 8, ”Tetapi, jikalau kamu bebas dari ganjaran, yang harus diderita setiap orang, maka kamu adalah anak-anak haram, dan bukan anak-anak yang sah.” Ingatlah, didikan dan hajaran adalah bukti sebagai anak. Siapakah anak-anak Allah? Mereka yang dididik dan dihajar Allah! Siapakah yang bukan anak-anak Allah? Mereka yang tidak dididik dan dihajar Allah! Jika seorang tidak dididik dan dihajar Allah, padanya tidak ada bukti atau identitas sebagai anak Allah.

Didikan dan hajaran harus dialami oleh setiap anak. Setiap anak Allah harus menerima didikan dan hajaran, Anda tidak terkecuali. Asalkan Anda bukan anak haram, atau anak yang tidak sah, melainkan benar-benar anak Allah, Anda harus menerima didikan dan hajaran-Nya. Perkataan rasul di sini sangat serius: didikan dan hajaran harus dialami setiap anak. Kalau Anda adalah anak Allah, Anda jangan berharap memperoleh perlakuan lain, sebab didikan dan hajaran wajib dialami oleh setiap anak Allah. Bagaimana setiap orang yang hidup pada zaman Paulus dan Petrus, begitu pula setiap orang di seluruh dunia pada hari ini, tidak ada seorang pun yang terkecuali. Janganlah Anda berharap mempunyai satu jalan yang tidak ditempuh oleh anak-anak Allah lainnya. Tidak ada seorang anak Allah bisa menempuh jalan yang bebas dari didikan dan hajaran Allah. Jika ada yang menyebut dirinya anak Allah, namun mengharap semuanya lancar, juga mengharap tidak ada didikan dan hajaran Allah, nyatalah bahwa ia adalah anak haram, adalah anak luar yang menyusup masuk. Jadi, kita harus tampak bahwa didikan dan hajaran adalah tanda dan bukti kita sebagai anak-anak Allah. Tanpa bukti ini, Anda adalah anak haram atau anak keluarga lain, Anda bukan anak keluarga Allah. Kalau Allah tidak mendidik dan menghajar Anda, itu berarti Anda anak keluarga lain.

Saya pernah melihat satu kejadian, yang walau tidak bermakna dalam, tetapi merupakan satu contoh yang cukup tepat. Ada enam anak asyik bermain-main di sebuah pelataran rumah sehingga semuanya kotor oleh lumpur. Kemudian datang seorang ibu, memukul tiga orang anak di antara mereka dan melarang ketiga anak itu bermain sedemikian lagi. Salah seorang anak yang dipukul itu bertanya, ”Mengapa ibu tidak memukul mereka?” Jawab sang ibu, ”Tidak, sebab mereka bukan anak-anakku.” Lihatlah, tidak ada seorang ibu yang mau menghajar anak-anak orang lain. Ketahuilah, akan celaka sekali bila Allah tidak mendidik dan menghajar kita! Itu berarti kita adalah anak-anak haram, bukan anak-anak Allah. Karena Anda adalah orang yang sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan, maka sejak hari pertama Anda sudah harus menerima hajaran Allah. Anda tak dapat menjadi anak Allah yang bebas dari didikan dan hajaran-Nya. Kedua hal ini selalu berpadu. Anda tak mungkin menerima hak sebagai putra Allah tanpa menerima didikan dan hajaran-Nya. Tidak, itu tidak mungkin! Setiap anak harus menerima didikan dan hajaran, Anda tidak terkecuali.

IV. TAAT KEPADA HAJARAN DARI BAPA SEGALA ROH

Ayat 9, ”Selanjutnya: Dari ayah kita yang sebenarnya kita beroleh ganjaran, dan mereka kita hormati; kalau demikian bukankah kita harus lebih taat kepada Bapa segala roh, supaya kita boleh hidup?” Rasul memperlihatkan bila ayah kandung kita mendidik dan menghajar kita, kita wajib menghormatinya, membenarkannya dan menerimanya. Apa lagi bila kita dididik dan dihajar oleh Bapa segala roh, bukankah kita harus lebih taat kepada-Nya, supaya kita boleh hidup?

Dengan ini kita tampak bahwa masalah anak menimbulkan masalah didikan dan hajaran; masalah didikan dan hajaran menimbulkan masalah taat. Karena kita adalah anak, maka kita dididik dan dihajar; dan karena ada didikan dan hajaran, maka kita perlu taat. Ingatlah, segala yang diatur Allah dalam lingkungan kita bertujuan mendidik dan menghajar kita, agar kita menempuh jalan ini, agar kita mau tak mau harus berjalan di jalan ini.

1. Dua Aspek Taat kepada Allah

Taat kepada Allah mencakup dua aspek. Pertama, taat kepada perintah Allah. Kedua, taat kepada didikan dan hajaran Allah. Kita harus menaati firman Allah, menaati perintah Allah, dan menaati asas-asas atau kaidah-kaidah yang ditetapkan Allah dalam Alkitab. Kita pun harus taat kepada pengaturan Allah atas sekeliling kita; kita taat kepada didikan dan hajaran-Nya. Sering kali kita cukup menaati firman Allah saja, tetapi ada kalanya kita harus pula menaati didikan dan hajaran Allah. Kalau Allah telah mengatur suatu perkara menimpa diri Anda, Anda harus bisa mendapatkan faedah dan hikmah dari perkara tersebut. Itulah faedah yang akan Allah berikan kepada Anda, dan itulah jalan lurus yang seharusnya Anda tempuh. Karena itu, Anda wajib belajar tidak saja menaati perintah Tuhan, juga menaati didikan dan hajaran Tuhan. Meskipun untuk menaati didikan dan hajaran Tuhan perlu membayar harga, namun itu akan membuat Anda menempuh jalan yang lurus.

Ingatlah, ketaatan bukanlah sebuah istilah yang kosong. Banyak orang bertanya kepada saya, ”Apa yang harus aku taati?” Pertanyaan ini mudah sekali dijawab. Masakan Anda khawatir tidak ada satu perkara pun yang harus Anda taati? Andaikata Allah mendidik dan menghajar Anda setengah hari saja, boleh jadi Anda sudah berusaha melarikan diri. Banyak orang mengira seolah-olah tidak ada sesuatu yang perlu ditaati. Itu benar-benar aneh! Ingatlah, ketika Allah menuntut ketaatan Anda, maksud Allah ialah agar Anda menaati semua didikan dan hajaran dari tangan-Nya atas diri Anda. Anda mungkin bertanya, ”Mengapa tidak mengatakannya sebagai tangan pimpinan Allah, melainkan tangan didikan dan hajaran Allah? Mengapa tidak mengatakan Allah memimpin perjalananku, tetapi Allah mendidik dan menghajarku?” Ketahuilah, Allah mengenal tabiat Anda, Anda juga mengenal tabiat Anda sendiri. Selain melalui didikan dan hajaran, kebanyakan orang tidak mengerti apa artinya taat.

2. Belajar Taat Melalui Didikan dan Hajaran

Kita harus menyadari orang macam apa kita di hadapan Allah. Sering kali tabiat bawaan kita tegar dan pemberontak. Ibarat seorang anak nakal yang sama sekali enggan menurut kecuali setelah melihat tangan ayah memegang pemukul atau cambuk. Demikianlah keadaan kita. Ada anak yang sukar diajak bicara kecuali terlebih dulu diomeli atau dipukul. Ingatlah, kita masing-masing justru adalah anak semacam itu. Kalau Allah ingin berbicara kepada kita, Ia harus memukul kita dahulu, bahkan mungkin harus memukul beberapa kali; jika tidak, jangan harap kita mau mendengar perkataan-Nya. Sebab itu, didikan dan hajaran merupakan keperluan kita yang mutlak. Kita harus belajar mengenal diri kita sendiri. Kita bukan orang-orang yang sederhana; kita adalah orang-orang yang meskipun telah dipukul, tetap tak mau jalan. Di sini rasul menunjukkan kepada kita bahwa didikan dan hajaran bertujuan agar kita mau mendengar perkataan Allah dan menaati-Nya. Rasul berkata, ”Kita harus lebih taat kepada Bapa segala roh, supaya kita boleh hidup.” Jadi, kita tidak boleh kekurangan ketaatan ini. Sebaliknya, kita harus belajar menaati Allah, dan berkata, ”Ya Allah, aku mau tunduk di bawah didikan dan hajaran-Mu! Apa yang Kau lakukan adalah benar!”

V. DIDIKAN DAN HAJARAN

ADALAH UNTUK KEBAIKAN KITA

Ayat 10, ”Sebab mereka (ayah kandung) mendidik kita dalam waktu yang singkat sesuai dengan apa yang mereka anggap baik.” Kita tahu bahwa ada banyak kekurangan pada para orang tua dalam mendidik dan menghajar anak-anak mereka, sebab mereka mendidik dan menghajar menurut pandangan mereka sendiri. Akhirnya tidak banyak mendatangkan kebaikan.

”Tetapi Dia (Bapa segala roh) menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya.” Ini bukan didikan dan hajaran atas tabiat, bukan didikan dan hajaran penghakiman. Semua hajaran dan teguran Allah bukanlah siksaan, melainkan didikan, agar kita beroleh kebaikan. Bukan hanya memukul hingga kita merasa sakit, melainkan dengan kesakitan itu melahirkan suatu perkara. Kesakitan itu mengandung tujuan tertentu. Bukannya karena Anda bersalah dalam suatu perkara, lalu Allah menghukum Anda. Siapa yang berpikir demikian, berarti dalam benaknya mengandung konsepsi hukum Taurat, atau konsepsi pengadilan.

1. Beroleh Bagian dalam Kekudusan-Nya

Apakah kebaikan yang dimaksud ini? Yaitu kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya. Ini adalah perkara yang sangat mulia! Kudus adalah sifat Allah juga karakter Allah. Untuk maksud inilah Allah mendidik dan menghajar anak-anak-Nya dengan berbagai cara. Sejak kita percaya, Allah akan selalu mendidik dan menghajar kita, dan tujuan-Nya hanya satu: agar kita memiliki kekudusan-Nya, yakni beroleh bagian dalam tabiat dan karakter-Nya.

Dalam Alkitab terdapat beberapa jenis kekudusan. Kekudusan dalam kitab Ibrani ini khusus ditujukan kepada karakter Allah. Lain halnya dengan Kristus menjadi kekudusan kita, atau dikuduskannya kita di dalam Kristus. Kekudusan yang tercantum di sini bukan suatu pemberian, melainkan yang kita peroleh melalui penggarapan-Nya. Inilah yang dalam beberapa tahun ini kita sebut sebagai ”penyusunan” atau ”penggarapan”. Ini berarti Allah berangsur-angsur menggarapkan atau menganyamkan sesuatu ke dalam diri kita. Kekudusan yang tercantum di sini adalah kekudusan yang dihasilkan melalui didikan dan hajaran atau cambukan-Nya terhadap kita dari hari ke hari. Tujuan pekerjaan-Nya yang begitu banyak itu tak lain ialah agar kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya.

Sekali saya mengalami didikan dan hajaran, sekali saya akan mengambil bagian dalam kekudusan-Nya. Sekali lagi saya dididik dan dihajar, saya pun sekali lagi tergarap di dalam kekudusan-Nya. Kalau saya terus-menerus berada di bawah didikan dan hajaran Allah, saya akan tampak apakah kekudusan itu. Kalau saya selalu berada di bawah didikan dan hajaran Allah, maka karakter saya pasti akan terbina dalam kekudusan, sehingga karakter saya berubah menjadi karakter yang kudus. Sungguh tidak ada satu hal yang lebih besar daripada hal ini! Saya ingin mengatakan kepada Anda bahwa hasil dari didikan dan hajaran Allah ialah terciptanya karakter Allah di dalam diri kita. Setiap didikan mengandung suatu faedah, setiap hajaran memberi kita satu buah. Kita harus mohon belas kasihan dari Allah, agar tiap didikan dan hajaran yang menimpa diri kita dapat menghasilkan sedikit kekudusan. Demikian sekali demi sekali, kekudusan-Nya makin bertambah, makin tersusun dalam diri kita. Di dalam kita, kekudusan-Nya harus terus-menerus bertambah.

2. Menciptakan Karakter yang Kudus

Setelah seseorang menerima Tuhan dan menjadi anak Allah, dari hari ke hari Allah akan menyiapkan banyak peristiwa dalam lingkungan sekitarnya, agar ia menerima banyak didikan dan hajaran. Kesemuanya itu merupakan pelajaran. Pelajaran demi pelajaran akan membuat kekudusan-Nya sedikit demi sedikit masuk ke dalamnya. Ingatlah, entah berapa banyak didikan dan hajaran Allah yang perlu kita terima, agar pada diri kita dapat tercipta suatu karakter yang kudus! Kita menjadi orang Kristen di dunia ini paling lama hanya beberapa puluh tahun saja, kalau kita menyia-nyiakan faedah dari didikan dan hajaran Allah atas diri kita, itu sungguh satu kerugian yang betapa besar!

3. Pemberian Kekudusan dan Penyusunan Kekudusan

Allah tidak saja mengaruniakan kekudusan kepada kita, Ia pun menghendaki kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya; melalui didikan dan hajaran, Ia menyusun dan mengukir kekudusan-Nya pada diri kita. Allah ingin menggarapkan kekudusan sedikit demi sedikit ke dalam kita. Kalau mengharapkan pada suatu hari di dalam manusia-manusia yang bersifat daging seperti kita ini bisa terkandung karakter yang kudus, ini sungguh memerlukan didikan dan hajaran Allah yang cukup lama. Kita sungguh memerlukan banyak pengaturan, banyak pimpinan, banyak hambatan, banyak desakan dan banyak pukulan yang riil, barulah kita dapat dibawa ke tahap memiliki karakter ilahi. Ini adalah perkara yang besar! Allah tidak hanya memberikan kekudusan-Nya kepada kita sebagai sebuah karunia, Ia pun menggarapkan dan menghasilkan kekudusan itu di dalam diri kita. Dengan kata lain, Allah akan ”membentuk” kekudusan di atas diri kita.

Inilah keistimewaan karunia keselamatan Perjanjian Baru. Pada suatu hari Allah memberi sesuatu kepada kita, kemudian Ia ingin membentuk sesuatu itu di atas diri kita, menyusunnya ke dalam batin kita sedikit demi sedikit. Ketika keduanya terpadu, tertampaklah kesempurnaan karunia keselamatan-Nya. Yang satu merupakan karunia yang berasal dari Kristus, sedang yang lainnya berasal dari penyusunan Roh Kudus. Inilah keistimewaan Perjanjian Baru. Yang satu merupakan pemberian, sedang lainnya merupakan pembentukan. Inilah sebuah pengungkapan yang penting dalam Alkitab Perjanjian Baru yang diwahyukan dengan jelas kepada kita. Melalui didikan dan hajaran Allah, kita dapat beroleh bagian dalam kekudusan-Nya.

VI. TERUJI DALAM DIDIKAN DAN HAJARAN,

MENGHASILKAN BUAH KEBENARAN

Ayat 11, ”Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ganjaran itu menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya.”

Dalam ayat ini rasul khusus menyuruh kita memperhatikan kata-kata ”pada waktu” dan ”kemudian”. Pada waktu ganjaran itu diberikan, tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita; faktanya memang demikian. Tatkala Anda menjumpai suatu masalah sebagai didikan dan hajaran Allah, jangan Anda menganggap perasaan dukacita itu salah. Setiap hajaran memang mendatangkan perasaan dukacita. Alkitab tidak mengatakan salib mendatangkan perasaan sukacita, melainkan sengsara. Karena sukacita yang terbentang di hadapan-Nya, Tuhan meremehkan kehinaan; itu memang suatu fakta. Tetapi bagaimanapun salib bukan bersifat menyenangkan, melainkan sengsara. Jadi, pada waktu Anda menerima hajaran, tidaklah salah kalau Anda merasa dukacita atau merasa sukar.

Namun Anda harus ingat, Anda wajib belajar taat. Karena hanya demikianlah baru Anda dapat beroleh bagian dalam kekudusan Allah. Memang pada waktu itu Anda tidak merasa sukacita, melainkan dukacita, tetapi itu tidaklah aneh, itu sangat wajar. Tatkala Tuhan kita mengalami ujian, Ia pun tidak merasa sukacita. Tidak salah, Anda boleh menganggap hal itu patut disenangi. Seperti yang dikatakan oleh Petrus, kita boleh bergembira ketika mengalami berbagai pencobaan (1 Ptr. 1:6). Di satu pihak Anda merasa sengsara, di pihak lainnya, Anda pun boleh menganggapnya sebagai perkara yang lain. Walau Anda merasa tidak gembira, tetapi Anda boleh menganggapnya gembira.

1. Harus Menghasilkan Buah Kebenaran — Damai

Mata setiap anak-anak Allah hendaknya tidak hanya memandang ”pada waktu” itu saja, tetapi juga harus terus memandang pada ”kemudian”. Perhatikanlah kedua kalimat ini, “Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ganjaran itu menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya.” Karena itu, jangan hanya memandang betapa sengsaranya peristiwa yang kita alami saat ini, tetapi pandanglah buah kebenaran — damai, yang akan dihasilkan kemudian.

2. Moab Selalu Hidup dengan Aman

Seperti Anggur di atas Endapannya

Yeremia 48:11 mengatakan, ”Moab hidup aman dari sejak masa mudanya, dia hidup tenang seperti anggur di atas endapannya, tidak dituangkan dari tempayan yang satu ke tempayan yang lain, tidak pernah masuk ke dalam pembuangan; sebab itu rasanya tetap padanya, dan baunya tidak berubah.” Mengertikah kalian maksud ayat ini?

Begitulah keadaan kebanyakan orang yang belum mengalami ujian penderitaan di hadapan Allah. Moab hidup aman dari sejak masa mudanya, tanpa mengalami kesukaran atau kesengsaraan. Hidup aman yang sedemikian itu menjadikannya ibarat anggur di atas endapannya. Anda tahu, anggur yang terbuat dari sari buah-buahan atau buah anggur, kalau dibiarkan bening di atas endapannya, maka di bawahnya akan terdapat ampas-ampas anggur itu. Air anggurnya berada di atas, sedang ampasnya berada di bawah. Kalau ingin air anggur itu seluruhnya jernih dan murni, maka anggur itu harus dituangkan dari tempayan yang satu ke tempayan yang lain. Jika tidak, maka ampasnya akan tetap tertinggal di bawah, dan selang beberapa hari ampas-ampas itu akan mempengaruhi rasa dan bau anggur itu. Ketika membuat anggur, pertama-tama buah anggur itu dikhamirkan, kemudian dituang dari satu tempayan ke tempayan lain, dari tempayan itu ke tempayan lain. Ketika menuang harus hati-hati agar ampasnya tidak terbawa. Penuangan ini tidak cukup sekali saja, sebab pasti masih ada ampas-ampas yang terbawa. Jadi harus dituang lagi ke tempayan lain; bahkan dituang berkali-kali dari satu tempayan ke tempayan lain, sehingga ampasnya tidak terbawa sedikit pun. Firman Allah mengatakan bahwa Moab sejak masa mudanya hidup dengan aman, seperti anggur di atas endapannya; sejak mudanya ia tidak dituang dari tempayan satu ke tempayan lain, karena itu ampasnya tetap ada padanya. Jika Anda ingin membuang ampasnya, Anda harus menuangnya dari tempayan satu ke tempayan lain, sekali demi sekali, sampai pada suatu tahap, semua ampas yang di bawahnya itu tertuang bersih. Moab penuh dengan ampas, walaupun di atasnya tampak jernih, tetapi di bawahnya tidak pernah dituang. Ia seorang yang tidak pernah mengalami ujian, tidak pernah mengalami penderaan, yakni tidak pernah dituang dari tempayan satu ke tempayan lain.

Sering kali terjadi suatu peristiwa seolah-olah Allah ingin mencabut Anda sampai ke akar-akar Anda. Ada kalanya seorang saudara karena mempersembahkan dirinya, seolah-seolah ia dicabut Allah sampai ke akar-akarnya, yakni segala-segalanya diserahkan. Ada kalanya seorang saudara dicabut oleh Allah seluruhnya karena kesengsaraannya, pencobaannya atau sakitnya. Itulah artinya dituang dari tempayan satu ke tempayan lain. Tangan Allah selalu ingin menjamah Anda hingga Anda menjadi hancur dengan tuntas. Akibatnya, ampas-ampas Anda terkikis bersih!

Hidup aman bukanlah suatu perkara yang baik. Saudara saudari, Allah ingin membersihkan kita, maka Ia harus mendidik dan menghajar kita; Allah ingin menyucikan kita, maka Ia harus mendera kita. Jangan sekali-kali mengira hidup aman itu suatu hal yang baik. Hidup aman yang dialami Moab hanya membuatnya menjadi Moab selama-selamanya!

3. Rasanya Tetap padanya, Baunya Tidak Berubah

”Rasanya tetap padanya, dan baunya tidak berubah”. Ini adalah ungkapan yang sangat tepat. Karena Moab tidak dituang dari tempayan satu ke tempayan lain, tidak dituang dari satu bejana ke bejana lain, tidak dituang dari satu guci ke guci lain, tidak menerima hajaran dan penanggulangan Allah, maka rasanya tetap padanya, dan baunya tidak berubah!

Saudara saudari, Allah akan bekerja dengan tujuan membuang rasa dan bau Anda yang semula. Allah tidak menyukai rasa dan bau Anda yang semula. Saya pernah mengatakan bahwa kebanyakan orang Kristen masih merupakan orang-orang yang mentah, keadaan mereka tetap seperti semula, tidak mengalami perubahan. Ketika Anda belum percaya kepada Tuhan, Anda memiliki sejenis citarasa, tetapi hingga hari ini, yaitu setelah Anda percaya Tuhan bertahun-tahun, citarasa Anda masih itu juga. Bagaimana bau Anda sebelum percaya, sampai sekarang bau Anda masih tetap begitu, tidak berubah. Dengan perkataan lain, pada diri Anda tidak ada penyusunan atau pengukiran Allah.

Karena itu, saudara saudari, didikan dan hajaran Allah patut kita indahkan! Ia akan mencabut kita sampai ke akar-akar kita, menuang kita dari tempayan satu ke tempayan lain. Allah memberi kita banyak didikan dan hajaran, agar kita kehilangan citarasa dan bau kita yang semula, untuk menghasilkan buah kebenaran — damai.

4. Buah Kebenaran Ialah Buah Damai

Ingatlah, buah kebenaran ialah damai. Manusia harus damai di hadapan Allah, baru dapat menghasilkan buah. Bersungut-sungut, bergejolak, dan bersikap tidak terima ketika berada di bawah didikan dan hajaran Allah itulah yang paling disayangkan. Pada saat mengalami didikan dan hajaran, Anda memang boleh merasa dukacita, tetapi tidak pada tempatnya jika Anda bersungut-sungut dengan sikap tidak terima. Masalah kebanyakan orang ialah tidak memiliki damai sejahtera. Karena itu di bawah didikan dan hajaran perlu menghasilkan buah damai. Bila Anda ingin menghasilkan buah damai, Anda harus terlebih dahulu belajar bersikap menerima, yakni tidak berbantah-bantah atau berselisih pendapat dengan Allah. Buah damai juga adalah buah kebenaran. Setelah ada buah damai dengan sendirinya ada buah kebenaran. Itulah sebabnya dikatakan, ”menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai.” Damai itulah kebenaran. Jika buah dalam batin Anda adalah damai, maka keadaan yang ternyata adalah kebenaran. Kalau dalam batin Anda ada buah damai, dengan sendirinya Anda akan mengambil bagian dalam kekudusan Allah.

Sebab itu, saya harap kita tidak seperti Moab, yang hidup aman sejak masa mudanya; ibarat anggur di atas endapannya, tidak pernah dituang dari tempayan satu ke tempayan lain, tidak pernah terbuang, sehingga rasanya tetap ada padanya dan baunya tidak berubah. Seperti ada orang yang walaupun telah lama menjadi orang Kristen, tetapi tetap seperti dahulu. Walau telah melewati 10 atau 20 tahun, citarasanya masih seperti dahulu. Orang demikian niscaya takkan menghasilkan buah damai di hadapan Allah; karakter yang kudus itu takkan tercipta pada dirinya. Kita seharusnya mengharap agar Allah menciptakan karakter yang kudus di dalam kita.

VII. PENUTUP

Ayat 12, ”Sebab itu kuatkanlah tangan yang lemah dan lutut yang goyah.” Setelah menerima didikan dan hajaran, seolah tangan menjadi lemah dan lutut menjadi goyah. Tetapi rasul menasihati kita untuk tidak putus asa. Walau tangan menjadi lemah dan lutut menjadi goyah, tetapi kita memiliki buah damai, memiliki buah kebenaran.

1. Kuatkan Tangan dan Lutut

Setelah kita mengalami banyak didikan dan hajaran, jangan kita menganggap bahwa segala-galanya sudah habis, melainkan kita harus menguatkan tangan kita yang lemah dan lutut kita yang goyah, sebab hajaran dan deraan akan menghasilkan buah damai, yaitu buah kebenaran. Anda dapat merasa damai di hadapan Allah, Anda memiliki kebenaran. Anda dapat bersikap tenang dan tunduk di hadapan Allah, itulah yang benar. Anda dapat tunduk dan menerima, maka akan terbangunlah karakter yang kudus pada diri Anda. Buah damai adalah buah kebenaran. Mata Anda tidak perlu melihat apakah ada kebenaran, tetapi lihat saja apakah ada damai, taat, dan lunak atau tidak. Bila Anda dapat bersikap lunak, taat, dan damai, maka kekudusan itu pasti terbina dalam diri Anda. Karena itu, Anda harus ingat, walau dahulu Anda telah menanggung dan mengalami banyak ujian dan kesulitan, tetapi hari ini Anda masih perlu menguatkan tangan Anda yang lemah dan lutut Anda yang goyah.

2. Luruskan Jalan

Bersamaan dengan itu, ”luruskan jalan bagi kakimu” (ayat 13). Hari ini, ada orang telah menempuh jalan ini. Kemudian mereka membentangkan jalan ini dengan lurus di hadapan Anda, agar ”yang pincang jangan terkilir, tetapi menjadi sembuh”. Sehingga mereka yang tak dapat menempuh jalan ini, karena melihat begitu lurusnya jalan Anda, dan karena Anda menempuhnya sedemikian, maka mereka tidak sampai terkilir, tetapi dapat sembuh, dan dapat mengikuti Anda untuk bersama-sama menempuhnya. Karena itu, ketika Anda mengalami ujian, dan Anda dapat tunduk di bawah tangan Allah yang maha kuasa, niscayalah karakter yang kudus itu akan tergarap ke dalam diri Anda. Lagi pula, Anda akan dapat memimpin orang lain menempuh jalan yang lurus ini; tidak terkilir, melainkan beroleh kesembuhan.

Andaikata seorang saudara yang berada di depan kita menyimpang sedikit saja, jalannya tidak lurus, maka mungkin sekali ia menutupi jalan orang lain. Sebab itu, bagaimanapun Anda sendiri harus tunduk dan menghasilkan buah damai. Kalau demikian, tidak saja jalan Anda sendiri akan lurus, Anda pun dapat memimpin orang lain menempuh jalan yang lurus. Semua yang pincang akan berjalan di atas jalan yang lurus ini, dan akan beroleh kesembuhan. Di sini saya teringat akan orang pincang yang tercatat dalam Kisah Para Rasul 3. Ketika kakinya sudah kuat untuk berjalan, ia bahkan meloncat-loncat sambil memuji-muji Allah. Ada seorang pincang, dan ia telah disembuhkan! Masih banyak orang pincang dalam dunia ini, tetapi karena jalan Anda yang lurus itu, mereka akan beroleh kesembuhan pula. Sebab itu, wajiblah kita membukakan satu jalan yang lurus bagi sesama saudara saudari kita.