Daftar isi Pembinaan Dasar · bab 7/50

CARA MENGATUR KEUANGAN

Pembacaan Alkitab: Lukas 6:38; 1 Timotius 6:7-10, 17-19; 2 Korintus 9:6; Maleakhi 3:10; Amsal 11:24; Filipi 4:15-19.

I. HARUS MENGATUR KEUANGAN SESUAI DENGAN PRINSIP ALLAH

Cara orang Kristen mengatur keuangan sama sekali berbeda dengan cara orang kafir. Cara orang kafir adalah menyimpan (menabung), tetapi cara orang Kristen adalah memberi. Dalam berita ini akan kita bahas, bagaimana seharusnya sikap dan tindakan orang Kristen agar mereka tidak mengalami kekurangan selama hidupnya di dunia ini. Allah memberi janji kepada kita bahwa kita bisa hidup tanpa kekurangan di dunia ini. Burung-burung di udara tidak kekurangan makanan; bunga bakung juga tidak kekurangan pakaian yang indah; demikian pula, anak-anak Allah tidak akan kekurangan sandang pangan. Kalau anak-anak Allah sampai mengalami kekurangan, tentu ada sebabnya, ada penyakitnya. Setiap saudara saudari yang mengalami kesukaran dalam masalah penghasilan, pasti dikarenakan cara mengatur keuangan mereka tidak menurut prinsip Allah.

Jika Anda pernah sekali mempersembahkan semua harta kekayaan Anda untuk mengikut Tuhan, maka sejak sekarang Anda harus memperlakukannya menurut prinsip Allah. Jika tidak, Anda pasti akan mengalami kesulitan. Sebab itu, setiap anak Allah harus belajar mengatur keuangan. Sekarang, mari kita lihat bagaimana kita baru bisa mendapatkan kekayaan Allah.

II. PEMBERIAN ALLAH ADA SYARATNYA

Tanpa belas kasihan Allah, kita tidak mungkin melalui hari-hari kita, karena itu kita perlu menengadah kepada Allah demi sandang pangan dan semua kebutuhan kita lainnya. Seorang hartawan juga harus bersandar kepada Allah. Di masa peperangan, kita melihat banyak orang kaya yang kekurangan sandang pangan. Suatu hari kelak, banyak orang akan menyesal. Paulus berkata, “Jangan berharap (bersandar) pada sesuatu yang tak tentu seperti kekayaan” (1 Tim. 6:17). Orang yang tamak akan harta/uang, pasti banyak dukanya. Orang yang bersandar kepada Tuhan, walaupun mungkin ia tidak memiliki simpanan/tabungan, Tuhan bisa memenuhi segala kebutuhannya, dan ia tidak akan mengalami kesusahan. Sebab itu, kita perlu mengetahui bahwa suplaian Allah itu ada syaratnya.

Kalau Allah dapat memelihara hidup burung-burung di udara yang begitu banyak, Allah tentu juga dapat memelihara hidup kita. Bagi manusia memang mustahil, tetapi Allah Mahakaya, Ia dapat memelihara hidup semua burung di udara, dan bunga-bunga bakung di padang. Allah memiliki kekayaan lebih dari cukup untuk memelihara hidup anak-anak-Nya. Allah tidak ingin melihat kita mengalami kekurangan sehingga tidak dapat hidup. Semua orang yang terperosok ke dalam musibah kekurangan, pasti ada penyakit di atas dirinya, yaitu pengaturan keuangannya tidak menurut prinsip Allah. Jika kita menggunakan uang kita sesuai dengan hukum yang ditetapkan Allah, kita tidak mungkin jatuh ke dalam kemiskinan.

Dalam Injil Lukas 6:38, kita tampak orang macam apakah yang dapat menerima suplaian Allah? Kita harus tahu bahwa Allah “mau” menyuplai. Allah mampu menyuplai Anda, sehingga Anda merasa kekenyangan, tidak bisa menampung lagi, tumpah keluar dan bahkan sampai Anda merasa jemu, sebagaimana yang tercantum dalam kitab Keluaran. Hal ini sama sekali bukan masalah bagi Allah. Sebab itu, jangan sekali-kali mengira Allah itu miskin. Lembu-lembu dan kambing-kambing di gunung adalah milik Allah. Kalau demikian, mengapa ada anak-anak Allah yang mengalami kekurangan dan kemiskinan? Ini bukan karena Allah tidak mampu menyuplai, melainkan karena mereka harus terlebih dulu melakukan satu perkara yang sesuai dengan persyaratan-Nya, baru bisa menerima suplaian-Nya. Terkabulnya doa kita, itu ada syaratnya, bahkan beroleh selamat pun ada syaratnya, yaitu percaya. Setiap perkara ada syaratnya, dan kita harus memenuhi syarat itu, baru kita dapat memperolehnya. Demikian pula, jika kita ingin menerima suplaian Allah, kita harus memenuhi permintaan-Nya. Apakah permintaan-Nya? “Memberi” kepada orang. Tuhan berkata, “Berilah dan kamu akan diberi” (Luk. 6:38).

III. BERILAH DAN KAMU AKAN DIBERI

Saya melihat, banyak saudara yang keadaannya sangat sulit, semuanya disebabkan mereka tidak memberi dengan baik; bukan karena penghasilan mereka tidak cukup. Alkitab memperlihatkan satu prinsip utama kepada kita: Kalau ingin berkelimpahan, harus memberi; kalau ingin miskin, simpanlah, tahanlah. Siapa saja yang hanya memikirkan dirinya sendiri, pasti akan menjadi orang miskin; tetapi siapa saja yang belajar memberi kepada orang, pasti akan berkelimpahan. Kenyataannya memang demikian, sebab Allah berfirman demikian. Bila Anda ingin terhindar dari kemiskinan, Anda harus selalu memberi. Semakin Anda memberi kepada orang, Allah pun semakin memberi kepada Anda. Kalau Anda mau memberi kepada orang apa yang tersimpan/tersisa pada Anda, kelak orang juga akan memberi kepada Anda apa yang tersimpan/tersisa padanya. Jika Anda memberi kepada orang seperduapuluh, orang juga akan memberi kepada Anda seperduapuluh; jika Anda memberi kepada orang seperseribu, orang pun akan memberi kepada Anda seperseribu.

Anda memberi kepada orang dengan ukuran apa, orang akan memberi kepada Anda dengan ukuran itu juga. Bagaimana Anda memperlakukan saudara saudari Anda, Allah juga akan memperlakukan Anda dengan ukuran yang Anda pakai. Jika Anda mau memberi kepada orang keperluan hidupnya, orang pun akan memberi kepada Anda keperluan hidup Anda. Kalau Anda memberi kepada orang sesuatu yang sama sekali tidak berguna, orang pun akan memberi kepada Anda sesuatu yang sama sekali tidak berguna. Orang yang penghasilannya ada masalah, kebanyakan pengeluarannya ada yang tidak beres. Kalau pengeluaran seseorang tidak ada penyakitnya, penerimaannya pun tidak akan menemui kesulitan. Firman Allah sangat jelas, “Berilah dan kamu akan diberi.” Kalau Anda tidak memberi kepada orang, Tuhan pun tidak memberi kepada Anda. Banyak orang hanya beriman untuk “mohon” Allah memberinya uang, namun tidak beriman untuk mengeluarkan/memberikan uang; karena itu, tidak heran, kalau ia pun tidak beriman untuk “menerima” uang dari Allah.

Saudara saudari, sejak permulaan Anda menjadi orang Kristen, Anda harus mempelajari satu pelajaran dasar dalam hal memakai uang. Orang Kristen mempunyai satu cara mengatur keuangan yang istimewa: Aku ingin demikian menerima uang, maka aku harus demikian mengeluarkan uang. Dengan kata lain, cara mengatur keuangan orang Kristen adalah “penerimaan diukur dengan pengeluaran”. Kalau cara orang dunia adalah pengeluaran diukur dengan penerimaan, tetapi kita adalah penerimaan diukur dengan pengeluaran. Jadi, berapa yang Anda keluarkan, berapa pula yang Anda terima. Sebab itu, semua orang yang cinta uang, semua orang yang kikir, adalah orang-orang yang tidak mungkin menerima uang dari Allah, tidak mungkin menerima suplai Allah.

Semua saudara saudari tahu bahwa mereka harus menengadah kepada Allah untuk setiap keperluannya. Tetapi Allah hanya mau menyuplai keperluan semacam orang, yaitu orang yang mau memberi. Istilah yang Tuhan gunakan di sini sangat ajaib, yaitu “suatu takaran yang baik.” Ketika Allah memberi kepada manusia, Ia sama sekali tidak kikir, melainkan sangat lapang dada. Cawan Allah selamanya melimpah-ruah, Ia tidak pernah pelit dan picik. Firman-Nya mengatakan, kalau Ia memberi kepada kita, pasti dengan suatu takaran yang baik, yang dipadatkan dan diguncang. Kebanyakan penjual beras tidak mau menggoncangkan takarannya, setelah ditakar sebentar, lalu cepat-cepat dituang. Tetapi Tuhan berkata, “Takaran-Nya dipadatkan dan diguncang, bahkan sampai tumpah keluar.” Hanya saja selanjutnya Ia berkata, “Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.” Kalau Anda memberi kepada orang dengan kikir, maka ketika Allah menggerakkan orang untuk memberi kepada Anda, Ia pun menghitungnya dengan ketat bagi Anda.

Berilah dan kamu akan diberi. Banyak orang yang sama sekali tidak belajar memberi, tetapi selalu menghendaki Allah mengabulkan doanya. Anda harus memberi dulu, baru Anda bisa memperoleh. Sebab itu, tak peduli kapan saja, jika tidak ada orang yang memberi kepada Anda, itu pasti karena beberapa hari ini Anda telah lalai dalam memberi kepada orang. Saya telah 20 tahun lebih percaya Tuhan dan beroleh rahmat, saya dapat bersaksi demikian. Bila Anda ada masalah dalam hal memberi, niscaya Anda akan mengalami kekurangan.

IV. DUA KESAKSIAN TENTANG MENGATUR KEUANGAN

1. Kisah Tuan Moore

Tuan Moore adalah seorang redaktur majalah rohani “Hayat dan Iman” di Inggris. Di hadapan Tuhan ia memiliki banyak hal yang positif; salah satu di antaranya ialah ia sangat mengenal Alkitab. Ia adalah seorang yang hidupnya selalu bersandar kepada Tuhan; ia sering mengalami kekurangan dan sering mengalami ujian. Karena ia mengenal Lukas 6:38, maka setiap kali ada kekurangan, ia selalu berkata kepada istrinya, “Beberapa hari ini, kita telah lalai dalam memberi.” Ia tidak berkata, “Dalam rumah sudah tidak ada apa-apa lagi,” melainkan berkata, “Beberapa hari ini kita telah lalai dalam memberi.”

Pernah sekali, dalam rumahnya hampir tidak ada barang apa-apa lagi. Umumnya, orang Inggris paling mementingkan tepung gandum; barang ini pun sudah habis. Setelah menunggu satu dua hari, tidak satu barang pun yang dikirim orang. Ia lalu berkata kepada istrinya, “Ini pasti dikarenakan kita masih memiliki banyak barang.” Lihatlah, ia tidak mohon Tuhan memberi tepung gandum, sebaliknya ia berkata, “Ini pasti dikarenakan kita masih memiliki banyak barang, karena itu Tuhan tidak memberi.” Mereka lalu berlutut dan berdoa, mohon Tuhan menunjukkan kepada mereka masih ada barang apa yang lebih di rumah. Setelah berdoa, mereka naik ke loteng, meneliti setiap barang, apakah ada yang dianggap terlalu banyak, sampai-sampai semua barang anak-anaknya pun diperiksa; ternyata semuanya hanya sekadar cukup untuk dipakai. Lalu ia berkata kepada Tuhan, “Di rumah sungguh-sungguh tidak ada barang yang lebih. Tuhan, jika Engkau tidak memberi, ini adalah kesalahan-Mu.” Tetapi kemudian ia berkata kepada istrinya, “Ah, Tuhan tidak mungkin salah. Pasti di rumah kita masih ada barang yang lebih.” Mereka lalu memeriksa lagi. Sampai di lantai bawah tanah, di situ ternyata ada satu peti mentega pemberian orang beberapa hari yang lalu. Begitu melihat peti mentega itu, ia merasa sangat gembira, lalu berkata kepada istrinya, “Barang ini pasti berlebihan.”

Mereka berdua sudah lanjut usia, dan sudah bertahun-tahun mempelajari pelajaran ini. Mereka tahu firman Tuhan, “Berilah dan kamu akan diberi,” karena itu mereka ingin cepat-cepat memberikan mentega itu kepada orang lain. Tetapi, diberikan kepada siapa? Di tempat ia tinggal, Tuan Moore adalah salah seorang pewajib gereja. Kemudian mereka menulis daftar nama semua saudara saudari yang miskin, dan masing-masing akan diberinya sepotong mentega. Suami-istri tua ini memotong-motong mentega itu menjadi potongan-potongan kecil, dibungkus dan kemudian dikirim ke rumah saudara saudari. Setelah semuanya habis dibagi-bagikan, ia berkata kepada istrinya, “Sekarang masalah kita sudah selesai.” Mereka lalu berlutut dan berdoa lagi, “Tuhan, kami mengingatkan Engkau satu kalimat, yaitu Engkau pernah berkata, ‘Berilah dan kamu akan diberi’. Kiranya Engkau ingat bahwa kami sudah kehabisan tepung gandum.”

Hari itu hari Sabtu. Di antara sekian banyak keluarga yang menerima kiriman menteganya, ada satu keluarga saudari yang sangat miskin lagi cacat, sehari-hari ia hanya berbaring di atas ranjang. Beberapa hari ini, ia hanya memakan roti tanpa mentega, karenanya ia berdoa kepada Tuhan, “Tuhan, mohon Engkau membelaskasihani aku, berilah aku sedikit mentega.” Tidak lama setelah ia berdoa demikian, Tuan Moore datang dengan membawa sepotong mentega. Ia sangat bersyukur kepada Tuhan atas kiriman ini. Sejenak kemudian, ia menengadah kepada Tuhan dan berkata, “Walaupun Saudara Moore kita tidak kekurangan apa-apa, dan ia telah memberiku sepotong mentega, tetapi jika ia ada kekurangan, mohon Tuhan menjawab doanya.” Sebab Tuan Moore selamanya tidak pernah menunjukkan kekurangannya kepada orang lain, dan setiap orang tidak mengira kalau ia juga bisa kekurangan. Malahan ada orang yang berkata bahwa Tuan Moore sangat kaya. Ia sering memberikan barang-barang kepada orang. Seperti kali ini, ia membeli banyak mentega untuk dibagi-bagikan kepada orang banyak. Tetapi saudari ini berdoa, “Jika ia ada kekurangan, kiranya Tuhan menjawab doanya.” Pada hari itu juga, tidak lebih dari dua atau tiga jam setelah itu, Tuan Moore menerima dua karung tepung gandum, dan berakhirlah kesulitannya.

Saya berkata kepada Anda, “Setiap kata dari firman Allah patut dipercayai.” Kebanyakan orang mempunyai satu kesulitan, yaitu tidak mempercayai firman Allah sebagai firman Allah. Tuan Moore justru percaya bahwa firman Allah itulah firman Allah. Siapa saja yang tidak memberi, pasti tidak akan diberi; bila Anda memberi, Anda pasti diberi. Karena itu, kita harus belajar memberi. Memberi tidak berarti akan habis, melainkan akan diberi Allah. Inilah prinsip mengatur keuangan dari orang Kristen. Bila barang Anda di rumah terlalu banyak, jangan harap Allah mau memberi Anda.

Pernah seorang saudara sekerja memberi tahu saya bahwa selama dua puluh tahun ini, bila kita menyimpan uang dalam tangan kita, pasti timbul problem. Jika dalam hal memberi timbul persoalan, maka dalam hal menerima pasti juga akan timbul persoalan. Orang yang semakin menginginkan milik orang lain, akan semakin mengalami kekurangan; tetapi orang yang semakin memberi, akan semakin ada. Banyak orang yang menggenggam miliknya, maka Allah membiarkannya menggenggam itu-itu saja; mereka tidak belajar memberi. Jika Anda tidak memiliki kasih karunia memberi, kasih karunia Allah pun tidak akan terdapat pada diri Anda. Jika Anda tanpa kasih karunia terhadap orang lain, Allah pun akan mengurangi kasih karunia-Nya kepada Anda.

2. Pertama Kali Belajar Memberi

Terhadap perkara ini, saya rasa saya boleh banyak bersaksi. Tetapi saya tidak ingin berbuat demikian, saya hanya ingin mengisahkan pengalaman yang pertama kali saya pelajari. Pada tahun 1923, Saudara K.H. Weigh mengundang saya ke tempat tinggalnya — Cien-Au, yang terpaut kurang lebih 250 km dari Fu-Chow. Ketika itu saya masih sekolah. Saudara Weigh adalah teman sekolah saya. Ketika saya ingin ke Cien-Au, saya bertanya kepada Saudara Weigh, “Berapa ongkos ke sana?” Ia menjawab, “Lewat jalan air kira-kira harus beberapa puluh Yuan.” Saya lalu berkata, “Baik, kita berdoa dulu, jika itu kehendak Tuhan, saya pasti bisa ke sana.”

Pada waktu itu dalam saku saya tidak ada uang, maka saya berdoa, “Tuhan, jika Engkau menghendaki saya pergi, Engkau harus memberi saya uang.” Setelah berdoa, Tuhan memang memberi saya uang belasan Yuan dan beberapa ketip. Tetapi untuk ke Cien-Au pulang pergi, masih kurang beberapa kali lipatnya. Tak lama kemudian, surat Saudara Weigh datang, ia mendesak saya untuk segera ke sana. Ia mengatakan bahwa semuanya telah siap. Saya lalu membalasnya dengan telegram bahwa saya segera pergi ke sana. Saya menentukan hari keberangkatan saya, yaitu hari Jumat. Pada Kamis pagi, ketika saya bangun, saya teringat satu perkataan, “Berilah dan kamu akan diberi.” Hati saya agak khawatir. Saya boleh memberikan semua uangku kepada orang, tetapi kalau Tuhan tidak memberi, saya tidak akan bisa berangkat, dan itu akan menyulitkan saya sendiri.

Namun perasaan di dalam saya makin dalam. Saya selalu merasa bahwa saya harus memberikan sebagian uang saya kepada orang lain. Kepada siapa uang ini harus saya berikan? Segera timbul satu perasaan, “Harus memberikannya kepada seorang saudara sekerja yang sudah berkeluarga itu.” Saya tak berani mengatakan taat, juga tak berani mengatakan tidak taat, saya hanya berkata, “Tuhan, saya di sini, kalau Engkau menghendaki saya memberi kepada saudara itu, pertemukanlah saya dengannya di tengah jalan ini.” Saya lalu bangkit berjalan ke luar. Sampai di tengah jalan, saudara itu tepat muncul dari arah berlawanan. Begitu saya melihatnya, walau hati terasa dingin, tetapi saya sudah siap sedia. Saya mendekatinya dan berkata, “Saudara, Tuhan menyuruh saya menaruh uang ini di tangan Anda.” Selesai berkata, saya cepat-cepat pergi. Baru saja melangkah beberapa langkah, saya mengucurkan air mata. Saya berkata kepada Tuhan, “Saya sudah mengirim telegram kepada Saudara Weigh bahwa saya segera pergi ke sana. Sekarang uang telah saya berikan, bagaimana untuk selanjutnya?” Tetapi di lain pihak, hati terasa sangat lega dan damai, sebab Tuhan berkata, “Berilah dan kamu akan diberi.”

Ketika kembali ke rumah, saya berkata kepada Tuhan, “Tuhan, saatnya telah tiba, sekarang Engkau harus memberi. Besok saya harus berangkat naik kapal ke sana.” Tetapi pada hari Kamis itu, sepanjang hari, tidak ada yang memberi uang, sedangkan besoknya saya sudah harus berangkat. Pada hari Jumat, saat saya siap berangkat, tetap tidak ada uang cukup. Seorang saudara mengantar saya, uang masih belum juga datang. Saudara itu mengantar saya sampai naik ke atas perahu rakyat. Begitu naik ke atas perahu, saya mengira saya tidak akan jadi berangkat; pula karena saya tidak pernah meninggalkan Fu-Chow, tidak pernah ke pedalaman. Apa lagi menuju ke arah barat, di sana seorang pun tidak ada yang saya kenal. Hari itu, saya meninggalkan rumah, sepanjang jalan saya terus berdoa; berdoa sampai naik ke atas perahu, berdoa sampai saudara itu berpisah dan berdoa sampai berbaring di atas dek perahu dan tertidur. Saya berkata, “Tuhan, saya telah memberi, jika Engkau tidak memberi kepadaku, itu adalah urusan-Mu.” Saya telah memutuskan untuk pergi ke tempat kapal uap dengan perahu rakyat, lalu naik kapal uap ke Sui-Kou, dan dari Sui-Kou naik lagi kapal lainnya ke Cien-Au. Ongkos ke Sui-Kou dengan kapal uap tidak mahal. Di atas kapal uap, saya berjalan mondar-mandir, dari atas ke bawah, dari bawah ke atas. Demikian beberapa kali untuk melihat apakah Allah mengatur sesuatu. Tetapi tidak terjadi apa-apa. Di atas kapal itu seorang pun tidak ada yang mengenal saya. Namun di dalam hati tetap ada perkataan, “Kalau kamu sudah memberi, Aku pun memberi kepadamu.”

Keadaan ini berlangsung terus hingga esok sorenya, kira-kira jam empat atau lima, kapal hampir tiba di Sui-Kou. Di Sui-Kou saya harus ganti kapal lain yang tarifnya cukup mahal. Saat itu, sisa uang setelah saya pakai untuk membayar ongkos kapal uap tinggal sedikit. Saya merasa sangat sulit. Lalu saya berdoa, “Tuhan, sekarang segera tiba di Sui-Kou, apakah saya harus membeli tiket untuk kembali ke Fu-Chow?” Saat itu juga di dalam saya ada perasaan, “Kau sungguh bodoh, mengapa tidak berdoa agar kau bisa mencapai tempat tujuan dengan mudah?” Saya segera berkata kepada Tuhan, “Tuhan, saya tidak lagi mohon Engkau memberi uang, saya hanya mohon Engkau membawaku ke Cien-Au, itu sudah cukup.” Setelah berdoa demikian, hati saya merasa damai sekali.

Sebelum kapal merapat di Sui-Kou, saya berdiri di bagian depan geladak kapal. Saat itu sebuah perahu kecil mendekati kapal, dan tukang perahunya bertanya kepada saya, “Tuan mau ke mana? Ke Nan-Ping atau ke Cien-Au?” “Cien-Au,” sahut saya. “Ikut saya saja”, katanya. “Berapa?” — “Tujuh Yuan saja,” jawabnya lagi. Mendengar ini saya tahu Tuhanlah yang menyediakan perahu ini bagi saya, maka saya menetapkan untuk pergi dengan perahu ini. Ia lalu memindahkan barang-barang saya ke atas perahunya. Ongkos ke Cien-Au waktu itu seharusnya beberapa puluh Yuan. Setelah naik ke perahunya, saya bertanya kepada tukang perahu itu, “Mengapa ongkosnya demikian murah?” Ia menjawab, “Bukan saya yang menarik ongkos murah. Perahu ini sudah dicarter seluruhnya oleh seorang pegawai provinsi, ia menempati seluruh ruang depan, dan saya diizinkan membawa seorang penumpang saja di buritan, demikianlah saya bisa memperoleh sedikit tambahan untuk membeli makanan.” Saya ingat, hari itu saya masih memiliki sisa uang 1 Yuan 3 Ketip setelah saya pakai untuk membeli sedikit sayur dan daging. Demikianlah saya tiba di Cien-Au.

Namun masalah baru kembali muncul, ketika saya ingin kembali dari Cien-Au. Uang saya seluruhnya hanya tersisa 13 Ketip. Setelah saya membeli sedikit barang seharga 1 Yuan, tersisa 3 Ketip. Sebab itu, ketika sidang hampir berakhir, saya terus berdoa. Pada suatu hari, seorang yang bernama Philips (salah seorang dari ketujuh alumni Cambridge) mengundang saya makan bersama. Ia berkata, “Tuan Nee, kedatangan Anda kali ini telah memberi bantuan yang sangat besar pada misi kami. Sekarang, bolehkah saya menanggung ongkos perjalanan pulang Anda?” Mendengar perkataannya, saya di samping merasa gembira, juga merasa tidak benar. Lalu saya menjawabnya, “Sudah ada orang yang menanggungnya.” Setelah mendengar jawaban saya, ia minta maaf dan tidak menyinggung lagi hal tersebut. Ketika kembali, hati saya sedikit merasa menyesal, sebab merasa kehilangan kesempatan. Tetapi setelah berdoa, dalam hati terasa damai.

Pada hari saya harus berangkat, uang dalam saku saya tetap hanya 3 Ketip; saya pasti tidak dapat naik kapal, saya sungguh merasa sulit. Ayah dan seisi keluarga saudara K.H. Weigh telah mengantar saya. Saudara Weigh berjalan bersama saya; barang-barang saya dipikul lebih dulu di depan. Saya berdoa, “Ya Tuhan, Engkau sudah membawaku ke sini, tidak mungkin Engkau tidak membawaku pulang. Engkaulah yang bertanggung jawab. Jangan biarkan tangan manusia masuk ke dalam perkara ini. Kalau saya yang salah, saya mau mengakui kesalahanku, tetapi saya tidak yakin kalau saya yang salah.” Saya terus berdoa, “Engkaulah yang bertanggung jawab. Engkau telah berfirman, ‘Berilah dan kamu akan diberi.’” Sampai di tengah jalan, seorang suruhan Tuan Philips datang menyusul dan menyampaikan sepucuk surat bersampul kepada saya. Dalam surat itu dikatakan, “Saya tahu ada orang yang bertanggung jawab atas ongkos perjalananmu, tetapi Allah menggerakkan hatiku bahwa aku harus mengambil bagian dalam pelayanan Anda kali ini di Cien-Au. Sudilah kiranya Anda membiarkan aku, seorang saudara yang tua, beroleh bagian dalam hal tersebut. Semoga Anda mau menerima sedikit persembahan ini.” Selesai membaca surat itu, saya terima pemberiannya dan saya berkata kepada Allah, “Ya Allah, sekarang uang ini baru benar.” Demikianlah uang itu saya pakai untuk ongkos perjalanan pulang. Bahkan masih ada kelebihan yang cukup untuk mencetak buletin “Kesaksian Masa Kini” untuk satu kali terbit.

Setelah kembali ke Fu-Chow, saya lalu mengunjungi rekan sekerja saya. Sesampai di rumahnya, istrinya bertanya, “Saudara Nee, ketika Anda meninggalkan Fu-Chow, mengapa Anda memberi suamiku uang itu? Mengapa begitu Anda memberikan uang itu, Anda segera pergi?” Jawab saya, “Tidak ada apa-apa. Hanya setelah saya berdoa, Tuhan menyuruh saya memberikan uang itu kepadanya. Begitu saya keluar dari rumah, di tengah jalan saya bertemu dengannya, maka uang itu saya berikan.” Saudari itu berkata lagi, “Justru malam hari sebelumnya adalah makan malam terakhir bagi persediaan kami waktu itu. Kami telah berdoa selama tiga hari untuk ini. Setelah Anda memberikan uang itu, baru kami bisa membeli sepikul beras, beberapa kati arang dan lain-lain. Hingga beberapa hari yang lalu, Tuhan baru memberikan keperluan kami lagi.” Saya tidak menceritakan kisah saya kepadanya, lalu keluar meninggalkannya. Sambil berjalan saya berkata dalam hati, “Untung saya tidak menyimpan uang itu untuk kepentingan diri sendiri. Jika uang itu saya simpan dalam saku, ia pasti sudah mati. Tetapi begitu uang itu saya keluarkan, ia segera berguna.” Saya menengadah kepada Tuhan dan berkata, “Tuhan, inilah kali pertama saya tampak Lukas 6:38.” Pada saat itu pula saya sekali lagi mempersembahkan diri kepada Tuhan dan berkata, “Mulai hari ini, saya berketetapan untuk memberi. Saya tidak rela satu sen pun di tangan saya menjadi uang malas. Saya harus mengeluarkannya agar Allah dapat dengannya menyatakan mujizat. Saya mau memberikan uang itu sebagai jawaban Allah atas doa-doa orang. Saya tidak mau menyimpan uang di tangan saya, hingga ia menjadi uang malas yang tidak berguna.”

Saya tidak berani mengatakan sudah mempunyai berapa banyak pengalaman dalam hal ini; mungkin memberi lebih banyak daripada orang lain, atau mungkin menerima lebih banyak daripada orang lain. Di China, mungkin Anda sulit menjumpai seorang yang seperti saya, dari tangan saya telah masuk uang demikian banyaknya, dan dari tangan saya pula telah keluar uang begitu banyaknya. Anda mungkin menganggap perkataan ini sebagai sesumbar. Tetapi saya akan berkata, “Lebih baik uang saya keluar untuk melakukan mujizat dan lebih baik uang saya keluar untuk pengabulan doa daripada membiarkannya menjadi malas tidak berguna. Hari ini saya tidak memerlukannya, saya akan memberikannya keluar; bila saya ada keperluan, ia akan kembali kepada saya, bahkan akan lebih banyak daripada yang saya berikan keluar.”

Saudara saudari yang baru beriman, hendaknya sejak permulaan sudah belajar mengatur keuangan. Saya pribadi tidak mau banyak bercerita, saya hanya ingin bersaksi. Saya kira sejak tahun 1923, di antara semua saudara di China, sayalah yang paling sering memakai uang yang terakhir. Firman Tuhan, “Berilah dan kamu akan diberi.” Saya terus belajar dalam hal ini. Saya memberi kepada orang lain, keperluan saya Dia yang beri. Saya tahu, hanya orang yang memberi kepada orang lain, baru ada yang memberi kepadanya. Saya semakin tampak, bila saya mudah memberi kepada orang, Tuhan pun mudah memberi kepada saya. Lebih baik saya menerima satu julukan: “Saudara Nee kaya.” Saya memang kaya, sebab tangan saya selalu memberi. Saya selalu membiarkan uang keluar, keluar terus. Tetapi setelah uang itu keluar, uang itu akan kembali lebih banyak beberapa kali lipat daripada yang keluar. Allah kita selamanya bukan Allah yang kikir.

V. CARA ORANG KRISTEN MENGATUR KEUANGAN

Cara orang Kristen mengatur keuangan bukanlah menggenggamnya dalam tangan. Semakin Anda menggenggamnya, uang itu akan semakin mati; semakin Anda menggenggamnya, uang itu akan semakin lenyap, ibarat air menguap. Tetapi, semakin Anda memberi, ia akan semakin banyak. Kalau anak-anak Allah semua mau belajar memberi, niscaya Allah akan menyatakan mujizat-Nya di mana-mana. Bagaimanapun bila anak-anak Allah menggenggam uang dalam tangan mereka, mereka akan menjadi orang miskin. Siapa saja yang selalu memegang uang di tangan, tidak mau memberi, ia tidak akan dipercayai Allah. Semakin Anda memberi, Allah akan semakin memberi kepada Anda.

1. Mengeluarkan Uang untuk Ditanamkan (Ditaburkan)

Bacalah 2 Korintus 9:6 — “Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga.” Ini juga prinsip pengaturan keuangan yang tercantum dalam Alkitab. Orang Kristen memberi kepada orang lain berarti menabur (menanam), bukan membuang. Bukan orang yang “membuang” sedikit, akan menuai sedikit, dan orang yang “membuang” banyak, akan menuai banyak. Firman Allah: Orang yang “menabur” sedikit, akan menuai sedikit juga, orang yang “menabur” banyak, akan menuai banyak juga. Jadi Anda mengeluarkannya untuk ditabur. Apakah Anda mengharap uang Anda bertumbuh? Jika “Ya”, Anda harus menaburnya. Bila Anda dapat mengeluarkannya, ia pasti bertumbuh; jika tidak, ia takkan bertumbuh.

Saudara saudari, masakan kita demikian bodohnya, sehingga kita ingin menuai sesuatu yang tidak kita tanam. Banyak doa Anda yang meminta suplaian telah ditolak oleh Allah, dikarenakan Anda adalah orang yang kejam, yang mau menuai di tempat yang tidak Anda taburi, dan mau memungut dari tempat yang tidak Anda tanami. Hal ini mustahil. Mengapa Anda tidak mengeluarkan sedikit uang untuk ditabur? Begitu banyak saudara saudari yang menderita kesusahan, mengapa Anda tidak menanamkan uang Anda di atas mereka, agar pada suatu waktu Anda dapat menuainya? Siapa saja yang lebih erat menggenggam uangnya, ia akan lebih tidak memperoleh. Di sini kita harus tampak, betapa indahnya lukisan ini. Orang-orang di Korintus memberikan uang mereka kepada orang-orang di Yerusalem bagi pemenuhan kebutuhan mereka. Paulus mengatakan hal itu bukan membuang, melainkan menabur. Kita harus ingat: kita dapat menggunakan uang kita sebagai benih. Kalau ada saudara saudari dalam kesusahan, dan Anda memenuhi kebutuhan mereka, Allah akan menumbuhkan uang itu, bahkan Anda akan menuai sebanyak 30, 60, atau 100 kali lipat. Semoga Anda mau menabur uang Anda sebanyak-banyaknya!

Saudara saudari yang baru percaya harus belajar menanamkan uang mereka. Jika demikian, ketika Anda ada keperluan, Anda akan dapat menuai apa yang Anda tanam. Anda tidak mungkin menuai apa yang tidak Anda tanam. Banyak saudara yang semakin bekerja semakin miskin. Ada berapa, dimakan berapa, karena itu mereka tidak memiliki apa-apa lagi. Jika Anda memiliki satu pikul, lalu Anda sisihkan 10 Kg. untuk ditanam, tahun depan Anda pasti akan memperoleh tuaian. Dan jika tahun depan Anda kembali menyisihkan 10 Kg. dan ditanam lagi, tahun berikutnya Anda pasti akan memperoleh tuaian lagi. Kalau ingin ditanam, janganlah dimakan. Banyak orang yang selalu makan, tetapi tidak pernah menanam, maka ketika ada keperluan, mereka tidak dapat menuai. Kalau hari ini ada saudara saudari muda dapat menanamkan uang mereka ke atas saudara saudari lainnya, kemudian berlutut dan berkata kepada Allah, “Ya Allah, sekarang aku menanam di atas saudara saudari. Kelak pada waktu aku ada keperluan, aku akan menuainya,” mereka akan tampak bahwa Allah pasti menggenapkan firman-Nya.

2. Harus Dipersembahkan kepada Allah

Tidak saja demikian, kita pun harus tampak bahwa dalam Perjanjian Lama Allah berfirman kepada bani Israel, “Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku dan ujilah Aku, firman Tuhan semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan” (Mal. 3:10). Inilah prinsip yang sama.

Pada masa itu, orang-orang Israel mengalami kemiskinan dan kesukaran yang hebat, bagaimana mereka dapat melaksanakan firman Allah seperti yang tercantum dalam kitab Maleakhi 3 itu? Mereka akan bertanya, “Sepuluh pikul beras saja tidak cukup untuk kami makan, mungkinkah sembilan pikul cukup? Sepuluh kantong gandum saja tidak cukup, bagaimana sembilan kantong bisa cukup?” Itulah perkataan orang milik daging; itulah perkataan orang yang bodoh! Allah mencela orang yang berkata demikian, sebab perkara yang mustahil bagi manusia, tidak mustahil bagi-Nya. Allah berfirman, “Kalau kamu membawa seluruh persembahan persepuluhanmu ke dalam rumah perbendaharaan-Ku dan menguji Aku, tidakkah Aku akan membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai kamu kehabisan tempat untuk menampungnya!”

Saya beri tahu Anda: sepuluh pikul, itulah yang menyebabkan Anda menjadi miskin; sembilan pikul, itulah yang menyebabkan Anda menjadi kaya. Manusia mengira, jika yang dimiliki dalam tangan makin banyak, itu makin baik, tetapi justru yang ada di dalam tangan itulah yang menyebabkan ia menjadi miskin. Bila saya mempersembahkannya kepada Allah, hal itu akan menjadi penyebab utama untuk beroleh berkat. Satu pikul yang lain itu, dalam tangan saya justru menjadi kutukan; tetapi bila ia berada dalam rumah perbendaharaan Allah, ia akan menjadi berkat saya. Itulah prinsip orang Israel. Bila Anda menyimpan apa yang seharusnya Anda persembahkan kepada Allah, dengan sendirinya Anda akan mengalami kemiskinan. Kalau Anda menyimpannya, itu malah membuat Anda menjadi miskin.

3. Harus Menyebar Harta

Mari kita baca Amsal 11:24 — “Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan.” Banyak orang tidak menyebar harta, malah tidak ada yang tersisa; tetapi banyak orang yang telah menyebar harta, malah bertambah kaya. Inilah yang diwahyukan firman Allah kepada kita tentang prinsip orang Kristen mengatur keuangan.

4. Mempertaruhkan Segalanya bagi Allah

Mari kita lihat lagi satu perkara yang sangat ajaib, yaitu kisah Elia di atas gunung Karmel memohon Allah menurunkan hujan (1 Raj. 18). Pada masa itu terjadi kekeringan yang dahsyat, sampai-sampai raja sendiri pergi mencari air; begitu pula para menterinya. Ini membuktikan betapa sedikitnya air pada saat itu. Ketika Elia akan kembali membangun mezbah dan akan mempersembahkan kurban bagi Allah, ia menyuruh orang mengambil air untuk dituangkan ke atas mezbah dan kurban.

Pada waktu itu, air sangat berharga! Bahkan raja pun pergi mencari air. Tetapi Elia berkata, harus menuangkan air satu pikul, dua pikul, tiga pikul, terus dituang hingga air mengalir di sekitar mezbah bagaikan aliran sungai. Air dari langit belum turun, tetapi air ini harus dituang terlebih dulu, bukankah sayang sekali? Jika hujan tidak jadi turun, dan air itu sudah telanjur dituang, bukankah itu sangat sayang? Namun, Elia tetap menyuruh mereka mengambil air dan menuangkannya. Ia sendiri kemudian berlutut dan berdoa, mohon Allah menurunkan api membakar kurban di atas mezbah. Allah mengabulkan doanya, dan menurunkan hujan lebat. Saya beri tahu Anda, jika Anda menginginkan langit menurunkan hujan lebat, Anda harus terlebih dulu menuangkan air Anda. Kalau Anda tidak mau menuangkan air Anda, maka hujan dari langit takkan diturunkan.

Di sinilah letak kesukaran kebanyakan orang. Mereka menggenggam erat apa yang mereka miliki, namun mengharapkan Allah mengabulkan doa mereka. Allah ingin mencurahkan air ke atas bumi, agar bumi tidak mengalami kekeringan, tetapi manusia harus terlebih dulu menuangkan air. Menurut pikiran manusia, setiap perkara harus ada kelonggarannya. Kalau hujan tidak turun, setidaknya masih ada beberapa pikul air untuk dipakai. Tetapi orang yang memperhitungkan beberapa pikul air yang ia miliki, selamanya tidak akan melihat air dari langit. Siapa saja yang ingin melihat air turun dari langit, ia harus berbuat seperti Elia, yaitu bisa melepaskan air yang ada padanya. Apa pun harus bisa dikeluarkan. Jika orang-orang yang baru percaya tidak dapat melepaskan diri dari kuasa uang, tidak dapat terselamatkan dari uang, mereka selamanya takkan dapat menempuh jalan gereja dengan lurus. Karena itu, saya harap semua saudara saudari dapat menjadi orang-orang yang mempersembahkan diri, yaitu menyerahkan segala sesuatu kepada Allah.

5. Jawaban dan Suplaian

Filipi 4:19 merupakan sebuah ayat yang sangat istimewa. Kalau orang-orang Korintus adalah orang-orang yang sayang memberikan uang, maka orang-orang Filipi adalah orang-orang yang senang mengeluarkan uang. Paulus sekali demi sekali menerima kiriman orang-orang Filipi. Paulus berkata kepada orang-orang Filipi, “Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus.” Apakah Anda merasakan keistimewaan ayat ini? Ayat itu mengatakan dengan khusus, “Allahku akan memenuhi segala keperluanmu.” Allah yang menerima uang, Allah yang menerima kiriman itu, akan memenuhi segala keperluan orang yang memberi.

Perkara ini sangatlah jelas. Kalian selalu mengingat keperluanku, maka Allahku pun akan memenuhi keperluan kalian. Tak mungkin Allah menyuplai orang yang tidak mau menyuplai orang lain. Hari ini banyak orang yang memegang Filipi 4:19, tetapi mereka sama sekali tidak tampak ayat tersebut. Allah bukan memberi kepada orang yang meminta, melainkan kepada orang yang “memberi”. Hanya orang yang memberi yang dapat memegang Filipi 4:19; orang yang tidak memberi tak dapat memegang ayat ini. Anda harus memberi, kemudian barulah Anda dapat berkata, “Ya Allah, hari ini Engkau akan menyuplai segala keperluanku menurut kekayaan dalam Kristus.” Hanya kepada orang Filipilah Allah dapat memberikan segala keperluan mereka. Hanya kepada orang yang berada di atas prinsip memberi, barulah Allah dapat menyuplaikan segala keperluannya.

Pada waktu lumbung Anda kehabisan gandum, dan botol Anda kehabisan minyak, Anda harus ingat bahwa dari yang tersisa segenggam pada Anda itu harus terlebih dulu dibuatkan sebuah roti untuk Elia, yakni harus terlebih dulu memberi makan kepada hamba Allah. Dari beberapa tetes minyak dan segenggam tepung gandum itu harus terlebih dulu dibuatkan roti untuk nabi; alhasil, segenggam gandum dan beberapa tetes minyak itu akan cukup Anda pakai selama tiga setengah tahun. Siapakah yang pernah mendengar bahwa sebotol minyak cukup dimakan selama tiga setengah tahun? Saya beri tahu Anda, jika Anda dengan sedikit minyak dan sedikit gandum yang Anda miliki itu, terlebih dulu membuatkan roti untuk nabi, Anda memang sudah tidak punya apa-apa, tetapi Anda akan tampak bahwa sebotol minyak itu akan cukup memelihara Anda selama tiga setengah tahun. Sebenarnya untuk Anda makan sekali saja tidak cukup, tetapi begitu Anda memberikannya, Anda malah akan terpelihara. Inilah cara orang Kristen mengatur keuangan.

6. Harus Melepaskan Uang Kita

Seluruh Perjanjian Baru dan Perjanjian Lama memberi pengajaran yang sama. Kemiskinan bukanlah jalan yang ditempuh orang Kristen. Allah tidak menghendaki kita menjadi miskin, Allah pun tidak menghendaki kita susah. Kalau di antara kita ada orang yang miskin dan susah, itu disebabkan ia menggenggam uangnya terlalu erat. Semakin Anda menyayangi dan memustikakan diri sendiri, Anda akan semakin kelaparan. Semakin Anda mementingkan uang, Anda akan semakin miskin. Saya tidak dapat bersaksi bagi hal yang lain, tetapi untuk hal ini, saya dapat. Orang yang semakin erat menggenggam uang dan yang semakin menyayangi uang, ia akan menjadi semakin miskin. Itu sudah pasti. Selama 20 tahun ini, saya telah menyaksikan banyak fakta yang demikian. Saya harap, kita semua mau melepaskan uang kita, agar uang itu berjalan di atas bumi, agar uang itu bekerja, dan agar Allah dapat mengabulkan doa-doa serta melakukan mujizat-mujizat. Tatkala kita menghadapi keperluan, Allah bisa memenuhinya.

Bukan Anda saja yang ada dalam tangan Allah, Iblis pun berada dalam tangan Allah. Lembu dan kambing di seluruh gunung adalah kepunyaan Allah. Hanya orang yang bodoh yang mengira bahwa uang itu merupakan hasil usahanya sendiri. Sebab itu, orang yang baru percaya harus tampak bahwa persembahan adalah perkara yang harus kita lakukan. Anda harus mengeluarkan uang yang Anda peroleh, dan berikan kepada saudara saudari yang dalam kekurangan. Janganlah menjadi orang bodoh yang selalu menerima, selalu menimbun uang bagi diri sendiri dan menyimpan uang itu. Jalan orang Kristen tergantung pada memberi. Anda harus selalu memberi, jika demikian Anda akan tampak betapa uang itu menjadi “hidup” di dalam gereja. Ketika Anda ada keperluan, burung-burung di udara bisa membantu Anda; ketika Anda ada keperluan, Allah pasti melakukan mujizat.

Anda harus meletakkan diri Anda ke dalam firman Allah, jika tidak, Allah tidak berdaya menggenapkan firman-Nya atas Anda. Anda harus terlebih dulu menyerahkan diri kepada Allah, kemudian senantiasa memberikan uang keluar, agar Allah dapat menyuplai Anda.