BERSIDANG
“Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti yang dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, terlebih lagi sementara kamu melihat hari Tuhan semakin mendekat.”
Ibrani 10:25
“Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.”
Matius 18:20
“Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa.”
Kisah Para Rasul 2:42
“Jadi, kalau seluruh jemaat berkumpul bersama-sama dan tiap-tiap orang berkata-kata dengan bahasa lidah, lalu masuklah orang-orang luar atau orang-orang yang tidak beriman, bukankah mereka akan katakan bahwa kamu gila?”
“Jadi, bagaimana sekarang, Saudara-saudara? Bilamana kamu berkumpul, hendaklah tiap-tiap orang mempersembahkan sesuatu: yang seorang mazmur, yang lain pengajaran, atau penyataan Allah, atau karunia bahasa lidah, atau karunia untuk menafsirkan bahasa lidah, tetapi semuanya itu harus dipergunakan untuk membangun.”
1 Korintus 14:23, 26
I. KARUNIA KORPORAT DI DALAM BERSIDANG
Firman Allah mengatakan, “Janganlah menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah.” Mengapa? Karena Allah akan memberi karunia kepada kita di dalam pertemuan ibadah (sidang). Karunia yang Allah berikan kepada kita terbagi dalam dua kategori: Karunia individual dan karunia korporat. Allah tidak hanya memberikan karunia individual kepada kita, Ia pun memberikan karunia korporat kepada kita. Karunia korporat ini hanya dapat kita peroleh di dalam sidang.
Kita pernah membahas tentang berdoa. Anda wajib belajar berdoa secara pribadi dengan sebaik-baiknya di rumah, Allah dapat mengabulkan doa Anda, dan hal itu tidak perlu disangsikan; Allah dapat mendengar doa yang individual. Namun, ada sejenis doa yang hanya dapat dikabulkan Allah melalui sidang doa, yakni yang didoakan oleh dua atau tiga orang di dalam nama Tuhan; doa semacam ini tidak mungkin berhasil jika dilakukan secara pribadi. Banyak perkara yang mengandung makna besar yang tidak mungkin terkabul jika tidak didoakan bersama dalam sidang. Doa untuk perkara-perkara demikian baru akan berhasil melalui permohonan di dalam sidang doa. Dalam sidanglah Allah baru mencurahkan karunia korporat. Mungkin Anda mengira berdoa sendiri dengan tekun sudah cukup, atau memohon belas kasih Allah secara pribadi sudah cukup, tetapi dari banyak pengalaman terbukti bahwa berdoa sendirian tidak cukup. Seolah-olah Allah tidak mau mendengarkan doa itu, kecuali dilakukan oleh dua atau tiga orang, atau oleh seluruh saudara saudari. Maka ada dua jenis doa yang dapat dikabulkan, pertama ialah yang pribadi, kedua adalah yang korporat, yakni yang dilakukan dalam sidang. Ada doa yang tidak mungkin terkabul kecuali kita lakukan di dalam sidang.
Kita juga pernah membahas tentang membaca Alkitab. Memang benar ketika Anda membaca Alkitab secara pribadi, Anda bisa beroleh karunia Allah. Tetapi, ada beberapa bagian Alkitab yang mustahil Anda pahami dalam pembacaan secara pribadi, kecuali Anda datang bersidang bersama. Mungkin ada seorang saudara menguraikan bagian tersebut, atau mungkin juga bukan bagian itu yang diuraikan, tetapi karena saudara saudari berhimpun bersama, maka pada waktu itu Allah mengaruniakan terang kepada Anda. Banyak saudara saudari dapat bersaksi bahwa Alkitab yang mereka pahami melalui bersidang lebih banyak daripada yang mereka pahami dalam pembacaan secara pribadi. Kadang kala dalam sidang, Allah dapat menarik Anda dari firman ini ke firman lain, dan terang-Nya akan menerangi dari yang satu kepada yang lain; bahkan terang itu akan lebih dipancarkan lagi, sehingga Anda dapat beroleh karunia korporat.
Maka bila Anda tidak bersidang, Anda hanya dapat menerima karunia individual, tetapi Anda akan kehilangan karunia korporat yang amat kaya limpah itu. Allah hanya dapat memberikan karunia korporat ini kepada Anda di dalam sidang. Tanpa bersidang mustahil Anda memperolehnya. Sebab itulah Alkitab memerintahkan, “Janganlah menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah” (Artinya, “Janganlah berhenti bersidang”).
II. GEREJA DAN SIDANG
Gereja mempunyai satu keistimewaan yang besar, yaitu bersidang. Orang Kristen sekali-kali tidak dapat menggantikan bersidang dengan “usaha sendiri” (self-made). Sebab Allah memiliki sejenis karunia yang hanya diberikan kepada kita sewaktu bersidang. Jika Anda tidak bersidang, Anda pasti tidak akan memperoleh karunia korporat yang seharusnya Anda peroleh itu.
Ketentuan Allah terhadap orang Yahudi pada zaman Perjanjian Lama, yaitu menghendaki mereka bersidang. Maka Alkitab sering menyebut mereka sebagai “perhimpunan”. Mereka baru dapat disebut “perhimpunan” bila mereka mau berhimpun. Sampai Perjanjian Baru masalah ini menjadi lebih jelas, “Janganlah berhenti bersidang” telah menjadi satu perintah dalam Alkitab. Allah tidak menyuruh umat-Nya “berusaha sendiri” secara individual, melainkan menghendaki mereka berhimpun untuk memperoleh karunia-Nya. Tidak ada seorang pun yang tidak kehilangan karunia jika ia berhenti bersidang. Berhenti bersidang adalah perbuatan yang bodoh. Orang Kristen harus bersidang, yakni harus berhimpun bersama dengan anak-anak Allah lainnya, barulah dapat menerima karunia.
Mengenai bersidang, dalam Alkitab tidak saja diterangkan dengan perintah yang tegas, bahkan dengan teladan atau contoh-contoh pula. Ketika Tuhan Yesus di bumi, Ia sering berhimpun bersama dengan murid-murid-Nya, adakalanya di atas bukit (Mat. 5:1), di padang gurun (Mrk. 6:32-34), di rumah (Mrk. 2:1-2), di tepi laut (Mrk. 4:1). Pada malam terakhir, Ia pun menyewa sebuah loteng besar untuk berhimpun bersama dengan mereka (Mrk. 14:15-17). Setelah kebangkitan-Nya, Ia menyatakan diri di tengah-tengah perhimpunan mereka (Yoh. 20:19, 26; Kis. 1:4). Pada waktu hari Pentakosta, mereka berhimpun bersama (Kis. 2:1), dan selanjutnya mereka juga tekun memelihara pengajaran rasul dengan saling bersekutu, memecahkan roti dan berdoa. Tak lama berselang mereka menderita aniaya, setelah kembali ke tempat mereka sendiri, mereka tetap berhimpun (Kis. 4:23-31). Setelah Petrus dibebaskan dan ketika ia memasuki sebuah rumah, orang-orang di rumah itu pun sedang berhimpun (Kis. 12:2). Dalam 1 Korintus 14, sangat jelas sekali mengatakan bahwa seluruh gereja berhimpun bersama (1 Kor. 14:23). Tak seorang pun yang milik gereja yang boleh mengisolir dirinya dari perhimpunan gereja.
Apakah makna istilah “gereja”? Dalam bahasa Yunani, gereja ialah “ekklesia”. “Ek” berarti keluar, “klesia” berarti berhimpun. Jadi “ekklesia” berarti “orang-orang yang keluar dan berhimpun bersama”. Allah tidak saja menghendaki adanya orang-orang yang terpanggil, Ia pun menghendaki orang-orang yang terpanggil itu berhimpun bersama. Bila orang-orang yang terpanggil itu berpisah seorang dengan yang lainnya, maka gereja tidak akan tertampak dan terlahir.
Sebab itu, setelah kita percaya Tuhan, kita mempunyai satu keperluan yang mendasar, yaitu berhimpun bersama dengan anak-anak Allah. Jangan sekali-kali saudara saudari mempunyai satu konsepsi yang aneh, sehingga berkata, “Aku ingin menjadi seorang Kristen yang berusaha sendiri saja.” Konsepsi demikian harus kita singkirkan. Dalam kekristenan tidaklah terdapat orang Kristen yang berusaha sendiri, hanya ada seluruh gereja berhimpun bersama. Jangan Anda mengira Anda dapat menjadi seorang Kristen dengan cara berdoa dan membaca Alkitab sendirian di rumah. Itu mustahil! Kekristenan tidak saja terbangun di atas dasar pribadi, juga terbangun di atas dasar sidang.
III. BERSIDANG MENGEKSPRESIKAN FUNGSI TUBUH
Satu Korintus 12 membicarakan tentang Tubuh, sedang pasal 14 membicarakan tentang bersidang. Pasal 12 membicarakan tentang karunia Roh Kudus, dan pasal 14 juga membicarakan tentang karunia Roh Kudus. Karunia dalam pasal 12 mengacu kepada Tubuh, karunia pasal 14 mengacu kepada gereja. Dari kedua pasal tersebut menunjukkan kepada kita bahwa fungsi masing-masing anggota Tubuh hanya ternyata di dalam sidang. Karena bila kita membaca bersama kedua pasal tersebut, kita akan tampak dengan jelas bahwa Tubuh dalam pasal 12 berfungsi dalam pasal 14. Pada satu pihak dikatakan Tubuh, pada pihak lain disebut bersidang; pada satu pihak dikatakan karunia-karunia dalam Tubuh, pada pihak lain dikatakan karunia-karunia dalam sidang.
Fungsi Tubuh khususnya diekspresikan di dalam sidang. Demikian pula saling mendatangkan faedah bagi masing-masing anggota; misalnya mata membantu kaki, telinga menolong tangan, dan tangan membantu mulut; saling mempengaruhi, saling menunjang, semuanya terjadi di dalam sidang. Maka pada waktu bersidang, kebanyakan doa-doa kita dapat dikabulkan. Sering kali ketika seseorang sendirian saja, ia tidak mendapat terang, namun begitu ia bersidang, ia beroleh terang. Wahyu atau visi yang Anda tuntut di hadapan Allah secara pribadi tidak dapat lebih banyak daripada yang Anda tuntut di dalam sidang. Ministri yang ditetapkan Allah, semua dinyatakan di dalam sidang dan diperuntukkan bagi sidang. Karena itu, bila seseorang jarang bersidang, ia akan kehilangan banyak kesempatan untuk dapat memahami fungsi Tubuh.
Gereja adalah Tubuh Kristus, gereja pun tempat kediaman Allah. Dalam Perjanjian Lama kita tampak bahwa terang Allah terdapat di dalam tempat maha kudus. Di pelataran luar ada terang matahari, di tempat kudus ada terang kandil dari minyak zaitun. Tetapi di tempat maha kudus tanpa terang alami, pun tanpa terang buatan insani, melainkan hanya ada terang ilahi. Karena tempat maha kudus merupakan tempat kediaman Allah, Allah berhuni di dalamnya, maka di sana ada terang ilahi. Hari ini, ketika gereja berhimpun bersama, yaitu ketika ia menjadi tempat kediaman Allah, terdapat terang ilahi di sana. Jadi, sidang gereja itulah saatnya di mana Allah menyatakan terang-Nya. Mengapa demikian, kita tidak tahu. Kita hanya bisa mengatakan, sebab ada saling mendatangkan faedah bagi masing-masing anggota, sehingga terang ilahi dapat terekspresikan di dalam tubuh.
Kitab Ulangan 32:30 mengatakan, “Bagaimana mungkin satu orang dapat mengejar seribu orang, dan dua orang dapat membuat lari sepuluh ribu orang, kalau tidak . . . Tuhan telah menyerahkan mereka.” Satu orang dapat mengusir seribu orang, bagaimana mungkin dua orang mengusir sepuluh ribu orang? Itu sangat aneh, kita tidak mengerti, tetapi kita tahu itu suatu kenyataan.
Menurut pandangan manusia, kalau satu orang dapat mengusir seribu orang, dua orang hanya bisa mengusir dua ribu orang. Namun Allah berfirman bahwa dua orang dapat mengusir sepuluh ribu orang, jadi terdapat kelebihan delapan ribu. Kalau dua orang secara terpisah, masing-masing mengusir seribu orang, totalnya menjadi dua ribu orang. Tetapi kalau kedua orang bersama-sama mengusir, ini berarti anggota saling mendatangkan faedah, maka dapat mengusir sepuluh ribu orang, berarti kelebihan delapan ribu orang. Seseorang yang tidak memahami tubuh dan tidak mementingkan sidang, ia akan kehilangan delapan ribu. Karenanya kita perlu belajar memperoleh karunia korporat. Jangan mengira cukup dengan memperoleh karunia individual saja. Kita ulangi, keistimewaan kekristenan ialah bersidang. Orang Kristen tidak dapat menggantikan bersidang dengan “usaha sendiri”. Hal ini perlu saudara saudari lihat dengan jelas dan tegas.
Masih ada satu hal lagi, yakni ada dua macam penyertaan yang Tuhan janjikan pada kita: yang pertama tercantum dalam Matius 28, yang lainnya tercantum dalam Matius 18. Dalam Matius 28:20 Tuhan berkata, “Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman.” Ini termasuk penyertaan secara pribadi. Matius 18:20 Tuhan berkata, “Di mana dua atau tiga orang berkumpul (bersidang) dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.” Penyertaan Tuhan di sini ditujukan kepada penyertaan-Nya pada waktu bersidang, dan penyertaan semacam ini hanya dapat kita nikmati di dalam sidang. Tuhan menyertai kita secara pribadi itu satu perkara, dan Tuhan menyertai kita dalam sidang itu perkara yang lain.
Ada orang hanya mengetahui penyertaan Tuhan secara individual, pengenalan yang sedemikian tidak cukup. Penyertaan yang hebat dan penuh kuasa hanya dapat kita jamah di dalam sidang, secara pribadi tidaklah mungkin. Walaupun kita dapat menikmati penyertaan Tuhan secara pribadi, namun kadarnya pasti lebih sedikit, dan kuasanya pasti tidak begitu besar. Hanya ketika kita berhimpun bersama dengan saudara saudari, barulah kita dapat merasakan penyertaan Tuhan yang tidak dapat kita rasakan secara pribadi. Maka Anda wajib belajar bersidang bersama saudara saudari, barulah Anda dapat merasakan penyertaan Tuhan yang istimewa dalam sidang. Itulah suatu karunia yang besar. Bersandar pada pribadi Anda, penyertaan itu tidak mungkin Anda peroleh. Kita jarang sekali menjumpai seorang Kristen yang berusaha sendiri yang dapat memperoleh penyertaan Tuhan yang penuh kuasa seperti itu.
Ketika anak-anak Allah berhimpun bersama, mereka dengan spontan dapat saling berfungsi. Kita tidak tahu mengapa sidang dapat melahirkan fungsi bersama dari Tubuh, kita hanya tahu bahwa saling berfungsi itu suatu fakta. Ketika seorang saudara berdiri, Anda tampak terang; ketika seorang saudara lain berdiri lagi, Anda merasakan penyertaan Tuhan; dan seorang membuka mulut berdoa, Anda menjamah Allah, dan ketika seorang saudara mengucapkan beberapa patah kata, Anda merasakan adanya suplaian hayat. Perkara ini sulit diinterpretasikan. Bagaimana sebenarnya Tubuh Kristus bisa saling mendatangkan faedah, hal itu mungkin baru dapat kita mengerti bila kita tiba di hadirat Tuhan kelak. Hari ini kita hanya melakukan apa yang telah ditentukan Tuhan saja.
Mungkin karena Anda baru percaya Tuhan, Anda tidak begitu mementingkan masalah bersidang dan karenanya Anda pun tidak mengerti apa itu terang Tubuh, dan apa artinya fungsi atau saling mendatangkan faedahnya Tubuh. Namun pengalaman memberi tahu kita bahwa di atas Tubuh terdapat banyak fungsi rohani yang asasi. Hanya melalui sering bersidang, barulah kita beroleh banyak pelajaran. Bila Anda tidak bersidang, Anda tidak akan mendapat bagian sedikit pun. Karena itu, diharap sejak semula Anda sudah belajar mengikuti sidang sebaik-baiknya.
IV. PRINSIP BERSIDANG
Bagaimanakah seharusnya kita bersidang? Mengenai bersidang, prinsip utama yang tercantum dalam Alkitab ialah, segala sidang harus dilakukan atas nama Tuhan, yakni demi nama Tuhan. Matius 18:20 mengatakan, “Berkumpul dalam Nama-Ku”. Ini boleh diterjemahkan menjadi “atas nama Tuhan”. Apa artinya atas nama Tuhan? Itu artinya di bawah kekuasaan Tuhan. Tuhan itulah pusat/inti, dan semua orang tertarik datang ke hadapan Tuhan. Maka kita datang bersidang bukan melihat saudara atau saudari tertentu, dan bukan saudara atau saudari tertentu yang menarik kita datang bersidang. Kita bersidang berarti datang ke bawah nama Tuhan bersama-sama dengan banyak saudara saudari, dan Tuhan menjadi intinya.
Kita datang bersidang bukan untuk mendengarkan khotbah, melainkan menghadap Tuhan. Jika Anda datang bersidang untuk mendengarkan khotbah seseorang, berarti Anda di bawah nama orang itu, bukan di bawah nama Tuhan. Adakalanya orang memakai nama seseorang untuk menarik orang lain, itu berarti ia menghendaki orang berada di bawah nama orang itu. Tetapi Tuhan berkata bahwa kita harus bersidang di dalam nama-Nya.
Mengapa harus di dalam nama Tuhan? Sebab ditinjau dari segi jasmani (Luk. 4:29, 30), Tuhan sendiri tidak hadir di sini. Di tempat yang tidak dihadiri Tuhan barulah perlu nama-Nya; nama tidak diperlukan di tempat di mana orangnya itu hadir. Adanya nama itu disebabkan orangnya tidak ada. Maka ditinjau dari segi jasmani, karena hari ini Tuhan tidak berada di bumi, maka Ia meninggalkan satu nama bagi kita. Tuhan berjanji, bila kita berkumpul demi/atas nama-Nya, Ia akan hadir di tengah-tengah kita, Roh-Nya pun ada di antara kita. Roh Kudus adalah Pelindung nama Tuhan; Roh Kudus pun Pengawas nama Kristus. Roh Kudus yang memelihara dan mengayomi nama Tuhan. Di mana ada nama Tuhan, di situ ada Roh Kudus, agar nama Tuhan dapat terekspresikan. Maka bila seseorang ingin berhimpun, hendaklah ia datang berhimpun di bawah nama Tuhan.
Prinsip sidang yang kedua ialah wajib membina orang lain. Dalam 1 Korintus 14 Paulus memberi tahu kepada kita bahwa prinsip asasi bersidang yaitu membina orang lain, bukan membina diri sendiri. Setiap perkara yang kita lakukan di dalam sidang harus bertujuan membina orang lain, bukan membina diri sendiri. Berbahasa lidah itu untuk membina diri sendiri, tetapi menerjemahkan bahasa lidah itu membina orang lain. Dengan perkataan lain, setiap hal yang hanya dapat membina diri sendiri, tidak dapat membina orang lain itulah prinsip “berbahasa lidah”. Sedang prinsip “menerjemahkan bahasa lidah” berarti membagikan apa yang kita peroleh kepada orang lain agar orang lain terbina. Karena itu, jika tidak ada penerjemahnya, bahasa lidah tidak seharusnya dilakukan. Ini berarti perkataan-perkataan yang hanya dapat membina diri sendiri, tidak dapat membina semua orang, tidak seharusnya diucapkan di dalam sidang.
Jadi, dalam sidang kita harus memikirkan kepentingan orang lain. Banyak sedikitnya perkataan yang kita ucapkan tidak menjadi masalah, yang menjadi masalah ialah dapatkah kita membina orang lain. Jika seorang saudari ingin mengajukan pertanyaan, prinsipnya pun sama. Mengajukan suatu pertanyaan dalam sidang bukan hanya untuk kebaikan diri sendiri, tetapi harus dipikirkan apakah pertanyaan itu bisa menjerumuskan/merugikan sidang atau tidak. Apakah Anda ingin membantu sidang maju ke depan? Tempat yang paling jelas untuk membuktikan sudah atau belumnya watak individualisme Anda tertanggulangi, ialah bagaimana keadaan Anda ketika Anda bersidang. Ada orang hanya memikirkan kepentingan diri sendiri. Dalam hatinya ada sebuah khotbah yang hendak dibicarakan, maka ketika ia datang ke sidang ia tak dapat tidak mengutarakannya. Mungkin pula dalam hatinya tersirat sebuah lagu yang disukainya, maka ia harus mencari kesempatan untuk menyanyikannya. Apakah khotbahnya dapat membantu orang lain, dan apakah lagunya dapat membuat sidang lebih hidup, sama sekali tak dihiraukannya. Orang semacam ini akan merugikan sidang.
Ada saudara mungkin telah menjadi orang Kristen beberapa tahun, namun tidak mengerti harus bagaimana bersidang. Ia tidak menghiraukan langit dan bumi, bahkan tidak menghiraukan Tuhan dan Roh Kudus, ia hanya mempedulikan dirinya sendiri. Seolah-olah ia sendiri sudah dapat disebut bersidang, dan seolah-olah hanya ada dia sendiri di sana, tidak ada saudara saudari lainnya. Ia datang ke sidang lalu berbicara, maksudnya agar dia sendiri bisa merasa puas. Memang akhirnya dia sendiri merasa puas, tetapi saudara saudari lain tidak puas. Jika dia tidak berbicara dia merasa menanggung “beban berat”, tetapi begitu dia berbicara, saudara saudari lainlah yang memikul “beban berat” nya pulang ke rumah.
Ada orang senang berdoa panjang, begitu ia berdoa, banyak orang dibuatnya menjadi lelah. Karena itu, kalau seorang tidak memegang prinsip bersidang, seluruh gereja akan dipersulit olehnya. Dalam sidang, tidak boleh menyalahi Roh Kudus, begitu menyalahi Roh Kudus, berkat akan lenyap. Jika kita di dalam sidang memperhatikan keperluan orang lain, agar orang lain terbina, niscaya Roh Kudus akan beroleh penghormatan, dan Ia akan melakukan pembinaan, sehingga kita sendiri pun akan beroleh pembinaan. Jika kita tidak membina orang lain, malahan berbicara seenaknya, sehingga bersalah kepada Roh Kudus, maka sidang itu pasti akan menjadi hampa. Janganlah memikirkan hendak memperoleh apa-apa bagi diri sendiri; setiap tindakan harus ditujukan bagi faedah orang lain. Kalau Anda yakin dengan membuka mulut akan berfaedah bagi orang lain, Anda harus membuka mulut; dan kalau Anda yakin berdiam diri berfaedah bagi orang lain, Anda harus berdiam diri. Sidang selalu ditujukan bagi kebaikan orang lain. Itulah prinsip sidang yang mendasar.
Namun, bukan berarti semua orang tak boleh membuka mulut dalam sidang. Sering kali, berbicara bisa merugikan orang lain, tetapi berdiam diri pun dapat merugikan orang lain. Jika Anda tidak memikirkan kepentingan orang lain, sidang pasti akan menyebabkan Anda menderita kerugian, baik Anda berbicara atau berdiam diri. Bicara Anda harus mendatangkan kebaikan bagi sidang, membungkam pun harus mendatangkan kebaikan bagi sidang, pokoknya harus menghasilkan pembinaan bagi orang lain. Jika memang seharusnya membuka mulut, bukalah mulut.
Ingatlah, dalam sidang, “semuanya itu harus dipergunakan untuk membangun” (1 Kor. 14:26). Setiap orang yang mengikuti sidang, wajib membawa satu tujuan, yakni aku bersidang untuk orang lain, bukan hanya untuk diriku sendiri. Hindarilah hal apa pun yang dapat mengganggu orang lain. Jika membungkam dapat mengganggu orang lain, janganlah membungkam; jika berbicara dapat mengganggu orang lain, janganlah berbicara. Belajarlah membuka mulut demi untuk membina orang lain, dan belajarlah tidak membuka mulut demi untuk membina orang lain. Membina orang lain, bukan membina diri sendiri. Ketika Anda tidak berbuat sesuatu untuk diri sendiri, Anda sendiri tentu akan beroleh pembinaan. Bila Anda hanya memikirkan diri sendiri, Anda akan kehilangan pembinaan.
Jika Anda tidak mengetahui apakah perkataan Anda dapat membina orang atau tidak, paling baik tanyakan terlebih dulu kepada saudara yang berpengalaman, “Saudara, apakah dalam sidang aku harus banyak berbicara atau sedikit berbicara?” Sejak semula Anda harus menjadi orang yang rendah hati. Jangan merasa diri sendiri luar biasa, merasa lebih pandai bernyanyi atau berkhotbah daripada orang lain. Janganlah Anda sendiri yang menentukan, paling baik Anda bertanya kepada saudara yang berpengalaman, apakah perkataan Anda dapat membina orang lain atau tidak. Jika mereka menganjuri Anda banyak berbicara, Anda harus banyak berbicara, dan jika mereka mengingatkan Anda jangan banyak berbicara, Anda pun harus tidak banyak berbicara. Kalau semua orang mau belajar merendahkan diri, sidang pasti akan menjadi kuat. Begitu orang masuk ke dalam sidang, pasti akan merasa bahwa Allah ada di antara kita. Ini merupakan hasil pekerjaan Roh Kudus. Kiranya kita semua mau memperhatikan masalah ini, agar sidang kita dapat memuliakan Allah.
V. DI DALAM KRISTUS
Di sini ada satu perkara lagi yang juga harus kita ketengahkan, yakni setiap kali kita bersidang, setiap kali saudara saudari saling bersekutu, kita wajib ingat bahwa semua orang beriman di dalam Kristus telah disatukan. Mari kita membaca ayat-ayat di bawah ini.
1 Korintus 12:13 — “Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, baik budak, maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh.” Ayat ini mengatakan bahwa di dalam Tubuh Kristus tidak terdapat perbedaan duniawi. Kita semua telah dibaptis menjadi satu Tubuh dalam satu Roh, lalu diberi minum dari satu Roh.
Galatia 3:27-28 — “Karena kamu semua, yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus. Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.” Ayat ini memperlihatkan kepada kita bahwa kita dibaptis ke dalam Kristus, kita adalah orang-orang yang mengenakan Kristus. Di sini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena semua adalah satu di dalam Kristus.
Kolose 3:10-11 — “Dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbarui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Penciptanya; dalam hal ini tidak ada lagi orang Yunani atau orang Yahudi, orang bersunat atau orang tak bersunat, orang Barbar atau orang Skit, budak atau orang merdeka, tetapi Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu.”
Surat Galatia mengatakan “tidak ada”; Surat Kolose juga mengatakan, “tidak ada lagi”. Mengapa? Karena kita telah mengenakan manusia baru, kita telah disusun/disatukan di dalam satu manusia baru ini. Dan manusia baru ini diciptakan menurut gambar Penciptanya (Ef. 4:24). Di dalam satu manusia baru ini tidak ada orang Yahudi atau Yunani, tidak ada orang Barbar atau orang Skit, tidak ada hamba atau orang merdeka, tetapi Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu. Karena itu satu dan bersatu adanya.
Setelah membaca ketiga bagian Alkitab tadi, kita tampak betapa kaum beriman telah menjadi satu di dalam Kristus. Dalam Tuhan tidak ada perbedaan identitas atau status kita yang lampau. Perbedaan itu tidak ada di dalam manusia baru, demikian pula di dalam Tubuh Kristus. Bila perbedaan buatan manusia itu dibawa ke dalam gereja, hubungan di antara saudara saudari tidak mungkin berada di atas kedudukan yang wajar.
Perbedaan yang disebutkan di sini terbagi atas lima aspek, yakni antara orang Yahudi dengan orang Yunani, antara budak dengan orang merdeka, antara orang Barbar dengan orang Skit, antara orang bersunat dengan orang tak bersunat, dan antara laki-laki dengan perempuan.
Perbedaan antara orang Yahudi dengan orang Yunani mengandung dua arti: pertama ialah keduanya itu merupakan dua suku bangsa dan negara yang berbeda. Di dalam Tubuh Kristus, di dalam Kristus, di dalam manusia baru, tidak ada perbedaan antara orang Yahudi dengan orang Yunani. Orang Yahudi tidak pada tempatnya bersikap sombong di antara semua orang, dan menghina semua suku bangsa lainnya karena merasa dirinya sebagai keturunan Abraham dan kaum pilihan Allah. Ketahuilah, di dalam Kristus, orang Yahudi dengan orang Yunani telah disatukan. Maka batasan suku bangsa, di dalam Kristus telah terhapus. Semuanya telah menjadi saudara di dalam Kristus; di sini tidak boleh memecah-belah anak-anak Allah. Mereka di dalam Tubuh Kristus dan manusia baru telah bersatu dengan sepenuhnya. Andaikata Anda membawa sukuisme atau perbedaan tempat ke dalam gereja, ini berarti Anda masih belum mengetahui apa artinya gereja. Anda telah masuk ke dalam gereja, Anda wajib menyadari bahwa di dalam gereja tidak ada lagi perbedaan antara orang Yahudi dengan orang Yunani. Memang bagi orang Yahudi hal ini sangat sulit diterima, tetapi Alkitab menegaskan, di dalam Kristus tidak ada orang Yahudi dan orang Yunani; Kristus itu semua dan di dalam segala sesuatu. Dalam gereja hanya ada Kristus.
Arti yang kedua ialah bahwa orang Yahudi mewakili karakter yang antusias terhadap agama, sedangkan orang Yunani mewakili karakter yang menggemari ilmu dan seni. Dalam sejarah, bangsa Yahudi sering ditampilkan bila orang membicarakan masalah keagamaan, tetapi kalau membicarakan tentang ilmu dan seni, bangsa Yunanilah yang sering disinggung. Jadi, perbedaan ini menunjukkan ketidaksamaan karakter manusia. Namun, tak peduli bagaimana kelainan karakternya, orang Yahudi dapat menjadi orang Kristen, orang Yunani pun dapat menjadi orang Kristen. Bangsa yang penuh kegairahan agama dapat menjadi orang Kristen, bangsa yang penuh dengan ilmu pun dapat menjadi orang Kristen.
Di dalam Kristus tidak ada perbedaan orang Yahudi dengan orang Yunani. Yang seorang mementingkan perasaan hati nurani, yang lainnya mementingkan rasio atau akal budi. Menurut jasmani memang kedua orang tersebut memiliki karakter yang berbeda; yang satu bertindak menurut perasaan, yang lain bertindak menurut pikiran. Namun di dalam Kristus tidak ada perbedaan orang Yahudi dengan orang Yunani. Seorang yang berwatak gairah dapat menjadi orang Kristen, seorang yang berwatak dingin juga dapat menjadi orang Kristen. Orang yang hidup menurut intuisi dapat menjadi orang Kristen, orang yang hidup menurut rasio juga dapat menjadi orang Kristen. Segala macam orang dapat menjadi orang Kristen.
Kalau Anda telah menjadi orang Kristen, silakan Anda tinggalkan watak Anda di luar pintu. Karena dalam gereja tidak terdapat benda itu. Sering kali gereja mengalami kesulitan justru karena banyak orang memasukkan watak alamiah mereka ke dalam gereja, memasukkan sifat khas mereka ke dalam gereja. Orang-orang yang berwatak pendiam berhimpun bersama, lalu menjadi kelompok pendiam; dan orang-orang yang suka banyak bicara begitu berhimpun kemudian menjadi kelompok banyak bicara. Orang yang dingin berhimpun bersama menjadi kelompok dingin, orang yang gairah berhimpun bersama menjadi kelompok gairah. Karena hal-hal itulah di antara anak-anak Allah timbul banyak perbedaan/perpecahan.
Akan tetapi, watak adalah sesuatu yang seharusnya tidak ada di dalam gereja, di dalam Kristus tidak, di dalam manusia baru pun demikian. Janganlah karena tabiat orang lain tidak sama dengan Anda, lalu Anda mengatakan ia tidak benar. Anda harus mengetahui, orang lain pun tidak menyukai dan tidak menghargai tabiat Anda. Karena itu, apakah Anda berwatak tergesa-gesa atau tenang, dingin atau gairah, rasional atau emosional, begitu Anda masuk menjadi saudara atau saudari, semua itu harus Anda tinggalkan di luar pintu. Jika Anda tetap membawa watak alamiah Anda ke dalam gereja, itu akan menjadi faktor dan dasar kekacauan dan perpecahan. Anda membawa watak atau perangai Anda ke dalam gereja, Anda mengira diri sendiri sebagai standar; siapa saja yang memenuhi standar Anda itulah orang Kristen yang baik, siapa yang tidak memenuhi standar Anda, itulah orang Kristen yang tidak baik; orang yang sesuai dengan watak Anda itu benar dan yang tidak sesuai itu salah. Jika demikian, gereja akan menderita kerugian karena watak dan perangai Anda. Karena itu, dalam gereja tidak seharusnya ada perbedaan semacam itu.
Perbedaan kedua, yakni orang merdeka dan budak. Perbedaan ini dalam Kristus juga telah terhapus. Dalam Kristus, hubungan orang merdeka dengan hamba sudah tidak ada lagi.
Paulus menulis ketiga surat ini tepat pada zaman kekaisaran Romawi yang bersistem perbudakan. Pada waktu itu budak-budak tidak berbeda dengan hewan atau alat-alat untuk kerja berat, yang menjadi harta milik seorang majikan. Jika orang tuanya menjadi budak, anak-anaknya pun menjadi budak; mereka seumur hidup tidak ada kebebasan. Maka perbedaan antara orang yang merdeka dengan budak hebat sekali. Namun Allah tidak mengizinkan adanya perbedaan yang demikian di dalam gereja. Baik dalam 1 Korintus, Galatia maupun Kolose, semua mengatakan tentang terhapusnya perbedaan antara orang merdeka dengan budak, sebab dalam Kristus, perbedaan tersebut telah terhapus.
Perbedaan ketiga ialah antara laki-laki dengan perempuan. Di dalam Kristus dan di dalam manusia baru, kedudukan laki-laki dengan perempuan sama. Baik laki-laki maupun perempuan, tidak ada kedudukan yang istimewa. Sebab Kristus di dalam semuanya dan mencakup segala sesuatu, maka antara laki-laki dan perempuan tidak ada perbedaan. Dalam perkara rohani, laki-laki dan perempuan tidak dapat dibedakan. Kalau seorang saudara beroleh selamat dan menjadi anak-anak Allah karena hayat Kristus, maka seorang saudari pun beroleh selamat dan menjadi anak-anak Allah karena hayat Kristus. Saudara menjadi putra Allah, saudari pun menjadi putra Allah. Dalam Kristus, kita semua adalah putra-putra Allah; dalam Kristus tidak ada perbedaan laki-laki dan perempuan.
Perbedaan keempat ialah antara orang Babar dan orang Skit. Inilah perbedaan tingkatan kebudayaan. Memang setiap orang mempunyai perbedaan tingkatan kebudayaan; ada yang tinggi, ada yang rendah. Tetapi Paulus mengatakan kepada kita, tak peduli orang Barbar atau orang Skit, perbedaan ini pun di dalam Kristus sudah tidak ada lagi.
Di lain pihak kita harus belajar, di antara orang Yahudi menjadi orang Yahudi; di antara orang yang di bawah hukum Taurat, menjadi orang yang di bawah hukum Taurat (1 Kor. 9:20-22). Di antara orang yang berkebudayaan apa, menjadi orang yang berkebudayaan apa pula. Kita berada di antara orang apa, jadilah orang di tempat itu. Jika kita berhubungan dengan orang yang berbeda kebudayaannya dengan kebudayaan kita, kita harus belajar agar kita dapat bersatu di dalam Kristus.
Perbedaan terakhir, yaitu antara orang bersunat dengan orang tak bersunat. Perbedaan ini terletak pada ada tidaknya tanda ibadah di atas tubuh jasmani. Orang Yahudi telah disunat, mereka memiliki satu tanda di atas tubuh jasmani, menunjukkan mereka adalah milik Allah, kaum yang taat kepada Allah dan yang menolak daging; mereka sangat mementingkan penyunatan. Dalam Kisah Para Rasul 15 tercatat kisah beberapa orang Yahudi yang ingin memaksa orang kafir untuk disunat.
Sebagai orang Kristen, kita pun mempunyai beberapa tanda ibadah, antara lain seperti pembaptisan, penudungan kepala, pemecahan roti, dan penumpangan tangan. Pembaptisan memang mengandung makna rohani, tetapi juga ada tanda jasmaninya, demikian pula dengan penudungan kepala, pemecahan roti, dan penumpangan tangan. Pada satu aspek memang perkara-perkara tersebut mengandung makna rohani, dan merupakan perkara rohani, tetapi di lain aspek, jika hal-hal tersebut dipakai untuk membeda-bedakan anak-anak Allah, yakni mengira kita memiliki tanda-tanda ini, sedangkan orang lain tidak ada, itu berarti kita menjatuhkan hal-hal tersebut dari makna rohaninya ke dalam tanda-tanda jasmaninya belaka. Kita akan jatuh ke dalam prinsip orang Yahudi yang menyombongkan sunat, sehingga pembaptisan, pemecahan roti, penudungan kepala, dan penumpangan tangan kita juga menjadi “sunat” kita. Jika kita memakai semua itu untuk membedakan anak-anak Allah, berarti kita membedakan menurut tubuh jasmani. Namun, dalam Kristus tidak ada perbedaan orang yang bersunat atau orang yang tak bersunat. Tanda-tanda jasmani tidak dapat dipakai untuk membeda-bedakan anak-anak Allah.
Dalam Kristus semuanya satu dan esa adanya. Hayat dalam Kristus adalah esa, dan semua perkara itu berada di luar. Jika sudah ada realitas rohaninya, lalu ditambah dengan tanda-tanda jasmani, tentu itu paling baik. Tetapi, jika orang telah memiliki realitas rohani, namun tanpa tanda-tanda jasmaninya, janganlah karena itu membedakannya dengan kita. Anak-anak Allah jangan sekali-kali membuat perbedaan/ perpecahan karena tanda-tanda jasmani, sehingga mempengaruhi keesaan di dalam Tuhan dan manusia baru.
Kita semua adalah saudara saudari, kita semua sebagai manusia baru di dalam Kristus, kita semua menjadi anggota dalam Tubuh. Jika kita berada dalam gereja, tentulah tidak ada lagi perbedaan-perbedaan di luar Kristus. Setiap orang berdiri di atas kedudukan baru, dan semua berada dalam manusia baru yang diciptakan Tuhan, di dalam Tubuh yang dibangun Tuhan. Kita wajib tampak bahwa semua anak Allah esa adanya, sebab itu janganlah mempunyai “rasa unggul diri”, jangan pula mempunyai “rasa rendah diri”
Angan-angan golongan atau sekte dan perpecahan harus kita singkirkan. Dengan demikian, ketika bersidang dalam gereja Allah, yaitu ketika saudara saudari saling bersekutu, akan terhindarlah kita dari setiap perpecahan atau bergolong-golongan. Hal ini tidak saja harus kita perhatikan dalam kita bersidang, bahkan harus menjadi kehidupan yang kita ekspresikan dalam hidup sehari-hari kita. Semoga Allah memberkati kita.