Daftar isi Pembinaan Dasar · bab 5/50

BERSAKSI

Pembacaan Alkitab: Kisah Para Rasul 22:15; 1 Yohanes 4:14; Markus 5:19;

Kisah Para Rasul 9:19-21;Yohanes 1:40-45.

I. MAKNA BERSAKSI

Bila kita menyalakan sebatang lilin, berapa lamakah terangnya akan berlangsung? Sudah tentu ia baru akan padam bila semuanya habis terbakar. Kalau kita mengambil sebatang lagi dan menyalakannya dengan api dari lilin yang pertama, tentu terangnya akan lebih besar satu kali lipat. Apakah terang lilin yang pertama menjadi berkurang oleh karena apinya dipakai untuk menyalakan lilin yang kedua? Tidak. Dan jika dengan lilin kedua kita nyalakan lagi lilin ketiga, apakah terang lilin kedua akan berkurang? Tidak. Terang dari setiap batang lilin itu akan berlangsung terus sampai ia habis terbakar. Setelah yang pertama padam, yang kedua masih menyala, setelah yang kedua padam, yang ketiga akan melanjutkannya. Dengan demikian, jika kita menyalakan lagi sebatang, sepuluh batang, seratus, bahkan seribu batang, . . .terangnya tentu akan berlangsung terus. Hal itu mengibaratkan kesaksian gereja. Kedatangan Putra Allah ke dunia ibarat lilin yang telah dinyalakan, lalu disambung terus sebatang demi sebatang. Gereja selama 1900 tahun lebih ibarat lilin-lilin yang terbakar dari awal hingga akhir, yang satu menyalakan yang lain, terus-menerus hingga hari ini. Gereja masih berlangsung di atas bumi, keselamatan pun masih berlangsung di atas bumi. Ada yang menyalakan sepuluh batang, ada yang menyalakan seratus batang; sebatang demi sebatang dinyalakan, maka terangnya pun bersambung terus tiada putus-putusnya.

Saudara saudari, apakah Anda senang melihat terang Anda berlangsung terus, tanpa terputus; atau senang melihat terang Anda padam pada akhir hidup Anda? Hari ini, ada orang lain yang telah menyalakan Anda, semoga terang itu tidak berakhir pada diri Anda. Setiap orang Kristen wajib berusaha dengan sekuat tenaganya untuk menyelamatkan orang, yaitu bersaksi dan membawa orang kepada Tuhan, sehingga kesaksian ini dapat bertahan terus di bumi ini, dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Namun ada suatu perkara yang amat disayangkan, yaitu ada terang yang hanya menyala pada seorang saja, kesaksian itu hanya berlaku pada seorang saja. Inilah perkara yang paling disayangkan! Gereja dilanjutkan satu generasi demi satu generasi, terus-menerus tak berkesudahan. Ada orang yang kesaksiannya berlangsung terus, tetapi ada juga yang terputus, tanpa kelanjutan. Alangkah sayangnya! Terang sebatang lilin hanya dapat bertahan sampai ia terbakar habis; demikian pula, kesaksian seseorang hanya bertahan sampai ia meninggal. Kalau kita menginginkan terang sebatang lilin berlangsung terus, maka sebelum terangnya padam, ia harus menyalakan lilin yang lain. Dengan demikian, lilin yang kedua dapat menyala lagi, lilin ketiga dapat menyala lagi, lilin keseratus, keseribu, dan kesepuluh ribu dapat menyala lagi; sebatang demi sebatang akan menyala terus-menerus. Terang ini akan berlangsung terus dan memenuhi seluruh dunia, sedang ia sendiri tidak berkurang karenanya. Bersaksi sama sekali tidak merugikan diri sendiri, malahan akan membuat kesaksian itu berlangsung terus.

Apakah artinya kesaksian? Dalam Kisah Para Rasul 22:15 Tuhan menyuruh Ananias memberitahu Saulus, ”Sebab Engkau harus menjadi saksi-Nya terhadap semua orang tentang apa yang kaulihat dan yang kaudengar.” Jadi, dasar kesaksian ialah apa yang kita lihat dan apa yang kita dengar. Anda tidak dapat bersaksi atas perkara yang tidak Anda lihat, Anda juga tidak dapat bersaksi atas perkataan yang tidak Anda dengar. Paulus telah melihat dengan matanya sendiri, ia pun telah mendengar dengan telinganya sendiri, kemudian Allah menyuruhnya bersaksi atas apa yang ia lihat dan yang ia dengar itu. Satu Yohanes 4:14 menerangkan bahwa kesaksian ini ialah ”Kami telah melihat dan bersaksi bahwa Bapa telah mengutus Anak-Nya menjadi Juruselamat dunia.” Apa yang kita lihat, itulah yang kita saksikan. Syukur kepada Allah, Anda telah percaya kepada Tuhan, Anda telah bertemu dengan Dia, percaya kepada-Nya, menerima-Nya, dan memperoleh-Nya. Anda adalah orang yang telah diselamatkan, telah dilepaskan dari dosa, telah beroleh pengampunan, dan telah beroleh damai sejahtera. Setelah Anda percaya kepada Tuhan, Anda adalah orang yang bersukacita; sukacita semacam ini tidak pernah Anda miliki sebelumnya. Dulu pikulan dosa menekan Anda demikian beratnya, tetapi sekarang syukur kepada Allah, pikulan dosa yang berat itu telah lucut. Anda adalah orang yang telah melihat dan mendengar. Apakah yang seharusnya Anda lakukan sekarang? Hari ini, Anda harus bersaksi atas pengalaman-pengalaman Anda. Ini tidak berarti Anda harus berhenti bekerja dan menjadi penginjil, melainkan Anda harus bersaksi atas apa yang Anda lihat dan dengar kepada keluarga, teman-teman, dan semua kenalan Anda, dan membawa orang-orang itu ke hadapan Tuhan.

Jika kesaksian Anda tidak berlangsung terus, Injil akan berhenti sampai diri Anda. Walaupun Anda telah diselamatkan, telah beroleh hayat dan terang Tuhan, bila Anda tidak menyalakan orang lain, terang Anda akan padam sampai saat Anda terbakar habis. Anda tidak seharusnya menjumpai Tuhan dengan tangan hampa, Anda harus membawa banyak orang ke hadapan Tuhan. Orang-orang yang baru beriman, sejak semula wajib belajar bersaksi dan membawa orang kepada Tuhan. Hal ini jangan sekali-kali dilalaikan. Jika pada awalnya Anda tidak mau membuka mulut, lambat-laun akan menjadi suatu kebiasaan, dan kalau ingin memulihkannya, sangat memeras tenaga. Setelah Anda percaya Tuhan, pertama kali mengecap karunia keselamatan yang demikian besar, pertama kali beroleh Juruselamat yang demikian agung, pertama kali beroleh keselamatan dan kelepasan yang demikian besar, kalau Anda tidak dapat bersaksi bagi Tuhan dan menjadikan diri Anda suatu terang untuk menyalakan orang lain, Anda benar-benar sangat bersalah terhadap Tuhan!

II. TELADAN-TELADAN BERSAKSI

Berikut ini kita akan membaca lagi empat ayat dalam Alkitab yang memberi teladan sangat baik kepada kita untuk bersaksi.

1. Pergi ke Kota dan Berkata kepada Orang-orang yang di Situ

Dalam Injil Yohanes 4, terpisah Tuhan membicarakan masalah air hidup dengan seorang perempuan Samaria. Tuhan menunjukkan kepadanya, bahwa manusia takkan puas hidup di dunia ini tanpa air hidup. ”Siapa saja yang minum air ini, ia akan haus lagi, tetapi siapa saja yang minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai pada hidup yang kekal.” Hanya kepuasan yang batini itulah yang memberi kepuasan yang sejati. Perempuan tersebut telah kawin dengan lima orang laki-laki; satu suami demi satu suami, hingga yang kelima, tetapi tetap tidak puas. Ibarat orang minum air, setelah minum tetap akan haus lagi, dan selalu tidak puas. Bahkan suami yang ada padanya sekarang bukan suaminya; ia menjadi seorang yang tak pernah puas. Akan tetapi, Tuhan memiliki air hidup yang dapat memuaskannya. Ketika Tuhan menyingkapkan siapa dirinya, dan ketika ia beroleh Tuhan, ia segera meninggalkan tempayannya dan pergi ke kota, mengatakan kepada orang-orang di situ, ”Mari, lihatlah orang yang mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat. Mungkinkah Dia itu Kristus?” Yang pertama-tama ia lakukan ialah bersaksi. Apakah yang ia saksikan? Ia bersaksi tentang Kristus. Segala perbuatan perempuan ini mungkin ada yang diketahui oleh orang-orang di kota itu, tetapi mungkin ada banyak pula yang tidak diketahui, namun sekarang telah dikatakan semua oleh Tuhan Yesus. Ia bersaksi kepada orang-orang di kota, ”Mungkinkah Dia itu Kristus?” Begitu ia melihat Tuhan, ia segera membuka mulut kepada orang, dan menyuruh orang menyelidiki apakah Ia benar Kristus. Banyak orang yang percaya kepada Tuhan karena perkataan perempuan tersebut.

Tiap orang Kristen perlu bersaksi dan memperkenalkan Tuhan. Tuhan telah menolong orang dosa yang besar seperti aku; siapakah Dia kalau bukan Kristus? Kalau Dia bukan Putra Allah, siapakah Dia? Aku tak dapat tidak membuka mulut, aku tak dapat tidak bersaksi. Walau aku tak dapat mengatakan ajaran atau teorinya, tetapi setidak-tidaknya aku mengenal Dia sebagai Kristus, Putra Allah, dan Juruselamat yang Allah angkat. Aku tampak bahwa aku adalah orang dosa yang telah diselamatkan Tuhan. Bagaimanakah perkara ini bisa terjadi, aku tak dapat menjelaskannya, tetapi kalian datang dan lihat, aku kini telah berubah, ya, aku telah berubah besar! Aku pun tak mengerti bagaimana hal ini bisa terjadi; semula aku mengira diriku baik, sekarang aku tampak bahwa aku adalah orang dosa. Yang dulunya kusangka bukan dosa, sekarang sudah dikatakan Tuhan dan aku sudah tahu itu dosa. Sekarang aku mengerti aku adalah orang macam apa. Dulu aku melakukan banyak dosa, orang lain tak tahu, aku sendiri pun mungkin tak tahu; aku sama sekali tak merasa telah terbuat dosa. Di sini ada seorang mengatakan segala sesuatu yang telah kuperbuat, baik yang kuketahui, maupun yang tidak kuketahui. Aku tak dapat tidak harus mengakui bahwa aku telah menjamah Kristus, aku telah berjumpa dengan Tuhan. Di sini ada seorang memberitahu aku, bahwa suamiku yang ada sekarang, bukanlah suamiku. Ia berkata kalau aku minum air ini, aku tetap akan haus, aku tetap harus menimba air. Alangkah tepatnya perkataan-perkataan-Nya itu! Mari kalian lihat, bukankah Dia Juruselamat, bukankah Dia itu Kristus, dan bukankah Dia satu-satunya yang dapat menyelamatkan kita?

Setiap orang yang tampak dirinya sendiri sebagai orang dosa, pasti mempunyai kesaksian untuk disaksikan, demikian pula orang yang telah tampak Juruselamat ini. Kesaksian perempuan ini adalah perkara yang terjadi hanya beberapa jam setelah ia bertemu dengan Tuhan, yaitu yang terjadi pada hari pertama, bukan setelah lewat beberapa tahun, atau setelah ia mengikuti kebangunan rohani. Begitu kembali ke kota, ia segera bersaksi. Maka, begitu seorang diselamatkan, ia seharusnya segera memberitahu orang lain tentang peristiwa yang ia tampak dan ketahui. Anda tak perlu mengatakan sesuatu yang Anda tidak ketahui, dan jangan mengatakan panjang lebar, cukup mengatakan apa yang Anda ketahui saja, cukup dengan bersaksi dan mengatakan perasaan Anda.

Sebagai contoh: Anda boleh berkata, ”Sebelum aku percaya Tuhan, aku sangat negatif, tetapi setelah percaya Tuhan aku menjadi sangat positif. Dulu aku selalu menuntut, namun tidak merasa puas, sekarang dalam hatiku penuh dengan kemanisan yang tak terkatakan. Sebelum aku percaya Tuhan, aku selalu tak enak tidur, tetapi sekarang aku dapat tidur dengan nyenyak. Dulu aku sering khawatir dan risau, sekarang aku merasa damai dan sukacita dalam keadaan bagaimanapun.” Anda boleh mengatakan kepada orang tentang fakta yang Anda alami. Tak usah mengatakan sesuatu yang tak dapat Anda katakan, atau yang tidak Anda ketahui. Jangan melampaui keadaan Anda untuk mengatakan kata-kata yang tidak Anda ketahui, sehingga menimbulkan perdebatan. Anda harus menjadikan diri Anda satu kesaksian yang hidup di hadapan orang, sehingga orang lain tak dapat membantah Anda.

2. Pulang ke Rumah dan Memberi Tahu Orang Lain

Mari kita baca Injil Markus 5:1-20. Di sini ada seorang yang dirasuk roh jahat; dalam Alkitab, boleh dikata bahwa dia adalah seorang yang paling parah dirasuk roh jahat. Orang itu dirasuk sekelompok roh jahat, ia tinggal di pekuburan, tiada seorang pun yang berdaya mengikatnya, dengan rantai besi pun tak berdaya. Siang malam ia berkeliaran di pekuburan dan di bukit-bukit sambil berteriak-teriak dan memukuli dirinya dengan batu. Tuhan Yesus mengusir roh-roh jahat itu keluar dari dirinya, roh-roh jahat itu lalu masuk ke dalam kawanan babi yang berjumlah 2000 ekor. Babi-babi itu terjun ke dalam danau. Setelah ia diselamatkan, Tuhan berkata kepadanya, ”Pulanglah ke rumahmu, kepada orang-orang sekampungmu, dan beritahukanlah kepada mereka segala sesuatu yang telah diperbuat oleh Tuhan atasmu dan bagaimana Ia telah mengasihani engkau!”

Setelah Anda menerima kasih karunia, Tuhan menghendaki Anda memberitahukan kepada orang-orang dalam keluarga Anda, kepada kerabat, teman, tetangga, atau teman sekerja Anda, bahwa Anda telah beroleh selamat. Anda tidak saja harus memberitahukan kepada mereka bahwa Anda telah percaya Yesus, bahkan memberitahukan kepada mereka segala sesuatu yang telah diperbuat Tuhan atas Anda dan bagaimana Ia telah mengasihani Anda. Tuhan menghendaki Anda memberitahukan kepada orang segala sesuatu yang telah diperbuat oleh Tuhan atas Anda, dan bersaksi tentang perkara yang Anda alami sendiri kepada mereka. Anda melakukan demikian, berarti Anda menyalakan (menghidupkan) orang lain, sehingga keselamatan tidak berhenti pada diri Anda saja, melainkan dapat dilanjutkan terus kepada orang lain.

Sangat disayangkan, dalam kebanyakan keluarga orang Kristen masih terdapat banyak jiwa yang menuju kebinasaan. Ada ayah, ibu, anak, famili, dan sahabat yang hingga hari ini belum pernah mendengar Injil Kristus melalui mulut kita. Mereka hanya memiliki kebahagiaan dalam kehidupan sekarang, tanpa pengharapan di alam yang kekal. Mengapa kita tidak memberi tahu mereka segala sesuatu yang telah diperbuat oleh Tuhan atas kita? Mereka justru berada di sisi kita, kalau mereka saja tidak dapat mendengar Injil, lalu siapa yang dapat mendengar Injil?

Kalau kita ingin bersaksi kepada keluarga kita, haruslah kita memiliki perubahan besar dalam tingkah laku kita. Kita harus menyatakan betapa besar dan ajaibnya perubahan yang kita alami setelah kita percaya Tuhan, agar keluarga kita dapat menerima perkataan kita. Jika tidak, hati mereka tak mungkin mau menerima. Kita harus lebih adil, lebih berkorban diri, lebih mengasihi orang lain, lebih rajin, dan lebih sukacita daripada sebelumnya. Tanpa perubahan tingkah laku, tak mungkin mereka mau mempercayai apa yang kita katakan. Lagi pula, kita wajib memberi tahu mereka sebab-musabab perubahan kita itu, yaitu bersaksi kepada mereka.

3. Memberitakan Yesus di Rumah-rumah Ibadat

Kisah Para Rasul 9:19-21 — ”Saulus tinggal beberapa hari bersama-sama dengan murid-murid di Damsyik. Ketika itu juga ia memberitakan Yesus di rumah-rumah ibadat, dan mengatakan bahwa Yesus adalah Anak Allah. Semua orang yang mendengar hal itu heran dan berkata, ’Bukankah dia ini yang di Yerusalem mau membinasakan siapa saja yang memanggil nama Yesus ini? Dan bukankah ia datang ke sini dengan maksud untuk menangkap dan membawa mereka ke hadapan imam-imam kepala?’” Kata ”ketika itu juga” di sini merupakan kata yang penting, dapat diterjemahkan ”segera itu juga.” Jadi ”segera itu juga ia memberitakan Yesus di rumah-rumah ibadat, dan mengatakan bahwa Yesus adalah Anak Allah.”

Saulus pada mulanya pergi ke Damsyik untuk menangkapi orang-orang yang percaya Tuhan, tetapi di tengah jalan ia bertemu dengan Tuhan yang berbicara kepadanya. Setelah tersorot oleh cahaya, ia rebah ke tanah dan matanya menjadi buta. Lalu ada orang membawanya ke Damsyik. Tiga hari lamanya ia tidak dapat melihat, ia tidak makan dan minum. Tuhan mengutus Ananias untuk menumpangkan tangan ke atasnya dan setelah itu ia dapat melihat lagi. Ia pun bangun, dibaptis, setelah makan, pulihlah kekuatannya. Selang beberapa hari, ia segera pergi ke rumah ibadat untuk memberitakan Yesus adalah Anak Allah; ia segera bersaksi. Untuk berbuat demikian, baginya agak sulit, sebab sebelumnya ia adalah seorang yang mencelakakan murid-murid Tuhan, ia mungkin juga sebagai anggota majelis Yahudi. Majelis Yahudi beranggotakan 71 orang, Saulus mungkin salah satu di antaranya. Ia membawa surat kuasa Imam Besar untuk menangkapi orang-orang yang percaya Tuhan Yesus lalu membawanya kepada imam-imam kepala. Akan tetapi, sekarang ia sendiri telah menerima Tuhan Yesus, bagaimana ia seharusnya? Dulu ia yang menangkapi orang yang menerima Tuhan, sekarang mungkin ia sendiri yang akan ditangkap. Menurut pandangan manusia, lebih baik ia melarikan diri atau menyembunyikan diri, tetapi ia malahan pergi ke rumah-rumah ibadat dan bersaksi bahwa Yesus adalah Anak Allah; bukan di satu rumah ibadat saja, melainkan di banyak rumah ibadat. Hal ini menerangkan bahwa perkara pertama yang harus dilakukan seseorang setelah ia menerima Tuhan ialah bersaksi bagi Tuhan. Setelah matanya celik, Paulus segera menggunakan kesempatan untuk bersaksi, yaitu mengatakan bahwa Yesus orang Nazaret adalah Anak Allah. Inilah yang wajib dilakukan oleh setiap orang yang percaya Tuhan.

Semua orang dalam dunia mengakui ada Yesus, tetapi mereka hanya mengetahui ada seorang yang bernama Yesus di antara sekian banyak manusia di dunia ini. Dengan kata lain, dalam hati mereka, Yesus hanyalah salah seorang manusia di antara sekian banyak manusia; meski Ia agak luar biasa, tetapi tetap biasa. Akan tetapi, pada suatu hari, ketika Anda beroleh terang dan wahyu, mata Anda tercelik, dan Anda tampak satu fakta, yaitu Yesus adalah Anak Allah. Anda mengetahui bahwa Yesus adalah Anak Allah, Anak Allah ialah Yesus! Alangkah besarnya penemuan tersebut. Anda menemukan bahwa di antara umat manusia, ada Seorang yang menjadi Anak Allah; itu adalah perkara yang hebat! Tatkala seseorang menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat dan mengakui Tuhan Yesus sebagai Anak Allah, berarti ia telah berbuat perkara yang besar, ya, perkara yang luar biasa besarnya. Ia takkan melaluinya dengan sembrono, sebab inilah satu perkara yang tak kepalang besarnya. Di antara umat manusia yang tak terhitung banyaknya, dan dalam sejarah selama ribuan tahun ini, tiba-tiba diketahui bahwa Yesus orang Nazaret adalah Putra Allah, ini sungguh merupakan peristiwa yang besar sekali. Andaikata hari ini ada seseorang yang terbukti sebagai malaikat, kita semua akan merasa heran. Apalagi kalau yang kita temukan adalah Putra Allah! Sebab malaikat terpaut jauh sekali bila dibandingkan dengan Tuhan kita, dan keduanya itu sebenarnya tak dapatlah dibandingkan.

Di sini ada seorang, ketika ia hendak menangkapi orang yang percaya Tuhan, ia gagal; tetapi setelah ia rebah dan bangkit kembali, ia segera masuk ke rumah ibadat dan mengatakan bahwa Yesus adalah Anak Allah. kalau orang itu bukan gila, pasti ia beroleh wahyu. Ia sesungguhnya bukan gila, melainkan beroleh wahyu. Dan ia sesungguhnya telah berjumpa dengan Putra Allah di antara laksaan manusia. Anda juga seperti Paulus, Anda telah berjumpa dengan Seorang yang menjadi Putra Allah di antara laksaan manusia. Kalau Anda mengetahui betapa besar, penting, dan ajaibnya penemuan Anda, wajiblah Anda memberitahukan kepada orang lain, ”Aku telah bertemu dengan Putra Allah.” Dengan suara yang keras Anda harus berkata. ”Yesus itulah Anak Allah!” Kalau ada seorang telah percaya Tuhan dan beroleh selamat, mana mungkin ia duduk dan diam di sana tanpa melakukan apa-apa? Kalau ia telah percaya Tuhan Yesus, tetapi ia tetap tidak merasa mengapa demikian, tak merasa hal itu demikian ajaib dan aneh luar biasa, maka kepercayaannya patut kita ragukan. Di sini ada satu perkara yang besar, ajaib, dan melampaui keadaan lazim manusia dan yang tak kepalang luar biasanya, yaitu Yesus orang Nazaret adalah Putra Allah. Alangkah pentingnya hal ini! Kita takkan merasa aneh bila seseorang setelah tampak perkara yang sepenting ini, ia lalu mengetuk pintu rumah temannya pada tengah malam, dan memberitahukan kepada temannya itu tentang penemuannya ini. Dalam alam semesta ada satu perkara yang ajaib, yaitu Yesus, orang Nazaret, adalah Putra Allah.

Di sini ada seorang yang sakitnya baru saja sembuh, matanya baru saja dapat melihat, ia sudah segera pergi ke rumah-rumah ibadat dan mengatakan kepada orang, ”Yesus orang Nazaret adalah Putra Allah!” Setiap orang yang percaya Tuhan, setelah tampak fakta ini, wajiblah segera pergi ke rumah-rumah ibadat dan berkata, ”Yesus orang Nazaret adalah Anak Allah!” Setiap kali kita teringat akan Yesus orang Nazaret adalah Putra Allah, kita selalu merasa itulah penemuan yang terbesar di seluruh dunia, tiada penemuan kedua yang lebih hebat dan penting daripada ini. Di sini ada Seorang telah kita temukan, Dialah Anak Allah, alangkah besarnya perkara ini! Karena itu, ketika Petrus menjawab Tuhan, ”Engkaulah Mesias, Anak Allah yang hidup!” Tuhan segera berkata kepadanya, “Berbahagialah engkau Simon anak Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di surga” (Mat. 16:16-17). Tatkala Dia berjalan di antara kita, jika bukan Bapa yang menyatakan kepada kita, tidak akan ada seorang pun yang mengetahui bahwa itulah Dia.

Karena itu saudara saudari, jangan sekali-kali mengira bahwa iman Anda adalah suatu perkara yang kecil. Tidak, iman Anda itu suatu perkara yang ajaib. Karena Paulus mengetahui bahwa penemuannya adalah perkara yang ajaib, maka tak dapat tidak ia pergi memberitakan hal itu di rumah-rumah ibadat. Bila Anda memahami bahwa apa yang Anda tampak alangkah ajaib, niscaya Anda dapat melakukan hal yang serupa. Yesus orang Nazaret adalah Putra Allah, itulah fakta yang bukan main ajaib dan bukan main mulianya.

4. Seorang Mendapatkan Seorang

Setelah seseorang percaya kepada Tuhan, ia tidak saja harus pergi ke kota, pulang ke rumah, dan pergi ke rumah-rumah ibadat untuk bersaksi, bahkan ia harus memiliki satu kesaksian yang istimewa, yakni secara pribadi, seorang membawa seorang lainnya untuk percaya Tuhan. Demikianlah kesaksian yang tercantum dalam Injil Yohanes 1:40-45. Begitu Andreas percaya Tuhan, ia segera membawa kakaknya, Petrus, untuk menjumpai Tuhan. Walau kemudian Petrus menjadi rasul yang lebih berkarunia daripada Andreas, tetapi Andreaslah yang membawa Petrus percaya Tuhan. Filipus adalah teman Natanael, ia percaya Tuhan lebih dahulu, ia juga membawa temannya itu menerima Tuhan. Andreas membawa saudaranya, Filipus mendapatkan temannya, mereka semua membawa orang kepada Tuhan secara pribadi, yakni seorang mendapatkan seorang.

Kira-kira seratus tahun yang lalu, ada seorang Kristen yang bernama Harvey Page, ia mendapat karunia Tuhan, matanya tercelik dan ia tampak walaupun dirinya tanpa karunia istimewa untuk membawa banyak orang kepada Tuhan, namun ia yakin paling sedikit ia dapat membawa seorang. Ia tak bisa melakukan pekerjaan besar, ia hanya dapat memperhatikan satu orang; ia hanya bisa berkata, ”Aku telah diselamatkan, Anda juga harus diselamatkan.” Dengan tekun ia melaksanakan hal ini; ia mendoakan dan menganjuri orang itu terus-menerus, dan ditunggu terus hingga ia beroleh selamat. Akhirnya, ketika ia meninggal dunia, ia telah menghasilkan lebih dari 100 orang yang benar-benar percaya Tuhan.

Dulu, di luar negeri ada seorang Kristen yang bernama Todd, yang sangat pandai membawa orang beroleh selamat. Ia diselamatkan ketika baru berumur 16 tahun. Waktu liburan sekolah, ia pergi ke sebuah desa, di sana ia bertemu dengan sepasang suami-istri tua, yang membawanya ke hadapan Tuhan. Ia asalnya acuh tak acuh, tetapi pada hari itu, ia diajak berlutut dan berdoa, akhirnya ia beroleh selamat. Kemudian ia diberitahu mereka bahwa di tempat itu Injil sulit sekali diberitakan, kecuali sampai ada seorang veteran yang bernama Deeds bertobat. Setelah mendengar perkataan ini, Todd bertanya, ”Siapakah tuan Deeds itu?” Mereka mengatakan bahwa tuan Deeds adalah seorang veteran yang telah berusia lebih dari 60 tahun. Di rumahnya ada sepucuk pistol. Siapa yang berani memberitakan Injil kepadanya, akan ditembak. Ia pun menyebut setiap orang Kristen sebagai ”orang yang munafik”. Menurut pandangannya, semua orang Kristen di dunia ini adalah ”orang yang munafik”. Begitu melihat orang Kristen, ia sudah ingin memukulnya. Maka tak seorang Kristen pun yang berani memberitakan Injil kepadanya, bahkan tak seorang Kristen pun berani melewati jalan di depan tempat tinggalnya. Sebab kalau ada orang Kristen melewati jalan itu dan diketahuinya, pasti akan dicaci-maki dan dikutuk dengan garang. Setelah mendengar itu, Todd berkata, ”Oh Tuhan, hari ini aku telah menerima rahmat-Mu, Kau telah menyelamatkan aku, aku ingin bersaksi kepada tuan Deeds itu.” Beroleh selamat belum 2 jam sudah ingin bersaksi kepada tuan Deeds. Suami istri tua itu berkata, ”Banyak sudah orang di antara kami berbuat hal itu, tetapi tak berhasil. Ada orang yang dipentung olehnya, ada pula yang akan ditembak. Kita pun tak dapat mendakwanya gara-gara memberitakan Injil kepadanya. Ia semakin hebat memukuli orang Kristen. Kamu jangan pergi ke sana.” ”Tidak, aku merasa harus pergi menemuinya,” kata Todd sambil melangkah pergi.

Setiba di rumah Deeds, ia mengetuk pintu. Ternyata dengan memegang pentungan Deeds membuka pintu dan bertanya, ”Hei anak muda, mau apa kau?” ”Boleh aku berkata beberapa kata?” kata pemuda itu. Setelah masuk ke dalam rumah, pemuda itu berkata lagi, ”Aku harap Anda mau menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat Anda.” Deeds mengacungkan pentungnya mengancam, ”Mungkin kamu pendatang baru, aku memaafkan kamu dan tak langsung memukul kamu. Apakah kamu tidak pernah mendengar bahwa di tempat ini siapa pun tidak boleh menyebut-nyebut nama Yesus? Pergi, cepat pergi dari sini!” Todd berkata lagi, ”Aku harap Anda mau percaya Yesus.” Deeds sangat marah, ia lari naik ke loteng mengambil pistolnya, dengan garang ia membentak, ”Pergi! Kalau tidak, kau kutembak.” Todd menjawab, ”Aku menganjuri Anda percaya Yesus. kalau Anda ingin menembakku, tembaklah. Akan tetapi, sebelum Anda menembak, biarlah aku berdoa dahulu.” Ia segera berlutut di hadapan Deeds dan berdoa, ”Ya Allah, di sini ada seorang tidak mengenal Engkau, mohon Engkau menyelamatkan dia.” Lagi doanya, ”Ya Allah, di sini ada seorang tidak mengenal Engkau, mohon Engkau membelaskasihaninya, belaskasihanilah tuan Deeds ini.” Doanya diulang-ulangi tanpa berhenti. Ketika ia berdoa sampai kelima, enam kalinya, terdengar olehnya suara helaan napas, sebentar kemudian terdengar suara pistol diletakkan, dan sejenak kemudian, tuan Deeds juga berlutut di sampingnya dan berdoa, ”Ya Allah, belaskasihanilah aku.” Beberapa menit setelah itu, tuan Deeds benar-benar telah percaya Tuhan. Deeds memegang tangan pemuda itu dan berkata, ”Aku dulu hanya mendengar Injil, hari ini aku pertama kali melihat Injil.” Setelah peristiwa itu, pemuda tersebut mengatakan kepada orang, ”Pada mulanya aku melihat wajahnya penuh dosa, setiap kerut wajahnya adalah dosa dan keganasan. Akan tetapi, setelah percaya Tuhan, kerut wajahnya memancarkan terang dan menyatakan betapa Allah membelaskasihaninya.” Pada hari Minggu itu juga Deeds datang mengikuti sidang, dan kemudian ia juga membawa puluhan jiwa beroleh selamat.

Pada hari pertama setelah percaya Tuhan, Todd sudah membawa seorang yang terkenal sukar dihadapi itu untuk diselamatkan. Maka seorang yang baru beriman, lebih cepat membuka mulut bersaksi dan membawa orang percaya Tuhan itu lebih baik. Jangan membiarkan waktu Anda berlalu dengan sia-sia.

III. PENTINGNYA BERSAKSI

1. Alangkah Sukacitanya

Setiap orang beriman dalam seumur hidupnya ada dua hari yang merupakan hari sukacita. Pertama, yaitu hari ketika ia percaya Tuhan. Pada hari itu ia telah menerima Tuhan, maka ia luar biasa sukacitanya. Kedua, yaitu hari pertama kali ia membawa orang lain percaya Tuhan. Ketika untuk pertama kali ia membawa orang ke hadapan Tuhan, mungkin sukacitanya itu lebih besar daripada ketika ia sendiri diselamatkan. Banyak orang Kristen tidak bersukacita, sebab mereka tak pernah berbicara bagi Tuhan dan tak pernah membawa orang ke hadapan Tuhan.

2. Belajar Menjadi Orang yang Berhikmat

Amsal 11:30b mengatakan, ”Siapa bijak (hikmat) mengambil hati orang.” Sejak kita percaya kepada Tuhan, kita wajib mempelajari berbagai cara untuk menyelamatkan orang. Kita harus belajar menjadi orang bijak, barulah berguna di dalam gereja. Ini tidak ditujukan kepada pemberitaan Injil di atas mimbar; pemberitaan Injil di atas mimbar tidak dapat menggantikan kesaksian pribadi untuk membawa orang percaya kepada Tuhan. Orang yang hanya memberitakan Injil di atas mimbar, belum tentu bisa membawa orang kepada Tuhan. Kita bukan menganjuri Anda berkhotbah di atas mimbar, melainkan menganjuri Anda menyelamatkan orang. Banyak orang yang dapat berkhotbah, tetapi mereka tidak dapat menyelamatkan orang; kalau Anda membawa seseorang ke hadapan mereka, mereka tidak berdaya sedikit pun. Orang-orang yang demikian tidak berguna. Hanya orang yang dapat membawa orang lain, satu per satu ke hadapan Tuhan, barulah berguna.

3. Hayat Tak Dapat Tidak Melahirkan

Tidak ada sebatang pohon yang sudah bersemi yang tidak bertumbuh. Demikian pula, tidak ada seorang yang telah beroleh hayat Tuhan yang tidak melahirkan hayat. Siapa yang tidak bersaksi kepada orang dosa, jangan-jangan ia sendiri masih perlu kesaksian orang lain. Siapa yang tidak menaruh minat dan tidak menghendaki orang lain bertobat dan berpaling kepada Tuhan, jangan-jangan ia sendiri masih harus bertobat dan berpaling kepada Tuhan. Siapa yang tidak bersuara bagi Tuhan, jangan-jangan ia sendiri masih perlu mendengar suara Injil Allah. Mustahillah ada seorang yang maju demikian rupa, sehingga ia enggan menyelamatkan orang lain. Tidak ada orang yang dapat maju demikian rupa sehingga ia tak perlu bersaksi kepada orang lain. Saudara saudari yang baru percaya wajib belajar bersaksi sejak awal, dan bahkan ini adalah perkara yang perlu dilakukan seumur hidup.

Ketika Anda lebih banyak menempuh jalan rohani, Anda akan mendengar saudara berkata, ”Anda harus menjadi saluran air hidup. Anda harus berhubungan dengan Roh Kudus, agar air hidup — Roh Kudus — mengalir ke atas diri Anda.” Akan tetapi, saluran air hidup mempunyai dua ujung; saluran Roh Kudus, saluran hayat, mempunyai dua ujung. Yang satu terbuka kepada Roh Kudus, kepada hayat dan kepada Tuhan, sedang yang lainnya terbuka kepada manusia. Kalau ujung yang tertuju kepada manusia tidak terbuka, air hidup selamanya tak dapat mengalir. Tak seorang pun yang boleh khilaf sedemikian rupa sehingga mengira cukup dengan terbuka kepada Tuhan saja. Siapa yang hanya terbuka kepada Tuhan saja, air hayat itu tetap takkan mengalir. Karena itu hendaklah terbuka kedua ujungnya; baik kepada Tuhan maupun kepada manusia. Bila kedua ujung terbuka, niscaya air hidup akan mengalir. Banyak orang yang tidak memiliki kekuatan di hadapan Allah, itu mungkin disebabkan mereka tidak membuka ujungnya yang mengarah kepada Tuhan; namun mungkin lebih banyak lagi orang yang tidak berkekuatan, karena tidak membuka ujungnya yang mengarah kepada manusia, yaitu karena mereka tidak bersaksi dan tidak membawa orang kepada Tuhan.

4. Kesedihan Perpisahan yang Kekal

Banyak orang tidak mendengar Injil karena Anda tidak bersaksi, dan akhirnya mereka berpisah dengan Anda untuk selama-lamanya; bukan untuk sementara. Konsekuensinya sungguh besar sekali.

Dulu ada seorang saudara pernah mengalami suatu peristiwa. Pada suatu hari, ia diundang makan di rumah seorang teman, orang ini sangat pandai dan juga pandai bicara. Mereka berdua membicarakan banyak masalah yang bersangkutan dengan ilmu pengetahuan. Pada saat itu, hadir seorang teman lain yang usianya cukup lanjut, orang ini pun sangat berpengetahuan. Mereka berdialog sangat lama. Berhubung waktu sudah larut malam, maka oleh tuan rumah mereka diminta bermalam di situ. Kamar teman yang tua itu berhadapan dengan kamarnya. Tak lama setelah ia masuk ke dalam kamar, mendadak ia mendengar di kamar seberangnya seperti ada suatu benda berat jatuh ke lantai. Ia bangun dan pergi melihat, tak disangka bahwa teman tua itulah yang terjatuh dan mati seketika itu juga. Orang lainnya lalu berdatangan melihat kejadian tersebut. Saudara itu kemudian berkata dengan sedih, ”Jika aku tahu akan terjadi peristiwa ini, dua jam yang lalu tak mungkin aku berbincang-bincang dengannya tentang semuanya itu, melainkan menunjukkan perkara yang kekal kepadanya. Namun, aku tidak menggunakan waktu 5 menit pun untuk membicarakan masalah keselamatan jiwa kepadanya; aku tidak memberi kesempatan itu kepadanya. Jika aku tahu apa yang akan terjadi padanya sekarang, aku pasti dengan sekuat tenagaku memberi tahu dia bahwa setiap orang perlu mengetahui betapa Tuhan Yesus telah mati baginya di atas salib, tetapi sekarang sudah terlambat. Kalau aku tadi membicarakan hal ini kepadanya, kalian tentu menertawai aku dan mengatakan itu tidak tepat waktunya, tetapi jika aku sekarang mengatakan perkataan ini, itu sudah terlambat. Sekarang aku harap kalian mau mendengarkan, yakni setiap orang perlu percaya Tuhan Yesus dan salibnya!” Kita harus menyadari bahwa perpisahan yang demikian adalah perpisahan kekal, bukan sementara. Alangkah sayangnya, begitu kesempatan berlalu, orang itu akan selamanya tak dapat ke surga! Karena itu kita harus mencari kesempatan untuk bersaksi.

D.L. Moody adalah seorang yang pandai membawa orang beroleh selamat. Ia mempunyai satu ketetapan, yaitu tak peduli ada mimbar atau tidak, paling sedikit sehari memberitakan Injil kepada satu orang. Pada suatu malam, ketika ia sudah naik ke atas tempat tidur, tiba-tiba ia teringat bahwa hari itu ia belum memberitakan Injil. Apakah yang harus ia perbuat? Ia lalu bangun dan mengenakan jubah luar. Ketika melihat jam, ternyata sudah tengah malam dan di jalan pun sudah tidak ada orang. Ke manakah ia harus mendapatkan orang? Akhirnya ia bertemu dengan polisi yang sedang piket. Ia berkata, ”Pak polisi, Anda harus percaya Tuhan Yesus.” Karena kebetulan polisi itu sedang dirundung kesedihan, maka dimakinyalah dia dengan marah, ”Orang macam apa kamu, sudah tengah malam begini tak berbuat apa-apa, hanya menganjuri aku percaya Yesus!” Moody hanya menyahut beberapa kata, lalu pulang. Ternyata pak polisi itu telah tergerak oleh perkataan Moody, selang beberapa hari ia datang mengunjungi Moody, dan ia beroleh selamat.

Setelah seseorang percaya Tuhan, hendaklah ia menetapkan suatu tekad di hadapan Allah, yaitu bila ada kesempatan, segera bersaksi dan mendapatkan orang. Setiap orang harus membuat catatan dan menetapkan suatu target, yaitu berapa jiwa ingin Anda selamatkan dalam setahun, sepuluh jiwa atau dua puluh jiwa. Setelah itu Anda harus tekun mendoakan jiwa-jiwa itu. Doa yang tanpa ujung pangkal tidak akan berfaedah. Misalkan Anda berdoa, ”Ya Tuhan, semoga Engkau menyelamatkan orang-orang dosa itu.” Inilah doa yang tak berujung pangkal. Anda harus mempunyai target tertentu, entah sepuluh jiwa atau dua puluh jiwa. Anda telah menyediakan sebuah buku catatan untuk mencatat jiwa-jiwa yang telah Anda peroleh; satu per satu dicatat dalam buku itu. Pada akhir tahun, Anda boleh hitung, berapa jiwa yang sudah beroleh selamat, berapa yang masih belum beroleh selamat, dan doakan terus mereka yang masih belum beroleh selamat. Semua saudara saudari wajib melakukan hal ini. Kalau dalam setahun Anda dapat menyelamatkan tiga puluh sampai lima puluh jiwa, itu tidak terhitung banyak; kalau beroleh sepuluh atau dua puluh orang, itu biasa. Harus ada angka konkret yang kita minta kepada Tuhan dalam doa kita. Niscaya Tuhan akan mengabulkan doa kita yang konkret. Dari hari ke hari, Anda harus berdoa di hadapan Tuhan, bila ada kesempatan, bersaksilah bagi Tuhan. Bila kita semua mau menjadi pemberita Injil yang demikian, dan membawa orang kepada Tuhan, tidak lama kemudian hayat rohani kita akan bertumbuh dengan pesatnya.

Kita harus mengangkat api Injil, dan menyalakan semua orang. Marilah kita, setiap orang Kristen, pergi menyalakan orang lain. Kesaksian Tuhan harus berlangsung terus melalui diri kita, sampai kedatangan Tuhan. Jangan sekali-kali kita sendiri telah dinyalakan, tetapi tidak pergi menyalakan orang lain. Hendaklah kita melalui sebatang lilin ini menyalakan lilin lain, dan terus menyalakan yang lain lagi. Di hadapan kita entah berapa banyak jiwa yang membutuhkan keselamatan. Marilah kita dengan sekuat tenaga kita bersaksi dan memimpin orang sebanyak-banyaknya kepada Tuhan!