Daftar isi Dua Belas Bakul (10) · bab 7/12

Kekuatan Untuk Memilih

"Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel. la akan makan dadih dan madu sampai ia tahu menolak yang jahat dan memilih yang baik."

Yesaya 7:14-15

Menurut bahasa Inggris atau bahasa aslinya, ayat 15 lebih baik diterjemahkan "Dia makan dadih dan madu, maka dia tahu menolak yang jahat dan memilih yang baik." Jadi bukannya tahu menolak yang jahat dan memilih yang baik dulu, baru kemudian makan dadih dan madu; melainkan karena dia makan dadih dan madu, maka dia tahu menolak yang jahat dan memilih yang baik.

Di sini kita tidak ada tujuan lain, kita hanya ingin lebih banyak belajar tentang Tuhan Yesus Kristus. Kita tahu, ketika Tuhan kita di bumi ini, Dia sangatlah sempurna. Jika kita membaca keempat kitab Injil, kita akan melihat penampilan hidup Tuhan Yesus sangatlah baik dan sempurna. Tetapi dari keempat kitab Injil itu, kita tidak bisa mengetahui mengapa Tuhan Yesus bisa memiliki penghidupan yang demikian melampaui manusia itu. Mengapa Dia demikian sempurna? Mengapa Dia adalah satu Persona yang demikian? Yesaya 7:15 memberitahu kita alasan Dia bisa memiliki penghidupan yang demikian. Mengapa Dia tahu menolak yang jahat dan memilih yang baik? Mengapa Dia bisa tahu menolak dunia dan memilih kehendak Allah? Mengapa Dia tahu harus menolak kemuliaan yang dari dunia dan memilih kemuliaan yang dari Allah? Kesemuanya itu bisa kita ketahui dari Yesaya pasal 7. Yesaya 7:14 mengatakan, "Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamai Dia lmanuel" Kita tahu, ayat ini mengacu kepada Tuhan Yesus. Namun sayang sekali, banyak orang telah melalaikan ayat 15. Kita harus tahu, bahwa bukan hanya ayat 14 yang ditujukan kepada Tuhan, ayat 15 juga ditujukan kepada Tuhan. Ayat 15 mengatakan, bahwa seumur hidupnya "la makan dadih dan madu." Karena seumur hidupnya la makan dadih dan madu, maka la bisa menolak yang jahat dan memilih yang baik. Demikianlah la bisa taat kepada Allah, mencari kemuliaan Allah, mencari kehendak Allah.

Apakah arti dadih dan madu? Di antara semua makanan yang bercita rasa, dadih adalah yang paling limpah. Di dunia ini tidak ada yang lebih manis daripada madu. Jadi, dadih adalah yang paling limpah dan madu adalah yang paling manis. Karena seumur hidupNya, Tuhan Yesus memakan yang paling limpah dan yang paling manis, maka Dia bisa menolak yang jahat dan memilih yang baik.

Menurut Alkitab, apakah yang paling limpah? Karunia Allah! Menurut Alkitab, apakah yang paling manis? Kasih Allah! Allah senantiasa membentangkan kasih karunia yang sangat berlimpah di hadapanNya, juga memberikan kasih yang paling manis kepadaNya, karena itu Dia bisa taat kepada Allah, memilih kehendak Allah. Demikianlah Dia tahu menolak yang jahat dan memilih yang baik. Di sini saya ingin menyinggung sedikit bagaimana Tuhan makan dadih dan madu, bagaimana Tuhan menolak yang jahat dan memilih yang baik.

1.MasaRemaja Tuhan

(Lukas 2:41-51)

Ketika Tuhan kita berumur 12 tahun, la mengikuti ibu bapakNya pergi ke Yerusalem untuk merayakan Paskah. Sehabis hari-hari perayaan itu, tinggallah Yesus di Yerusalem tanpa diketahui orang tuaNya. Kemudian kembalilah orang tuaNya ke Yerusalem untuk mencari Dia. Sesudah tiga hari, mereka menemukan Dia dalam bait Allah. Lalu kata ibuNya kepadaNya, "Nak, mengapakah Engkau berbuat demikian terhadap kami? BapakMu dan aku dengan cemas mencari Engkau." Tuhan tidak menjawab, "Tidak tahukah kamu bahwa Aku harus melakukan kehendak Allah?" Melainkan Tuhan menjawab, "Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku berada di dalam rumah BapaKu?" Di sini Tuhan memiliki dadih dan madu. Ketika Tuhan berumur 12 tahun, Dia sudah mengenal BapaNya. Dia memiliki dadih dan madu sorgawi. Dia telah mendapatkan yang paling limpah dan yang paling manis, karena itu Dia hidup di dalam kehendak Allah. Jika kejadian itu yang menimpa kita, mungkin kita akan menjawab, "Baiklah kalian pulang ke Galilea, kalian pergi menjadi tukang kayu, mengurusi rumah tangga kalian. Akutidak ikut pulang, biarlah aku tinggal di bait Allah." Tetapi Tuhan kita tidak berkata demikian. Dia berkata, juga bersaksi, tetapi kemudian Dia pulang bersama mereka kembali ke Nazaret, bahkan taat kepada mereka. Dia bisa demikian memilih yang sulit, karena Allah telah memberikan yang paling limpah dan yang paling manis untuk Dia nikmati.

Maria adalah seorang perempuan yang sangat baik, disamping itu diapun seorang perempuan yang sangat kecil. Di dunia ini semakin baik seseorang, kepalanya semakin kecil. Orang yang paling baik, otaknya juga paling kecil, dan tidak mengerti apa-apa. Jika kita membaca keempat kitab Injil, kita tahu bahwa Maria adalah orang yang sering "mengganggu" Tuhan. Ketika orang kehabisan anggur, dia berkata kepadaNya, bahwa mereka kehabisan anggur. Ketika Dia sedang berbicara dengan orang banyak, Maria justru datang mencari Dia, ingin berbicara denganNya. Tetapi di sini Alkitab mengatakan, "Lalu la pulang bersama-sama mereka ke Nazaret, bahkan taat kepada mereka" (terjemahan langsung). Inilah pilihan Tuhan. Inilah yang sulit bagi manusia. Sebenarnya Dia boleh menolak untuk pulang dan memilih tinggal di bait Allah; tetapi Dia rela memilih pulang, untuk tinggal bersama seorang Maria yang berkepala kecil dan tidak mengerti apa-apa itu. Karena Dia telah memakan dadih dan madu, maka Dia bisa memilih satu pilihan yang sulit bagi manusia.

2. Menerima Baptisan dari Yohanes Pembaptis (Matius 3:13-17)

Ketika Yohanes Pembaptis melihat Yesus datang kepadanya, dia berkata, "Lihatlah Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia." Yohanes juga berkata, "Dia yang datang sesudah aku, lebih besar daripadaku." Seberapa besarkah? Yohanes juga berkata, "Membuka tali kasutNyapun aku tidak layak." O, la begitu besar! Tetapi, Tuhan Yesus malah datang kepadanya untuk menerima baptisan. Jika hal ini menimpa kita, yang semula adalah besar, kawakan, sejak azali sudah besar, adalah raja sorgawi, entah bagaimana reaksi kita. Meskipun mulut kita mungkin tidak berkata apa-apa, namun mudah sekali bagi kita untuk menonjolkan diri dan merasa lebih dari orang lain. Sejak lahir kita sudah sombong, paling senang menonjolkan diri di hadapan manusia, untuk menyatakan bahwa diri sendiri lebih besar daripada yang lain. Tetapi Tuhan datang ke tepi sungai Yordan untuk menerima baptisan Yohanes Pembaptis.

Coba Anda renungkan, mudahkah seseorang menerima baptisan orang lain? Di Foochow, ada seorang saudari tua yang sangat baik. Pada suatu hari, dia menyadari bahwa dia harus dibaptis. Untuk itu dia memilih orang. Karena ada saudara yang dipandangnya, juga ada saudara yang tidak dipandangnya. Kemudian dia menetapkan tidak mau dibaptis oleh orang tertentu, dia ingin dibaptis oleh orang-orang pilihannya. Begitu seseorang memiliki sedikit saja kehidupan yang lebih baik di bumi ini, dia segera memilih seseorang yang sesuai dengan pandangannya untuk membaptis dirinya.

Tuhan kita sangat istimewa, bahkan sangat istimewa sekali; sampai-sampai Yohanes Pembaptis pun merasa heran dan berusaha menghalangi Dia. Yohanes berkata, "Akulah yang perlu dibaptis olehMu, dan Engkau yang datang kepadaku?" Coba Anda pikir, bagaimana jawaban Tuhan? Tuhan berkata, "Biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapi seluruh kehendak Allah." Dia rela pergi ke sungai Yordan, pergi ke air kematian. Dia memilih merendahkan diri, Dia memilih kematian. Dia menggenapkan semua kebenaran. Kebenaran digenapi di atas salib. Namun sekarang Dia menyatakannya lebih dulu di air kematian. Dia memilih yang baik dan menolak yang jahat.

Renungkanlah, sebenarnya betapa sulitnya bagi Tuhan menerima baptisan Yohanes. Jika ini terjadi, di hadapan dunia, orang dosa, pemungut cukai, juga pelacur, Tuhan kita akan kehilangan sesuatu yang bisa dibanggakan. Karena mereka juga menerima baptisan Yohanes. Ketika Tuhan mulai memberitakan Injil, Dia juga berkata, "Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat!" Seruan ini sama dengan seruan Yohanes Pembaptis. Dan orang-orang yang mendengarkanNya juga adalah orang-orang yang pernah mendengar seruan Yohanes Pembaptis. Mungkin 'seorang pemungut cukai akan berkata tentang Dia, "Bukankah Dia adalah orang yang pada hari itu bersama-sama kita dibaptis? Bagaimana Dia hari ini bisa mengajar kita?" lni sungguh sangat sulit, sungguh tidak tahu harus bagaimana menghadapinya. Kemudian, benar-benar timbul kesulitan. Ketika Tuhan dan murid-muridNya tinggal di daerah Yudea dan membaptis di sana, maka ada orang datang dan menemui Yohanes Pembaptis dan berkata, "Rabi, orang yang bersama dengan engkau di seberang sungai Yordan dan tentang Dia engkau telah memberi kesaksian, Dia membaptis juga dan semua orang pergi kepadaNya" (Yohanes 3:26). O, mereka tidak memandang Dia. Tuhan telah menaruh diriNya pada kedudukan yang menyulitkan. Tetapi, Tuhan memilih ini karena di belakangNya ada kekuatan. Dia telah mengecap cita rasa karunia yang limpah, Dia telah mengecap manisnya kasih. Dia telah memakan dadih dan susu, Dia telah mengecap yang paling limpah dan yang paling manis itu, karena itu Dia bisa demikian merendah.

Kita bisa merendah, sungguh-sungguh merendahkan diri, karena kita telah memiliki dadih – karunia yang sangat limpah, juga memiliki madu -- kasih yang paling manis; karena itu di hadapan manusia kita bisa merendahkan diri. Manusia dunia tidak bisa, tetapi kita bisa; karena kita telah memiliki karunia yang paling limpah, dan kasih yang paling manis.

3. Saat Menerima Pencobaan (Matius 4:1-10)

Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air. Pada waktu itu juga langit terbuka dan la melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atasNya. Kemudian Dia dibawa Roh Kudus ke padang gurun, berpuasa empat puluh hari empat puluh malam, lalu dicobai oleh Iblis. Iblis sendiri keluar dan mencobai Dia, katanya, "Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah batu-batu ini supaya menjadi roti."

Perut lapar, makan tentunya bukan dosa, tetapi di sini Tuhan menolak. Karena tujuan pencobaan Iblis kepada Tuhan, ialah supaya Tuhan melakukan satu perkara yang berdasarkan kehendakNya sendiri, agar Tuhan dengan caraNya sendiri mengenyangkan perutNya yang lapar. Tetapi Tuhan berkata, "Ada tertulis: manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah." Tuhan bisa menerima kelaparan, Dia bisa menahan lapar. Hari ini saya membentangkan satu hal di hadapan Anda, yaitu kalau Anda ingin menempuh hidup seperti Tuhan, maka Anda tidak bisa tidak harus setiap hari mendapatkan dadih dan madu sorgawi. Tuhan sebenarnya mampu mengubah batu menjadi roti, tetapi Dia tidak melakukannya, Karena Dia telah memiliki dadih dan madu.

Mungkin ada sedikit kesenangan, sedikit kemuliaan, sedikit kenyamanan yang terletak di depan tangan Anda; asal Anda sedikit mengutarakannya, Anda segera mendapatkannya. Atau Anda tidak perlu berkata apa-apa dan Anda bisa mendapatkannya; karena hal itu berada di bawah wewenang Anda, sehingga Anda tidak perlu mengeluarkan tenaga sudah bisa mendapatkannya. Apa yang akan Anda lakukan? Tuhan tidak mau mengubah batu menjadi roti. Kalau kita, kita sangat ingin bisa melakukannya, tidak hanya akan mengubah satu batu menjadi roti, bahkan kalau bisa mengubah seluruh batu yang ada di sungai Yordan menjadi roti. Kita sangat ingin berusaha melakukan sesuatu untuk diri sendiri. Ini dikarenakan kita tidak mendapatkan dadih dan madu sorgawi. Jika kita telah memiliki dadih dan madu, kita pasti bisa merelakan segala sesuatu kita, merelakan sesuatu yang sudah dekat dengan tangan kita. Di dunia ini hanya ada satu macam orang yang bisa mempersembahkan kepada Allah, yaitu orang yang mengenal kasih Allah. Di dunia ini hanya ada satu macam orang yang bersyarat merelakan sukacitanya sendiri, yaitu orang yang mengenal kasih karunia Allah.

Pencobaan yang Tuhan terima, bukan hanya sekali. Iblis berkata lagi kepadaNya, "Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diriMu ke bawah." Bukankah melompat dari ketinggian ke bawah itu merupakan peristiwa yang sangat mengherankan? Jika Tuhan melakukan itu, bukankah orang-orang akan mengakuiNya sebagai Mesias? Tuhan bisa dengan cara yang sangat sederhana mendapatkan kemuliaan. Tetapi Tuhan tidak mau. Iblis berkata kepada Tuhan, "Semua itu akan kuberikan kepadaMu, jika Engkau sujud menyembah aku." Hanya dengan sekali menyembah, sudah bisa mendapatkan semua kerajaan dunia dengan kemegahannya, bukankah ini sangat baik? Kerajaan dunia memang baik, tetapi Tuhan bisa melepaskannya, bisa membuangnya, karena di belakangNya ada satu kekuatan. Dia begitu mengenal Allah, ini tidak kita miliki; Dia begitu dipenuhi Roh Kudus, ini tidak kita miliki; Dia begitu menikmati kelimpahan karunia dan kemanisan kasih, ini tidak kita miliki. Karena itulah Dia bisa melakukan semuanya; Dia bisa melepaskannya.

4. Tuhan Menegur Petrus (Matius 16:21-23)

Petrus telah dua, tiga kali mendengar Tuhan Yesus berkata, bahwa Dia harus pergi ke Yerusalem, menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala, dan ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga. Hati Petrus seolah-olah tidak bisa melewatkannya, bahkan Petrus merasa kasihan kepada Tuhan, sehingga ia berkata, "Tuhan kasihanilah diriMu sendiri!" (terjemahan langsung). Menurut kita, mungkin Tuhan akan menghibur Petrus dan berkata, "Memang tidak salah engkau mengasihi Aku, tetapi Aku tidak bisa tidak pergi ke Yerusalem, Aku tidak bisa tidak mati." Tetapi Tuhan berkata, "Enyahlah Iblis, engkau suatu batu sandungan bagiKu, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia." Di sini Tuhan memiliki satu pilihan yang jelas -- Dia memilih kematian.

Di bumi ini, jika ada orang yang pernah memilih salib, pernah berjalan pada jalan yang sempit, saya tahu pasti bahwa orang itu pasti telah mengecap kelimpahan karunia Allah dan kemanisan kasih Allah. Baru-baru ini koran memuat berita tentang dua orang misionaris Barat, Miss Han dan Miss Nien, yang mati martir di Fukien. Mereka adalah orang berkebangsaan Inggris yang bekerja di Fukien; mereka dibunuh oleh penjahat. Bahkan sebelum dibunuh, jari-jari tangan Miss Nien dipotong oleh penjahat itu. Kejadian ini terjadi satu bulan yang lalu. Bagaimana mereka bisa demikian? Mereka berdua sudah cukup berumur, mereka sungguh berbobot di dalam Tuhan. Sebelum terbunuh, Miss Han pernah menulis sebuah kidung tentang para martir. Dalam syair kidungnya ada bagian yang mengatakan, 'Wajah para martir adalah wajah malaikat! Hati para martir adalah hati singa!" Wajah malaikat adalah elok, hati singa adalah hati pahlawan. O, seorang martir, menulis satu kidung tentang martir, ini sungguh sangat mengherankan! Sebelum ia dibunuh, iapun pernah menulis surat kepada temannya yang mengatakan, "Kasih karunia Allah cukup kupakai. Suasana sekeliling selalu memberitahuku betapa sangat bahaya, betapa sangat menyulitkan, tetapi dalam seumur hidupku, aku tidak pernah dekat dengan Allah seperti saat ini."

Ada seorang misionaris dari Misi Pedalaman Cina yang ditangkap, dan kemudian dibebaskan kembali. Kemudian orang bertanya kepadanya, bagaimana keadaannya waktu itu. Dia menjawab, "Pada malam hari dia mendengar suara dentuman senjata, sekeliling tidak ada harapan untuk hidup. Tetapi sejak dia dilahirkan kembali sampai pada hari itu, tidak ada satu hail yang begitu penuh sukacita dan damai sejahtera seperti hari itu."

Orang yang martir pasti memiliki satu sebab, yaitu di belakang mereka ada satu kekuatan. Janganlah berpikir bahwa Allah memberi kita satu tunjangan yang sedikit, sehingga kita menjadi orang yang sangat lemah, yang memikul beban yang sangat besar. Ketahuilah, Allah kita menunjang kita dengan dadih dan madu, agar kita bisa melepaskan sesuatu, bisa menjadi martir. Perkara ini bukan palsu, bukan slogan. Saya tahu, dan banyak orang juga tahu. Setiap orang yang bisa melepaskan, bisa tidak untuk diri sendiri, bisa memilih yang sulit, pasti di belakangnya ada satu kekuatan yang besar. Tuhan Yesus bisa menolak yang jahat dan memilih yang baik, karena di belakangNya ada satu kekuatan.

5. Naik Gunung dan Berubah Wajah (Lukas 9:28-31)

Di atas gunung perubahan, Tuhan telah menyatakan kepada Allah dan kepada manusia tentang status diriNya sebagai manusia yang paling tinggi. Alkitab tidak pernah berkata, bahwa hari ini kita bisa tak bercacat kerut, melainkan berkata bahwa Allah bisa menjaga kita sampai satu taraf yang tidak bercela. Tidak dikatakan, tidak ada kesalahan, tidak ada cacat kerut. Tetapi Tuhan kita justru tidak ada noda dan cacat kerut sedikitpun dalam hidup ini. Tentang Tuhan di atas gunung perubahan, pernah saya singgung sekali. Banyak penelaah Alkitab mengakui, bahwa dari sana Tuhan sebenarnya bisa langsung naik ke surga, dan Allah tidak bisa tidak menerimaNya. Markus 4:28-29 mengatakan, "Bumi dengan sendirinya mengeluarkan buah, mula-mula tangkainya, lalu kulitnya, kemudian butir-butir yang penuh isinya dalam bulir itu. Apabila itu sudah cukup masak, orang itu segera menyabit, sebab musim menuai sudah tiba." Tuhan sudah masak, karena itu Allah tidak bisa tidak menerimaNya. Tetapi ketika Dia berbicara dengan Musa dan Elia, mereka membicarakan tujuan kepergianNya yang akan digenapiNya di Yerusalem. Setelah Tuhan turun gunung, ketetapanNya adalah pergi ke Yerusalem. WajahNya mengarah ke Yerusalem. Dia memilih kematian. Di sini kita kembali melihat satu pilihan Tuhan. Tuhan kita bisa tidak langsung naik ke surga dari gunung perubahan, bisa memilih pergi ke Yerusalem, karena Dia telah memakan dadih dan madu sorgawi. Tuhan bisa tidak menjumpai Bapa dari gunung perubahan, Dia bisa turun gunung dan pergi ke salib, karena Dia telah mengecap karunia Allah dan kasih Allah. Tanpa karunia Allah dan kasih Allah, tidak mungkin Dia bisa menerima penderitaan itu. Ada anak-anak yang bisa menderita bagi orang tuanya, tetapi ketika mereka menderita, sebenarnya hati mereka tidak rela. Ada orang tua yang menderita bagi anak-anaknya, tetapi mereka tidak terhindar dari berkeluh kesah dan menggerutu. Ada murid yang mematuhi gurunya, tetapi kepatuhan itu berasal dari terpaksa. Hanya Kristus, karena telah mengecap dadih dan madu, telah mengecap cita rasa yang paling limpah dan paling manis, karena itu Dia bisa dengan sukarela memilih yang sulit, memilih yang terbaik.

6. Saat Memasuki Yerusalem (Yohanes 12:12-28)

Dalam seumur hidup Tuhan, ada dua kali saat yang paling mulia bagiNya. Pertama, ketika la berada di atas gunung perubahan; kedua, ketika la masuk ke Yerusalem. Ketika la masuk ke Yerusalem, banyak orang mengambil daun-daun palem dan pergi menyongsong Dia sambil berseru-seru: "Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, raja Israel!" Itulah seruan orang-orang Yahudi. Lagi pula pada waktu ini temannya sangat banyak. Lazarus baru dibangkitkan, dan ada orang mempersiapkan perjamuan bagi Dia. Ada beberapa orang Yunani menemui Filipus dan mohon supaya Filipus membawa mereka berjumpa dengan Yesus. Selain itu, musuh-musuh Tuhan Yesus, orang-orang Farisi, berkata seorang kepada yang lain: "Kamu lihat sendiri, bahwa kamu sama sekali tidak berhasil, lihatlah bahwa seluruh dunia datang mengikuti Dia." Saat ini, jika Tuhan Yesus mau mendapatkan sesuatu, la bisa mendapatkannya. Tetapi ketika Andreas dan Filipus menyampaikannya kepada Tuhan Yesus, bagaimana jawaban Tuhan Yesus? Tuhan berkata, "Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah." Di sini kembali la memiliki satu pilihan. Sebenarnya saat itu Dia bisa mend'apatkan kemuliaan, bisa menjadi raja, tetapi Dia justru memilih satu jalan yang lain.. Perkataan di sini sangat menjamah hati saya: "Jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jikalau ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah!"

Yohanes 12:27 mengatakan, "Sekarang jiwaKu berduka, dan apakah yang akan Kukatakan?" (terjemahan langsung). Perkataan ini menyatakan bahwa hati dan mulut Tuhan serasi. Kalimat selanjutnya mengatakan, "Bapa, selamatkanlah Aku dari saat ini? Tidak, sebab untuk itulah Aku datang ke dalam saat ini." Tuhan boleh meminta kepada Bapa agar Dia melepaskanNya dari saat itu, tetapi Dia tahu untuk apakah Dia datang pada saat itu. Di sini kembali Tuhan menolak yang jahat dan memilih yang baik. Dulu ketika kita membaca sampai di sini, kita tidak mengerti mengapa Dia mempunyai pilihan yang demikian. Tetapi Alkitab memberitahu kita, ini dikarenakan Dia telah mengecap dadih dan madu. Dia telah mengecap kelimpahan kasih karunia, kemanisan kasih, karena itu Dia bisa memilih yang baik dan menolak yang jahat.

7. Di Taman Getsemani

(Matius 26:36-46)

Terakhir, ketika Tuhan Yesus di taman Getsemani, di sanalah terdapat pilihan yang paling besar! Di taman Getsemani, Tuhan boleh berkata, "Aku tidak mau mati." Tetapi Dia berkata, "Ya BapaKu, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu daripadaKu, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki." Meskipun Dia tampak bahwa cawan itu sangat menakutkan, tetapi Dia tidak berani dengan maksud diri sendiri memutuskan sesuatu. Dia tidak takut mati, tetapi Dia takut menanggung dosa. Dia tidak takut cawan, tetapi sifatNya yang kudus takut menanggung dosa. Ketika Dia belum menggandengkan cawan dengan kehendak Allah, Dia masih bisa berkata, "Jika sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari padaKu." Tetapi Dia segera menyambung, "Tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki." Jadi di Getsemani, Dia khusus memilih kehendak Allah, khusus menolak kehendak yang bukan dari Allah. Apa yang terakhir kali Dia katakan kepada Petrus? Dia berkata, “Bukankah Aku harus minum cawan yang diberikan Bapa kepadaKu?” Saya boleh memberitahu Anda, jika tidak ada Getsemani, maka tidak akan ada salib. Tidak ada ketaatan Getsemani, tidak ada ketaatan di salib. Ketaatan selalu mendahului salib. Tuhan kita telah merendahkan diriNya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Banyak orang karena konsikrasinya di Getsemani tidak baik, maka begitu sampai di depan salib, mereka segera melarikan diri, karena di belakang mereka tidak ada kekuatan yang menunjang. Tuhan kita telah makan dadih dan madu, karena itu Dia bisa menolak yang jahat dan memilih yang baik.

Saudara saudari, untuk bisa taat, kita memerlukan kekuatan. Jika tidak ada Allah yang terlebih dulu memuaskan Anda, apapun yang Anda lakukan di luaran, tidak akan berhasil. Setiap hari kita harus belajar mendekati Allah, setiap hari mendapatkan dadih dan madu sorgawi, agar hari demi hari di bumi ini, kita bisa memilih yang baik dan menolak yang jahat. Hari ini saya berkata demikian, karena di dalam diri saya ada satu perasaan, bahwa Tuhan segera datang, dan kerajaan sudah di ambang pintu. Sejak hari ini, pencobaan akan semakin banyak, mara bahaya makin besar, tipu muslihat makin dalam. Dahulu adalah menyingkirkan dosa, hail ini adalah menyingkirkan kesenangan. Dahulu menerima kupasan Allah, hari ini dengan sukacita taat. Dahulu dengan terpaksa memikul kuk, hari ini dengan sendirinya memikul salib. Makin hari kita makin tampak, jika sejak hari ini kita tidak tahu bagaimana menolak yang jahat dan memilih yang baik, maka segala hal akan menimpa kepada kita. Iblis akan memberikan berkatnya, dunia akan lebih bersopan santun kepada Anda, memberikan banyak barang kepada Anda, suasana.akan membantu Anda. Jika Anda tidak secara khusus menolak, Anda tidak akan bisa menjadi pemenang. Jika Tuhan sendiri tidak memilih mati, Dia tidak akan mati, dan tidak bisa mati; ini mungkin saja terjadi. Hari ini marilah kita memperhatikan satu perkara: setiap hal yang dibentangkan di depan kita, kita bisa secara khusus memilihnya, karena kita memiliki dadih dan madu sorgawi. Kita perlu setiap hail mendapatkan dadih dan madu sorgawi, agar kita tahu mana yang harus kita pilih dan mana yang harus kita tolak. Jangan membiarkan situasi memilih bagi kita.