Daftar isi Dua Belas Bakul (10) ยท bab 8/12

KEJATUHAN MANUSIA DAN PENYELAMATAN ALLAH

Kejatuhan manusia ada dua tahap: pertama dari masa pemerintahan Allah jatuh ke dalam pemerintahan hati nurani; kedua dari pemerintahan hati nurani jatuh ke dalam pemerintahan manusia. Setelah manusia diciptakan, menurut hakikinya, manusia itu sempurna, sangat baik (Kej. 1:31). Tentu, dipandang dari sudut rencana Allah yang kekal, manusia masih belum sempurna, karena manusia belum mendapatkan hayat kekal milik Allah. Ketika manusia baru diciptakan oleh Allah, saat itu manusia menerima pengaturan Allah fangsung melalui rohnya. Jadi Allah adalah pengatur manusia, manusia harus menerima pengaturan Allah, segala tindakannya harus berkaitan dengan Allah. Manusia tidak bisa bergerak sendirian, begitu manusia meninggalkan Allah dan bergerak menurut dirinya sendiri, manusia sudah melanggar. Berapa lama Adam yang pertama menerima pengaturan Allah, kita tidak bisa mengetahuinya. Tetapi kita tahu, sebelum dia melahirkan anak laki-laki dan perempuan, dia sudah jatuh. (Jadi di dunia ini tidak ada seorangpun yang dilahirkan Adam ketika Adam masih tanpa dosa dan belum jatuh). Begitu manusia jatuh, segera roh manusia tidak bisa memiliki persekutuan yang normal dengan Allah; dalam pandangan Allah, pada saat manusia jatuh, saat itulah manusia telah mati terhadap Allah. Pada saat demikian, manusia telah kehilangan hubungan yang normal dengan Allah; racun setan, dosa, telah masuk ke dalam tubuh manusia melalui buah pohon pengetahuan baik dan jahat. Tetapi sifat bawaan manusia, yakni pengetahuan dan keinginan berbuat baik yang berasal dari Allah, masih tetap baik, masih luhur, masih cenderung ke arah kebajikan, dan menyetujui hukum-hukum Allah. Namun begitu manusia jatuh, di dalam manusia sudah ada racun setan, manusia telah jatuh dari era pemerintahan Allah ke dalam era pemerintahan hati nuraninya sendiri. [nilah langkah pertama kejatuhan manusia.

Kita sering mendengar orang berkata, "Aku bekerja atau melakukan sesuatu berdasarkan hati nuraniku, aku berbicara menurut hati nuraniku." Mereka merasa berkata demikian adalah yang terbaik. Siapa sangka, bahwa hati nurani hanyalah kebaikan "manusia", namun kebaikan "Allah" sejak dini telah terhilang di taman Eden. Selangkah mundur boleh dikatakan, meskipun kebaikan hati nurani bukanlah yang terbaik, namun jika manusia benar-benar bisa menurut hati nuraninya berperilaku dan bekerja, dunia ini tidak akan menjadi sedemikian kacau. Karena itu hati nurani ini masih merupakan satu organ yang baik yang ada di dalam manusia, juga adalah satu organ yang cukup penting di dalam manusia.

Ada pepatah mengatakan, bahwa moral orang zaman dulu lebih baik daripada moral orang zaman sekarang. Terhadap perkataan ini saya bisa sedikit mempercayainya; memang benar bahwa kekuatan mengendalikan diri berdasarkan hati nurani orang zaman dulu lebih kuat daripada orang zaman sekarang. Seperti misalnya: Menggarisi tanah sebagai tanda batas, barang tertinggal tidak hilang, malam tidak perlu menutup pintu atau jendela. Pada hari ini, jangan dikata menggarisi tanah sebagai tanda batas, terhadap pintu dan jendela yang terbuat dari besipun manusia bisa melompatinya; jangan dikata barang tertinggal tidak hilang, bahkan barang-barang yang ditaruh di dalam lemari besi (safety box) pun bisa dicuri orang. Sebab itu, saya percaya, berhubung hati nurani orang-orang zaman dulu masih cukup kuat, maka sejangka waktu lamanya mereka masih bisa atas banyak perkara terkendali oleh hati nurani mereka, dan mereka tidak menyeleweng keluar. Tetapi bagaimanapun "hati manusia tidak tahan angin dan terik matahari." Hati nurani tidak bisa diandalkan, karena racun setan -- dosa --telah ada di dalam diri manusia, dan ia selalu berusaha mencari jalan keluar. Karena itu tak lama kemudian manusia jatuh ke dalam zaman pemerintahan manusia, ini berarti diri sendiri tidak bisa mengatur, hati nurani sendiri tidak bisa diandalkan, perlu orang lain mengatumya Manusia memerlukan pengaturan organisasi untuk mengatur dirinya. Di sini manusia telah jatuh ke dalam tahap yang paling rendah, di sini manusia bukan hanya tidak lagi mirip Allah, juga tidak mirip manusia, benar-benar telah mirip Iblis. Tidak heran Tuhan berkata, "Iblislah yang menjadi bapamu." Ya, manusia adalah setan. Ada orang berkata, bahwa yang keluar dari tubuh manusia tidak lebih baik daripada setan, perkataan ini tidak salah. O! Jika seseorang mengetahui keadaan kejatuhannya, dia tidak akan memiliki pemikiran mengajar dirinya untuk menjadi orang yang baik. Manusia telah menjadi hitam seperti arang, jika Anda mau membersihkannya, kalaupun Anda membersihkannya sampai yang paling dalam, tetaplah hitam. Di sinilah manusia memerlukan keselamatan Allah, memerlukan hayat Allah yang kudus masuk, karena manusia sama sekali tidak bisa diperbaiki.

Sebagaimana tahap kejatuhan manusia, demikian juga garis keselamatan Allah berdasarkan garis kejatuhan manusia. Saya rasa, setiap orang yang memiliki pengalaman rohani di hadapan Allah bisa tampak, bahwa beroperasinya Roh Allah di dalam manusia ialah agar manusia terpulihkan dari pemerintahan manusia yang merupakan kejatuhan yang paling dalam, kepada pemerintahan Allah yang paling tinggi. Dan di dalamnya harus melalui tahapan pemerintahan hati nurani.

DIPULIHKAN KEPADA PEMERINTAHAN HATI NURANI

Sekarang baiklah saya mengutarakan pengalaman kaum saleh secara umum. Begitu seseorang percaya Tuhan, hayat Allah segera masuk ke dalam orang itu, demikianlah orang itu mendapatkan kelahiran kembali. Begitu dilahirkan kembali, orang itu segera menemukan bahwa di dalam dirinya ada suatu perasaan yang baru, dan perasaan itu tidak dimilikinya waktu yang lampau. Dia menemukan bahwa di dalam dirinya terdapat satu majikan yang lain. Sepertinya di dalam dirinya bertambah satu persona lagi. Dulu berbicara dan berperilaku dengan sembarangan, tidak ada satu pergumulan di dalam, tetapi sekarang telah berbeda. Begitu salah bicara, di dalam segera timbul tegoran; mengerjakan pekerjaan tidak baik, tidak adil, tidak jujur, di dalam juga timbul suatu tegoran. Setelah menjadi orang Kristen, bahkan tidak bebas. Setiap perkara telah dicampuri dan diatur oleh satu macam perasaan yang baru yang ada di dalam batinnya. Dia merasa bahwa terhadap hal-hal yang dulu menyalahi orang, sekarang harus merelakan kehilangan muka untuk mengganti kesalahan tersebut; dulu merugikan orang, sekarang harus mengeluarkan uang untuk mengganti rugi; terasa lebih menderita daripada tidak menjadi orang Kristen. Ketahuilah, itulah justru bukti keselamatannya. Hayat Allah yang ada di dalamnya telah memberi satu perasaan hayat yang baru, sehingga ia membenci kelaliman, ketidakjujuran, kenajisan, dan segala perkara yang amoral. Itulah bukti hayat menyatakan keberadaannya dan ia menyatakannya melalui hati nurani. ltulah manusia dipulihkan dari bawah pemerintahan manusia kepada pemerintahan diri sendiri, adalah pemulihan langkah pertama. Hati nurani manusia ini telah hidup, semakin menanggulangi perasaannya, semakin peka, bisa berdasarkan hati nurani berbicara dan berperilaku, dia telah melampaui pemerintahan orang lain, tidak memerlukan polisi, juga tidak memerlukan pengadilan lagi. Dia tidak bisa tidak adil lagi, tidak bisa menyenangi kejahatan, karena hati nurani yang di dalamnya akan mengendalikan tindak tanduknya. Inilah alasannya mengapa orang Kristen yang mendirikan perusahaan senang memakai saudara saudari sendiri. Syukur kepada Allah, manusia telah kembali kepada pemerintahan hati nuraninya sendiri.

Orang Kristen yang demikian adalah orang yang adil, jujur, bersih diri dan senang kebaikan; tentunya dia juga tidak tahan terhadap kesalahan dan dosa orang lain, karena dirinya sendiri adalah baik, bermoral; jika ia melihat orang lain tidak bermoral, hatinya sangat benci. Orang yang demikian memiliki penanggulangan atas pikiran, perkataan, perilakunya, tidak berani sembarangan, benar-benar seorang ksatria, seorang yang berbudi luhur. Di antara orang-orang Kristen yang benar-benar telah dilahirkan kembali, orang sejenis ini sangatlah banyak.

Tetapi ini adalah proses, bukan tujuannya. Tujuan Allah ialah agar manusia dipulihkan ke bawah pengendalianNya sendiri, agar manusia hidup adalah Kristus. Karena itu, di satu pihak, manusia hidup dalam hati nuraninya (atau dikatakan hidup di dalam pengendalian diri sendiri) sangatlah baik, sangatlah penting. Saya berkata dengan sangat serius, jika seseorang tidak pernah memiliki penanggulangan hati nurani yang tuntas, dia tidak bisa mengenal perkara yang lebih dalam daripada hati nurani -- diri Allah sendiri. Saya sering berkata, bahwa penanggulangan hall nurani itu seperti anak tangga pada lantai kedua; jika Anda ingin mencapai lantai ketiga, Anda harus melewati anak tangga lantai kedua. Izinkan saya dengan sesungguhnya berkata kepada Anda semua, saya tidak pernah melihat seorang Kristenpun yang hati nuraninya belum pernah mengalami penanggulangan yang tuntas, bisa hidup di dalam diri Allah. Sama seperti seseorang, jika tidak melewati tangga pada lantai kedua, ia tidak bisa masuk ke lantai ketiga. Karena itu saudara saudari, jangan sekali-kali mengabaikan pemulihan langkah pertama, harus dengan setia membereskannya, sering memiliki hati nurani yang tidak bercela. Karena dalam pemulihan langkah pertama, meskipun itu merupakan pemulihan hati nurani manusia, tetapi 80-90% itu merupakan perasaan hayat, adalah pintu keluar suara Roh Kudus, hanya saja itu keluar melalui hati nurani.

MENCAPAI PENGATURAN PERASAAN ALLAH

Tetapi, pada aspek lain, perasaan hati nurani bukanlah perasaan hayat yang paling tinggi; bukan asal memiliki penanggulangan hati nurani sudahlah cukup, sudah puas, sudah bisa menjadi orang yang paling rohani. Tidak, tidak demikian. Meskipun perasaan hati nurani kebanyakan juga merupakan perasaan hayat, tetapi hakiki hati nurani bukanlah diri Allah sendiri. Itu hanyalah satu organ perasaan di dalam diri manusia. Manusia harus setia terhadap perasaan hati nuraninya, harus memiliki hati nurani yang tak bercela, ini memang benar. Tetapi perasaan ini hanyalah langkah pertama dari perasaan yang dipulihkan. Manusia tidak seharusnya berhenti pada perasaan ini, harus lebih maju untuk mengenal perasaan yang melampaui perasaan hati nurani, ini lebih dalam daripada had nurani, ini menjamah diri Allah sendiri, boleh juga disebut sebagai perasaan Allah.

Dalam Ibrani 8:11 disinggung ada dua macam "pengenalan." Pertama adalah "mengenal Tuhan," kedua adalah "mengenal aku." Dalam bahasa aslinya, kedua kata "mengenal" ini berbeda. Yang pertama adalah satu pengenalan yang biasa, yang kedua adalah pengetahuan batiniah terhadap sesuatu, adalah intuisi di dalam diri manusia. Memang potongan ayat ini mengacu kepada kelak zaman kerajaan. Seluruh orang Israel akan memiliki satu pengenalan batiniah terhadap Allah, mereka bisa mengenal Allah di dalam batin mereka. Tetapi bagi kita kaum imani hari ini, justru hari ini kita bisa memiliki pengenalan ini. Karena hayat Allah sendiri melalui Roh Kudus telah ditaruh ke dalam kita, sehingga kita memiliki sifat Allah; kalaupun telah memiliki sifat Allah, maka diri Allah sendiri telah ada di dalam kita, memberi kita satu intuisi yang berasal dari Allah. Melalui intuisi ilahi inilah kita bisa mengenal Allah sendiri di dalam kita. Pengetahuan batiniah semacam ini, baru merupakan pengetahuan yang sejati, karena ini berarti Allah sendiri di dalam kita mewahyukan diriNya ke dalam kita. Saya menyebut ini sebagai "perasaan Allah yang batini."

Ketika Allah yang di dalam kita melalui semacam perasaan langsung menyatakan kehendakNya, dan jika tekad kita taat kepada perasaan langsung ini, maka akan ada rasa damai antara kita dengan Allah, pada saat ini kita menjamah diri Allah sendiri. Di kedalaman batin kita akan terasa ada pendirisan, ada kelimpahan, ada pemenuhan, ada urapan kasih karunia, ada damai sejahtera dan sukacita, ada urapan minyak, ada amin batiniah, ada penyertaan Allah. Kita akan beresonan dengan orang yang sama-sama menjamah Allah. Di mana ada perasaan ini, di sanalah Allah berada. Melalui perasaan inilah Allah di dalam manusia terjamah oleh manusia. Jika seseorang setia dan taat terhadap ini, dia akan hidup di dalam Kristus, hidup di dalam hayat Allah. Orang yang hidup berdasarkan ini, berarti hidup di dalam roh. Orang yang demikian berarti hidup di bawah pemerintahan Allah, karena dia hidup dan berperilaku berdasarkan operasi Allah yang ada di dalam dirinya, Allah adalah maji kannya, segala sesuatu dirinya terkendali oleh Allah. Orang yang demikian barulah terpulihkan kepada kedudukan yang paling tinggi yang dikehendaki Allah. Inilah langkah pemulihan yang kedua, juga adalah pemulihan yang terakhir. Di sini manusia bisa memiliki kemajuan tanpa batas, lebih banyak mengenal Allah, lebih dalam mengenal Allah, tetapi tidak bisa memiliki satu tahap kemajuan lainnya lagi. Karena Allah sendiri, yang di dalamnya memegang kendali pemerintahan, adalah pemulihan tertinggi Allah pada hari ini di atas diri kaum imani.

PERBANDINGAN ANTARA PERASAAN HATI NURANI

DAN PERASAAN ALLAH

Sekarang saya akan menyinggung sedikit perbedaan antara perasaan hati nurani dengan perasaan yang lebih dalam daripada perasaan hati nurani -- perasaan Allah. Pada satu pihak saya sekali lagi mengatakan, bahwa dalam pemulihan tahap pertama, Allah menyatakan maksudNya melalui hati nurani, karena itu perasaan hati nurani boleh dikatakan 80-90% merupakan suara Roh Kudus. Tetapi ini masih kurang, karena sering kali apa yang dirasakan benar oleh hati nurani, di dalamnya tidak ada Allah. Misalnya, persembahan Kain; hati nurani manusia akan berkata, bila seorang petani mempersembahkan hasil tanahnya, Allah seharusnya menerimanya. Apa salahnya? Hati nurani seolah berkata, bahwa Kain tidak bersalah. Tetapi sangat mengherankan, di dalamnya tidak ada Allah. Demikian juga dengan Uza yang mengulurkan tangannya memegang tabut. Tabut miring dan akan jatuh. Uza mengulurkan tangannya untuk menopangnya, ini adalah satu tindakan yang baik, hati nurani merasakannya sangat benar, tetapi Allah juga tidak ada di dalamnya.

Karena itu perhatikanlah, hati nurani hanya merasakan benar dan salah, terhadap semua yang benar dia akan berkata "Ya," terhadap semua yang salah dia akan berkata "Tidak." Asal perkara itu baik, hati nurani akan berkata, "Ya," tidak menanyakan bagaimana sumbernya, dia selalu menyetujuinya. Yang ditentang oleh hati nurani ialah yang "tidak benar," semua yang tidak benar berkaitan dengan kedosaan. Karena itu lingkungan yang ditentang oleh hati nurani adalah lingkungan dosa; yang disetujui oleh hati nurani adalah lingkungan kebaikan. Pendiriannya sama dengan ajaran kebaikan oleh berbagai macam agama, sama dengan pengajaran budi pekerti, hanya saja hati nurani lebih lembut, lebih berkekuatan. Dengan tegas saya berkata, jika pengenalan rohani kita sebagai orang-orang yang percaya Kristus tidak lebih dari tingkatan hati nurani, maka Kristus tidaklah jauh lebih baik daripada pengajaran-pengajaran (agama lainnya). Tetapi syukur kepada Allah, yang kita kenal jauh melampaui hati nurani, kita mengenal Allah yang terwahyu ke dalam diri kita, yaitu diri Allah sendiri.

Namun tidak demikian dengan perasaan Allah. Perasaan Allah tidak hanya menentang "salah" yang ditentang oleh hati nurani, juga menentang 'benar'yang disetujui oleh hati nurani; yang ditanyakan oleh perasaan Allah mutlak bukan "benar" atau "salah" tetapi apakah diriNya ada di dalamnya. Bagi Allah 'benar" adalah diriNya sendiri, dan "salah" adalah segala sesuatu yang bukan diriNya sendiri. Tak peduli sesuatu itu sangat baik, sangat indah, asal diriNya tidak ada di dalamnya, itu berarti "salah." Dia adalah Allah yang memenuhi segala sesuatu, segala sesuatu harus memiliki Dia di dalamnya, itu baru normal, baru benar, baru tidak salah. Jadi, segala sesuatu yang di dalamnya tidak terkandung Allah, itu berarti salah.

Hati nurani berbicara di atas kedudukan moralitas, tetapi Allah berbicara di atas "penyertaan Allah". Karena itu apa yang dilihat indah dan baik oleh manusia, tetapi jika di dalamnya tidak ada Allah, Allah akan berkata itu tidak baik. Karena hanya ada satu yang baik, yaitu diri Allah sendiri. Hari ini kaum saleh tidak seharusnya berkata, "Baik atau tidak baiklah perkara ini? Benar atau salah? Ya atau tidak?" Melainkan harus bertanya, "Apakah di dalam hal ini menjamah penyertaan Allah? Apakah ada urapan minyak?" Jika kita hanya mengetahui benar dan salah, ya atau tidak, itu berarti kita telah terjatuh keluar dari Allah. Sebab, ketika Adam yang di taman Eden menerima pemerintahan hati nuraninya sendiri, saat itu juga ia telah meninggalkan pemerintahan Allah. Persetujuan atau penolakan hati nuraninya telah menjadi keputusan ya dan tidak, standarnya yang tertinggi bukan lagi penyertaan Allah yang menjadi prinsip tindakannya. Hari ini jika orang Kristen hanya memiliki tahap perasaan hati nurani dan tidak memiliki tahap perasaan yang melampaui hati nurani, maka perkataan "Kristus menjadi Kepala di dalam segala perkara," tidak bisa menjadi pengalamannya. Karena itu sekali lagi saya katakan, pemerintahan hati nurani itu baik, tetapi masih tidak cukup, tidak seharusnya berhenti pada hati nurani, melainkan harus memiliki pengenalan yang lebih dalam.

Jika saudara saudari tidak salah paham terhadap saya, jika kita semua bisa dengan sekuatnya memahaminya, saya ingin mengatakan satu perkataan yang sangat serius kepada Anda semua: Jika Allah ada di dalam perkara tersebut, pembunuhan oleh Petruspun terhitung benar (Kis. 5). Jika Allah tidak ada di dalamnya, bahkan korban persembahan Saulpun adalah terkutuk (I Samuel 10).

TIDAK MELEWATI PERASAAN HATI NURANI,

TIDAK BISA MENCAPAI PERASAAN ALLAH

Dalam kegersangan gereja hari ini, kita hanya bisa mengakui, bahwa orang Kristen yang memiliki penanggulangan hati nurani sudah merupakan orang Kristen yang baik. Karena orang Kristen ketika beroleh selamat, pengenalannya terhadap dosa tidak cukup tuntas, perasaan hati nuraninya sangat tumpul, bahkan ada orang yang mati rasa, tidak memiliki perasaan. Izinkan saya mengatakan beberapa perkataan yang sangat menyedihkan, "Saya pernah memperhatikan tidak sedikit orang Kristen, waktu yang mereka keluarkan tidak sedikit, bagi Tuhan, mereka juga mau menderita, mengeluarkan harta dan tenaga, bergairah menyelamatkan orang, tetapi begitu membicarakan realitas rohani dengan mereka, segera terasa memasuki dua dunia, kata-kata persekutuan seolah-olah tidak tembus. Dulu saya selalu tidak mengerti di manakah penyebabnya, kemudian, saya baru mendapatkan kasih karunia dan tampak, bahwa penyebab terbesar ialah perasaan hati nurani mereka tidak peka. Telah saya katakan, bahwa perasaan hati nurani adalah pemulihan langkah pertama dari perasaan hayat, adalah anak tangga dari lantai kedua, tanpa anak tangga ini, kita tidak bisa mencapai lantai ketiga. Jika perasaan yang mendasar ini bermasalah, tidaklah heran jika orang tersebut tidak mengerti perkara rohani yang lebih dalam, karena di dalam orang tersebut tidak ada pengalaman (perasaan hayat Allah), menjadi dasarnya. Semoga Allah menerangi kaum saleh sedemikian rupa sehingga mereka tampak keadaan diri mereka yang kasihan.

DUA MACAM ORANG KRISTEN

Orang Kristen yang hidup di dalam hati nuraninya, adalah benar-benar orang Kristen yang baik, tetapi di dalam perkara rohani, pada mereka masih bisa timbul banyak kesulitan:

1. Terhadap diri sendiri:

a. Jatuh ke dalam kelemahan hati nurani, menerima dakwaan musuh.

b. Hati nuraninya keras, menjadi kaku, keras kepala.

c. Jatuh di dalam pembenaran diri sendiri, terhalang mendapatkan lebih banyak terang.

2. Terhadap orang yang berbuat dosa:

a. kekurangan belas kasihan.

b. permintaannya (terhadap budi pekerti) terlalu banyak.

c. mengkritik dan mencela, mencari kesalahan, membandingkan dengan orang lain.

3. Tidak bisa bekerja sama dengan orang yang memiliki hayat yang lebih dalam.

Kita boleh membuat daftar singkat kedua macam orang itu untuk memperbandingkannya.

Kaum saleh pada tahap hati nurani:

1.

Mengatakan benar atau salah, mengatakan alasan.

2. Asa! "ya," tidak bertanya sumbernya, juga tidak mengenal sumbernya (membenarkan diri sendiri).

3.

Lingkupan yang dia benci dan tolak adalah "salah".

4.

Dia menuntut perkaranya dilakukan dengan baik, dilakukan dengan benar, sama dengan orang dunia.

5.

Ketika dia tidak bisa berkoordinasi dengan orang, dia akan menyatakan kemarahan yang dipandangnya benar.

Kaum saleh pada tahap yang melampaui hati nurani:

1.

Memperhatikan urapan minyak, beserta dengan Allah, melampaui alasan.

2.

Di dalam "ya" masih melihat sumber, jika sumbernya tidak benar, bagaimanapun "ya," masih tetap salah.

3.

Yang dia tolak adalah bila "di dalamnya tidak menjamah Allah."

4.

Dia tidak hanya menuntut benar, masih juga harus ada nilai rohani, ada amin yang di dalam.

5.

Ketika dia merasakan bahwa orang yang berkoordinasi dengannya tidak memahami, dia bisa sabar, menunggu, mendoakannya.

Ada satu fakta, yaitu begitu seseorang beroleh selamat, kehidupannya telah keluar dari kebiasaan berbuat dosa, masuk ke dalam budi pekerti yang baik, sehingga hatinya yang baik itu sangat membenci dosa, demikianlah kaum saleh pada tahap hati nurani menanggulangi sasaran "salah," sebagai segala yang berada dalam lingkungan dosa. Tetapi ketika seseorang makin bertumbuh ke dalam diri Allah, dia tentunya juga makin membenci dosa, karena dosa berasal dari setan, tetapi penanggulangan terhadap dosa seolah-olah telah terlewatkan; sasaran yang dia tanggulangi kebanyakan adalah "ego," bertitikberatkan pada penanggulangan hayat alamiah, yakni kesenangan manusia, tuntutan manusia, pilihan manusia, kecenderungan manusia, penambahan manusia, serta budi pekerti kebaikan manusia. Yang diperhatikan adalah sumber yang di dalam, dia tidak memperhatikan corak penampilan yang di luar. Dia memandang orang yang berbuat dosa dan orang Farisi yang membenarkan dirinya sendiri sama-sama tidak benar; hanya saja yang satu adalah orang dosa yang najis yang terlihat jelas, yang satu adalah orang buta di dalam kegelapan. Kedua macam orang tersebut seolah-olah memiliki perbedaan yang mencolok, tetapi dalam pandangan Allah keduanya adalah sama-sama orang mati. Dosa yang dilakukan orang macam pertama berasal dari daging, kebenaran yang dilakukan orang macam kedua juga berasal dari daging, sumber tindakan kedua macam orang tersebut sama. Sebab itu hayat Allah bukan hanya tidak bisa membiarkan dosa, juga tidak bisa membiarkan kebenaran yang dari daging. Inilah penyebab paling besar yang membuat orang yang benar-benar rohani tidak bisa serasi dengan orang yang hanya membicarakan budi pekerti.

TIGA MACAM ORANG

Untuk lebih memperjelas maksud yang ada di dalam saya, izinkan saya memberitahu Anda semua, orang Kristen adalah orang yang sangat kompleks, karena dalam orang Kristen ada tiga macam benda yang berasal dari tiga sumber. Dia memiliki hayat bawaan yang baik yang berasal dari penciptaan, memiliki dosa yakni racun yang dibawa masuk oleh iblis setelah kejatuhan, juga memiliki hayat yang kudus yang berasal dari Allah setelah beroleh selamat. Sebab itu seseorang bisa menjadi manusia-Allah, juga bisa menjadi manusia yang baik, dan bisa juga menjadi manusia-setan. Marilah kita melihat uraian di bawah ini.

Manusia-Allah โ€” manusia rohani

1.

Hayat Allah sebagai keistimewaannya.

2.

Hayat Roh paling kuat.

3.

Allah adalah Tuan, Allah memerintah orang ini, Allah melalui Roh Kudus mengatur orang ini.

4.

Bersatu menjadi satu roh dengan Allah, hidup dan berperilaku menurut roh.

5.

Allah adalah sumber kehidupannya.

6.

Hidup adalah Kristus (Allah).

7.

Senang terhadap kekudusan dan ibadah.

8.

Jalan keluar Allah adalah dimulai dari titik pusat dan menyebar ke sekeliling; yaitu dimulai dari wahyu di dalam roh, terang di dalam pikiran, demikian jiwa diperbarui; bahkan hayat ini menyuplai tubuh, membuat tubuh yang fana hidup kembali.

Manusia yang baik -- manusia baik yang alamiah

1.

Kebaikan dan kebenaran hati nurani adalah keistimewaannya.

2.

Hayat jiwa paling kuat.

3.

Ego adalah tuan, ego memerintah orang ini, ego melalui hati yang cenderung kepada kebaikan mengatur orang ini.

4.

Menuruti pendapat hati nurani, hidup menurut pertimbangan pikiran.

5.

Ego (manusia) adalah sumber kehidupan.

6.

Hidup adalah kesatria (manusia).

7.

Senang terhadap kebaikan dan budi pekerti.

8.

Hayat alamiah tercipta memang cenderung kepada kebaikan, ia tunduk kepada roh dan dipakai oleh Allah, juga bisa bersimpati kepada tubuh sehingga berbuat dosa.

Manusia-setan โ€“

orang yang diatur oleh dosa

1.

Dosa adalah keistimewaannya.

2.

Hayat tubuh paling kuat.

3.

Dosa adalah tuan, orang lain memerintah orang ini, setan melalui dosa dalam tubuh daging mengatur orang mi.

4.

Takluk kepada tuntutan hawa nafsu daging dan tuntutan dosa.

5.

Dosa (setan) adalah sumber kehidupannya.

6.

Hidup berbuat dosa (setan).

7.

Senang berbuat dosa dan kejahatan.

8.

Racun setan masuk ke dalam dari luar, alat untuk berbuat dosa adalah tubuh (makan buah pengetahuan baik dan jahat), kemudian jiwa dan roh terkena racun ini, akibatnya seluruh diri manusia menjadi manusia dosa dan manusia mati.

Pertanyaan

Tanya: Yang disebut orang dunia sebagai pergumulan "akal budi" dengan "nafsu," apakah mengacu kepada peperangan antara Roh Kudus dengan hawa nafsu dalam Galatia pasal 5?

Jawab: Bukan, karena di dalam orang dunia sama sekali tidak ada Roh Kudus."Akal budi" dalam orang dunia bukanlah Roh Kudus, bagaimana bisa ada peperangan antara Roh dengan nafsu? Dan kedua peperangan tersebut memiliki beberapa butir yang mutlak tidak sama:

1.

Yang diperebutkan oleh "akal budi" dan "hawa nafsu," semuanya adalah untuk diri sendiri. Ego adalah pusat dari keduanya. Roh Kudus berperang (bergumul) demi Allah, untuk memuaskan tujuan Allah, Allah adalah pusatnya.

2.

"Akal budi" membicarakan alasan, "nafsu" tidak membicarakan alasan. Roh Kudus juga tidak membicarakan alasan, tetapi memiliki satu pekerti yang lebih dalam, yang tidak segera ditampak oleh manusia, perk' menunggu terang Roh Kudus baru bisa memahaminya.

3.

Peperangan antara akal budi dengan nafsu adalah pergumulan antara sifat baik manusia dengan hawa nafsu yang berasal dari setan (Yoh. 8:44), adalah peperangan antara manusia dengan setan. Roh Kudus tidak hanya berperang melawan nafsu (setan), juga berperang dengan akal budi (manusia). Sering kali Roh Kudus menghendaki manusia taat kepada Allah, namun "akal budi" beralasan bagi diri sendiri terhadap Allah. Tetapi Roh Kudus tidak membicarakan alasan, jika Anda taat, Anda memiliki hayat dan damai sejahtera. Itulah sebabnya orang sering dapat melihat "nafsu" dan akal budi" bersatu melawan Roh Kudus. Jadi pertentangan antara Roh Kudus dengan hawa nafsu adalah yang tidak pernah dialami oleh orang dunia. Sayang, dalam pengalaman banyak orang Kristen, sering kali mereka masih seperti orang dunia, masih di dalam pergumulan antara akal budi dan hawa nafsu, bukan di dalam pergumulan antara Roh Kudus dengan hawa nafsu. Nyatalah bahwa didalam manusia, kadar yang berbicara bagi Allah tidaklah banyak.