Daftar isi Dua Belas Bakul (10) · bab 11/12

Realitas Kerajaan Surga Hari Ini

"Sejak tampilnya Yohanes Pembaptis hingga sekarang, Kerajaan Surga direbut dengan kekerasan, dan orang yang merebutnya dengan kekerasan mendapatkannya"

(Matius 11:12, Tl.)

"Atas pertanyaan orang-orang Farisi, apabila Kerajaan Allah akan datang, Yesus menjawab, kataNya: Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tanda lahiriah, juga orang tidak dapat mengatakan: Lihat, ia ada di sini atau ia ada di sana! Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu"

(Lukas 17:20-21)

Umumnya, begitu kita menyinggung tentang kerajaan surga, segera kita memikirkan hal ini sebagai peristiwa kelak hari, memikirkan Tuhan akan datang kedua kali ke bumi, mendirikan kerajaan sorgaNya, agar negara-negara di dunia menjadi negara Tuhan Kristus kita. Para pemenang akan meraja bersama Tuhan selama seribu tahun, ada yang mengurusi lima kota, ada yang sepuluh kota, dan seterusnya. Semua ini benar, perkara ini pasti segera datang, juga pasti ternyata. Tetapi pemikiran demikian membuat kita selalu berada di dunia kelak, selalu berada di dalam pengharapan, dan kita tidak tahu bahwa realitas rohani kerajaan surga adalah pada hari ini. Hari ini juga kita bisa memasukinya, tidak perlu menanti hingga kelak. Janganlah heran, marilah kita melihat firman Allah.

Dalam Matius 11:12 memberitahu kita tiga perkara: I. Saat masuk kerajaan surga, 2. Syarat masuk kerajaan surga, 3. Barangsiapa masuk, dialah yang mendapatkan.

Pertama, kapankah masuk kerajaan surga? Di sini dikatakan, "Sejak tampilnya Yohanes Pembaptis hingga sekarang," yakni sejak tampilnya Yohanes Pembaptis sampai saat Tuhan mengatakannya. Jadi menurut waktu yang ditunjukkan di sini, dengan jelas kita tampak bahwa saat masuk kerajaan surga sudah dimulai sejak sekitar seribu sembilan ratus tahun lebih yang lalu; saat itu sudah bisa memasukinya, tidak perlu menunggu sampai kedatangan Tuhan untuk kedua kalinya. Karena itu sekarang kitapun bisa berkata, "Sejak tampilnya Yohanes Pembaptis hingga sekarang" -- sampai saat saya berbicara dengan kalian, banyak orang telah berebut sekuatnya untuk memasukinya, orang yang berebut sekuatnya baru bisa mendapatkan. Dengan perkataan lain, termasuk zaman kasih karunia, kerajaan surga baru bisa dimasuki oleh orang-orang yang mau berebut sekuatnya. Jadi, tidak ada masalah dalam hal memasuki kerajaan surga, hari ini sudah bisa memasukinya, hari ini adalah saatnya memasuki kerajaan surga – saya menyebutnya sebagai realitas rohani kerajaan surga.

Kedua, apakah syaratnya untuk masuk ke dalam kerajaan surga? Dalam Perjanjian Baru terdapat banyak syarat untuk dapat masuk ke dalam kerajaan surga. Misalnya, orang yang miskin dalam roh, orang yang dianiaya oleh karena kebenaran (Mat. 5), orang yang melaksanakan kehendak Allah (Mat. 7), dan lain-lainnya. Tetapi di sini dikatakan orang yang merebut dengan kekerasan, atau dengan perkataan lain, orang yang merampas dengan kekerasan. Siapakah yang termasuk orang yang merebut dengan kekerasan? Saya ingin mengambil satu contoh yang kurang baik, ini seperti seorang perampok. Perampok atau perampas akan tidak mempedulikan nyawanya demi merampas barang orang lain, dia mengesampingkan keselamatan jiwanya untuk memperoleh sasarannya. Perampas tidaklah menginginkan nyawa orang, melainkan menginginkan barang orang. Inilah yang dimaksud merampas dengan kekerasan. Setiap orang yang rela tidak memperhatikan nyawanya untuk melakukan sesuatu, dialah perampas. Untuk memasuki kerajaan surga perlu perampas sedemikian. Orang yang demikian, dia rela demi kerajaan surga mengesampingkan nyawa, harta benda, keluarga, nama, melulu melakukan satu perkara; asal bisa masuk ke dalam kerajaan surga, ia rela mengeluarkan harga apapun, pengorbanan apapun. Orang yang memenuhi syarat ini akan masuk ke dalam kerajaan surga. Hari ini, pertanyaan ini juga ditujukan kepada diri kita masing-masing, baiklah kita masing-masing bertanya, "Apakah aku adalah orang yang memenuhi syarat ini?" Jika Anda mendapatkan kasih karunia Tuhan dan menjadi orang semacam ini, Anda akan mendapatkan hasil sebagai berikut:

Ketiga, kerajaan surga didapatkan oleh orang yang merebutnya, atau boleh diterjemahkan menjadi direbut oleh orang yang merampas. Artinya dengan kekerasan merebut kerajaan surga dan mendapatkannya. Bukan kelak baru mendapatkan, melainkan sekarang. O, hari ini sudah bisa mendapatkan kerajaan surga, ini adalah perkara yang bisa dialami hari ini, tidak perlu menunggu kelak.

Dalam Injil Lukas 17, persoalan orang-orang Farisi ialah di manakah kerajaan Allah? (Catatan: menurut penelaahan Alkitab, kerajaan surga tercakup di dalam kerajaan Allah, perbedaan keduanya tidak disinggung di sini). Pada waktu itu orang-orang Farisi sedang mengharapkan tampak satu kerajaan yang kelihatan, tetapi kerajaan Allah dalam realitas rohaninya tidaklah tertampak, meskipun tidak tertampak, tetapi memiliki satu tempat yang pasti -- yaitu ada di dalam hati kalian -- (Catatan: kata "dalam hati" boleh diterjemahkan "ditengah-tengah", orang zaman dulu ada yang mengatakan "Tuhan, Raja" ada di tengah-tengah murid-murid, berarti kerajaan Allah ada di tengah-tengah mereka). Di sini tempatnya telah diberitahukan kepada kita, yaitu di dalam hati kita. Hati adalah tempat Allah berkuasa, adalah tempat yang khusus diperhatikan oleh Tuhan. Kerajaan surga adalah Allah atau surga berkuasa di dalam diriku, menjadi Tuhan di dalamku, menjadi Raja, mengatur segalaku.

Lalu, sebenarnya apakah kerajaan itu? Atau dengan kata lain, apakah unsur yang membentuk kerajaan itu? Satu negara yang merdeka harus memiliki tiga hal: 1. kekuasaan, 2. tanah, 3. rakyat. Di sini saya ingin demikian memperbandingkannya: Hatiku adalah rakyat -- hati ini mutlak dipersembahkan kepada Tuhan, taat kepada Tuhan. Diriku dan segalanya, meliputi penghidupan, pekerjaan, usaha, dan lain-lainnya, adalah tanah -- mutlak menerima pengendalian kekuasaan Tuhan. Kekuasaan pengaturan Allah melalui Roh Kudus di dalamku adalah satu kekuasaan. Demikian dengan sederhana boleh dikatakan, karena hatiku taat, kekuasaan Allah boleh terlaksana di atas diriku, sebagaimana terlaksana di atas segala langit. (Pelaksanaan kekuasaan Allah tembus, tanpa halangan dengan segala tingkat langit, tetapi di atas diriku memerlukan tekadku taat). Allah melalui Roh Kudus di dalamku mengatur seluruh diriku, agar jiwa dan tubuhku tunduk di bawah kuasa ini, demikianlah hari ini aku adalah orang yang secara realitas rohani memasuki kerajaan surga. Surga berkuasa di atas diriku, aku menjadi orang yang menerima pengendalian surga. Dalam aspek pelaksanaan, aku akan mengalami: pikiranku terkendali, perkataanku terkendali, aktivitasku terkendali, segalanya menuruti urapan minyak (Roh Kudus yang tinggal di dalam), berdasarkan pengajarannya tinggal di dalam Tuhan. Jika demikian kita benar-benar dari dalam hati akan memuji Tuhan! Karena melalui Roh Kudus, surga dan bumi telah tembus, telah menjadi satu, kekuasaan di surga dapat terpenuhi dan terlaksana di atas diri manusia. Hayat yang di surga bisa ternyata melalui penghidupan manusia, betapa bebasnya hayat ini, betapa melampaui, betapa rill! Tetapi, hari ini siapakah orang yang menjadi perampas itu?

C.H. YU