Daftar isi Dua Belas Bakul (10) · bab 12/12

Syarat Mengikuti Tuhan Mutlak

Pembacaan Alkitab:

Lukas 14:25-35; Filipi 3:8; Ibrani 11:24-26

Untuk topik yang akan kita bahas ini, saya mohon saudara saudari dengan sangat tenang meletakkan diri sendiri di hadapan Allah, karena apa yang akan kita bahas ini tidaklah biasa, boleh dikatakan sangatlah serius. Jika berdasarkan diri saya sendiri, saya sungguh takut dan gentar, tidak berani mengutarakan perkataan ini. Karena itu mohon saudara saudari meletakkan diri sendiri dengan tenang di hadapan Allah, dan juga berdoa untuk firman Allah. Harus meletakkan hati baik-baik dan berkata kepada Allah, "Ya Allah! Mohon Engkau memberikan kasih karunia, agar hatiku benar-benar mencapai firmanMu." Di satu pihak, kiranya kalian mengesampingkan orang yang berdiri di hadapan kalian ini, hanya menengadah kepada Allah, demikian baru kalian bisa mendengar. Jika tidak mengesampingkan manusia, tidak menjunjung tinggi Allah, saya takut perkataan ini tidak mudah didengar, sebab perkataan ini cukup hebat. Karena itu marilah kita menengadah kepada Allah untuk bekerja di dalam hati kita, agar kita bisa mencapai apa yang Allah katakan hari ini. Di sini perlu ada satu hati yang mutlak rendah, di pihak lain benar-benar tampak, berdasarkan manusia tidaklah mungkin mengatakannya.

SYARAT MENGIKUTI TUHAN SUNGGUH HEBAT

Ketika Tuhan Yesus keluar memberitakan Injil, Alkitab mencatat, bahwa ada banyak orang, sangat banyak orang yang mengikutiNya berjalan bersamaNya. Keadaan hari ini juga sama, jika kita ingin menghitung jumlah orang Kristen di dunia ini, tidaklah mudah melaksanakannya. Hari ini, orang yang mengikuti Tuhan Yesus, orang yang disebut murid Tuhan, juga sangat banyak. Pada waktu dulu, banyak orang yang mengikuti Tuhan Yesus, berjalan bersama Tuhan Yesus, saat itu Tuhan Yesus berpaling kepada mereka dan bertanya satu pertanyaan kepada mereka, atau mengatakan satu perkataan kepada mereka. Dalam perkataan ini, ternyatalah siapa yang layak mengikuti Dia, siapa yang tidak layak mengikuti Dia. Syarat yang dikatakan untuk mengikuti Tuhan sangatlah hebat. Kiranya saudara saudari tampak realitas di dalam firman ini.

Perkataan yang Tuhan katakan ini merupakan satu syarat yang sangat hebat. Jika seseorang tidak mutlak terhadap Tuhan, ia tidak bisa menjawabnya. O, di sini ada satu standar, di sini ada satu permintaan. Permintaan Tuhan ini terlalu sulit, standar Tuhan ini terlalu tinggi. Di sini Tuhan berkata, "Jikalau seorang datang kepadaku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, . . . ia tidak dapat menjadi muridKu." Mereka semua ini adalah orang-orang kekasih kita, adalah orang-orang sedarah daging dengan kita. Tetapi permintaan Tuhan mengatakan, bahwa Anda harus mengasihi Tuhan sedemikian rupa, sehingga Anda terhadap orang-orang yang Anda kasihi itu menaruh satu sikap, tidak mengasihi, bahkan membenci. Tidak hanya membenci sanak keluarga sendiri, bahkan membenci hayat diri sendiri.

Terhadap perkara ini, menurut manusia kita tidaklah mungkin dilakukan. Tidak ada seorangpun yang tidak mengasihi orang-orang dalam keluarganya sendiri, tidak ada seorangpun yang tidak mengasihi nyawanya sendiri. Orang yang tidak hormat pada orang tuanya, bisa tidak mengasihi orang tuanya; orang tua yang tidak bertanggung jawab, bisa tidak mengasihi anak-anaknya sendiri; tetapi tidak ada orang yang tidak mengasihi nyawanya sendiri. Ada orang bunuh diri, itu bukan dikarenakan tidak mengasihi nyawanya sendiri, melainkan dia mencari jalan keluar bagi dirinya sendiri. Di seluruh dunia ini tidak ada seorangpun yang tidak mengasihi nyawanya sendiri. Di sini ada satu permintaan yang paling hebat, di dunia ini tidak ada permintaan yang lebih hebat daripada pemintaan ini! Tidak hanya harus membenci orang yang Anda kasihi, bahkan harus membenci nyawa diri sendiri. Terhadap perkara ini, manusia hanya bisa mengharapkan dan menghela napas, bagaimana bisa mencapainya? Tetapi ini benar-benar permintaan Tuhan.

ALLAH MEMINTA, ALLAH JUGA MENJAWAB

Menyinggung sampai di sini, ada dua hal yang ingin saya beritahukan kepada kalian, harap saudara saudari memperhatikannya. Coba lihat, permintaan siapakah ini? ini adalah permintaan Allah. Seorang saleh kuno yang memiliki pengalaman rohani yang sangat dalam, yang sangat mengenal Allah pernah berkata, "Setiap hal yang Anda ingini dikarenakan Allah bekerja di dalam Anda, setiap ke dambaan yang ada di dalam Anda dikarenakan Allah bekerja di dalam Anda, pasti dapat Allah jawab." Tampakkah Anda akan hal ini? Jika Anda mengingini sesuatu menurut kehendak Allah, maka Allah akan menyiapkan hal itu di atas diri Anda, entah melalui situasi Anda, atau melalu berbagai macam perkara. lnilah perkataan dari orang yang memiliki pengalaman. Sekali lagi saya katakan, setiap ke dambaan di dalam Anda yang ditimbulkan oleh Allah, pasti Allah genapkan. Masih ada satu perkataan, yaitu mengenai perintah. Di dalam zaman Perjanjian Baru, begitu ada perintah agar manusia melaksanakannya, saat itu juga Allah memberi kekuatan kepada manusia untuk melaksanakannya agar manusia bisa memenuhinya.

Saudara saudari, hal ini membuat kita lega hati. Permulaannya kita tampak betapa hebat permintaan Allah bahkan nyawa sendiripun harus dibenci, kita hanya bisa berharap sambil menghela napas, merasa pasti tidak bisa mencapainya, tetapi sekarang kita boleh berlega hati. Meskipun di atas diri kita Allah ada satu permintaan, tetapi Allah memiliki cara agar kita bisa menjawab permintaan ini. Tak peduli permintaan ini betapa tinggi, betapa besar, betapa hebat, itu tidaklah penting, karena Allah mampu menjawabnya. Allah adalah Allah yang membangkitkan orang mati, yang menjadikan sesuatu dari yang tidak ada menjadi ada, karena itu kita tidak perlu takut. Allah tidak mungkin memerintahkan seorang anak yang berumur tiga tahun untuk memikul pikulan seberat seratus kilogram. Kalaupun Allah memiliki perintah ini, memiliki permintaan ini, Allah pasti bisa menjawab permintaan ini. Saudara saudari, permintaan Allah hari ini adalah permintaan yang mutlak, panggilan Allah hari ini adalah panggilan yang mutlak, tetapi di pihak kita, kita bisa menjawab permintaan ini, janganlah takut.

TIDAK MELEPASKAN SEGALANYA,

TIDAK LAYAK MENGIKUTI TUHAN

Di sini Tuhan memberitahu kita dua perumpamaan. Perumpamaan pertama adalah mendirikan satu menara. Seseorang yang ingin mendirikan satu menara yang besar, terlebih dulu ia harus membuat rencana; hari ini dia harus menyediakan uang berapa banyak. Jika tidak membuat rencana terlebih dahulu, dan langsung membangunnya, tetapi sampai separuh atau setelah mendirikan dasar lalu tidak dapat meneruskan, orang-orang tentu akan menertawakan. Demikian juga jika Anda ingin mengikuti Yesus, Anda harus tahu bahwa jalan yang ditempuh oleh Tuhan Yesus bukanlah jalan yang bisa ditempuh oleh kebanyakan orang, sebab itu sebelum Anda menempuhnya, Anda harus memiliki rencana, berapakah harga yang harus Anda keluarkan untuk itu.

Perumpamaan kedua ialah seorang raja berperang dengan raja lain. Di pihak lawan ada dua puluh ribu tentara, dirinya hanya memiliki sepuluh ribu tentara, maka ia harus terlebih dulu duduk dan mempertimbangkannya, jika tidak bisa melawannya, lebih baik tidak memulai peperangan, memakai kesempatan cepat-cepat berdamai, tidak jadi berperang. Hari ini Iblis ada di depan kita, kita akan maju terus mengikuti Tuhan, di depan pasti ada peperangan. Dunia akan menarik kita, daging akan menyeret kita ke bawah, Iblis akan memperdaya dan menyerang kita, apakah kita siap mengeluarkan semua harga untuk menanggulangi musuh-musuh itu? Tuhan berkata, jika Anda mau berperang, Anda harus melepaskan segalanya dan maju ke depan. Ingin mengikuti Tuhan, ingin menempuh jalan Tuhan, kalaupun Anda sudah mengeluarkan 99% dari tenaga Anda dan menyisakan 1% saja, itu masih tidak bisa Karena itu Tuhan berkata, "Jika seseorang tidak melepaskan segala sesuatu untuk mengikuti Aku, ia tidak layak menjadi muridKu."

Apakah artinya layak? Layak berarti keserasian dua macam benda. Tangan kiri saya dan kanan saya bisa berkoordinasi dengan baik, karena keduanya itu sama. Anjing dan kucing tidak bisa digabungkan bersama, karena mereka tidak sama. Saudara saudari, kalau hari ini kita mau mengikuti Tuhan, bagaimana baru bisa layak? Di sini mata kita harus memandang kepada Tuhan. Tuhan telah meninggalkan segala sesuatu, Tuhan itu mutlak. Kita tahu bahwa Tuhan tidak mempertahankan kesetaraanNya dengan Allah. Kemuliaan Tuhan dan Allah yang mulia sama, sebelum dunia diciptakan, kemuliaan Tuhan itu tidak bisa diutarakan. Tetapi Dia telah meninggalkan kemuliaan yang paling tinggi, merendahkan diri ke dalam dunia sedemikian rupa, akhirnya bahkan mati di atas salib menerima aib yang luar biasa. Terhadap hati Allah Dia mutlak, tidak menyisakan sedikitpun untuk diri sendiri. Hari ini Anda harus seperti diri Tuhan, baru bisa menempuh jalan Tuhan. Jika Anda tidak melepaskan segala, maka Anda tidak layak. Dia demikian mutlak, Anda juga perlu demikian mutlak baru bisa menempuh jalan ini.

ALLAH BISA MEMBUAT KITA MELEPASKAN SEGALA SESUATU

Di sini timbul satu pertanyaan, sebenarnya apakah yang dimaksud dengan melepaskan segala sesuatu? Apakah ini berarti melepaskan semua harta benda dan usaha keluarga; yang berdagang, tidak berdagang lagi; yang menjadi dokter, tidak lagi menjadi dokter; yang menjadi perawat, tidak menjadi perawat lagi; segala sesuatu dibuang, segala sesuatu tidak karuan, sepertinya seorang gadis yang keluar dari rumah karena menikah dan ikut suaminya? Bukan demikian. Hari ini pekerjaan Allah di dalam kita adalah terlebih dahulu memiliki satu hati yang mau terarah kepadaNya, mau mempersembahkan diri kepadaNya, kemudian baru ada perkara lainnya. Hari Anda benar-benar terarah kepadaNya, sebagaimana Paulus yang melepaskan segala sesuatu dan memandangnya seperti sampah, agar mendapatkan Kristus. Karena di hadapan Allah Anda pernah bergumul sedemikian rupa, sehingga di luar Allah Anda tidak ada permintaan lagi, sebab itu ketika ujian datang, ketika Tuhan mau supaya Anda melepaskan orang tua, saudara saudari, isteri, Anda tidak akan seperti isteri Lot yang tidak tega melepaskannya. Ini bukan hanya gairah sekejap saja, melainkan melewati penanggulangan di hadapan Allah.

Tetapi, di sini ada satu hal yang perlu kita ketahui, sering kali ketika kita menuntut di hadapan Allah, meminta di hadapan Allah, kita merasa terhadap Allah telah begitu mutlak, di dalam doa juga telah berkata kepada Allah, rela melepaskan segalanya, tetapi begitu perkara yang sesungguhnya menimpa, kita segera menyadari bahwa kita tidak rela melepaskan orang yang kita kasihi, orang yang dekat dengan kita, orang yang kita sukai. Begitu Anda mencobanya, barulah Anda tahu berapa besar kekuatan melepaskan pada diri Anda. Orang yang tidak pernah melewati hal ini tidak tahu, orang yang pernah melewatinya sedikit mengetahuinya. Kemutlakan kita sebenarnya tidak mutlak, karena begitu perkaranya menimpa, segera kita tahu keadaan sebenarnya.

Maafkan saya, saya ingin menyinggung perkara tentang diri saya sendiri. Suatu ketika, ketika perkaranya datang, saya hanya bisa menangis di hadapan Allah, saya hanya bisa mengakui bahwa saya tidak bisa menjangkaunya. Akhirnya atas hal ini saya belajar sedikit pelajaran dan saya rela melepaskannya. Ketika saya benar-benar mau melepaskannya, saya bisa bersaksi, bahwa saya bisa melakukan demikian bukan karena diri sendiri, melainkan tergantung pada Allah; yang bisa menjawab permintaan itu bukan saya, melainkan Allah. Roh Kuduslah yang melalui diri saya membuat saya melakukannya. Karena itu kerelaan yang telah melewati pengujian barulah kerelaan yang sejati. Saudara saudari, jika Anda di hadapan Allah telah belajar pelajaran ini, Anda baru bisa benar-benar melepaskan segala sesuatu. Memikirkannya mudah, membicarakannya juga mudah, mendoakannya juga mudah, tetapi begitu perkaranya datang, keadaan yang sesungguhnya akan tersingkap.

Namun kita bersyukur kepada Allah, Allah bisa memberi kita kekuatan kebangkitan, membuat kita mampu. Yang menjawab permintaan ini adalah kekuatan kebangkitan, bukan kekuatan diri kita sendiri. O, betapa pelepasan yang besar! Takutkah Anda? Apakah Anda merasa permintaan ini terlalu besar? Terlalu tinggi? Terlalu hebat? Saudara saudari, kekuatan yang bisa menjawab permintaan ini berasal dari Allah. Kita yang seperti orang-orang yang telah dirampok dan dipukuli oleh penjahat itu tidak berdaya dan tidak berkekuatan untuk berjalan, tetapi syukur kepada Tuhan! Dia telah mempersiapkan keledai, mempersiapkan kekuatan, membawa kita ke penginapan. Ya, kekuatan untuk menempuh jalan rohani bukan milik kita, melainkan disediakan oleh Allah. Tadinya Anda merasa, siapa yang bisa memenuhi permintaan ini? Saya juga berkata tidak mungkin. Tetapi syukur kepada Allah! Tuhan Yesus telah menjawab permintaan ini, hayatNya di dalam kita memberi kita kekuatan, agar kita bisa menjawab permintaan ini.

TUBUH KRISTUS ADALAH MUTLAK

Di sini izinkan saya mempersaksikan sedikit pengalaman pribadi saya. Tiga tahun lebih yang lalu, saya di hadapan Allah mempunyai satu penuntutan. Di dalam diri saya senantiasa ada satu perkataan yang mengatakan, bahwa saya mau mutlak. Saya di sana terus berpikir, jika di hadapan Allah saya tidak mutlak, bagaimanapun, saya tidak akan bisa mencapai kehendak hati Allah. Mau menjadi orang Kristen, mau menempuh jalan Tuhan, harus masuk ke dalam kemutlakan. Hati mau, namun lahiriah tidak mampu. Tidak bisa bersaksi bahwa hari ini aku sudah mutlak. Perkataan ini tidak bisa keluar, jika mengatakannya berarti berdusta, karena di dalam tidak ada kesaksian ini. Sepertinya ada orang yang telah percaya Tuhan, tetapi ketika orang lain bertanya apakah dirinya sudah beroleh selamat? Dia tidak bisa mengangkat tangannya, karena di dalamnya tidak ada kesaksian, dia masih meragukannya. Hari ini kita semua bisa mengangkat tangan dan mengetahui bahwa diri kita sudah beroleh selamat. Tetapi terhadap kemutlakan ini, tangan saya tidak bisa diangkat. Justru dalam beberapa bulan itu, ketika saya di hadapan Allah menanggulanginya, saya tahu bahwa saya tidak berdaya.

Pada waktu itu, saya berjumpa dengan seorang saudara lain, dia juga sedang menuntut perkara ini. Dia bertanya kepada saya, bagaimana bisa masuk ke dalam suasana tersebut. Saya sungguh merasa berutang, karena saya sendiri tidak maju, tidak memiliki jalan, tidak mempunyai cara. Akhirnya saudara ini pulang dengan tidak mendapatkan apa-apa. Melalui perkara ini, Allah lebih membebankan hal ini ke atas diri saya. Saya tampak bahwa Allah bergerak di dalam diri saya, bersamaan itu juga bergerak di dalam saudara lain. Kalau tidak bisa membereskan masalah ini, Allah tidak bisa puas, saya juga tidak bisa puas. Begitu perkara ini muncul, selesailah persoalan yang ada di dalam hati saya, tidak bisa tidak saya harus membereskannya.

Pada suatu hari, saya pergi ke rumah beberapa saudara dalam Tuhan. Ketika kami berbincang-bincang saya mengutarakan masalah ini, karena saya tidak tahu harus bagaimana. Permulaannya mereka tidak berkata apa-apa, kemudian ada seorang yang berkata, Tubuh Kristus itu mutlak. Tubuh Kristus itu mengacu kepada hayat Kristus yang ada di dalam gereja. Saya yang miskin ini begitu dibuka oleh dia, segera saya merasakan di dalam saya ada satu benda yang mutlak. Tuhanku adalah mutlak. Hayat Tuhanku adalah mutlak, hayat yang mutlak ini ada di dalam saya. Saya dicelikkan olehnya, saya tembus. Karena di dalam saya ada satu benda yang mutlak, lalu bagaimana dengan hal ini? Dengan sendirinya selanjutnya di atas diri saya, baik itu pikiran, perkataan, aktivitas, semuanya bisa benar-benar bergandengan dengan hal itu. Karena di dalam saya ada satu yang mutlak, bukan sebagian mutlak, melainkan seluruhnya mutlak, seratus persen mutlak. Hari ini asal saya senantiasa tinggal di dalam yang mutlak ini, tidak keluar darinya, cukuplah sudah. Hari itu akal budiku terbuka.

Jadi, saudara saudari, inilah satu jalan. Di sini ada jalan. Jika melihat diri sendiri, bagaimana mungkin memenuhi permintaan Allah? Tetapi ketika Anda tampak hayat yang ada di dalam Anda, yang adalah Tuhan sendiri, Dia adalah Yang mutlak itu, Dia bisa menjawab permintaan Allah; Dia adalah hayat yang mutlak yang akan menjawab permintaan Allah. Adakah yang tidak mungkin bagiNya? Jadi, benar-benar mutlak kepada Allah adalah mungkin. Asal kita tinggal di dalam Dia, tinggal di dalam hayat yang mutlak ini, tidak membiarkan diri sendiri keluar, cukuplah. Orang yang tahu bersatu dengan Kristus, tahu tinggal di dalam Kristus, ia pasti tinggal di dalam hayat yang mutlak itu, ia akan menjawab permintaan Allah. Ini tidak ada masalah sama sekali.

MUTLAK PADA MENIT INI

Di waktu yang lampau, ketika saya diam tenang di hadapan Allah, merenungkan banyak orang di dunia ini, juga merenungkan diri saya sendiri, saya mengetahui bahwa hari ini adalah saat-saat perang dunia kedua; entah berapa puluh ribu orang yang telah mengorbankan nyawanya untuk negara mereka. Perang dunia yang sebelumnya telah menelan korban sepuluh juta orang, dan kali ini tidak tahu akan meninggal berapa lagi. Saya lalu berpikir, saya tidak tahu berapa lama lagi saya hidup di dunia ini. Berapa lama lagi hari-hari saya di hadapan Allah? Masih ada sepuluh tahun? Dua puluh tahun? Saya tidak mengetahuinya. Saya lalu memandang diri saya sepertinya telah mati terkena bom peledak, dan sekarang ada di sini hidup bagi Tuhan. Entah berapa banyak orang di bumi ini yang telah mati! Hari ini saya belum terkena bom sehingga mati, masih hidup di sini, masih memiliki sebuah hati yang bisa berpaling kepada Allah, mau kehendak Allah. Betapa dambanya saya ketika hari Tuhan datang, ketika saya meninggalkan dunia, saya benar-benar adalah seorang yang mutlak terhadap Tuhan. Baiklah hal ini? Sangat baik. Tetapi masih ada sedikit yang tidak baik, karena saya masih memiliki satu standar kemutlakan yang ideal yang ingin dicapai. Saya mengharapkan mutlak, mengharapkan sempurna, saya ingin bulan depan, atau berapa tahun kemudian baru mencapai tujuan ini. Saya memiliki satu tujuan untuk kelak, saya memiliki satu standar yang idealis. Saudara saudari, ini adalah satu hal yang salah. Ketahuilah, mau mutlak terhadap Tuhan adalah hari ini. Mau mutlak kepada Tuhan adalah sekarang. Saudara saudari, hari ini Anda dan saya memiliki satu hayat yang mutlak, dalam pelaksanaannya kita harus memperhatikan, terhadap Tuhan atau terhadap orang lain, adakah kita berlaku tidak benar, di satu pihak bersandar pada pembasuhan darah adi Tuhan; di pihak lain, terhadap Allah, terhadap manusia, harus membereskan semuanya. Segala yang lampau dibereskan dengan jelas di bawah darah adi Tuhan, demikian dalam satu menit inilah saya mutlak di hadapan Tuhan. Dalam satu menit ini saya mutlak, ini bisa terjadi. "Ya Allah! Dalam menit inilah aku mengarah kepadaMu. Ya Allah, mohon Engkau membuatku tidak berdosa. Ya Allah! Dalam satu menit ini buatlah aku berkesempatan mendekatiMu." Kemutlakan ini mungkin terjadi. Asal Anda hidup pada hari ini, hidup di dalam keadaan saat ini, Anda dengan yakin berkata, saat inilah saya tertuju kepada Allah, saat ini biarlah saya memiliki satu keadaan yang bisa berkaitan dengan Allah.

Tetapi Allah akan menguji Anda Anda harus berkata kepada Allah, "Ya Allah, aku tidak mampu. Yang menjawab permintaanMu adalah diriMu, bukan diriku." Siapakah yang rela tidak mengasihi orang tuanya sendiri, isterinya, anak-anaknya? Siapa yang mau tidak mengasihi nyawanya sendiri? Semuanya tidak mau. Saya juga tidak mau. Karena itu saya akan berkata, bahwa yang menjawab permintaan Allah adalah hayat Allah yang ada di dalam diri saya. Ini boleh dialami. Tidak perlu menunggu besok baru menjadi orang Kristen yang berstandar, tidak perlu lusa baru menjadi orang Kristen yang memenuhi standar, hari ini juga sudah bisa, pada menit ini juga sudah bisa. Keadaan di dalam Anda demikian, keadaan di luar Anda juga demikian. Jika ada perkara yang menimpa diri saya, dan Tuhan menyuruh saya melepaskannya, Tuhan bisa membuat saya kuat dan menjawab permintaan Paulus berkata, dia menang bahkan berlebih bersandarkan Yesus Kristus. Aku hanya memiliki satu hal, yaitu tekad terarah kepada Tuhan, aku tidak mau menolak Dia, aku tidak menentang Dia. Aku tidak bisa melakukan perkara yang lebih besar. Kekuatanku berasal dari Tuhan.

ALLAH HANYA MAU KEMUTLAKAN YANG RELAT1F

Dalam praktiknya, kemutlakan yang kita katakan ini adalah kemutlakan yang relatif, bukan kemutlakan yang mutlak. Hari ini tidak mungkin ada kemutlakan yang mutlak, hanya ada kemutlakan yang relatif. Mengapa demikian? Karena terang yang kita dapatkan di depan Allah tidak sama, dalam dan dangkalnya penampakan tidak sama, banyak dan sedikitnya penglihatan juga tidak sama. Tetapi syukur kepada Allah! Allah hanya menuntut kemutlakan kita yang relatif, Allah tidak menuntut kemutlakan kita yang mutlak.

Misalnya, Anda baru beroleh selamat hari ini. Roh di dalam Anda telah terbuka kepada Allah, Anda tahu perkara mencuri tidak patut Anda lakukan, Anda tidak patut berdusta, lalu Anda menanggulangi perkara-perkara itu. Anda hanya merasakan sebanyak itu, karena permintaan Allah terhadap Anda hanya sebanyak itu. Berapa banyak terang yang Anda tampak, sebanyak itulah permintaan Allah. Anda akan berjalan sebatas terang yang Anda dapatkan. Jika Anda berdasarkan itu menjawab permintaan Allah, Allah akan berkata bahwa Anda mutlak. Tetapi, satu tahun kemudian, Anda bertumbuh besar, dulu Anda merasa merokok itu adalah perkara yang wajar, namun sekarang merasa merokok itu tidak benar; dulu pergi menonton bioskop di dalam tidak merasakan apa-apa, namun sekarang di dalam ada perasaan. Saat ini, Anda boleh menempuh jalan selanjutnya berdasarkan terang tersebut. Lewat beberapa tahun lagi, terang yang Anda dapatkan lebih banyak lagi, seberapa besar terang yang Anda dapatkan, sejauh itu pula seharusnya langkah penempuhan Anda. lnilah berarti Anda mutlak.

Seorang ayah akan membiarkan anaknya yang berumur 3 tahun untuk mengangkat barang seberat 2 pon, karena kekuatannya hanya sebegitu. Jika orang yang berumur 20 tahun masih tetap mengangkat beban seberat 2 pon, ayahnya pasti tidak akan membiarkannya; karena kekuatannya telah melebihi itu. Orang yang mendapatkan terang yang besar, orang yang tampak sesuatu yang tidak dinampak orang lainnya, maka terhadap dirinya permintaan Allah akan semakin besar. Siapa yang lebih banyak diberi, kepadanyalah permintaan lebih besar. Karena itu, terang kita adalah relatif, penempuhan jalan kita juga relatif. Asal kita berada di dalam terang dan mau berjalan berdasarkan terang itu, Allah sudah puas. Jadi kita katakan, bahwa penempuhan jalan kita di hadapan Allah hanya ada kemutlakan yang relatif, bukan kemutlakan yang mutlak. Meskipun demikian keadaannya, kita tidak perlu takut, karena Allah sudah puas terhadap ini, di dalam Andapun boleh ada damai. Asal menuruti terang yang Anda dapatkan, dengan setia melepaskan segalanya dan maju ke depan, cukuplah. Permintaan Allah tidak bisa melebihi terang yang kita dapatkan. Itu tidak mungkin. Di sini ada kasih karunia Allah! Jika ada satu standar yang mutlak, ada standar seperti Kristus, itu sungguh mustahil. Bagaimana mungkin bagi seorang bayi yang baru lahir bisa langsung berjalan? Tentu tidak mungkin. Karena itu, permintaan Allah hari ini tidaklah begitu; Allah hanya menghendaki kemutlakan yang relatif, tidak menghendaki kemutlakan yang mutlak.

PERMINTAAN ALLAH HARI INl LEBIH TINGGI

Di dalam saya sungguh merasakan, bahwa zaman ini makin dekat pada akhirnya, pekerjaan Iblis makin lama makin hebat, mungkin melampaui apa yang bisa kita pikirkan pada hari ini. Ada yang dijatuhkan oleh Iblis, ada yang disuruh Iblis untuk berbuat dosa, ada yang disuruh berkecimpung dalam dunia, ada yang disuruh bertindak tanduk berdasarkan daging, ada yang disuruh bergairah bagi Allah berdasarkan kekuatan daging, dan masih ada hal-hal adikodrati lainnya yang didalangi Iblis. Boleh jadi, penempuhan hari ini lebih sulit daripada 20-30 tahun yang silam. Makin mendekati akhir, Iblis makin bekerja membabi buta. Hari ini, berdiri teguh bagi orang Kristen adalah lebih sulit daripada sebelumnya. Namun saya yakin, Allah akan melepaskan kebenaran-kebenaran yang lebih hebat kepada kita, sehingga kita tampak dan bisa lebih banyak menjawab permintaan Allah. Jadi, saudara saudari, di sini Allah ada satu permintaan, Allah ada panggilan, yaitu memanggil agar anak-anak Allah berjalan mengarah kepada kemutlakan. Jangan berkata, bahwa mutlak itu tidak mungkin. Hari ini satu jalan telah dibentangkan di depan kita, dan kita tahu bagaimana menempuhnya.

Tetapi jangan sekali-kali sombong dan berkata, "Aku sudah bisa mutlak." Mutlak yang sejati adalah Kristus, mutlak yang sejati adalah diri Tuhan sendiri. Diri kita hanyalah sekadar membiarkan Dia tersalur keluar. Saya yakin pada akhir zaman ini, jika hati manusia seratus persen terarah kepada Tuhan, Tuhan pasti akan melakukan perkara yang lebih besar. Jika Anda sungguh-sungguh mau membayar harga, sungguh-sungguh mau meletakkan segalanya ke depan kakiNya, Anda bisa menempuh jalan ini.

Kita selalu berkata, bahwa kita sangat memerlukan Tuhan, sangat memerlukan kasih karuniaNya, sangat membutuhkan belaskasihanNya. Saya tidak takut berkelebihan mengucapkan kata-kata semacam ini. Jika pada menit ini kita meninggalkan Tuhan, menit ini juga kita akan mati. Jika ingin mencari perkenan Tuhan, selain jalan ini, tidak ada jalan lainnya lagi. Hari ini Anda bisa berkata, "Di dalamku ada satu hati yang mutlak", Andapun bisa berkata, "Ya, Allah, Engkaulah yang telah bekerja."

Han ini, saya telah membentangkan permintaan Allah ke hadapan saudara saudari, siapa yang mau datang ke hadapan Allah untuk menyerahkan seluruh hatinya kepada Allah, dan hanya mau diri Allah sendiri? Allah hanya mau Anda sedemikian terhadapNya; ketika ujian datang, Allah akan memberi kekuatan kepada Anda. Jika Anda benar-benar mau, Allah pasti bekerja.

Pada zaman Perjanjian Lama, ada Musa yang melepaskan segala kemuliaan Mesir, ia lebih senang menderita Sengsara bersama umat Allah. Pada zaman Perjanjian Baru ada Paulus yang memandang segala sesuatu bagaikan sampah, agar bisa mendapatkan Kristus. Mereka adalah orang-orang yang mutlak. Terlebih dulu hati terarah mutlak kepada Allah, kemudian ternyata dalam tindakan. Kiranya Allah merahmati kita, agar kita menjadi seorang yang mutlak terhadapNya!

DUA BELAS BAKUL