Daftar isi Dua Belas Bakul (10) · bab 10/12

Empat Minister dalam Perjanjian Baru

Pembacaan Alkitab:

Kisah Para Rasul 9:20-28; Matius 4:18-22; Efesus 1:22-23; 2:22; I Petrus 2:3-5; I Yohanes 2:12-13; Yohanes 21:18,21;

Kisah Para Rasul 28:23; II Timotius 1:15; II Petrus 2:1; I Yohanes 4:1; II Yohanes 7

Dalam berita ini saya ingin membahas empat minister (pelayan) yang berbeda dalam Perjanjian Baru. Kata "minister" ini menurut bahasa Yunaninya, bukan hanya mengacu kepada kepengurusan kepenatuaan, juga mengacu kepada semua orang yang melayani. Setiap orang yang bekerja bagi Allah dan bagi pekerjaan Injil adalah minister. Sebab itu ketika kita menyinggung empat minister, yang kita maksudkan adalah ada empat orang pekerja. Dalam ayat-ayat Alkitab yang telah kita baca di atas, terdapat empat garis yang berbeda yang dibentangkan di hadapan kita. Keempat garis ini adalah empat garis besar dalam kitab Perjanjian Baru. Kita menyebut keempat orang yang membawakan keempat garis tersebut sebagai empat minister.

Ada satu perkara yang istimewa dalam Perjanjian Baru, yaitu di antara dua belas murid Tuhan, ada tiga orang yang sering bersama-sama dengan Tuhan. Siapakah nama ketiga murid itu? Saya yakin Anda semua mengetahuinya; mereka adalah Yakobus, Petrus, dan Yohanes. Mereka bertiga pernah melihat Tuhan berubah rupa di gunung perubahan, bersama Tuhan ke rumah Yairus, terakhir ketika Tuhan di taman Getsemani, mereka juga bersama Tuhan di sana. Mengapa Tuhan hanya memilih mereka dari antara kedua belas muridNya? Mengapa Tuhan menempatkan mereka pada kedudukan yang lebih menonjol? Ini dikarenakan Allah ingin melalui mereka menyatakan perkara Allah, bahwa dalam Perjanjian Baru terdapat tiga garis yang berbeda. Tetapi, cukupkah setelah ada tiga garis itu? Tidak! Masih belum cukup. Ketika kita membaca Kisah Para Rasul, kita tampak, bahwa Tuhan membawa masuk satu orang lagi diluar ketiga orang tadi. Siapakah orang ini? Apakah dia Matias? Bukan, meskipun Matias telah dipilih untuk menjadi rasul yang ditambahkan, tetapi orang keempat itu bukan dia. Siapakah dia? Kita semua tahu, orang itu adalah saudara kita yang kekasih, Paulus. Paulus adalah seorang yang khusus dipilih oleh Tuhan. Meskipun dalam seluruh Perjanjian Baru banyak orang yang bekerja bagi Tuhan, tetapi yang berdiri pada kedudukan khusus hanyalah keempat orang ini. Selain mereka tidak ada lagi. Menurut urutan Alkitab, keempat orang ini berurutan sebagai berikut: pertama Yakobus, kedua Petrus, ketiga Paulus, keempat Yohanes. Inilah urutan yang tepat dari Alkitab, yang diakui secara bersama oleh setiap orang saleh. Hari ini meskipun kita tidak bisa mengetahui lebih mendalam makna keempat garis ini, tetapi paling tidak kita bisa mengetahuinya sedikit. Meskipun tidak bisa tampak paling baik dan paling jelas, tetapi asal bisa tampak sedikit, itu sudah cukup membantu kita menempuh perjalanan di bumi ini.

1. YAKOBUS

Di antara keempat orang ini, Yakobus adalah orang yang paling tidak menonjol. Dia tidak pernah menulis satu surat kirimanpun. Surat kiriman Yakobus yang ada dalam Alkitab bukan ditulis olehnya, melainkan ditulis oleh Yakobus saudara Tuhan Yesus. Petrus dan Yohanes adalah orang yang bergairah; perjalanan pekerjaan mereka bisa kita lihat cukup banyak. Tetapi atas diri Yakobus tidak ada satu perkara istimewa yang ternyata, dia adalah seorang yang sangat tersembunyi. Lalu bagaimana dia bisa termasuk di dalam keempat orang yang khusus ini? Mengapa Tuhan memilih dia dan menaruhnya di antara keempat orang tersebut, sehingga dia menyatakan satu garis yang istimewa? Tidak lain karena yang dinyatakan Yakobus bukanlah masalah berkhotbah, menyembuhkan penyakit, atau mengadakan hal-hal mujizat dan karunia. Meskipun semuanya itu cukup baik, merupakan karunia-karunia, tetapi keistimewaan Yakobus tidak di sana. Sesungguhnya apakah yang dinyatakan Yakobus? O! Dia telah melakukan satu perkara yang sangat besar dan khusus, yaitu dia adalah orang pertama sebagai martir di antara para rasul. Yang paling istimewa dan yang paling penting di antara keempat garis ini, adalah menderita. Meskipun pekerjaan Petrus, Paulus, dan Yohanes tidak sama, tetapi ada satu garis yang sama, yaitu menderita, berdiri pada kedudukan ditolak. Karena itu menderita adalah perkara yang mendasar bagi setiap orang Kristen.

Hari ini banyak orang senang membaca surat-surat kiriman Paulus yang indah, mendengarkan bagaimana Petrus bekerja dengan gairah, bagaimana visi ajaib yang didapatkan oleh Yohanes, tetapi telah mengesampingkan dan melupakan Yakobus. Mereka tidak menyadari, bahwa segala pekerjaan haruslah berdasar pada Yakobus. Meskipun Petrus bisa dalam satu hari memimpin tiga ribu orang percaya Tuhan, Paulus di setiap tempat mendirikan gereja, jika tidak ada penderitaan Yakobus, Tuhan tidak bisa mendapatkan kepuasan. Karena Tuhan justru datang ke dunia adalah untuk berdiri pada kedudukan ditolak, jika kita tidak menderita bersamaNya, tak peduli kita melakukan pekerjaan yang betapa baik, tetap tidak bisa memuaskan hatiNya.

Mengapa Tuhan demikian menyembunyikan Yakobus? Karena asal Tuhan sedikit mengangkat tinggi keistimewaannya, itu sudah cukup. Misalnya, di hadapan kita di sini terdapat banyak kursi, ada beberapa lampu, beberapa meja. Kita telah terbiasa melihat benda-benda itu, tidak merasakan sesuatu yang istimewa. Tetapi jika pada suatu hari, semua benda yang ada di sini dipindahkan, hanya tertinggal sebuah meja yang kecil, saat itu siapapun yang masuk, tanpa kesepakatan terlebih dulu, pasti akan memperhatikan meja kecil itu. Ketika banyak orang berhimpun bersama, sedikitpun tidak terasa kekhususannya, tetapi ketika semua orang sudah pergi, maka orang yang tertinggal, menjadi satu-satunya orang yang patut diperhatikan. Demikian juga, Tuhan menyembunyikan semua karunia yang ada pada Yakobus, Tuhan hanya menyisakan bagian menderita darinya untuk ditonjolkan. Petrus berkata, bahwa kita harus mempersenjatai diri kita dengan tekad menderita (I Ptr. 4:1). Dengan menderita baru bisa mengalahkan segala sesuatu, baru bisa menggenapkan kehendak Allah yang kekal. Saudara saudari, izinkan saya berterus terang, setiap orang yang tidak mau menderita bersama Tuhan, jangan berharap ditinggikan bersama Tuhan; hanya orang yang menderita, yang patut diangkat tinggi, ingin diangkat tinggi, haruslah menempuh jejak seperti Yakobus.

Mengenai Yakobus, ada banyak kebenaran yang bisa membantu kita. Tetapi karena keterbatasan waktu, kita tidak menyingungnya di sini. Sekarang marilah kita melihat:

2. PETRUS

Sebelum kita membahas apakah yang dinyatakan oleh Petrus, marilah kita terlebih dulu melihat garis yang berbeda dari Petrus, Paulus, dan Yohanes. Meskipun pembahasan kita sedikit di sini dan sedikit di sana, membahasnya tidak beraturan, tetapi semuanya sangat penting. Dalam pembahasan ini kita tidak menuntut pembicaraan yang baik, hanya menuntut bisa memahaminya dengan baik.

Pekerjaan Petrus dan Paulus mutlak berbeda. Asal kita melihat Injil Markus, Injil Lukas, dan Kisah Para Rasul, kita akan tampak satu perbedaan yang mencolok. Yang ditulis oleh Markus adalah diterima oleh Petrus, sedangkan Lukas adalah orang yang mengikuti Paulus dan mencatatnya. Jika kita melihat kesaksian Petrus pada hari Pentakosta, melihat kesaksian yang dinyatakan oleh Paulus, segera terlihat titik berat yang berbeda yang tidak bisa digabungkan. Di pihak lain, pekerjaan Yohanes juga merupakan satu garis yang lain. Karunia yang Tuhan berikan kepada Yohanes berbeda dengan karunia yang diberikan kepada Petrus dan Paulus. Jika kita melihat Markus 16 dan Kisah Para Rasul 2, kita akan tahu bahwa pekerjaan yang dilakukan oleh Petrus hanya satu perkara, yaitu kerajaan Allah. Keistimewaan garis Petrus adalah garis kerajaan Allah. Bagaimana dengan Paulus? Saya yakin setiap orang yang benar-benar telah membaca seluruh tulisan Paulus pasti bisa menemukan, bahwa yang dinyatakan oleh Paulus tak lain ialah bangunan Allah; dengan kata lain, itu adalah gereja Allah. Semua kesaksian Paulus dalam sepanjang hidupnya, juga dalam pekerjaannya, berada pada butir ini. Yohanes lain lagi, dia selamanya tidak pernah membicarakan tentang gereja. Meskipun Petrus tidak membicarakan tentang gereja, tetapi dia masih menyinggung sedikit tentang perkara menilik dalam gereja, hanya saja tidak menyinggung masalah organisasi gereja. Tetapi Yohanes tidak menyinggungnya satu kalimatpun. Dia hanya berkata, "Hai bapa-bapa, hai pemuda, hai anak-anak." Apakah ini? Ini adalah kesaksian rumah Allah.

Demikianlah ada tiga garis yang sangat jelas yang menampakkan kepada kita:

1.

Petrus -- kerajaan Allah,

2.

Paulus -- bangunan Allah,

3.

Yohanes -- rumah Allah.

Jika kita bisa dengan jelas memahami ketiga garis ini, Allah akan memberi kita lebih banyak terang. Tetapi ini bukan berarti bahwa Petrus sedikitpun tidak pernah menyinggung tentang apa yang disinggung oleh Yohanes. Petrus juga menyinggung sedikit tentang rumah Allah, tetapi yang dia titik beratkan adalah kerajaan Allah. Sebaliknya, Paulus juga menyinggung sedikit tentang rumah Allah, Yohanes juga menyinggung sedikit tentang kerajaan Allah, hanya titik berat pembicaraan masing-masing adalah: Paulus di aspek gereja Allah, Yohanes di aspek rumah Allah. Ketiga garis ini tidak mutlak hanya menyinggung satu perkara, tetapi masing-masing memiliki kekhususannya sendiri. Karena judul yang kita bahas kali ini ruang lingkupnya begitu luas, mencakup seluruh Perjanjian Baru, maka kita tidak bisa membahasnya secara detail, kita hanya bisa menyinggungnya secara sekilas.

Petrus adalah permulaan. Yang pertama membuka mulut dalam Kekristenan adalah Petrus. Yang terakhir berbicara adalah Yohanes. Kitab Wahyu yang ditulis Yohanes merupakan kitab yang terakhir dari keenam puluh enam kitab dalam Alkitab. Bagaimana dengan Paulus? Dia berada di tengah-tengah antara Petrus dan Yohanes, menjadi seorang penengah di antara yang di depan dan di belakangnya. Ada kerajaan Allah, ada rumah Allah, di tengah-tengahnya ada bangunan Allah, inilah perkara yang Allah dirikan dalam Alkitab. Hari ini perkara yang paling kasihan ialah banyak orang merasa kabur dan bingung terhadap apakah kerajaan Allah, apakah rumah Allah. Mereka juga tidak mengerti tentang gereja Allah, hanya mengetahui tentang organisasi manusia dan denominasi manusia. Jika orang bertanya, di manakah sebenarnya perbedaan antara kerajaan Allah, rumah Allah, dan bangunan Allah? Kebanyakan orang mengira masuk ke dalam gereja berarti masuk ke dalam rumah Allah, juga masuk ke dalam kerajaan Allah; semuanya sama saja, semuanya tidak begitu berbeda. Mereka tidak tahu sebenarnya di dalamnya ada perbedaan yang sangat besar. Karena itulah Allah memerlukan satu Petrus, satu Paulus, dan satu Yohanes, untuk menyatakan kerajaanNya, bangunanNya, dan rumahNya.

Tuhan memberikan kunci kerajaan surga kepada Petrus, ini menyatakan bahwa Petrus akan melakukan pekerjaan membuka pintu, terlebih dahulu bagi orang Yahudi, kemudian bagi orang kafir. Hal ini akan kita singgung kemudian. Sekarang kita akan membahas, kalaupun kunci kerajaan surga sudah di tangan Petrus, tentunya dia adalah orang pertama yang masuk ke dalam kerajaan surga. Karena kunci ada di tangannya, berada di bawah pengawasannya. Misalnya, kunci balai sidang ini ada di tangan saya, maka meskipun Anda datang ke balai sidang ini lebih pagi berapa lamapun, Anda terpaksa harus berdiri di luar pintu, menunggu saya datang dan membuka pintunya. Saya terlebih dahulu masuk, kemudian baru kalian mengikuti masuk. Seorang yang tidak memiliki kunci, pasti tidak bisa lebih dahulu masuk. Dipandang dari sudut ini, maka orang pertama yang memasuki lingkungan kerajaan surga adalah Petrus, ini sangatlah jelas.

Ada satu perkara yang mengherankan yang tercantum dalam Matius 16, ketika Tuhan berkata kepada Petrus, "Di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaatKu . . . kepadamu akan Kuberikan kunci kerajaan surga." Saudara saudari, bisakah Anda melihat perbedaan dalam ayat-ayat ini? O! Di sini ada satu titik yang sangat besar, yaitu Tuhan memberikan kunci kerajaan surga kepada Petrus, Petrus bisa mempengaruhi cepat atau lambat terbukanya pintu kerajaan surga; Petrus telah memikul tanggung jawab kerajaan surga. Lalu bagaimana dengan gereja? Tuhan berkata, "Di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaatKu." Tuhan sendiri yang akan membangun, tidak ada seorangpun yang bisa menjamahnya. Inilah perbedaan yang sangat jelas antara kerajaan surga dan gereja. Apakah kerajaan surga itu? Kerajaan surga adalah lingkungan rohani Allah di bumi. Kerajaan Allah menyatakan kekuasaan Allah, pengaturan Allah. Bangunan Allah mewakili sifat pribadi Allah, bagaimana Dia begitu mulia, begitu penuh kasih, begitu adil. Rumah Allah menyatakan kasih Allah, bagaimana hubungan kita dengan Allah. Kesemuanya itu ada seluk-beluknya masing-masing, tidak bisa dicampur-adukkan. Banyak orang memasukkan hal-hal itu ke dalam gereja; ini adalah milik gereja, itu juga milik gereja, semuanya dibawa masuk, seolah-olah gereja merupakan satu penampungan yang bisa menampung apa saja. Ini menyatakan ketidakpahaman terhadap kebenaran Alkitab.

Petrus hanya melakukan kesaksian kerajaan surga, yaitu membuka pintu agar orang masuk. Kita harus memperhatikan apa yang Tuhan katakan dalam Yohanes 3:5. Dia berkata, "Sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan roh, ia tidak dapat masuk ke dalam kerajaan Allah." Jika kita yang menulis ayat ini, kita tentu akan menulis, "Barangsiapa tidak dilahirkan dari air dan roh, ia tidak dapat masuk ke dalam rumah Allah." Tetapi bukan demikian, yang disebut di sini adalah "kerajaan Allah." Jadi orang yang bisa masuk ke dalam kerajaan Allah, pastilah orang yang telah dilahirkan kembali. Hanya orang yang telah dilahirkan kembali, baru masuk ke dalam kerajaan Allah. Kunci yang Petrus pakai pada hari Pentakosta adalah pertobatan dan pembaptisan, karena itulah ada tiga ribu orang masuk ke dalam kerajaan Allah. Inilah permulaan kerajaan Allah. Banyak orang berkata, bahwa gereja dimulai pada hari Pentakosta, ini tidak salah, tetapi mereka telah lupa bahwa kerajaan Allah juga dimulai pada hari Pentakosta. Kelak, ketika Petrus dalam suratnya menyinggung tentang keselamatan, pahala, dan lainnya, semuanya itu mutlak mengacu kepada kerajaan yang akan datang; tidak bertentangan dengan masuk ke dalam kerajaan Allah pada hari Pentakosta.

Apakah sudah cukup dengan pekerjaan pada hari Pentakosta? Tidak cukup. Allah masih mengutus Petrus pergi ke rumah Kornelius. Pada hari Pentakosta Petrus telah membuka pintu, telah masuk banyak orang-orang Yahudi, sekarang Tuhan menghendaki Petrus juga membuka pintu bagi orang kafir agar merekapun juga masuk ke dalam kerajaan Allah. Ini menggenapi apa yang dikatakan Tuhan dalam Matius 8, "Banyak orang akan datang dari timur dan barat dan duduk makan bersama-sama dalam kerajaan surga." Tetapi sebelum Petrus membuka pintu bagi orang kafir agar menerima karunia keselamatan, Allah telah menyediakan Paulus. Sebab itu dipandang dari sudut masa pekerjaan Petrus, pekerjaannya sudah selesai pada rumah Kornelius. Di kemudian hari, meskipun Petrus masih melakukan banyak kesaksian, dipandang dari sudut waktunya, pekerjaannya telah selesai. Renungkanlah betapa ajaibnya ini. Dalam Kisah Para Rasul 10 Petrus pergi ke rumah Kornelius, tetapi dalam pasal 9 Paulus sudah bertobat.

Paulus tadinya adalah seorang yang sangat bergairah menganiaya Tuhan, tetapi ketika dia pergi ke Damaskus, Tuhan dengan terang menyoroti dirinya sehingga ia beroleh kasih karunia. Ketika matanya belum tercelik, Tuhan mengutus Ananias berkata kepadanya, bahwa ia adalah bejana pilihanNya. Perkataan ini menyatakan kehendak hati Tuhan. Karena kerajaan Allah itu besar, Petrus sudah membawa masuk banyak orang, sekarang perlu ada seseorang yang bisa menerima dan mengaturnya. Karena inilah Tuhan membangunkan Paulus, memakainya sebagai satu bejana. Perkataan Ananias sungguh baik, dia berkata, "Saudara Saulus," perkataan ini menyatakan bahwa semua dengki dan benci telah tersingkirkan. Hanya demikianlah, Paulus bisa bersaksi bagi Tuhan, bisa berguna di dalam pekerjaan. Kemudian, kita melihat Paulus bekerja baik di dalam kota maupun di luar kota, lingkupan pekerjaannya telah diperluas. Bagaimana dia turun dari tembok kota? Murid-murid menurunkannya dari atas tembok kota dengan sebuah keranjang. Meskipun sebenarnya Paulus bisa turun sendiri dari atas tembok kota, tetapi dia tidak melakukannya. Dia rela diturunkan oleh murid-murid dengan sebuah keranjang, inilah persekutuan, bantuan, dan persetujuan para saudara. Paulus tidak keluar secara individual dan secara pribadi, melainkan di belakangnya ada orang yang bersimpati kepadanya. Karena itu terhadap banyak perkara, jika di belakangnya ada orang yang berdoa, menunjang, pasti akan mendapatkan hasil yang lebih besar. Permulaannya ketika Paulus datang di Yerusalem, para murid menaruh sedikit prasangka terhadapnya, tetapi akhirnya Paulus bisa keluar masuk di antara mereka, dengan mereka memiliki persekutuan yang mutlak, sedikitpun tidak ada halangan, demikianlah dia mulai meneruskan pekerjaan Petrus.

Sekarang kita akan kembali membicarakan Petrus. Ketika Tuhan memanggil Petrus untuk pergi ke rumah Kornelius, sebenarnya ia tidak mau pergi. Tuhan lalu memberinya satu penglihatan, yaitu tertampak olehnya langit terbuka dan turunlah suatu benda berbentuk kain lebar, di dalamnya terdapat berbagai binatang berkaki empat, binatang menjalar, dan burung. Di dalam kain lebar itu justru tidak ada ikan. Mengapa? Binatang berkaki empat, binatang menjalar, burung, dan ikan, adalah benda-benda yang sering kita lihat; bagaimana di sini hanya menyinggung binatang berkaki empat, binatang menjalar, dan burung, sedangkan ikan terlewatkan? Ini dikarenakan sesuai dengan yang dilambangkan oleh bahtera Nub, di sana tidak ada ikan yang mendapatkan penebusan keselamatan. Di antara yang diselamatkan Allah melalui bahtera tidak terdapat ikan, karena itu dalam apa yang Allah perlihatkan kepada Petrus juga tidak ada ikan.

Apakah arti kain lebar dengan binatang berkaki empat, binatang menjalar, dan burung itu? Marilah kita memperhatikannya sejenak. Kain lebar itu melambangkan semua pekerjaan Petrus. Ruang lingkup pekerjaan Petrus bukanlah "sebuah bejana" yang hanya bisa menampung sedikit benda-benda. Juga tidak seperti perahu, yang memiliki batasan tertentu. Itu adalah sebuah kain lebar, kain lebar yang luas. Apakah artinya kain? Kain berarti belum memiliki bentuk tertentu, masih belum memiliki model, masih merupakan satu bahan yang mentah. Dalam pekerjaan Petrus, dia tidak mempermasalahkan apa yang dibawa masuk, asal bahan, bisa masuk. Lalu siapakah yang membentuk bahan-bahan itu agar menjadi suatu bentuk? Paulus. Dia khusus melakukan pekerjaan pembenahan. Ini seakan-akan menunjukkan Petrus yang membeli lain, kemudian Paulus adalah seorang tukang jahit yang ternama. Kita harus melihat jelas hal ini. Dalam seumur hidup pekerjaan Petrus, ia seperti kain, tetapi tidak memiliki lingkupan bentuk.

Sekarang mari kita melihat apakah ketiga macam benda yang terdapat dalam kain lebar itu. Burung adalah binatang yang paling memiliki aktivitas, adakalanya beterbangan ke sana ke mari, adakalanya bertengger di dahan pohon atau di atap rumah, atau meloncat dan berjalan di tanah, bebas sedemikian rupa sehingga tidak bisa lebih bebas lagi, sedikitpun tidak terkena pembatasan, karena itu boleh disebut yang paling liar. Lalu bagaimana dengan binatang berkaki empat? Ini mengacu kepada sesuatu yang ganas, yang hebat. Bagaimana dengan binatang melata? Saya yakin kita semua tabu bahwa ini mengacu kepada sesuatu yang najis. Dalam pandangan Allah, orang kafir tidak lain adalah binatang berkaki empat, binatang melata, dan burung. Lalu bagaimana sekarang? Allah dengan kain yang lebar telah menampung kita semua, yakni orang-orang yang demikian liar, ganas, dan najis. Allah menaruh kita ke dalam satu suasana yang baru, tidak lagi memandang kita sebagai binatang berkaki empat, atau sebagai burung, atau sebagai binatang yang melata. Dalam Alkitab hanya ada ]njil kerajaan surga, tidak ada Injil gereja. Bukan setelah mendengar Injil lalu masuk ke dalam gereja, melainkan masuk ke dalam kerajaan Allah. Masuk ke dalam satu lingkungan yang baru, ke dalam satu dunia yang baru. Dahulu Anda berada di bawah tangan Iblis, tetapi sekarang telah berada di bawah tangan Allah. Apakah yang disebut beroleh selamat? Beroleh selamat ialah Allah membuat Anda berdiri pada satu kedudukan yang baru. Hari ini ada orang melihat gereja secara berlebihan -- mengira asal masuk gereja maka semuanya ada, semuanya dapat, -- namun telah melupakan perkara masuk ke dalam kerajaan Allah. Beroleh selamat tidak hanya masuk gereja, bahkan masuk ke dalam kerajaan Allah. Menjadi anak-anak Allah berarti memiliki suatu kuasa (Yoh. 1:12), bukan berdasarkan kekuatan, melainkan berdasarkan kuasa. Sebab itu setiap orang yang percaya boleh masuk, karena ini bukan berdasarkan diri sendiri berbuat sesuatu, melainkan berdasarkan kuasa yang dikaruniakan Allah. Semua pekerjaan yang dari luar dibawa masuk ke dalam adalah pekerjaan Petrus. Dengan kata lain, pekerjaan Petrus adalah memimpin orang masuk ke dalam kerajaan Allah. Masuk ke dalam kerajaan Allah berarti tunduk di bawah kuasa Allah. Petrus khusus melakukan pekerjaan membawa masuk satu bungkus demi satu bungkus kain lebar. Membawa masuk satu, berarti di dalam kerajaan Allah bertambah umatnya. Setiap orang yang ingin berbuat ini dan itu di dalam kerajaan Allah, ia tidak akan berguna. Perlu Paulus yang memikul tanggung jawab ini. Pekerjaan Paulus ialah mengatur dan menata orang-orang yang dibawa oleh Petrus. Dapatkah kalian menemukan kata-kata dilahirkan kembali dari dalam surat-surat kiriman Paulus? Tidak. Paulus memang membicarakan pembenaran, tetapi dia tidak membicarakan tentang dilahirkan kembali. Bagaimana dengan Petrus? Dia paling banyak membicarakan perkara dilahirkan kembali. Kata "warisan/jaminan" banyak kali disinggung oleh Petrus, Paulus hanya menyinggung beberapa kali, sedang Yohanes tidak menyinggungnya. Yohanes khusus menitikberatkan tentang rumah Allah. Jadi, dengan kata yang paling sederhana boleh dikatakan, kerajaan Allah adalah lingkungan yang berada di bawah kekuasaan Allah.

Perkara tentang kerajaan Allah banyak kali disinggung dalam Kisah Para Rasul. Paulus juga menyinggungnya beberapa kali; karena orang-orang yang beroleh selamat dan masuk ke dalam kerajaan Allah pada waktu itu sangat banyak. Jika kita sudah mengetahui hal ini pada hari kita beroleh selamat, ini sungguh baik. Sekarang keadaan kita kurang baik dikarenakan diri kita sendiri. Semuanya hanya berpusat pada diri sendiri. Memang Allah memberkati Anda, tetapi Allah terlebih-lebih mau supaya Anda mau masuk ke dalam kerajaanNya dan berada di bawah pengaturanNya. O, saudara saudari, beroleh selamat bukan untuk menikmati berkat, melainkan Allah akan dengan kuasanya menanggulangi Anda. Tadinya Anda adalah orang yang sembarangan, dengan sembrono menempuh hari-hari Anda, kini Allah mau supaya Anda taat kepadaNya. Setelah beroleh selamat tidak lagi sembarangan, melainkan telah terkendali. Beroleh selamat tidak lain adalah Roh Kudus telah memberi Anda satu kuk; Anda mau beroleh selamat, maka dia menaruh kuk di atas diri Anda. Begitu Anda memiliki kuk, Anda adalah seorang yang beroleh selamat. Dipandang dari sudut daging, Allah menolong manusia tidak semuanya baik, karena Allah akan membawa Anda ke bawah kekuasaanNya. Semua inilah yang menjadi pekerjaan Petrus, tak peduli burung, binatang berkaki empat, atau binatang melata, semuanya bisa dimasukkan, semuanya bisa dibawa masuk ke dalam kerajaan Allah.

3. PAULUS

Paulus adalah orang yang melanjutkan pekerjaan Petrus. Karena itu dia sendiri berkata, bahwa dirinya adalah seorang ahli bangunan, untuk mendirikan suatu bangunan. Kita tahu bahwa segala ajaran, doktrin, kehendak, semuanya terkumpul pada surat Efesus yang ditulisnya. Garis besar surat Efesus ialah bangunan Allah. Sekarang semua benda yang telah dibawa masuk akan diatur, ditata dengan baik. Pekerjaan Paulus adalah menata. Misalnya, kitab Roma membicarakan pembenaran, bagaimana menang, bagaimana taat. Semua ini bukanlah jalan untuk masuk ke dalam kerajaan Allah. Semua ini adalah pengukiran, adalah pengubahan dalam bentuk. Perkataan yang terakhir ialah mempersembahkan diri sendiri agar mutlak bagi Allah. Yang Paulus katakan dalam surat Korintus ialah apa yang harus dilakukan oleh seseorang yang telah menaklukkan dirinya kepada Allah dan telah masuk ke dalam kerajaan Allah. Itulah sebabnya dia di sana memberitahu kita tentang gereja, pemecahan roti, pernikahan, hubungan satu sama lain; bagaimana menerima kaum saleh, bagaimana bersekutu, dan banyak perkara prosedur lainnya. Ini berarti bahwa ia telah mengambil Bunting, memotong kain lebar itu, agar dia bisa memiliki satu bentuk tertentu, menerima satu pembatasan tertentu; benda dalam rumah segera memiliki tempat yang pasti. Apakah ini? Yaitu agar di atas diri Anda sebagai bangunan ini ternyata sifat Allah. Seseorang bersih atau kotor dapat dilihat dari rumahnya. Rumah merupakan perwakilan dari karakter seseorang. Tidak ada satu tempat yang lebih menyingkap karakter seseorang dengan sangat jelas daripada rumahnya. Misalnya, buku-buku dalam rak buku Anda berantakan; kulit-kulit, biji-bijian, sampah-sampah berserakan di ruangan; pagi-pagi bangun, selimut dibiarkan begitu saja, tidak dirapikan, di meja atau rak buku debunya tebal. Begitu seorang teman Anda masuk dan memeriksa sejenak, dia bisa dengan jelas mengetahui Anda adalah seorang yang bagaimana. Jika Anda ke rumah orang lain, itu tidak bisa menyingkapkan keadaan diri Anda. Tetapi rumah Anda sendiri dan segala sesuatu yang ada di dalamnya, dengan jelas menyingkapkan seluruh diri Anda. Karena rumah Anda adalah tempat peristirahatan Anda, tempat di mana Anda sering tinggal. Tempat itulah yang menyingkapkan Anda paling jelas, paling mutlak. Kesaksian yang dilakukan Petrus adalah membuat Anda menjadi umat dalam kerajaan Allah, agar Anda takluk di bawah kuasa kekuatan tanganNya. Bagian rinci lainnya tidak dipedulikannya; karena semuanya itu tidak berada di bawah lingkupan pekerjaannya, tidak perlu dia yang menangani. Paulus justru meneruskan pekerjaan ini. Anda lihat betapa Paulus sangat teliti, dia menyinggung bagaimana suami isteri harus saling mengasihi, bagaimana perlakuan majikan terhadap budak, bagaimana saudara saling mengasihi . . . , semua itu adalah perkara-perkara yang harus ada di dalam bangunan Allah, yang menyingkapkan apakah yang berkenan kepada Allah. Tidak hanya tentang hal-hal duniawi, juga tentang perkara-perkara persekutuan rohani, misalnya seperti bersidang, karunia, pemecahan roti, pengaturan administrasi, dan lain-lainnya; juga segala pengaturan gereja, merupakan apa yang digarapnya. Dia menjadi seorang pengatur, seorang penata.

Efesus 2:22 mengatakan, bahwa kita adalah bangunan Allah. Ini dengan sangat jelas memberitahu kita, bahwa gereja adalah bangunan Allah, setiap orang saleh adalah bagian dari bangunan ini, semuanya disatukan menjadi satu rumah. Satu orang sepertilah sebuah batu, sebuah kayu, atau sebuah genteng, semuanya harus menyatakan sifat Allah, demikianlah semuanya bersama-sama berkoordinasi menjadi bangunan rumah Allah. Allah membentangkan hal ini di hadapan kita agar kita mengetahui, bahwa kita masing-masing sebagai bagian dari bangunan Allah, misalnya sebagai sebuah kayu, haruslah menunaikan fungsi kayu tersebut untuk mengekspresikan sifat Allah.

Kalaupun telah ada dasar Petrus, juga ada pembangunan Paulus, apakah sudah cukup? Jika hanya ada dua garis yang dinyatakan oleh mereka, apakah perkara Allah sudah rampung? Tidak! Sekarang ada satu orang lagi yang masuk, orang ini adalah:

4. YOHANES

Yang dikatakan oleh Yohanes adalah bagaimana hubungan kita dengan Allah. Ini berkaitan dengan perkara dalam rumah Allah. Kesaksiannya penuh dengan hayat; tidak pernah membicarakan satupun perkara luaran. Cobalah Anda lihat dalam surat-suratnya, di manakah dia menyinggung bagaimana menjadi penatua, bagaimana menerima seseorang, bagaimana saudari harus bertudung kepala? Mengenai perbuatan tiap orang, dia hanya berkata, bahwa kalian harus saling mengasihi, selain ini dia tidak menyinggung apa-apa. Dengan perkataan yang lebih jelas, kesaksian Yohanes adalah di dalam ruang mahakudus, penuh dengan realitas rohani. Terhadap perkara yang di luar, dia sama sekali tidak menjamah. Yohanes terus-menerus menyinggung yang sesungguhnya, yang sejati, yang paling dalam. Sebab itu dalam surat-surat kirimannya, dan juga dalam surat Wahyu, perkataan "hayat" ini sangat banyak disebut. Kekhususannya adalah kebangunan setelah kegagalan. Sebab ketika Yohanes menulis surat-suratnya, perkara-perkara yang menyeleweng dan murtad sudah sangat banyak. Telah muncul banyak nabi-nabi palsu, kristus-kristus palsu. Manusia telah mendongkel, merobohkan kerajaan Allah menganggap bangunan Allah sebagai milik sendiri, hanya memiliki penampilan luaran, tanpa realitas. Karena itu Yohane: datang membicarakan perkara yang di dalam yaitu perkara hayat. Manusia bisa mendongkel kerajaan Allah, membongkar bangunan, tetapi hayat sekali-kali tidak bisa dibongkar, ia tetap ada di sana. Setelah ada realitas ini barulah semuanya cukup. Kesaksiannya adalah sebelum ada dunia, memimpin orang ke tempat yang paling dalam, tampak Allah adalah Allah yang bagaimana.

Di sini saya sedikit mengulas tiga macam garis. Petrus menyinggung tentang lingkungan yang baru, Paulus menyinggung tentang pengaturan yang baru, Yohanes menyinggung tentang hubungan yang baru, yaitu bagaimanakah hubungan antara bapa dengan anak. Anda dapat tampak dalam surat-surat kirimannya banyak menyinggung tentang bapa-bapa, pemuda-pemuda, anak-anak. Semuanya ini adalah orang-orang dalam suatu keluarga, yang saling berhubungan Paulus menyinggung tentang hukum Taurat dalam kedudukan baru, bagaimana harus taat kepada Allah, bagaimana menyatakan sifat Allah. Yohanes hanya berkata, "Bapa-bapa, pemuda-pemuda, anak-anak." Apakah ini? Inilah pertumbuhan dalam rumah Allah. Jadi, seluruh garis yang ada di dalam Perjanjian Baru tercakup dalam tiga garis ini. Misalnya, ingin mencari garis kerajaan, itu dapat dilihat dalam Matius, 1 dal II Petrus, Markus, dan sebagian dalam surat ibrani. Tentang gereja? Sangatlah lengkap tercantum dalam surat-surat kiriman Paulus. Di pihak lain, surat-surat kiriman Yohanes adalah tentang rumah Allah. Tetapi di sini perlu saya katakan sekali lagi, bahwa hal ini tidaklah mutlak, melainkan menyatakan butir apa yang menjadi titik berat mereka.

AWAL DAN AKHIR

Sekarang marilah kita melihat bagaimana ketiga garis ini dimulai, dan bagaimana diakhiri. Apakah yang sedang dilakukan oleh Petrus ketika Tuhan memanggilnya? Dia sedang menebarkan jala bersama Andreas saudaranya. Bagaimana dengan Yohanes? Dia sedang membereskan jala di atas perahu. Satu perkara yang mengherankan, Allah telah menentukan pekerjaan mereka dengan pasti pada saat mereka dipanggil. Ketika Petrus dipanggil, ia sedang menebarkan jala. Karena itu dikemudian hari, ia selalu melakukan pekerjaan menebar jala. Pekerjaannya adalah sebagai pelopor, adalah yang di depan. Bagi orang Yahudi, dialah yang memulai; bagi orang kafir, dia pula orang yang pertama. Dia telah menebarkan jala, telah mendapatkan banyak orang Yahudi; dia juga telah menebarkan jala, mendapatkan banyak orang kafir. Tetapi kemudian jala itu (di hadapan manusia) telah robek, kerajaan telah ditolak oleh manusia, ikan-ikannya keluar. Karena itu Allah memanggil Yohanes untuk menambal jala, yaitu memulihkan kepada suasana lingkungan yang semula. Mari kita melihat Paulus ketika dipanggil, bagaimanakah Allah menetapkan dia? Ketika Paulus sedang berencana menganiaya orang Kristen, Allah telah meneranginya di jalan menuju ke Damaskus. Perkataan pertama yang ia utarakan kepada Tuhan ialah, "Tuhan, apakah yang harus kuperbuat?" Jadi pekerjaan Paulus ialah "Apakah yang harus ia perbuat." Dia tidak seperti Petrus yang dalam satu hari memimpin tiga ribu orang, lima ribu orang percaya Tuhan. Dia menyelamatkan seorang demi seorang, dua orang, paling banyak puluhan orang. Karena tujuannya bukan membawa masuk orang, melainkan membina orang. Judul pekerjaannya ialah bagaimana melakukan; bagaimana bekerja baru tidak salah. Bagaimana membangun suatu bangunan, bagaimana mengatur isinya, bagaimana menjahit baju, inilah pekerjaannya. Pekerjaan Paulus adalah membuat kemah. Kemah adalah tempat manusia berdiam. Secara rohani, Paulus juga sedang membangun kemah, tidak seperti Petrus yang hanya memiliki sebuah kain lebar, kain Paulus telah menjadi kemah.

Tetapi bagaimana sikap orang-orang terhadap pekerjaan ketiga orang tersebut? Ah! Sungguh tidak baik! Sangat tidak baik! Kita semua mau tak mau harus menghela napas panjang! Jika kita melihat keadaan akhir mereka, kita tampak bahwa orang-orang menolak kesaksian mereka. Dalam surat Petrus yang kedua kita tampak dengan jelas. Dalam pasal 2 dikatakan bahwa nabi-nabi palsu telah masuk, mereka khusus melakukan pekerjaan yang munafik. Karena itu Petrus mengatakan bahwa mereka seperti anjing, babi, melakukan pekerjaan yang mendatangkan kekacauan, menutupi kerajaan Allah. Dalam pasal 3, para pengejekpun telah masuk. Mereka tidak memandang apa yang diberitakan oleh Petrus, menganggap pekerjaan Petrus sebagai perkara yang membencikan dan memalukan. Kesaksian kerajaan telah ditolak orang. Tahukah Anda alasan Petrus menulis surat kirimannya yang kedua? Dikarenakan surat kirimannya yang pertama telah ditolak orang, disingkirkan orang, karena itu mau tak mau dia harus menulisnya lagi. Apa yang ditulisnya di dalam suratnya yang kedua adalah kesaksian tentang keadaannya yang terakhir. Bagaimana keadaan orang yang menolak dirinya telah diungkapkan dengan jelas. Ah! Pada saat Petrus hidup, sudah begitu, apalagi pada zaman sekarang menjelang abad kedua puluh. Terhadap kesaksian kerajaan, sedikit sekali orang yang telah mendengar dan tidak menentangnya, sedikit sekali orang yang tidak mengatakan bahwa kita adalah orang yang bodoh. Tidaklah heran ada begitu banyak orang yang hanya membicarakan kerajaan secara idealis, tidaklah heran kebenaran yang munafik memenuhi di segala tempat. O! Ternyata pada zaman Petrus, keadaan ini telah muncul. Karena itu jika hari ini ada keadaan tersebut tidaklah mengherankan, tidak terhitung istimewa.

Tidak hanya akhir dari Petrus demikian, Paulus juga tidak jauh berbeda. Surat terakhir yang ditulisnya adalah II Timotius. Karena tiga, lima tahun kemudian dia meninggal dunia. Dan kitab ini kita bisa tampak bagaimanakah keadaan akhirnya. Dia berkata, bahwa orang-orang di Asia telah meninggalkan dirinya. Syarat untuk mengekspresikan Tuhan sangat sulit, terlalu membatasi, sungguh tidak tertahankan. Saudara saudari, ketika Paulus dan Petrus meninggal, keadaan lahiriah gereja sudah gagal total tak berupa lagi, sudah berada dalam keadaan gereja-gereja yang tercantum dalam kitab Wahyu pasal 2 dan 3, apalagi hari ini? Masih ada kitab Filipi; kitab ini ditulis oleh Paulus pada waktu ia sudah lanjut umurnya. Apa yang Paulus katakan? Dia berkata, "Setiap orang hanya memperhatikan dirinya sendiri." Orang telah mengesampingkan kesaksian Paulus. Perkara diri sendiri sangat penting, karena itu perkara Tuhan dikesampingkan. Telah sibuk mengurusi sendiri, sebab itu tidak bisa mengurusi urusan Tuhan. Urusan sendiri sudah tidak tertangani, apalagi membicarakan urusan Tuhan, lebih baik tidak menanyakannya dan tidak menyinggungnya! Kesaksian Paulus telah ditolak orang, juga dikesampingkan orang. Itulah sebabnya dalam kata-kata yang terakhir dia berkata, bahwa kaum saleh perlu berjaga- jaga, senantiasa waspada terhadap penyusupan orang-orang yang sesat. Demikianlah kesudahan dari akhir pekerjaannya.

Jika demikian, kesaksian yang di luar ini secara lahiriah seolah-olah telah gagal total. Inilah saatnya Tuhan memakai Yohanes. Tuhan menyuruhnya melakukan apa? Tidak lain supaya Yohanes melakukan pekerjaan yang batiniah. Apakah yang ditulis Yohanes dalam Injilnya? Dia tidak seperti Matius yang begitu memperhatikan doktrin; tidak seperti Lukas yang begitu memperhatikan moralitas; juga tidak seperti Markus yang begitu mencatat sejarah. Dia hanya mencatat bahwa hubungan antara Allah dengan kita adalah hubungan bapa dengan anak. Dia tidak menulis bagaimana dimulai dari Adam, dia tidak menulis bagaimana dimulai dari Abraham. Dia menulis mulai dari Yesus Kristus, dimulai sejak awal, sejak pada mulanya. Karena secara lahiriah telah gagal. Adam, Abraham, tidak bisa dipulihkan lagi. Sekarang perlu pada mulanya. Siapa yang bisa menggoyang pada mulanya itu? Tidak ada! Kekekalan yang lampau tidak bisa digoyangkan. Segala yang berasal dari Allah selamanya tidak bisa digoyangkan. Injil Yohanes adalah dimulai dari Firman yang ada sejak mulanya. Hal ini dinyatakan untuk membawa kita kembali kepada pola yang sebermula. Apakah yang pada sebermula itu? Yaitu hayat, terang, kasih. Semuanya ini adalah hal-hal yang tidak tergoyangkan, milik realitas, milik batiniah. Yohanes sama sekali tidak menyinggung perkara lahiriah. Bagaimana dengan suami dan isteri, hamba dan tuan, bersidang, semua itu tidak disinggungnya. Yang disinggungnya adalah perkara-perkara di pihak Allah, mutlak berkaitan dengan perkara batiniah. Jika kita tidak tampak perbedaan ini, kita tidak akan mengerti apa-apa, masih perlu waktu dan tenaga untuk mohon Tuhan, agar bisa tampak hal ini.

O! Saudara saudari, dikarenakan hari ini telah gagal total, secara lahiriah gereja telah menjadi gersang, telah terpecah-belah, maka kita perlu mohon Allah merahmati kita agar kita dengan khusus dan pasti kembali kepada apa yang dikatakan Yohanes. Jika tidak, segalanya akan kosong melompong. lni bukan berarti bahwa pekerjaan Petrus dan Paulus tidak berguna, melainkan kebutuhan mendesak hari ini bukan terletak pada yang lahiriah. Terlebih dahulu harus ada realitas batiniah, baru kemudian ada yang lahiriah. Kita harus mengenal, harus tahu, bahwa jala telah robek, tidak bisa dipakai lagi untuk menjala ikan. Sebab itu Allah mau supaya Yohanes menambalnya. Yang ditambahkan bukanlah hal yang baru, bukan yang baru ditemukan, melainkan yang tadinya sudah ada, yang sejak mulanya sudah ada. Sebab itu dia berkata, "Apa yang kuberikan kepada kamu adalah yang telah kamu ketahui. Kalian bukan tidak tahu, melainkan telah tahu, tetapi telah pula melupakannya."

Apa yang dimaksud dengan menambal? Menambal bukanlah mengganti sebuah jala baru, melainkan membuat sesuatu yang telah robek dipulihkan kepada keadaan yang semula. Dengan perkataan lain, ini berarti mengambil sebagian dari yang semula untuk menutupi lobang-lobang. Hari ini yang paling diperlukan adalah kembali ke pihak Allah, mendapatkan hayat, mendapatkan kekuatan rohani, bagaimana bisa mengalahkan dunia, mengalahkan musuh. Inilah realitas rohani. Perlu memegang erat semuanya ini, setelah ini baru bisa kembali kepada Paulus, kembali kepada kesaksian Petrus. Jika tidak terlebih dulu kembali kepada Yohanes, maka tidak bisa kembali kepada Paulus, tidak bisa kembali kepada Petrus. Jala telah robek, bagaimana bisa dipakai untuk menjala ikan lagi? Sebab itu terlebih dulu harus menambal jala, terlebih dulu memegang realitasnya, kemudian baru melakukan pekerjaan yang lain.

Terakhir masih ada tiga ayat Alkitab yang perlu kita perhatikan. "Orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki" (Yoh. 21:18). lnilah akhir dari Petrus yang dikatakan oleh Tuhan Yesus. Petrus adalah orang yang sangat perkasa! Demi Tuhan ia terus memberitakan injil, bahkan sampai akhirnya, ia dipaku terbalik di atas salib; ia begitu gagah berani. Tetapi bagaimana Tuhan berkata tentang dia? Tuhan berkata, bahwa dia akan diikat orang, dibawa ke tempat yang tidak dia inginkan. Lihatlah, dia telah dibawa ke Katolik dan di sana dijadikan Paus, menduduki takhta di Roma. Di satu bangunan yang tinggi besar, tertulis dengan huruf besar SANTO PETRUS. Banyak tokoh-tokoh yang menyanjung dia, menjunjung dia . . . , tetapi relakah Petrus? Ah, dia sungguh tidak rela, dia sangat tidak rela. Dia benar-benar tidak pernah berpikir bahwa hari ini akan demikian disanjung-sanjung. Dia benar-benar tidak bisa duduk di atas takhta yang begitu tinggi. Tetapi apa daya, dia telah diikat orang dan dikendalikan orang. Wewenang Petrus hari ini mutlak telah dipakai oleh negara atau kalangan swasta, sedangkan kesaksiannya mutlak telah terkubur oleh semuanya itu. O! Saudara saudari, hari ini berapa banyak orang yang mengetahui bahwa Petrus telah terbelenggu? Mereka memandang beroleh selamat adalah satu perkara yang paling membebaskan, paling menggembirakan. Tidak salah, beroleh selamat adalah satu perkara yang benar-benar membebaskan, tetapi beroleh selamat bukan untuk menikmati kegembiraan yang mereka maksud, bukan menuruti sendiri, melainkan akan tunduk di bawah wewenang Allah, demikian baru benar.

Sekarang mari kita lihat bagaimana akhir dari Paulus. "Paulus tinggal dua tahun penuh di rumah yang disewanya sendiri itu" (Kis. 28:30). Masa akhirnya lebih tidak baik, bahkan rumahpun harus ia sewa sendiri. Tadinya ia boleh tinggal di Efesus, tinggal di Korintus. Tetapi sekarang dia tidak memiliki tempat tinggal yang tetap, tidak memiliki tempatnya sendiri untuk tinggal, terpaksa ia menyewa rumah. Kesaksiannya juga ditolak oleh orang. Karena itu dia terpaksa tinggal di rumah yang ia sewa sendiri, tidak lagi pergi keluar. Dahulu Paulus bisa datang ke tempat Anda, memberitakan firman ke tempat Anda, tetapi sekarang Anda tidak bisa tidak harus datang ke tempatnya. Jika Anda tidak berminat pergi, Anda tidak akan mendapatkan. Baik Anda percaya atau Anda tidak percaya, dia tidak akan datang mengganggu Anda, Anda sendiri yang harus memutuskan. Paulus telah dijatuhkan oleh orang yang telah memiliki kedudukan, dia telah dipenjarakan di penjara Roma. Sebab itu Anda sendirilah yang harus pergi mencari, barulah menemukan dia. Hari ini banyak orang Kristen yang hanya bisa membaca doa Bapa kami, atau pengakuan iman rasuli. Tetapi ketahuilah, semuanya itu adalah tempat tinggal diri sendiri, bukan tempat tinggal Paulus. Bukan sekadar adas manis dan jintan (Mat. 23:23), melainkan harus menurut makna sejati dari surat kiriman Paulus. Surat Korintus bukan hanya untuk orang-orang di Korintus, melainkan untuk semua gereja. Paulus sekarang telah disembunyikan oleh orang, tidak bisa keluar lagi. Marilah kita secepat mungkin mencari dia, berusaha mendapatkan makna sejati dari kesaksiannya, jangan lagi melewatkan dengan sembarangan. O! Saya ingin mengucapkan perkataan yang terus terang: Setiap orang yang tidak mau mengeluarkan tenaga dan usaha, selamanya tidak akan melihat Paulus; orang yang tidak mau mengeluarkan harga, selamanya tidak akan mendapatkan kebenaran.

Terakhir, kita melihat Yohanes. Dia dikucilkan di sebuah pulau. Apakah yang disebut pulau itu? Pulau berbeda dengan lautan, juga berbeda dengan daratan. Dikatakan laut, tapi juga bukan laut, karena pulau itu berdiri sendiri di lautan. Dikatakan daratan juga bukan, karena terlepas dan tidak berhubungan dengan daratan yang luas. Pulau tidak saja terlepas dari lautan juga terlepas dari daratan luas. Pulau merupakan satu tempat yang menyendiri. Apakah lautan itu? Lautan ialah dunia! Daratan ialah organisasi keagamaan dunia hari ini! Pulau tidak berhubungan dengan keduanya. Allah tidak berada di dalam dunia, Allah juga tidak berada di dalam organisasi yang besar milik manusia. Hasil yang terbaik dari manusia tidak lain hanya berupa tanah daratan yang luas. Tetapi Allah malah menaruh Yohanes di sebuah pulau, bukan di dalam dunia, juga bukan dalam organisasi manusia, melainkan di atas sebuah pulau. Apakah di sana dia merasa terkucil? Ah! Sungguh terkucil! Dia tidak memiliki kesenangan lautan dunia yang bergejolak, juga tidak memiliki kedamaian yang mantap dari tanah daratan. Dia sungguh-sungguh merasa terisolir. Tetapi aneh sekali, justru pada hari Tuhan, Yohanes di sana berada di dalam roh, digerakkan oleh Roh dan melihat satu visi yang besar, mendengarkan suara Tuhan Yesus, bahkan diangkat naik, betapa baiknya perkara ini. Meskipun tidak bisa menikmati kesenangan lautan, kedamaian daratan, tetapi dia memiliki penghiburan Tuhan, ini sudah lebih daripada cukup. Tidak ada satu orang yang berkaitan dengan lautan dan daratan luas bisa berkaitan dengan Tuhan. Satu orang Kristen yang tidak bisa melepaskan keagamaan, nama, selamanya tidak bisa pergi ke pulau tersebut.

O, saudara saudari, panggilan Tuhan adalah menghendaki kita pergi ke pulau. Tuhan menghendaki kita dengan sukarela melepaskan segala yang milik lahiriah, dengan diri sendiri datang menghampiri Dia. Meskipun tidak ada perahu yang pergi mengarungi lautan, juga tidak ada jembatan yang menghubungkan ke daratan, tetapi ada Roh Kudus yang membawa kita pergi. Meskipun dari empat penjuru tidak tembus, tetapi tembus dari atas. Jika tidak tembus dengan atas, tentunya ada perahu atau ada jembatan yang menghubungkan. Jika Anda masih memiliki jalan tembus yang lain, selamanya Anda tidak bisa mencapai pulau, juga tidak bisa mencapai surga. O! Kita harus pertama-tama berpaling ke Yohanes, terlebih dahulu berdiri di atas realitas ini, kemudian baru kembali ke pekerjaan Petrus dan Paulus, belajar bagaimana di atas pulau, di dalam rumah, terbelenggu. Semoga Tuhan memberkati kita.