PARA MINISTER DARI PERJANJIAN YANG BARU (14)
Pembacaan Alkitab: 2Kor. 7:2-16
Dalam 2Korintus 7:2-3 Paulus berkata, “Berilah tempat bagi kami di dalam hati kamu! Kami tidak pernah berbuat salah terhadap seorang pun, tidak seorang pun yang kami rugikan, dan kami tidak mencari untung dari seorang pun. Aku berkata demikian, bukan untuk menjatuhkan hukuman atas kamu, sebab tadi telah aku katakan bahwa kamu telah beroleh tempat di dalam hati kami, sehingga kita sehidup semati.” Perkataan Paulus di sini mewahyukan perhatiannya yang dalam dan akrab terhadap orang-orang Korintus. Ungkapan ini bukan sekadar sesuatu yang etis, agamawi, rohani, atau penuh kasih. Adalah mungkin mengatakan kasih dan merasakan kasih terhadap orang lain, tetapi tetap tidak memiliki banyak perhatian terhadap mereka. Kasih kita terhadap orang lain haruslah menjadi perhatian kita terhadap mereka. Paulus memiliki perhatian yang demikian terhadap kaum beriman di Korintus.
Seorang ibu bukan hanya memiliki kasih terhadap anaknya; ia juga memiliki perhatian yang dalam. Hanya perempuan yang memiliki perhatian yang demikian yang layak menjadi seorang ibu yang tepat. Seorang perempuan mungkin saja berpendidikan rendah, tetapi jika ia memiliki perhatian yang dalam terhadap anak-anaknya, maka ia layak menjadi seorang ibu yang baik. Memang, pengetahuan dan kecakapan sangat membantu, tetapi hal-hal itu bukan prasyarat. Prasyarat satu-satunya untuk menjadi seorang ibu yang baik adalah perhatian. Sama prinsipnya dengan memperhatikan gereja. Tidaklah memadai bila penatua hanya mengasihi gereja. Kasih ini harus menjadi perhatian yang dalam, yaitu perhatian terhadap semua orang muda dan orang-orang yang lemah. Perhatian ini membuat jerih lelah kita berbuah. Kita semua memerlukan perhatian yang demikian akrab terhadap orang lain.
Belum lama ini, ketika saya menggarap pasal ini, saya memikirkan perkataan apa yang dapat saya gunakan untuk menggambarkan perasaan Paulus. Saya sadar bahwa perkataan Paulus di sini bukan merupakan sesuatu yang etis, bermoral, agamawi, atau rohani saja. Apa yang ia katakan di sini adalah masalah perhatian yang akrab, dalam, lembut, dan perhatian penuh kasih terhadap kaum beriman. Dalam ayat 2 Paulus berkata, “Berilah tempat bagi kami di dalam hati kamu!” dan dalam ayat 3 ia menyatakan, “Kamu telah beroleh tempat di dalam hati kami, sehingga kita sehidup semati.” Ini bukanlah kata-kata manusia yang biasanya. Sebaliknya, ini adalah kata-kata yang berasal dari surga, kata-kata yang berasal dari hati Allah. Kerinduan Paulus hanyalah memiliki orang-orang Korintus di dalam hatinya, supaya ia dapat berada di dalam hati mereka. Kaum beriman di Korintus ada di dalam hati Paulus sehingga mereka sehidup semati. Ini benar-benar satu kata yang mengekspresikan suatu perhatian yang akrab.
Dalam ayat 8 Paulus selanjutnya berkata, “Jadi, meskipun aku telah menyedihkan hatimu dengan suratku itu, namun aku tidak menyesalkannya. Memang pernah aku menyesalkannya, karena aku lihat bahwa surat itu menyedihkan hatimu kendatipun untuk seketika saja lamanya.” Kata “surat” mengacu kepada surat rasul yang pertama kepada orang-orang Korintus. Perkataannya mengenai menyesal menunjukkan bahwa rasul tidak hanya berani dan berterus terang menegur kaum beriman di dalam surat pertamanya, tetapi juga akrab dan lembut terhadap mereka. Kata-kata “menyedihkan hatimu” dalam ayat 8 ini menunjukkan bahwa surat rasul yang pertama kepada kaum beriman di Korintus telah membuahkan hasil bagi mereka.
KATA-KATA YANG LUNAK DAN LEMBUT
Dalam ayat 8 Paulus memakai ekspresi “meskipun” sebanyak dua kali dan “memang” satu kali. Ia berkata, “meskipun aku telah menyedihkan hatimu,” “memang aku menyesalkannya,” dan “meskipun untuk seketika saja lamanya.” Mengapa Paulus terus berkata “meskipun”? Menurut pemahaman saya, jika kata-kata “meskipun” ini disingkirkan, maka perkataan Paulus dalam ayat ini akan terlalu keras. Penambahan frase “meskipun” membuat perkataannya menjadi lunak. Selain itu, tanpa pemakaian frase ini dalam ayat 8, Paulus akan dengan kuat membela diri dan berdebat demi dirinya sendiri. Dengan menambahkan “meskipun” dan “memang”, Paulus mengurangi kesan bahwa ia sedang membela dirinya sendiri.
Saudara-saudara yang telah menikah mungkin ingin belajar dari Paulus untuk menghindari perdebatan dengan istri mereka. Sewaktu seorang saudara berbicara kepada istrinya, ia mungkin merasa bahwa dengan memasukkan kata-kata “meskipun” ia dapat melunakkan perkataannya kepada istrinya sehingga tidak akan melukainya.
Selain itu, dengan frase “meskipun” ini Paulus memberikan satu rasa manis kepada perkataannya. Pemakaian “meskipun” oleh Paulus dalam ayat 8 ini mungkin dapat dibandingkan dengan menambahkan madu ke dalam secangkir teh. Sebagaimana rasa teh itu terlalu pahit tanpa madu, demikian juga kata-kata Paulus itu mungkin terlalu keras untuk diterima bila tanpa berulang-ulang memakai kata “meskipun”. Dengan memakai frase ini beberapa kali, Paulus membuat perkataannya menjadi lunak dan manis.
Sewaktu Paulus menulis kepada orang-orang Korintus, semua fakta dan argumentasi ada di pihaknya. Orang-orang Korintus tidak memiliki perkataan apa pun. Karena Paulus telah memenangkan permasalahan ini, maka ia dapat dengan mudah menulis sesuatu yang mungkin sangat sukar diterima oleh orang-orang Korintus. Karena itu, dalam menulis kepada mereka, ia bijaksana dan lembut.
Jika kita memiliki perhatian yang akrab, kita akan lembut terhadap orang lain. Seorang yang kasar dan tidak peka tidak akan memiliki perhatian yang akrab. Jika seorang suami tidak memiliki perhatian yang wajar terhadap istrinya, ia mungkin sangat tegas dan menuntutnya. Tetapi dengan perhatian yang akrab ia akan membuatnya menjadi lembut. Begitu kita menjadi lembut, cara pembicaraan kita pun akan lembut dan manis.
Ayat 8 ini benar-benar memiliki unsur kelembutan. Paulus berkata, “Jadi, meskipun aku telah menyedihkan hatimu dengan suratku itu, namun aku tidak menyesalkannya.” Di sini ada kelembutan. Tetapi misalnya Paulus berkata, “Dalam menulis surat yang pertama kepadamu, aku tidak melakukan apa pun yang salah dan aku tidak menyesalkannya.” Cara pembicaraan yang demikian tentunya akan menyakitkan. Namun, Paulus tidak mengekspresikan dirinya dengan cara demikian. Ia membuat perkataannya lunak dengan menambahkan frase “meskipun”. Dengan cara ini Paulus mengekspresikan perasaannya yang lembut terhadap kaum beriman.
Kita perlu terkesan dengan fakta bahwa cara pembicaraan Paulus dalam ayat ini lembut dan manis. Karena itu, tidak peduli apa yang ia katakan, ia tidak akan membuat sakit hati. Ekspresi yang dipakai Paulus dalam ayat 8 ini tidak akan menyakiti orang lain. Perkataannya tidak keras dan pahit, melainkan lembut dan manis.
Dalam menulis kepada orang-orang Korintus, Paulus tidak berbicara dengan tergesa-gesa. Sering kali ketika kita berbicara dengan tergesa-gesa, kita mengekspresikan kemarahan. Misalnya, jika seorang saudari mengeluh kepada suaminya tentang sesuatu yang dilakukan suaminya, maka suaminya itu mungkin akan dengan tergesa-gesa menjawab, “Apa salahku? Coba jelaskan, di mana salahku!” Perkataan yang demikian ini membangkitkan amarah. Seorang saudara lebih baik tidak berbicara dengan tergesa-gesa untuk menenangkan situasi dengan istrinya. Ia perlu berbicara dengan lembut, dan menyenangkan. Inilah cara Paulus menulis kepada orang-orang Korintus dalam pasal 7.
Dalam pasal ini kita tidak menemukan teologi, etika, atau agama. Kita bahkan tidak menemukan kerohanian. Tanpa pengalaman yang memadai, kita tidak akan dapat menggambarkan apa yang diwahyukan dalam 2Korintus 7. Saya memahami pasal ini bukan hanya melalui mempelajarinya, melainkan juga melalui pengalaman, sekalipun pengalaman saya terbatas. Dari pengalaman saya menyadari bahwa apa yang Paulus bicarakan di sini bukanlah teologi atau doktrin, etika atau moralitas, agama atau kerohanian. Ia menyampaikan perhatian yang dalam, lembut, dan akrab terhadap orang-orang Korintus. Perkataannya sangat menjamah.
Karena ekspresi Paulus itu lembut dan penuh dengan perhatian yang akrab, maka perkataannya memiliki kuasa dan pengaruh. Perkataan ini dapat menjamah kaum beriman dengan dalam. Amsal 25:15 mengatakan, “Lidah lembut mematahkan tulang.” Tulang yang keras pun dapat dipatahkan oleh perkataan yang lunak dan lembut. Dalam membicarakan kebenaran kepada orang-orang Korintus dan dalam menyajikan fakta-fakta, Paulus tahu bahwa ia sulit menghindar dari menjatuhkan hukuman kepada orang-orang Korintus. Tetapi perhatiannya yang lembut terhadap mereka membuat dia mengucapkan kata-kata yang lembut dan frase-frase yang manis. Kiranya kita semua belajar dari Paulus.
Dalam ayat 9 Paulus berkata, “Namun sekarang aku bersukacita, bukan karena kamu telah berdukacita, melainkan karena dukacitamu membuat kamu bertobat. Sebab dukacitamu itu adalah menurut kehendak Allah, sehingga kamu sedikit pun tidak dirugikan karena kami.” Pertobatan yang disinggung di sini adalah hasil yang diinginkan rasul dalam penulisan suratnya yang pertama. Surat rasul yang pertama membuat orang-orang Korintus sedih menurut kehendak Allah, bukan karena yang lain. Ini menunjukkan bahwa mereka telah dibawa kembali kepada Allah, didamaikan dengan Allah.
Sepertinya dalam ayat 9 ini Paulus hanya memiliki satu butir yang kurang penting, namun dengan penuh pertimbangan ia memperpanjang ekspresinya. Ini juga memperlihatkan perhatiannya yang lembut dan akrab.
Dalam ayat ini kita nampak bahwa roh Paulus itu lembut dan bahwa seluruh dirinya penuh dengan kemanis-an. Anda mungkin heran bagaimana kita mengetahui hal ini. Melalui apa yang dikatakan Paulus dalam ayat ini kita tahu bahwa ia adalah seorang yang lembut dengan satu roh yang lunak dan batin yang manis. Namun, ia tidak berpolitik atau berbasa-basi. Lembut, lunak, dan manis itu berbeda dengan berbasa-basi. Seseorang mungkin sangat pandai berbasa-basi, tetapi sama sekali tidak lunak atau manis. Berbasa-basi semacam itu sangat tidak cantik. Di satu pihak, seseorang mungkin saja berbasa-basi; tetapi di pihak lain, pada waktu yang sama ia mungkin keras, angkuh, dan sombong. Sebaliknya, Paulus tidak berbasa-basi atau bahkan lebih buruk lagi berpolitik. Ia lembut, lunak, dan manis.
DUKACITA MENURUT KEHENDAK ALLAH
Ayat 10 mengatakan, “Sebab dukacita menurut kehendak Allah menghasilkan pertobatan yang membawa keselamatan dan tidak akan disesalkan, tetapi dukacita yang dari dunia ini menghasilkan kematian.” Keselamatan di sini mengacu kepada didamaikan dengan Allah (5:20), menghasilkan lebih banyak hayat, yang berlawanan dengan maut. Melalui ini rasul melihat buah dari surat pertamanya kepada kaum beriman Korintus.
Dalam ayat 11 Paulus melanjutkan, “Sebab perhatikanlah betapa justru dukacita yang menurut kehendak Allah itu mengerjakan pada kamu kesungguhan yang besar, bahkan pembelaan diri, kejengkelan, ketakutan, kerinduan, semangat, penghukuman! Di dalam semuanya itu kamu telah membuktikan bahwa kamu tidak bersalah di dalam hal itu.” Dukacita menurut kehendak Allah menghasilkan kesungguhan di dalam orang-orang Korintus. Kata “kesungguhan” juga dapat diterjemahkan “kerajinan”. Mengacu kepada perhatian yang sungguh-sungguh dari kaum beriman Korintus yang bertobat terhadap rasul, karena perhatian kasih dari rasul atas hubungan mereka dengan Allah dan keadaan mereka di hadapan Allah. Tadinya, mereka tak peduli terhadap perhatian rasul kepada mereka; sekarang mereka telah bertobat, mereka lalu bersungguh-sungguh dan rajin terhadap hal ini. Seperti tercantum dalam ayat ini, ketujuh buah yang dihasilkan oleh kesedihan kaum beriman Korintus yang bertobat, semuanya adalah tuaian yang limpah dari surat rasul yang pertama kepada mereka.
TUJUH KATA YANG PENTING
Ayat 11 mengandung tujuh kata yang penting: kesungguhan yang besar, pembelaan diri, kejengkelan, ketakutan, kerinduan, semangat, penghukuman. Kata “bahkan” menurut bahasa aslinya muncul enam kali dalam ayat ini; secara harfiah kata Yunaninya berarti “tetapi”, dalam arti “tidak hanya itu, bahkan”. Jika kita membaca ayat ini dengan teliti, kita akan nampak bahwa kesungguhan itu berdiri sendiri, sedangkan keenam hasil terakhir dari kesedihan yang membawa pertobatan menurut kehendak Allah itu terbagi atas tiga pasang: yang pertama berhubungan dengan perasaan malu kaum beriman Korintus; yang kedua berhubungan dengan rasul; dan ketiga, berhubungan dengan si pelaku kesalahan (Bengel). Terjemahan Wuest juga menunjukkan hal ini dengan ungkapan “Ya, sebenarnya”, tiga kali digunakan sebagai berikut: “Ya, pembelaan lisan dari dirimu sendiri, sebenarnya, kejengkelan; ya, ketakutan, sebenarnya kerinduan; ya, bergairah, sebenarnya, pelaksanaan hukuman pendisiplinan.”
Kata kesungguhan dalam ayat 11 ini berarti perhatian yang sungguh-sungguh. Sepertinya Paulus berkata, “Hai orang-orang Korintus, kamu tidak memiliki perhatian terhadap kami para rasul, terutama terhadap aku. Tetapi dalam surat pertama yang kutulis kepada kamu, aku menegur kamu, dan hal itu membuatmu berdukacita menurut kehendak Allah. Dukacita yang demikian mengerjakan pertobatan kepada keselamatan. Ini menghasilkan perhatian yang sungguh-sungguh di dalam kamu terhadap kami. Sekarang kesungguhanmu terhadap kami telah dipulihkan. Ketika kali pertama aku datang melihat kamu, kamu benar-benar memiliki perhatian yang sungguh-sungguh terhadapku. Tetapi ada guru-guru palsu yang telah menyimpangkan kamu dan menyelewengkan kamu, membuat kamu meninggalkan perhatian yang sungguh-sungguh terhadap kami. Sekarang karena kesedihan yang menghasilkan pertobatan kepada keselamatan ini, kamu kembali memiliki perhatian yang sungguh-sungguh terhadap kami.”
Sebenarnya, Paulus menunjukkan kepada orang-orang Korintus kekurangan mereka, tetapi ia melakukannya dengan cara yang lembut, lunak, dan manis. Cara Paulus menyajikan fakta-fakta ini sangat lembut. Jika saya adalah salah satu dari orang beriman Korintus itu membaca perkataan ini, saya akan malu sekali karena telah disimpangkan dan diselewengkan dan telah kehilangan perhatian saya yang sungguh-sungguh terhadap rasul, yaitu orang yang melaluinya saya telah diselamatkan.
Kata Yunani untuk pembelaan dalam ayat 11 juga berarti menjelaskan, membela diri. Mengacu kepada kaum beriman Korintus membela diri terhadap Paulus melalui Titus, membuktikan mereka tidak bersalah dalam perkara itu. Setelah mengalami pertobatan kepada keselamatan, orang-orang Korintus sadar bahwa situasi gereja di Korintus itu salah. Dalam suratnya yang pertama Paulus telah menegur mereka dan menyuruh mereka untuk merendahkan diri. Kejahatan yang sangat serius telah terjadi di antara mereka, tetapi mereka tidak merasa malu. Sebaliknya, terhadap adanya dosa yang kotor seperti perbuatan sumbang, mereka bahkan memegahkan diri. Akibatnya, seluruh gereja ditegur. Karena kaum beriman di Korintus bertobat, maka mereka didamaikan dengan Allah dan ingin membela diri. Mereka bergairah untuk menjelaskan situasinya kepada Rasul Paulus.
Dalam ayat 11 Paulus juga menunjukkan kejengkelan orang-orang Korintus. Ini adalah kejengkelan pada kesalahan dan pelaku kesalahan. Ketika mereka berusaha membela diri, orang-orang Korintus ini jengkel. Mereka marah terhadap kesalahan dan terhadap orang yang telah melakukannya. Mereka tahu bahwa situasi mereka penuh dengan dosa, dan mereka bertobat karenanya, mereka ingin membela diri tentang hal itu, dan mereka juga jengkel karena hal itu. Perasaan jengkel mereka ada di samping pembelaan diri mereka, dan penjelasan mereka tentang diri mereka.
Dalam hubungannya dengan Paulus, orang-orang Korintus ini takut dan rindu. Mereka takut terhadap rasul, karena ia akan datang dengan cambuk (1Kor. 4:21). Tetapi mereka juga rindu kepadanya. Kaum beriman yang bertobat ini takut kepada rasul, tetapi juga rindu kepadanya. Sesungguhnya mereka ingin melihatnya lagi.
Dalam ayat 11 Paulus juga membicarakan tentang semangat (bergairah) dan penghukuman. Bergairah melaksanakan hukuman yang adil terhadap pelaku kejahatan, dan penghukuman yaitu pelaksanaan keadilan, melakukan keadilan terhadap semua pihak sebagai hukuman pendisiplinan (2:6).
Sekali lagi saya ingin menekankan bahwa perkataan Paulus mengenai situasi di Korintus ini penuh dengan kelembutan, lunak, dan manis. Sesungguhnya orang-orang Korintus itu disingkapkan. Namun, Paulus tidak keras dalam menulis surat kepada mereka. Ayat 8 penuh dengan unsur yang lunak, dan ayat 11 ini penuh dengan hikmat. Ayat 11 memaparkan tulisan Paulus yang terbaik. Ungkapan Yunani yang dipakai oleh Paulus sulit untuk diterjemahkan ke dalam bahasa apa pun, terutama dalam pemakaian kata tertentu yang “bahkan”, atau “memang”. Seperti yang telah kita lihat, kata Yunani ini berarti “tidak hanya itu, bahkan”.
Dalam ayat 11 kita memiliki penyajian yang menakjubkan dari situasi di Korintus. Dengan memakai tujuh kata ini kesungguhan, pembelaan diri, kejengkelan, ketakutan, kerinduan, semangat, dan penghukuman Paulus membuat kaum beriman di Korintus tahu situasi mereka yang sesungguhnya. Melalui berbicara secara demikian, Paulus membawa situasi itu ke permukaan dan menyajikan satu pandangan yang menyeluruh tentang situasi itu. Di sini kita nampak hikmat Paulus yang lembut. Tidak ada kekasaran atau kekerasan; sebaliknya, ada kemurnian, kelembutan, kelunakan, dan kemanisan. Perkataan Paulus penuh dengan perhatian yang akrab. Ia tidak menyakiti orang-orang Korintus, melainkan membalut mereka dan menyembuhkan luka-luka mereka. Inilah kehidupan yang menyuplai.
Belajar memberitakan Injil atau mengajarkan doktrin saja tidak cukup. Memang, Paulus adalah seorang pemberita Injil yang luar biasa dan seorang ahli teologi yang besar. Ia jelas mengetahui semua doktrin dalam Alkitab. Tetapi di sini ia tidak memakai kecakapannya dalam memberitakan atau memamerkan pengetahuannya tentang doktrin. Sebaliknya, dalam hikmat ia menunjukkan perhatiannya yang lembut dan akrab terhadap gereja di Korintus.
MENYATAKAN PERHATIAN
KAUM BERIMAN KORINTUS YANG
SUNGGUH-SUNGGUH TERHADAP PARA RASUL
Dalam ayat 12 Paulus selanjutnya berkata, “Sebab itu, jika aku telah menulis surat kepada kamu, maka bukanlah karena orang yang berbuat salah, atau karena orang yang menderita perbuatan salah, melainkan supaya kerelaanmu (kesungguhanmu) terhadap kami menjadi nyata bagi kamu di hadapan Allah.” Di sini Paulus mengatakan bahwa ia menulis kepada orang-orang Korintus bukan karena saudara yang melakukan perbuatan sumbang (1Kor. 5:1), yaitu orang yang melakukan kesalahan, ataupun karena ayah saudara itu, yaitu orang yang terkena perbuatan salah itu. Lalu mengapa Paulus menulis? Ia menuliskan hal itu dengan tujuan untuk menyatakan kepada mereka kesungguhan mereka atas diri para rasul. Kaum beriman Korintus benar-benar mengasihi para rasul dan sungguh-sungguh memperhatikan para rasul, tetapi mereka telah dipalingkan oleh pengajar-pengajar palsu. Karena itu, rasul menulis surat yang pertama untuk membawa mereka kembali, supaya kasih dan perhatian mereka yang sungguh-sungguh terhadap para rasul dapat terwujud pada mereka (2Kor. 7:7). Siapa yang akan membayangkan bahwa inilah alasan Paulus menulis kepada orang-orang Korintus? Ia menulis dengan tujuan untuk mewujudkan kepada mereka kesungguhan mereka terhadap para rasul. Betapa Paulus menyatakan hikmat dalam tulisannya! Maksud Paulus ialah, “Kaum beriman Korintus, ada satu kesungguhan di dalam kamu terhadap kami. Tetapi kesungguhan itu telah terkubur dan tidak terwujud. Aku menulis surat yang pertama untuk mewujudkan kepadamu perhatian yang sungguh-sungguh yang kamu miliki terhadap kami.”
TERHIBUR DAN LEBIH LAGI BERSUKACITA
Ayat 13 melanjutkan, “Sebab itulah kami menjadi terhibur. Selain penghiburan yang kami peroleh itu, kami lebih lagi bersukacita karena sukacita Titus, sebab kamu semua menyegarkan rohnya” (Tl.). Darby mengatakan, tidaklah mungkin kita menerjemahkan ungkapan Yunani di sini dengan tepat ke dalam bahasa Inggris. Paulus mengatakan bahwa ia lebih lagi bersukacita melampaui sukacita Titus. Hal itu menunjukkan bahwa rasul sangat manusiawi dan emosional ketika ia menyuplaikan hayat. Bagian yang besar ini, dari 2Korintus 2:12-7:16, adalah mengenai ministri perjanjian yang baru dari rasul dan diri mereka sendiri sebagai minister-minister perjanjian yang baru. Bagian ini dimulai dari keinginan rasul bertemu dengan Titus karena perhatian kasihnya terhadap kaum beriman Korintus (2:13), dan berakhir dengan terhiburnya dan terdorongnya rasul oleh kedatangan Titus yang membawa berita positif tentang orang-orang Korintus.
Dalam ayat 13 Paulus mengatakan bahwa roh Titus telah disegarkan oleh semua orang Korintus. Ini membuktikan walaupun para rasul sangat manusiawi dan emosional, mereka tetap tinggal di dalam roh mereka untuk menyuplaikan hayat.
Dalam ayat 14 Paulus berkata, “Aku memegahkan kamu kepadanya, dan kamu tidak mengecewakan aku. Kami senantiasa mengatakan apa yang benar kepada kamu, demikian juga kemegahan kami di hadapan Titus sudah ternyata benar.” Ini menunjukkan bahwa Paulus telah memegahkan orang-orang Korintus kepada Titus. Sekarang Paulus mengatakan bahwa kemegahannya di hadapan Titus sudah ternyata benar.
Ayat 15 mengatakan, “Dan kasihnya bertambah besar terhadap kamu, bilamana ia mengingat ketaatan kamu semua, bagaimana kamu menyambut kedatangannya dengan takut dan gentar.” Kata Yunani yang diterjemahkan “kasih” di sini secara harfiah berarti isi perut; kata Yunani yang sama seperti 6:12 untuk bagian dalam.
Dalam ayat 16 Paulus menutup, “Aku bersukacita, sebab aku dapat mempercayai kamu dalam segala hal.” Kata Yunani yang diterjemahkan “mempercayai kamu” dapat juga diterjemahkan “memiliki keyakinan di dalam kamu”. Sekarang rasul terhibur oleh kaum beriman Korintus dan dapat mempercayai mereka. Betapa dalam dan akrabnya perhatian Paulus terhadap mereka!