← Daftar isi 2 Korintus (3) · bab 4/19

PARA MINISTER DARI PERJANJIAN YANG BARU (13)

Pembacaan Alkitab: 2Kor. 7:2-7

Pasal 7 juga merupakan bagian dari pasal-pasal dalam 2Korintus mengenai para minister dari perjanjian yang baru. Dalam bagian ini Paulus menggambarkan kehidupan yang ditempuh oleh para minister dari perjanjian yang baru. Dalam berita ini kita akan mencoba menjamah perasaan dalam roh Paulus seperti yang diekspresikan dalam 2Korintus 7:2-7. Dalam membaca 2Korintus 7:2-16, yang paling penting adalah menjamah perasaan Paulus juga menjamah rohnya. Namun, tidak mudah untuk melakukan hal ini.

PERHATIAN AKRAB DARI PENYUPLAIAN HAYAT

PARA RASUL

Apa yang kita miliki dalam 2Korintus 7:2-16 adalah perhatian akrab dari penyuplaian hayat para rasul. Setiap orang beriman yang mengasihi Tuhan dan yang ingin mencapai standar Allah harus menjadi seorang minister dari perjanjian yang baru. Asalkan kita adalah kaum beriman dalam Kristus, kita harus menjadi para minister Perjanjian Baru, tidak peduli apakah kita menjadi rasul, pemberita Injil, penatua, atau diaken. Minister yang demikian adalah seorang yang menyuplaikan Kristus kepada orang lain bagi pembangunan gereja, Tubuh-Nya. Semasih muda saya mendengar bahwa setiap orang beriman harus menjadi pemberita Injil. Sekarang kita nampak bahwa kita bukan hanya harus menjadi pemberita-pemberita Injil, tetapi juga menjadi minister-minister dari perjanjian yang baru, yaitu orang-orang yang menyuplaikan Kristus sebagai hayat supaya gereja dapat terbangun sebagai Tubuh Kristus. Ministri ini bukan hanya harus dilaksanakan oleh para rasul dan para penatua, tetapi juga oleh setiap orang dalam gereja.

Sasaran dari pemulihan Tuhan pada hari ini adalah memulihkan penyuplaian Kristus oleh semua orang beriman supaya gereja dapat terbangun. Pemahaman ini berdasar pada perkataan Paulus dalam Efesus 4, di mana ia mengatakan bahwa rasul-rasul, nabi-nabi, pemberita-pemberita Injil, gembala-gembala, dan pengajar-pengajar menyempurnakan orang-orang kudus bagi pekerjaan ministri (pelayanan), kepada pembangunan Tubuh Kristus. Agar kita semua menjadi pembangun-pembangun gereja, untuk menyuplaikan Kristus bagi pembangunan gereja, kita memerlukan hayat yang menyuplai. Untuk menjadi para minister dari perjanjian yang baru, kita memerlukan hayat yang menyuplai sedemikian. Kita perlu menempuh satu kehidupan yang menyuplaikan Kristus kepada orang lain bagi gereja.

Bertahun-tahun yang lalu saya membaca berbagai buku yang mendorong kaum beriman untuk menjadi rohani, kudus, dan menang. Tetapi saya belum pernah membaca satu buku yang menyuruh untuk menempuh satu kehidupan yang menyuplai. Banyak dari antara kita telah membaca buku-buku tentang bagaimana menjadi rohani, bagaimana menempuh satu kehidupan yang kudus, atau bagaimana menang. Tetapi pernahkah Anda membaca satu buku yang menyuruh Anda bagaimana menempuh kehidupan yang menyuplaikan hayat? Saya tidak percaya bahwa ada dari antara kita yang telah membaca buku yang demikian.

Dalam perjalanan keluar saya selama kira-kira 50 tahun ini, saya telah bertemu dengan berbagai macam orang Kristen. Terutama saya bertemu dengan beberapa orang yang terkenal karena kerohaniannya. Tetapi dalam pengamatan saya, orang-orang yang disebut rohani ini pun tidak memiliki satu hayat yang menyuplai yang tepat. Mereka hidup dengan sangat hati-hati untuk menjadi “rohani”, “kudus”, dan “menang”. Tetapi mereka tidak hidup sedemikian rupa seperti orang-orang yang menyuplai. Oleh kasih karunia Tuhan, dan bukan oleh usaha kita sendiri, kita semua harus berusaha untuk menempuh satu kehidupan yang menyuplai.

KEHIDUPAN YANG BERBUAH

Hayat yang menyuplai yang kita lihat dalam 2Korintus ini adalah satu kehidupan yang berbuah. Kita mungkin “rohani”, “kudus”, dan “menang”, namun kita tidak berbuah. Ada masalah dengan kerohanian, kekudusan, dan kemenangan yang demikian. Patut dipertanyakan apakah hal-hal itu benar dan sejati. Bukankah tidak biasanya seseorang dapat menjadi “rohani” tanpa berbuah? Menurut Alkitab, menjadi rohani adalah untuk tujuan berbuah. Dalam Injil Yohanes Tuhan tidak menyuruh kita menjadi rohani, kudus, dan menang. Sebaliknya, dalam Yohanes 15 Dia memerintahkan kita untuk menghasilkan buah, bahkan menghasilkan buah yang banyak, dan buah yang tetap. Inilah menempuh kehidupan yang menyuplai.

Di sekitar rumah saya ada sejumlah pohon buah persik, lemon, dan jeruk. Untuk jangka waktu yang agak lama, pohon-pohon tertentu tidak menghasilkan buah. Karena kekurangan buah, kami mempertimbangkan untuk memotongnya. Pohon-pohon itu tidak menghasilkan buah, tetapi pohon-pohon itu terus bertumbuh cukup baik. Kenyataannya, pohon-pohon itu hijau dan subur, penuh dengan daun-daunan. Semakin pohon-pohon itu bertumbuh secara demikian, saya semakin jengkel dengannya. Kadang-kadang ketika saya melihat pohon-pohon itu saya berkata, “Hai pohon, apa yang kaulakukan di sini? Kamu penuh dengan daun-daun yang hijau, dan ranting-rantingmu menyebar ke mana-mana, tetapi kamu tidak menghasilkan buah satu pun.” Kita dapat mengambil hal ini sebagai satu ilustrasi dari kaum beriman yang mungkin saja “rohani”, “kudus”, dan “menang”, tetapi tidak berbuah. Mereka tidak menghasilkan buah karena mereka tidak memiliki hayat yang menyuplai. Kita sangat perlu nampak bahwa kita semua harus memiliki satu hayat yang menyuplai.

Dulu, saya pernah mendengar beberapa berita tentang 2Korintus 7. Penekanan dari berita-berita itu adalah tentang berdukacita menurut Allah. Berita-berita itu menunjukkan bahwa jika kita berdukacita menurut Allah, kita tidak akan menyesal berdukacita. Meskipun saya pernah mendengar beberapa berita tentang hal ini, tetapi saya tidak diberi tahu apa pun tentang perasaan dan tentang roh Paulus dalam pasal ini. Di sini kita nampak perhatiannya yang akrab.

PERLUNYA PERHATIAN YANG SEJATI

Mungkin saja terjadi, kita memiliki banyak pengetahuan dalam hal rohani dan penuh dengan kuasa dalam memberitakan, tetapi tetap tidak berbuah. Pada kenyataannya, bukannya berbuah dan menyuplaikan hayat, orang yang demikian malah dapat membuat orang lain menderita kematian. Ada seorang saudara bahkan mungkin pergi menjenguk lokal lainnya dan mengadakan satu sidang istimewa, tetapi akibat dari sidang istimewa itu mungkin banyak orang terbunuh. Mereka terbunuh bukan oleh kata-kata yang salah, melainkan oleh kata-kata yang benar. Selain itu, dalam menggembalakan orang-orang kudus, kita juga mungkin dapat membunuh orang lain. Alasan untuk pembunuhan dan keadaan tidak berbuah ini adalah kekurangan perhatian yang akrab. Seorang saudara yang mengadakan satu sidang istimewa di satu gereja mungkin hanya memperhatikan menyampaikan berita-berita; ia mungkin tidak memiliki perhatian yang sejati terhadap gereja di tempat itu. Demikian pula, kita mungkin mengunjungi satu keluarga untuk menggembalakan mereka, tetapi kita mungkin tidak memiliki perhatian yang penuh kasih. Sebaliknya, motivasi kita mungkin adalah untuk memamerkan pengetahuan, kerohanian, karunia, atau kecakapan kita. Akibatnya adalah membunuh orang lain.

Ada ibu-ibu yang kelihatannya kekurangan hikmat; namun meskipun mereka tidak begitu pandai, mereka dapat membesarkan anak-anak mereka dengan sangat baik, karena mereka memiliki perhatian yang penuh kasih terhadap anak-anak mereka. Ibu-ibu yang demikian memiliki perhatian yang lembut dan akrab terhadap anak-anak mereka. Sebaliknya, ada ibu tiri yang mungkin memiliki banyak pengetahuan, berkarunia, dan pandai; namun mereka kekurangan perhatian yang diperlukan anak-anak. Dalam merawat anak-anak, yang paling penting bukanlah pengetahuan atau kecakapan, melainkan perhatian yang akrab. Sama halnya dengan merawat gereja-gereja atau dalam menggembalakan orang-orang kudus. Yang diperlukan adalah perhatian yang akrab dari hayat yang menyuplai. Saudara-saudara yang mengadakan sidang istimewa dengan gereja-gereja harus memiliki perhatian yang sejati terhadap gereja-gereja itu. Mereka tidak boleh hanya tertarik menyampaikan berita-berita yang baik sebagai satu pameran dari pengetahuan, talenta, atau kecakapan mereka.

Ketika saya masih muda, saya agak terganggu dengan 2Korintus 7. Saya menganggap Alkitab sebagai satu kitab yang sakral dan klasik, bagi saya 2Korintus 7 ini bukanlah satu tulisan klasik. Saya dapat memahami mengapa pasal-pasal seperti Roma 5 dan Roma 8 ada dalam Alkitab, tetapi saya tidak tahu mengapa satu pasal seperti 2Korintus 7 ini termasuk dalam Alkitab. Dalam ayat 6 Paulus mengatakan bahwa ia terhibur dengan kedatangan Titus, dan dalam ayat 7 ia selanjutnya berkata, “Bukan hanya oleh kedatangannya saja, tetapi juga oleh penghiburan yang dinikmatinya di tengah-tengah kamu. Karena ia telah memberitahukan kepada kami tentang kerinduanmu, keluhanmu, semangatmu untuk membela aku, sehingga makin bertambahlah sukacitaku.” Bagi saya kelihatannya ayat yang demikian ini tidak seharusnya ada dalam Alkitab. Pernahkah Anda memeriksa mengapa 2Korintus 7 ada dalam Perjanjian Baru? Jika Anda tidak pernah memikirkan tentang hal ini, ini dapat menunjukkan bahwa Anda agak ceroboh dalam membaca firman Allah ini. Saya dapat bersaksi bahwa semakin saya memperhatikan pasal ini, saya semakin menyenanginya, saya semakin belajar darinya dan dipengaruhi olehnya.

Pasal ini mewahyukan bahwa kita memerlukan satu perhatian yang akrab. Jika kita mempunyai kemampuan untuk melaksanakan satu pekerjaan tetapi kekurangan perhatian yang akrab, maka pekerjaan kita tidak akan berbuah. Yang diperlukan untuk membangun satu kehidupan keluarga dan kehidupan gereja yang baik dan indah adalah perhatian yang akrab. Bagaimana kita dapat berbuah, berapa banyak buah yang kita hasilkan, bukan tergantung kepada apa yang dapat kita lakukan. Ini tergantung kepada apakah kita memiliki perhatian yang akrab atau tidak.

Saudara Watchman Nee memberi tahu kita bahwa dalam memberitakan Injil, kita perlu memiliki satu perhatian yang sejati terhadap orang lain. Asalkan kita memiliki perhatian yang tepat terhadap orang-orang, kita akan berangan-angan menjadi layak untuk dipakai oleh Allah bagi keselamatan orang lain. Kesaksian yang sangat baik tentang hal ini ada di dalam buku Seen and Heard (Melihat dan Mendengar). Dalam buku itu, si penulis, yaitu Dennis McKendrick, memberi tahu kita tentang seorang yang berdiri di hadapan sekelompok orang yang tidak percaya dan menangis, tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Meskipun demikian, ada sejumlah orang yang diselamatkan, karena ia memiliki satu perhatian yang dalam. Kefasihan, karunia, dan kekuatan tidak dapat menjamah orang-orang sedalam perhatian Anda terhadap mereka.

Dalam 1Korintus Paulus seperti seorang ayah yang sedang mendisiplinkan anak-anaknya. Tetapi pendisiplinan ini pun berasal dari perhatian yang dalam, dan akrab. Misalnya, ada seorang ibu yang memukul anaknya. Tetapi sewaktu anak itu menerima pukulan itu, anak itu sadar bahwa ibunya sedang mendisiplinkannya dengan roh dan sikap yang penuh kasih. Maka, ketika ibu itu memukul anaknya, ia tetap dapat mengasihinya. Anak-anak dapat mengatakan apakah orang tua mereka mendisiplinkan mereka dengan roh yang penuh kasih atau tidak. Dengan roh yang penuh kasih dan perhatian, Paulus menulis Kitab 1Korintus ini. Tentunya, dalam seluruh 2Korintus, terutama di dalam pasal 7, kita dapat melihat perhatian Paulus yang akrab terhadap kaum beriman.

MENGHANGATKAN ORANG LAIN

Dalam 2Korintus 7 Paulus itu sangat emosional. Dalam ayat 13 ia mengatakan bahwa ia “lebih lagi bersukacita karena sukacita Titus.” J.N. Darby menunjukkan bahwa tidak mungkin menerjemahkan ungkapan “lebih bersukacita” dalam bahasa Yunani ini ke dalam bahasa Inggris dengan tepat. Paulus sangat manusiawi dan emosional ketika ia menyuplaikan hayat. Paulus begitu emosional karena perhatiannya sangat dalam dan akrab. Tanpa perhatian yang demikian ini, kita tidak mungkin dapat lebih bersukacita seperti Paulus. Sebaliknya, kita mungkin sedingin lemari es, yaitu benar-benar kekurangan perhatian terhadap orang-orang kudus. Kita tidak menghangatkan mereka, malah membuatnya semakin dingin. Tidak ada satu hal pun yang dapat bertumbuh di dalam keadaan yang membeku demikian. Kita memerlukan cuaca musim semi untuk mencairkan kita dan menghangatkan kehidupan kita. Sekali lagi perlu ada hayat yang melayani. Tahukah Anda apakah hayat yang menyuplai ini? Ini adalah hayat yang menyuplai orang lain. Belajarlah menghangatkan orang lain. Ini adalah memiliki perhatian yang akrab terhadap mereka.

Banyak orang membaca 2Korintus 7 tanpa menjamah perihal perhatian Paulus yang akrab ini. Jika kita tidak memiliki perhatian yang demikian terhadap orang lain, kita tidak akan berbuah. Jika saya ingin menyuplaikan hayat kepada orang-orang kudus, saya harus memiliki perhatian yang sejati terhadap mereka, satu perhatian yang emosional, dalam, dan akrab. Saya harus demikian memperhatikan hingga, sering kali, bagi orang lain saya mungkin kelihatan bodoh atau lupa diri.

NASIHAT PAULUS

Dalam 2Korintus 7:2 Paulus berkata, “Berilah tempat bagi kami di dalam hati kamu! Kami tidak pernah berbuat salah terhadap seorang pun, tidak seorang pun yang kami rugikan, dan kami tidak mencari untung dari seorang pun.” Nasihat yang terus terang dari 2Korintus 6:14-7:1 diberikan sebagai sisipan untuk membawa kaum beriman yang telah diselewengkan, dari menjamah hal-hal yang mencemarkan, kembali kepada Allah mereka yang kudus, sehingga mereka bisa sepenuhnya didamaikan dengan Dia. Karena itu, ayat ini sebenarnya adalah kelanjutan dari 2Korintus 6:11-13, yang meminta kaum beriman untuk memiliki hati yang lapang terhadap para rasul, memberi tempat kepada para rasul. Dari ayat ini sampai akhir pasal ini, di dalam permintaannya rasul menyatakan perhatiannya yang akrab terhadap kaum beriman, supaya mereka dapat dihibur dan didorong untuk maju dengan Tuhan secara positif setelah sepenuhnya didamaikan dengan Allah.

Ketika Paulus berkata, “berilah tempat bagi kami,” ia sebenarnya berkata kepada orang-orang Korintus, “Saudara-saudara, aku ingin masuk ke dalam kamu dan tinggal di dalam kamu. Tetapi kamu sempit dan menutup dirimu sendiri. Kamu tidak memiliki hati yang diperluas untuk menerima kami. Aku mengasihi kamu, dan aku memperhatikan kamu. Inilah sebabnya aku mendorong kamu untuk membuka dan memberi tempat bagi kami, supaya kami dapat masuk ke dalam kamu dan tinggal di dalam kamu.”

Jika Anda mengunjungi gereja di tempat lain tanpa roh seperti yang dimiliki Paulus dalam ayat 2 ini, Anda secara tidak sadar akan memiliki perasaan bahwa Anda memiliki lebih banyak pengetahuan mengenai hal-hal rohani dari-pada orang lain dan memiliki sesuatu untuk disuplaikan kepada mereka. Ini bukanlah sikap yang kita perlukan. Tetapi seandainya Anda memohon kepada orang-orang kudus seperti yang dilakukan Paulus dalam ayat 2, mendorong mereka agar memberi tempat bagi Anda di dalam hati mereka supaya Anda dapat tinggal di dalam mereka, tentunya ini akan menjamah orang lain sangat dalam.

Dalam ayat 2 Paulus mengatakan bahwa ia tidak pernah berbuat salah terhadap seorang pun, tidak merugikan seorang pun, dan tidak mengambil keuntungan dari seorang pun. Kelihatannya Paulus membela dirinya sendiri, tetapi pembelaannya ini dengan cara yang akrab dan penuh kasih.

Dalam ayat 3 Paulus melanjutkan, “Aku berkata demikian, bukan untuk menjatuhkan hukuman atas kamu, sebab tadi telah aku katakan bahwa kamu telah beroleh tempat di dalam hati kami, sehingga kita sehidup semati.” Di sini kita memiliki ungkapan hubungan yang akrab, bukan pembicaraan yang sopan santun. Paulus terus terang dalam berbicara, tetapi juga sangat akrab dan menjamah. Bagi Paulus berbicara kepada orang-orang Korintus dengan cara demikian memperlihatkan bahwa di antara dia dan mereka ada satu hubungan yang akrab. Hanya terhadap orang yang akrab dengan kita, kita dapat berbicara secara demikian.

Dalam ayat 3 Paulus bahkan mengatakan bahwa orang-orang Korintus ada di dalam hati para rasul sehingga mereka sehidup semati. Maksud Paulus di sini ialah, “Aku tidak mengatakan ini untuk menghukum kamu, karena aku telah mengatakan bahwa kamu ada di dalam hati kami. Karena kami memiliki kamu di dalam hati kami dan hati kami lapang, maka kami meminta kamu untuk memperluas hatimu dan memberi tempat bagi kami. Hai orang-orang Korintus, kamu ada di dalam hati kami sehingga kita sehidup semati.” Betapa dalam, lembut, dan akrabnya kata-kata ini! Sungguh sangat menjamah!

TERHIBUR DAN PENUH DENGAN SUKACITA KARENA PERHATIAN YANG DALAM

Ayat 4 melanjutkan, “Aku sangat berterus terang terhadap kamu; tetapi aku juga sangat memegahkan kamu. Dalam segala penderitaan kami aku sangat terhibur dan sukacitaku melimpah-limpah.” “Terhibur dan sukacita” di sini dalam bahasa Yunaninya secara harfiah adalah penghiburan itu dan sukacita itu; mengacu kepada penghiburan yang khusus, sukacita yang khusus yang dibawa oleh Titus. Di sini kata-kata Paulus juga akrab dan menjamah.

Dalam ayat 5 Paulus berkata, “Bahkan ketika kami tiba di Makedonia, kami tidak beroleh ketenangan bagi tubuh kami. Di mana-mana kami mengalami kesusahan: Pertengkaran dari luar dan ketakutan dari dalam.” Tubuh di sini mengacu kepada manusia lahiriah, termasuk tubuh dan jiwa. Pertengkaran (peperangan) di luar dan ketakutan di dalam melibatkan tubuh dan jiwa. Tidak memiliki ketenangan dalam tubuh berbeda dengan tidak memiliki ketenangan dalam roh.

Ayat 6 mengatakan, “Tetapi Allah, yang menghiburkan orang yang rendah hati, telah menghiburkan kami dengan kedatangan Titus.” Karena perhatiannya yang dalam bagi reaksi kaum beriman Korintus terhadap suratnya yang pertama, rasul tidak memiliki ketenangan di dalam rohnya (2:13) bahkan merasa sangat sedih, berharap segera bertemu dengan Titus agar mendapatkan keterangan tentang reaksi orang-orang Korintus. Sekarang Titus tidak hanya sudah datang, tetapi juga membawa berita gembira tentang reaksi mereka yang positif. Ini adalah penghiburan yang besar bagi rasul.

Dalam ayat 7 Paulus melanjutkan, “Bukan hanya oleh kedatangannya saja, tetapi juga oleh penghiburan yang dinikmatinya di tengah-tengah kamu. Karena ia telah memberitahukan kepada kami tentang kerinduanmu, keluhanmu, semangatmu untuk membela aku, sehingga makin bertambahlah sukacitaku.” Di sini sekali lagi Paulus sangat emosional karena perhatiannya.

Hati kita perlu diperluas, dan kita perlu sepenuhnya didamaikan dengan Allah. Kemudian kita akan memiliki satu kehidupan yang adalah kehidupan yang menyuplai, yaitu kehidupan yang dapat menghasilkan banyak buah. Hanya kehidupan yang menyuplai demikianlah yang dapat membuat kita menghasilkan buah. Menghasilkan buah adalah hasil dari kehidupan yang menyuplai ini.