← Daftar isi 2 Korintus (3) · bab 3/19

PARA MINISTER DARI PERJANJIAN YANG BARU (12)

Pembacaan Alkitab: 2Kor. 6:14-7:1

Kita telah nampak bahwa didamaikan sepenuhnya dengan Allah adalah memiliki pengalaman yang penuh terhadap keselamatan Allah. Kita juga telah nampak bahwa didamaikan dan diselamatkan sepenuhnya adalah memiliki hati yang diperluas. Sekarang marilah kita melanjutkan untuk melihat 2Korintus 6:14-7:1, yaitu tentang nasihat yang terus terang dari ministri pendamaian.

JANGANLAH MENJADI PASANGAN

YANG TIDAK SEIMBANG

Ayat 14 mengatakan, “Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apa yang terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimana terang dapat bersatu dengan gelap?” Firman tentang jangan menjadi pasangan yang tidak seimbang ini dikatakan oleh rasul berdasarkan ayat 11, yakni mulutnya yang terbuka dan hatinya yang lapang terhadap kaum beriman. Setelah meneguhkan fakta bahwa pendamaian yang penuh adalah keselamatan yang penuh yang dihasilkan dari perluasan hati, Paulus menasihati kaum beriman Korintus untuk tidak menjadi pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tidak percaya.

Kata tidak seimbang dalam ayat 14 ini berarti berlawanan; menyiratkan perbedaan dalam jenis. Ini mengacu kepada Ulangan 22:10, yang melarang menaruh bajak pada dua jenis binatang yang berbeda. Orang yang beriman berbeda dengan orang yang tidak beriman. Karena sifat ilahi dan kedudukan kudus orang-orang beriman, maka mereka tidak seharusnya memikul satu kuk yang sama dengan orang-orang yang tidak beriman. Ini seharusnya diterapkan pada semua hubungan akrab di antara orang-orang beriman dengan orang-orang yang tidak beriman, bukan hanya pada pernikahan dan perdagangan mereka.

Perkataan ini menunjukkan bahwa kaum beriman Korintus dengan tidak seimbang menanggung kuk yang sama dengan orang-orang yang tidak beriman, tidak dipisahkan kepada Allah dari orang-orang dunia. Ini berarti mereka belum sepenuhnya didamaikan dengan Allah. Karena itu, rasul menasihati mereka untuk tidak menanggung kuk yang sama dengan orang-orang tidak beriman, tetapi dipisahkan, supaya mereka boleh sepenuhnya didamaikan, dibawa kembali kepada Allah.

Menurut Perjanjian Lama, ternak dibagi menjadi dua kategori: ternak yang tahir dan ternak yang najis. Yang tahir memamah biak dan berkuku belah. Domba dan lembu adalah binatang yang tahir, tetapi keledai, kuda, bagal, dan babi tidak tahir. Jadi, Ulangan 22:10 mengatakan, “Janganlah engkau membajak dengan lembu dan keledai bersama-sama.” Di sini kita nampak bahwa hukum Taurat memerintahkan bani Israel untuk tidak mengenakan kuk kepada binatang yang tahir dan binatang yang najis. Binatang yang tahir, seperti lembu, dapat dipersembahkan kepada Allah, tetapi binatang yang najis tidak boleh dipersembahkan kepada Allah. Karena itu, binatang yang tahir tidak seimbang dengan binatang yang najis.

Dalam 2Korintus 6:14 Paulus tidak memperhatikan pengajaran hukum Taurat; ia memperhatikan makna rohani dari tuntutan hukum Taurat ini. Hari ini kita, kaum beriman, adalah orang-orang yang tahir. Kita adalah lembu-lembu dan domba-domba untuk dipersembahkan kepada Allah. Namun, orang-orang yang tidak percaya itu, tidak tahir, dan kita tidak boleh berpasangan dengan mereka.

Berpasangan dengan orang-orang yang tidak percaya itu berarti disimpangkan dari Allah. Membersihkan diri kita dari pasangan yang tidak seimbang itu berarti kembali kepada Allah dan didamaikan ke dalam Dia. Misalnya, seorang saudara tidak seharusnya menikah dengan orang yang tidak percaya. Baginya, menikah dengan seorang yang tidak percaya berarti menjadi pasangan yang tidak seimbang. Pasangan yang tidak seimbang itu akan menyimpangkan dia dari Allah. Demikian juga, bermitra dagang dengan orang yang tidak percaya juga merupakan pasangan yang tidak seimbang. Misalnya seorang beriman dan seorang yang tidak percaya bermitra dalam dagang dan memiliki sasaran dan kepentingan yang sama. Mereka sebenarnya merupakan satu pasangan yang tidak seimbang.

Pasangan yang demikian ini perlu diakhiri. Seorang yang terikat dalam hubungan dagang demikian akan diselewengkan dari Allah oleh dagangnya itu. Dagangnya akan membuatnya semakin jauh dari Allah. Saudara yang berada dalam situasi yang demikian perlu melepaskan pasangan yang tidak seimbang dalam dagang itu dan didamaikan, dibawa masuk kembali ke dalam Allah.

Selain itu, persahabatan (pergaulan) dengan orang-orang yang tidak percaya dapat membuat kita menjadi pasangan yang tidak seimbang. Khususnya orang-orang muda suka bersahabat. Saudara-saudara dan saudari-saudari muda, jika kalian memiliki persahabatan yang akrab dengan orang-orang yang tidak percaya, hal itu akan membuat kalian menjadi pasangan yang tidak seimbang. Pasangan yang demikian akan menyimpangkan kalian dari Allah. Teman kalian yang tidak percaya itu tidak akan dapat membantu kalian untuk dekat kepada Allah; sebaliknya, teman yang tidak percaya akan menjauhkan kalian dari Allah. Selama kalian mempertahankan persahabatan yang tidak seimbang itu, kalian akan semakin dialihkan dari Allah dan lambat laun semakin jauh dari Dia. Karena itu, Paulus memerin-tahkan kita untuk tidak menjadi pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tidak percaya agar kita dapat terpelihara di dalam Allah dan dapat sepenuhnya dibawa masuk kembali ke dalam Dia.

PERBEDAAN ANTARA ORANG BERIMAN

DENGAN ORANG TIDAK BERIMAN

Dalam 2Korintus 6:14-16 rasul menggunakan lima ilustrasi untuk menggambarkan perbedaan antara orangorang beriman dengan orang-orang yang tidak beriman: (1) tidak ada persamaan, tidak ada kesatuan, antara kebenaran dengan kedurhakaan; (2) tidak ada hubungan, tidak ada persekutuan antara terang dengan gelap; (3) tidak ada kesesuaian, tidak ada keharmonisan antara Kristus dengan Belial; (4) tidak ada bagian bersama, tidak ada kaitan apa pun antara orang beriman dengan orang yang tidak beriman; (5) tidak ada keserasian, kesesuaian antara bait Allah dengan berhala-berhala. Ilustrasi-ilustrasi ini juga menyingkapkan satu fakta bahwa orang-orang beriman adalah kebenaran, terang, Kristus, dan bait Allah, sedangkan orang-orang yang tidak beriman adalah kedurhakaan, kegelapan, Belial (Iblis, Satan), dan berhala-berhala.

Dalam ayat 14 Paulus berkata, “Sebab persamaan apa yang terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimana terang dapat bersatu dengan gelap?” Tidak seharusnya ada hubungan apa pun antara kebenaran dengan kedurhakaan. Tidak boleh ada hubungan, kesatuan, di antara mereka. Demikian pula, terang tidak memiliki hubungan apa-apa dengan kegelapan. Keduanya tidak dapat memiliki persekutuan apa pun. Sebagai kaum beriman, kita berada dalam terang. Jika kita memiliki persekutuan, atau persahabatan yang intim dengan orang-orang yang tidak beriman, maka persahabatan itu adalah persekutuan antara terang dengan gelap. Bagi seorang beriman menikah dengan seorang yang tidak beriman itu berarti orang beriman itu menyatukan terang dengan gelap.

Dalam ayat 15 Paulus melanjutkan, “Persamaan apa yang terdapat antara Kristus dan Belial? Apa bagian bersama orang-orang percaya dengan orang-orang tak percaya?” Belial adalah nama lain untuk Satan, Iblis. Tidak mungkin ada persamaan antara Kristus dengan Iblis. Kita kaum beriman berasal dari Kristus, dan orang-orang yang tidak beriman berasal dari Satan. Jika kita memiliki persahabatan dengan orang-orang yang tidak beriman, itu berarti kita membuat persamaan antara Kristus dengan Satan. Seorang beriman tidak memiliki bagian apa pun dengan orang yang tidak beriman.

Dalam ayat 16 Paulus selanjutnya berkata, “Apa hubungan bait Allah dengan berhala? Karena kita adalah bait dari Allah yang hidup seperti firman Allah ini, ‘Aku akan tinggal bersama-sama dengan mereka dan hidup di tengah-tengah mereka, dan Aku akan menjadi Allah mereka, dan mereka akan menjadi umat-Ku.’” Di sini kita nampak bahwa tidak mungkin ada kesesuaian antara bait Allah dengan berhala. Orang-orang yang tidak beriman memiliki berhala, tetapi kita adalah bait Allah. Lalu bagaimana mungkin ada hubungan yang akrab antara orang-orang beriman dengan orang-orang yang tidak beriman?

BAIT DARI ALLAH YANG HIDUP

Dalam ayat 16 Paulus mengatakan bahwa kita adalah bait dari Allah yang hidup. Sebagai Allah yang hidup, Allah berdiam di antara kita dan hidup di tengah-tengah kita untuk menjadi Allah kita secara subyektif, supaya kita berbagian atas-Nya dan menjadi umat-Nya, mengalami Dia secara hidup.

Dalam 1Timotius 3:15 Paulus mengatakan bahwa kita adalah gereja dari Allah yang hidup. Allah yang hidup yang hidup dalam gereja harus menjadi subyektif bagi gereja, bukan hanya obyektif. Berhala di bait orang kafir tidak memiliki hayat. Allah yang bukan hanya hidup melainkan juga bertindak, bergerak, dan bekerja di dalam bait-Nya yang hidup, yaitu gereja ini, adalah hidup. Karena Dia hidup, maka gereja juga hidup dalam Dia, oleh Dia, dan bersama Dia. Allah yang hidup dan gereja yang hidup, hidup, bergerak, dan bekerja bersama-sama. Gereja yang hidup adalah rumah tangga dan keluarga dari Allah yang hidup. Maka, gereja menjadi manifestasi Allah dalam daging.

Allah telah berfirman, “Aku akan tinggal bersama-sama dengan mereka dan hidup di tengah-tengah mereka, dan Aku akan menjadi Allah mereka, dan mereka akan menjadi umat-Ku” (2Kor. 6:16). Inilah situasi kita pada hari ini. Allah hidup di dalam kita, berhuni di dalam kita, dan berjalan di antara kita. Dia adalah Allah kita, dan kita adalah umat-Nya.

DIPISAHKAN DAN DIDAMAIKAN

Dalam ayat 17 Paulus menasihati orang-orang Korintus, dengan berkata, “Sebab itu: Keluarlah kamu dari antara mereka, dan pisahkanlah dirimu dari mereka, firman Tuhan, dan janganlah menyentuh apa yang najis, maka Aku akan menerima kamu.” Dipisahkan berarti dibawa kembali, didamaikan dengan Allah secara riil (5:20). Kata-kata “apa yang najis” menunjukkan benda-benda milik kedurhakaan, kegelapan, Belial, berhala, sebagaimana dicantumkan dalam ayat 14-16. Kita dipisahkan kepada Allah dan didamaikan dengan Dia dengan tidak menjamah hal-hal yang najis demikian. Karena itu, keluar dari antara mereka dan dipisahkan adalah dibawa kembali kepada Allah. Bila kita dipisahkan secara demikian, Allah akan menyambut kita. Kata-kata “Aku akan menerima kamu,” menunjukkan Allah berkenan menerima orang-orang beriman yang telah kembali dan sepenuhnya didamaikan dengan-Nya.

ANAK-ANAK LAKI-LAKI

DAN ANAK-ANAK PEREMPUAN

Ayat 18 melanjutkan, “Dan Aku akan menjadi Bapamu, dan kamu akan menjadi anak-anak-Ku laki-laki dan anak-anak-Ku perempuan demikianlah firman Tuhan, Yang Mahakuasa.” Allah menjadi Bapa kita dan kita menjadi anak-anak-Nya (laki-laki dan perempuan) adalah perkara hayat. Hal ini lebih dalam daripada Dia menjadi Allah kita dan kita menjadi umat-Nya, seperti yang disinggung dalam ayat 16. Allah adalah Pencipta dan Bapa adalah yang melahirkan. Dia telah melahirkan kita kembali dan membuat kita menjadi anak-anak laki-laki dan anak-anak perempuan bagi-Nya.

Ayat 18 adalah satu-satunya contoh dalam Perjanjian Baru yang menunjukkan bahwa Allah memiliki anak-anak perempuan. Banyak tempat memberi tahu kita bahwa orang-orang beriman adalah putra-putra Allah. Alasan ayat ini mengatakan anak-anak laki-laki dan anak-anak perempuan itu sangat pribadi. Bagi banyak orang tua, anak-anak laki-laki itu sangat berharga. Saya tahu, baik di dunia Timur maupun Barat, orang tua yang hanya mempunyai anak-anak perempuan, sangat mengharapkan mempunyai sedikitnya satu anak laki-laki. Meskipun anak-anak laki-laki itu berharga, tetapi anak-anak perempuan juga patut disayang. Misalnya seorang ayah mempunyai tiga anak laki-laki dan tidak mempunyai anak perempuan. Tentunya ia ingin mempunyai seorang anak perempuan, dan anak perempuan ini akan sangat disayangi olehnya. Banyak orang tua yang memiliki anak-anak laki-laki dan anak-anak perempuan dapat memberi tahu Anda bahwa anak-anak perempuan itu patut disayang dan anak-anak laki-laki itu berharga.

Saya percaya bahwa dalam ayat 18 Paulus menghendaki kita melihat bahwa kita bukan hanya berharga bagi Allah sebagai anak-anak laki-laki, tetapi juga disayang oleh Dia sebagai anak-anak perempuan. Anda ingin menjadi anak laki-laki Allah atau menjadi anak perempuan Allah? Saya adalah anak laki-laki Allah, tetapi saya juga senang menjadi anak perempuan Allah. Saya senang menjadi yang berharga dan disayang oleh Dia. Dengan menyadari bahwa kita dapat menjadi yang berharga dan disayang oleh Bapa, Paulus menunjukkan bahwa kita adalah anak-anak lakilaki dan anak-anak perempuan bagi-Nya.

Menurut Alkitab, Allah tidak terlalu menekankan apakah kita laki-laki atau perempuan. Dalam aspek yang sangat riil dan positif, dalam pandangan Allah, kita semua adalah perempuan-perempuan. Dalam 2Korintus 11:2 Paulus mengumumkan, “Sebab aku cemburu kepada kamu dengan cemburu ilahi. Karena aku telah mempertunangkan kamu kepada satu laki-laki untuk membawa kamu sebagai perawan suci kepada Kristus.” Bukankah hal ini menunjukkan bahwa semua orang beriman adalah perempuan-perempuan bagi Allah? Jika kita bukan perempuan-perempuan dalam pandangan-Nya, bagaimana kita dapat menjadi bagian dari perawan suci yang dipersembahkan kepada Kristus? Kristus akan menjadi Suami kita, dan kita akan menjadi istri-Nya. Dalam hal ini, kita semua adalah perempuan. Kita bahkan dapat memakai istilah yang tidak biasanya dan mengatakan bahwa bagi Allah, kita adalah anak-anak laki-laki yang perempuan. Dalam memikul tang-gung jawab dan melaksanakan peperangan rohani, kita adalah anak laki-laki. Kita harus menjadi anak laki-laki yang kuat untuk memikul tanggung jawab dan berperang. Tetapi pada waktu yang sama kita harus menjadi anak-anak perempuan yang disayang dan berharga bagi Bapa. Karena itu, di satu pihak, kita adalah anak-anak laki-laki yang berharga; dan di pihak lain, kita adalah anak-anak perempuan yang disayang.

MENYEMPURNAKAN KEKUDUSAN

Dalam 7:1 Paulus berkata, “Saudara-saudaraku yang terkasih, karena kita sekarang memiliki janji-janji itu, marilah kita menyucikan diri kita dari semua pencemaran jasmani dan rohani, dan dengan demikian menyempurnakan kekudusan kita dalam takut akan Allah.” Dalam bahasa aslinya, ayat 1 ini dimulai dengan kata-kata “Karena itu”. Pada permulaan ayat ini menunjukkan bahwa ini adalah penutup untuk 2Korintus 6:14-18. Janji-janji itu adalah yang disebut dalam 2Korintus 6:16-18. Pencemaran jasmani mengacu kepada pencemaran benda-benda materi; pencemaran rohani mengacu kepada pencemaran dalam dunia rohani, seperti berhala-berhala. Menyucikan diri kita dari semua pencemaran jasmani dan rohani berarti berpaling dari semua penyimpangan untuk didamaikan sepenuhnya ke dalam Allah.

Dalam 2Korintus 7:1 Paulus membicarakan tentang menyempurnakan kekudusan dalam takut akan Allah. Kekudusan adalah pemisahan dari segala sesuatu di luar Allah kepada Allah. Menyempurnakan kekudusan adalah membuat pemisahan ini penuh dan sempurna, agar seluruh diri kita roh, jiwa, dan tubuh sepenuhnya dan dengan sempurna dipisahkan, dikuduskan kepada Allah (1Tes. 5:23). Ini adalah sepenuhnya didamaikan dengan Allah.

Kudus bukan hanya berarti disisihkan, dipisahkan kepada Allah; tetapi juga berarti berbeda, dan terpisah dari segala sesuatu yang umum. Hanya Allah yang berbeda, dan terpisah dari semua hal lain. Karena itu, Dia kudus; kekudusan adalah sifat-Nya. Menurut Efesus 1:4, Dia memilih kita supaya kita menjadi kudus. Cara Dia membuat kita menjadi kudus adalah dengan menyalurkan diri-Nya sendiri, Sang Kudus itu, ke dalam kita supaya seluruh diri kita dapat diresapi dan dijenuhi dengan sifat kudus-Nya. Bagi kita, kaum pilihan Allah, menjadi kudus berarti mengambil bagian dalam sifat ilahi Allah (2Ptr. 1:4), dan membiarkan seluruh diri kita diresapi dengan Allah sendiri. Ini berbeda dengan sekadar menjadi sempurna tanpa dosa atau murni tanpa dosa. Kekudusan yang sejati membuat diri kita menjadi kudus dalam sifat dan karakter, sama seperti Allah sendiri.

Dalam 2Korintus 7:1 Paulus menyinggung tentang takut akan Allah. Takut di sini berhubungan dengan tidak berani menjamah hal-hal yang bukan milik Allah atau yang tidak berhubungan dengan Allah (6:17).

Kita telah menunjukkan bahwa kaum beriman adalah kebenaran, terang, Kristus, dan bait. Bila kita menjadi pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tidak percaya, ini berarti kita membawa kebenaran Allah ke dalam kedurhakaan, membawa terang Allah ke dalam gelap, dan membawa Kristus kepada Iblis, dan kita mencampurkan bait Allah dengan berhala. Berhala mencemarkan roh kita. Karena itu, dalam dunia rohani dan dunia jasmani ada pencemaran. Dipisahkan dari pencemaran dan dari hal-hal yang najis sebenarnya adalah didamaikan dengan Allah.

Dalam pasal 6 Paulus benar-benar melaksanakan ministri pendamaian. Ia mendorong orang-orang Korintus untuk dipisahkan dari hal-hal yang najis. Dipisahkan dari apa yang najis adalah didamaikan dengan Allah dan dikuduskan kepada-Nya; ini juga berarti diselamatkan sepenuhnya. Jadi, diselamatkan sepenuhnya itu meliputi pemisahan dari apa yang najis, pengudusan kepada Allah, dan pendamaian ke dalam Allah. Inilah alasannya pada permulaan pasal ini Paulus membicarakan tentang keselamatan, dan pada akhir pasal ini ia membicarakan tentang pemisahan. Mendapatkan keselamatan adalah pe-misahan, pemisahan adalah pengudusan, dan pengudusan adalah pendamaian.