PARA MINISTER DARI PERJANJIAN YANG BARU (11)
Pembacaan Alkitab: 2Kor. 6:1-13
Banyak guru Alkitab yang memperlakukan 2Korintus 6 ini seolah-olah terpisah dengan pasal 5. Mereka tidak menunjukkan bagaimana hubungan pasal 5 dengan pasal 6 ini. Sebenarnya, pasal 6 merupakan satu penjelasan dari pasal 5.
MENJADI KEBENARAN ALLAH
Kita telah nampak bahwa dalam pasal 5 para rasul telah menerima ministri pendamaian untuk membawa umat Allah, bukan hanya orang-orang dosa, masuk kembali ke dalam Allah sendiri supaya mereka dapat menjadi kebenaran Allah dalam Kristus. Para rasul telah diamanatkan dengan ministri ini untuk membawa umat Allah masuk ke dalam Dia dan membuat mereka menjadi satu dengan Dia secara organik. Bila kita dibawa masuk kembali ke dalam Allah secara demikian, kita akan menjadi kebenaran Allah.
Karena kebenaran adalah atribut Allah, maka menjadi kebenaran Allah dalam Kristus berarti menjadi atribut ilahi ini. Dalam hal ini, kita menjadi apa adanya Allah. Allah adalah kebenaran, dan dalam Kristus kita menjadi kebenaran Allah, yaitu menjadi satu atribut dari apa adanya Allah sendiri. Sungguh ajaib! Inilah tujuan dari keselamatan Allah dan sasaran dari ekonomi-Nya. Ekonomi Allah dalam menyelamatkan kita adalah membuat kita menjadi ekspresi Allah, bahkan menjadi salah satu dari atribut-atribut-Nya. Inilah yang diwahyukan dalam 2Korintus 5.
PERLUNYA PENDAMAIAN LEBIH LANJUT
Paulus menyadari bahwa gambarannya tentang pendamaian dalam pasal 5 itu mencakup sesuatu yang sangat dalam. Maka, dalam pasal 6 ia menjelaskan lebih lanjut bahwa pendamaian dalam pasal 5 sama dengan keselamatan yang penuh. Karena alasan ini, maka dalam 6:2 ia menyebut pendamaian ini keselamatan. Di sini keselamatan itu bukanlah keselamatan orang-orang dosa; ini adalah keselamatan orang-orang yang telah didamaikan separuh dengan Allah. Orang-orang yang baru didamaikan separuh dengan Allah ini memerlukan pendamaian lebih lanjut, keselamatan lebih lanjut.
Kita semua dapat dengan yakin menyatakan bahwa kita telah diselamatkan. Namun, kita mungkin belum sepenuhnya diselamatkan. Karena itu, kita perlu merendahkan diri kita di hadapan Tuhan dan berdoa, “O Tuhan, aku bersyukur kepada-Mu bahwa oleh belas kasihan dan kasih karunia-Mu, Engkau telah menyelamatkan aku. Tetapi Tuhan, aku masih belum sepenuhnya diselamatkan. Aku memerlukan keselamatan-Mu lebih banyak lagi.”
Ada kaum beriman yang telah diselamatkan sampai tingkat yang cukup tinggi. Namun, yang lainnya hanya diselamatkan sampai tingkat yang sangat rendah. Dalam berita ini saya berbeban agar kita semua mendapatkan tingkat keselamatan yang lebih tinggi. Saya prihatin kepada persentasi keselamatan Anda. Sampai tingkat yang bagaimana dan sampai tahap yang bagaimana Anda telah diselamatkan? Ada orang yang telah berada di bawah ministri ini selama bertahun-tahun, tetapi hanya memiliki keselamatan yang sangat terbatas. Selain itu, peningkatan persentasi keselamatan mereka itu sangat lambat. Yang ingin saya tekankan di sini adalah bahwa pendamaian dan keselamatan memiliki tingkatan, lebih-lebih mengenai pendamaian. Saya harap tingkat pendamaian kita ke dalam Allah akan meningkat dengan cepat. Apa yang kita miliki dalam pasal 6 merupakan kemajuan yang berhubungan dengan keselamatan. Menurut konteksnya, diselamatkan (6:2) adalah didamaikan dengan Allah.
Selama ada bagian-bagian tertentu dari diri kita yang belum diselamatkan, maka dalam bagian-bagian di dalam diri kita itu ada ketidak sesuaian di antara kita dengan Allah. Kata yang lebih akurat untuk menggambarkan keadaan ini adalah perseteruan atau permusuhan. Dalam Roma 8 Paulus mengatakan bahwa pikiran yang diletakkan di atas daging adalah perseteruan dengan Allah. Sedangkan pikiran yang diletakkan di atas roh adalah hayat dan damai sejahtera (Rm. 8:6). Bila kita berada di dalam roh, kita memiliki hayat dan damai sejahtera. Damai sejahtera adalah petunjuk bahwa kita didamaikan dengan Allah. Asalkan ada sesuatu di dalam kita yang kurang damai, maka bagian dari kita itu berada dalam permusuhan dengan Allah. Ini menunjukkan bahwa sedikitnya dalam perkara-perkara tertentu, kita belum didamaikan dengan Alah, karena dalam perkara-perkara ini tidak ada damai sejahtera antara kita dengan Allah. Jadi, kapan saja tidak ada damai sejahtera, maka ada permusuhan. Tetapi bila damai sejahtera itu datang, maka permusuhan itu lenyap. Kita juga dapat mengatakan bahwa bila permusuhan pergi, damai sejahtera akan datang. Apakah kita berada dalam damai sejahtera atau tidak itu tergantung kepada apakah kita berdamai dengan Allah.
TIDAK MENYIA-NYIAKAN KASIH KARUNIA ALLAH
Dalam 6:1 Paulus berkata kepada orang-orang Korintus, “Sebagai teman-teman sekerja, kami menasihatkan kamu, supaya kamu jangan menyia-nyiakan anugerah Allah yang telah kamu terima.” Maksud Paulus di sini ialah, “Kaum beriman di Korintus, janganlah menyia-nyiakan kasih karunia (anugerah) Allah. Allah telah memberikan sangat banyak kasih karunia kepada kamu. Allah telah mengaruniakan kasih karunia demi kasih karunia kepada kamu. Karena kamu telah menerima begitu banyak kasih karunia Allah, maka aku meminta agar kamu tidak menyia-nyiakan.” Menyia-nyiakan kasih karunia Allah berarti telah menerima kasih karunia tetapi tanpa kemajuan dalam perkara beroleh selamat.
Jika kita ingin menjadi orang-orang yang tidak menyia-nyiakan kasih karunia Allah, kita memerlukan keselamatan lebih banyak lagi. Inilah sebabnya dalam ayat 2 Paulus selanjutnya berkata, “Sebab Allah berfirman, ‘Pada waktu Aku berkenan, Aku mendengarkan engkau, dan pada hari Aku menyelamatkan, Aku menolong engkau.’ Sesungguhnya, waktu ini adalah waktu perkenanan itu; sesungguhnya, hari ini adalah hari penyelamatan itu.” Para pengkhotbah sering kali memakai ayat ini untuk memberitakan Injil. Dalam pemberitaan Injil mereka, mereka mengatakan seperti ini: “Sekarang adalah waktu dan hari penyelamatan. Jangan kehilangan kesempatan untuk menerima kasih karunia Allah.” Namun, dalam ayat 1 ini, Paulus tidak membicarakan tentang menerima kasih karunia Allah, melainkan ia memperingatkan untuk tidak menyia-nyiakan kasih karunia Allah. Orang-orang Korintus telah menerima kasih karunia Allah. Mereka perlu membiarkan kasih karunia ini bekerja di dalam mereka. Jika mereka membiarkan kasih karunia Allah bekerja di dalam mereka, berarti mereka tidak menyia-nyiakan kasih karunia Allah. Ini berarti didamaikan sepenuhnya dengan Allah dan dalam setiap hal. Selain itu, ini adalah untuk mengalami keselamatan yang sekarang ini. Hari ini seharusnya menjadi hari keselamatan lebih lanjut, yaitu hari kemajuan dalam hal didamaikan dengan Allah melalui kasih karunia-Nya.
PERLUNYA HATI YANG DIPERLUAS
Jika kita ingin didamaikan sepenuhnya dengan Allah, diselamatkan sepenuhnya, kita memerlukan hati yang diperluas. Paulus memohon kepada orang-orang Korintus untuk membuka hati mereka lebar-lebar: “Bagi kamu ada tempat yang luas dalam hati kami, tetapi bagi kami hanya tersedia tempat yang sempit di dalam hati kamu. Karena itu, sekarang, supaya timbal balik aku berkata seperti kepada anak-anakku Bukalah hati kamu selebar-lebarnya!” (2Kor. 6:12-13). Seperti yang telah kita tunjukkan, untuk diperluas perlu aspek dari hayat yang serba sesuai yang dibahas dalam 2Korintus 6:3-10. Ini memerlukan delapan belas butir yang dimulai dengan “dalam”: dalam menahan dengan penuh kesabaran, dalam penderitaan, dalam kesusahan, dalam kesukaran, dalam menanggung pukulan, dalam penjara, dalam kerusuhan, dalam berjerih payah, dalam berjaga-jaga, dalam berpuasa, dalam kemurnian hati, dalam pengetahuan, dalam kesabaran, dalam kemurahan hati, dalam roh yang kudus, dalam kasih yang tulus ikhlas, dalam pemberitaan kebenaran, dan dalam kekuasaan Allah. Ini juga memerlukan tiga pasangan yang dimulai dengan “ketika”: ketika menggunakan senjata-senjata keadilan untuk menyerang atau membela, ketika dihormati dan ketika dihina, ketika diumpat dan ketika dipuji. Akhirnya, ini memerlukan tujuh pasang yang dimulai dengan “sebagai”: sebagai penipu-penipu, namun ternyata benar; sebagai orang-orang yang tak dikenal, namun terkenal; sebagai orang yang nyaris mati, namun sungguh kami hidup; sebagai orang yang dihajar, namun tetap hidup; sebagai orang yang berdukacita, namun senantiasa bersukacita; sebagai orang miskin namun memperkaya banyak orang, sebagai orang tak bermilik namun memiliki segala sesuatu. Jika kita memiliki semua karakteristik dari hayat yang serba sesuai ini, yaitu semua butir dengan “dalam”, “ketika”, dan “sebagai”, maka kita benar-benar telah diperluas.
Sejak tahun 1934, saya telah mengenal banyak saudara yang terkasih dan yang mustika yang adalah penatuapenatua dan sekerja-sekerja. Beberapa saudara ini sangat “tegas” dan “lurus”. Terhadap firman Tuhan dalam Matius 10:16 mengenai menjadi “cerdik seperti ular”, orang-orang yang lurus ini sama sekali tidak dapat menjadi “seperti ular”. Mereka juga tidak dapat menjadi “sebagai penipu-penipu, namun ternyata benar”. Benar di sini berarti lurus. Saudara-saudara yang saya sebut ini bukan hanya “tegas”; mereka juga sangat “lurus”. Misalnya, ada seorang saudara dari antara mereka mungkin berkata, “Oh, orang semacam itu tidak boleh ada dalam gereja. Usir dia! Bagaimana mungkin kita dapat menerima dia? Oh, saudari ini menjijikkan. Ia harus dihukum.” Sering kali kami berusaha sekuat tenaga untuk menyakinkan saudara-saudara yang lurus ini agar lebih luwes. Kami berkata, “Orang ini adalah saudara sejati dalam Tuhan. Memang, ia salah dalam hal-hal tertentu. Tetapi kita tetap harus merangkulnya dengan mengampuninya dan dengan memberikan kesempatan kepadanya untuk memperbaiki diri.” Meskipun demikian, kadang-kadang seorang saudara yang lurus mungkin akan menjawab dengan berkata, “Tidak! Itu tidak alkitabiah!” Sikap ini adalah satu petunjuk yang jelas bahwa orang-orang yang tegas dan lurus demikian perlu diperluas.
Kita perlu tegas dan lurus. Namun, kita harus tegas terhadap diri kita sendiri, bukan terhadap orang lain. Untuk menjadi tegas terhadap diri sendiri bukan terhadap orang lain, kita perlu diperluas. Orang-orang yang sangat lurus biasanya juga sempit. Hati mereka perlu diperluas. Ketika hati kita diperluas, kita tidak boleh kendur. Sebaliknya kita harus tetap tegas dan lurus terhadap diri sendiri, tetapi kita tidak boleh menerapkan prinsip ini kepada orang lain. Jika Tuhan telah melakukan pekerjaan demikian di dalam kita, maka kita telah diperluas.
Saya ingin meminta Anda untuk melihat sekali lagi semua perkara yang telah dipaparkan oleh Paulus dalam 2Korintus 6:3-10. Jika kita memiliki semua karakteristik dan syarat-syarat ini, kita akan memiliki satu hati yang luas. Secara luaran kita mungkin sangat kecil, tetapi hati kita akan menjadi seperti samudra. Tetapi jika kita tidak memiliki syarat-syarat ini, kita akan memiliki satu hati yang sangat picik. Kita mungkin besar dalam pandangan kita, namun hati kita sangat sempit. Misalnya, jika ada orang yang membuat satu kesalahan, mungkin kita tidak akan menghiraukan dia jika ia tidak bertobat. Itu adalah tanda hati yang sempit. Itu juga merupakan satu petunjuk bahwa kita tidak dapat mendamaikan orang lain kepada Allah, karena diri kita sendiri belum sepenuhnya didamaikan dengan Dia. Sempitnya hati kita adalah satu petunjuk yang kuat bahwa kita baru didamaikan sebagian saja dengan Allah dan bahwa persentasi keselamatan kita itu sangat rendah. Berapa luasnya hati kita itu tergantung kepada tingkat pendamaian kita dengan Allah.
MENGAMPUNI DAN MELUPAKAN
Sering kali ketika saya menghadiri sidang pernikahan, saya diminta memberikan wejangan. Namun, saya enggan berbicara pada sidang pernikahan. Masalahnya bukan karena saya tidak memiliki sesuatu untuk dikatakan, melainkan apa yang benar-benar ingin saya katakan itu mungkin terlalu terus terang dan terlalu jujur untuk peristiwa itu. Saya sangat tidak suka dengan pembicaraan umum yang enak dan menyenangkan dalam sidang pernikahan, karena hal itu biasanya jauh dari kebenaran. Jika saya akan berbicara dalam satu sidang pernikahan, saya akan memberitahukan kebenaran, khususnya mengenai kesulitan yang dimiliki para suami dan istri dalam hal saling mengampuni.
Begitu seorang saudara tersinggung oleh istrinya, ia mungkin tidak akan melupakan kesalahan itu dan tidak akan memaafkan istrinya. Tentunya, banyak juga istri yang demikian. Apa yang ingin saya katakan kepada saudara dan saudari yang baru menikah adalah ini: “Saudari, berusahalah sebisanya tidak menyinggung suami Anda. Jika Anda menyinggung dia, mungkin perlu bertahun-tahun baginya untuk memaafkan Anda. Saudara, jangan menganggap bahwa istri Anda adalah seorang malaikat. Ia jelas bukan malaikat. Selain itu, Anda harus selalu mengasihinya. Jika Anda gagal mengekspresikan kasih Anda kepadanya, ia mungkin akan sakit hati dan akan mengingat kegagalan Anda untuk jangka waktu yang lama.” Saya memakai ini sebagai ilustrasi lainnya tentang kesempitan hati.
Semua saudara dan saudari yang telah menikah perlu diperluas hatinya. Saudara-saudara, apakah istri Anda menyakiti Anda? Saya minta Anda melupakannya. Jika Anda dapat mengampuni kesalahan dan melupakannya, itu adalah satu tanda bahwa Anda telah menjadi seorang yang diperluas, yaitu seorang yang memiliki hati yang luas.
Ketika Anda disakiti oleh seseorang, apakah Anda mau mengampuni orang itu? Mengampuni sebenarnya adalah melupakan. Mungkin kita seharusnya mengatakan “melupakan” untuk mengartikan “mengampuni”. Demikian, suami akan berkata kepada istrinya, “Sayang, marilah kita lupakan kesalahan itu.” Melupakan adalah pengampunan yang sejati.
Dalam kehidupan keluarga dan dalam kehidupan gereja Anda, Anda mungkin sering terluka. Apakah Anda mencatat semua kesalahan itu? Apakah Anda mengingat bagaimana suami (atau istri) Anda menyakiti Anda, atau bagaimana Anda disakiti oleh seorang penatua? Apakah Anda mengingat semua kesalahan yang dibuat oleh kaum saleh? Kita perlu mengampuni dan melupakan semua kesalahan. Kita mungkin mengampuni, tetapi kita lebih sulit melupakannya. Kesulitan mengampuni dan melupakan ini disebabkan oleh hati yang belum diperluas secara memadai. Maka, sekali lagi kita nampak bahwa hati kita perlu diperluas. Didamaikan dan diselamatkan sepenuhnya itu akan membuat hati kita benar-benar diperluas.