← Daftar isi 2 Korintus (3) · bab 6/19

PERSEKUTUAN RASUL MENGENAI PEMBERIAN KEPADA ORANG-ORANG KUDUS

YANG KEKURANGAN

(1)

Pembacaan Alkitab: 2Kor. 8:1-15

Paulus menulis Surat 1 dan 2Korintus seperti seorang ayah yang penuh kasih. Dalam surat pertamanya Paulus mendisiplinkan orang-orang Korintus. Para orang tua tahu bahwa dalam mendisiplinkan anak-anak, akan dihadapkan pada satu resiko, yakni mengasingkan mereka. Jika seseorang mendisiplinkan anaknya tanpa batasan, anak itu mungkin akan lari dari rumah. Setelah menulis 1Korintus, Paulus memperhatikan bagaimana kaum beriman di Korintus akan bereaksi terhadap pendisiplinannya. Paulus tidak tenang akan perkara ini, dan ia bahkan agak menyesal menulis surat itu. Ia prihatin bahwa seluruh gereja di Korintus akan diasingkan dari dia. Karena perhatiannya yang dalam ini, maka ia dengan tidak sabar menunggu Titus menyampaikan berita tentang reaksi orang-orang Korintus terhadap suratnya yang pertama. Dalam pasal 2, Paulus tidak tenang dalam rohnya, karena ia tidak menemukan Titus. Tetapi kita nampak dari pasal 7 bahwa Titus datang dengan kabar baik.

Surat Paulus yang pertama telah membuat orang-orang Korintus berdukacita, tetapi dukacita itu menghasilkan pertobatan kepada keselamatan. Keselamatan ini adalah pendamaian yang penuh. Ketika Paulus mendengar kabar baik ini, ia sangat bersukacita sampai lupa diri. Seperti yang dikatakannya dalam 2Korintus 7:13, “Kami lebih lagi bersukacita karena sukacita Titus.” Ketika Paulus menulis suratnya yang kedua, ia berada dalam atmosfir yang penuh dengan penghiburan dan sukacita. Karena itu, sewaktu kita membaca pasal 7, kita dapat menjamah perasaan dalam roh Paulus, yaitu perasaan dari perhatian yang dalam terhadap gereja di Korintus.

PERSEKUTUAN YANG DALAM

Setiap orang (saudara saudari) yang ingin merawat gereja-gereja atau melayani Tuhan perlu terkesan dengan roh Paulus dalam pasal 7. Di sini kita nampak sikap yang tepat dalam melayani Tuhan. Kita juga nampak bahwa pada zaman dulu persekutuan kaum beriman dengan para rasul tidak sedangkal persekutuan di antara kaum beriman pada hari ini. Pada zaman dulu, kaum beriman ada di dalam hati para rasul, dan para rasul ada di dalam hati kaum beriman. Persekutuan di antara mereka semua sangat dalam. Mereka hidup bersama dalam persekutuan yang dalam hingga mereka bahkan rela untuk mati bersama.

Situasi di antara banyak orang Kristen pada hari ini sangat berbeda. Orang-orang Kristen mungkin bepergian dari satu kelompok ke satu kelompok lain tanpa memiliki persekutuan yang dalam. Bagi mereka, sekelompok orang Kristen itu seperti sebuah hotel di mana orang-orang dapat datang, tinggal untuk sejangka waktu, dan kemudian pergi ke tempat lainnya. Persekutuan kita di dalam pemulihan Tuhan tidak seharusnya seperti itu. Gereja-gereja lokal tidak boleh menjadi penginapan-penginapan bagi orang-orang yang bepergian dari satu tempat ke tempat lainnya. Sebagai anggota-anggota dari keluarga Bapa, persekutuan kita harus dalam. Kita harus berada di dalam hati seorang akan yang lainnya, dan tidak ada satu pun yang dapat memisahkan kita dari satu sama lain. Sekalipun kita didisiplinkan oleh orang lain, kita seharusnya tetap mengasihi gereja, keluarga ini, dan tidak mungkin meninggalkannya.

MINISTRI YANG LUAR BIASA

Dua Korintus 8 dan 9 membahas perkara persekutuan rasul mengenai pemberian kepada orang-orang kudus yang kekurangan. Kelihatannya hal ini tidak berhubungan dengan apa yang telah dibahas oleh Paulus dalam pasal 6 dan 7. Dalam 2Korintus 6 dan 7 kita memiliki pekerjaan pendamaian Paulus, dan dalam pasal 8 dan 9, ada pemberian kepada orang-orang kudus yang kekurangan. Tanpa pendamaian yang digambarkan dalam pasal 6 dan 7, maka pemberian kepada orang-orang kudus yang kekurangan ini tidak mungkin dapat disajikan dalam pasal 8 dan 9. Karena itu, ministri dalam pasal-pasal ini adalah hasil dari pekerjaan pendamaian dalam pasal-pasal sebelumnya. Ini berarti jika kita ingin melaksanakan pemberian yang tepat kepada orang-orang kudus yang kekurangan, kita perlu didamaikan dengan Allah, dan sepenuhnya dibawa kembali kepada-Nya. Kita perlu menjadi orang-orang yang hidup dalam Allah, yaitu orang-orang yang tidak ada sekatan antara mereka dengan Allah. Pemberian kepada orang-orang kudus yang kekurangan yang tercatat dalam pasal 8 dan 9 ini luar biasa. Untuk memiliki ministri yang luar biasa ini, yaitu pemberian kepada orang-orang kudus yang kekurangan di bagian lain dari dunia ini, kita memerlukan kehidupan yang didamaikan, yaitu kehidupan yang sepenuhnya didamaikan dengan Allah.

Dalam suratnya yang kedua, Paulus terlebih dulu menunjukkan kepada orang-orang di Korintus bahwa sebagai para minister dari perjanjian yang baru, para rasul telah menerima ministri untuk mendamaikan umat Allah sepenuhnya kembali kepada diri-Nya. Kemudian dalam pasal 6 Paulus melaksanakan ministri ini, yaitu melakukan satu pekerjaan yang baik untuk mendamaikan orang-orang Korintus yang telah diselewengkan sepenuhnya kembali kepada Allah. Setelah menggenapkan pekerjaan yang demikian, ia melanjutkan bersekutu dengan mereka bahwa mereka harus memiliki satu ministri untuk menyuplai orang-orang kudus yang kekurangan.

Urutan dalam pasal-pasal ini sangat penting. Jika pasal 8 dan 9 ada pada permulaan kitab ini, maka pasal-pasal itu tidak pada tempatnya. Tetapi satu pasal mengikuti pasal lainnya seperti anak tangga yang berbaris di tangga. Saya percaya bahwa sewaktu Paulus menulis surat ini, ia merasa bahwa ia sedang berjalan setahap demi setahap. Hanya setelah ia melakukan pekerjaan yang sempurna untuk mendamaikan kaum saleh yang telah diselewengkan kembali kepada Allah, barulah ia menyajikan ministri untuk memperhatikan orang-orang kudus yang kekurangan ini kepada mereka. Jadi, kita tidak boleh menganggap pasal-pasal ini terpisah dan berdiri sendiri. Kelihatannya pasal 8 dan 9 ini membahas topik yang berbeda dengan pasal 6 dan 7. Sebenarnya, dalam pemikiran Paulus semua pasal ini berhubungan.

Melalui pekerjaan pendamaian Paulus, orang-orang kudus di Korintus dibawa kembali kepada Allah, bertobat, dan menerima keselamatan lebih banyak. Kemudian dalam 2Korintus 8:1 Paulus berkata, “Dan juga, saudara-saudara, kami hendak memberitahukan kepada kamu tentang anugerah yang diberikan kepada jemaat-jemaat di Makedonia” (Tl.). Dalam bahasa aslinya, ayat ini diawali dengan frase “dan juga”. Kata “dan juga” menunjukkan bahwa ada persiapan-persiapan tertentu yang telah dibuat dan menunjukkan bahwa ada satu atmosfir dan keadaan tertentu bagi si penulis untuk menyajikan sesuatu lebih lanjut. Maka, Paulus melanjutkan membicarakan tentang kasih karunia yang Allah berikan kepada gereja-gereja di Makedonia. Tujuan-Nya adalah agar kaum beriman di Korintus mau mengambil bagian dalam menyuplai orang-orang kudus yang kekurangan.

KASIH KARUNIA EMPAT GANDA

Hari ini orang-orang Kristen sudah biasa berbagian dalam sumbangan uang untuk memenuhi kebutuhan suplai materi. Sering kali, surat-surat sumbangan uang dikirimkan untuk mendorong orang-orang Kristen menyumbang. Jika Anda membandingkan surat-surat sumbangan uang itu dengan apa yang ditulis oleh Paulus dalam 2Korintus 8 dan 9, maka tersingkaplah bahwa surat-surat itu benar-benar tidak berharga, mutlak tidak bernilai, tanpa hayat, tanpa roh. Sebagian besar, surat-surat itu hanya meminta sumbangan uang dari orang lain. Di satu pihak, dalam pasal-pasal ini Paulus memang menyinggung perkara pengumpulan uang. Tetapi cara Paulus menangani kebutuhan-kebutuhan materi ini mutlak berada di dalam Roh dan penuh dengan hayat, mutlak berbeda dengan praktek dari organisasi-organisasi kekristenan pada hari ini. Paulus bukan hanya menyinggung tentang uang; ia juga menyinggung tentang anugerah (kasih karunia) Allah dengan cara yang penuh dengan hayat dan Roh itu. Tulisan Paulus dalam pasal-pasal ini penuh dengan bobot rohani.

Jika kita membaca 2Korintus 8:1-15 dengan teliti, kita akan nampak bahwa kasih karunia di sini melibatkan empat pihak: Allah, orang-orang yang mempersembahkan, rasul-rasul, dan Kristus. Maka, kita dapat mengatakannya sebagai kasih karunia empat ganda kasih karunia Allah, kasih karunia dari orang-orang yang mempersembahkan, kasih karunia para rasul, dan kasih karunia Kristus. Sebenarnya, Paulus bukan hanya mengumpulkan uang. Lebih dari itu, ia merangsang orang-orang kudus untuk mengambil bagian dalam pemberian kepada orang-orang kudus yang kekurangan. Untuk mengambil bagian dalam ministri yang menyuplai orang-orang kudus yang kekurangan ini, kita memerlukan kasih karunia empat ganda.

KASIH KARUNIA ALLAH

Dalam 2Korintus 8:1 Paulus menyinggung tentang kasih karunia Allah yang diberikan kepada gereja-gereja di Makedonia. Kasih karunia ini adalah Kristus yang bangkit menjadi Roh pemberi hayat (1Kor. 15:45) untuk membawa Allah yang telah melalui proses dalam kebangkitan ke dalam kita untuk menjadi hayat dan suplai hayat kita. Kasih karunia ini sebenarnya adalah Allah Tritunggal yang menjadi hayat dan segala sesuatu bagi kita. Oleh kasih karunia ini kaum beriman Makedonia mengatasi penjajahan harta yang sementara dan tidak menentu ini dan dapat menjadi murah hati dalam memberikan kepada orang-orang kudus yang kekurangan.

Pada hari Pentakosta kaum beriman selalu bersatu dan semua milik mereka adalah milik bersama. Kisah Para Rasul 2:44-45 mengatakan, “Semua orang yang percaya tetap bersatu, dan semua milik mereka adalah milik bersama, dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing.” Mereka mempraktekkan apa yang disebut dengan kehidupan komunal. Praktek ini berlanjut dalam Kisah Para Rasul 4:32, “Kumpulan orang yang telah percaya itu sehati dan sejiwa, dan tidak seorang pun berkata bahwa sesuatu dari kepunyaannya adalah miliknya sendiri, tetapi segala sesuatu adalah kepunyaan mereka bersama.” Sepanjang abad banyak orang beriman yang mengapresiasikan kehidupan komunal dalam Kisah Para Rasul 2 dan 4 dan juga berusaha mempraktekkan segala sesuatu adalah milik bersama. Ada sekelompok orang di China Utara mempraktekkan kehidupan komunal semacam ini. Siapa saja yang bergabung dengan kelompok itu harus setuju untuk menyerahkan harta bendanya dan segala sesuatu menjadi milik bersama. Namun, kehidupan komunal dalam Kisah Para Rasul ini tidak bertahan lama. Bahkan pada pasal 6, masalah-masalah mulai timbul, dan tidak lama kemudian kehidupan komunal ini tidak berlanjut. Dalam tulisan-tulisan Paulus kita dapat melihat bahwa kehidupan komunal yang digambarkan dalam Kisah Para Rasul 2 dan 4 tidak dipraktekkan lagi. Dari Surat Kiriman Paulus kita nampak bahwa kehidupan orang Kristen yang tepat bukanlah kehidupan komunal, yaitu kehidupan yang segala sesuatunya adalah milik bersama, melainkan adalah kehidupan oleh kasih karunia. Kasih karunia ini berasal dari empat pihak: dari Allah, dari Kristus, dari para rasul, dan dari orang-orang kudus.

PENGAKUAN DALAM PENDERITAAN

Melanjutkan perkataannya tentang kasih karunia Allah yang diberikan kepada gereja-gereja di Makedonia, dalam ayat 2 Paulus mengatakan, “Selagi dicobai dengan berat dalam berbagai penderitaan, sukacita mereka meluap dan meskipun mereka sangat miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan.” Orang-orang Makedonia berada dalam kesusahan, dan penderitaan. Penderitaan itu merupakan satu ujian bagi mereka tentang berapa banyak mereka dapat diakui oleh Allah. Inilah yang dimaksud Paulus dengan diakui dalam penderitaan. Kapan saja kita berada dalam kesusahan dan penderitaan, kita harus sadar bahwa Allah sedang menguji kita untuk membuktikan di mana kita berada dan apa adanya kita. Hasil dari pengujian dalam kesusahan dan penderitaan ini, adalah pengakuan. Jika kita dapat bertahan dalam pengujian dan diakui oleh Allah, hasilnya adalah diakui dalam penderitaan. Orang-orang Makedonia berada dalam situasi yang demikian.

SUKACITA, KEMISKINAN,

DAN KAYA DALAM KEMURAHAN

Dalam ayat 2 Paulus merangkaikan “sukacita yang meluap” dengan “mereka sangat miskin”. Kelihatannya ini menjadi satu kombinasi yang sangat tidak lazim. Bagaimana mungkin orang-orang Makedonia yang berada di bawah garis kemiskinan memiliki sukacita yang meluap? Meskipun demikian, orang-orang Makedonia memiliki kemiskinan dan sukacita.

Bagi orang-orang Makedonia sukacita yang meluap dan keadaan mereka yang miskin itu “mereka kaya dalam kemurahan.” Kata Yunani yang diterjemahkan “kemurahan” juga dipakai untuk ketulusan dan kemurnian (lihat 1:12 dan Rm. 12:8). Kemurahan adalah murah hati dalam memberi. Meskipun orang-orang Makedonia itu sangat miskin, tetapi mereka itu murah hati. Mereka kaya dalam kemurahan.

Untuk menjadi murah hati, kita perlu tulus dan sederhana. Seorang yang rumit tidak mungkin murah hati. Orang-orang yang tulus dan sederhana akan kaya dalam kemurahan. Bila mereka mendengar tentang kebutuhan di antara orang-orang kudus, mereka segera memutuskan untuk memberikan sesuatu. Namun, orang-orang yang rumit mungkin mempertimbangkan perkara itu, kemudian memutuskan untuk memberikan sesuatu yang jauh lebih sedikit daripada yang mereka inginkan sebelumnya. Itu bukanlah ketulusan, kemurnian, kemurahan hati, atau lapang. Kita semua harus murah hati dan lapang dalam persembahan kita. Untuk hal ini, kita perlu tulus dan sederhana.

Ketika saya masih muda, saya heran mengapa Tuhan Yesus membiarkan Yudas menangani masalah keuangan. Tuhan tahu bahwa Yudas itu seorang pencuri, tetapi Dia masih membiarkannya mengurus uang. Saya pikir Tuhan seharusnya menyuruh Yohanes atau Petrus yang mengurus keuangan ini. Tetapi karena Tuhan Yesus itu murah hati dan lapang, juga bukan pencinta uang, Dia menyuruh Yudas mengurus keuangan. Tuhan itu benar-benar sederhana, tulus, murah hati, dan lapang.

Dalam 2Korintus 8:3-4 Paulus selanjutnya berkata, “Aku bersaksi bahwa mereka telah memberi menurut kemampuan mereka, bahkan melampaui kemampuan mereka. Dengan kerelaan sendiri mereka meminta dan mendesak kepada kami, supaya mereka juga beroleh anugerah untuk ambil bagian dalam pelayanan kepada orang-orang kudus.” Meskipun orang-orang Makedonia itu miskin dan berada dalam penderitaan, tetapi mereka memberi menurut kemampuan mereka dengan murah hati, yaitu dengan rela. Mereka melakukan hal ini melalui kasih karunia Allah, melalui Kristus yang bangkit sebagai Roh pemberi hayat yang berhuni di dalam mereka. Kristus ini adalah kasih karunia Allah yang bekerja di dalam kaum beriman dan mendorong mereka untuk mengalahkan cengkraman harta benda, terutama untuk mengalahkan mamon. Orang-orang Makedonia itu sangat miskin, tetapi kasih karunia yang bergerak di dalam mereka membuat mereka dapat mengalahkan mamon dan harta benda dan memakainya bagi penggenapan tujuan Allah.

Kita memerlukan kasih karunia untuk mengalahkan penjajahan harta benda. Memberi berdasarkan kasih karunia secara terus-menerus itu lebih sulit daripada menjual seluruh harta benda kita dan membuat segalanya menjadi milik bersama. Dalam 1Korintus 16 Paulus menyuruh kita menyisihkan sejumlah uang pada hari pertama setiap minggu. Pemberian yang terus-menerus ini memerlukan kasih karunia, karena hal ini bertentangan dengan sifat manusia kita yang telah jatuh. Jika kita ingin memberi secara terus-menerus, bukan satu kali untuk selamanya, kita memerlukan kasih karunia ilahi yang mendorong kita dari dalam. Untuk mendapatkan satu ministri yang mengalahkan mamon dan harta benda dan memakainya untuk tujuan Allah, kita memerlukan kasih karunia.

KASIH KARUNIA PARA RASUL

Ayat 4 mengatakan, “Dengan kerelaan sendiri mereka meminta dan mendesak kepada kami, supaya mereka juga beroleh anugerah untuk ambil bagian dalam pelayanan kepada orang-orang kudus.” Kata “anugerah” dalam bahasa Yunaninya adalah charis, yang berarti kasih karunia, karunia, dan kemurahan. Di sini artinya adalah kemurahan (Vincent). Kaum beriman Makedonia meminta para rasul supaya mereka dapat mengambil bagian (memiliki persekutuan) dalam kasih karunia pemberian orang-orang kudus yang kekurangan. Mereka tidak diminta untuk mengambil bagian dalam hal ini, melainkan mereka sendiri yang memohonnya. Mereka menganggap ini sebagai satu kasih karunia, karena itu meminta para rasul mengizinkan mereka mengambil bagian dalamnya.

Orang-orang Makedonia ingin memberi suplai materi kepada kaum beriman Yahudi. Namun, bersandarkan diri mereka sendiri, mereka tidak mampu melakukan hal ini. Secara materi dan secara rohani mereka memerlukan para rasul. Karena itu, mereka meminta para rasul untuk mengizinkan mereka mengambil bagian dalam kasih karunia ini, memberi mereka kasih karunia ini supaya mereka dapat mengambil bagian dalam ministri rohani yang demikian. Meskipun ministri ini berhubungan dengan benda-benda materi, tetapi Paulus membuatnya menjadi satu ministri rohani.

Sebenarnya, Paulus bukanlah seorang pengumpul uang. Ia adalah seorang yang mengambil ministri benda materi ini dan membuatnya menjadi sesuatu yang rohani yang penuh dengan hayat, Roh itu, dan pembangunan. Untuk mengambil bagian dalam ministri benda-benda materi dengan cara yang penuh dengan hayat, orang-orang Makedonia memerlukan kasih karunia para rasul, yaitu kemurahan para rasul. Tanpa ini, ministri orang-orang Makedonia bagi orang-orang kudus yang kekurangan hanya akan menjadi satu ministri yang material, tidak dapat menjadi satu ministri rohani yang penuh dengan hayat bagi pembangunan Tubuh Kristus.

Menurut perasaan orang-orang Makedonia, mereka menganggapnya sebagai satu kasih karunia untuk mengambil bagian dalam ministri bagi orang-orang kudus yang kekurangan. Partisipasi itu juga merupakan satu persekutuan dalam Tubuh Kristus. Inilah alasan mereka meminta rasul untuk memberi mereka kasih karunia ini guna mengambil bagian dalamnya.

Di bawah ministri para rasul, pemberian suplai materi ini menjadi satu perkara rohani yang penuh dengan hayat dan pembinaan. Ini benar-benar berbeda dengan pengumpulan dana pada hari ini, yang tanpa hayat, tanpa roh, dan tanpa pembangunan Tubuh Kristus. Agar pemberian materi kita menjadi satu ministri hayat yang rohani dan pembangunan, kita memerlukan kasih karunia dari Allah dan juga dari para rasul.

Ayat 5 mengatakan, “Mereka memberikan lebih banyak daripada yang kami harapkan. Mereka memberikan diri mereka, pertama-tama kepada Allah, kemudian oleh karena kehendak Allah juga kepada kami.” Ini menunjukkan bahwa Tuhan menginginkan diri kaum beriman, melebihi apa yang mereka miliki. Kaum beriman Makedonia bukan hanya memberikan diri mereka kepada Tuhan, tetapi juga kepada para rasul, untuk bersatu dengan para rasul dalam penggenapan ministri mereka. Ini adalah berdasarkan kehendak Allah. Berdasarkan kehendak Allah, berdasarkan tujuan Allah yang berdaulat, kaum beriman memberikan diri mereka pertama-tama kepada Tuhan, kemudian kepada para rasul.

KASIH KARUNIA MEMBERI

Dalam ayat 6 Paulus melanjutkan, “Sebab itu, kami mendesak Titus, supaya ia mengunjungi kamu dan menyelesaikan pelayanan kasih itu sebagaimana ia telah memulainya.” “Pelayanan kasih” di sini dalam bahasa aslinya adalah “kasih karunia”, menunjukkan tindakan memberi. Kata “itu” dalam bahasa aslinya adalah “ini juga”; menunjukkan bahwa selain kasih karunia ini, yakni kasih karunia untuk memberi, Titus masih menyelesaikan hal-hal lain di antara kaum beriman Korintus.

Dalam ayat 7 Paulus berkata, “Karena itu, sekarang, sama seperti kamu kaya dalam segala sesuatu dalam iman, dalam perkataan, dalam pengetahuan, dalam kesungguhan untuk membantu, dan dalam kasihmu terhadap kami demikianlah juga hendaknya kamu kaya dalam pelayanan kasih ini.” Di sini Paulus mengatakan “dalam kasihmu terhadap kami.” Beberapa naskah menulis, kasih yang berasal dari kami dan ada di dalam kamu. Ini menunjukkan bahwa kasih yang ada di dalam kaum beriman diinfuskan oleh para rasul ke dalam mereka.

Dalam ayat 7 kasih karunia adalah tindakan kasih yang ditunjukkan dalam pemberian benda-benda materi kepada kaum saleh yang kekurangan. Kasih karunia kaum beriman ini adalah hasil dari dorongan kasih karunia Allah. Dalam persekutuan pemberian kepada kaum saleh, rasul menunjukkan: kasih karunia Allah, yang diberikan kepada kaum beriman di Makedonia untuk mendorong dan memungkinkan mereka memberi dengan murah hati; kasih karunia para rasul, yang mengizinkan kaum beriman berbagian dalam pemberian kepada kaum saleh yang kekurangan; kasih karunia kaum beriman, yaitu pemberian benda-benda materi kepada kaum saleh yang kekurangan. Ini menunjukkan bahwa persembahan harta kaum beriman kepada Tuhan, tak peduli untuk tujuan apa pun, semuanya mutlak merupakan perkara kasih karunia, tidak seharusnya sebagai rangsangan manusia.

KASIH KARUNIA KRISTUS

Dalam ayat 8-9 Paulus selanjutnya mengatakan, “Aku mengatakan hal itu bukan sebagai perintah, melainkan, dengan menunjukkan usaha orang-orang lain untuk membantu, aku mau menguji keikhlasan kasih kamu. Karena kamu telah mengenal anugerah Tuhan kita Yesus Kristus bahwa sekalipun Ia kaya, oleh karena kamu Ia menjadi miskin, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya.” Tuhan Yesus, sebenarnya kaya, tetapi menjadi miskin karena kita, ini adalah kasih karunia bagi kita. Dalam prinsip yang sama, kita rela mempersembahkan harta benda kita untuk kepentingan orang lain, ini adalah kasih karunia bagi mereka.

Kelihatannya, Tuhan Yesus menjadi miskin itu tidak berhubungan dengan ministri suplai materi kepada kaum saleh yang kekurangan. Sebenarnya, jika Tuhan Yesus tidak menjadi miskin, kita tidak akan dapat memiliki Dia sebagai kasih karunia kita. Misalnya Tuhan Yesus tidak pernah datang menjadi manusia. Lalu, bagaimana Dia dapat menjadi hayat kita? Bagaimana Dia dapat menjadi kasih karunia yang bekerja di dalam kita, mendorong, menguatkan, dan menyuplai kita untuk melaksanakan satu ministri bagi kaum saleh yang kekurangan? Ini tidak mungkin. Kita sangat perlu menyadari bahwa Kristus dapat bekerja di dalam kita pada hari ini karena Dia menjadi miskin. Perihal Dia menjadi miskin karena kita seharusnya menjadi satu teladan. Di satu pihak, Dia adalah hayat di dalam kita; di pihak lain, di luar kita, Dia adalah teladan. Hayat Tuhan di dalam kita adalah hayat dari Dia yang kaya, dan menjadi miskin. Sebagai Dia yang adalah hayat kita dan teladan kita yang demikian ini, Kristus adalah kasih karunia bagi kita. Kita perlu menerima kasih karunia dari Tuhan Yesus. Kemudian kasih karunia ini akan membuat kita dapat melakukan apa yang Tuhan lakukan: menjadi miskin bagi orang lain. Sekalipun kita mungkin sangat miskin, tetapi kita masih memiliki sesuatu untuk dibagikan kepada kaum saleh yang kekurangan. Kita memiliki hayat yang di dalam kita untuk menjadi miskin bagi orang lain, dan kita memiliki teladan yang di luar kita untuk kita ikuti. Marilah kita menerima kasih karunia ini.

SUPLAI HAYAT

Jika kita memberi dengan kasih karunia yang demiki-an, maka apa yang kita berikan akan menjadi kasih karunia bagi orang lain. Kita memberikan benda-benda materi untuk membantu mereka, tetapi benda-benda materi ini disertai dengan kasih karunia rohani. Ketika kita menyuplai kaum saleh yang kekurangan dengan benda-benda materi dengan tepat, di dalam roh, dan dengan hayat, maka hayat dan roh akan menyertai suplai ini. Hasilnya, kaum saleh yang kekurangan itu bukan hanya disuplai dengan benda-benda materi, tetapi juga dengan kekayaan hayat.

Dalam berita ini kita telah menunjukkan bahwa untuk melakukan satu ministri kepada kaum saleh yang kekurangan ini kita perlu menerima kasih karunia dari Allah, dari para rasul, dan dari Tuhan Yesus Kristus. Dengan menerima kasih karunia tiga ganda ini, barulah kita dapat menyuplai orang lain dengan pemberian materi dalam kasih karunia. Apa saja yang kita lakukan dalam memberikan sesuatu kepada orang lain bukan hanya merupakan satu ministri benda-benda materi untuk memperhatikan kebutuhan kaum saleh, tetapi juga akan menjadi suplai hayat bagi mereka. Dengan demikian, kita menyalurkan kekayaan rohani kepada kaum saleh yang kekurangan. Pemberian semacam ini diperlukan di antara kita pada hari ini.

Pemberian materi kita harus menjadi sesuatu yang rohani, penuh dengan hayat, dapat membina orang-orang kudus, dan membangun Tubuh Kristus. Ini menuntut kita dalam mempersembahkan harta benda kepada Tuhan, harus memiliki jaminan bahwa kita melakukannya di dalam roh, dengan hayat, dan bagi pembangunan gereja. Pemberian semacam ini adalah hasil dari didamaikan sepenuhnya dengan Allah. Hanya orang-orang yang telah sepenuhnya didamaikan dengan Allah yang dapat memiliki ministri harta benda yang membawakan suatu suplai hayat kepada kaum saleh yang kekurangan, bagi pembinaan rohani dan bagi pembangunan Tubuh Kristus.