← Daftar isi 2 Korintus (3) · bab 18/19

NASIHAT TERAKHIR, SALAM, DAN BERKAT (1)

Pembacaan Alkitab: 2Kor. 13:11-13

Dalam berita ini kita akan melihat tiga ayat yang terakhir dari 2Korintus, 13:11-13.

SATU KEHIDUPAN YANG BERSUKACITA

Dalam 2Korintus 13:11 Paulus berkata, “Akhirnya, Saudara-saudaraku, bersukacitalah, usahakanlah dirimu supaya sempurna. Terimalah segala nasihatku! Sehati sepikirlah kamu, dan hiduplah dalam damai sejahtera; maka Allah, sumber kasih dan damai sejahtera akan menyertai kamu!” Karena para rasul bersukacita (ayat 9), maka mereka dapat menasihati kaum beriman untuk bersukacita juga. Ini bukan di dalam hayat alamiah mereka, tetapi di dalam Tuhan (Flp. 3:1; 4:4; 1Tes. 5:16).

Menurut Perjanjian Baru, kehidupan orang Kristen haruslah menjadi kehidupan yang bersukacita. Jika kehidupan Anda bukan kehidupan yang bersukacita, maka kehidupan kristiani Anda itu tidak normal. Bersukacita itu lebih daripada sekadar gembira. Mungkin saja kita bergembira tetapi tidak bersukacita. Kegembiraan adalah sesuatu yang di dalam, sedangkan sukacita berarti kegembiraan yang di dalam kita itu meluap keluar. Saya percaya Paulus akan mengatakan bahwa untuk bersukacita kita harus bersuara; yaitu, kita perlu memperdengarkan kegembiraan kita dengan mengeluarkan suara. Maka, memperdengarkan kegembiraan kita adalah bersukacita. Kita harus bersukacita baik dengan menyanyi, memuji, bersorak, atau berseru kepada Tuhan. Karena itu, bersukacita adalah memperdengarkan kegembiraan di dalam batin kita, yaitu menyuarakannya. Sukacita ini adalah satu ciri penting dari kehidupan kristiani kita. Jika kehidupan kristiani kita normal, kehidupan ini akan menjadi satu kehidupan yang bersukacita.

DISEMPURNAKAN

Dalam ayat 11 Paulus juga meminta kepada orang-orang Korintus untuk disempurnakan. Secara harfiah, kata “sempurna” berarti diselesaikan secara menyeluruh, yaitu, diperbaiki atau dibetulkan, diatur kembali, ditambal, disatukan dengan sempurna; karena itu dipulihkan. Dalam bahasa Yunani kata ini adalah akar kata untuk sempurna dalam ayat 9 dan memperlengkapi dalam Efesus 4:12.

Disempurnakan berarti dipulihkan, ditambal, diperbaiki, dan dibetulkan. Ini berarti dibawa kembali kepada posisi yang benar dan dipulihkan kepada rel yang benar su-paya kita dapat dibangun bersama orang lain dalam Tubuh. Kitab 1 dan 2Korintus adalah kitab-kitab penyempurnaan. Sasaran unik dari kedua Surat Kiriman ini adalah menyempurnakan kaum saleh di Korintus yang telah dirusak, diselewengkan, dan yang telah terpecah belah. Kaum beriman di sana telah rusak dan situasi di antara mereka tidak sehat. Karena itu, kedua kitab ini ditulis untuk melaksanakan tugas yang diperlukan guna menyempurnakan kaum beriman, membawa mereka kembali kepada satu keadaan yang sehat yang penuh dengan hayat, membina mereka, dan memperlengkapi mereka bagi pembangunan Tubuh. Semua itu tercakup dalam nasihat Paulus “usahakanlah dirimu supaya sempurna”.

Kita dapat menganggap nasihat “usahakanlah dirimu supaya sempurna” ini sebagai kalimat aktif-pasif. Sesung-guhnya, ini adalah kalimat pasif. Meskipun demikian, kalimat ini juga mengandung unsur aktif. Inilah sebabnya kita mengatakannya sebagai kalimat aktif-pasif. Allah sedang menunggu untuk menyempurnakan kita, namun kita harus mengambil inisiatif untuk disempurnakan. Selain itu, rasul juga dipakai untuk menyempurnakan orang-orang Korintus. Ini berarti pekerjaan menyempurnakan ini sedang dilaksanakan. Tetapi orang-orang Korintus masih perlu disempurnakan. Kita boleh menyamakan Paulus dengan seorang dokter dan bahwa ia siap memberikan obat kepada kaum beriman, tetapi kaum beriman perlu mengambil inisiatif untuk menerima obat itu. Dokternya sudah ada dan obatnya telah siap, tetapi kunci yang penting adalah ini: Apakah orang-orang Korintus mau mengambil obat itu dan disembuhkan? Inilah sebabnya Paulus mendorong mereka untuk disempurnakan.

TERHIBUR

Dalam ayat 11 Paulus juga mengharapkan orang-orang Korintus terhibur (“Terimalah nasihatku” dalam bahasa aslinya berarti “terhiburlah”). Para rasul dihibur oleh Allah sumber segala penghiburan (1:3-6). Orang-orang Korintus sangat kecewa oleh surat rasul yang pertama kepada mereka. Sekarang, dalam surat yang kedua, rasul menghibur mereka dengan penghiburan Allah (7:8-13).

Jika kita mempelajari seluruh Kitab 2Korintus, kita akan memahami bahwa dalam Surat Kiriman ini, penghiburan adalah satu perkara yang penting. Karena alasan ini, maka perkataan Paulus “terhiburlah” dalam 13:11 ini sangatlah bermakna. Terhibur itu berarti pertama-tama kita dihibur, lalu tenang, dan kemudian dipuaskan, dikuatkan, dan diteguhkan. Hasil dari semuanya ini adalah kita terhibur. Kita tidak tawar hati dan tidak patah semangat. Di sini Paulus seolah-olah berkata, “Kaum beriman di Korintus, pekerjaan penyempurnaan yang telah kulakukan kepadamu itu tidak seharusnya membuat kamu sedih. Sebaliknya kamu harus senang dan gembira, bahkan bersorak bersukacita. Selain itu, kamu perlu dihibur. Orang-orang Korintus, janganlah tawar hati.”

Kitab 2Korintus adalah kitab penghiburan. Pasal 1 dan pasal 7 penuh dengan penghiburan. Sebagai satu kitab penghiburan, Surat Kiriman ini membawa penghiburan, kepuasan, kekuatan, peneguhan dan sukacita. Kitab ini membawakan apa saja yang kita perlukan. Jika kita telah dipuaskan, dikuatkan, hingga terhibur, maka kita akan diberi kekuatan untuk melanjutkan kehidupan kristiani dan kehidupan gereja tanpa tawar hati.

SEHATI SEPIKIR

Dalam ayat 11 Paulus juga menasihati orang-orang Korintus untuk sehati sepikir. Sehati sepikir haruslah menjadi faktor utama bagi orang-orang Korintus yang telah dipalingkan dan diselewengkan supaya mereka dapat disempurnakan, dibetulkan, diatur, dan dipulihkan. Dalam Surat Kirimannya yang pertama (1Kor. 1:10), Paulus telah menasihati mereka supaya mereka sehati sepikir: “Tetapi aku menasihatkan kamu, Saudara-saudara, demi nama Tuhan kita Yesus Kristus, supaya kamu seia sekata dan jangan ada perpecahan di antara kamu, tetapi sebaliknya supaya kamu erat bersatu dan sehati sepikir.” Kata Yunani yang diterjemahkan “erat bersatu” dalam 1Korintus 1:10 adalah kata yang sama dengan kata yang diterjemahkan “membereskan jala” dalam Matius 4:21. Ini berarti memperbaiki, memulihkan, membetulkan, menambal, sepenuhnya membereskan kembali barang yang sudah pecah, dengan indah sempurna menggabungkan menjadi satu. Kaum beriman di Korintus telah terpecah-belah, terbagi-bagi secara keseluruhan. Mereka memerlukan perbaikan, agar dengan indah sempurna bersatu kembali, sehingga di dalam keharmonisan memiliki satu pikiran, dan satu opini.

Kita dapat mengambil tuts piano sebagai satu ilustrasi. Setiap tuts perlu memiliki nada yang tepat agar harmonis dengan semua tuts lainnya. Demikian juga, Paulus menasihati orang-orang Korintus agar erat bersatu, sehati sepikir, yaitu memikirkan hal yang sama dan tidak memiliki pemikiran yang “antik”. Kita semua perlu belajar bersandarkan kasih karunia untuk memikirkan hal yang sama.

DAMAI SEJAHTERA

Dalam 2Korintus 13:11 Paulus juga menasihati orang-orang Korintus agar mereka hidup dalam damai sejahtera. Ini berarti berada dalam damai sejahtera satu dengan yang lain, dan mungkin juga dengan Allah. Paulus tahu bahwa ada perselisihan dan persaingan di antara orang-orang Korintus. Satu Korintus 1:11 mengatakan, “Sebab, Saudara-saudaraku, aku telah diberitahukan oleh orang-orang dari keluarga Kloe tentang kamu bahwa ada perselisihan di antara kamu.” Ini dengan jelas menunjukkan bahwa di antara kaum beriman di Korintus tidak ada damai sejahtera. Di sini dalam 2Korintus 13:11 Paulus mendorong mereka agar mereka berada dalam damai sejahtera.

Kehidupan orang Kristen adalah kehidupan yang bersukacita dan juga kehidupan damai sejahtera. Maka, berselisih dengan orang lain atau bersaing dengan mereka itu bertentangan dengan prinsip dasar kehidupan orang Kristen. Perselisihan dan persaingan adalah ciri-ciri dari kehidupan manusia yang telah jatuh. Dunia pada hari ini penuh dengan perselisihan dan persaingan. Dalam setiap aspek dari masyarakat manusia, persaingan dan peperangan itu sudah biasa. Kehidupan orang Kristen mutlak berbeda dengan hal ini. Sebagai umat surgawi, kita harus selalu berada dalam damai sejahtera satu sama lain.

ALLAH SUMBER KASIH DAN DAMAI SEJAHTERA

Menurut perkataan Paulus dalam ayat 11, jika kita bersukacita, disempurnakan, dihibur, sehati sepikir, dan berada dalam damai sejahtera, maka Allah sumber kasih dan damai sejahtera akan menyertai kita. Orang-orang Korintus kekurangan kasih (1Kor. 8:1; 13:1-3, 13; 14:1) dan damai sejahtera karena mereka diganggu oleh pengajaran-pengajaran yang menyesatkan dan konsep-konsep yang menipu. Karena itu, rasul berharap agar Allah sumber kasih dan damai sejahtera menyertai mereka sehingga mereka dibetulkan dan disempurnakan. Mereka perlu dipenuhi de-ngan kasih dan damai sejahtera dari Allah, sehingga mereka dapat hidup menurut kasih (Rm. 14:15; Ef. 5:2) dan memiliki damai satu dengan yang lain (Rm. 14:19; Ibr. 12:14).

Karena pada kaum beriman di Korintus terdapat perselisihan dan persaingan, mereka tentu kekurangan kasih. Kitab 1Korintus memiliki satu pasal, yaitu pasal 13, yang sepenuhnya terpusat pada subyek tentang kasih. Sekarang dalam penutupan dari 2Korintus ini, Paulus menekankan Allah sumber kasih. Ia tidak menekankan Allah sumber kuasa atau Allah sumber mujizat. Di sini Paulus seolah-olah memberi tahu orang-orang Korintus, “Kalian kekurangan kasih, dan karena itulah kalian memerlukan Allah sumber kasih. Karena keadaan kalian yang demikian, kalian tidak memerlukan Allah sumber kuasa atau Allah yang mahakuasa. Yang kalian perlukan adalah Allah sumber kasih dan damai sejahtera.”

Ketika orang-orang Kristen memikirkan tentang Allah, mereka memikirkan Dia sebagai Yang penuh kuasa, Yang mahakuasa, yaitu Dia yang melakukan mujizat-mujizat. Tetapi di sini penekanan Paulus adalah pada Allah sumber kasih dan damai sejahtera. Ia menunjukkan kepada orang-orang Korintus bahwa mereka memerlukan Allah sumber kasih dan damai sejahtera. Mereka menekankan karuniakarunia, terutama, berkata-kata dalam bahasa lidah. Karena alasan ini, mereka boleh dianggap sebagai aliran Pentakosta zaman dulu. Dari pengalaman saya tahu bahwa orang-orang Pentakosta khususnya, memerlukan Allah sumber kasih dan damai sejahtera. Mereka mungkin saling berpelukan pada satu hari dan kemudian terpecah-pecah pada hari berikutnya. Mereka memiliki banyak kesulitan untuk mengenal apakah yang sejati itu, karena mereka kekurangan Allah sumber kasih dan damai sejahtera.

Kita perlu bersukacita, disempurnakan, dihibur, dan berada dalam damai sejahtera. Kita juga perlu memikirkan hal yang sama. Jika kita memiliki semua ini dalam pengalaman kita, maka kita akan menikmati Allah sumber kasih dan damai sejahtera.

Sebenarnya, kasih adalah faktor pendorong bersukacita. Jika kita kekurangan kasih, maka kita tidak akan memiliki kegembiraan apa pun, dan kita tidak akan dapat bersukacita. Anda mungkin berusaha bersukacita ketika ada kebencian dalam hati Anda, tetapi hal itu tidak akan berhasil. Demikian juga, kita tidak dapat bersukacita bila kita penuh dengan iri hati. Seorang yang bersukacita adalah seorang yang penuh dengan kasih, kebaikan, dan damai sejahtera.

Akan berfaedah bila kita memasang 2Korintus 13:11 pada dinding rumah kita. Tetapi yang lebih penting, kita harus mengingat perkataan ini di dalam kita.

CIUMAN KUDUS

Dalam ayat 12 Paulus berkata, “Berilah salam seorang kepada yang lain dengan ciuman kudus.” Ini adalah ciuman dari kasih yang murni tanpa campuran yang mencemarkan. Perkataan Paulus dalam ayat 12 menyiratkan bahwa dalam kehidupan kristiani kita harus ada keseimbangan. Tidaklah cukup hanya memiliki kasih dan damai sejahtera. Kasih kita perlu seimbang dengan kekudusan. Dengan menyadari perlunya keseimbangan ini, maka Paulus memerintahkan orang-orang Korintus untuk saling memberikan salam dengan ciuman kudus. Kemudian dalam ayat 12b ia berkata, “Salam dari semua orang kudus kepada kamu.”

KASIH KARUNIA (ANUGERAH), KASIH,

DAN PERSEKUTUAN

Di antara keenam puluh enam kitab dalam Alkitab, 2Korintus adalah kitab yang sangat khusus, yakni ditutup dengan satu berkat: “Anugerah Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian.” Berkat ini tersusun dari atribut-atribut Allah Tritunggal: kasih karunia (anugerah), kasih, dan persekutuan. Kasih Allah Bapa adalah sumbernya, mata airnya, dan kasih karunia adalah aliran, ekspresi dari kasih. Dengan kasih sebagai sumbernya, kita dapat melakukan sesuatu bagi orang lain atau memberikan sesuatu kepada mereka. Ini adalah kasih karunia sebagai aliran dan ekspresi kasih. Misalnya, saya ingin memberikan sebuah jam tangan kepada seorang saudara. Pemberian jam tangan itu adalah satu ekspresi kasih saya terhadapnya. Kasih di dalam saya ini diekspresikan dengan saya memberinya sebuah jam tangan. Kita dapat memakai hal ini untuk menggambarkan kasih Allah dan kasih karunia Kristus. Kasih adalah dengan Bapa sebagai sumbernya, dan kasih karunia adalah dengan Putra sebagai jalur, aliran, dan ekspresinya.

Persekutuan Roh Kudus adalah perkara komunikasi, transportasi, dan transmisi. Karena itu, kasih adalah sumbernya, kasih karunia adalah alirannya, dan persekutuan adalah transmisi dari aliran dengan sumbernya itu. Dengan cara inilah kita memiliki kasih, kasih karunia, dan persekutuan sebagai kenikmatan kita, dan kita mengambil bagian di dalamnya.

Dua Korintus 13:13 dengan jelas mengatakan bahwa kasih karunia berasal dari Kristus, kasih berasal dari Allah, dan persekutuan berasal dari Roh Kudus. Karena Kitab 2Korintus menekankan kasih karunia, maka kasih karunia ini disebutkan lebih dulu dalam 13:13. Di tempat lainnya dalam kitab ini Paulus membicarakan tentang kasih karunia ini dengan tegas. Misalnya, dalam 2Korintus 1:12 ia berkata, “Inilah yang kami megahkan, yaitu bahwa suara hati kami memberi kesaksian kepada kami bahwa hidup kami di dunia ini, khususnya dalam hubungan kami dengan kamu, dikuasai oleh ketulusan dan kemurnian dari Allah bukan oleh hikmat duniawi, tetapi oleh kekuatan anugerah Allah.” Kemudian dalam 2Korintus 8:1-15 kita melihat kasih karunia dari empat kelompok, terutama, kasih karunia Kristus. Dalam 2Korintus 8:9 Paulus berkata, “Karena kamu telah mengenal anugerah Tuhan kita Yesus Kristus bahwa sekalipun Ia kaya, oleh karena kamu Ia menjadi miskin, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya.” Kemudian dalam 2Korintus 12:9 kita memiliki satu ayat yang paling terkenal tentang kasih karunia dalam seluruh Alkitab: “Tetapi jawab Tuhan kepadaku, ‘Cukuplah anugerah-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.’”

Kasih karunia yang disajikan dalam 2Korintus sebenarnya adalah Allah Tritunggal yang terwujud dalam Putra dan ditransmisikan ke dalam diri kita melalui Roh itu bagi kenikmatan kita. Maka, kasih karunia adalah Allah Tritunggal sebagai hayat, suplai hayat, dan kenikmatan kita. Kasih karunia ini adalah hasil dari kasih Bapa dan ditransmisikan ke dalam diri kita oleh Roh itu. Karena itu, kita memiliki kasih karunia Kristus, kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus yaitu kenikmatan yang penuh akan Allah Tritunggal.