← Daftar isi 2 Korintus (3) · bab 19/19

NASIHAT TERAKHIR, SALAM, DAN BERKAT (2)

Pembacaan Alkitab: 2Kor. 13:11-13

BERKAT TIGA GANDA

Dalam 2Korintus 13:13 kita memiliki berkat tiga ganda: “Anugerah Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian.” Berkat tiga ganda ini melibatkan Allah Tritunggal, karena di sini kita memiliki kasih karunia (anugerah) Kristus Putra, kasih Allah Bapa, dan persekutuan Roh Kudus.

Dalam Perjanjian Lama kita juga memiliki berkat tiga ganda, yaitu berkat yang diumumkan oleh imam Lewi pada akhir Bilangan 6. Dalam berkat tiga ganda ini tersirat Allah Tritunggal. Bilangan 6:24-26 mengatakan, “TUHAN memberkati engkau dan melindungi engkau; TUHAN menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia; TUHAN menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera.” Pertama kita memiliki berkat yang berhubungan dengan Bapa: “Tuhan memberkati engkau dan melindungi engkau.” Kedua, kita memiliki berkat yang berhubungan dengan Putra: “Tuhan menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia.” Ketiga kita memiliki berkat yang berhubungan dengan Roh itu: “Tuhan menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera.” Imam Lewi tentu memustikakan berkat ini. Namun, berkat ini tidak dapat dibandingkan dengan berkat dalam 2Korintus 13:13. Apa yang kita miliki dalam Bilangan 6:24-26 itu hanya merupakan berkat saja, yaitu suatu berkat tanpa kenikmatan. Tetapi yang kita miliki dalam 2Korintus 13:13 bukan hanya satu berkat saja, melainkan kita memiliki Allah dalam Ke-Allahan Tritunggal-Nya, Bapa, Putra, dan Roh.

ALLAH TRITUNGGAL SEBAGAI BERKAT KITA YANG UNIK

Membicarakan kasih Allah, kasih karunia Kristus, dan persekutuan Roh Kudus itu sebenarnya membicarakan bahwa kasih itu adalah Allah, kasih karunia adalah Kris-tus, dan persekutuan adalah Roh Kudus. Jadi, kita memiliki Allah Bapa sebagai kasih, kita memiliki Allah Putra sebagai kasih karunia, dan kita memiliki Allah Roh sebagai persekutuan. Ini berarti kita memiliki Allah Tritunggal secara langsung sebagai kenikmatan kita. Yang kita miliki itu bukan hanya satu berkat dari Dia atau oleh Dia saja.

Berkat yang sesungguhnya dalam Perjanjian Baru adalah Allah Tritunggal itu sendiri. Seperti yang telah kita tunjukkan, berkat ini merupakan satu berkat tiga ganda dari kasih, kasih karunia, dan persekutuan. Dengan kasih sebagai sumbernya, kasih karunia sebagai alirannya, dan dengan persekutuan sebagai transmisinya, Allah Tritunggal mencapai kita untuk menjadi hayat kita, suplai hayat kita, dan kenikmatan kita. Sekarang kita dapat menikmati Allah Tritunggal sepanjang hari dengan riil. Inilah berkat kita yang unik dalam Perjanjian Baru.

TIGA ASPEK DARI SATU HAL

Kasih karunia Tuhan adalah Tuhan sendiri sebagai hayat kita untuk kenikmatan kita (Yoh. 1:17; 1Kor. 15:10); kasih Allah adalah Allah sendiri (1Yoh 4:8, 16) sebagai sumber kasih karunia Tuhan; dan persekutuan Roh itu adalah Roh itu sendiri sebagai transmisi dari kasih karunia Tuhan dengan kasih Allah untuk partisipasi kita. Ini bukan tiga perkara yang terpisah, tetapi tiga aspek dari satu hal, sama seperti Tuhan, Allah, dan Roh Kudus bukan tiga Allah yang terpisah, tetapi tiga “substansi (hypostases) dari satu Allah yang sama, tidak terpisah, dan tidak tercerai” (Philip Schaff). Kasih Allah adalah sumber, karena Allah adalah asal mulanya; kasih karunia Tuhan adalah aliran kasih Allah, karena Tuhan adalah ekspresi Allah; persekutuan Roh adalah penyaluran kasih karunia Tuhan beserta kasih Allah, karena Roh adalah transmisi Tuhan beserta Allah, bagi pengalaman dan kenikmatan kita akan Allah Tri-tunggal Bapa, Putra, dan Roh Kudus beserta kebajikan-kebajikan ilahi Mereka. Di sini kasih karunia Tuhan disebutkan lebih dulu karena kitab ini menekankan kasih karunia Kristus (2Kor. 1:12; 4:15; 6:1; 8:1, 9; 9:8, 14; 12:9). Kaum beriman Korintus yang diselewengkan dan ditipu tetapi yang kemudian dihibur dan dipulihkan, memerlukan atribut-atribut ilahi dari ketiga kebajikan ini: kasih, kasih karunia, dan persekutuan; juga memerlukan Allah Tritunggal dari ketiga substansi ilahi ini: Bapa, Putra, dan Roh itu. Karena itu, rasul menggunakan semua hal yang ilahi dan berharga ini dalam satu kalimat untuk menutup suratnya yang manis dan akrab.

TIGA HYPOSTASES

Dalam alinea sebelumnya kita telah dua kali memakai hypostases. Kata ini memerlukan penjelasan lebih jauh. Bentuk tunggal dari kata ini adalah hypostasis. Kata ini adalah bentuk ungkapan dari bahasa Yunani. Kata ini tersusun dari dua kata Yunani: hupo, kata depan yang berarti di bawah, dan stasis, kata yang berarti penunjang atau penyangga. Maka, kata ini mengacu kepada sesuatu di bawah yang menunjang, substansi penunjang, sesuatu yang menunjang di bawah. Kata Yunani hypostasis dipakai dalam 2Korintus 9:4 dan 11:17. Kata ini berarti pekerjaan dasar yang di atasnya didirikan bangunan; karena itu, ini adalah pondasi, kedudukan; jadi mengandung arti keyakinan seperti dalam 2Korintus 9:4 dan 11:17. Jika kita memiliki dasar pekerjaan yang tepat atau penunjang di bawah yang tepat, maka kita dapat memiliki keyakinan.

Beberapa kamus menghubungkan kata hypostasis ini dengan tiga Persona Trinitas. Arti kata ini yang diberikan dalam kamus-kamus itu, merupakan suatu penafsiran. Kata hypostasis itu bukan berarti persona. Tetapi para ahli teologi telah memakainya untuk menyebut tiga Persona dari Ke-Allahan, yaitu Bapa, Putra, dan Roh. Sebenarnya, Bapa, Putra, dan Roh itu adalah tiga hypostasis, yakni, substansi penunjang Ke-Allahan. Dengan kata lain, Ke-Allahan itu tersusun dari substansi-substansi yang menopang dari Bapa, Putra, dan Roh. Ini berarti jika tiga hypostasis ini diambil, maka Ke-Allahan itu akan kehilangan substan-sinya.

Guru-guru Alkitab zaman dulu memakai kata hypostasis ini untuk menyebut Bapa, Putra, dan Roh. Para ahli teologi lainnya mengatakan, ketiga hypostasis ini menunjukkan tiga Persona dari Ke-Allahan. Pemakaian kata persona ini telah memimpin beberapa orang kepada kesalahan akan triteisme, yaitu doktrin bahwa Bapa, Putra, dan Roh adalah tiga Allah. Seperti yang telah berkali-kali kita tunjukkan, W. H. Griffith Thomas mengatakan bahwa kita tidak boleh menekankan kata persona ini terlalu berlebihan, jika tidak, kita akan mengajarkan doktrin triteisme. Jadi, tidaklah aman sepenuhnya bila kita memakai kata persona dengan cara ini. Meskipun demikian, kita mungkin perlu memakainya untuk sementara. Misalnya, kita memakainya dalam sebuah kidung kita (Kidung No. 447): “Bapa, Putra, dan Roh itulah Allah! Tiga Person tapi esa saja.” Tetapi sekalipun kita memakai istilah ini untuk sementara, kita ingin menekankan dengan jelas bahwa kita hanya memiliki satu Alah, yaitu Allah yang unik. Meskipun demikian, Allah itu tritunggal: Bapa, Putra, dan Roh. Istilah hypostasis ini adalah satu usaha untuk menyampaikan kebenaran tentang Allah Tritunggal.

ALLAH TRITUNGGAL MENYALURKAN

DIRINYA SENDIRI KE DALAM MANUSIA

Dua Korintus 13:13 adalah bukti yang kuat bahwa Trinitas Ke-Allahan bukanlah teologi sistematis untuk pemahaman doktrin tetapi untuk penyaluran Allah sendiri dalam ketrinitasan-Nya ke dalam umat pilihan dan tebusan-Nya. Dalam Alkitab, ketrinitasan ilahi tidak pernah diwahyukan sekadar sebagai doktrin, tetapi selalu diwahyukan atau disinggung berkaitan dengan hubungan Allah dengan makhluk ciptaan-Nya, terutama dengan manusia yang diciptakan oleh-Nya, dan lebih khusus lagi dengan umat-Nya yang dipilih dan ditebus. Sebutan ilahi pertama yang digunakan dalam wahyu ilahi, yaitu Elohim dalam bahasa Ibrani (berbentuk jamak), suatu sebutan yang digunakan berkaitan dengan ciptaan Allah (Kej. 1:1), menyiratkan bahwa Allah ini, Pencipta langit dan bumi bagi manusia, adalah tritunggal. Mengenai ciptaan Allah terhadap manusia sesuai dengan gambar dan rupa-Nya, Dia menggunakan kata ganti jamak “Kita”, yang mengacu kepada ketrinitasan-Nya (Kej. 1:26) dan menyiratkan bahwa Dia akan bersatu dengan manusia, bahkan mengekspresikan diri-Nya melalui manusia dalam ketrinitasan-Nya. Dalam Kejadian 3:22, 11:7, dan Yesaya 6:8, ketika Dia menyinggung hubungan-Nya dengan manusia dan dengan umat pilihan-Nya, berulang-ulang Dia menyebut diri-Nya sendiri sebagai “Kita”.

MENJADI SATU DALAM ALLAH TRITUNGGAL

Untuk menebus manusia yang jatuh agar Ia tetap dapat memiliki kedudukan untuk bersatu dengan manusia, Dia berinkarnasi (Yoh. 1:1, 14) di dalam Putra dan melalui Roh (Luk. 1:31-35) menjadi manusia, dan menempuh hidup insani di bumi, juga di dalam Putra (Luk. 2:49) dan oleh Roh (Luk. 4:1; Mat. 12:28). Pada awal ministri-Nya di bumi, Bapa mengurapi Putra dengan Roh (Mat. 3:16-17; Luk. 4:18) supaya Dia dapat mencapai manusia dan membawa manusia kembali kepada-Nya. Sebelum disalibkan dalam daging dan bangkit menjadi Roh pemberi hayat (1Kor. 15:45), Dia menyingkapkan misteri ketrinitasan-Nya kepada murid-murid-Nya dalam kata-kata yang jelas (Yoh. 14-17), menyatakan bahwa Roh ada di dalam Bapa, Bapa ada di dalam Putra (Yoh. 14:9-11), Roh adalah perwujudan Putra (Yoh. 14:16-20), bahwa ketiganya, secara berkesinambungan serentak ada dan saling huni, tinggal bersama kaum beriman bagi kenikmatan mereka (Yoh. 14:23; 17:21-23); juga mengatakan semua yang Bapa miliki adalah milik Putra dan semua yang Putra miliki diterima oleh Roh untuk dinyatakan kepada kaum beriman (Yoh. 16:13-15). Trinitas ini seluruhnya berhubungan dengan penyaluran Allah yang telah melalui proses ke dalam kaum beriman-Nya (Yoh. 14:17, 20; 15:4-5) supaya mereka boleh menjadi satu di dalam dan dengan Allah Tritunggal (Yoh. 17:21-23).

PERSATUAN ORGANIK DENGAN ALLAH

YANG TELAH MELALUI PROSES

Setelah kebangkitan-Nya, Dia memerintah murid-murid-Nya untuk menjadikan semua bangsa murid-Nya, membaptis mereka ke dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus (Mat. 28:19); yaitu membawa orang-orang yang percaya masuk ke dalam Allah Tritunggal, ke dalam kesatuan yang organik dengan Allah yang melalui proses. Allah ini telah melalui inkarnasi, kehidupan manusia, ketersaliban, dan telah masuk ke dalam kebangkitan. Berdasarkan kesatuan yang organik ini, pada penutup Surat Kiriman ini, rasul memberkati mereka dengan berkat Trinitas Ilahi, berbagian dalam kasih karunia Putra dan kasih Bapa melalui persekutuan Roh. Dalam Trinitas Ilahi ini, Allah Bapa mengerjakan segala sesuatu di dalam semua anggota dalam gereja (Tubuh Kristus), melalui ministri Tuhan (Allah Putra), dan karunia Allah Roh (1Kor. 12:4-6).

ALLAH TRITUNGGAL MENGHASILKAN GEREJA

Seluruh wahyu ilahi dalam Kitab Efesus mengenai kelahiran, keberadaan, pertumbuhan, pembangunan, dan peperangan gereja sebagai Tubuh Kristus, semuanya tersusun sebagai ekonomi ilahi, yaitu penyaluran Allah Tri-tunggal ke dalam anggota-anggota Tubuh Kristus. Pasal 1 menyingkapkan bagaimana Allah Bapa memilih dan menentukan anggota-anggota ini dalam kekekalan (Ef. 1:4-5), bagaimana Allah Putra menebus mereka (Ef. 1:6-12), bagaimana Allah Roh sebagai jaminan, memeterai mereka (Ef. 1:13-14), dengan demikian menyalurkan diri-Nya sendiri ke dalam kaum beriman untuk pembentukan gereja, yang adalah Tubuh Kristus, kepenuhan yang memenuhi semua dan di dalam segala sesuatu (Ef. 1:18-23). Pasal 2 menunjukkan kepada kita bahwa di dalam Trinitas Ilahi seluruh kaum beriman, baik orang Yahudi maupun orang bukan Yahudi, memiliki jalan masuk kepada Allah Bapa, melalui Allah Putra, di dalam Allah Roh (Ef. 2:18). Ini juga menunjukkan bahwa ketiga-Nya tetap serentak ada dan saling huni secara berkesinambungan, bahkan setelah semua proses inkarnasi, kehidupan manusia, ketersaliban, dan kebangkitan. Dalam pasal 3 rasul berdoa supaya Allah Bapa melalui Allah Roh menguatkan kaum beriman ke dalam manusia batiniah mereka, supaya Kristus, Allah Putra, dapat membuat rumah-Nya di dalam hati mereka, yaitu menduduki seluruh diri mereka, sehingga mereka dipenuhi sampai kepada seluruh kepenuhan Allah (Ef. 3:14-19). Inilah puncak pengalaman dan partisipasi kaum beriman dalam ketrinitasan-Nya. Pasal 4 menggambarkan bagaimana Allah yang telah melalui proses, sebagai Roh, Tuhan, dan Bapa berbaur dengan Tubuh Kristus (Ef. 4:4-6) supaya semua anggota Tubuh dapat mengalami Trinitas Ilahi. Pasal 5 menasihati kaum beriman untuk memuji Tuhan (Allah Putra) dengan nyanyian-nyanyian Allah Roh, dan bersyukur dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus (Allah Putra) kepada Allah Bapa (Ef. 5:19-20). Ini adalah memuji dan bersyukur kepada Allah yang telah melalui proses dalam Trinitas Ilahi-Nya bagi kenikmatan kita akan Allah Tritunggal. Pasal 6 menginstruksi kita untuk berjuang dalam perjuangan rohani dengan dikuatkan di dalam Tuhan (Allah Putra), sambil mengenakan seluruh perlengkapan senjata Allah Bapa, dan menggunakan pedang Roh Allah (Ef. 6:10-11, 17). Inilah pengalaman dan kenikmatan kaum beriman akan Allah Tritunggal, bahkan dalam peperangan rohani.

ALLAH TRITUNGGAL BAGI KENIKMATAN

DAN PARTISIPASI KITA

Dalam tulisannya, Rasul Petrus juga memastikan bahwa Allah adalah tritunggal untuk kenikmatan kaum beriman, dengan mengatakan tentang pemilihan Allah Bapa, pengudusan Allah Roh, dan penebusan Yesus Kristus (Allah Putra) yang digenapkan oleh darah-Nya (1Ptr. 1:2). Rasul Yohanes juga memperkuat wahyu Trinitas Ilahi agar kaum beriman mengambil bagian dalam Allah Tritunggal yang telah melalui proses. Dalam Kitab Wahyu dia memberkati gereja-gereja lokal dengan kasih karunia dan damai sejahtera dari Dia yang sekarang ada, yang sudah ada, dan yang akan datang (Allah Bapa), dan dari tujuh Roh yang ada di hadapan takhta-Nya (Allah Roh), dan dari Yesus Kristus (Allah Putra), Saksi yang setia, Yang pertama bangkit dari antara orang mati, dan dari Penguasa raja-raja di bumi (Why. 1:4-5). Berkat Yohanes yang diberikan kepada gereja-gereja juga menunjukkan bahwa Allah Tritunggal yang telah melalui proses, di dalam segala apa adanya Dia sebagai Bapa yang kekal, di dalam segala apa yang dapat Dia lakukan sebagai Roh yang diperkuat tujuh ganda, dan di dalam segala yang telah Dia capai dan dapatkan sebagai Putra yang diurapi, semuanya bagi kenikmatan kaum beriman, supaya mereka dapat menjadi kesaksian-Nya yang korporat, menjadi kaki pelita emas (Why. 1:9, 11, 20).

Jadi, jelaslah bahwa wahyu ilahi tentang Trinitas ke-Allahan dalam Firman kudus, dari Kejadian sampai Wahyu, bukanlah untuk penyelidikan secara teologis, melainkan supaya kita paham bagaimana Allah di dalam ketrinitasan-Nya yang misterius dan ajaib menyalurkan diri-Nya sendiri ke dalam umat pilihan-Nya, supaya kita sebagai umat pilihan dan tebusan-Nya, bisa seperti yang ditunjukkan dalam berkat rasul kepada kaum beriman Korintus, berbagian, mengalami, menikmati, dan mendapatkan Allah Tritunggal yang telah melalui proses, sekarang dan sampai selamanya. Amin.

?

PELAJARAN HAYAT

SURAT 1YOHANES

BERITA

01 02 03 04 05 06 07 08

09 10 11

12 13 14 15 16 17 18 19

20 21 22 23 24