PEMBELAAN PAULUS AKAN KUASA KERASULANNYA (8)
Pembacaan Alkitab: 2Kor. 12:19-13:10
BERBICARA DI HADAPAN ALLAH
DI DALAM KRISTUS
Dalam 2Korintus 12:19 Paulus berkata, “Sudah lama agaknya kamu menyangka bahwa kami hendak membela diri terhadap kamu. Di hadapan Allah di dalam Kristus kami berkata: Semua ini, Saudara-saudaraku yang terkasih, terjadi untuk membangun iman kamu” (Tl.). Selain orang-orang Korintus, kita juga mungkin mengira bahwa dalam pasal-pasal ini Paulus membela dirinya. Judul dari berita-berita ini bahkan membicarakan pembelaan Paulus akan kuasa kerasulannya. Kelihatannya dalam pasal-pasal ini Paulus sedang membela dirinya sendiri; sebenarnya, ia tidak membela dirinya atau mempertahankan dirinya.
Dalam ayat ini Paulus mengatakan bahwa ia berbicara di hadapan Allah di dalam Kristus. “Di dalam Kristus” mengacu kepada hayat yang dengannya para rasul berkatakata, juga mengacu kepada sarana dan unsur perkataan mereka. “Di hadapan Allah” mengacu kepada suasana ketika para rasul berkata-kata, juga ruang lingkup perkataan mereka.
Sepertinya Paulus tidak konsisten. Dalam 2Korintus 11:17 ia mengatakan bahwa ia berbicara bukan menurut firman Tuhan, melainkan sebagai orang bodoh. Sekarang ia mengatakan bahwa ia berbicara di hadapan Allah di dalam Kristus. Saya kira Paulus tidak akan membela dirinya terhadap tuduhan tidak konsisten. Baik kita memahami dia atau tidak. Paulus tahu apa yang sedang dilakukannya dan apa yang dikatakannya. Hari ini kita juga dituduh tidak konsisten dan bertentangan.
Pertimbangkanlah situasi Paulus dalam 2Korintus. Ketika ia berbicara, seolah-olah seperti orang bodoh, ia mengatakan bahwa ia tidak berbicara menurut firman Tuhan. Dengan kata lain, Paulus mengatakan bahwa kebodohannya itu, dan bukan Tuhan, adalah penggerak pembicaraannya. Tetapi dalam 2Korintus 12:19 ia mengatakan bahwa ia berbicara di dalam Kristus, dan berdasarkan Kristus sebagai hayatnya. Ia juga mengatakan bahwa ia berbicara di hadapan Allah, yaitu dalam Allah sebagai ruang lingkup pembicaraannya. Di sini Paulus seolah-olah berkata, “Aku tidak membela diriku sendiri. Sebaliknya, aku berbicara berdasarkan Kristus sebagai hayatku dan di hadapan Allah sebagai atmosfirku. Selain itu, aku berbicara untuk membangun kamu. Saudara-saudaraku yang terkasih, semuanya itu bukan untuk pembelaanku, melainkan untuk membangun kamu. Aku suka berkorban dan mengorbankan seluruh diriku bagimu. Aku tidak peduli akan membela diriku sendiri. Aku mempedulikan kamu dan memperhatikan pembangunanmu. Inilah fokus perhatianku. Aku tidak berusaha meyakinkan kamu supaya menerimaku sebagai seorang rasul. Perhatianku adalah agar kamu dapat dibangunkan. Asalkan kamu terbangun, aku akan puas. Aku rela memberikan apa saja untuk hal ini.”
SATU DAFTAR HAL-HAL YANG NEGATIF
Ayat 20 mengatakan, “Sebab aku khawatir bahwa apabila aku datang aku mendapati kamu tidak seperti yang kuinginkan dan kamu mendapati aku tidak seperti yang kamu inginkan. Aku khawatir akan adanya perselisihan, iri hati, kemarahan, kepentingan diri sendiri, fitnah, pergunjingan, keangkuhan, dan kerusuhan.” Kedambaan Paulus terhadap orang-orang Korintus adalah supaya mereka dapat berada di dalam Kristus, memperhidupkan Kristus, dan dibangunkan menjadi Tubuh. Namun, Paulus takut apabila ia datang kepada mereka, ia mendapati mereka tidak seperti yang diinginkannya. Selain itu, ia menyadari bahwa orang-orang Korintus mungkin akan mendapatinya tidak seperti yang mereka inginkan, karena itu Paulus perlu berani terhadap mereka dan mendisiplin mereka. Maka, seolah-olah Paulus itu tidak lembut, tidak mengasihi mereka.
Dalam ayat 20 Paulus menyinggung tentang perselisihan, iri hati, kemarahan, kepentingan diri sendiri, fitnah, pergunjingan, keangkuhan, dan kerusuhan. Semuanya ini adalah ciri-ciri orang-orang yang hidup dalam da-ging untuk kepentingan mereka sendiri. Kata “perselisihan” juga berarti perdebatan, perbantahan, pertengkaran. Kata “fitnah” berarti perkataan-perkataan yang jahat. “Pergunjingan” berarti fitnah yang tersembunyi. “Keangkuhan” yang dimaksud Paulus itu berarti kecongkakan yang membubung. Dalam bahasa Yunaninya kata ini adalah satu kata yang sama dengan “menyombongkan diri” dalam 1Korintus 4:6. Kata “kerusuhan” juga dapat diterjemahkan keributan-keributan.
Dalam ayat ini maksud perkataan Paulus kepada orang-orang Korintus ialah: “Jika kamu adalah orang-orang yang demikian, aku akan merasa berhutang saat aku datang kepada kamu lagi. Aku telah melayani kamu, menyuplai kamu, aku juga telah menulis satu Surat Kiriman kepadamu. Jika aku menemukan bahwa kamu penuh dengan perselisihan, iri hati, kemarahan, kepentingan diri sendiri, fit-nah, pergunjingan, keangkuhan, dan kerusuhan, maka aku akan dipermalukan. Allah akan merendahkan aku, dan aku harus memohon belas kasihan-Nya karena hasil dari ministriku yang kasihan ini. Sungguh satu hal yang memalukan bagiku jika hal-hal ini masih ada di antara kamu apabila aku datang.”
Dalam ayat 21 Paulus melanjutkan, “Aku khawatir bahwa apabila aku datang lagi, Allahku akan merendahkan aku di hadapan kamu dan aku akan berdukacita atas banyak orang yang di masa yang lampau berbuat dosa dan belum lagi bertobat dari kecemaran, percabulan dan hal-hal tidak senonoh yang mereka lakukan.” Dalam ayat ini tidak ada doktrin atau teologi. Apa yang kita miliki dalam bagian dari 2Korintus ini adalah sesuatu yang berhubungan dengan pelaksanaan kehidupan gereja. Banyak orang Kristen pada hari ini tidak memperhatikan pasal-pasal ini, karena mereka merasa tidak memerlukannya. Alasan mereka tidak merasa perlu adalah karena mereka tidak memiliki kehidupan gereja. Tetapi ayat-ayat ini diperlukan oleh orang-orang yang berada dalam kehidupan gereja yang riil. Kita bersyukur kepada Tuhan bahwa di bawah belas kasihan-Nya, kita benar-benar mengetahui keperluan kita akan pasal-pasal ini. Menyadari keperluan kita adalah satu tanda bahwa kita berada di bawah belas kasihan Tuhan.
Dalam ayat 20 dan 21 Paulus menyinggung 11 hal negatif: perselisihan, iri hati, kemarahan, kepentingan diri sendiri, fitnah, pergunjingan, keangkuhan, kerusuhan, kecemaran, percabulan, dan hal-hal yang tidak senonoh. Beberapa orang mungkin membayangkan bagaimana mungkin hal-hal itu ada dalam kehidupan gereja. Oh, kita perlu bangun dan tidak bermimpi mengenai perkara-perkara ini. Selain itu, kita perlu melihat situasi kita sendiri. Tidak pernahkah Anda memfitnah atau mengkritik? Mungkin ketika seseorang berdiri dalam sidang, Anda diam-diam berkata kepada diri Anda sendiri, “Wah dia lagi.” Bukankah ini juga merupakan satu pergunjingan? Apakah Anda memiliki perselisihan, iri hati, kemarahan, atau persaingan? Dapatkah Anda mengatakan bahwa dalam kehidupan gereja Anda tidak bersaing dengan orang lain? Butir-butir yang disinggung dalam ayat 20 ini mungkin merupakan dosa-dosa yang agak sopan, tidak seperti dosa-dosa yang kotor. Orang-orang yang lebih berbudaya akan mengkritik orang lain di belakang mereka. Orang-orang yang berbudaya dan berbudi luhur tidak akan mengkritik orang lain dengan kasar. Sebaliknya, mereka mungkin akan bergunjing tentang orang lain dan mengatakan fitnah. Selain itu, kita perlu memeriksa apakah kita angkuh atau tidak. Di dalam kita, mungkin ada satu roh yang angkuh, dan kita mungkin memamerkan hal ini secara lahiriah dalam sikap kita. Sekalipun Anda mungkin terdidik, berbudi luhur, dan berbudaya, Anda tidak dapat menyembunyikan sikap Anda yang sombong. Selain dosa-dosa yang lebih halus dalam ayat 20 ini, Paulus menyebutkan tiga dosa yang kotor dalam ayat 21. Semua dosa yang demikian ini mungkin saja menyusup masuk ke dalam kehidupan gereja. Inilah asalan Paulus mengatakan bahwa ia khawatir datang ke Korintus dan melihat hal-hal itu masih ada di antara kaum beriman. Itu akan menjadi satu hal yang memalukan bagi Paulus dan bagi ministrinya.
Dua Korintus 12 ini belum selesai. Dengan pembicaraan yang semacam ini, kita sulit mendapatkan satu kesimpulan. Perkara ini dibiarkan terbuka demikian untuk pertimbangan lebih lanjut. Maka, dalam pasal 12 ini Paulus tidak memberikan satu kata penutupan.
TIDAK AKAN BERSIKAP LUNAK
Dalam 2Korintus 13:1 Paulus selanjutnya berkata, “Ini adalah untuk ketiga kalinya aku datang kepada kamu: Baru dengan keterangan dua atau tiga orang saksi suatu perkara sah.” Sepengetahuan saya, Paulus tidak pernah pergi ke Korintus untuk kali ketiga. Ia berada di Korintus dalam Kisah Para Rasul 18 dan kemudian dalam Kisah Para Rasul 20. Tidak lama setelah itu, ia pergi ke Yerusalem, di mana ia ditangkap, dan kemudian ke Roma. Karena itu, ia tidak sempat pergi ke Korintus untuk kali ketiga.
Dalam ayat 2 Paulus berkata, “Kepada mereka, yang di masa yang lampau berbuat dosa, dan kepada semua yang lain, telah kukatakan terlebih dahulu dan aku akan mengatakannya sekali lagi sekarang pada waktu aku berjauhan dengan kamu tepat seperti pada waktu kedatanganku kedua kalinya bahwa aku tidak akan bersikap lunak terhadap mereka pada waktu aku datang lagi.” Ini menunjukkan bahwa Paulus telah bertoleransi dengan situasi itu. Tetapi pada waktu ia datang untuk kali ketiga, ia tidak akan bertoleransi dengannya lagi. Ia tidak akan bersikap lunak.
BUKTI BAHWA KRISTUS BERBICARA
DI DALAM PAULUS
Dalam ayat 3 Paulus melanjutkan, “Karena kamu ingin suatu bukti bahwa Kristus berkata-kata dengan perantaraan aku, dan Ia tidak lemah terhadap kamu, melainkan berkuasa di tengah-tengah kamu.” Kristus penuh kuasa di dalam kaum beriman ketika Dia sedang berbicara di dalam rasul. Ini merupakan bukti yang kuat dan subyektif bagi kaum beriman bahwa Kristus berbicara di dalam rasul.
Ayat 3 ini dengan tegas menunjukkan ada sejumlah orang Korintus yang menaruh curiga kepada Paulus. Mereka meminta bukti bahwa Kristus berbicara di dalam Paulus. Tidak diragukan lagi, kecurigaan semacam ini membuka jalan bagi para penganut agama Yahudi untuk masuk.
Agak sulit untuk memahami jawaban Paulus dalam ayat 3 ini. Di sini Paulus mengatakan bahwa Kristus tidak lemah terhadap orang-orang Korintus, melainkan berkuasa di tengah-tengah mereka. Seolah-olah Paulus berkata, “Hai orang-orang Korintus, kamu meragukan bahwa Kristus berbicara di dalamku. Sewaktu aku berbicara, bukankah Kristus ada di dalam kamu? Siapakah yang menyuplaikan Kristus kepadamu? Apakah para penganut agama Yahudi itu? Kamu harus mengakui bahwa akulah yang menyuplaikan Kristus kepadamu. Jika Kristus tidak berbicara di dalam aku, bagaimana mungkin kamu memiliki Kristus di dalam kamu melalui ministriku? Sebelum para penganut agama Yahudi itu datang kepada kamu, kamu telah memiliki Kristus di dalam kamu. Ketika aku datang ke Korintus, aku meministrikan Kristus kepadamu. Aku menyalurkan Kristus kepada kamu. Ini adalah fakta bahwa Kristus telah disalurkan ke dalam kamu melalui aku, terutama, melalui pembicaraanku. Selain itu, Kristus yang ada di dalam kamu itu tidak lemah terhadap kamu. Sebaliknya, Dia berkuasa di dalam kamu. Tentunya kamu tidak akan mengatakan bahwa kamu memiliki Kristus yang lemah. Kamu tahu bahwa Kristus berkuasa di dalam kamu. Melalui siapakah kamu menerima Kristus yang berkuasa ini? Kamu tidak memiliki Dia melalui para penganut agama Yahudi itu. Kamu harus mengakui bahwa melalui akulah Kristus yang berkuasa ini masuk ke dalam kamu. Bukankah ini satu bukti yang kuat bahwa Kristus berbicara di dalam aku?” Di sini kita melihat hikmat Paulus dalam menangkap orang-orang Korintus. Karena sombong, mereka tidak akan mengakui bahwa Kristus mereka lemah. Paulus tahu mereka akan mengatakan bahwa Kristus yang ada di dalam mereka itu berkuasa. Ini memberikan satu dasar kepadanya untuk menunjukkan bahwa mereka menerima Kristus yang berkuasa ini melalui pembicaraannya. Ini adalah satu bukti bahwa Kristus berbicara di dalam Paulus.
LEMAH DI DALAM KRISTUS
Dalam ayat 4 Paulus berkata, “Karena sekalipun Ia telah disalibkan oleh karena kelemahan, namun Ia hidup karena kuasa Allah. Memang kami lemah di dalam Dia, tetapi kami akan hidup bersama-sama dengan Dia untuk kamu karena kuasa Allah.” Kelemahan dalam ayat ini adalah kelemahan-kelemahan tubuh, sama seperti dalam 2Korintus 10:10. Bagi diri-Nya sendiri, Kristus sama sekali tidak perlu lemah, tetapi untuk merampungkan penebusan bagi kita, Dia rela menjadi lemah di dalam tubuh-Nya supaya Dia dapat disalibkan. Namun, setelah bangkit, Dia sekarang hidup berdasarkan kuasa Allah. Dalam ayat 4 Paulus mengatakan bahwa para rasul lemah di dalam Kristus, tetapi hidup bersama Dia untuk kaum beriman karena kuasa Allah. Para rasul mengikuti teladan Kristus, rela menjadi lemah di dalam kesatuan yang organik dengan-Nya, supaya mereka dapat menempuh hidup tersalib bersama Dia. Karena itu, mereka pasti hidup bersama Kristus berdasarkan kuasa Allah terhadap kaum beriman. Kelihatannya, mereka lemah terhadap kaum beriman, sebenarnya mereka penuh kuasa.
Jika Kristus tidak lemah, Dia tidak akan dapat ditangkap, apalagi dipaku di atas salib. Hanya orang yang lemah yang dapat disalibkan. Bagi penggenapan penebusan, Kristus sengaja menjadi lemah, begitu lemahnya sehingga Ia dapat ditangkap dan disalibkan. Tetapi sekarang penebusan itu telah digenapkan dan Kristus telah bangkit, maka Dia tidak lemah lagi.
Dalam ayat 4 Paulus menunjukkan kepada orang-orang Korintus bahwa para rasul lemah di dalam Kristus. Mereka menjadi lemah melalui kesatuan yang organik, yaitu menjadi satu dengan Kristus. Tujuan kelemahan mereka yang demikian adalah untuk membangun gereja. Ketika para rasul datang ke Korintus, mereka tidak datang dengan penuh kekuatan, melainkan dengan kelemahan, untuk menyalurkan Kristus ke dalam orang-orang Korintus dan untuk membina mereka, memperlengkapi mereka, supaya mereka dapat dibangunkan menjadi Tubuh Kristus. Sebenarnya, para rasul itu tidak lemah. Tetapi mereka rela menjadi lemah dan, menurut ayat 4 ini, mereka senantiasa lemah di dalam Kristus.
Frase “di dalam Dia” dalam ayat 4 ini sangat penting. Mungkin Anda belum pernah mendengar bahwa kita dapat menjadi lemah di dalam Kristus. Konsepsi kita adalah bahwa berada di dalam Kristus itu pasti kuat, bukan lemah. Meskipun demikian, dalam ayat ini Paulus mengatakan bahwa kita lemah di dalam Dia. Mengapa kita lemah di dalam Dia? Kita lemah di dalam Dia adalah untuk menempuh kehidupan yang tersalib.
Dalam ayat-ayat ini Paulus seolah-olah berkata, “Kaum beriman di Korintus yang terkasih, tidakkah kamu tahu betapa kamu telah menyalibkan aku? Banyak dari antara kamu yang masih menyalibkan aku. Kamu menaruh aku di atas salib ketika kamu menuduh aku menipu kamu atau bertindak dengan tipu daya. Aku tidak pernah melakukan apa-apa untuk menipu kamu. Aku telah menjadi lemah di dalam Kristus dan aku senantiasa lemah di dalam Dia, supaya aku dapat menempuh kehidupan yang tersalib.”
Dalam ayat 4 ini Paulus bukan hanya mengatakan bahwa para rasul itu lemah di dalam Kristus, tetapi juga mengatakan bahwa mereka hidup bersama Kristus oleh kuasa Allah terhadap kaum beriman. Kita tidak dapat memahami sepenuhnya apa yang Paulus maksudkan. Pemahaman saya adalah bahwa sewaktu akan datang ke Korintus untuk kali ketiga, Paulus memberi tahu mereka bahwa ia tidak akan bersikap lunak lagi terhadap mereka. Sebaliknya, ia akan menanggulangi dengan penuh kuasa.
MEMBUKTIKAN DIRI KITA SENDIRI
Dalam ayat 5 Paulus berkata kepada orang-orang Korintus, “Ujilah dirimu sendiri, apakah kamu tetap tegak di dalam iman. Selidikilah dirimu! Apakah kamu tidak yakin akan dirimu bahwa Kristus Yesus ada di dalam diri kamu? Sebab jika tidak demikian, kamu tidak tahan uji.” Menguji adalah menentukan keadaan seseorang; membuktikan berarti memastikan apakah ia memenuhi syarat-syarat untuk status tertentu. Di sini Paulus menyuruh orang-orang Korintus untuk menguji diri mereka sendiri apakah mereka tetap tegak dalam iman. Ini adalah iman yang obyektif (Kis. 6:7; 1Tim. 1:19 dan catatan). Jika seseorang berada di dalam iman yang obyektif, ia pasti memiliki iman yang subyektif, percaya kepada Kristus dan seluruh isi ekonomi Perjanjian Baru Allah. Rasul meminta orang-orang Korintus menguji hal ini.
Paulus dengan khusus bertanya kepada orang-orang Korintus apakah mereka mengakui bahwa Yesus Kristus ada di dalam mereka. Asal seorang beriman paham bahwa Yesus Kristus ada di dalam dirinya, dia bersyarat, terbukti sebagai anggota Kristus yang sejati. Dalam ayat 5 kata “tidak tahan uji” berarti tidak memenuhi syarat. Di sini Paulus berkata, “Yesus Kristus ada di dalam kamu atau tidak? Jika Dia tidak ada di dalam kamu, maka kamu tidak tahan uji, dan kamu tidak dapat lulus ujian. Tetapi jika Dia ada di dalam kamu, maka kamu tahan uji.”
Berdasarkan fakta-fakta yang ditunjukkan dalam ayat 5 ini, Paulus dapat membuktikan kepada orang-orang Korintus betapa jauhnya mereka itu telah tersesat. Di satu pihak, mereka menyadari bahwa Kristus ada di dalam mereka. Di pihak lain, mereka meragukan atau mempertanyakan ministri Paulus. Sebenarnya, mereka adalah orang-orang yang bertentangan.
Dalam ayat 6 Paulus selanjutnya berkata, “Tetapi aku harap kamu tahu bahwa bukan kami yang tidak tahan uji.” Dengan perkataan ini rasul menunjuk kepada dirinya sendiri dan para rasul lainnya, menyatakan bahwa mereka memiliki Kristus hidup dan berbicara di dalam mereka, karena itu mereka sepenuhnya bersyarat (bukan tidak tahan uji), terutama di antara orang-orang Korintus yang menyusahkan. Rasul sungguh-sungguh berharap agar mereka dapat mengenal ini dan tidak lagi mempertanyakan dia.
Dalam ayat 5 dan 6 Paulus seolah-olah memberi tahu orang-orang Korintus, “Kamu perlu tahu bahwa bukan kami yang tidak tahan uji. Ada beberapa orang di antara kamu yang tidak tahan uji, tetapi aku yakin bahwa bukan kami yang tidak tahan uji. Kami memiliki Kristus di dalam kami, dan kami memiliki Dia berbicara di dalam kami. Sekarang aku meminta kamu untuk menguji dirimu sendiri apakah kamu memiliki Kristus di dalam kamu. Ini akan menentukan apakah kamu layak. Aku telah membuktikan diriku sendiri, dan aku yakin bahwa aku memiliki Kristus di dalamku dan Dia berbicara di dalamku. Maka, aku lulus ujian dan memiliki bukti bahwa Kristus benarbenar berbicara di dalamku.”
Ayat 7 mengatakan, “Kami berdoa kepada Allah, agar kamu jangan berbuat jahat bukan supaya kami ternyata tahan uji, melainkan supaya kamu boleh berbuat apa yang baik, sekalipun kami sendiri tampaknya tidak tahan uji.” Ini menunjukkan bahwa kebajikan yang dilakukan oleh kaum beriman adalah bukti dari kelayakan dan pengajaran para rasul. Namun rasul tidak mau memanfaatkan hal ini sebagai dasar menggunakan kuasa kerasulannya untuk mendisiplin mereka; dia memperhatikan perbuatan baik mereka supaya mereka bisa diteguhkan dan dibangunkan.
Kata “jahat” dalam ayat 7 ini mengacu kepada perkara-perkara yang tercantum dalam 2Korintus 12:20-21. Bagi orang-orang Korintus, tidak berbuat jahat berarti mereka tidak terlibat dengan sebelas hal dosa yang tercatat dalam ayat-ayat di atas. Paulus berdoa bagi orang-orang Korintus agar jangan berbuat jahat bukanlah untuk tujuan agar para rasul menjadi layak. Sebaliknya, ia ingin agar kaum beriman melakukan apa yang baik sekalipun para rasul sendiri tampaknya tidak tahan uji.
Dalam ayat 7 Paulus berbicara secara ironis, bukan dengan perkataan yang tegas. Fakta bahwa ia harus berbicara secara demikian agak memalukan bagi orang-orang Korintus. Misalnya ada seorang yang berkata kepada Anda, “Aku berdoa kepada Allah agar kamu tidak berbuat hal yang jahat.” Bukankah ini merupakan satu perkataan yang tidak enak didengar? Perkataan demikian ini menyiratkan bahwa apa yang sedang Anda lakukan sekarang ini tidak baik. Selain itu, misalnya orang yang sama ini berkata, “Alasanku berdoa supaya kamu jangan berbuat jahat bukanlah supaya aku kelihatan tahan uji oleh Allah atau supaya aku dapat memiliki hasil yang positif dari pekerja-anku, melainkan supaya kamu boleh berbuat apa yang baik.” Tentu saja, pembicaraan seperti ini tidak enak didengar. Tetapi inilah perkataan Paulus kepada orang-orang Korintus dalam ayat ini. Ia mendorong kaum beriman un-tuk memperhatikan diri mereka sendiri, bukan memperhatikan keadaan Paulus.
UNTUK KEBENARAN
Dalam ayat 8 Paulus melanjutkan, “Karena kami tidak dapat berbuat apa-apa melawan kebenaran; yang dapat kami perbuat ialah untuk kebenaran.” Kata “karena” pada permulaan ayat ini menunjukkan bahwa ayat 8 adalah keterangan dari apa yang dikatakan dalam ayat sebelumnya. Rasul berharap kaum beriman Korintus berbuat bajik, bukan supaya para rasul terbukti tahan uji. Bagi para rasul, menggenapkan kaum beriman untuk melakukan kebajikan adalah untuk kebenaran, tetapi membela diri dan membuat diri mereka terlihat tahan uji (12:19) adalah berlawanan dengan kebenaran. Tuhan tidak bisa membiarkan para rasul melakukan hal ini; karena itu, mereka tidak dapat melakukannya.
Dalam mengatakan bahwa para rasul tidak dapat berbuat apa-apa melawan kebenaran, melainkan untuk kebenaran, Paulus memberi tahu orang-orang Korintus bahwa untuk kebenaran adalah membina kaum beriman berbuat apa yang baik, dan melawan kebenaran adalah melakukan sesuatu agar diri kita sendiri terlihat tahan uji. Membela diri adalah melawan kebenaran. Kebenaran dalam ayat 8 mengacu kepada realitas dari isi kepercayaan. Pembelaan diri bertentangan dengan kebenaran; ini bukanlah untuk kebenaran. Karena alasan ini, kita harus melupakan tentang mempertahankan diri kita sendiri dan membela diri kita sendiri, melainkan memperhatikan pembinaan rohani kaum beriman. Inilah untuk kebenaran.
PENYEMPURNAAN ORANG-ORANG KUDUS
Ayat 9 mengatakan, “Sebab kami bersukacita, apabila kami lemah dan kamu kuat. Dan inilah yang kami doakan, yaitu supaya kamu menjadi sempurna.” Menjadi lemah di sini sama dengan terlihat tidak tahan uji. Ketika para rasul terlihat tidak tahan uji, mereka lemah dalam mendisiplin kaum beriman. Ketika kaum beriman berbuat baik, mereka penuh kuasa dan membuat para rasul tidak berkuasa mendisiplin mereka. Para rasul bersukacita atas ini dan berdoa untuk ini, yaitu untuk penggenapan kaum beriman.
Secara harfiah, kata “sempurna” adalah memulihkan. Ini menyiratkan memperbaiki, membetulkan, mengatur kembali, menambal, menyatukan dengan sempurna, diperlengkapi dengan baik dan menyeluruh; karena itu, penggenapan, penyelesaian, pendidikan. Para rasul berdoa bagi orang-orang Korintus supaya mereka dapat dipulihkan, diatur kembali, serta sepenuhnya diperlengkapi dan digenapkan untuk bertumbuh dalam hayat, bagi pembangunan Tubuh Kristus.
TIDAK BERTINDAK KERAS MENURUT KUASA
Dalam ayat 10 Paulus menutup bagian ini dengan berkata, “Itulah sebabnya sekali ini aku menulis kepada kamu ketika aku berjauhan dengan kamu, supaya bila aku berada di tengah-tengah kamu, aku tidak terpaksa bertindak keras menurut kuasa yang dianugerahkan Tuhan kepadaku untuk membangun dan bukan untuk meruntuhkan.” Ayat ini menunjukkan bahwa Paulus tidak bertindak keras menurut kuasa. Ia bahkan tidak mengakui bahwa ia mempertahankan dirinya atau membela dirinya. Memang, ada petunjuk dalam pasal-pasal ini bahwa Paulus adalah seorang rasul. Namun, ia tidak mengukuhi kerasulannya dalam hubung-nnya dengan orang-orang Korintus. Lalu, apa yang telah dilakukannya dalam pasal 10 sampai pasal 13 ini? Ia telah berusaha menyempurnakan kaum beriman dan membangun mereka. Dalam pasal-pasal ini Paulus tidak membela dirinya; sebaliknya ia menyempurnakan kaum saleh. Ia tidak membela pendiriannya sebagai seorang rasul atau pun membela kuasa kerasulannya; sebaliknya ia menyempurnakan kaum saleh. Dengan kata lain, menurut ministri Paulus yang sebenarnya, di sini ia sedang bekerja untuk sepenuhnya mendamaikan kaum beriman Korintus yang telah diselewengkan kembali kepada Allah. Selama hubungan mereka dengan orang-orang yang meministrikan Kristus ke dalam mereka belum dibenahi atau dibetulkan, maka orang-orang Korintus itu tetap jauh dari Allah. Mereka tetap berada dalam keadaan yang terpisah dari kenikmatan yang penuh akan Allah. Apa yang Paulus lakukan di sini adalah berusaha menyingkirkan pemisah yang terakhir di antara kaum beriman dengan Allah dan membawa mereka sepenuhnya kembali ke dalam Allah, supaya mereka dapat memiliki kenikmatan yang penuh akan Dia.
Kita telah melihat bahwa Rasul Paulus adalah teladan kaum beriman. Dalam pasal 12 ia memberi tahu kita bagaimana ia menikmati Kristus sampai pada puncaknya sebagai kasih karunianya yang cukup, sebagai kuasanya, dan sebagai kemah yang menaunginya. Ketika Paulus menulis Surat Kiriman ini kepada orang-orang Korintus, kebanyakan dari mereka itu belum masuk ke dalam kenikmatan akan Kristus yang sedemikian. Maka, dalam bagian yang terakhir dari pasal 12 dan bagian yang pertama dari pasal 13, Paulus berusaha membawa kaum beriman masuk ke dalam kenikmatan akan Kristus sebagai kasih karunia mereka yang cukup, sebagai kekuatan mereka setiap hari, dan sebagai tempat kediaman yang menaungi mereka. Paulus tidak bermaksud menyatakan kuasa kerasulannya, menggunakan kuasa kerasulannya, atau membela pendirian kerasulannya.
HAKIKI SEORANG RASUL
Ketika Paulus memakai istilah rasul, ia mengartikan istilah ini pada satu hal, tetapi ketika orang-orang Kristen pada hari ini memakai istilah ini, pengertian mereka lain lagi. Istilahnya sama, tetapi kamusnya atau kosa katanya berbeda. Ketika Paulus menyebut dirinya sebagai seorang rasul, ia mengartikannya sebagai orang yang diutus oleh Allah untuk menyuplaikan Kristus ke dalam orang-orang dosa, supaya mereka dapat menjadi putra-putra Allah dan menjadi anggota-anggota Kristus, kemudian dididik supaya bertumbuh dan menjadi Tubuh Kristus. Inilah pemahaman Paulus tentang hakiki seorang rasul. Paulus tidak memakai kata ini dengan satu arti bahwa rasul adalah orang yang berkuasa dan diberi wewenang oleh Kristus untuk mengendalikan dan mengatur. Tidak, dalam diri Paulus tidak ada konsepsi kerasulan semacam itu. Konsepsi semacam itu benar-benar tercela. Namun, hari ini ketika orang-orang memakai kata rasul, dalam pemikiran mereka orang ini seperti paus atau sedikitnya uskup agung. Bahkan ada yang memiliki konsepsi bahwa kata rasul sama dengan kata penatua. Maka, mereka memberikan arti lain yang tidak menyenangkan dan yang menjemukan terhadap kata-kata rasul dan penatua. Pemahaman kita terhadap istilah-istilah ini haruslah alkitabiah, yaitu, menurut firman Allah yang murni, bukan menurut tradisi agama.
Saya ingin bersaksi bahwa saya tidak pernah meng-anggap diri saya sebagai seorang “rasul”. Saya mutlak bukan seorang rasul dalam arti menjadi orang yang menerima wewenang atau kedudukan untuk memerintah. Tetapi saya tentu setuju jika Anda mengatakan bahwa saya adalah seorang rasul dalam arti menjadi orang yang diutus oleh Allah untuk menyuplaikan Kristus kepada orang lain dan menyalurkan Kristus ke dalam mereka, supaya mereka dapat menjadi putra-putra Allah, menjadi anggota-anggota Kristus, dan membuat mereka bertumbuh dalam hayat dan terbangun menjadi Tubuh Kristus. Kita perlu memakai kata rasul dengan pemahaman dan definisi yang tepat. Seperti yang telah kita tunjukkan sebelumnya, kita semua dapat menjadi rasul-rasul dalam arti menjadi orang-orang yang diutus untuk menyuplaikan Kristus kepada orang lain dan membantu mereka bertumbuh agar mereka dapat dibangun menjadi Tubuh Kristus. Tetapi tidak ada satu pun dari antara kita yang boleh menjadi seorang rasul dalam arti mengambil kedudukan untuk menggunakan wewenang atas orang lain. Daripada menyebut saya (atau hamba Allah yang mana pun) sebagai seorang rasul, lebih baik mengatakan bahwa saya adalah seorang hamba Kristus. Kiranya kita semua menjadi rasul-rasul bukan dalam arti menjadi “tokoh yang berkuasa”, melainkan dalam arti menjadi hamba-hamba yang menyuplaikan Kristus kepada orang lain. Kita semua layak menjadi rasul-rasul yang demikian.