PEMBELAAN PAULUS AKAN KUASA KERASULANNYA (7)
Pembacaan Alkitab: 2Kor. 12:11-18
PERKATAAN UNTUK SEMUA ORANG BERIMAN
Apa yang telah dikatakan Paulus dalam 2Korintus 12:11-18 telah diabaikan oleh kebanyakan pekerja Kristen pada hari ini. Semua orang saleh dalam pemulihan Tuhan perlu memahami apa yang diwahyukan ayat-ayat ini, karena ayat-ayat ini diterapkan kepada kita semua, bukan hanya kepada penatua atau sekerja. Kita tidak boleh mengira bahwa apa yang dibicarakan Paulus di sini tidak ada hubungannya dengan kita. Apa adanya Paulus, apa yang dilakukannya, dan bagaimana ia bertindak itu adalah teladan bagi semua orang beriman, bukan hanya teladan bagi orang-orang yang memimpin. Perjanjian Baru mewahyukan bahwa semua orang beriman dalam Kristus harus seperti Paulus, yang menempuh satu kehidupan bagi pembangunan Tubuh Kristus. Hal ini diwahyukan dengan penekanan, tegas, dan mutlak dalam kitab Efesus. Menurut Efesus, setiap bagian Tubuh harus menempuh satu kehidupan bagi pembangunan Tubuh itu.
Secara tidak sadar dan di bawah sadar, kita masih sangat dipengaruhi oleh latar belakang agama kita. Kita berada di bawah pengendalian, petunjuk, dan manipulasi konsepsi tradisional. Khususnya, karena pengaruh ini, kita mungkin mengira bahwa apa yang Paulus bicarakan dalam pasal 12 ini terbatas hanya untuk orang-orang yang memimpin, para penatua, sekerja, para diaken, dan diakones (diaken wanita). Kita mungkin mengira bahwa sebagai anggota-anggota yang biasa dari Tubuh ini, maka pasal ini tidak berhubungan dengan kita. Sebenarnya, perkataan Paulus ini adalah untuk kita semua. Karena alasan ini, maka agak sulit bagi saya untuk mengatakan berapa banyak sekerja yang saya miliki. Dalam batin saya paham bahwa semua orang yang bersidang bersama kita di dalam pemulihan Tuhan adalah para sekerja. Meskipun demikian, karena pengaruh latar belakang agama kita, kita mungkin mengira bahwa jika kita bukan rasul, penatua, atau diaken, maka perkataan Paulus dalam 2Korintus 12:11-18 ini tidak dapat diterapkan kepada kita. Kita perlu membaca ayat-ayat ini dengan pemahaman bahwa ayat-ayat ini ditujukan kepada kita semua. Bahkan orang-orang muda di antara kita pun harus menyadari bahwa ayat-ayat ini adalah bagi mereka. Kita tidak dapat meramalkan berapa jauh Tuhan akan membawa orang-orang muda kita dan berapa banyak Dia akan memakai mereka di masa yang akan datang. Saya mengatakan ini sebagai satu kata pendahuluan bagi pertimbangan kita tentang apa yang diwahyukan dalam ayat-ayat ini.
BERBICARA UNTUK ORANG LAIN
Dalam ayat 11 Paulus mengatakan, “Sungguh aku telah menjadi bodoh; tetapi kamu yang memaksa aku. Sebenarnya aku harus kamu puji. Karena meskipun aku tidak berarti sedikit pun, namun di dalam segala hal aku tidak kalah terhadap rasul-rasul yang luar biasa itu.” Di sini Paulus menga-takan bahwa orang-orang Korintus memaksa Paulus menjadi bodoh. Mereka harus bertanggung jawab atas hal ini. Mereka seharusnya memuji Paulus, tetapi mereka telah diselewengkan, tidak memuji Paulus. Sikap membisu mereka itu salah. Mereka seharusnya melakukan sesuatu untuk memuji Paulus, karena tidaklah tepat jika Paulus berbicara mengenai dirinya sendiri. Tidak diragukan lagi, inilah perasaan di dalam roh Paulus sewaktu ia menulis ayat 11 ini.
Kita harus belajar dari ayat ini bahwa ada saatnya di mana kita perlu mengatakan sesuatu untuk para penatua atau orang-orang dalam ministri ini. Jika seorang saudara menjadi sasaran penyerangan atau penentangan, mungkin ia tidak dapat mengatakan sesuatu untuk membela dirinya sendiri. Dalam situasi yang demikian, kita perlu angkat suara dan memuji dia. Misalnya, bertahun-tahun yang lalu ketika Saudara Watchman Nee menjadi sasaran, saya melakukan sesuatu untuk membelanya. Orang-orang muda khususnya perlu belajar memuji seseorang dalam situasi seperti itu. Mereka harus berani berbicara. Mereka tidak boleh diam saja, dan mereka juga tidak boleh bersembunyi.
Dalam ayat 11 Paulus dipaksa untuk menunjukkan kepada orang-orang Korintus bahwa ia tidak kalah dengan rasul-rasul yang luar biasa itu. Sungguh tidak menyenangkan bagi Paulus untuk mengatakan hal ini untuk dirinya sendiri. Karena ia adalah sasaran penentangan itu, maka perkataan semacam ini tidak perlu diucapkan olehnya. Orang-orang di Korintuslah yang seharusnya mengatakannya bagi Paulus. Mereka seharusnya menyatakan, “Kalian penganut agama Yahudi harus sadar bahwa Paulus tidak lebih rendah daripada kalian dalam hal apa pun.” Seperti yang telah kita tunjukkan, Paulus telah menerima penglihatan-penglihatan dan wahyu-wahyu yang luar biasa. Ia benar-benar tidak lebih rendah daripada para penganut agama Yahudi yang sombong, angkuh, dan memuji diri sendiri itu. Tetapi karena orang-orang Korintus diam saja, maka Paulus terpaksa mengatakan sesuatu untuk dirinya sendiri. Ia berkata dengan terus terang bahwa ia tidak kalah dengan para penganut agama Yahudi yang angkuh itu.
Dalam ayat 11 Paulus mengatakan bahwa ia tidak kalah dengan rasul-rasul yang luar biasa itu, sekalipun ia bukan apa-apa. Tentu saja, tidak benar bahwa Paulus itu bukan apa-apa. Ia benar-benar memiliki sesuatu. Namun, ia tidak dapat berkata demikian tentang dirinya. Maka, ia terpaksa mengatakan bahwa sekalipun ia bukan apa-apa, ia tidak kalah dengan para penganut agama Yahudi itu.
TANDA-TANDA SEORANG RASUL
Dalam ayat 12 Paulus selanjutnya mengatakan, “Tanda-tanda seorang rasul telah diperlihatkan di tengah-tengah kamu dengan segala kesabaran melalui tanda-tanda, mujizat-mujizat dan kuasa-kuasa.” Tanda-tanda ini adalah mujizat-mujizat yang terbukti, yang menjadi jaminan terhadap kerasulan. Mujizat-mujizat adalah perbuatan ajaib yang mengherankan dan menggugah orang, dan kuasa-kuasa adalah mujizat-mujizat yang menampilkan kuasa Allah.
Saya percaya bahwa ungkapan “tanda-tanda seorang rasul” dipakai lebih dulu oleh orang-orang Korintus, bukan oleh Paulus. Mungkin orang-orang beriman di Korintus membahas soal tanda-tanda seorang rasul. Mereka mungkin bertanya-tanya di antara mereka apakah tandanya bahwa Paulus adalah seorang rasul. Jika mereka tidak mengajukan pertanyaan ini, Paulus tidak akan menyinggungnya di sini.
Ungkapan “tanda-tanda seorang rasul” mungkin kedengaran aneh bagi kita, tetapi tidak aneh bagi orang-orang Korintus. Sebaliknya, ungkapan ini sangat terkenal bagi mereka, karena mungkin merekalah yang menciptakan ungkapan ini. Beberapa orang dari antara mereka mungkin mengira bahwa para penganut agama Yahudi itu memiliki lebih banyak tanda daripada Paulus. Inilah alasannya dalam ayat 12 Paulus membicarakan tanda-tanda kerasulannya.
Mengenai tanda-tanda rasul ini, hal pertama yang disinggung oleh Paulus adalah “segala kesabaran”. Ini menunjukkan bahwa kesabaran adalah tanda yang pertama dari seorang rasul. Dalam hubungannya dengan orang-orang Korintus, Paulus sabar terhadap segala fitnahan. Beberapa orang dari antara mereka dengan keterlaluan mengatakan bahwa Paulus licik dan menjerat mereka dengan tipu daya untuk mengambil keuntungan. Paulus memakai kata “tipu daya” dalam ayat 16. Dalam satu catatan tentang ayat ini dalam New Translationnya, Darby mengatakan, “Rasul tidak mengatakan bahwa ia melakukan tipu daya; tetapi menjawab tuduhan bahwa ia berpura-pura tidak mengambil apa-apa, tetapi tahu cara menutupi dirinya dengan memakai Titus untuk menerima uang dari mereka. Tuduhan itu keliru, seperti yang ditunjukkannya lebih lanjut.” Orang-orang Korintus mengatakan bahwa Paulus tidak mau datang sendiri ke Korintus untuk mengumpulkan uang. Karena itu, ia mengutus Titus untuk melakukan hal ini baginya dan memakai Titus untuk menutupi dirinya sendiri. Sulit dipercaya bahwa orang-orang Korintus tertentu akan memfitnah Paulus sampai sedemikian rupa. Sekarang kita dapat memahami mengapa Paulus menekankan perkara kesabaran ini.
Dalam 2Korintus 12:12 Paulus seolah-olah berkata kepada orang-orang Korintus, “Kamu memintaku untuk memberitahukan kepadamu tanda-tanda kerasulanku. Tanda yang pertama adalah kesabaranku. Kamu telah mengkritik aku dan menista aku, tetapi aku dapat menahannya.” Kemudian Paulus menyinggung tanda-tanda, mujizat-mujizat, dan kuasa-kuasa. Ini adalah hal-hal yang ajaib. Tetapi menurut konteksnya, meskipun Paulus membicarakan hal-hal itu, ia tidak menekankan hal-hal itu. Sebaliknya, Paulus seolah-olah berkata, “Kamu berbicara tentang mujizat-mujizat sebagai tanda-tanda kerasulan. Ketika aku bersama kamu, ada banyak tanda, mujizat-mujizat, dan kuasa-kuasa. Tetapi aku tidak menekankan hal-hal itu, pertama-tama aku ingin membicarakan kesabaranku.”
TIDAK DIBELAKANGKAN
Dalam ayat 13 Paulus melanjutkan, “Sebab dalam hal mana kamu dibelakangkan dibandingkan dengan jemaat-jemaat lain, selain dalam hal ini, yaitu bahwa aku sendiri tidak menjadi beban kepada kamu? Maafkanlah ketidakadilanku ini!” Gereja di Korintus tidak dibelakangkan (diperlakukan lebih rendah) daripada gereja-gereja lainnya atau lebih lemah daripada mereka. Setelah menunjukkan hal ini, Paulus secara ironis mengatakan, “Maafkanlah ketidak adilanku ini,” yang mengacu kepada hal tidak menjadi beban bagi kaum beriman.
Dalam ayat 13 Paulus seolah-olah berkata, “Dalam perkara menerima karunia-karunia, kasih karunia, dan berkat Allah, kamu orang-orang Korintus, tidak lebih rendah daripada gereja-gereja lainnya. Aku tidak melahirkan kamu dalam Kristus, dan aku berusaha sebisanya untuk membesarkan kamu sebagai satu gereja yang tidak kekurangan apa pun. Aku tidak membelakangkan kamu daripada gereja lainnya. Aku berusaha sebisanya melahirkan kamu dalam Kristus, membesarkan kamu sebagai satu gereja, dan membangun kamu. Mengenai keselamatan dan berkat Allah, kasih karunia ilahi, dan karunia-karunia rohani, kamu tidak lebih rendah daripada gereja lainnya. Lalu, dengan cara bagaimanakah, kamu diperlakukan lebih rendah? Hanya dalam hal aku tidak menjadi satu beban bagi kamu. Aku tidak membebani kamu. Maafkanlah ketidakadilanku ini!” Kalau Paulus terpaksa berbicara seperti ini, orang-orang Korintus seharusnya merasa malu. Satu-satunya kegagalan Paulus terhadap mereka adalah membuat dirinya menjadi beban bagi mereka. Di tempat lainnya Paulus bahkan mengatakan bahwa ia menerima tunjangan dari gereja-gereja lainnya untuk bekerja di antara orang-orang Korintus. Meskipun Paulus bekerja bagi orang-orang Korintus, tetapi mereka tidak memberikan apa-apa kepadanya. Maka, satu-satunya ketidakadilan Paulus terhadap mereka adalah tidak menaruh beban apa pun atas mereka. Ayat 13 ini adalah perkataan yang tidak menyenangkan, tetapi Paulus berani mengatakannya.
BUKAN MENCARI HARTA MEREKA
Ayat 14 mengatakan, “Sesungguhnya sekarang sudah untuk ketiga kalinya aku siap untuk mengunjungi kamu, dan aku tidak akan merupakan suatu beban bagi kamu. Sebab bukan hartamu yang kucari, melainkan kamu sendiri. Karena bukan anak-anak yang harus mengumpulkan harta untuk orang tuanya, melainkan orang tualah untuk anak-anaknya.” Kita semua perlu sangat terkesan dengan perkataan ini dan mengingatnya. Bila kita bekerja bagi Tuhan, kita tidak boleh mencari harta orang kita harus mencari orang itu. Ini berarti kita tidak mencari uang orang atau menginginkan uang mereka. Paulus dapat dengan berani mengatakan kepada orang-orang Korintus, “Aku mencari kamu sendiri dan aku menginginkan kamu. Aku tidak mencari hartamu kekayaanmu, harta bendamu, dan materimu. Aku mencari kamu.”
Sedikitnya ada beberapa kali Saudara Watchman Nee menunjukkan kepada kita bahwa jika seseorang yang bekerja bagi Tuhan tidak dapat setia dalam perkara uang, maka ia tidak dapat setia atau kuat dalam pekerjaan Tuhan. Banyak pekerja Kristen, ketika sampai pada perkara uang, segera mereka menjadi lemah. Karena mereka takut suplai keuangan mereka diputus, maka mereka tidak berani memberitakan hal-hal tertentu, mengajarkan kebenaran-kebenaran tertentu, atau menegur dosa-dosa tertentu. Selain itu, mereka tidak mau menanggulangi perkara-perkara tertentu, juga karena takut bila mereka melakukannya, maka suplai keuangannya akan diputus. Orang-orang yang memiliki masalah ini ditaklukkan oleh uang.
Jangan mengira kita adalah satu-satunya orang yang mengenal kebenaran mengenai gereja yang diwahyukan dalam Alkitab. Sedikitnya ada beberapa orang lainnya yang mengenal kebenaran ini; namun, mereka tidak berani mempraktekkannya. Mereka tahu bahwa di setiap tempat seharusnya hanya ada satu gereja. Tetapi karena takut suplai dana mereka diputus, maka mereka tidak rela mengajarkan hal ini dan mempraktekkannya.
Saya khawatir ketika Anda masuk ke dalam ministri yang sejati bagi Tuhan dan dihadapkan dengan perkara keuangan, Anda mungkin tidak berani berdiri teguh bagi kebenaran. Terpengaruh oleh uang benar-benar merupakan satu kegagalan. Ini adalah satu hal yang memalukan dan satu kekalahan di hadapan musuh. Kita semua harus menerima kasih karunia untuk melupakan pertimbangan-pertimbangan tentang uang dan memiliki keberanian untuk mengatakan kepada kaum beriman, “Aku tidak mencari hartamu aku mencari kamu.”
Dalam ayat-ayat ini kita tidak memiliki doktrin, tetapi kita memiliki beberapa perkara yang sangat riil. Dalam ayat 14 Paulus mengatakan bahwa bukan anak-anak yang harus mengumpulkan harta untuk orang tuanya, melainkan orang tualah yang mengumpulkan untuk anakanaknya. Di sini kita sekali lagi melihat bahwa Paulus itu terus terang dan jujur. Ia tidak akan mengabaikan pendiriannya dalam hubungannya dengan orang-orang Korintus. Dalam ayat ini Paulus seolah-olah memberi tahu mereka, “Hai orang-orang Korintus, kamu tidak dapat menyangkal bahwa aku adalah bapa rohanimu. Aku melahirkan kamu dalam Kristus melalui Injil, dan aku telah membesarkan kamu sebagai anak-anakku. Sebagai orang tuamu, aku tidak mencari hartamu. Sungguh memalukan bila orang tua menuntut uang dari anak-anaknya. Bukan anak-anak yang harus mengumpulkan harta bagi orang tuanya, melainkan orang tualah yang mengumpulkan bagi anak-anaknya. Orang-orang Korintus, aku tidak ingin menerima apa-apa dari kamu aku ingin memberi kamu.”
MENGORBANKAN SELURUH DIRINYA
Dalam ayat 15 Paulus selanjutnya mengatakan, “Karena itu aku suka mengorbankan milikku, bahkan mengorbankan diriku untuk kamu. Jadi, jika aku sangat mengasihi kamu, masakan aku semakin kurang dikasihi?” Dalam ayat ini “mengorbankan” berarti mengorbankan segala miliknya, harta bendanya. Mengorbankan diri berarti mengorbankan apa adanya seseorang, mengacu kepada manusianya. Paulus rela mengorbankan dirinya jiwanya, hidupnya, dan seluruh dirinya bagi kaum beriman. Ia juga rela memberikan semua uangnya dan harta bendanya. Tuhan Yesus memberikan jiwa-Nya bagi kita; Dia mengorbankan seluruh diri-Nya bagi kita. Demikian juga, kedambaan Paulus adalah mengorbankan seluruh dirinya bagi orang-orang Korintus. Semua orang saleh dalam pemulihan Tuhan perlu mempelajari pelajaran yang penting ini: menerima kasih karunia untuk mengorbankan apa yang kita miliki dan mengorbankan seluruh diri kita bagi kaum saleh dan bagi gereja-gereja.
Dalam ayat 15 Paulus mengatakan bahwa ia rela berkorban, sekalipun dengan sangat mengasihi kaum beriman sedang ia sendiri kurang dikasihi. Paulus tetap rela berkorban bagi orang-orang Korintus sekalipun ia sangat mengasihi mereka tetapi mereka kurang mengasihinya. Paulus tidak mempedulikan keadaan mereka. Keadaan mereka tidak dapat mengubah sikapnya terhadap mereka. Di sini Paulus seolah-olah berkata, “Tidak peduli bagaimana sikapmu terhadapku, aku tetap mengasihi kamu, dan aku suka mengorbankan apa yang kumiliki dan apa adanya aku bagimu.”
PAULUS DITUDUH LICIK
Ayat 16 mengatakan, “Baiklah, aku sendiri tidak me-rupakan beban bagi kamu, tetapi kamu katakan dalam kelicikanku aku telah menjerat kamu dengan tipu daya.” Seperti yang telah kita tunjukkan, inilah yang dituduhkan oleh beberapa orang Korintus kepada rasul. Mereka mengatakan bahwa Paulus licik dalam mencari keuntungan, dan bahwa ia menjamin dirinya sendiri dengan mengutus Titus untuk menerima kumpulan sumbangan bagi kaum saleh yang miskin. Kata “baiklah” di sini berarti biarlah perkara yang sudah-sudah itu berlalu. Ini berarti melupakan perkara yang lampau, yaitu membiarkan perkara yang lampau itu berlalu.
Meskipun Paulus tidak membebani orang-orang Korintus, tetapi ada beberapa orang dari antara mereka yang mengatakan bahwa ia licik dan menjerat mereka dengan tipu daya. Mereka mengatakan bahwa Paulus sendiri tidak akan datang, tetapi ia akan memakai Titus sebagai satu perlindungan untuk melindungi dirinya sementara ia sendiri bersembunyi di balik layar. Mereka menuduh Paulus sebagai orang yang mengumpulkan uang itu melalui Titus. Dalam tuduhan mereka, Pauluslah yang licik. Setelah mendapatkan peringatan secara batini mengenai perkara ini, maka Paulus mengutus lebih dari satu orang bersama Titus untuk mengumpulkan uang itu. Ia melakukan ini untuk membungkam lidah-lidah yang menista. Namun, sekalipun Paulus bertindak dengan hati-hati dan dengan memikirkan dulu sebelumnya, tetapi masih saja ada beberapa orang Korintus yang memfitnahnya.
Kita dapat belajar dari pengalaman Paulus bahwa sekalipun kaum saleh itu mungkin saja jujur, tetapi Iblis sedang mengendap-endap di antara mereka. Iblis memakai uang untuk merusak hubungan di antara orang-orang yang meministrikan dengan kaum saleh. Di antara orang-orang Korintus yang diselewengkan itu, ada beberapa orang yang mengkritik Paulus, menganggapnya licik dalam perkara keuangan.
HIDUP MENURUT ROH YANG SAMA
Dalam ayat 17-18 Paulus bertanya, “Pernahkah aku mengambil untung dari kamu melalui seorang dari antara mereka yang kuutus kepada kamu? Memang aku telah meminta Titus untuk pergi dan bersama-sama dengan dia aku mengutus saudara seiman yang lain itu. Apakah Titus mengambil untung dari kamu? Tidakkah kami berdua hidup menurut roh yang sama dan tidakkah kami berlaku menurut cara yang sama?” Roh dalam ayat 18 ini menekankan roh kita yang telah dilahirkan kembali dihuni oleh Roh Kudus. Roh ini mengendalikan, mengatur, mengarahkan, menertibkan, dan memimpin kita dalam hidup kristiani kita (Rm. 8:4). Para rasul hidup dalam roh yang demikian.
Perkataan Paulus dalam ayat 16, 17, dan 18 membantu kita memahami apa yang telah dikatakan oleh beberapa orang Korintus mengenai Paulus dan Titus. Mereka menuduh Paulus telah menipu mereka, berbuat licik terhadap mereka, dan mengambil keuntungan dari mereka dengan mengutus Titus untuk mengumpulkan uang. Tentunya Paulus tidak senang menulis tentang hal-hal semacam ini. Bagi kita kelihatannya kata-kata seperti ini tidak seharusnya ada di dalam tulisan-tulisan seorang rasul yang kudus, yaitu orang yang telah menerima amanat dari Tuhan dengan satu ministri yang tinggi.
Dalam bagian dari 2Korintus ini, Paulus membedah gereja di Korintus. Ia mengoperasi mereka dan menying-kirkan bagian-bagian yang telah rusak. Gereja di Korintus menderita penyakit yang begitu serius sehingga obat pun tidak dapat menyembuhkan mereka. Mereka hanya dapat ditolong dengan dioperasi. Karena itu, Paulus, seorang ahli bedah rohani, melakukan operasi untuk menyembuhkan gereja itu, memperbaruinya dan memulihkannya. Selama hubungan antara kaum beriman dengan rasul tidak dapat dibenahi, gereja akan terus-menerus dalam keadaan sakit. Karena itu, perlu ada satu operasi.
Dalam pasal ini kita dapat melihat betapa jujurnya Paulus sebagai hamba Allah. Menurut judul berita ini, di sini kita memiliki pembelaan Paulus akan kuasa kerasulannya. Sebenarnya, saya tidak suka memakai kata pembelaan. Mungkin Paulus tidak memiliki perasaan bahwa ia sedang membela dirinya. Sebaliknya, ia sedang mencari jalan untuk menyembuhkan orang-orang Korintus dengan mengoperasi mereka, yaitu dengan memotong hal-hal yang telah rusak dari Tubuh itu.
Saya percaya bahwa berita ini dapat menjadi bantuan bagi semua orang, terutama orang-orang muda, yang memiliki minat terhadap pemulihan Tuhan. Akhirnya, orang-orang muda ini akan berada di dalam tangan Tuhan. Sesungguhnya mereka perlu memiliki satu pemahaman yang tepat mengenai uang. Kita semua harus belajar untuk tidak tamak, melainkan, mau mengorbankan apa yang kita miliki untuk orang lain, bahkan mengorbankan diri kita sendiri, yaitu seluruh diri kita. Kita harus rela mencurahkan seluruh diri kita roh, jiwa, dan tubuh bagi Tubuh Kristus. Maka apa yang kita lakukan dan apa adanya kita akan menjadi faedah bagi Tubuh. Kapan saja kita menjamah pekerjaan Tuhan bagi Tubuh-Nya, kita harus memiliki motivasi yang murni dan sikap yang tepat. Kita tidak seharusnya menuntut apa yang dimiliki orang lain, kita seharusnya hanya mencari mereka dan damba untuk mendapatkan mereka bagi Tubuh Tuhan dan mengorbankan apa adanya kita dan yang kita miliki bagi Tubuh. Maka Tubuh ini akan disembuhkan, dan kita semua akan terpelihara.