PEMBELAAN PAULUS AKAN KUASA KERASULANNYA (6)
Pembacaan Alkitab: 2Korintus 12:1-10
Dua Korintus 12:1-10 adalah satu bagian yang sangat baik dari Alkitab. Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa Paulus itu dalam dan sangat bijaksana. Para penganut agama Yahudi bermegah bahwa mereka mengenal banyak hal, dan menyatakan lebih banyak pengetahuannya daripada Rasul Paulus. Bukannya berdebat dengan mereka, Paulus malah lebih dulu memegahkan kelemahannya. Sekarang dalam 2Korintus 12:1-10 ia sampai kepada penglihatan (visi) dan wahyu. Strategi Paulus yang berhikmat ini adalah untuk mengalahkan kesombongan para penganut agama Yahudi dengan menunjukkan bahwa sebenarnya mereka tidak memiliki penglihatan atau wahyu apa pun. Apa yang dikenal oleh para penganut agama Yahudi itu adalah kosong melompong.
TUJUAN PAULUS
Saya percaya bahwa tujuan Paulus menulis sepuluh ayat ini adalah untuk menunjukkan kepada kaum beriman di Korintus bahwa ia mengetahui jauh lebih banyak daripada para penganut agama Yahudi itu. Ia bukan hanya tahu tentang kehidupan manusia di bumi, tetapi juga tentang hal-hal di Taman Firdaus dan bahkan di langit tingkat ketiga. Paulus bukan hanya tahu hal-hal itu; ia juga memiliki penglihatan tentang hal-hal itu. Paulus menunjukkan hal ini supaya kebodohan para penganut agama Yahudi itu dapat tersingkapkan.
Jika orang-orang Korintus membandingkan apa yang Paulus ketahui dan apa yang ia lihat dengan pengetahuan yang dimiliki oleh para penganut agama Yahudi itu, maka mereka akan berkata, “Para penganut agama Yahudi itu dangkal. Mereka hanya memiliki sedikit pengetahuan Perjanjian Lama mengenai hukum Taurat Musa dan liturgi-liturgi yang tradisional. Tetapi di sini ada seorang manusia dengan pengetahuan yang penuh akan perjanjian yang baru. Ia tahu tentang kehidupan manusia dan tentang hal-hal di Taman Firdaus dan di langit tingkat ketiga.”
KEMEGAHAN PAULUS
Saya ingin mengatakan bahwa dalam 2Korintus 12:1-10 mencantumkan perkara yang sangat dimegahkan oleh Paulus. Selain Tuhan Yesus, adakah orang seperti Paulus yang pernah melihat hal-hal di langit tingkat ketiga dan hal-hal di dalam Firdaus? Sebagai Allah, Tuhan Yesus ada di surga. Kemudian Dia menjadi manusia di bumi, mati di atas salib, dan pergi ke Alam Maut. Maka, Dia bepergian melalui surga, bumi, dan bagian bumi yang paling bawah. Paulus, seorang manusia yang lahir di bumi, sudah pergi ke langit tingkat ketiga dan melihat apa yang ada di sana. Ia juga pergi ke Firdaus dan melihat hal-hal yang ada di bawah bumi. Jelas tidak ada seorang pun dalam sejarah manusia yang dapat dibandingkan dengan Tuhan Yesus dan Rasul Paulus. Apa yang dapat dikatakan para penganut agama Yahudi tentang hal ini?
Dalam 2Korintus 12:1 Paulus mengatakan, “Aku harus bermegah, sekalipun memang hal itu tidak ada faedahnya, namun aku hendak memberitakan penglihatan-penglihatan dan penyataan-penyataan dari Tuhan.” Rasul terpaksa bermegah karena kebodohan orang-orang Korintus, sekalipun ini tidak berfaedah baginya, namun bermanfaat untuk membawa kembali mereka, membangun mereka, sehingga mereka memiliki pengertian yang tepat dan wajar tentang hubungan mereka dengan rasul. Kata “memberitakan” dalam ayat ini berarti bermegah atas penglihatan-penglihatan dan wahyu-wahyu yang diterimanya dari Tuhan.
Dalam ayat 1 Paulus membicarakan tentang penglihatan dan wahyu. Wahyu adalah penyingkiran selubung, penyingkapan hal-hal yang tersembunyi; penglihatan adalah pemandangan, suasana yang terlihat setelah saat penyingkapan selubung. Banyak hal tentang ekonomi dan administrasi Allah dalam alam semesta yang tersembunyi. Di pihak Tuhan, Tuhan mewahyukan, menyingkapkan hal-hal tersembunyi ini kepada rasul; di pihak rasul, ia menerima penglihatan-penglihatan akan hal-hal tersembunyi ini.
SESEORANG DI DALAM KRISTUS
Menurut ayat 2 sampai 5, Paulus menganggap dirinya sebagai dua orang. Dalam ayat 2 ia mengatakan, “Aku tahu tentang seseorang di dalam Kristus.” Dengan mengacu kepada seseorang di dalam Kristus ini, ia mengatakan dalam ayat 5, “Atas orang itu aku hendak bermegah, tetapi atas diriku sendiri aku tidak akan bermegah, selain atas kelemahan-kelemahanku.” Seseorang di dalam Kristus dalam ayat 2 ini adalah rasul sendiri (ayat 7), bukan sebagai ciptaan lama, tetapi sebagai ciptaan baru (5:17). Dalam bagian ini rasul ingin bermegah atas ciptaan baru di dalam Kristus melalui bermegah atas kelemahan-kelemahannya di dalam daging ciptaan lama (ayat 5, 9).
Seseorang di dalam Kristus yang disinggung dalam ayat 2 ini bukanlah Saulus; ini adalah Paulus. Saulus adalah manusia alamiah, dan Paulus adalah manusia baru di dalam Kristus. Akan lebih baik bila kita semua memiliki dua nama: satu nama yang menunjukkan nama seseorang sebelum diselamatkan, yaitu apa adanya kita dalam Adam, dan satu nama lagi dari seseorang yang sekarang ada di dalam Kristus. Sebelumnya kita adalah Saulus; sekarang kita adalah Paulus.
Beberapa waktu yang lalu saya mendengar seorang penulis mengatakan bahwa ada dua William Law. William Law yang pertama adalah seorang manusia dengan doktrin, pengetahuan, teologi, harfiah, dan tradisi. William Law yang kedua adalah satu persona yang rohani dan berada di dalam Roh itu. William Law yang pertama tidak mengenal apa-apa mengenai Roh itu, meskipun ia memiliki banyak pengetahuan tentang teologi dan tradisi. Tetapi pada suatu hari ia memiliki satu permulaan yang baru, dan ia menjadi satu persona yang rohani. Orang inilah yang kemudian memperbaiki pengajaran-pengajaran dari para penulis aliran mistis tertentu dan membuat pengajaran-pengajaran itu menjadi praktis, dapat dilaksanakan. Kita dapat mengatakan bahwa pada akhirnya William Law ini menjadi seorang manusia di dalam Kristus. Kemudian, Andrew Murray mendapatkan bantuan melalui tulisan-tulisan William Law.
Ketika Paulus membicarakan tentang seseorang di dalam Kristus, ia mengacu kepada manusia keduanya, persona keduanya. Ia akan bermegah atas orang ini, tetapi ia tidak akan bermegah atas manusia lamanya. Dalam ayat 5 kata “diriku sendiri” mengacu kepada diri lama Paulus, bukan kepada diri barunya. Ini mengacu kepada Saulus, bukan Paulus. Diri baru Paulus mutlak berada di dalam Kristus. Manusia di dalam Kristus ini adalah satu ciptaan baru.
Jika kita memperhatikan diri kita sendiri sebagai kaum beriman, kita akan melihat bahwa kita juga memiliki dua persona. Di satu pihak, kita adalah orang dengan satu diri yang lama; di pihak lain, kita adalah orang dengan diri yang baru. Persona ini ada di dalam Kristus dan adalah satu ciptaan baru. Kita tidak boleh memperhatikan persona yang pertama lagi. Sebaliknya, kita harus mengikuti persona yang kedua.
Apa yang terjadi pada Paulus, seseorang di dalam Kristus, seperti yang tercatat dalam ayat-ayat ini, sangatlah misterius. Paulus sendiri pun tidak dapat memberitahukan apakah ia berada di dalam tubuh atau di luar tubuh. Dalam ayat 3 ia mengatakan, “Aku juga tahu tentang orang itu entah di dalam tubuh entah di luar tubuh, aku tidak tahu, Allah yang mengetahuinya.” Jelas Paulus tidak lupa diri (trans). Kita tidak boleh mengira apa yang digambarkan di sini adalah pengalaman dari seseorang yang tidak sadarkan diri (trans). Apa yang terjadi pada Paulus itu di luar kemampuannya untuk mengeskpresikan hal itu, karena ia sendiri pun tidak benar-benar jelas tentang hal itu.
FIRDAUS DAN LANGIT TINGKAT KETIGA
Menurut ayat 2 dan 4 ada dua hal yang terjadi di atas diri Paulus. Pertama, ia diangkat ke langit tingkat ketiga; kedua, ia diangkat ke dalam Firdaus. Dalam ayat 2 Paulus mengatakan, “Aku tahu tentang seseorang di dalam Kristus; empat belas tahun yang lampau entah di dalam tubuh, aku tidak tahu, entah di luar tubuh, aku tidak tahu, Allah yang mengetahuinya orang itu tiba-tiba diangkat ke tingkat yang ketiga dari surga.” Kata “diangkat” di sini sama seperti dalam Kisah Para Rasul 8:39 dan 1Tesalonika 4:17. Ke tingkat yang ketiga dari surga berarti jauh hingga mencapai langit tingkat ketiga. Awan-awan yang kelihatan dapat dianggap sebagai langit tingkat pertama, dan angkasa adalah langit tingkat kedua. Langit tingkat ketiga pasti adalah langit di atas segala langit, langit tertinggi (Ul. 10:14; Mzm. 148:4), tempat Tuhan Yesus dan Allah berada hari ini (Ef. 4:10; Ibr. 4:14; 1:3).
Perhatikanlah ayat 2 ini tidak mengatakan bahwa Paulus “diangkat” saja; melainkan mengatakan bahwa ia “diangkat ke tingkat yang ketiga dari surga”. Ada satu perbedaan penting antara “diangkat” dengan “diangkat ke...”. Dalam Kisah Para Rasul 8:39 Filipus dilarikan oleh Roh itu. Ia tahu bahwa ia ada di dalam tubuhnya ketika ia dilarikan Roh itu. Namun, Paulus tidak tahu entah ia berada di dalam tubuh ataukah ia berada di luar tubuh ketika ia diangkat ke langit tingkat ketiga.
Langit tingkat ketiga adalah satu ekspresi bahasa Ibrani yang mengacu kepada langit yang paling tinggi. Seperti yang telah kita tunjukkan, awan-awan dapat dianggap sebagai langit tingkat pertama dan angkasa di atas awan-awan itu sebagai langit tingkat kedua. Karena itu, langit tingkat ketiga pasti adalah langit di atas angkasa, dalam istilah alkitabiahnya, adalah langit di atas segala langit. Hari ini Bapa dan Putra, Tuhan Yesus Kristus, ada di langit yang tertinggi. Paulus diangkat ke langit yang tertinggi ini.
Dalam ayat 3-4 Paulus melanjutkan, “(Dan) aku juga tahu tentang orang itu entah di dalam tubuh entah di luar tubuh, aku tidak tahu, Allah yang mengetahuinya ia tiba-tiba diangkat ke Firdaus dan ia mendengar kata-kata yang tak terkatakan, yang tidak boleh diucapkan manusia.” Dalam bahasa aslinya, ada kata “dan” pada permulaan ayat ini. Kata penghubung “dan” di sini adalah perkataan yang penting, ini menunjukkan bahwa apa yang disinggung dalam ayat 3 dan 4 dan apa yang disinggung dalam ayat-ayat sebelumnya adalah dua perkara yang berbeda. Ayat 2 memberi tahu kita bahwa rasul diangkat ke langit tingkat ketiga. Sekarang ayat 3 dan 4 memberi tahu kita lebih lanjut bahwa rasul diangkat juga ke tempat lain, ke dalam Taman Firdaus. Ini dengan kuat menunjukkan bahwa Taman Firdaus tidak sama dengan langit tingkat ketiga dalam ayat 2, tetapi mengacu kepada suatu tempat selain langit tingkat ketiga.
Banyak penerjemah atau pengulas Alkitab menganggap langit tingkat ketiga sama dengan Firdaus. Menurut pemahaman mereka, ketika Paulus diangkat ke langit tingkat ketiga, ia juga diangkat ke Firdaus. Namun, Firdaus tidak sinonim dengan langit tingkat ketiga. Kata penghubung pada permulaan ayat 3 menunjukkan bahwa di sini Paulus sedang menggambarkan dua pengalaman yang berbeda. Pertama, ia diangkat ke langit tingkat ketiga. Kemudian, ia diangkat ke Firdaus.
Firdaus adalah bagian yang menyenangkan dari Alam Maut, tempat roh Abraham dan roh-roh semua orang benar berada, menantikan kebangkitan (Luk. 16:22-23, 25-26). Tuhan Yesus pernah pergi ke sana setelah kematian-Nya dan tinggal di sana hingga kebangkitan-Nya (Luk. 23:43; Kis. 2:24, 27, 31; Ef. 4:9; Mat. 12:40). Firdaus ini berbeda dengan Firdaus dalam Wahyu 2:7, yang akan menjadi Yerusalem Baru dalam Kerajaan Seribu Tahun. Dalam bagian ini rasul memberi tahu tentang betapa unggul wahyu yang diterimanya. Dalam alam semesta terutama ada tiga bagian: langit, bumi, dan alam maut di bawah bumi (Ef. 4:9). Sebagai manusia yang hidup di bumi ini, rasul mengetahui hal-hal di bumi. Tetapi manusia tidak tahu hal-hal di langit dan di alam maut. Rasul justru dibawa ke dua tempat yang tidak diketahui oleh manusia itu, demikianlah ia mendapatkan penglihatan-penglihatan dan wahyu-wahyu tentang wilayah-wilayah yang tersembunyi itu. Untuk alasan inilah dia menyinggung tentang dua bagian ujung dari alam semesta ini. Ketika Tuhan Yesus mati, Dia tidak segera pergi ke langit tingkat ketiga. Sebaliknya, Dia pergi ke satu tempat yang disebut Firdaus. Salah satu dari penyamun itu berkata kepada-Nya, “Yesus, ingatlah aku, apabila Engkau datang sebagai Raja” (Luk. 23:42). Tuhan Yesus menjawab, “Hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus” (ayat 43). Selain itu, menurut Kisah Para Rasul 2, Tuhan Yesus pergi ke alam maut setelah Ia meninggal (ayat 31). Jika kita menyejajarkan kedua bagian dari firman ini, kita akan melihat bahwa Firdaus ini pasti ada di dalam alam maut.
Dalam Lukas 16 kita memiliki satu gambaran tentang dua bagian dari alam maut, yaitu bagian yang menyenangkan dan bagian siksaan. Ketika Lazarus mati, ia pergi ke bagian yang menyenangkan, di mana Abraham berada. Ketika orang kaya itu mati, ia pergi ke bagian siksaan. Karena itu, Firdaus adalah bagian yang menyenangkan, bagian yang penuh perhentian di alam maut.
PANDANGAN YANG PENUH
TENTANG ALAM SEMESTA
Paulus, manusia baru di dalam Kristus ini, di satu pihak diangkat ke langit tingkat ketiga. Di pihak lain, ia dingkat ke Firdaus, yaitu bagian yang menyenangkan dari alam maut. Karena Paulus tahu hal-hal yang di langit dan hal-hal yang di bawah bumi, dan hal-hal yang di bumi, maka ia memiliki satu pandangan yang lengkap tentang alam semesta. Siapa saja yang ingin memiliki pandangan yang penuh tentang alam semesta ini harus mengenal tiga bagian ini: langit tingkat ketiga, bumi, dan bagian di bawah bumi.
Paulus adalah seorang yang terdidik mengenai hal-hal yang di bumi. Pada suatu hari Tuhan mengangkatnya ke langit tingkat ketiga dan membiarkannya melihat apa yang ada di sana. Tuhan juga mengangkatnya ke Firdaus untuk memperlihatkan kepadanya apa yang ada di sana. Mengenai Firdaus ini, Paulus mengatakan bahwa ia mendengar “kata-kata yang tak terkatakan, yang tidak boleh diucapkan manusia” (2Kor. 12:4). Jadi, ia tidak bebas untuk memberi tahu orang-orang Korintus tentang hal itu. Paulus, manusia baru di dalam Kristus ini, benar-benar memiliki pengetahuan yang lengkap dan satu pandangan yang penuh tentang alam semesta.
Bila dibandingkan dengan Paulus, para penganut agama Yahudi itu seperti katak dalam sumur. Mereka tidak dapat melihat ke atas lingkaran sumur Perjanjian Lama dan Yudaisme dengan liturgi-liturginya. Tetapi Paulus dapat bermegah atas penglihatan dan wahyu dari Tuhan. Ia dapat berkata, “Hai orang-orang Korintus, Tuhan telah memberikan kepadaku satu pandangan yang menakjubkan tentang alam semesta ini. Dia membawa aku ke langit tingkat ketiga, dan Dia membawa aku ke Firdaus. Dalam Firdaus aku mendengar kata-kata yang tidak tidak boleh aku katakan.” Tidak heran, Paulus menyebut wahyu ini sebagai penyataan yang luar biasa yang diberikan kepadanya (ayat 7). Hanya ada dua orang, yaitu Yesus dan Paulus, yang pernah menerima pandangan yang demikian penuh tentang alam semesta ini.
WAHYU DIIKUTI DENGAN PENDERITAAN
Dalam ayat 6-7 Paulus selanjutnya mengatakan, “Sebab sekiranya aku hendak bermegah juga, aku bukan orang bodoh lagi, karena aku mengatakan kebenaran. Tetapi aku menahan diriku, supaya jangan ada orang yang berpikir tentang aku lebih daripada yang mereka lihat padaku atau yang mereka dengar dari aku. Dan supaya aku jangan meninggikan diri karena penyataan-penyataan yang luar biasa itu, maka aku diberi suatu duri di dalam dagingku, yaitu seorang utusan Iblis untuk menghantam aku, supaya aku jangan meninggikan diri.” Kata “luar biasa” juga berarti berlimpah ruah, luar biasa besar, sangat banyak. Dalam Yunani kuno, “duri” sering diartikan tonggak atau pancang atau suatu tongkat yang runcing ujungnya. Di sini dapat ditujukan kepada semacam penderitaan jasmani, seperti gangguan pada mata Paulus. Kata “menghantam” berarti meninju dengan kepalan tangan. Ini berbeda dengan kata “melatih” dalam 1Korintus 9:27, yang berarti memukul bagian bawah mata.
Ayat 7 menunjukkan bahwa wahyu itu selalu diikuti dengan penderitaan. Bagi seorang manusia, nampak satu pandangan seperti yang dilihat oleh Paulus itu sangat berbahaya. Bahkan bagi Paulus pun nampak pandangan yang demikian ini sangat riskan. Bahayanya adalah bahwa setelah menerima wahyu yang luar biasa ini, Paulus akan meninggikan diri dan menjadi sombong. Dalam kedaulatan Allah, untuk memperbesar Paulus dan memperluas pandangannya sampai tingkatan yang universal, Tuhan membawanya ke langit tingkat ketiga dan juga ke Firdaus. Tetapi Tuhan juga tahu bahwa Paulus bisa hancur atau rusak karena hal ini. Karena itu, Tuhan memberi suatu duri kepada Paulus, yaitu seorang utusan Iblis, untuk menghantamnya, dan membuatnya sakit. Tujuan duri ini adalah untuk merendahkan Paulus dan menjaganya agar ia tetap rendah hati.
Di sini kita melihat bahwa berada di tangan Tuhan itu bukanlah perkara yang sederhana. Kadang-kadang tangan Tuhan akan meninggikan kita. Tetapi setelah Tuhan meninggikan kita, Dia akan merendahkan kita. Karena para penganut agama Yahudi itu tidak berada dalam tangan Tuhan, maka mereka tidak ditinggikan atau direndahkan. Sebaliknya, mereka itu seperti tanah datar. Tetapi pengalaman Paulus penuh dengan gunung dan lembah. Ini berarti Tuhan meninggikan dia dan merendahkan dia.
MENGALAMI KRISTUS SEBAGAI KASIH KARUNIA DAN KEKUATAN
Ayat 8-9 mengatakan, “Tentang hal itu aku sudah tiga kali berseru kepada Tuhan, supaya utusan Iblis itu mundur dari hadapanku. Tetapi jawab Tuhan kepadaku, ‘Cukuplah anugerah-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.’ Sebab itu, aku terlebih suka bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.” Penderitaan-penderitaan dan ujian-ujian sering ditetapkan Tuhan bagi kita supaya kita bisa mengalami Kristus sebagai kasih karunia dan kekuatan. Karena itu, walaupun rasul memohon, Tuhan tidak ingin menyingkirkan duri dari rasul.
Mungkin Paulus telah berdoa seperti ini, “Tuhan, angkatlah duri ini. Singkirkanlah utusan Iblis ini. Aku menderita, dan aku tidak tahan lagi terhadap duri ini.” Tuhan menjawab doa Paulus tetapi bukan menurut cara Paulus. Demikian juga, Tuhan akan menjawab doa kita, tetapi mungkin Dia tidak menjawabnya menurut cara kita. Seolah-olah Tuhan berkata kepada Paulus, “Tidak, Aku tidak akan menyingkirkan duri itu. Duri itu Kupakai untuk merendahkan kamu. Aku tahu bahwa kamu menderita, dan Aku akan memberikan kepadamu anugerah (kasih karunia) yang kamu perlukan. Paulus, kasih karunia-Ku cukup bagimu. Jangan meminta Aku mengangkat duri itu. Jika Aku mengangkatnya, maka Aku harus mengambil penglihatan-penglihatan dan wahyu-wahyu itu, dan Aku tidak memiliki cara lain untuk melakukan hal itu kecuali dengan mengangkat kamu. Paulus, jika kamu tidak memiliki duri itu, kamu akan menjadi sangat sombong dan sangat meninggikan diri. Aku tidak dapat membiarkan hal itu terjadi. Cara yang paling baik untuk merendahkan kamu adalah dengan meninggalkan duri itu tetap ada padamu. Tetapi Aku akan memberikan kasih karunia kepadamu dan menopang kamu supaya kamu dapat menanggung penderitaan ini. Juga, dalam pengalamanmu, kasih karunia-Ku akan menjadi kekuatan yang menjadi sempurna dalam kelemahanmu. Duri itu akan menyingkapkan kelemahanmu. Tanpa duri itu, kamu tidak akan sadar betapa lemahnya kamu. Sekarang kamu memerlukan Aku untuk menjadi kasih karuniamu. Dalam pengalamanmu dan kenikmatanmu, kasih karunia-Ku akan menjadi kekuatan yang menaungi kamu.”
Kasih karunia yang dialami oleh Paulus sebenarnya adalah Tuhan Yesus Kristus itu sendiri. Saya percaya dalam pengalamannya Paulus menyadari bahwa kasih karunia Tuhan ini menjadi kekuatan yang menyebar atasnya seperti sebuah kemah. Maka, kasih karunia-kekuatan ini menjadi satu tempat kediaman bagi Paulus dalam penderitaan-penderitaannya. Sewaktu ia menderita, Paulus dapat tinggal di dalam kemah yang menyebar di atasnya ini. Kemah ini, tenda ini, menyokong dia, menopang dia, mempertahankan dia, dan memelihara dia.
Agar kasih karunia Tuhan yang cukup dapat dinyatakan, kita tidak bisa menghindar dari penderitaan. Agar kesempurnaan kuasa Tuhan dapat ditunjukkan, diperlukan kelemahan kita. Karena itu, rasul terlebih suka bermegah atas kelemahan-kelemahannya, supaya kuasa Kristus dapat menaungi dia. Kasih karunia adalah suplai, dan kuasa adalah tenaga, kemampuan dari kasih karunia. Keduanya adalah Kristus yang bangkit, yang sekarang adalah Roh pemberi hayat yang berhuni di dalam kita (1Kor. 15:45; Gal. 2:20) untuk kenikmatan kita.
Kata “menaungi” dalam ayat 9 ini adalah episkenoo, satu kata kerja majemuk yang tersusun dari epi dan skenoo. Epi berarti di atas; skenoo berarti berhuni di dalam kemah, seperti dalam Yohanes 1:14 dan Wahyu 21:3. Episkenoo di sini berarti mendirikan kemah atau kediaman di atas sesuatu. Ini menggambarkan bagaimana kuasa Kristus, yaitu Kristus sendiri berdiam di atas kita seperti kemah yang dibentangkan di atas kita, menaungi kita dalam kelemahan-kelemahan kita.
Dalam ayat 10 Paulus menutup, “Karena itu, aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesengsaraan karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat.” Kata “senang” di sini juga berarti cukup puas, sama seperti dalam Matius 3:17. Siksaan adalah desakan-desakan, yaitu kebutuhan-kebutuhan mendesak yang sangat menekan. Secara harfiah kata Yunani untuk “kesengsaraan” itu berarti kesempitan ruangan; karena itu, mengacu kepada kesukaran-kesukaran, kesulitan-kesulitan, penderitaan-penderitaan. Pada akhir ayat ini Paulus membicarakan tentang menjadi lemah dan menjadi penuh dengan kuasa. Ia lemah dalam manusia lamanya, tetapi ia penuh dengan kuasa dalam Kristus yang menaunginya.
MASAKAN TUHAN
Apa yang kita miliki dalam ayat-ayat ini adalah Tuhan “memasak” Paulus. Tuhan “memasak” Paulus dan membuatnya menjadi “santapan” yang lezat untuk kita nikmati. Selama lebih dari lima puluh tahun, saya telah menikmati Rasul Paulus. Tetapi saya harus bersaksi bahwa saya tidak pernah menikmati Paulus sebanyak yang saya nikmati belakangan ini. Paulus benar-benar santapan yang lezat yang dimasak oleh Tuhan Yesus.
Kadang-kadang dalam mempersiapkan suatu masakan, masakan itu dimasak lebih dulu kemudian disiram dengan air dingin. Kelihatannya proses memasak demikian ini menghasilkan cita rasa yang paling lezat. Ini menggambarkan bagaimana Tuhan menanggulangi Paulus, yaitu bagaimana Tuhan memasak dia. Pertama-tama Tuhan meninggikan Paulus sampai ke langit tingkat ketiga, kemudian Dia membawanya ke alam maut, dan sesudah itu Dia membiarkan sebuah duri ada padanya. Seandainya saya adalah Paulus, saya mungkin akan bingung apa yang terjadi pada diri saya. Saya pasti akan memberi tahu Tuhan bahwa saya tidak tahan menahan duri ini. Tetapi seperti yang telah kita tunjukkan, kasih karunia Tuhan yang cukup itu disuplaikan kepada Paulus, dan kasih karunia itu menjadi kekuatan yang menaungi dia.
MENJADI KAYA DALAM PENGALAMAN
TERHADAP KRISTUS
Ketika Paulus mempertimbangkan penglihatan yang tinggi dan wahyu yang menakjubkan ini, duri itu bekerja di atas dirinya untuk menjaganya dari kesombongan dan tinggi diri. Tetapi ketika duri itu bekerja untuk menjaga Paulus agar tetap rendah hati, maka kasih karunia menyuplai dan menopang dia, dan kekuatan menaungi dia. Inilah cara Tuhan yang ajaib dalam memasak Paulus untuk membuatnya mengalami Kristus yang alwasi (meluas ke segala sesuatu). Hasilnya, Paulus menjadi kaya dalam pengalaman terhadap Kristus.
Para penganut agama Yahudi jelas tidak dapat dibandingkan dengan Paulus. Betapa bodohnya orang-orang Korintus yang telah dipalingkan oleh mereka! Para penganut agama Yahudi itu tidak memiliki wahyu atau penglihatan. Demikian juga, mereka tidak memiliki duri, kasih karunia, atau kekuatan yang menaungi mereka. Mereka sama sekali tidak memiliki pengalaman terhadap Kristus. Sebaliknya, Paulus telah nampak penglihatan dan mene-rima wahyu. Selain itu, ia telah ditanggulangi oleh Tuhan melalui duri itu supaya ia dapat mengalami Tuhan sebagai kasih karunia dan sebagai kekuatan dengan sangat riil. Karena itu, Paulus adalah seorang manusia yang penuh dengan visi, penderitaan, pengalaman, dan kenikmatan terhadap Tuhan. Tuhan menjadi kasih karunia baginya dan juga menjadi kuasa yang menaunginya seperti kemah.
Apa yang dialami oleh Rasul Paulus ini sangat kurang dialami orang-orang Kristen pada hari ini. Banyak orang beriman bersifat alamiah dan tradisional. Seperti para penganut agama Yahudi itu, mereka memiliki agama yang usang dan tradisional, Alkitab dalam huruf-huruf yang mati, dan banyak liturgi dan peraturan-peraturan. Dalam prinsipnya, mereka sama seperti para penganut agama Yahudi, bahkan mereka sama-sama memberitakan seseorang yang bukan mutlak Yesus yang sejati. Pada mereka tidak ada visi, tidak ada wahyu, tidak ada duri, dan tidak ada kasih karunia. Mereka menafsirkan Alkitab secara alamiah, dan mereka mengikuti tradisi dan peraturan. Pada mereka tidak ada kuasa yang menaungi mereka. Sungguh ada suatu perbedaan yang besar di antara pengalaman Paulus dengan para penganut agama Yahudi pada hari ini!
Jangan putus asa bila ada duri yang menipu Anda setelah Anda menerima wahyu dari Tuhan. Penglihatan dan wahyu selalu diikuti dengan penderitaan. Anda tidak perlu banyak berdoa mengenai duri itu. Duri itu tidak akan disingkirkan. Sebaliknya, Tuhan akan membiarkannya tetap ada dengan tujuan mendatangkan kasih karunia bagi kenikmatan Anda. Kasih karunia ini akan menjadi kekuatan Anda setiap hari dan bahkan menjadi tempat kediaman Anda, yaitu menjadi satu kemah yang menaungi Anda. Ini akan memperkaya pengalaman rohani Anda. Ketika kita menikmati kasih karunia Tuhan dan tinggal di bawah naungan kuasa-Nya, kita akan selalu memiliki sesuatu untuk dikatakan mengenai Kristus dan gereja.