MEMBERESKAN DAGING DAN EGO
Pembacaan Alkitab
Rm. 7:23; Gal. 5:19-21; Flp. 3:3-6; Kel. 30:31-32; Rm. 8:8; Gal. 2:20; Rm. 6:6; Gal. 5:24; Rm. 8:13; Mat. 16:21-25.
Garis Besar
I. Definisi daging
A. Tubuh yang rusak
B. Manusia yang telah jatuh seluruhnya
C. Aspek yang baik dari manusia
II. Posisi daging di hadapan Allah
A. Allah tidak dapat berbaur dengan daging
B. Allah dan daging tidak dapat berada bersama-sama
C. Allah menetapkan untuk membuang daging
D. Kesimpulan Alkitab mengenai daging
III. Membereskan daging
A. Fakta objektif
B. Pengalaman subjektif oleh Roh itu
IV. Divinisi ego
A. Ego adalah hayat sukma
B. Kerusakan ego
V. Membereskan ego
A. Fakta objektif
B. Pengalaman subjektif
C. Memikul salib
VI. Menerapkan pengalaman membereskan ego
A. Di dalam persekutuan Roh Kudus
B. Membiarkan Roh Kudus melaksanakan penyaliban Kristus di atas diri kita
Dosa itu jelek dan dunia itu merasuki, tetapi mereka masih di luar. Kita perlu melihat lebih jauh lagi bagaimana mengalami hayat dengan cara yang lebih mendalam membereskan daging dan ego. Kebanyakan orang-orang di atas bumi bukanlah orang Kristen. Menurut laporan Amerika adalah suatu negara Kristen; kurang lebih 1/2 dari orang-orangnya mengatakan bahwa mereka adalah orang Kristen. Namun, kebanyakan dari mereka bahkan belum dilahirulangkan, yaitu, menerima hayat Allah. Dan mereka yang telah dilahirulangkan, banyak yang masih hidup di dalam dosa. Orang-orang Kristen yang lebih matang menjauhi dosa, tetapi sangat sedikit yang tidak dirasuki oleh dunia. Di dalam pemulihan Tuhan, orang-orang Kristen berbicara mengenai membereskan daging dan ego. Ini adalah aspek yang lebih dalam dari pengalaman hayat. Pelajaran singkat ini tidaklah cukup untuk meliput kedua topik ini. Kita hanya akan mendapatkan suatu pengertian dasar pada poin ini. Anda harus membaca Pengalaman Hayat untuk mendapatkan lebih banyak detail.
I. DEFINISI DAGING
Kita dapat menemukan sedikitnya 3 definisi dalam Alkitab mengenai daging:
A. Tubuh yang Rusak
Definisi pertama dari daging dalam Alkitab adalah tubuh kita yang telah rusak. Tubuh adalah tubuh yang diciptakan oleh Allah; daging adalah sesuatu yang telah rusak. Allah tidak menciptakan daging; Dia hanya menciptakan tubuh. Tetapi Satan masuk ke dalam anggota-anggota tubuh ini. Roma 7:23 memberitahukan kita dengan jelas bahwa hukum dosa ada di dalam anggota-anggota tubuh kita. Ketika Adam makan buah pohon pengetahuan baik dan jahat, buah itu masuk ke dalam anggota-anggota tubuhnya. Jadi tubuh itu diciptakan oleh Allah, tetapi dosa sebagai suatu perkara yang telah dipersonifikasi, diri Satan sendiri, masuk ke dalam manusia, ke dalam tubuhnya. Sejak saat itu tubuh manusia yang diciptakan oleh Allah menjadi rusak dan hancur. Tubuh yang rusak dan hancur itu adalah daging.
B. Manusia yang Telah Jatuh Seluruhnya
Daging tidak hanya mengacu kepada kejatuhan manusia dan tubuh yang telah rusak. Bahkan, daging mengacu pada diri manusia yang telah jatuh seluruhnya. Oleh karena itu daging merupakan ekspresi puncak dari manusia tribagian (tripartite) yang telah jatuh. Maka, daging dalam pengertian ini mencakup tubuh, sukma, dan roh manusia. Jika Anda mempertimbangkan pekerjaan daging yang dicantumkan dalam Galatia 5:19-21, Anda akan menemukan bahwa beberapa, seperti perzinahan, kecemaran, hawa nafsu, dan kemabukan, berhubungan dengan nafsu dari tubuh yang telah rusak; yang lainnya, seperti permusuhan, perselisihan, kemarahan, dan perpecahan, berhubungan dengan sukma yang telah jatuh; yang lainnya lagi, penyembahan berhala dan sihir, berhubungan dengan roh yang telah dimatikan. Ini membuktikan bahwa ketiga bagian dari diri kita yang telah jatuh ini berhubungan dengan daging yang jahat. Oleh karena itu, dalam surat Galatia daging menunjukkan diri manusia yang telah jatuh seluruhnya. Daging bukan hanya merupakan satu bagian dari diri manusia yang telah jatuh; daging juga mencakup totalitas diri manusia tribagian yang telah jatuh.
C. Aspek yang Baik dari Manusia
Biasanya jika kita menyebutkan daging, kita berpikir bahwa daging itu rusak dan jahat, seperti yang disinggung dalam Galatia 5:19-21. Tetapi Alkitab memperlihatkan kepada kita bahwa daging bukan hanya memiliki suatu aspek yang jahat, tetapi juga suatu aspek yang baik. Daging yang baik damba untuk melakukan kebaikan dan menyembah dan melayani Allah. Paulus dalam Filipi 3:3-6 menunjukkan bahwa ada beberapa orang yang menyembah Allah dalam daging dan menyombongkan diri dalam daging mereka. Daging di situ tidak diragukan lagi mengacu pada daging dalam aspek yang baik juga, karena melaluinya manusia menyembah Allah dan melaluinya menyombongkan diri.
Mengapa ada aspek yang baik dari manusia atau dari daging? Karena walaupun kita adalah orang-orang yang telah jatuh sangat dalam, kita masih memiliki beberapa elemen yang baik yang pada mulanya diciptakan oleh Allah. Oleh karena itu, kita sering ingin melakukan kebaikan dan melayani Allah. Tetapi, walaupun demikian, manusia atau daging dalam aspek kebaikannya adalah lemah dan tidak berdaya, tidak dapat melakukan keduanya. Dalam pandangan Allah, kita, manusia-manusia yang telah jatuh, telah dikendalikan oleh daging, telah seluruhnya menjadi daging. Segala sesuatu yang berasal dari kita, baik ataupun buruk, adalah berasal dari daging dan tidak berkenan kepada Allah. Oleh karena itu, bukan hanya amarah kita, kebencian kita atau apapun yang melawan Allah yang berasal dari kita adalah berasal dari daging, tetapi kelemahlembutan, kasih dan bahkan pelayanan pada Allah yang berasal dari kita juga berasal dari daging. Apapun yang berasal dari kita, baik ataupun buruk, adalah berasal dari daging. Kita perlu mengenal daging sampai sedemikian rupa; sehingga kita benar-benar menjamah arti dari daging.
II. POSISI DAGING DI HADAPAN ALLAH
Apakah posisi daging di hadapan Allah? Apakah sikap Allah terhadap daging? Perkara ini dengan jelas disebutkan dalam beberapa tempat dalam Alkitab; walaupun demikian, kita di sini hanya dapat menunjukkan kutipan-kutipan yang terpenting saja.
A. Allah Tidak Dapat Berbaur dengan Daging
Keluaran 30:31-32, "Ke atas daging manusia janganlah (minyak urapan yang kudus itu) dicurahkan." Minyak urapan yang kudus melambangkan Roh Kudus, yaitu Diri Allah sendiri. Oleh karena itu, pernyataan bahwa minyak urapan yang kudus tidak boleh dicurahkan ke atas daging manusia berarti bahwa Allah tidak dapat berbaur atau bersatu dengan daging.
B. Allah dan Daging Tidak Dapat Berada Bersama-sama
Keluaran 17:14, 16, "Yehovah berkata kepada Musa...Aku akan menghapuskan sama sekali ingatan kepada Amalek dari kolong langit...Yehovah telah bersumpah: Yehovah akan berperang dengan Amalek turun-temurun." Orang-orang Israel sebagai keturunan Yakub melambangkan bagian yang telah dipilih dan dilahirulangkan di dalam kita, yaitu manusia baru di dalam roh kita yang dimiliki oleh Kristus. Orang-orang Amalek sebagai keturunan Esau melambangkan bagian alamiah yang telah jatuh di dalam kita, yaitu manusia lama di dalam daging milik Adam. Esau dan Yakub adalah kembar, tetapi keturunan mereka, orang-orang Amalek dan orang-orang Israel, saling bermusuhan; mereka tidak dapat hidup bersama-sama. Demikian juga, manusia lama daging kita sangat dekat dengan manusia baru rohani kita; keduanya juga saling bermusuhan dan tidak dapat hidup bersama-sama. Fakta bahwa Allah akan berperang dengan Amalek memperlihatkan kepada kita bagaimana Allah membenci daging dan damba untuk memusnahkannya. Jika daging tidak dimusnahkan dan tidak ada pemberesan dengannya, hayat rohani kita tidak akan dapat bertumbuh. Keduanya tidak akan pernah dapat berkompromi atau berada bersama-sama.
C. Allah Memutuskan untuk Membuang Daging
Di dalam Perjanjian Lama Allah melakukan satu hal yang istimewa untuk mengekspresikan sikapnya terhadap daging Dia menetapkan sunat. Manusia pertama yang Allah perintahkan untuk melakukan sunat adalah Abraham (Kej. 17). Allah menjanjikan Abraham bahwa keturunannya akan seperti bintang-bintang di langit dan seperti pasir di laut. Tetapi karena Allah menunda penggenapan janjiNya, Abraham mengambil Hagar sebagai istrinya dan melahirkan Ismael. Maka, dia telah menggunakan kekuatan dagingnya untuk menggenapi janji Allah. Allah tidak senang dengan dia, dan selama 13 tahun Allah menyembunyikan DiriNya. Kemudian, ketika Abraham berumur 99 tahun, Allah menampakkan Diri lagi kepadanya (Kej. 16:15;17:1). Pada penampakkan ini Allah memerintahkan Abraham dan semua yang dimilikinya agar disunat. Ini berarti Allah damba agar daging dibuang sehingga untuk selanjutnya mereka tidak melayani Allah dalam daging.
D. Kesimpulan Alkitab mengenai Daging
Roma 8:8, "Mereka yang berada dalam daging tidak dapat menyenangkan Allah." Alkitab telah berbicara banyak mengenai daging, dan pada poin ini Alkitab menyimpulkan bahwa daging tidak dapat menyenangkan Allah. Jika manusia itu milik daging, memmikirkan daging, dan hidup oleh daging, apapun yang dia lakukan, baik ataupun buruk, tidak dapat menyenangkan Allah. Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda ingin menyenangkan Allah? Jika ingin, Anda harus hidup di dalam roh dan membereskan daging.
III. MEMBERESKAN DAGING
Apapun yang menjadi milik diri kita, karena itu adalah daging, perlu dibereskan. Tetapi bagaimana kita membereskan daging? Kita akan mendiskusikannya dalam dua aspek: fakta objektif dan pengalaman subjektif.
A. Fakta Obyektif
Fakta objektif dalam membereskan daging sangat berhubungan dengan Kristus. Galatia 2:20 mengatakan, "Aku telah disalibkan bersama Kristus." Kemudian, Roma 6:6 mengatakan, "Manusia lama kita telah disalibkan bersama dia." Kedua kutipan ini dengan jelas memperlihatkan pada kita bahwa ketika Kristus dipaku di atas kauy salib, kita juga disalibkan bersama denganNya. Diri kita yang penuh daging telah dibereskan di atas salib Kristus. Fakta bahwa kita telah disalibkan bersama Kristus adalah dasar dari pemberesan kita terhadap daging. Jika kita belum pernah disalibkan dengan Kristus, tidak akan ada dari kita yang dapat membereskan daging. Oleh karena itu, pemberesan kita terhadap daging adalah untuk melahirkan pengalaman bahwa kita telah mati bersama Kristus.
B. Pengalaman Subyektif Oleh Roh itu
Galatia 5:24 mengatakan, "Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, dia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya." Roma 8:13 mengatakan, "Sebab, jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh itu kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup." Walaupun secara objektif, kita telah disalibkan, sama seperti semua realitas rohani, kita harus mengalaminya di dalam roh. Roh Kudus adalah Roh realitas. Dia dapat membuat seluruh fakta objektif menjadi nyata bagi kita setiap hari. Jika kita menyadari bahwa kita bernafsu terhadap sesuatu atau seseorang, segera, kita perlu menyeru kepada Tuhan dan berdoa, "Tuhan ampuni aku. Itu adalah nafsu daging. Itu tidak menyenangkan Dikau. Dikau ingin membuangnya, demikian juga aku. Tuhan, aku berbalik padaMu sekarang juga. Bebaskan aku dari dagingku." Jika Anda berdoa seperti ini, Anda melatih roh Anda untuk menyalibkan daging dan menaruhnya pada kematian. Ini mudah dan efektif. Kita tidak seharusnya mengatakan, "Tunggu sampai aku bertumbuh di dalam hayat, maka daging ini akan dimatikan secara otomatis oleh Roh itu." Tidak, jalan untuk bertumbuh dalam hayat adalah melatih roh kita untuk menaruh daging pada kematian.
IV. DEFINISI EGO
Setelah nampak perkara membereskan daging, kita perlu melanjutkan untuk melihat bahwa ego kita sendiri juga perlu dibereskan. Ini adalah pemberesan yang lebih mendalam yang dapat membuat kita bertumbuh lebih tinggi di dalam hayat. Ingatlah, pertumbuhan hayat adalah bertambahnya Allah di dalam kita dan berkurangnya diri kita sendiri. Membereskan ego adalah mengurangi diri kita sendiri.
A. Ego adalah Hayat Sukma
Apa itu ego? Secara sederhana, ego adalah hayat sukma yang menekankan pikiran-pikiran insan dan opini-opini insan. Kita dapat menemukan ini dari Alkitab, di mana ego dengan jelas disebut.
Dalam Matius 16:21-25 Yesus berbicara tentang penyalibanNya dan kebangkitanNya pada hari ketiga. Itu adalah untuk merampungkan penebusan dan membangun gereja menurut kehendak Allah. Tetapi Petrus memiliki suatu opini yang berbeda, dan setelah menyuarakannya, Tuhan menegurnya dan berkata, "Enyahlah, Satan!" Yesus lalu berkata, "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku, barangsiapa kehilangan hayat sukmanya karena Aku, ia akan mendapatkannya." Bagi Tuhan, ego adalah hayat sukma itu, ekspresi dari ego adalah opini, yang adalah ekspresi Satan. Petrus mempedulikan keselamatan Tuhan. Tetapi dalam kepeduliannya, dia tidak memperhatikan kehendak Allah; melainkan, dia membiarkan Satan diekspresikan. Oleh karena itu, Tuhan menegur dia sebagai Satan.
B. Kerusakan Ego
Seseorang yang penuh ego selalu membawa banyak kesulitan ke dalam gereja. Penyebab dari begitu banyaknya perpecahan di dalam keKristenan hari ini adalah bukan hanya dosa dan keduniawian manusia, tetapi terlebih lagi ego manusia. Sepanjang sejarah, gereja tidak pernah dirusak sedemikian rupa oleh penganiayaan ataupun hal-hal lain seperti oleh ego. Martin Luther pernah mengatakan bahwa walaupun dia takut pada paus, dia lebih takut pada paus yang lebih kuat, ego, yang ada di dalam hatinya. Tidak ada yang merusak dan mengacaukan pembangunan gereja lebih daripada ego. Ego adalah perwujudan dari sukma, yang diekspresikan melalui pikiran. Jadi, ego, sukma, dan pikiran adalah 3 - in - 1. Di belakang ketiga hal ini terdapat Satan, yang memanipulasi ego agar merusak kehidupan gereja, kita semua perlu memperhatikan perkataan ini bagi diri kita sendiri.
Jika kita tidak diselamatkan, kita akan berada di dalam dosa. Jika kita tidak mengasihi Tuhan, kita akan berada di dalam dunia. Ketika kita mengasihi Tuhan dan memperhatikan gerejaNya, kita mungkin mengekspresikan opini-opini untuk merusaknya. Ini bukan berarti bahwa kita boleh mengatakan apa-apa di dalam gereja. Kita perlu berdoa agar senantiasa berada di dalam roh. Kemudian kita tidak seharusnya memaksakan pandangan kita sendiri, tetapi seharusnya selalu berbicara dalam rasa takut akan Tuhan dan mau diperbaiki.
V. MEMBERESKAN EGO
Bagaimanakah ego dibereskan? Dengan kata lain, bagaimanakah kita membereskan ego? Alkitab hanya mengatakan bahwa manusia lama kita telah disalibkan dengan Kristus. Alkitab tidak pernah mengatakan secara khusus ego kita disalibkan dengan Tuhan. Walaupun demikian, cara untuk membereskan ego tetap adalah salib, seperti halnya cara untuk membereskan daging juga adalah salib. Dalam mempertimbangkan perkara ini, kita akan membaginya ke dalam fakta objektif dan pengalamn subjektif.
A. Fakta Obyektif
Fakta objektif dalam membereskan ego, seperti juga halnya dalam membereskan daging, ada di dalam Kristus; yaitu, manusia lama kita telah disalibkan bersama Dia. Ini disebabkan karena ego adalah bagian dari ekpresi manusia lama. Bersama Allah, masalah manusia lama telah dipecahkan; maka ego, yang berasal dari manusia lama, juga telah dipecahkan. Oleh karena itu, pada sisi objektif, satu-satunya fakta yaitu bahwa manusia lama kita telah disalibkan.
B. Pengalaman Subyektif
Pengalaman subjektif dalam membereskan ego, seperti halnya membereskan daging, adalah melalui Roh Kudus. Jika kita telah nampak fakta bahwa manusia lama kita telah disalibkan, maka dalam penghidupan sehari-hari kita, ketika kita menemukan ekspresi ide-ide atau opini-opini kita sendiri, kita harus membiarkan Roh Kudus menggarap kematian salib atas ide-ide dan opini-opini ini untuk menatikan mereka dalam kematian.
C. Memikul Salib
Hari ini, dalam keKristenan yang telah jatuh, banyak kebenaran telah disalahpahami. Kebenaran mengenai memikul salib adalah perkara yang dimaksudkan. Banyak orang menyalah artikan memikul salib sebagai penderitaan. Ini adalah konsep yang salah, suatu konsep yang telah kita warisi dari Roma Khatolik. Kita seharusnya menyadari bahwa yang ditekankan salib bukanlah penderita, melainkan kematian. Jika seseorang pergi pada salib, hal utama pergi ke sana bukanlah untuk menderita, tetapi untuk mati. Bila kita menyinggung hukuman tembak pada hari ini, kita mengerti bahwa ini berarti maut. Demikian juga, pada waktu Tuhan Yesus, ketika salib disinggung, pengertian manusia mengenainya adalah maut.
Jika kita mengalami penderitaan, itu berarti kita tidak memikul salib. Ingatlah bahwa dalam pengurapan majemuk ada mur, yang melambangkan kemanisan dari kematian Kristus. Ketika kita melatih roh kita untuk meletakan ego kita atas salib, kita tidak seharusnya mengalami penderitaan, melainkan, kita seharusnya menikmati kematianNya yang manis yang efektif untuk membunuh diri kita. Bersamaan dengan hal ini, kita seharusnya juga memiliki kuat kuasa kebangkitanNya beroperasi di dalam kita yang membuat kita mampu mengikuti Dia.
VI. MENERAPKAN PENGALAMAN MEMBERESKAN EGO
A. Di dalam Persekutuan Roh Kudus
Penerapan pengalaman pemberesan ego pertama-tama adalah di dalam persekutuan Roh Kudus. Walaupun kita mengerti penyaliban manusia lama dan mengenal bahwa opini-opini kita adalah ekpresi dari ego, namun jika kita tidak hidup dalam persekutuan Roh Kudus, itu hanyalah suatu doktrin yang hampa dan tidak menghasilkan pengalaman praktis apapun. Jika kita tidak hidup dalam persekutuan Roh Kudus, namun mencoba untuk membereskan ego, latihan yang demikian adalah usaha-usaha yang berat yang dipraktekkan oleh orang-orang Budha, Hindu, dan kaum bermoral China; bukanlah suatu pengalaman rohani. Hanya Roh Kuduslah Roh kebenaran, Roh realitas. Oleh karena itu, jika kita damba untuk secara terus-menerus hidup di dalam pengalaman pemberesan ego, persyaratan dasarnya adalah hidup di dalam persekutuan Roh Kudus.
B. Membiarkan Roh Kudus Melaksanakan Penyaliban Kristus di atas Diri Kita
Jika kita hidup di dalam persekutuan Roh Kudus dan menjamah Roh Kudus itu, maka kita harus membiarkan Roh Kudus itu melaksanakan penyaliban Kristus di atas segala penghidupan dan tindakan kita. Ini adalah kerjasama diri kita dengan Roh Kudus. Ketika kita membiarkan Roh Kudus melakukan pekerjaanNya di dalam kita, berarti kita bekerja sama denganNya. Dalam cara ini di sati pihak kita menerapkan penyaliban Kristus melalui Roh Kudus, di pihak lain kita membiarkan Roh Kudus melaksanakan penyaliban Kristus di dalam kita. Di satu pihak ini adalah pekerjaan kita, dipihak lain ini adalah pekerjaan Roh Kudus tidaklah mungkin memisahkan satu dari yang lainnya dalam persekutuan Roh Kudus. Pada saat ini kita hidup dalam Roma 8, dalam hukum Roh hayat; kita mematikan seluruh ekspresi manusia lama melalui Roh Kudus.
Jika seseorang yang mengasihi Allah memiliki tekad yang benar, dan dia mau bekerjasama dengan Roh Kudus, Roh Kudus akan membawa dia semakin dalam masuk ke dalam salib dan mematikan seluruh egonya pada kematian. Melalui pengalaman-pengalaman ini, hayat Allah akan bertumbuh di dalam kita. Elemen Allah akan bertambah dan elemen insani kita akan berkurang.