MENGHADAPI DUNIA
Pembacaan Alkitab
1 Yoh. 5:4; Kej. 2:9; 4:14, 16, 20-22; Yak. 4:4; 1 Yoh. 2:15-16; 1 Ptr. 3:20-21; 1 Kor. 10:1-2; Rm:8:6.
Garis Besar
I. Perbedaan antara dosa dan dunia
II. Pembentukan dunia
A. Kebutuhan manusia
B. Peradaban yang tak ber-allah
C. Sistem si Satan
III. Definisi dunia
IV. Isi sistem satani
V. Dilepaskan dari dunia melalui baptisan
VI. Objek-objek pemberesan dunia
VII. Dasar pemberesan dunia
VIII. Jangkauan pemberesan dunia
IX. Praktek pemberesan dunia
A. Tidak mengasihi dunia
B. Roh terlahir ulang mengatasi dunia
Mengenal dan menghadapi dunia sangat penting dalam permulaan pengalaman kehidupan Kristen kita; oleh karena itu, kita harus mempelajarinya dengan hati-hati.
I. PERBEDAAN ANTARA DOSA DAN DUNIA
Pencemaran dosa dan dunia itu berbeda. Pencemaran dosa itu buas, kasar, dan jelek, sedangkan pencemaran dunia itu berbudaya dan beradab, seringkali kelihatannya indah di mata manusia. Pencemaran dosa itu seperti percikan lumpur atau tinta hitam pada kemeja putih. Tetapi pencemaran dunia itu seperti motif yang berwarna-warni yang dicetak pada kemeja putih itu. Dunia kelihatannya lebih baik daripada dosa, tetapi jika dihubungkan dengan kemurniaan, keduanya sama-sama mencemarkan dan memerlukan pemberesan. Kerusakan yang disebabkan oleh dosa dan dunia atas diri manusia sangat jauh berbeda: dosa mencemarkan manusia, sedangkan dunia mencemarkan dan merasuk manusia. Bagi kehidupan manusia, dirasuki oleh dunia jauh lebih serius daripada dicemari oleh dosa.
Dosa adalah tahap primitif, luaran, dan permulaan dari kejatuhan. Dunia adalah tahap final, serius, dan akhir dari kejatuhan. Banyak orang hanya menekankan kemenangan atas dosa, tetapi Alkitab lebih-lebih lagi menekankan pada hal mengalahkan dunia (I Yoh. 5:4). Kita lebih-lebih lagi perlu untuk mengalahkan dunia. Jika kita damba untuk bertumbuh di dalam hayat dan didapatkan oleh Tuhan, kita harus berusaha untuk membereskan dunia yang memperbudak kita.
II. PEMBENTUKAN DUNIA
A. Kebutuhan Manusia
Alkitab membagi kebutuhan manusia ke dalam 3 kategori: utama: perbekalan, perlindungan, dan hiburan. Untuk mempertahankan keberadaannya, dia tidak hanya membutuhkan berbagai macam perbekalan, seperti pakaian, makanan dan sebagainya, tetapi juga suatu sarana pertahanan untuk melindungi dirinya sendiri agar tidak disakiti, dan suatu bentuk hiburan bagi kebahagiaannya. Maka seluruh kebutuhan penghidupan manusia sudah termasuk ke dalam ketiga kategori yang saling berkaitan ini.
Sebelum kejatuhan, Allah bertanggung jawab untuk menyediakan ketiga kebutuhan manusia ini. Pertama, sebelum manusia diciptakan, Allah telah membuat perbekalan bagi segala keperluan kehidupan manusia. Ketika Adam berada d dalam taman Eden, beraneka ragam buah-buahan dan sayur-sayuran, air, udara, sinar matahari, dan tempat untuk berteduh telah disediakan.
Kedua, perlindungan atau pertahanan juga adalah merupakan tanggung jawab Allah pada mulanya. Hari ini, manusia memerlukan perlindungan diri dan pertahanan diri sendiri, tetapi pada permulaannya Allah sendiri adalah pertahanan dan perlindungannya. Ketika manusia berada di bawah pemeliharaan Allah, dia dapat lolos dari segala serangan atau bahaya .
Ketiga, hiburan juga merupakan tanggung jawab Allah. Beberapa orang berpikir bahwa hiburan adalah berdosa, tetapi konsep ini adalah salah. Kebahagiaan itu penting bagi kehidupan manusia dan dapat ditemukan dalam hiburan. "Lalu Allah Yehovah menumbuhkan berbagai-bagai pohon dari bumi, yang menarik dan yang baik untuk dimakan buahnya" (Kej. 2:9). Semua pohon dalam taman Eden tak hanya menghasilkan buah untuk makanan, tetapi juga menyenangkan dan enak untuk dilihat, membuat seseorang berbahagia. Allah tak hanya menyediakan lingkungan yang menyenangkan ini; pada saat yang sama Dia sendiri adalah kegembiraan manusia. Jika manusia memiliki Allah sebagai kenikmatannya, maka kegembiraan manusia terpenuhi.
Pada permulaannya ketiga kebutuhan yang besar ini - suplaian, pertahanan, dan hiburan telah direncanakan dan dipersiapkan oleh Allah.
B. Peradaban yang Tak Ber-allah
Manusia jatuh karena melakukan dosa dan dikeluarkan dari Taman Eden! Hubungannya dengan Allah menjadi tidak normal. Tetapi Allah menyediakan penutup dari kulit bagi penebusan manusia, memungkinkan dia untuk tetap berada di dalam hadiratNya. Hingga saat itu, manusia belum kehilangan Allah. Walaupun demikian, pada saat Kain hidup, manusia jatuh lebih dalam ke dalam dosa. Kain berkata pada Allah, "Engkau menghalau aku sekarang dari tanah ini dan aku akan tersembunyi dari hadapanMu" (Kej. 4:14). "Lalu Kain pergi dari hadapan Yehovah" (ay. 16). Demikianlah manusia benar-benar meninggalkan hadirat Allah dan kehilangan Allah.
Ketika dia kehilangan Allah, manusia tentu saja kehilangan perbekalan, perlindungan, dan hiburan dari Allah. Ketika manusia kehilangan pemeliharaan Allah untuk mata pencahariannya, dia pertama-tama mengalami ketakutan; dia takut kekurangan suplai, pertahanan, dan kebahagiaan. Dengan kata lain, dia takut akan kemiskinan, bahaya, dan kejemuan hidup. Maka, untuk memenuhi keperluan hidup itu dan bertahan hidup, manusia menggunakan kekuatannya sendiri dan merencanakan sarana-sarana suplaian, pertahanan, dan hiburan. Saat itulah, manusia menciptakan peradaban yang tak berallah.
Kejadian 4 dengan jelas menyingkapkan hal ini pada kita. Setelah kejatuhan Kain, dari keturunan-keturunannya dihasilkan penemu-penemu suplaian manusia bagi ketiga kebutuhan hidup yang besar ini. Mereka adalah ketiga putra Lamekh. Yabal adalah bapa dari para penghuni kemah dan peternak. Kemah-kemah dan ternak adalah persediaan dari penghidupan manusia dan oleh karena itu termasuk ke dalam kategori perbekalan. Putra yang lainnya, Yubal, adalah bapa dari semua orang yang memainkan harpa dan organ. Memainkan harpa dan organ adalah untuk hiburan; jadi ini termasuk pada kategori hiburan. Putra yang ketiga, Tubal kain, adalah pembuat setiap barang-barang tiruan dari kuningan dan perkakas besi. Perkakas-perkakas ini dibentuk untuk tujuan pertahanan, maka ini mengacu pada kategori perlindungan. Karena ketiga penemuan yang penting ini dimulai pada saat itu, maka umat manusia merasa tidak memerlukan Allah. Manusia merasa bahwa dalam dirinya sendiri terdapat jawaban atas kebutuhan suplaian, pertahanan, dan hiburan. Ini adalah peradaban yang dihasilkan setelah umat manusia kehilangan Allah suatu kehidupan tanpa allah yang diciptakan oleh manusia.
C. Sistem si Satan
Ketika umat manusia memperhidupkan suatu kehidupan yang tak berallah, Satan dengan segera menyamarkan dirinya dan menggunakan kesempatan ini sebagai sarana untuk memiliki manusia. Dia menyebabkan manusia mempekerjakan seluruh usahanya untuk mencari makanan dan pakaian bagi pemeliharaan diri sendiri, untuk menemukan peralatan-peralatan bagi pertahanan diri sendiri, dan mendesain berbagai bentuk sarana hiburan untuk kenikmatan diri sendiri.
Pada mulanya, beraneka ragam bentuk pekerjaan sehubungan dengan mata-pencaharian manusia ini kelihatannya sepele, berantakan, dan tanpa sistem. Kemudian, Satan mengorganisirnya ke dalam dunia yang lebih nyata dan sistematis, menjerat umat manusia ke dalam jerat yang lebih kuat.
Maka, proses pembentukan dunia memiliki lima tahap. Pertama-tama manusia kehilangan Allah. Kedua, dia mengembangkan rasa takut dan tergila-gila akan keperluannya sendiri. Ketiga, dia menciptakan suatu kehidupan yang tanpa Allah. Keempat, Satan menyamarkan diri sendiri dan memanfaatkan keperluan-keperluan manusia. Kelima, Satan mengorganisir suplaian keperluan manusia ke dalam suatu sistem. Setelah kelima langkah ini dirampungkan, dunia akhirnya terbentuk.
III. DEFINISI DUNIA
Satu Yohanes 2:15 mengatakan: "Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu." Kata bahasa Yunani untuk "dunia", kosmos, mempunyai lebih dari satu arti . Di dalam Matius 25:34; Yohanes 17:5; Kisah Para Rasul 17:24; Efesus 1:4; dan Wahyu 3:18, kata ini mengacu kepada alam semesta material sebagai suatu sistem yang diciptakan oleh Allah. Di dalam Yohanes 1:29; 3:16; dan Roma 5:12, kata ini mengacu kepada umat manusia yang telah jatuh dirusak, dan dirampas oleh Satan sebagai komponen bagi sistem dunianya yang jahat. Di dalam I Petrus 3:3; 17:14 kata ini mengacu kepada hiasan, ornamen. Di sini, sama seperti dalam Yohanes 15:19 dan Yakobus 4:4, kata ini mengacu kepada suatu pengaturan, suatu pembentukan, suatu pengaturan yang teratur, maka ini adalah suatu sistem yang diatur (diatur oleh Satan, musuh Allah), bukanlah mengacu kepada bumi. Allah menciptakan manusia untuk hidup di atas bumi bagi penggenapan tujuanNya. Tetapi Satan, musuhNya, untuk merampas manusia ciptaan Allah, telah membentuk suatu sistem dunia anti-Allah di atas bumi ini dengan mensistemasi manusia melalui agama, kebudayaan, pendidikan, industri, perdagangan, hiburan, dan lain-lain; melalui sifat manusia yang telah jatuh, dalam nafsunya, kesenangannya, usahanya, dan bahkan dalam kegemaran akan keperluan: hidupnya, seperti makanan, pakaian, perumahan, dan transportasi.
IV. ISI SISTEM SATAN
Kita telah melihat bahwa dunia dalam I Yohanes 2:15 menunjukkan suatu sistem anti-Allah yang jahat dan satani yang disusun dari hal-hal ciptaan Allah. Satan telah menggunakan hal-hal ini untuk membentuk sistemnya. Walaupun demikian, hal-hal ini bukanlah isi dari sistem dunia satan. Jadi, apakah isi sistem satani itu?
Satu Yohanes 2:16 mengatakan, "Sebab semua yang ada di dalam dunia, untuk keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia."
Isi dari sistem ini adalah nafsu daging, nafsu mata, kemuliaan hidup yang sia-sia. Nafsu daging adalah gairah keinginan tubuh; nafsu mata adalah gairah keinginan sukma melalui mata; kemuliaan hidup yang sia-sia adalah harga diri, kebanggaan, rasa percaya diri, keyakinan, dan penampilan yang kosong dari hal-hal material di dalam kehidupan sekarang ini.
Kita bisa menggunakan perkara pemilikan mobil sebagai suatu ilustrasi dari perbedaan antara sesuatu yang digunakan oleh Satan untuk membentuk sistemnya dengan isi sistem ini yang sebenarnya. Bagaimana mungkin sebuah mobil dapat digunakan oleh musuh Allah ini untuk membentuk sistem iblisnya? Mobil itu sendiri bukanlah merupakan suatu masalah dan bukanlah merupakan isi dari sistem si Satan. Masalahnya adalah nafsu daging itu, nafsu mata, dan khususnya kemuliaan kehidupan yang sia-sia. Bila tak ada keinginan akan kemuliaan yang sia-sia, sebuah mobil tidak akan menjadi masalah. Namun, banyak orang senang membeli mobil yang mahal untuk penampilan mereka. Dalam perkara ini, mobil yang mereka kemudikan itu dipakai untuk kemuliaan yang sia-sia. Di negeri ini mobil adalah suatu keperluan. Masalahnya, bukanlah mobil itu sendiri, masalahnya adalah nafsu mata dan harga diri. Bila Anda menyenangi sejenis mobil tertentu, Anda mungkin akan sangat mendambakannya. Beberapa orang mungkin bahkan akan memikirkan mobil itu siang dan malam. Mobil itu tidak salah pribadinyalah yang salah. Masalahnya bukanlah pada mobil yang mereka perlukan, yang menjadi masalah adalah nafsu daging, nafsu mata, dan kemuliaan hidup yang sia-sia.
V. DILEPASKAN DARI DUNIA MELALUI BAPTISAN
Melalui baptisan kita dilepaskan dari dunia oleh air. Keluarga Nuh diselamatkan melalui air bah yang menghancurkan dunia dan melepaskan mereka dari dunia yang rusak. Orang-orang Israel diselamatkan melalui air Laut Merah yang menenggelamkan tentara Mesir, dan melepaskan mereka dari dunia Mesir yang menguasai mereka. Baptisan digambarkan oleh kedua kejadian yang melewati air kematian ini (I Pet. 3:20-21; I Kor. 10:1-2). Baptisan dengan diselamkan melepaskan kita dari dunia. Oleh karena itu, ketika seorang yang percaya dibaptiskan, dia telah melalui air bah dan Laut Merah. Keluarnya dia dari air menunjukkan terpisahnyadia dari dunia.
VI. OBJEK PEMBERESAN -PEMBERESAN DUNIA
Dunia dalam penghidupan sehari-hari kita terdiri dari orang-orang, aktivitas-aktivitas, dan hal-hal yang merebut tempat Allah di dalam kita. Maka, objek-objek inilah yang menjadi sasaran pemberesan kita.
Bagaimana kita dapat mengetahui tentang objek-objek yang mencemari kita, dan apa standar pengukurannya? Pertama-tama, kita perlu melihat apakah objek ini merupakan keperluan hidup kita. Kita dapat mengatakan bahwa segala sesuatu yang berada di luar keperluan sehari-hari kita itu mengambil tempat Allah dan merasuk diri kita; maka, hal ini perlu dibereskan. Keberadaan kita memang bergantung kepada orang-orang tertentu, aktivitas-aktivitas tertentu, hal-hal yang tertentu, seperti orang tua, suami, istri, keluarga, pakaian, makanan, perumahan, transportasi, pekerjaan, dan lain-lain. Ini adalah keperluan bagi keberadaan kita. Bila keperluan-keperluan ini membantu tujuan kita untuk hidup bagi Allah, maka keperluan-keperluan ini bukanlah dunia kita. Tetapi bila orang-orang, aktivitas-aktivitas, atau hal-hal ini menjadi suatu keharusan dalam keperluan sehari-hari kita, maka mereka menjadi dunia kita. Misalnya: pakaian sebagai suatu keperluan bukanlah sesuatu yang duniawi, namun bila seseorang terlalu memperhatikan pakaian dan perhiasan-perhiasannya, atau memboroskan uang untuk membeli pakaian-pakaian modern, dia telah melebihi batasan keperluan hidup sehari-harinya. Akibatnya, hal-hal ini telah menjadi dunianya. Contoh yang lainnya: kacamata untuk membantu penglihatan yang kurang baik bukanlah sesuatu yang duniawi. Tetapi banyak orang yang memakai kacamata hanya untuk penampilan saja; hal ini bukanlah untuk keperluan mereka, tetapi untuk dunia yang mereka kasihi.
Apakah standar yang mengatur keperluan hidup sehari-hari kita sehubungan dengan orang-orang, aktivitas-aktivitas, dan hal-hal lainnya? Di dalam Alkitab tidak ada keseragaman atau standar khusus yang mengatur perkara-perkara ini. Oleh karena itu, standar keperluan hidup kita. harus ditentukan oleh diri kita sendiri melalui doa dan mencari pikiran Allah. Kita tidak dapat mengukur standar kita menurut standar orang lain ataupun memaksa agar mereka menyetujui pandangan-pandangan dan perasaan kita. Lebih dari itu, pemberesan kita di hadapan Allah juga harus menurut standar penghidupan sehari-hari kita di hadapan Allah. Kita tidak boleh terlalu banyak ataupun kurang dalam membereskannya.
Dari sudut pandang ilahi, terdapat suatu ukuran tertentu untuk dunia. Ukuran ini adalah Diri Allah sendiri. Sama seperti kita mengukur dosa kita berdasarkan hukum Allah, demikian juga kita mengukur dunia berdasarkan Diri Allah sendiri. Standar pemberesan dunia itu berdasarkan pada Allah. Bila tidak ada Allah, kita tidak dapat merasakan apa dunia itu. Allah dan dunia adalah saling berlawanan sampai selamanya. Di mana ada dunia, di sana tidak ada Allah; di mana ada Allah, di sana tidak ada dunia.
VII. DASAR PEMBERESAN DUNIA
Dasar pemberesan kita terhadap dunia itu sama dengan pemberesan terhadap dosa. Hal ini berdasarkan perasaan hayat yang kita terima seksama bersekutu dengan Allah. Allah tidak pernah meminta seseorang untuk memisahkan dirinya di dalam suatu saat tertentu dari segala ketidakkudusan dari segala sesuatu yang mencemari dia. Allah ingin manusia membereskan hal-hal yang dia rasakan tidak kudus dan mencemarkan. Pendeknya, di dalam kita mungkin terdapat seratus hal yang tidak kudus, tetapi selama persekutuan kita, kita menjadi sadar, mungkin kita menyadari sepuluh hal yang tidak kudus. Maka, Allah memberikan tanggung jawab kepada kita hanya untuk kesepuluh hal ini saja. Pada saat itu, kita tidak bertanggung jawab untuk kesembilan puluh hal yang lainnya. Sampai pada suatu saat ketika kita telah mencapai tingkatan persekutuan hayat yang tinggi, barulah kita menyadari objek-objek yang tersisa itu dan membereskannya.
Ada dua faktor yang sangat mempengaruhi perasaan di dalam kita terhadap dunia: kasih kita terhadap Allah dan pertumubuhan rohani kita di dalam hayat. Kita telah mengatakan bahwa Allah adalah standar pemberesan dunia. Bila kita jauh dari Allah, kita tidak akan menyadari keduniaan kita. Tetapi begitu kita mendekati Allah, kita akan menemukan banyak perkara-perkara duniawi di dalam kita. Hanya mereka yang mengasihi Allahlah yang damba untuk mendekati Allah. Oleh karena itu, bila kita damba untuk membereskan dunia, pertama-tama kita harus mengasihi Allah.
Perasaan di dalam kita terhadap dunia juga bergantung kepada pertumbuhan rohani kita. Semakin kita bertambah di dalam kehidupan rohani dan pengetahuan akan Allah, semakin dalam kita akan mengenal dunia. Pengenalan akan dunia ini adalah perasaan di dalam yang kita miliki terhadap dunia dan membentuk dasar pemberesan dunia. Derajat pertumbuhan rohani kita selalu sesuai dengan derajat pemberesan dunia kita.
VIII. JANGKAUAN PEMBERESAN DUNIA
Jangkauan pemberesan dunia kita adalah hingga mencapai "hayat dan damai sejahtera" (Rm. 8:6). Kapan saja kita membereskan dunia yang kita sadari, kita harus membereskannya sampai kita mendapatkan hayat dan damai sejahtera itu di dalam kita. Karena pemberesan ini berdasarkan perasaan hayat yang kita terima dari persekutuan, maka pemberesan ini adalah merupakan suatu pengalaman hayat. Membereskan dunia menyebabkan kita mengalami hayat dan merasakan kesegaran, kecerahan, kepuasan, kekuatan, sukacita, dan damai sejahtera dari hayat. Dengan kata lain, kita harus membereskan dunia sampai kita mendapatkan hayat dan damai sejahtera.
IX. PRAKTEK PEMBERESAN DUNIA
A. Tidak Mengasihi Dunia
Dalam 1 Yohanes 2:15, Yohanes melarang kita untuk mengasihi dunia atau hal-hal yang berada di dalamnya. Dia memberitahukan bahwa bila kita mengasihi dunia, maka kasih Bapa tidak berada di dalam kita. Tidak mengasihi dunia itu akan memberikan dasar untuk mengalahkan si jahat. Sedikit saja mengashi itu akan memberikan dana. Dunia itu kepada dasar si Iblis untuk mengalahkan kita dan menguasai kita. Kapan saja kita membuka diri kita terhadap dunia, kepada situasi anti-allahnya si Satan, kita akan kalah dalam peperangan melawan dia.
B. Roh Terlahir-ulang mengatasi Dunia
Menurut 1 Yohanes 5:4, segala sesuatu yang telah diperanakan dari Allah akan mengatasi dunia. Di dalam ayat-ayat ini "segala sesuatu" mengacu kepada roh insani. Oleh karena itu, roh insan yang telah terlahir ulang inilah yang dapat mengatasi dunia. Dalam hal mengatasi dunia, kita tidak boleh bersandar kepada kemampuan atau usaha kita. Roh kita mampu mengatasi Satan dan dunia, sistem iblis. Tetapi diri kita sendiri tidak dapat mengatasi dunia. Bila kita melatih roh kita, tinggal di dalam roh kita, dan berjalan oleh roh kita, kita akan melihat bahwa roh kita memiliki kemampuan hayat untuk mengatasi segala hal negatif. Inilah sebabnya mengapa kita perlu melatih roh kita untuk bersekutu dengan Tuhan dan berdoa mengenai kenikmatan akan Tuhan. Kita juga perlu melatih roh kita dengan menyeru nama Tuhan dan mendoa-bacakan Firman. Latihan ini akan mengendalikan kemampuan di dalam roh kita untuk mengatasi dunia.
Hayat ilahi di dalam roh kitalah yang memiliki memampuan untuk mengatasi dunia satani yang jahat. Kita ini dikelilingi oleh cobaan-cobaan. Apakah yang dapat mengatasi mereka? Hayat ilahi di dalam roh kita dapat mengatasi pencobaan. Kita semua perlu melihat bahwa roh kita telah berbaur dengan hayat ilahi dan bahwa roh kita adalah organ yang dapat mengatasi dunia.
Kita diciptakan oleh Allah, ditebus oleh Kristus, dan dilahirulangkan oleh Roh itu, oleh karena itu, kita hanyalah bagi Allah semata. Kita adalah milik Allah. Kita perlu diisi oleh Dia semata. Segala sesuatu dari dunia yang menduduki kita harus kita bereskan. Kita mengalami hayat pada saat kita membereskan dunia. Kita bertumbuh di dalam hayat setelah kita membereskan dunia. Semua pemberesan ini adalah berasal dari Roh itu dan oleh Roh itu untuk pertumbuhan hayat kita sehingga kita bisa mencapai kematangan hayat.